WIB

Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan GPIB

Wednesday, November 20, 2013

Mazmur 119:161-168

(Sesuai SBU - Rabu, 4 Desember 2013)

119:161 Pembesar-pembesar mengejar aku tanpa alasan, tetapi hanya terhadap firman-Mu hatiku gemetar.
119:162 Aku gembira atas janji-Mu, seperti orang yang mendapat banyak jarahan.
119:163 Aku benci dan merasa jijik terhadap dusta, tetapi Taurat-Mu kucintai.
119:164 Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil.
119:165 Besarlah ketenteraman pada orang-orang yang mencintai Taurat-Mu, tidak ada batu sandungan bagi mereka.
119:166 Aku menantikan keselamatan dari pada-Mu, ya TUHAN, dan aku melakukan perintah-perintah-Mu.
119:167 Aku berpegang pada peringatan-peringatan-Mu, dan aku amat mencintainya.
119:168 Aku berpegang pada titah-titah-Mu dan peringatan-peringatan-Mu, sebab seluruh hidupku terbuka di hadapan-Mu.

KITAB MAZMUR

Nama mazmur berasal dari bahasa Ibrani mizmor, artinya nyanyian yang diiringi dengan alat musik berdawai. Kita menyebutnya mazmur karena pengaruh bahasa Arab. Dalam bahasa Arab sendiri, nyanyian ibadah yang serupa dengan mazmur disebut Zabur (persamaan dalam bahasa Ibrani adalah zimra bermakna musik, lagu). Zabur sendiri adalah turunan kata dari Zamir (lagu) yang adalah variasi dari kata Zamar yang berarti nyanyi, nyanyikan pujian, buatkan musik. Jadi Kitab Zabur yang dimaksud oleh saudara kita Umat Muslim adalah kitab Mazmur ini.
Kitab Mazmur dalam Kitab Suci Yahudi disebut Sefer Tehillim (Kitab Puji-pujian). Akar kata dari tehillim adalah kata Ibrani hll, yang artinya memuji. Dari akar kata hll muncul ungkapan ”haleluya” (pujilah Tuhan). Ungkapan ini kita temukan pada awal atau akhir sejumlah mazmur (Maz.104:35; 106:1,48; 113:1,9; 146-150).
Dalam Kitab Suci bahasa Ibrani nama mizmor tidak dipakai sebagai judul kitab, tetapi hanya disebut dalam judul sejumlah mazmur. Dalam bahasa Inggris, kitab Mazmur disebut ”The book of Psalms”. Kata psalm berasal dari kata Yunani Psalmos yang artinya lagu puji-pujian. Istilah psalmos berasal dari kata kerja psallo, artinya bernyanyi dengan iringan alat musik berdawai (semacam harpa, atau gitar). Dalam bahasa Latin kitab Mazmur disebut Liber Psalmorum. Dari telaah arti katanya, mazmur merupakan sebuah doa yang dinyanyikan.

Tradisi Yahudi dan Kristiani di masa lalu meyakini bahwa pengarang kitab Mazmur adalah Daud. Sebenarnya, hanya 73 mazmur yang menyebut nama Daud pada judulnya. Selain itu, ada 13 mazmur yang dikaitkan dengan peristiwa yang dialami Daud (Maz.3, 7, 18, 34, 51-52, 54, 56-57, 59-60, 63, 142). Adalah masuk akal apabila Daud dianggap sebagai penulis mazmur karena ia mempunyai bakat musik (2Sam.1:19-27; 3:33-34) dan punya minat pada liturgi (2Sam.6:5,15-16). Namun begitu, dapat dibuktikan dengan mudah bahwa Daud tidak menulis seluruh mazmur. Mungkin hanya beberapa mazmur yang dia tulis dan kita tidak tahu lagi mazmur yang mana. Selain nama Daud, ada nama tokoh-tokoh lain yang disebut di awal sejumlah mazmur, yaitu: Asaf, bani Korah, Heman dan Etan. Nama-nama yang disebut di sini rupanya orang-orang yang berperan dalam liturgi di Bait Allah. Sejumlah mazmur rupanya berasal dari kumpulan nyanyian milik mereka. Ada sejumlah mazmur yang berasal dari zaman sesudah Daud, misalnya Maz.137. Oleh karena itu, jelas bahwa tidak semua mazmur merupakan karya Daud.
Tidak mudah untuk menentukan kapan mazmur-mazmur ditulis. Para ahli Kitab Suci cenderung membagi periode penyusunan mazmur sebelum dan sesudah jaman pembuangan di Babilonia. Yang jelas kitab Mazmur sudah mulai ditulis sejak zaman Daud dan berakhir sesudah zaman pembuangan. Sekitar tahun 300 sebelum Masehi semua mazmur telah selesai ditulis.

PEMBAGIAN KITAB MAZMUR

Seperti kitab Taurat (Pentateuch), 150 buah mazmur di dalam kitab Mazmur dikelompokkan ke dalam 5 kumpulan atau 5 jilid. Masing-masing jilid ditutup dengan semacam doksologi, rumusan pujian pada Allah (Mzm 41:13; 72:18-19; 89:52; 106:48; 150). Misalnya dalam Mzm 41:13 disebutkan: ”Terpujilah Tuhan, Allah Israel, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Amin.”

1. Jilid I (Maz.3-41): Bagian ini terdiri dari 39 Mazmur. Jilid pertama mulai dengan mazmur 3 karena mazmur 1 dan 2 merupakan pendahuluan dari seluruh kitab Mazmur. Jilid pertama atau buku pertama kitab Mazmur hampir seluruhnya dikaitkan dengan Daud. Mayoritas dari mazmur-mazmur pada bagian pertama ini adalah mazmur-mazmur individual.

2. Jilid II (Maz.42-72): Bagian ini terdiri dari 31 Mazmur. Jilid kedua berisi mazmur-mazmur dihubungkan dengan bani Korah, yaitu kelompok pemusik dan penyanyi liturgi (bdk. 2Taw 20:19). Mazmur bani Korah ini terdapat juga pada mazmur 84-85; 87-88.

3. Jilid III (Maz.73-89): Bagian ini hanya berisi 17 Mazmur, sebagian besar berupa mazmur keluhan atau ratapan. Sejumlah mazmur dikaitkan dengan seorang tokoh bernama Asaf (lihat Maz.73-83). Satu-satunya mazmur Asaf di tempat lain adalah Mzm 50. Asaf adalah nama seorang pemain musik ibadat dari suku Lewi yang ditugaskan oleh Daud untuk memimpin nyanyian ketika tabut perjanjian dibawa masuk ke Yerusalem (1Taw 6:39; 15:17-19; 16:4-6) dan yang hadir pada saat peresmian kenisah buatan Salomo (2Taw 5:12). Keluarga dan keturunan Asaf masih aktif sebagai pemusik pada zaman kemudian.

4. Jilid IV (Maz.90-106): Bagian ini juga terdiri atas 17 Mazmur. Kita temukan 6 dari 7 mazmur yang bertemakan Yahweh meraja (93 dan 95-99). Mazmur 103 dan 104 dihubungkan satu sama lain dengan rumusan pujian kepada Tuhan (Yahweh) yang ditempatkan pada bagian awal dan akhir. Mazmur 105-106 sama-sama memuji kuat kuasa Allah atas sejarah Israel. Keduanya dimulai dengan ungkapan ”Bersyukurlah kepada Tuhan” dan diakhiri dengan ”Haleluya”.

5. Jilid V (Maz.107-150): Bagian ini merupakan kumpulan yang terbanyak dari kelima jilid kitab Mazmur, karena di dalamnya terdapat 44 buah Mazmur. Mazmur-mazmur Daud terdapat pada bagian-bagian awal (108-110) dan menjelang akhir (138-145). Mazmur 119 adalah khusus karena disusun menurut urutan abjad Ibrani. Bentuk mazmur yang ditulis dengan memakai urutan abjad Ibrani ini disebut ”mazmur akrostik”. Mazmur 120-134 adalah koleksi mazmur ziarah. Mazmur 140-143 adalah rangkaian terakhir dari keluhan individual. Bagian kelima dari kitab Mazmur ini diakhiri dengan lima rangkaian ungkapan pujian: ”Pujilah Allah/Dia” dan ”Haleluya”.

PENGALAMAN DAN PEMAHAMAN IMAN DI DALAM MAZMUR

Mazmur sebagai doa adalah ungkapan iman yang berangkat dari pengalaman nyata. Pemazmur di dalam doanya bukan hanya berbicara kepada Allah tetapi juga berbicara tentang Tuhan. Segala pergulatan hidup pemazmur, baik dalam suka maupun duka, tidak terlepas dari mata Tuhan Allah. DIA selalu hadir dan tahu apa yang terjadi pada umat-Nya. Allah bukan hanya tahu dan hadir tetapi juga bertindak sebagai Penyelamat. Untuk itulah pemazmur dengan penuh iman berdoa kepada-NYA. Allah disadari oleh pemazmur sebagai IA yang hadir dengan karya penciptaan-NYA, karya penyelenggaraan-NYA, dan karya keselamatan-NYA. Dia mewahyukan Diri-NYA dengan berbagai macam cara. Manusia beriman dapat mengenal perwahyuan Allah antara lain lewat ciptaan-NYA dan tindakan-NYA. Meskipun begitu, karena kerapuhannya, manusia sering mengabaikan kehadiran dan perwahyuan Tuhan. Manusia jatuh di dalam dosa dan harus bertobat agar memperoleh rahmat keselamatan. Berhadapan dengan karya-karya Tuhan yang luar biasa, umat beriman layak bersyukur dan memuji-NYA. Meskipun umat harus bergulat dengan berbagai macam persoalan, namun kedekatan dengan Tuhan akan membuat hati tenang dan teguh (inilah yang dimaksud dengan Syalom - ketentraman - damai sejahtera). Di dalam mazmur-mazmur kepercayaan, pemazmur mengungkapkan betapa Tuhan menjadi perlindungannya dan kepada-NYA dia berani mengandalkan diri sepenuhnya. Di dalam mazmur-mazmur pujian, iman umat terungkap lebih jelas. Iman yang diungkapkan bukanlah iman yang teoretis, tetapi iman yang berangkat dari pengalaman hidup nyata, yang dihayati oleh pemazmur secara pribadi (individual, personal) ataupun bersama-sama (kolektif).

STRUKTUR MAZMUR 119

Dalam bahasa Ibrani Mazmur 119 ini dinamai "Ashrei temimei derech" ("Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela"), sesuai ayat pertamanya. Merupakan doa orang yang bersukacita dan hidup berdasarkan hukum Taurat Allah. Alkitab TB Bahasa Indonesia terbitan LAI memberikan judul Bahagianya orang yang hidup menurut Taurat TUHAN. Pengarang mazmur ini tidak ditulis dan tidak diketahui, walaupun banyak yang menganggapnya bagian dari karya Raja Daud.

Mazmur 119 adalah mazmur dan pasal terpanjang dalam Alkitab; terdiri dari 176 ayat, yang terbagi dalam 22 seloka (stanza), masing-masing berisi 8 ayat (22 x 8 = 176). Tiap ayat dalam satu seloka dimulai dengan satu huruf yang sama sesuai urutan abjad Ibrani (alef sampai taw). Abjad Ibrani sendiri terdiri dari 22 huruf (Alef - Bet - Gimel - Dalet - He - Waw - Zayin - Het - Tet - Yod - Kaf - Lamed - Mem - Nun - Samekh - Ayin - Pe - Tsadi - Qof - Resh - Shin - Taw). Bacaan kita pekan ini adalah bagian ke-21 dari 22 seloka, yang dari bahasa Ibrani diawali dengan huruf ke-21 yaitu Shin.
Dalam gereja ortodoks, ada tradisi cerita bahwa raja Daud menggunakan mazmur ini untuk mengajari Salomo kecil mengenal abjad, bukan saja untuk menulis, tetapi untuk perkembangan hidup rohaninya. 

URAIAN - HIDUP DI BAWAH FIRMAN TUHAN

Dari isi bacaan kita pekan ini Maz.119:161-168 kita dapat membuat tema khusus yang kira-kira berbunyi: Hidup di bawah Firman TUHAN.

Maz.119:161-163 - PERASAANKU TERHADAP TUHAN

Mazmur 119:161 Pembesar-pembesar mengejar aku tanpa alasan, tetapi hanya terhadap firman-Mu hatiku gemetar. 119:162 Aku gembira atas janji-Mu, seperti orang yang mendapat banyak jarahan. 119:163 Aku benci dan merasa jijik terhadap dusta, tetapi Taurat-Mu kucintai.

Di 3 ayat ini, pemazmur melukiskan perasaannya terhadap TUHAN.

1. Bahwa dibandingkan manusia, pembesar sekalipun yang mengejarnya tanpa alasan, ia masih lebih gemetar terhadap Firman TUHAN. Ini melukiskan penempatan TUHAN pada tempat yang selayaknya, karena banyak kali dalam kehidupan ini kita menyaksikan rasa takut kepada manusia menyebabkan kejatuhan dalam dosa, dan rasa gentar terhadap TUHAN menyebabkan seseorang mau menjadi martir dan mati bagi-NYA!

2. Bahwa janji TUHAN pasti akan dipenuhi-NYA itu sangat menggembirakan pemazmur. Bagaimana kita dapat mengetahui ketepatan janji TUHAN? melalui Alkitab, Firman Tuhan yang ditulis dengan pengilhaman Roh Kudus, tentu akan membuat kita jauh lebih gembira dari pemazmur.

3. Bahwa dari Firman TUHAN itulah, manusia dapat mengetahui tentang dosa dan menimbulkan perasaan benci dan jijik terhadap dusta. Firman TUHAN akan menjauhkan manusia dari dosa, dan sebaliknya dosa akan menjauhkan manusia dari Firman TUHAN.

Maz.119:164-165 - PENYEMBAHANKU KEPADA TUHAN

Mazmur 119:164 Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau, karena hukum-hukum-Mu yang adil. 119:165 Besarlah ketenteraman pada orang-orang yang mencintai Taurat-Mu, tidak ada batu sandungan bagi mereka.

Di 2 ayat ini pemazmur melukiskan penyembahan yang ia lakukan kepada TUHAN karena ia menemukan:

1. Bahwa Firman TUHANlah yang menjadi pengatur langkah kehidupannya, dengan hukum-hukum TUHAn yang adil. Dan karena itulah ketentraman hidup ia peroleh dengan menjadi pelaksana Firman TUHAN. Sadarkah kita, bahwa seringkali dalam pengalaman nyata kehidupan, kita diselamatkan oleh karena membaca dan mengetahui Firman TUHAN, ketika kita mengambil keputusan dengan berpedoman pada Firman-NYA sehingga terhindar dari kejatuhan, malapetaka dan dosa.

2. Bahwa ada berkat ganda bagi kecintaan terhadap Firman TUHAN, yaitu ketentraman (syalom) dan terhindar dari kejatuhan, malapetaka dan dosa. Ketentraman datang dari perenungan mendalam akan ketetapan-ketetapan TUHAN dan keselamatan datang dari kesetiaan TUHAN menjaga kita.

Maz.119:166-168 - KETAATANKU KEPADA TUHAN

Mazmur 119:166 Aku menantikan keselamatan dari pada-Mu, ya TUHAN, dan aku melakukan perintah-perintah-Mu. 119:167 Aku berpegang pada peringatan-peringatan-Mu, dan aku amat mencintainya. 119:168 Aku berpegang pada titah-titah-Mu dan peringatan-peringatan-Mu, sebab seluruh hidupku terbuka di hadapan-Mu.

Seperti yang sudah diuraikan pada bagian Pemahaman Iman di atas, maka spritualisme sejati tumbuh dari pengalaman yang sangat pribadi dengan TUHAN. Dalam bagian ini pemazmur mengedepankan 3 aspek dalam pengalamannya sebagai anak-anak TUHAN:

1. Pemazmur mentaati TUHAN karena ia mengharapkan keselamatan. Jadi bukan karena ketaatannya maka ia beroleh keselamatan itu, tetapi ketaatannya dalam melakukan perintah-perintah TUHAN adalah jalan utama menunjukkan syukurnya untuk keselamatan yang disediakan TUHAN. (119:166)

2. Pemazmur menekankan bahwa ketaatannya berpegang pada peringatan-peringatan TUHAN timbul dari rasa kasih yang mendalam dan bukan karena tekanan atau takut. (119:167)

3. Pemazmur menyatakan bahwa ketaatannya dimotivasi oleh karena ia tahu mata TUHAN senantiasa tertuju pada setiap ciptaan-NYA. (119:168)

APLIKASI

1. Mengapa dipakai istilah "hidup di bawah Firman TUHAN"? Karena dengan istilah di bawah (bukan di atas atau di tengah) maka kita taat dengan iman, taat dengan kasih dan taat dengan damai sejahtera kepada TUHAN melalui Firman-NYA.
-. Inilah pengajaran yang oleh Kristus Yesus dinyatakan dalam Mat.4:4 ketika IA menghadapi iblis dan menyatakan: Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Ul.8:3)
-. Inilah yang dimaksudkan Kristus Yesus ketika IA berkata bahwa: "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. (Yoh.14:15) dan juga di Yoh.15:10 = Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya.

2. Perasaan, Penyembahan dan Ketaatan pemazmur hanya dapat dibangun melalui pendalaman terhadap Firman TUHAN, sehingga ketika pemazmur hidup di bawah Firman TUHAN, ia dapat merasakan damai sejahtera dan ketentraman, (sekali lagi ditekankan) - bukan tanpa cobaan dan masalah - tetapi lebih kepada perasaan aman dan tenang dekat kepada-NYA dalam melalui berbagai cobaan dan masalah.
-. Inilah perasaan yang ingin dicontohkan Kristus Yesus kepada murid-muridNYA ketika ia tertidur di atas kapal yang diombang-ambingkan gelombang (Mark.4:35-41) - IA menghendaki murid-muridNYA percaya supaya tidak takut!. Perasaan yang sama juga IA contohkan sendiri, ketika IA menghadapi pengkhianatan, ditangkap dan disalibkan. Tenang, teduh, tegas tetapi penuh penyerahan, karena IA sendiripun hidup di bawah Firman Bapa-NYA.

Mengasihi TUHAN adalah taat akan Firman-NYA, dan taat melahirkan damai sejahtera atau syalom yang sesungguhnya.

ITT - Jakarta, 20 November 2013.

Thursday, November 14, 2013

Habakuk 3:12-19

(Sesuai SBU - Rabu, 27 November 2013)

3:12 Dalam kegeraman Engkau melangkah melintasi bumi, dalam murka Engkau menggasak bangsa-bangsa.
3:13 Engkau berjalan maju untuk menyelamatkan umat-Mu, untuk menyelamatkan orang yang Kauurapi. Engkau meremukkan bagian atas rumah orang-orang fasik dan Kaubuka dasarnya sampai batu yang penghabisan. Sela
3:14 Engkau menusuk dengan anak panahnya sendiri kepala laskarnya, yang mengamuk untuk menyerakkan aku dengan sorak-sorai, seolah-olah mereka menelan orang tertindas secara tersembunyi.
3:15 Dengan kuda-Mu, Engkau menginjak laut, timbunan air yang membuih.
3:16 Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami.
3:17 Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
3:18 namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
3:19 ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi)

PENGANTAR

Bagi mayoritas orang percaya Kitab Habakuk biasanya dikenal hanya karena dua hal.

Pertama, ajaran tentang “orang benar akan hidup oleh iman” (2:4b). Ungkapan ini menjadi akrab di telinga orang Kristen bukan karena mereka mengenalnya dari Kitab Habakuk, tetapi karena ungkapan tersebut dikutip oleh Paulus dalam suratnya (Rom 1:16). Di samping itu, ungkapan ini juga sebagai dasar dari semboyan reformasi “pembenaran oleh iman”, yang dipopulerkan oleh Martin Luther.

Kedua, nyanyian Habakuk di pasal 3. Bagian yang paling terkenal dari nyanyian ini adalah ayat 17-18. Dalam bagian ini Habakuk mengungkapkan sumber penghiburan yang ia miliki. Sukacita sejati Habakuk di dalam Tuhan yang tidak dipengaruhi oleh situasi hidupnya yang menderita telah memberikan banyak inspirasi bagi orang Kristen modern. Versi Indonesia dari nyanyian ini bisa kita temukan di Kidung Jemaat No.333 yang berjudul "Sayur kubis jatuh harga", juga dari beberapa nanyian pop rohani yang dinyanyikan Gloria Trio.

Apakah yang unik dari Kitab Habakuk? Yang paling jelas, kitab ini adalah satu-satunya kitab yang berkaitan dengan pergumulan atau pertanyaan Habakuk sendiri. Kitab ini merupakan elaborasi (perenungan mendalam) dari dua pertanyaan yang diajukan Habakuk kepada Allah (1:2-3, 12-13). Kitab para nabi yang lain biasanya merupakan teguran terhadap dosa-dosa umat, berita kelepasan yang menghibur umat Allah, berita penghukuman atas umat Allah atau bangsa kafir. Pemberitaan ini hampir semua ditujukan pada umat. Kitab Habakuk justru terfokus pada diri sang nabi. Kitab ini merupakan jawaban Tuhan atas pergumulan Habakuk dan bagaimana Habakuk mengungkapkan keyakinan tersebut sebagai respon terhadap jawaban Tuhan.
Pendeknya, kalau kitab para nabi yang lain lebih merupakan komunikasi dari Allah kepada umat, maka Kitab Habakuk adalah komunikasi dari nabi kepada Allah.

Kitab Habakuk memiliki keunikan lain, yaitu karena nyanyian dalam kitab ini secara eksplisit disertai beberapa karakteristik sebuah mazmur pujian kepada TUHAN, misalnya pendahuluan mazmur yang menunjukkan jenis mazmur (3:1), pemakaian “sela” (3:3a, 9a, 13b), penutup mazmur yang mengindikasikan jenis instrumen yang seharusnya dipakai (3:19).

Pandangan tradisional Yahudi dan Kristen meyakini bahwa kitab ini ditulis oleh Habakuk. Pemunculan nama “Habakuk” dua kali dalam bagian yang penting dalam kitab ini (1:1; 3:1) merupakan petunjuk yang memadai untuk mengetahui identitas penulis kitab ini.

Mayoritas ahli Alkitab umumnya meletakkan pelayanan Habakuk pada zaman sebelum pembuangan ke Babel, namun mereka belum mencapai konsensus tentang periode yang spesifik. Salah satu usulan yang paling masuk akal adalah pada zaman pemerintahan Yoyakim (609-598 SM) sampai pra-pembuangan.

TUJUAN

Tujuan Kitab Habakuk sangat berkaitan dengan isu tentang keadilan Allah. Keberdosaan bangsa Yehuda yang sangat parah dan berlangsung lama tanpa penghukuman ilahi telah menimbulkan pergumulan tentang keadilan Allah dalam diri Habakuk (1:2-3). Isu ini menjadi lebih relevan bagi bangsa Israel karena konsep keagamaan yang berkembang waktu itu berbeda dengan situasi modern.
Bangsa Yahudi sangat memahami dan mengalami konsep “taat = berkat” dan “berbuat jahat = kutuk” (bdk. Ul 30). Kemujuran orang fasik jelas merupakan fakta yang sulit dijelaskan dalam konteks teologi seperti ini (bdk. Mzm 73). Ketika Allah memberikan jawaban bahwa Ia akan memakai Bangsa Babel sebagai alat penghukuman, hal ini kembali membuat Habakuk bergumul. Bagaimana mungkin sebuah bangsa yang terkenal begitu kejam dan jahat dipakai TUHAN untuk menghukum bangsa lain yang lebih baik (1:12-13)? Bukankah seharusnya Bangsa Babel lebih pantas untuk dihukum?

Jawaban yang diberikan dalam Kitab Habakuk sebenarnya ada dua.

Jawaban pertama adalah penampakan kemuliaan TUHAN. Sama seperti Ayub yang melihat TUHAN dalam kemuliaan-Nya (Ay.38-41) dan akhirnya bertobat (Ay.42), demikian pula Habakuk melihat kemuliaan Allah (Hab.3:3-16). Kemuliaan Allah di Habakuk 3 berfungsi untuk mendorong ketergantungan penuh kepada hikmat Allah sambil mengakui keterbatasan manusia untuk memahami TUHAN. Habakuk mungkin tetap tidak akan bisa memahami jawaban ilahi sepenuhnya sama seperti Ayub (Ay 42:3) dan bahkan kita semua, tetapi keyakinan penuh pada ketidakterbatasan Allah seringkali merupakan jawaban terjauh yang bisa kita dapatkan, karena orang benar akan hidup dengan iman (2:4b).

Jawaban kedua adalah secara verbal. TUHAN mengajarkan bahwa kejahatan pasti akan mendapat hukuman dari Allah, terlepas dari waktu maupun bentuk hukuman yang dipakai TUHAN. Bangsa Yehuda yang berdosa akan dihukum (1:4-11), demikian pula dengan Bangsa Babel yang dipakai TUHAN untuk menghukum mereka (2:6-20) akan menerima hukuman setimpal dari TUHAN.

STRUKTUR dan KONTEKS

Pergerakan pemikiran Habakuk dapat dengan jelas membentuk Struktur kitab ini. Perhatikan kembali, bahwa Nabi Habakuk hidup pada masa sebelum pembuangan Israel ke Babel.

1. Pendahuluan (1:1)

2. a. Pertanyaan nabi 1: mengapa orang fasik tidak dihukum? (1:2-4) 
    b. Jawaban TUHAN: Orang Kasdim akan dibangkitkan untuk menghukum (1:5-11)
   
3. a. Pertanyaan nabi 2: mengapa orang fasik menghukum orang yang lebih benar? (1:12-17) 
    b. Jawaban TUHAN: menunggu dan beriman (2:1-5)

4. Lima ucapan celaka untuk penindas (2:6-20)
    a. Celaka 1 (2:6-8)
    b. Celaka 2 (2:9-11)
    c. Celaka 3 (2:12-14)
    d. Celaka 4 (2:15-18)
    e. Celaka 5 (2:19-20)

5. Nyanyian Habakuk (3:1-19)
    a. Judul nyanyian (3:1)
    b. Doa: meminta TUHAN mengingat karya keselamatan-Nya (3:2)
    c. Gambaran tentang kedasyatan penampakan TUHAN (3:3-7)
    d. Kemenangan dahsyat TUHAN (3:8-15) ===> Bagian 1 bacaan kita pekan ini
    e. Respon iman Nabi Habakuk (3:16-19) ===> Bagian 2 bacaan kita pekan ini

Bacaan kita pekan ini adalah bagian terakhir dari pasal 3 yang konteksnya adalah Doa yang dilagukan/dinyanyikan dengan nada meratap. Dalam doanya ini, Nabi Habakuk meminta TUHAN untuk mengingat karya keselamatan yang telah TUHAN lakukan atas Israel.

Doa ini menyertakan 2 hal yang menarik untuk kita pahami, yaitu:
-. Pertama, ayat 3-15 Nabi habakuk mengingat kembali/rekoleksi akan siapa Allah dan karyaNYA bagi Israel, khususnya pembebasan dari Mesir. 
-. Kedua, ayat 16-19 yaitu pernyataan atau respon iman Nabi Habakuk.

URAIAN

Dari struktur di atas, kita dapat melihat bahwa bacaan kita pekan ini terpecah dalam 2 topik yaitu Kemenangan dahsyat TUHAN (Hab.3:12-15) dan Respon iman Nabi Habakuk (Hab.3:16-19).

Kemenangan dahsyat TUHAN - Habakuk 3:12-15
3:12 Dalam kegeraman Engkau melangkah melintasi bumi, dalam murka Engkau menggasak bangsa-bangsa. 3:13 Engkau berjalan maju untuk menyelamatkan umat-Mu, untuk menyelamatkan orang yang Kauurapi. Engkau meremukkan bagian atas rumah orang-orang fasik dan Kaubuka dasarnya sampai batu yang penghabisan. Sela 3:14 Engkau menusuk dengan anak panahnya sendiri kepala laskarnya, yang mengamuk untuk menyerakkan aku dengan sorak-sorai, seolah-olah mereka menelan orang tertindas secara tersembunyi. 3:15 Dengan kuda-Mu, Engkau menginjak laut, timbunan air yang membuih.

Bila kita mencermati, dalam doa bernada ratapannya ini, Nabi Habakuk merentangkan dengan panjang lebar segala sesuatu hal untuk mengingat kebesaran TUHAN atau istilah rekoleksi di atas. Dalam Rekoleksi itu sang Nabi lakukan dalam 6 tahapan di sepanjang pasal 3:3-15 ini, bacaan kita hanya menyorot bagian terakhir dari rekoleksinya, tetapi mari kita lihat dengan rinci:

1. Siapakah Allah yang datang itu? Jawabannya Hab.3:3-4
2. Siapakah Allah yang datang itu? Jawabannya Hab.3:5
3. Siapakah Allah yang datang itu? Jawabannya Hab.3:6-7
4. Siapakah Allah yang datang itu? Jawabannya Hab.3:8-10

5. Siapakah Allah yang datang itu? Jawabannya Hab.3:11-12 - Dia adalah Allah yang jagat raya juga tunduk kepadaNya (bandingkan Kemenangan Israel di Gibeon, Yos 10:12-13). Jika kita bisa memahami bahwa Allah adalah penguasa jagat raya, bukankah dia juga adalah Allah yang berkuasa atas hidup, pekerjaan, persoalan besar yang kita alami? Habakuk mengalami penantian yang panjang akan jawaban Tuhan (ayat 1-2) tetapi bukan berarti dia menganggap Allah itu adalah Allah yang pasif, tetapi dia tetap melihat Allah itu sebagai Allah yang luar biasa, Maha Besar dan Maha Kuasa yang penuh dengan kemuliaan.

6. Siapakah Allah yang datang itu? Jawabannya Hab.3:13-15 - Dia adalah Allah yang kedatanganNya untuk menyelamatkan umat Israel dengan menghancurkan Mesir dan Laut Merah. Allah berperang bagi Israel untuk mengalahkan musuh-musuh mereka!

Bagaimana dahsyatnya kemampuan Allah perlu diingat oleh Nabi Habakuk, sehingga akhirnya, ketika ia mengingat kembali semua karya Allah, maka tidak satupun keraguan atas kemampuan Allah karena IA sanggup melakukan apapun, seperti kedahsyatan-kedahsyatan di atas! segala jawaban telah ia peroleh, semua pertanyaan sudah terjawab dan selanjutnya ....

Respon iman Nabi Habakuk - Habakuk 3:16-19
3:16 Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami. 3:17 Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, 3:18 namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. 3:19 ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi)

- Ayat 16 keluar dari bibir nabi, dapat lahir karena perenungan mendalam di atas. Ini adalah suatu pengakuan atas kedahsyatan Allah yang membuat nabi tergetar hebat. Dan ia akhirnya dapat dengan tenang menantikan hari kesusahan ketika Babel menyerang dengan mengetahui, memahami dan mengimani bahwa TUHAN tidak akan meninggalkan Israel. Meski pada awalnya ketika ia mengetahui kekuatan Babel, ia hendak mengadu kepada TUHAN dan menantikan jawaban-NYA (Hab.2:1). Tetapi sekarang, setelah mengingat kembali dahsyatnya apa yang TUHAN sudah lakukan bagi Israel, ia tidak lagi dapat berkata apa-apa selain duduk menunggu (bandingkan Ayub 42:1-6) apa yang TUHAN akan lakukan terhadap Babel.

Catatan: 
Ada 3 ayat yang banyak membantu penulis untuk senantiasa bertahan dalam pergumulan menanti jawaban TUHAN
Kel.14:13 = Berdirilah tetap
Rut 3:18 = Duduk sajalah menanti
Maz.46:10 = Diamlah dan ketahuilah
Dalam berbagai masalah, penulis belajar bahwa terkadang kita hanya perlu tetap berdiri teguh, menanti dengan sabar serta diam dan teduh di hadirat TUHAN daripada melakukan sesuatu tindakan yang ceroboh yang akhirnya akan kita sesali sendiri.

- Ayat 17-19 adalah komitmen nabi atas perenungan tadi. Memakai metafora tumbuhan dan hewan yang adalah mata pencaharian utama Nabi Habakuk, ia menyusun pengertian mendalam bahwa sekalipun semuanya gagal tetapi ia tetap bersuka-cita dalam Allah yang menyelamatkannya karena Allah adalah kekuatan sang Nabi dan Israel diharapkan dapat menangkap makna ini dan percaya penuh kepada TUHAN. Walaupun lemah secara fisik, tetapi iman percayanya kuat dan penuh kepada TUHAN.

Catatan:
Kembali kepada KJ.333 sayur Kubis Jatuh Harga - seringkali Kidung Jemaat ini jadi bahan tertawaan dengan judul dan liriknya yang aneh, tetapi bagi orang percaya di Indonesia, sebenarnya KJ ini mengandung makna yang sangat dalam akan respon iman kita terhadap TUHAN, khususnya dalam keadaan sekarang ketika ekonomi memburuk, lapangan pekerjaan yang susah, harga-harga membumbung naik serta ketidak-adilan terjadi dimana-mana. Lirik akhir KJ.333 = KepadaNYa ku percaya, aku tidak akan jatuh: Tuhan Allah kekuatanku. - Sungguh indah bukan? Barangkali sudah saatnya lagu ini dipopulerkan kembali dan sebaiknya tidak dimasukkan ke dalam rumpun Musim dan Panen melainkan pada rumpun Pernyataan Keyakinan Iman di buku KJ - Bertahun mengikuti ibadah, seingat penulis, hanya sekali dua kidung ini dinyanyikan di sekitar tahun 1980an.

Kalau di awal kitab ini (Hab.1:2-4) Nabi Habakuk berseru mempertanyakan sikap TUHAN, maka di penghujung akhir kitab ini terjadi hal yang bertentangan, sang nabi mengakhirinya dengan ungkapan yang luar biasa di ayat 19. 
Respon iman ini tidak terjadi seketika. Tanpa rekoleksi atau perenungan mendalam mengingat karya TUHAN dalam kehidupannya dan perjalanan umat Israel, tanpa doa yang sungguh-sungguh yang dilakukan dengan jujur, rendah hati dan mengakui kemaha-kuasaan TUHAN, maka respon iman yang luar biasa ini tidak akan lahir.

APLIKASI

Bacaan kita secara khusus, dan kitab Habakuk secara umum dapat menjadi kekuatan yang besar bagi kita yang sedang menghadapi permasalahan sekarang, maupun di masa akan datang dimana kelihatannya keadaan tidak membaik sedikitpun bahkan memburuk.
Kitab ini mengajarkan kita untuk tidak pesimis, tetapi senantiasa optimis dan bersyukur dengan hanya bersandar dan beriman penuh kepada TUHAN. Menyadari kekuatan TUHAN dan mengakui kedaulatannya serta mengaku dengan jujur dan rendah hati akan segala dosa kita, akan mengajarkan kita seperti Nabi Habakuk .... Allah Tuhanku itulah kekuatanku. 
Bukankah Kristus Yesus sendiri mengajarkan kepada kita untuk mengakui kedaulatan BAPA-NYA dan berserah dengan berkata "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (Lukas 22:42).

Tidak mudah, bahkan berat, .... tetapi bukan berarti tidak bisa.
.
ITT - Jakarta, Kamis 14 November 2013.

Wednesday, November 13, 2013

Amos 8:4-8

(Sesuai SBU - Rabu, 20 November 2013)

8:4 Dengarlah ini, kamu yang menginjak-injak orang miskin, dan yang membinasakan orang sengsara di negeri ini
8:5 dan berpikir: "Bilakah bulan baru berlalu, supaya kita boleh menjual gandum dan bilakah hari Sabat berlalu, supaya kita boleh menawarkan terigu dengan mengecilkan efa, membesarkan syikal, berbuat curang dengan neraca palsu,
8:6 supaya kita membeli orang lemah karena uang dan orang yang miskin karena sepasang kasut; dan menjual terigu rosokan?"
8:7 TUHAN telah bersumpah demi kebanggaan Yakub: "Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka!
8:8 Tidakkah akan gemetar bumi karena hal itu, sehingga setiap penduduknya berkabung? Tidakkah itu seluruhnya akan naik seperti sungai Nil, diombang-ambingkan dan surut seperti sungai Mesir?

PENGANTAR

Kitab Amos ditulis oleh nabi Amos. Amos, salah seorang peternak domba yang berasal dari Tekoa (1:1), sebelah tenggara Betlehem, adalah nabi pertama dalam Alkitab yang pesannya dicatat secara terperinci. Ia berasal dari sebuah kota di Yehuda/Kerajaan Selatan, tetapi ia berkhotbah kepada orang-orang Israel di Kerajaan Utara sekitar pertengahan abad ke-8 SM (7:12-13). Kitab Amos hanya memberikan petunjuk historis bahwa Amos melayani pada masa pemerintahan Raja Yerobeam di Israel dan Raja Uzia di Yehuda (1:1).

Pada masa itu banyak orang hidup makmur, ibadah dipentingkan, dan negeri Israel nampaknya damai. Tapi Amos melihat bahwa yang mengecap kemakmuran hanyalah para hartawan yang memperkaya diri dengan hasil penindasan dan ketidakadilan terhadap orang miskin. Orang menjalankan ibadah dengan hati yang tidak tulus, dan keadaan damai hanya tampak dari luar. Dengan berani dan penuh semangat, Amos menyampaikan pesan bahwa Tuhan akan menghukum bangsa Israel. Amos menyerukan agar keadilan "mengalir seperti air". Ia berkata, "Mungkin Tuhan akan mengasihani orang-orang yang tersisa dari bangsa Israel" (5:15).

Secara rinci keadaan Israel (secara khusus di Kerajaan Utara) dapat kita ketahui dari kitab Amos sbb:

1. Situasi Politik.
Masa pemerintahan Raja Yerobeam II merupakan masa kemakmuran bagi Israel, demikian pula dengan apa yang dialami Yehuda pada masa pemerintahan Raja Uzia. Israel dan Yehuda dapat menaklukkan negara-negara tetangga dan memperluas daerah perbatasan mereka melampaui batas yang ada pada zaman Salomo (bdk. 2 Raja 14:25; 2Taw.26:6-8). Kekuasaan besar Mesir dan Asyur pada saat itu lebih tertarik dengan permasalahan-permasalahan yang ada di sekitar mereka, sehingga daerah Palestina bebas dari dominasi luar.
Dengan kondisi teritorial yang semakin luas serta kebebasan dari dominasi asing membuat Israel dan Yehuda hanyut dalam perdagangan internasional serta pajak-pajak yang dihasilkan dari perdagangan tersebut. Bukti-bukti arkeologi menunjukkan kemakmuran Samaria pada periode tersebut. Dengan kata lain, pada masa itu Israel dan Yehuda berada pada puncak kemakmuran secara politik dan ekonomi.
Iklim semacam itu mendorong kemunculan optimisme publik yang berlebihan tentang prospek bangsa itu pada masa mendatang. Mereka meyakini bahwa bangsa Israel masih akan terus berkembang dalam segala aspek. Tidak heran ketika Amos dan Hosea memberikan evaluasi yang berbeda dengan optimisme tersebut, mereka langsung menolak berita tersebut.

2. Situasi Sosial & Ekonomi.
Kesuksesan militer dan politik pada gilirannya melahirkan orang-orang yang kuat secara ekonomi dan sosial. Perdagangan meningkat tajam (8:5a), bahkan berskala internasional (3:9). Pembangunan gedung-gedung makin berkembang (3:15). Jumlah rumah semakin banyak (3:15b; 5:11; 6:8) dan perabotan pun semakin bervariasi (3:10, 12b,15b;6:4a). Pengembangbiakan pohon anggur dan ternak meningkat untuk mencukupi permintaan pelanggan (5:11b; 6:4b) karena kehausan pelampiasan akan pesta-pesta (4:1;6:4,6). Mereka menyalahgunakan kekuasaan dan kekayaan mereka untuk menindas mereka yang miskin dan lemah. Ketidakadilan dapat ditemui di mana-mana dengan mudah (5:7, 15, 24; 6:12). Praktek penipuan dalam berbisnis semakin menguntungkan (8:5b). Perbudakan karena utang yang belum terbayar semakin beragam bentuknya (2:6;8:6). Orang-orang yang kurang mampu secara sosial dieksploitasi (2:7a; 4:1;8:4) Hak-hak mereka ditindas melalui intimidasi para saksi dan hakim (2:7a;5:10,12). Situasi seperti inilah yang menjadi fokus pemberitaan Amos.

3. Situasi Keagamaan.
Masalah utama pada zaman Amos adalah penyembahan berhala (2:8; 5:5, 26; 7:9-13; 8:14). Walaupun mereka tetap menjalankan ibadah kepada TUHAN secara luar (4:4-5; 5:21-26) maupun memelihara Sabat (8:5), tetapi hidup mereka secara keseluruhan bertentangan dengan keagamaan mereka. Mereka tidak memperhatikan keadilan (2:7-8). Kemabukan menjadi sesuatu yang umum, bahkan di kalangan para wanita (4:1; bdk.2:8). Semua ini membuat TUHAN muak dengan semua ibadah mereka (5:23-25).

TUJUAN

Kitab Amos ditulis untuk menegur bangsa Israel yang meletakkan kepercayaan diri mereka pada tempat yang salah. Status sebagai keturunan Yakub, ibadah eksternal yang masih berlangsung dan kesuksesan dalam segala hal telah membuat mereka merasa aman.
Mereka tidak percaya bahwa malapetaka akan didatangkan oleh TUHAN atas mereka. Hari TUHAN menurut mereka adalah hari kemenangan, padahal hari itu justru menjadi kekelaman bagi mereka (5:18, 20).

Di tengah situasi seperti ini mereka diperingatkan untuk bertobat. Mereka perlu diingatkan bahwa hukuman TUHAN berlangsung adil atas semua bangsa, baik bangsa pilihan maupun bangsa kafir (Amos 1-2). Jika mereka tidak mau bertobat, maka TUHAN akan mendatangkan hukuman. Mereka yang menjadikan teman sebangsanya budak akan menjadi budak di negeri asing (9:4). Ayah dan anak yang sama-sama berzinah dengan pelacur (2:7-8) akan menyaksikan isteri mereka dijadikan pelacur dan anak-anak mereka mati oleh pedang (7:17). Mereka yang menindas orang miskin (2:7; 4:1) akan ditindas (2:13).

STRUKTUR

1. Judul 1:1

2. Pendahuluan 1:2

3. Hukuman atas negara-negara tetangga Israel 1:3 - 2:5 

4. Hukuman atas Israel 2:6 - 6:14 

5. Lima penglihatan 7:1 - 9:10 
   a. Penglihatan pertama: belalang 7:1-3
   b. Penglihatan kedua: api 7:4-6
   c. Penglihatan ketiga: tali sipat 7:7-9
   d. Amos dan Amazia 7:10-17
   e. Penglihatan keempat: bakul dengan buah-buahan 8:1-2
   f. Pernyataan penghukuman 8:3-14 ===> bagian bacaan kita pekan ini.
   g. Penglihatan kelima: Tuhan dekat mezbah 9:1-6
   h. Pernyataan penghukuman 9:7-10

6. Dua janji keselamatan 9:11-15
   a. Pemulihan kemah Daud 9:11-12
   b. Kembalinya kemakmuran 9:13-15

Dari uraian di atas, maka segera tampak bahwa tema teologis yang dominan dalam Kitab Amos adalah tentang keadilan TUHAN. Allah melakukan penghakiman-Nya tanpa memandang bulu. Baik bangsa kafir maupun umat-Nya sendiri akan dihakimi sesuai perbuatan mereka. Tidak ada satu bangsa pun yang kebal dari hukuman (Am 1-2). Di samping itu, keadilan ditempatkan Allah sebagai prioritas hidup yang melebihi upacara keagamaan secara eksternal (5:24).

KONTEKS BACAAN

Bacaan kita pekan ini termasuk ke dalam 5 penglihatan Nabi Amos mengenai apa yang akan terjadi bagi Israel di kemudian hari bila mereka tidak bertobat, hal mana penglihatan Nabi Amos ini membangkitkan kemarahan Amazia, imam di Betel yang melaporkan Amos kepada Raja Yerobeam dengan tuduhan persepakatan melawan raja (7:10-11).
Perhatikan struktur lebih rinci dari pasal 8 ini:
Amos 8:1-2 = Penglihatan keempat: bakul dengan buah-buahan
Amos 8:3 = Pernyataan Penghukuman
Amos 8:4-6 = Dosa bangsa Israel
Amos 8:7-10 = Ratapan penderitaan
Amos 8:11-14 = TUHAN berdiam diri

Jadi bagian bacaan kita pekan ini mempelajari tentang salah satu dosa Israel yang diingatkan Nabi Amos supaya mereka bertobat, bila tidak ingin ada ratapan penderitaan dan akhirnya TUHAN seakan-akan berdiam diri dan tidak memperdulikan mereka sama sekali.

URAIAN

Amos 8:4-6
8:4 Dengarlah ini, kamu yang menginjak-injak orang miskin, dan yang membinasakan orang sengsara di negeri ini 8:5 dan berpikir: "Bilakah bulan baru berlalu, supaya kita boleh menjual gandum dan bilakah hari Sabat berlalu, supaya kita boleh menawarkan terigu dengan mengecilkan efa, membesarkan syikal, berbuat curang dengan neraca palsu, 8:6 supaya kita membeli orang lemah karena uang dan orang yang miskin karena sepasang kasut; dan menjual terigu rosokan?"

- Ayat 4 adalah merupakan penekanan terhadap apa yang Nabi Amos serukan di Amos 5:11 (Sebab itu, karena kamu menginjak-injak orang yang lemah dan mengambil pajak gandum dari padanya, -- sekalipun kamu telah mendirikan rumah-rumah dari batu pahat, kamu tidak akan mendiaminya; sekalipun kamu telah membuat kebun anggur yang indah, kamu tidak akan minum anggurnya.)
Sebagaimana kita ketahui, hukum Israel yang diberikan TUHAN menghendaki umat Israel untuk membuka tangan lebar-lebar bagi kaum miskin di Ul.15-7-11 - bandingkan Maz.72:12-13.
- Dalam ayat 5 dikemukakan bahwa sebegitu jauhnya umat Israel melenceng dari hukum di atas, sehingga mereka juga berlaku munafik, dan menempatkan ibadah mereka, sabat mereka hanya sebagai hiasan/polesan semata padahal adalah suatu kejahatan besar berdagang dengan mengecilkan efa, membesarkan syikal dan berbuat curang dengan neraca palsu! (Im.19:36; Ul.25:14-15). Perbuatan itu jelas melanggar hukum ke 8 dari 10 perintah TUHAN; Jangan mencuri! yang pelaksanaannya tercatat di Imamat 19:35-36; Ulangan 25:13-16 - bandingkan dengan Ams.11:1; Ams.20:10,23; Yeh.45:10-12.
Catatan:
* Bulan baru dan sabat adalah hari-hari yang dikuduskan buat TUHAN. Jadi tujuan utamanya bukan untuk berhenti dari bekerja, tetapi menguduskan dan mengkhususkan satu waktu khusus untuk TUHAN.
* Efa adalah ukuran takaran/isi barang bukan cair, sebesar kurang lebih 36 liter. Untuk barang cair digunakan bat yang besarnya sama dengan efa.
* Syikal adalah ukuran timbangan sebesar 11,4 gram. Biasanya dipakai untuk ukuran jumlah uang.

- Ayat 6 merupakan penekanan atas teguran TUHAN terhadap Israel di Amos 2:6 (2:6 Beginilah firman TUHAN: "Karena tiga perbuatan jahat Israel, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh karena mereka menjual orang benar karena uang dan orang miskin karena sepasang kasut;) - bahkan memperdagangkan barang yang sudah rusak/terigu rongsokan.

Amos 8:7-8
Amos 8:7 TUHAN telah bersumpah demi kebanggaan Yakub: "Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka! 8:8 Tidakkah akan gemetar bumi karena hal itu, sehingga setiap penduduknya berkabung? Tidakkah itu seluruhnya akan naik seperti sungai Nil, diombang-ambingkan dan surut seperti sungai Mesir?

- Untuk ke 3 kalinya dalam Kitab Amos, kata "TUHAN telah bersumpah" muncul. Sebelumnya didahului di Amos 4:2 dan 6:8. Hal ini cukup mengerikan, karena jelas menekankan bahwa TUHAN tidak akan pernah melupakan dosa-dosa Israel! dan dosa tersebut terjadi karena perilaku arogan keturunan Yakub itu yang tidak mengindahkan hukum TUHAN dan menindas kaum miskin. Jelas, mereka telah melupakan apa yang TUHAN firmankan pada mereka untuk tahu diri, bahwa mereka dahulu juga dilepaskan TUHAN dari Mesir sebagai orang asing yang tertindas (Kel.22:21) dan ketika mereka telah mendiami tanah yang berlimpah susu dan madu sesuai janji TUHAN, maka merekapun lupa segalanya dan tidak lagi mengindahkan Hukum TUHAN! Lebih mengerikan lagi, karena sumpah tersebut menyebutkan bahwa IA tidak akan melupakan perbuatan dosa Israel!
- Sungai Nil dipakai Nabi Amos sebagai analogi/perlambang akan TUHAN. Sebagaimana TUHAN yang penuh kasih dan penuh kekuatan yang dahsyat, demikian pula sungai Nil adalah sumber kemakmuran karena aliran sungai tersebut menjadi sumber kehidupan dan kemakmuran, akan tetapi juga dapat merupakan sumber malapetaka kalau sungai tersebut meluap dan membanjiri, menghanyutkan dan membunuh penduduk sekitarnya!

APLIKASI

1. Mengecilkan efa, membesarkan syikal dan neraca palsu adalah bentuk lain dari mencuri. Dan mencuri menyengsarakan orang lain, merampas hak orang lain dan menyusahkan ciptaan TUHAN. Kristus Yesus menekankan hal ini sebagai bagian dalam mengasihi sesama (Mat.18:18-19; bandingkan Rom.13:9).

2. Kemunafikan seperti pada masa Nabi Amos merasuk sampai ke dalam ibadah mereka, yang dilaksanakan hanya sebagai rutinitas dan ingin cepat-cepat dilewati untuk kembali melakukan hal mencuri di atas. Kita bisa belajar bahwa ibadah sejati tidak dapat dibatasi pada aktivitas keagamaan di gereja atau ibadah rutin lain saja. Ibadah sejati mencakup keseluruhan hidup umat Allah (bandingkan Rom 12:1). Ibadah sejati memperhatikan orang lemah dan yang membutuhkan (bandingkan Yak 1:27). Ibadah dalam arti yang komprehensif seperti inilah yang lebih dicari TUHAN. Tanpa semuanya ini, ibadah kita justru akan menjadi beban bagi TUHAN (Amos 5:21-23) dan kita sendiri akan berada dalam hukuman ilahi (bandingkan 1Kor 11:22, 30).

3. Keadilan TUHAN adalah mutlak. IA berdaulat dan menguasai kehidupan kita semua, sebagaimana Israel dan suku bangsa lain. Atas keadilan dan kemurahan hati-NYA bukan saja berkat yang sanggup IA senantiasa berikan, namun hukuman-NYA juga mampu menimpa kita, sebagai pribadi dan bahkan bangsa - bila kita melanggar perintah-NYA. Waspadailah itu!

Bercermin kepada keadaan Israel di masa Nabi Amos, dan memposisikan situasi dan kondisi kita di Indonesia sekarang ini, seruan Nabi Amos seakan-akan ditujukan kepada kita. Mengapa? Mari buka mata dan lihat di sekeliling kita, dan niscaya kita akan terkejut merasakan bahwa di mana-mana tempat begitu banyak kecurangan dan ketidak-perdulian terhadap orang yang miskin. Munculnya berbagai kasus korupsi membuktikan hal ini, melonjaknya harga-harga dengan tidak lagi mengingat kesusahan yang ditimbulkan oleh rakyat, keadilan yang begitu sulit diperoleh dan kemunafikan oleh pejabat di berbagai bidang usaha maupun pemerintah begitu mencolok - bahkan menggejala pula pemakaian ibadah-ibadah oleh orang percaya untuk memperoleh keuntungan pribadi! - semua hal-hal di atas merupakan suatu duplikasi atas apa yang ditegur oleh Nabi Amos.

Mari berhenti mengharapkan terus Kasih TUHAN untuk diluputkan dari petaka kalau terus berbuat dosa, dengan mulai aktif menghentikan semua perbuatan dosa itu sendiri!

ITT - Jakarta, Rabu 13 November 2013.