Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan GPIB

Friday, July 27, 2007

7 & 70


Alkisah ada seorang anak yang dikaruniai Tuhan kuasa untuk menyembuhkan orang sakit. Dari berbagai daerah yang jauh berdatangan banyak orang yang ingin sembuh atau yang sekedar ingin membuktikan cerita ajaib ini. Salah seorang pejabat pentingpun juga hadir di tempat itu, dan ketika bertemu langsung bertanya kepada anak itu; "Nak, apa yang menjadi rahasia hidup sehat dan bahagia?" Jawab anak itu; "Takutlah akan Tuhan, Jangan melakukan kejahatan. Senantiasalah berbuat kebajikan."

Pejabat itu merasa keki karena begitu jauh ia terbang ke tempat anak ini cuma untuk mendengar hal yang ia sudah tahu, lalu dengan menggerutu ia berkata; "ah kalau itu sih anak umur 7 tahun saja tahu" dengan senyum ceria anak itu menjawab; "Memang pak, anak-anak umur 7 tahun saja tahu itu, tapi orang berumur 70 tahun saja tetap sulit melakukannya!"

11 Juli 2007 yang lalu BPK-PKB GPIB memasuki usianya yang ke-26 tahun, sungguh masih muda di banding BPK-GP yang sudah berusia 57 tahun, tetapi kembali ukuran usia ini bukan menjadi tolok ukur ketika menempatkan BPK-PKB sebagai sesama BPK dengan si GP, PT & PA yang adalah anaknya serta PW sebagai pasangan hidupnya dalam kenyataan pelayanan sehari-hari. Sang Imam PKB ternyata ketinggalan oleh ke-4 BPK lainnya dalam berbagai kegiatan pelayanan dan ibadah.

Alhasil hal "tahu", dan "melakukan" tugas sebagai kepala keluarga dalam konteks keluarga kristen harus selalu di perbaharui dan disegarkan dalam berbagai aktivitas bergereja, baik melalui ibadah, pembinaan maupun pelayanan. Bukan suatu yang luar biasa kalau si Imam ini "harusnya" memang lebih dalam segalanya di banding pasangan dan anak-anaknya di ke-4 BPK lain.

Saya pernah di tanya; "Institusi apa yang terbesar di dunia?" Jawab saya "Gereja!" - kenapa? karena hanya kita saja umat Kristen yang punya institusi sebesar gereja. Bayangkan, dari usia rata-rata 5 tahun kita sudah terlibat dalam bergereja di BPK-PA, lalu meniti ke PT, GP dan bermuara di PW atau PKB, lalu kalau saja ke-5 BPK ini mengenakan suatu sistim pembinaan terpadu yang berkesinambungan, betapa luar biasanya luaran mereka ketika menjadi anggota PW atau PKB.

Kita semua tahu itu, tetapi berat untuk melakukannya. Ketika pelayanan berjalan harus kita akui, kita tersesat di daerah dapur berjalan, aksi masak, paduan suara, wisata rohani dan melalaikan pembinaan, pengajaran dan ibadah yang benar. Kita terlalu sibuk dengan diri dan BPK kita sendiri, sampai lupa campur tangan dalam membina ke-3 BPK yang juga merupakan anak-anak kita. Jadi sebagaimana kehidupan nyata, ..... bapak & ibu terlalu sibuk dengan urusan masing-masing sampai lupa membina anak-anak dalam keluarganya, .... berapa dari anggota PKB dan PW kita yang terlibat langsung dengan membina sekolah minggu? PT dan Pemuda?

Kembali ke cerita di atas: tahu dan melakukan tidak tergantung usia, maka kita harus optimis, bahwa memasuki bertambahnya usia kita dibebankan tanggungjawab yang lebih besar, membawa ke-5 BPK ini sebagai suatu wadah dalam tubuh Kristus yaitu gereja, dengan saling membina dengan penuh tanggungjawab dan kasih sayang sesuai dengan kategori yang ditentukan, sebagai Bapak, Ibu dan anak-anaknya yang Pemuda, Teruna dan Anak-anak. Cerminan suatu keluarga Kristen yang sesungguhnya yang di salin dalam konteks bergereja dan pelayanannya BPK-PKB & BPK-PW, membina BPK-GP, PT dan PA.

Kedewasaan tidak datang seiring bertambahnya umur, Ia datang seiring dengan kesediaan kita menerima tanggung jawab (I Korintus 13:11)

Selamat ulang tahun BPK-PKB dan GP anakku, Kristus Yesus memberkati.

BP BPK-PKB Jemaat Bethania
Ditulis khusus untuk MP3 GPIB Jemaat Bethania Makassar oleh ITT
Jumat, 27 Juli 2007.

Tuesday, July 24, 2007

Persembahan Persepuluhan - Pdt.S.Th.Kaihatu

Selasa, 2007 Juli 24

Persembahan Persepuluhan


Sebuah Tantangan Praktek Beriman

(Pdt. S.Th. Kaihatu)


Asal-mula Adanya Persembahan


Penelitian antropologi budaya menginformasikan kepada kita bahwa pada mula pertama sekali manusia hidup dalam fase ‘pemetik’. Mereka hidup dari buah buah pohon. Pada masa itu mereka menyembah bumi. Sebab bumi dilihat sebagai ‘Sang Ibu’ yang menghidupi. Fase ini diikuti oleh fase berburu. Mereka memburu binatang untuk dimakan. Karena binatang-buruan itu ‘kelihatannya’ sudah disediakan bumi, maka tetap saja bumi disembah sebagai ‘sang Ibu’ yang menghidupi. Fase ketiga adalah fase pertanian. Apa yang dinikmati dalam fase pertama tadi, seka-rang dibudi-dayakan. Namun ada perobahan penting dalam penyembahan. Dalam budaya pertanian-awal, selain fungsi bumi sebagai tempat bercocok tanam, maka dua hal menjadi mengemuka, yakni hujan dan matahari. Orang menyadari bahwa tanpa matahari, tidak akan ada kehidupan di bumi. Obyek penyembahan bergeser, dari penyembahan terhadap bumi, menjadi penyembahan terhadap matahari. Dalam rangka ini matahari dilihat sebagai raja dan panglima yang perkasa yang menakluk- kan kegelapan malam. Fase keempat adalah fase penggembala1. Apa yang dinikmati dalam fase kedua tadi, sekarang dibudi-dayakan. Tetapi seperti kita mengerti, ternak yang digembalakan tergantung dari rumput, rumput tergantung dari hujan dan hujan tergantung dari matahari, maka obyek penyembahan tetap pada matahari. Bukan pada bumi2.

Krisis kehidupan nampaknya tidak intens dalam fase pemetik dan fase ber-buru. Sebab pada kedua fase ini kekurangan-pangan dijawab dengan langkah seder-hana, yakni berpindah tempat. Itulah sebabnya kedua fase ini sering disebut sebagai satu fase saja, yakni fase nomaden. Sebetulnya dalam arti sempit, fase penggembalaan ternak juga bisa dipandang sebagai fase nomaden. Sebab dalam fase ini orang berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari rumput dan air bagi hewan gembalaannya. Bedanya adalah bahwa pada fase penggembala sudah ada semacam ‘home base’ kemana mereka pasti akan pulang. Budaya menetap sebetulnya baru benar benar menjadi kenyataan dalam fase pertanian. Jadi sebetulnya fase penggembala adalah semacam penghubung antara budaya nomaden dan budaya menetap.

Persoalan muncul ketika terjadi krisis krisis yang menyebabkan hidup menjadi sulit. Ada banjir besar, ada musim kering yang panjang dsb, gunung meletus dsb. Sejak dari agama Purba, orang mengimani, bahwa ada kekuatan penentu kehidupannya dan berada diluar dirinya. Dan guna menyenangkan hati Sang Kekuatan itu, -baik ketika semuanya berhasil dengan baik, maupun ketika terjadi krisis- maka mereka memberikan Persembahan. Entah dari hasil tani, pun ternak pun harta milik. Sejajar dengan perkembangan peradaban, yang kemudian bertambah dengan perniagaan dan bidang bidang lain yang sekarang dikenal sebagai sektor jasa, maka persembahan juga makin bervariasi. Ini kita catat semuanya untuk menggaris-bawahi empat hal.

Pertama, bahwa sekalipun gaya hidup dan gaya mata pencaharian berkembang, tetap saja logika bahwa rejeki melibatkan ‘campur tangan dari suatu kekuatan yang tak terlihat yang berada di atas’ tetap saja berlaku sepanjang sejarah peradaban.

Kedua, bahwa persembahan itu diberikan dari berbagai jenis mata pencaharian yang makin bervariasi. Ketiga, pengaturan terhadap apa yang dipersembahkan itu makin lama makin bervariasi juga. Keempat, ini semua diyakini sebagai kehendak dari kekuatan yang tak terlihat itu.

Persembahan dalam Tradisi Alkitab.

Fase fase antropologi budaya yang dikatakan diatas, terutama fase ketiga dan keempat juga terjadi dikalangan agama-agama Semitik, dalam hal ini agama Yahudi, sejak Israel kuno. Dalam kitab kejadian misalnya kita membaca tentang Kain dan Habil yang mempersembahkan hasil pertanian dan peternakan.

Dalam pemahaman spiritual orang Israel, karena Allah sudah melakukan kebaikan, maka umat mengungkapkan kesaksian mereka tentang apa yang sudah Allah lakukan itu dalam bentuk korban dan persembahan. Umat yang tidak melakukannya akan di-pandang sebagai pihak yang tidak tahu berterimakasih. Sebab Allah telah memberikan berkat secara cuma-cuma pada jalan kehidupan. Inilah gambaran situasi spiritual yang harus kita mengerti, kalau kita mau memahami korban dan persembahan dalam Alkitab.

Di dalam Alkitab kita membaca bagaimana persembahan diterima berdasarkan kwalitasnya. Artinya melalui kwalitas persembahan itu kita bisa melihat sikap hati orang yang memberikan persembahan. Orang yang tulus memberikan yang terbaik untuk dipersembahkan. ‘Menyisihkannya’ sejak awal untuk dipersembahkan. Orang yang tidak tulus, menjadikan persembahan sebagai basa-basi, dan karena itu memberikan apa yang ‘disisakan’ di akhir semuanya sebagai persembahan.

Karena Allah memperhatikan sikap hati inilah, maka persembahan Kain ditolak, sementara persembahan Habil diterima. Terlepas dari apa yang terjadi kemudian, kita belajar satu hal, bahwa, Tuhan Allah melihat sikap hati. Dan karena itu sikap kita ketika memberikan persembahan harus cocok dengan apa yang Tuhan Allah inginkan.

Dalam rangka pembahasan kita pertama sekali kita perlu ingat bahwa ada dua istilah yang sangat dekat penggunaannya dalam Alkitab. Istilah-istilah itu adalah ‘Korban’ dan ‘Persembahan’.

Kalau istilah korban digunakan, maka itu pasti menyangkut sesuatu yang disembelih. Ada darah di sana. Sementara kalau istilah persembahan digunakan, maka tidak harus ada yang disembelih. Jadi istilah persembahan lebih luas jangkauannya dari istilah korban.

Kita perlu mengenal lebih dahulu jenis jenis korban dan persembahan dalam tradisi Alkitab, sebab dengan demikian kita juga akan memahami makna korban dan persembahan itu sendiri. Karena banyaknya, kita ikhtisarkan saja sebagai berikut:

1. Korban Pendamaian

Dilakukan untuk meminta pendamaian bagi dosa dosa yang tidak disengaja (Bil. 15/22 ff). Ini tidak berlaku bagi dosa yang disengaja (Bil 15/30-31). Ini adalah korban yang diberikan untuk meminta pendamaian atas dosa-dosa yang dilakukan. Dengan melakukan perbuatan dosa, manusia lalu menjadi seteru Allah. Dalam posisi itu manusia berhutang nyawa pada Allah. Nyawa itu dilambangkan dengan darah. Maka yang harus terjadi adalah penebusan yang dilambangkan dengan darah juga, sebagai cara pendamaian. Korban Pendamaian ini terbagi atas dua jenis:

a. Korban Penghapus Dosa

Dilakukan untuk untuk memperbaiki kembali hubungan dengan Allah dan untuk menebus dosa.

b. Korban Penebus Salah

Berhubungan dengan pertobatan seseorang yang telah mencuri milik sesamanya, atau juga lalai membayar nazar atau tidak membayar iuran kepada Imam. Mirip dengan korban penghapus dosa. Sebelum hewab korban disembelih, orang yang merasa dirinya berdosa, harus meletakkan tangannya pada kepala hewan tersebut sebagai lambang bahwa dia menyerahkan dosanya untuk ditanggung oleh binatang tadi. Dalam Imamat 4 – 7 kita membaca sejumlah aturan tentang korban penghapus dosa dan korban penebus salah ini.


2. Korban Pemujaan

a. Korban Bakaran

Lambang penyerahan diri kepada Allah ( Im.1)

b. Korban Keselamatan

Sama dengan Korban bakaran, tapi hanya lemaknya yang dibakar (Im.3; 7/11-12, 28 – 34).

i. Korban Puji-pujian

Tanda terimakasih atas karunia karunia Tuhan

ii Korban Nazar

Dipersembahkan dengan suatu janji secara sukarela, akan tetapi begitu janji diucapkan, maka Tuhan Allah menagih janji itu agar ditepati (Ul 23/21-23)

iii. Korban Sukarela

Dipersembahkan dengan sukarela tanpa suatu janji

c. Korban Sajian

Dipersembahkan sebagai tambahan pada korban bakaran dan korban sembelihan sebagai lambang persembahan hasil bumi. (Im 2; 7/12 -14; Ul 15/ 3 – 10)

Tentu saja kita bisa memperdalam dan menemukan jenis korban lain juga seperti korban perjanjian, korban kecemburuan dan lain lain lagi. Namun hal korban bukanlah focus kita. Ikhtisar diatas sebetulnya hanya mau menunjukkan betapa banyak kelemahan manusiawi kita yang ditanggung oleh korban satu pribadi saja, yakni Yesus Kristus. Sehingga melalui Dia kita terbebas dari rumitnya korban korban khas Perjanjian Lama.


Sementara itu mengenai hal Persembahan, ternyata banyak sekali bentuknya.

Karena banyaknya kita akan sebutkan beberapa saja.


Pertama. Persembahan dalam arti umum. Persembahan ini adalah pemberian berupa uang atau harta benda lainnya bagi pekerjaan Tuhan. Kita temukan ini misalnya untuk pembuatan kemah Suci (Kel. 35/5) atau juga untuk menolong sesama orang miskin . (Kis. 24:17).

Kedua. Persembahan pagi dan petang atau persembahan tetap (Kel 29/38). Persembahan ini berhubungan dengan pengakuan bahwa Tuhan Allah sendirilah yang menuntun umatnya keluar dari penderitaan. Dan tetap bersedia berdiam diantara mereka. Persembahan ini dilakukan dalam berbagai variasi, dengan nama-nama yang berbeda, sesuai dengan tekanan peristiwanya. Misalnya persembahan cucuran atau persembahan curahan.

Ketiga. Persembahan Khusus, yakni sesuatu yang dipisahkan untuk Tuhan. Karena umat menatang, menimang atau mengunjuk persembahan ini, maka persembahan ini disebut juga persembahan tatangan, persembahan timangan atau persembahan unjukkan. Kita membaca tentang persembahan persem-bahan ini dalam Kel 25/2; 29/ 24 – 28 ; Bil 18/8, 19; Neh. 12/44; dan banyak lagi bagian Alkitab yang menunjuk pada hal tersebut.

Keempat. Persembahan Pentahbisan. Ini khususnya berhubungan dengan pentahbisan Imam (Im 8/22-31).

Seluruh persembahan-persembahan yang disebutkan tadi, tergolong dalam persembahan pemujaan. Persembahan persembahan yang mengungkapkan peng-akuan bahwa tanpa Tuhan umat tidak akan menerima berkat, tetapi sekaligus jawaban terhadap tantangan kehidupan, bahwa hidup orang percaya, aman dalam tangan Tuhan. Salah satunya yang sering masih menjadi kontroversi ada-lah Persembahan Persepuluhan.


Persembahan Persepuluhan


Kita tiba pada bagian yang sekarang merupakan pokok pembicaraan kita. Topik persembahan persepuluhan ini telah menimbulkan semacam kontroversi dan dilemma di GPIB. Dikatakan kontroversi karena ada banyak orang yang tidak menyetujui adanya persembahan persepuluhan. Mereka melihat ini dari segi ekonomis memberatkan. Mereka melihat ini sebagai semacam pajak dalam bergereja. Mereka juga melihat ini memberatkan karena sudah ada PTB segala. Dikatakan dilemma, karena banyak gereja dan warga gereja juga mengatakan bahwa GPIB bukanlah gereja yang benar, karena tidak menjalankan perpuluhan. Malahan banyak warga GPIB yang memper- sembahkan persepuluhan di gereja lain karena di GPIB sendiri tidak diberlakukan persembahan persepuluhan.

Kontroversi dan dilemma ini makin ramai karena ada kenyataan bahwa ada warga Gereja yang mempersembahkan perpuluhannya kepada Yayasan, Lembaga tertentu, malahan kepada Pendeta atau Hamba Tuhan yang melayani. Dan yayasan, lembaga, apalagi hamba Tuhan ini merasa, kalau itu sebagai berkat, dan menikmatinya.

Beberapa Praktek Persembahan Persepuluhan dalam Alkitab

Praktek Persepuluhan kita baca dalam berbagai bagian Alkitab, terutama Kitab Perjanjian Lama. Kenyataan ini bisa kita fahami karena Umat Israel sangat menekankan hal hal ritual yang dalamnya ada korban dan persembahan, sementara semuanya itu menuju kepada Yesus Kristus. Namun itu tidak berarti bahwa masyarakat Perjanjian Baru tidak melaksanakan persembahan sama sekali. Bisa dikatakan bahwa orang Kristen pertama pasti masih mengikuti tradisi Yahudi, kecuali dalam satu hal yakni korban yang berdarah. Tradisi perjanjian Baru itu yang kemudian sampai kepada kita, termasuk persembahan persepuluhan.

Pemberian persepuluhan sebagai persembahan kita baca pertama sekali dalam Kejadian 14/203. Dikatakan di sana, bahwa seorang raja bernama Melkisedek, sekaligus imam Allah yang Maha tinggi, keluar menyambut Abram, setelah Abram berhasil mengalahkan banyak raja-raja lain yang menawan Lot seke-luarga. Dan Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya

Nama Melkisedek itu berarti ‘Raja Kebenaran’. Nama itu berasal dari dua patah kata: Melekh yang berarti Raja, dan Tzadik yang berarti kebenaran atau kebi-jaksanaan. Maka, mereka yang membaca ayat ini dengan mendalam akan mengerti, bahwa Abram memberikan sepersepuluh dari semua yang dia dapat dari perang mengalah-kan para raja, kepada Raja Kebenaran yang adalah Imam Allah Yang Maha-tinggi’. Mudah-mudahan jelas bagi kita -yang menghubungkan gelar Raja dan Imam pada orang yang sama- bahwa ini adalah Tuhan sendiri.

Abraham -Bapa orang beriman- memberikan sepersepuluh dari pendapatannya kepada Tuhan. Ini data pertama tentang persepuluhan, yaitu bahwa orang beriman memberikan persepuluhan kepada Tuhan dari semua hasilnya.

Dalam Kejadian 28/22 kita membaca bahwa setelah mengalami mimpi di Betel, Yakub berjanji, bahwa dia akan mempersembahkan sepersepuluh dari semua yang Tuhan berikan kepadanya kelak. Perhatikanlah kenyataan yang luar-biasa ini. Yakub waktu itu barulah seorang pelarian. Dia tidak memiliki apa- apa. Tapi dia bernazar tentang persepuluhan.

Orang beriman bernazar atau berjanji bagi Tuhan untuk memberikan perse-puluhan dari semua hasilnya kepada Tuhan, justru ketika dia masih dalam usaha untuk mencapai hasil.

Dalam uraian kepada orang Ibrani4 (Ibr 7/9) kita membaca kenyataan yang menarik. Suku Lewi karena tidak mendapat pembagian tanah berhak atas persepuluhan. Dari persembahan itulah mereka hidup. Dengan kata lain orang Lewi mendapat penghasilan dari persembahan persepuluhan umat. Namun dari mereka pun -karena mereka keturunan Abraham, ditarik juga persembahan persepuluhan.

Kita harus mengatakan kenyataan yang jujur ini. Bahwa tidak seorangpun bisa mengatakan diri bebas dari persembahan persepuluhan sekalipun dia hidup dari persembahan persepuluhan itu sendiri.

Dalam II Tawarikh pasal 31, kita membaca bagaimana Raja Hizkia memerin-tahkan agar Israel hidup sesuai dengan kehendak Allah. Dalam rangka itu Hizkia mengatur pengumpulan dan pendistribusian persembahan. Termasuk didalamnya persembahan persepuluhan. Sang Raja juga ikut membayar kewajibannya. Ayat ayat terakhir dari pasal 31 ini menyimpulkan bahwa begitulah Hizkia bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan dan karena itu dia berhasil dalam semua usahanya.

Kita melihat kenyataan menarik bahwa ada hubungan antara pemberian persembahan -termasuk dalamnya persembahan persepuluhan- sebagai pelaksanaan kehendak Tuhan, dan keberhasilan dalam usaha.

Dalam Nehemia pasal 13 kita membaca, bagaimana dalam ketaatannya kepada hukum -Taurat- Nehemia melakukan hal yang sama dengan Hizkia yang disebutkan diatas, termasuk hal persembahan persepuluhan umat dan segala pengaturan persembahan yang lain juga. Dengan cara itu kehidupan umat itu kembali benar di mata Tuhan.

Kita belajar bahwa ada memang banyak hal yang menunjukkan kepautuahn kita terhadap kehendak Tuhan. Dan persembahan persepuluhan merupakan salah satu yang signifikan diantara semua itu.

Perjanjian Baru memberikan tanda yang jelas bahwa Persembahan Persepuluhan berlaku. Sejumlah orang yang membayarnya melakukan hal itu dalam kemunafikan, sehingga ditegur5 oleh Yesus (Mat. 23/23; Luk 11/42; 18/12).

Pada akhirnya kita harus melihat kenyataan Jemaat- Jemaat Pertama. I Kor 9/ 7-146, 16/27, II Kor 8/1 -158, Gal 6/69; I Tim 5/17-1810 dan Ibr 7, semuanya menunjukkan bahwa hal persembahan persepuluhan tidak asing dalam Jemaat jemaat pertama. Justru sejajar dengan itu kita melihat juga bahwa ‘korban berdarah’ seperti yang jelas dalam tradisi makin memudar.

Kita belajar bahwa tidak ada satu ayatpun dalam Perjanjian Baru yang memba-talkan atau yang mengusulkan penggantian pemberian Persembahan Persepu-luhan.

Doktrin Persembahan Persepuluhan Dalam Alkitab

Dari praktek yang diuraikan diatas, kita lalu bisa mengatakan bahwa ada dua fase yang bisa kita baca dalam keseluruhan Alkitab tentang persembahan persepuluhan. Fase pertama adalah Fase Perjanjian Lama yang ditandai dengan hukum hukum Musa. Fase kedua adalah fase Perjanjian Baru yang ditandai dengan ajaran Yesus dan surat surat Pastoral, terutama surat surat Paulus.

Dalam fase Perjanjian Lama yang ditandai dengan Hukum Hukum Musa kita melihat beberapa hal penting yang bisa kita catat.

Pertama, Persembahan Persepuluhan itu diperintahkan sebagai sesuatu yang diharus-kan. (Im. 27/30; Mal.3/10).

Kedua, Persembahan Persepuluhan itu diberikan dengan beberapa kepentingan.

1. Untuk Orang Lewi (Bil 18/21 -24). Orang Lewi tidak mendapat tanah sebagai milik pusaka. Mereka ditugas-kan untuk hal hal menyangkut Bait Allah. Karena itu mereka hidup dari persembahan persepuluhan umat.

2. Sepersepuluh dari sepersepuluh yang diberikan pada orang Lewi itu harus mereka persembahkan sebagai persembahan persepuluhan mereka (Bil. 18/26; Neh 10/37; 12/44). Jadi, sekalipun orang Lewi hidup dari persembahan persepuluhan, namun mereka tidak bebas dari hal mempersembahkan persembahan persepuluhan itu sendiri.

3. Sepersepuluh dari persembahan persepuluhan setiap tiga tahun sekali diberikan kepada orang asing/miskin, orang Lewi, para janda dan anak yatim (Ul. 14/27-29; 26/12 – 14). Dengan demikian jelas sekali bahwa peruntukan persembahan persepuluhan adalah untuk menolong mereka yang sengsara.

4. Persembahan Persepuluhan itu untuk menjadi Persediaan di rumah Tuhan (Mal. 3/10). Istilah Rumah Tuhan disini menunjuk pada Institusi atau persekutuan yang harusnya menjadi pelaksana kasih Allah dalam penggunaan persem-bahan Persepuluhan itu.

5. Persembahan Persepuluhan diberikan sebagai bentuk penghormatan dan kepatuhan terhadap Tuhan Allah (Ams. 3/9-10) Hasil pertama yang disisihkan selalu berhubungan dengan persembahan Persepuluhan. Mempersembahkannya berarti memuliakan Tuhan sebagai penjamin berkat dalam kehidupan.


Ketiga, waktu untuk membawa persembahan persepuluhan itu adalah secara tahunan, bersamaan dengan semua persembahan yang lain untuk upacara Hari Raya (Ul 12/6-7; 14/22-26).

Keempat, bahwa Persembahan Persepuluhan itu adalah Milik Allah dan bukan milik orang yang mempersembahkannya (Im. 27/30 – 34; Mal 3/8).

Kelima, kemana persembahan Persepuluhan itu harus di bawa, yakni ke rumah Tuhan (II Taw. 31/12; Neh. 10/38; 12/44; 13/5, 12; Mal 3/10).

Keenam, kalau persembahan persepuluhan itu dipinjam, maka ketika dibayar harus ditambahkan kepada pinjaman itu seperlima atau dua persepuluh. Dengan demikian keseluruhan yang dikembalikan adalah tiga persepuluh (Im 27/31)

Ketujuh, kalau ditukar, maka yang ditukar berikut tukarannya harus dibayar (Im 27/33).

Dengan demikian jelaslah bahwa bagi dunia Perjanjian Lama, Persembahan Persepuluhan merupakan bagian dari hukum kehidupan, dalam hal ini, Hukum Taurat.

Dalam Fase Perjanjian Baru ketika Yesus Kristus mengajar maka Yesus Kristus juga menyinggung persembahan persepuluhan.

Kita bisa melihat tanggapan Yesus itu dalam Mat 23/23; Luk 11/42; Bd Mat 5/20 dgn Luk 18/11-12; Lihat juga Mat 10/10; Luk 16/16. Kesulitan kita adalah kebiasaan yang sifatnya ‘konkordatif’11 dalam memahami Alkitab. Padahal, terhadap pertanyaan apakah Tuhan Yesus mempersembahkan persembahan persepuluhan, maka acuan kita mestinya bukan hanya kata kata ‘persepuluhan’ yang keluar dari mulut Tuhan Yesus. Sebagai putera Yahudi, pasti Yesus memberikan persembahan persepuluhan, sebab hal itu dilakukan sebagai hukum kehidupan keagamaan khas Yahudi. Maka kata kata Tuhan Yesus dalam Mat 5 : 17 – 20 bagi kita mestinya berarti bahwa bukan hanya Yesus, tetapi juga para muridNya adalah pelaksana pelaksana persembahan Persepuluhan.


Selain Yesus, Rasul Paulus juga bicara tentang hal yang sama:


1. Mengkritik pelanggaran terhadap hal hal yang menyangkut hal hal yang tabu untuk dilakukan (Rm 2/22) atau perampokan terhadap Bait Suci (Mal 3/8 – 10) dan penggunaan benda benda suci (Im 27)

2. Bahwa pengajar yang harus di beri bayaran (Gal. 6/6)

3. Bahwa Tuhan Allah menetapkan bantuan bagi para pelayanNya (I Kor 9/7-14, I Tim 6/ 17-18).

4. Orang Kristen juga harus memberi sebab Allah sendiri telah memberkati mereka dengan banyak berkat (I Kor 16/2).

5. Keturunan Abraham -terutama secara iman- harus berjalan dalam jejak jejak iman yang dicontohkan Abraham.

6. Imamat Melkisedek adalah kekal dan karena itu harus dipelihara oleh keturunan Abraham (Ibr 6/20; 6/1-11, 17, 21).

7. Persembahan Persepuluhan adalah bukti kepatuhan dan penghargaan atas berkatberkat Tuhan (Rom 4/12; Ibr 7/6 -10; I Kor 9/ 7 – 14; I Tim 6/17 – 18; Bd. Mal 3/8 – 10; Ams 3/9 – 10; Kej 14/20; Ul 8/10 – 20).

Berkat-berkat Berhubungan Dengan Persembahan Persepuluhan.

Alkitab juga bicara tentang berkat berkat, berhubungan dengan persembahan persepuluhan ini.

  • Berkat karena kepatuhan ( lihat diatas )

  • Rumah Tuhan tidak akan mengalami kekurangan (Mal. 3/10), sehingga tetap bisa melaksanakan tugasnya dengan baik.

  • Pelayan pelayan Tuhan tidak akan kelaparan (I Kor. 9/7 – 14; I Tim 5/17 – 18; Neh 13/8 – 10; Mal. 3/8 – 10.

  • Berkat material dan spiritual (Mal 3/8 – 10; Ams 3/9 – 10; II Taw 31; Neh 13).

Ada baiknya kita membuat beberapa kesimpulan sederhana tentang petunjuk petunjuk Alkitab yang sempat kita kumpulkan diatas.

Pertama, jelas sekali bahwa persembahan persepuluhan itu punya dasar dalam Alkitab. Tokoh tokoh Alkitab mempraktekkannya dan mengajarkannya.

Kedua, jelas juga bahwa persembahan persepuluhan itu diharuskan oleh Alkitab. Ini berarti diperintahkan oleh Tuhan sendiri. Dan perintah Tuhan itu belum pernah dibatalkan.

Ketiga, bahwa persembahan persepuluhan itu bukan beban melainkan identi-tas umat beriman, sehingga harusnya dilakukan dengan sukacita. Bukan dengan rasa tertekan.

Keempat, persembahan Persepuluhan adalah milik Tuhan dalam keseluruhan berkat yang Tuhan berikan bagi umatNya. Dengan kata lain dalam berkat berkat kita ada bagian Tuhan sendiri yang harus disisihkan.

Kelima, dengan demikian dalam memberikan persembahan Persepuluhan kita harus sadar bahwa kita memberikan apa yang punya Tuhan. Bukan sedang menyumbang atau memperkaya institusi persekutuan orang percaya.

Keenam, jelas bahwa persembahan Persepuluhan itu dibawa ke Rumah Tuhan sebagai representasi persekutuan umat. Dan karena itu tidak ada alasan untuk memberikannya kepada pribadi, yayasan atau lembaga.

Ketujuh, penggunaan persembahan Persepuluhan itu oleh Institusi mestinya berakibat pelayanan yang lebih baik lagi sehingga institusi makin mampu membagikan kasih Allah bagi makin banyak orang.

Kedelapan, adalah salah -bahkan dinilai sebagai upaya menipu Tuhan- kalau orang mengabaikan persembahan persepuluhan. Bahwa ada persembahan lain, itu tidak meniadakan persembahan persepuluhan, sebagai sesuatu yang khusus.

Kesembilan, mereka yang memberikan persembahan Persepuluhan, baik sebagai pribadi maupun sebagai persekutuan, diberkati oleh Allah. Namun harus jelas bahwa orang tidak bisa menyogok Tuhan Allah dengan memberikan persembahan persepuluhan.

Kesepuluh, persembahan Persepuluhan itu berlaku bagi orang percaya disegala tempat dan segala zaman.

Pergumulan Pergumulan Kontemporer

Pergumulan kontemporer yang umum adalah bagaimana memahami persem-bahan Persepuluhan begitu rupa sehingga sekalipun kita berada pada era niaga dan sektor jasa, namun persembahan persepuluhan sebagai praktek beriman tetap bisa dilaksanakan dengan baik dan benar. Harus dikatakan bahwa secara umum, perkem-bangan perkembangan membuat kita tertolong. Misalnya saja tentang waktu pembe-rian persembahan persepuluhan itu. Jelas sekali bagi dunia Perjanjian Lama, itu diberikan secara tahunan. Ini karena latar-belakang pertanian dan penggembalaan. Dalam masyarakat seperti itu penghasilan baru akan jelas kelihatan secara tahunan. Dewasa ini kita tidak lagi harus menunggu setahun, tetapi bisa kita lakukan setiap bulan. Karena penghasilan kita -kecuali didaerah pertanian tradisional- adalah penghasilan bulanan, maka persembahan Persepuluhan juga harus diberikan setiap bulan. Misal yang lain adalah bahwa -lagi lagi kecuali di daerah pertanian yang sangat tradisional- kita tidak usah lagi membawa persembahan Persepuluhan dalam bentuk hasil pertanian atau peternakan. Kita bisa melakukannya dalam bentuk uang.

Pergumulan kontemporer khas Gerejawi ternyata lebih rumit dari pergumulan kontemporer yang umum. Dan salah satu contohnya adalah GPIB sendiri. Dalam hubungan ini barangkali kita mau melihat sejumlah -pasti tidak semua- pergumulan khas GPIB tentang persembahan persepuluhan.

Pergumulan awal tentang persembahan persepuluhan ada dua.

Yang pertama, adalah apakah persembahan persepuluhan itu masih tetap wajib setelah Perjanjian Baru?. Jawaban tentang hal ini jelas. Bahwa fakta Yesus sebagai putera Yahudi dan Paulus yang banyak surat pastoral tidak pernah membatalkan ataupun mengganti persembah-an Persepuluhan. Darah Yesus di Golgota membatalkan korban korban berdarah. Bukan membatalkan persembahan Persepuluhan.

Pergumulan awal yang kedua, adalah pertanyaan, apakah ini semacam ‘pajak’ bagi Gereja?. Jelas jawabnya tidak. Perlu diketahui bahwa dikalangan masyarakat seputar Israel sendiri ada yang memang menarik persepuluhan dari rakyat mereka. Ada yang ditarik untuk kepentingan Raja, ada yang ditarik untuk kepentingan tentara. Justru dalam Alkitab persepuluhan ditarik oleh Bait Allah yang tidak mempunyai kekuatan duniawi seperti Raja dan tentara. Tapi mengapa ini terus berjalan? Jawabnya, karena persembahan persepuluhan itu membuat persekutuan makin mampu membuat makin banyak orang mengalami belas-kasihan Allah.

Setelah pergumulan utama diatas, muncul berbagai pergumulan yang tak kurang beratnya, dibandingkan dengan pergumulan awal diatas. Berikut ini mau dicatat beberapa saja dari kebiasaan yang salah12.

  • Kebiasaan salah pertama adalah mempersoalkan Persembahan Persepuluh-an dalam hubungan dengan PTB. Jawabnya sederhana. PTB itu terjadi karena GPIB belum mampu menerapkan aturan Alkitab yang namanya persepuluhan. Dalam Persidangan Sinode Tahun 2000 GPIB mulai memperhatikan hal persembahan persepuluhan ini13. Tapi dalam Persidangan Sinode Istimewa tahun 2004, GPIB makin bertobat dalam arti berusaha sebagai gereja untuk memberlakukan prinsip prinsip Alkitab, termasuk tentang persepuluhan14. Apakah PTB masih ada?. Jawabnya, masih ada dalam masa transisi. Tapi kita menuju ke persepuluhan. Apakah harus dobbel, PTB dan persepuluhan?, jawabnya tidak perlu. PTB itu aturan GPIB, Persepuluhan itu aturan Tuhan. Sekarang GPIB mengajak seluruh umatnya untuk mematuhi aturan Tuhan. Konkritnya, kalau sekarang kita melaksanakan Persepuluhan apakah kita boleh mengabaikan PTB?. Jawabnya, boleh sekali. Kalau ada yang mau tetap mempersembahkan PTB selain Persembahan Persepuluhan?. Boleh saja. Kalau ada yang mengangkat Persepuluhan, kemudian membaginya atas berbagai macam, termasuk PTB?. Jawabnya ya tidak boleh. Persepuluhan ya persepuluhan. Apakah tidak takut kolekte berkurang? Jawabnya, kalau kolekte berkurang tapi persembahan Persepuluhan bertambah, maka yang akan terjadi adalah saldo tambah. Bukan saldo kurang!.

Kebiasaan salah yang kedua, sebagaimana disinggung di atas adalah, adanya sejumlah orang yang mengklaim diri sebagai berhak atas persepuluhan, dan tidak mau memberikan persepuluhan. Sedihnya, orang orang ini sering adalah fungsionaris fungsionaris ibadah, termasuk lembaga atau yayasan independent yang bergerak dalam bidang yang sama. Ini jelas bertentangan dengan kesaksian Alkitab. Ada sejumlah orang dengan roh materialistik yang mau memanipulasi Firman, khususnya mengenai persepuluhan. Jangan berikan kesempatan kepada orang-orang seperti ini. Kita harus menjaga agar jangan ada fungsionaris pelayanan gereja yang materialistik, dan ingin mengambil keuntungan dari persepuluhan. Tetapi kita juga harus mengingatkan umat agar jangan menjadi pelit kepada Tuhan lalu ‘menipu’ milik-Nya sendiri, yakni hak Tuhan atas persepuluhan. Kalau jelas bahwa Suku Lewipun harus memberikan persembahan Persepuluhan, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa para fungsionaris pelayanan -termasuk pendeta yang hidup dari persembahan umat- tidak bisa membebaskan diri dari ketentuan Persembahan persepuluhan. Kitab Nabi Maleakhi 3:8–10 secara jelas mengatakan, bahwa orang yang tidak mempersembahkan persepuluhan dia menipu Tuhan. Kalau hidup seorang penipu terus-menerus bermasaalah dan berkekurangan, apalagi seorang penipu Tuhan. Besar kerusakannya.

Kita telah melihat data Alkitab yang persis, bahwa yang menjadi terminal terakhir Persembahan persepuluhan, adalah Rumah Tuhan. Dengan begitu yang dimaksud adalah persekutuan setempat dimana orang beribadah. Tidak ada data bahwa seorang dari Hebron memberikan persembahan persepuluhan ke Yerikho misalnya. Karena itu, maka juga tidak benar apabila seorang warga jemaat GPIB di Jakarta, mengirimkan Persembahan persepuluhannya ke GPIB lain di pos pelkes. Yang benar adalah GPIB tersebut di Jakarta -sebagai persekutuan- membantu GPIB di Pos Pelkes juga sebagai persekutuan.

Kebiasaan salah yang ketiga adalah, memberikan persepuluhan secara tahunan. Telah diuraikan diatas tadi, perbedaan pola penghasilan di Israel zaman PL dengan sistim kita yang bulanan. Maka persembahan persepuluhan juga seyogyanya diberikan secara bulanan. Kalau masih diberikan secara tahunan sebetulnya persepuluhan itu dipandang sebagai semacam PTB. Maka akan aneh kalau diumumkan, bahwa persepuluhan pak anu bulan September sekian, padahal beliau telah almarhum dibulan Juni!.

Kebiasaan salah keempat adalah angka persepuluhan yang mutlak harus sama. Justru tidak harus sama. Angka persepuluhan bisa fluktuatif, tergantung penghasilan. Disini kadang kadang ‘kedagingan’ masih bermain peranan. Seorang yang biasanya memberikan sekian, merasa ‘tidak-enak’ kalau bulan ini hanya memberi sekian. Padahal yang terjadi adalah perusahannya tutup, dia baru pension, panennya gagal dsb. Jangan merasa risih kalau penghasilan bulan ini lebih rendah dari bulan lalu. Adalah menyedihkan kalau dalam memberikan persembahan persepuluhan kita mencari kehormatan di mata manusia, sementara di mata Tuhan Allah kita justru butuh pertolongan.

Kebiasaan salah kelima adalah pemahaman tentang penghasilan yang sepersepuluhnya dipersembahkan. Sebetulnya persembahan persepuluhan adalah hal yang sangat pribadi. Penghasilan adalah penghasilan dan bukan modal kerja. Tegasnya, uang makan dan uang transport baik yang regular maupun karena penugasan khusus, bukanlah penghasilan dan karena itu tidak kena aturan persepuluhan. Mengapa demikian?. Karena modal kerja adalah benih. Bukan hasil. Persepuluhan tidak pernah dipersembahkan dari benih. Persepuluhan dipersembahkan dari hasil. Masalah kita memang menjadi rumit karena kemajuan. Yang pertama ada pekerjaan yang hanya memberikan gaji secara total, tanpa memperhitungkan transportasi, makan siang dsb. Pokoknya, sekian. Kalau ini yang terjadi, maka pribadi yang bersangkutan harus menghitung sendiri berapa penghasilan sesungguhnya. Dengan demikian kita terhindar dari kasus Ananias dan Safira. Yang kedua ada pekerjaan yang gajinya diberikan lewat rekening Bank. Jadi tidak ada amplop yang pulang kerumah untuk membuat Ibu rumah tangga membuat perhitungan. Penyelesaiannya sama saja. Hitung, dan jangan menjadi seperti Ananias dan Safira. Tentu saja ada orang yang mengangkat persepuluhan dari keseluruhannya, karena merasa semuanya adalah penghasilan. Boleh boleh saja.

Kebiasaan salah keenam adalah, sikap masa-bodoh terhadap pemeriksaan yang berdasar dalam pemahaman yang salah tentang Firman. Memang Tuhan Yesus mengatakan bahwa apa yang diberikan dengan tangan kanan, tidak usah diketahui tangan kiri. Ini benar kalau berarti bahwa kita tidak usah mempersoalkan untuk program yang mana persepuluhan digunakan, sebab ini kesepakatan program pelayanan. Akan tetapi kita wajib mencek apakah persembahan persepuluhan kita memang telah sampai ke perbendaharaan rumah Tuhan. Dan untuk itu, kita harus memeriksanya lewat warta keuangan. Namun kadang kadang terjadi ekstrim yang lain juga. Justru karena kita melihat ketidak-beresan management gereja sebagai institusi lalu kita batal memberikan persembahan Persepuluhan. Jawabannya sederhana. Perbaiki managementnya dan tuntut agar terus terjadi perbaikan. Tapi kalau kita berpikir bahwa karena manusianya salah maka hak Tuhan kita tahan dulu, rasanya kita salah dan tidak logis juga. Lain orang yang melakukan kesalahan, lain orang yang menerima ‘getahnya’.

Kebiasaan salah ketujuh adalah, penolakan secara mentah-mentah terhadap persembahan persepuluhan, karena memang tidak mau. Ada yang karena berpikir bahwa Gereja justru punya banyak uang. Ada yang berpikir bahwa dengan memberikan persembahan persepuluhan dia melayani hasrat materialistik institusi. Ada yang memang sayang akan uangnya. Namun ada juga yang menolaknya karena memandang dirinya begitu berkekurangan sehingga dia yang justru perlu dibantu. Orang seperti ini membutuhkan sejumlah pengalaman dari Tuhan untuk lebih beriman. Sebab ini bukan soal kaya-miskin. Ini soal ketaatan. Catatan kecil yang Tuhan Yesus berikan tentang janda miskin sangat menarik perhatian. Seorang janda, yang justru di bela oleh institusi Bait Allah, tetap memberikan persembahan. Tuhan ingin kita jujur dihadapan-Nya. Penerima bantuan diakoni tidak bebas dari persembahan persepuluhan.

Kebiasaan salah yang kedelapan yang menyangkut hampir seluruh umat adalah pada satu sisi pengabaian terhadap penilaian kinerja fungsionaris pelayanan, dan pada sisi yang lain, pengabaian terhadap program pelayanan itu sendiri. Suatu proses introspeksi diri yang serius dibutuhkan baik pada pribadi, mekanisme kerja, maupun beban program yang harus dilayani. Dengan demikian, persembahan umat mencapai maksudnya. Harap jelas bahwa kita bukan hanya menangani persembahan orang. Kita juga menangani ‘doa’ orang sejajar dengan persembahan itu.

Catatan catatan berikut akan dibuat justru setelah kita selesai pembahasan. Sebab pembahasan ini memang disempurnakan oleh catatan demi catatan dari jemaat ke jemaat.


Estehaka.-


1 Istilah penggembala digunakan disini untuk membedakannya dari peternakan modern, dimana ternak ditempatkan ditempat yang tetap, tidak berpindah pindah. Dalam fase penggembala, ternaknya berpindah pindah mengikuti gembala yang mencarikan rumput dan air untuk ternak gembalaan.

2 Dan Brown, penulis novel The DaVinci Code yang terkenal itu mengeksplorasi fakta antropologis ini untuk mengatakan bahwa model penyembahan sekarang yang berorientasi ‘ke atas’ adalah penyimpangan. Penyembahan harus dikembalikan ke bawah. Dari sini dia memanfaatkan euphoria feminisme dan menuduh agama sekarang merupakan semacam penjajahan kaum maskulin. Ujung ujungnya yang harus disembah -menurut Brown- adalah Maria Magdalena dan bukan Yesus.

3 Urutan <<surat>> dalam Alkitab yang digunakan disini adalah sebagaimana yang digunakan Gereja. Argumentasi akademis tentang tua-muda nya naskah asli sengaja tidak diperhitungkan.

4 Penulis Surat Ibrani menuliskan suratnya kepada orang Kristen yang berlatar-belakang Yahudi dan karena itu pasti menggunakan latar belakang keyahudian, yang sekaligus berarti hubungan erat dengan Ibadah <<Israel>> juga.

5 Yesus menegur mereka karena mereka mengabaikan kasih, dan menggunakan hal persembahan persembahan mereka -termasuk persepuluhan- sebagai semacam hak untuk menjadi sombong-rohani dihadapan Allah. Tapi ini sama sekali tidak berarti bahwa Yesus tidak bersetuju dengan persembahan persepuluhan. Kita malahan harus mengatakan bahwa sebagai putera Yahudi yang taat, Yesus pasti mempersembahkan persembahan persembahan, termasuk persembahan persepuluhan.

6Disini Paulus bicara tentang hak dan kewajiban Rasul. Khusus dalam ay 13 Paulus menunjuk pada hak dan kewajiban suku Lewi yang ditopang oleh persembahan -termasuk persembahan persepuluhan- umat, namun Paulus sendiri menolak menggunakan hal itu.

7 Paulus menganjurkan agar pada hari pertama tiap minggu pengumpulan uang bagi orang kudus dilaksanakan sesuai dengan perolehan umat. Persembahan itu harus disisihkan secara sengaja. Ini menun-juk secara jelas kepada Persembahan Persepuluhan.

8 Disini Paulus mengajak orang Korintus agar meniru iman orang Makedonia, yang sekalipun ber-ada dalam kesulitan, tetap melaksanakan tugas iman mereka dalam bentuk persembahan. Tentu saja di-dalamnya termasuk persembahan persepuluhan.

9 Kembali anjuran untuk membantu mereka yang memberikan ajaran dengan jalan membagikan kepada pengajar, apa yang ada pada yang diajar. Kembali kita melihat tugas dan peranan persembahan persepuluhan disini.

10 Sama dengan Gal 6/6, hanya disini dikatakan secara lebih eksplisit, malahan para pengajar adalah penatua.

11 Kebiasaan konkordatif yang dimaksudkan adalah memeriksa kedalam konkordansi, apakah ada kata yang berhubungan dengan permasalahan secara eksplisit dalam ayat Alkitab. Kalau tidak ada, maka dianggap bahwa Alkitab tidak mempersoalkannya. Dalam pendekatan holistic, dimana semua hal di pertimbangkan, maka tafsiran Alkitab menjadi lebih dekat pada aslinya.

12 Khusus mengenai inventarisasi kebiasaan yang salah ini, dirangkum dari berbagai pertanyaan lewat rubrik dalam Warta Jemaat. Karena itu inventarisasi ini bisa berubah dari jemaat ke Jemaat, entah bertambah, entah berkurang.

13 Lihat buku Ketetapan PS XVII hal 98

14 Lihat Ketetapan PSI tahun 2002 hal 46 dan 54.