Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan GPIB

Saturday, December 19, 2009

Nehemia 10:32-39

10:32 Pula kami mewajibkan diri untuk memberi tiap tahun sepertiga syikal untuk ibadah di rumah Allah kami, yakni:
10:33 untuk roti sajian, untuk korban sajian yang tetap, untuk korban bakaran yang tetap, untuk hari-hari Sabat, bulan-bulan baru dan masa raya yang tetap, untuk persembahan-persembahan kudus dan korban-korban penghapus dosa, untuk mengadakan pendamaian bagi orang Israel serta segala pekerjaan di rumah Allah kami.
10:34 Pula dengan membuang undi kami, yakni para imam, orang-orang Lewi dan kaum awam, menetapkan suatu cara untuk menyediakan kayu api. Kayu itu harus dibawa ke rumah Allah kami secara bergilir oleh kaum-kaum keluarga kami pada waktu-waktu tertentu setiap tahun, supaya di atas mezbah TUHAN Allah kami ada api yang menyala, seperti tertulis dalam kitab Taurat.
10:35 Lagipula setiap tahun kami akan membawa ke rumah TUHAN hasil yang pertama dari tanah kami dan buah sulung segala pohon.
10:36 Pun kami akan membawa ke rumah Allah kami, yakni kepada para imam yang menyelenggarakan kebaktian di rumah Allah kami, anak-anak sulung kami dan anak-anak sulung ternak kami seperti tertulis dalam kitab Taurat, juga anak-anak sulung lembu kami dan kambing domba kami.
10:37 Dan tepung jelai kami yang mula-mula, dan persembahan-persembahan khusus kami, dan buah segala pohon, dan anggur dan minyak akan kami bawa kepada para imam, ke bilik-bilik rumah Allah kami, dan kepada orang-orang Lewi akan kami bawa persembahan persepuluhan dari tanah kami, karena orang-orang Lewi inilah yang memungut persembahan-persembahan persepuluhan di segala kota pertanian kami.
10:38 Seorang imam, anak Harun, akan menyertai orang-orang Lewi itu, bila mereka memungut persembahan persepuluhan. Dan orang-orang Lewi itu akan membawa persembahan persepuluhan dari pada persembahan persepuluhan itu ke rumah Allah kami, ke bilik-bilik rumah perbendaharaan.
10:39 Karena orang Israel dan orang Lewi harus membawa persembahan khusus dari pada gandum, anggur dan minyak ke bilik-bilik itu. Di situ ada perkakas-perkakas tempat kudus, pula para imam yang menyelenggarakan kebaktian, para penunggu pintu gerbang dan para penyanyi. Kami tidak akan membiarkan rumah Allah kami.

====================================


Nehemia adalah seorang juru minum (anggur) pada masa pemerintahan raja Artahsasta. Menurut sejarah pada masa itu, seorang juru minum raja adalah seorang dengan jabatan tinggi yang sangat dipercaya oleh raja.
Jabatan tersebut tidak melunturkan semangat patriotisme Nehemia, yang sedang dalam pembuangan di kerajaan Persia. Ia meninggalkan jabatannya sebagai juru minum raja dan pergi ke Yerusalem untuk membangun kembali kota itu, yang pada akhirnya ia diberikan tugas sebagai pejabat gubernur sipil oleh Raja Persia. (John Balchim, dkk; Intisari Alkitab; terbitan Persekutuan Pembaca Alkitab).

Singkat kata singkat cerita, dengan berbagai pergumulan dan tantangan baik dari dalam (kaum Israel) maupun dari luar, Nehemia berhasil membangun kembali tembok-tembok kota tersebut.

Setelah melakukan pengakuan dosa nasional, kemudian Nehemia hendak mengikrarkan komitmen untuk pelayanan di rumah Allah.

Komitmen itu antara lain memberikan persembahan tetap sebesar sepertiga syikal setiap tahunnya (ay 32).

Kemudian (ay 34), merekapun berkomitmen untuk senantiasa menyediakan kayu api di atas mezbah Tuhan. Sampai disini ada hal menarik yang saya dapatkan. Mereka berkomitmen untuk terus mempertahankan ’Api’ pada mezbah TUHAN terus menyala. Dengan api mezbah yang terus menyala, berati kesadaran umat untuk mengakui dan meninggalkan dosa terus berlangsung secara konsisten. Saya mendapatkan kesan bahwa inilah kesadaran jemaat yang sangat luar biasa, hal ini juga membuktikan bahwa pelayan terhadap umat juga berjalan dengan baik. Sungguh suatu anugerah bahwa bulan Juni ini kita merayakan bulan Pelayanan dan Kesaksian (PELKES), alangkah indahnya apabila ’API PEKABARAN INJIL’ bisa terus menyala seperti demikian. Kerjasama yang baik antara umat dan pelayan dalam rumah TUHAN sungguh sangat indah bila juga dapat berjalan di kehidupan kita saat ini. Para hamba Tuhan tidak perlu sibuk memikirkan bagaimana caranya bisa tercukupi kebutuhan hidupnya dan dapat fokus untuk melakukan pelayanannya karena jemaat memiliki kesadaran yang baik untuk menopang pelayanan; sebaliknya para hamba Tuhan-pun bersedia terlebih dahulu memberikan pelayanan yang baik kepada jemaat sehingga kebutuhan rohani/spiritualitas jemaat kepada Tuhan pun terpenuhi dan jemaat mau secara bersukacita memberikan ucapan syukurnya di dalam rumah TUHAN.

Ay. 35, ”...kami akan membawa ke rumah TUHAN hasil yang pertama...”.
Sungguh menarik, kenapa dikatakan hasil yang pertama, bukan hasil kedua setelah untuk keluarga, atau hasil sisa setelah terpenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup yang lain??? Saya kembali mendapat pelajaran berharga bahwa jemaat menyadari bahwa Tuhan telah terlebih dahulu berkarya dalam kehidupan mereka melalui segala berkat yang di berikan Allah.

Ay. 37, ...karena orang-orang Lewi inilah yang memungut persembahan-persembahan persepuluhan di segala kota pertanian kami....
Wah wah, alangkah senangnya hati seorang jemaat yang melihat, seorang pelayan Tuhan (bisa Pendeta, Presbiter, BPK, atau siapapun) yang bersedia berlelah ’memungut’ persepuluhan sampai ke segala penjuru kota.
Saya melihat, pelayanan total seorang pelayan Tuhan yang bersedia berlelah untuk menghampiri jemaatnya. Saya pun meyakini istilah ’memungut’ disini bukan seperti istilah seorang preman yang memungut jatahnya di suatu daerah. Saya meyakini dari istilah ’memungut’ ini ada interaksi antara pelayan dengan jemaat, dengan kata lain ada komunikasi yang hangat terjadi, sehingga pelayan dapat benar-benar mengenal jemaatnya seperti Tuhan YESUS sebagai gembala yang baik
mengenal baik setiap domba-domba-Nya.

Ay. 38, ...membawa...ke rumah Allah kami, ke bilik-bilik rumah perbendaharaan...
Ada hal menarik yang lainnya...dikatakan bahwa persembahan2 tersebut dibawa ke dalam perbendaharaan rumah Allah, artinya persembahan-persembahan tersebut di kumpulkan yang kemudian akan di pikirkan bersama pengelolaannya sehingga setiap kebutuhan dalam pelayanan dapat terpenuhi; baik kebutuhan untuk kesejahteraan pelayan Tuhan, membantu orang miskin, orang sakit, janda-janda maupun pergumulan jemaat yang lainnya.

Ay. 39, Kami tidak akan membiarkan rumah Allah.
Ini adalah ending yang sangat indah dari sebuah piagam perjanjian. Ada kesadaran (awareness) yang sangat tinggi bahwa kegiatan pelayanan bukan hanya tugas pelayan tapi juga tugas setiap warga jemaat untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan.

Pembahasan kitab Nehemia ini sangat memberikan ’pencerahan’ bagi saya secara pribadi. Perlu ada kesadaran pribadi yang mengingat bahwa adalah tugas dan tanggung jawab kita bersama sebagai warga jemaat untuk menjaga agar ’Api’ mezbah dalam rumah Allah bisa terus menyala. Allah telah begitu baiknya dengan berinisiatif terlebih dahulu memberkati kita dengan segala hal, keluarga, studi, pekerjaan, dll. Adalah wujud ungkapan syukur bila kita memberikan persembahan, bukan karena ingin mendapatkan bunga deposito yang melimpah dari Tuhan. Jemaat tidak hanya memberikan persembahan tetap, tapi ada juga persembahan persepuluhan dan persembahan syukur lainnya (ay. 33).

Ada hal yang membuat hati saya miris. Di gereja kami dipercayakan penjualan kupon Penanggulangan biaya pensiun pendeta GPIB atau singkatnya hutang dana pensiun. Bagaimana seorang pelayan Tuhan harus bersusah payah memikirkan kesahteraan dirinya dimasa ia pensiun. Tidak dapat dipungkiri masalah kesejahteraan adalah masalah yang tidak dapat diabaikan, bahkan Nehemia pun berdoa untuk kesejahteraannya (Nehemia 13 bagian paling akhir).
Mengingat baru saja berlalu bulan PELKES GPIB, alangkah baiknya bila ada komunikasi dan pemahaman yang baik antara jemaat dan para pelayan untuk sama-sama memiliki kesadaran untuk memperjuangkan api mezbah Allah terus menyala.

Siapkah kita membuat pernyataan iman dan mengikrarkan ”Kami tidak akan membiarkan rumah Allah”(ay 39) sebagai wujud tanggung jawab bersama warga gereja dan ungkapan syukur terhadap segala kebaikan Tuhan di hidup kita??

Biarlah karunia Roh Kudus yang dapat memampukan masing-masing kita mengucapkannya.

Tuhan memberkati....

ITT - 19 Desember 2009

Friday, November 13, 2009

Empat Prinsip Berkat


Kejadian 12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.


Alkitab mengajarkan bahwa kita seharusnya menggunakan "berkat-berkat kita" untuk memberkati orang lain:

1. Berkat-berkat yang diberikan Tuhan kepada kita harus mengalir ke orang lain

Alkitab mengajarkan bahwa kita diberkati bukan cuma sekedar agar kita merasa lebih baik, bukan cuma sekedar agar kita lebih bahagia dan lebih nyaman, tetapi supaya kita bisa memberkati atau menolong orang-orang lain.Allah berkata kepada Abraham: "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur, dan engkau akan MENJADI BERKAT." (Kejadian 12:2)

Allah memberkati Abraham supaya Abraham mengalirkan berkata itu kepada orang lain ...Itulah yang disebut: "Masterpiece for Masterplan"

Anda dijadikan sebagai Maha Karya ciptaan-Nya untuk tujuan mewujudkan Rencana-Nya menjadi berkat bagi bangsa-bangsa; menolong orang lain mewujudkan impian mereka; menjadikan semua bangsa murid Kristus ...Prinsip pertama dari berkat Tuhan adalah berkat itu harus mengalir keluar ...

2. Ketika kita memberkati orang lain, Tuhan akan memelihara hidup kita

Prinsip kedua dari berkat Tuhan adalah apabila kita menaruh perhatian penuh untuk memberkati atau menolong orang lain, maka Tuhan akan mencukupi semua kebutuhan kita.Tuhan Yesus berkata, "Sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, istrinya atau saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya, akan menerima kembali lipat ganda pada masa itu juga dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal." (Lukas 18:29-30)

Ketika kita memperhatikan kebutuhan orang lain, Tuhan akan mengambilalih semua masalah dan kesulitan hidup kita. Dia mengatasi masalah dan kesulitan kita jauh lebih baik dibanding kita sendiri yang mengatasinya.Ketika kita menaruh perhatian untuk memberkati hidup orang lain, maka Tuhan akan memberikan imbalannya sekarang ini juga dan kita akan menerima hidup yang kekal. Itulah yang berkat sejati.Alkitab berkata, "Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri ..." (Amsal 11:17)

3. Ketika kita memberkati orang lain maka kita diberkati kembali

Semakin banyak kita memberkati orang lain; semakin banyak kita menolong orang lain; semakin banyak pula Tuhan akan memberkati hidup kita.Di dalam Lukas 6:38 Tuhan Yesus berkata, "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncangkan dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

"Prinsip berkat yang ketiga adalah Semakin banyak kita mencoba untuk memberkati orang lain di sekitar kita, maka semakin Tuhan akan berkata: "Aku akan mencurahkan berkat ke atas hidupmu dengan berlimpah-limpah."

4. Semakin banyak kita diberkati Tuhan, Dia mengharapkan kita menolong lebih banyak lagi orang lain

Yesus berkata, "... Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut." (Lukas 12:48)

Prinsip berkat Tuhan keempat adalah semakin banyak kita diberikan, semakin banyak kita dipercayakan maka sesungguhnya semakin besar tanggung jawab yang dituntut oleh Tuhan.

Kita harus mempertanggungjawab kan semua pemberian Tuhan, kita harus mengerti bahwa jika kita telah diberkati lebih banyak dari pada orang lain di sekitar kita, hal itu berarti bahwa Tuhan punya tujuan agar kita peduli dan memperhatikan orang lain ..."Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat." (2 Korintus 5:10).

ITT - 13 Nopember 2009

Saturday, October 31, 2009

Apa itu Khotbah?

Sesungguhnya, ibadah hari Minggu itu adalah sebuah persekutuan. Dalam ibadah itu terjadi persekutuan antara jemaat dengan Tuhan dan sekaligus persekutuan antar jemaat sebagai sesama saudara seiman. Dalam persekutuan itu terjadi dialog antara Tuhan dengan jemaat-Nya yang direpresentasikan melalui liturgi. Jadi liturgi itu disusun dalam bentuk dialog. Misalnya: jemaat mengaku dosa yang disambut dengan sapaan Tuhan yang memberikan pengampunan (berita pengampunan). Begitu seterusnya, dan khusus bagian khotbah, adalah sapaan Tuhan kepada jemaat melalui FirmanNya, yang mengajar, menghibur, menguatkan juga menegur dan mengingatkan jemaat Tuhan.

Namun, tidak sedikit jemaat yang menyepelekan makna khotbah dalam ibadah. Mereka berpikir bahwa khotbah itu mirip seperti pidato yang tidak ada gunanya. Akibatnya, di dalam kehidupan mereka sehari-hari pun, apa yang mereka dengarkan dari khotbah, hampir tidak pernah bisa diaplikasikan. Di sisi lain, banyak pemimpin gereja hari-hari ini pun juga menyepelekan khotbah. Mereka berpikir bahwa khotbah itu sesuatu hal yang biasa. Khotbah bagi mereka tidak ada bedanya dengan membawakan makalah dalam training atau pemuasaan telinga jemaat. Rasul Pauluspun sudah mengingatkan jemaat pada 2Tim. 4:3-4 =
4:3 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. 4:4 Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.

Jadi, benarkah khotbah seperti demikian yang dikehendaki Allah? Dengan tegas dapat dijawab: "TIDAK".

Khotbah adalah Pengajaran akan Kebenaran Firman Allah yang digenapi dalam Yesus Kristus dan penyertaan Roh Kudus.

Bila dikaitkan dengan Trinitas, kita dapat membagi Khotbah menjadi 3 (tiga) bagian utama;

Pertama,

Tujuan Khotbah: Kemuliaan Allah. Artinya khotbah bertujuan untuk memuliakan Allah “yang ditujukan untuk membentuk ketaatan dalam sukacita kepada Kerajaan Allah”.

Kedua,

Dasar Khotbah: Yesus Kristus. Khotbah yang baik bukan berdasarkan ide-ide filosofis, psikologis atau humanisme manusia berdosa yang atheis, tetapi hanya berdasar Yesus Kristus. Artinya kita mengkhotbahkan berita pengharapan kepada orang berdosa tanpa menghilangkan kebenaran dan kemuliaan Allah yang tanpa cela dan Yesus Kristus adalah Dasar Kerendahan Hati Khotbah. Apapun kitab dan bacaan dalam Alkitab, harus diarahkan kepada Penggenapan Janji Allah dalam Yesus Kristus. Bukankah kita adalah Jemaat Yesus Kristus? Bukan Jemaat Orang Yahudi atau yang lain?

Ketiga,

Karunia Khotbah: Kuasa Roh Kudus. Karena tujuan khotbah adalah kemuliaan Allah di dalam ketaatan jemaat-Nya dengan sukacita, maka ketika berkhotbah, si pengkhotbah harus menyampaikan Firman Allah dengan terus bergantung pada Kuasa Allah. Agar tujuan khotbah ini tercapai, maka si pengkhotbah harus mengkhotbahkan Firman Allah yang diinspirasikan oleh Roh Allah dengan kuasa dan urapan Roh Kudus. Hal inilah yang kurang ditekankan oleh banyak pengkhotbah di gereja kita.

Jadi, khotbah adalah inti Ibadah atau bagian utama dari Ibadah, dimana Allah berbicara kepada jemaat-Nya dengan Pengajaran & Pemberitaan Firman-Nya.

ITT – 31 Oktober 2009

Tuesday, October 20, 2009

Daniel 3

3:1 Raja Nebukadnezar membuat sebuah patung emas yang tingginya enam puluh hasta dan lebarnya enam hasta yang didirikannya di dataran Dura di wilayah Babel.
3:2 Lalu raja Nebukadnezar menyuruh orang mengumpulkan para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikannya itu.
3:3 Lalu berkumpullah para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah, untuk menghadiri pentahbisan patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu.
3:4 Dan berserulah seorang bentara dengan suara nyaring: "Beginilah dititahkan kepadamu, hai orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa:
3:5 demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka haruslah kamu sujud menyembah patung yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu;
3:6 siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala!"
3:7 Sebab itu demi segala bangsa mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, maka sujudlah orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, dan menyembah patung emas yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu.
3:8 Pada waktu itu juga tampillah beberapa orang Kasdim menuduh orang Yahudi.
3:9 Berkatalah mereka kepada raja Nebukadnezar: "Ya raja, kekallah hidup tuanku!
3:10 Tuanku raja telah mengeluarkan titah, bahwa setiap orang yang mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, harus sujud menyembah patung emas itu,
3:11 dan bahwa siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.
3:12 Ada beberapa orang Yahudi, yang kepada mereka telah tuanku berikan pemerintahan atas wilayah Babel, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, orang-orang ini tidak mengindahkan titah tuanku, ya raja: mereka tidak memuja dewa tuanku dan tidak menyembah patung emas yang telah tuanku dirikan."
3:13 Sesudah itu Nebukadnezar memerintahkan dalam marahnya dan geramnya untuk membawa Sadrakh, Mesakh dan Abednego menghadap. Setelah orang-orang itu dibawa menghadap raja,
3:14 berkatalah Nebukadnezar kepada mereka: "Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu?
3:15 Sekarang, jika kamu bersedia, demi kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?"
3:16 Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.
3:17 Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja;
3:18 tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."
3:19 Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar, air mukanya berubah terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego; lalu diperintahkannya supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa.
3:20 Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya dititahkannya untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego dan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu.
3:21 Lalu diikatlah ketiga orang itu, dengan jubah, celana, topi dan pakaian-pakaian mereka yang lain, dan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala.
3:22 Karena titah raja itu keras, dipanaskanlah perapian itu dengan luar biasa, sehingga nyala api itu membakar mati orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego itu ke atas.
3:23 Tetapi ketiga orang itu, yakni Sadrakh, Mesakh dan Abednego, jatuh ke dalam perapian yang menyala-nyala itu dengan terikat.
3:24 Kemudian terkejutlah raja Nebukadnezar lalu bangun dengan segera; berkatalah ia kepada para menterinya: "Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?" Jawab mereka kepada raja: "Benar, ya raja!"
3:25 Katanya: "Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu; mereka tidak terluka, dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!"
3:26 Lalu Nebukadnezar mendekati pintu perapian yang bernyala-nyala itu; berkatalah ia: "Sadrakh, Mesakh dan Abednego, hamba-hamba Allah yang maha tinggi, keluarlah dan datanglah ke mari!" Lalu keluarlah Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api itu.
3:27 Dan para wakil raja, para penguasa, para bupati dan para menteri raja datang berkumpul; mereka melihat, bahwa tubuh orang-orang ini tidak mempan oleh api itu, bahwa rambut di kepala mereka tidak hangus, jubah mereka tidak berubah apa-apa, bahkan bau kebakaran pun tidak ada pada mereka.
3:28 Berkatalah Nebukadnezar: "Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka.
3:29 Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa mana pun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu."
3:30 Lalu raja memberikan kedudukan tinggi kepada Sadrakh, Mesakh dan Abednego di wilayah Babel.

Pendahuluan

1. Seperti Daniel, ke 3 anak muda ini tawanan dari Yehuda yg dibawa ke pembuangan dan dilatih untuk melayani raja. Dan 1:6-7
2.Seperti Daniel, mereka diberkati Tuhan dan menarik hati Raja. Dan 1:17-20

Daniel 3 bicara lebih dalam tentang karakter ke-3 anak muda ini.

- berisi cerita/kisah yang menarik
- seperti Daniel 1, mengilustrasikan kekuatan iman anak muda.

Pengadilan.

1. Patung & Perintah Nebukadnezar untuk menyembahnya Dan 3:1-7
2. Tuduhan orang Kasdim terhadap mereka Dan 3:8-12
3. Ancaman Nebukadnezar Dan 3:13-15

Situasinya

Untuk menyelamatkan diri:
- mereka adalah orang dalam/pejabat di Babilonia
- Mereka akan kehilangan posisinya bahkan nyawanya.
- Cukup mengikuti kemauan/perintah Nebukadnezar
- tapi akan mengorbankan iman dan kepatuhan mereka pada Allah - Kel20:4-5

Kondisi Sekarang

1. Untuk menyelamatkan diri
- bagaimana anak-anak di sekolah dengan mencontoh yang buruk
- bagaimana di dalam rumah tangga memberi contoh yang buruk
- bagaimana posisi di masyarakat/jemaat

2. Mengorbankan nurani kita
- sangat mudah mengikuti dunia
- tapi nurani kita menjerit dan Tuhan akan menghukum kita.
Roma 12:2

Kesaksian

1. Demonstrasi Iman yang Teguh
- Dalam Tangan Tuhan Dan3:16-17
- Bila Kehendak Tuhan Dan3:18

2. Melayani Tuhan Apapun Resikonya
- Ayub 1:20-21
- Habakuk 3:17-19
- Kisah 5:27-29
- Tuhan Yesus sendiri dalam Mat 26:39-42

Kemenangan

- Diselamatkan Dan3:19-25
- Nebukadnezar memuji Allah Dan3:26-29

Kemenangan itu sendiri membawa kemerdekaan
- dilepaskan Dan3:23-25
- dalam pencobaan, iman kita akan memerdekakan kita
- pengalaman iman berjalan dengan Allah Dan3:25 ada 4 orang !!!
- Jelas pencobaan akan membawa kita dekat pada Tuhan - Ibrani 12:5-11
- Ingat janji Yesus Wah3:12, 21 Wah7:13-17

Kemenangan membawa pada promosi dan kesempatan baru dalam melayani
- Mereka dipromosi dalam jabatan yg lebih tinggi Dan3:30
- Seperti Yusuf di Mesir, - dari Budak menjadi tuan, dari tahanan menjadi pemimpin.
- jadi keteguhan iman kita dalam pencobaan mengantar kita kepada kemenangan - Mat25:21 Wahyu2:25-29

Kesimpulan

1. Contoh mengagumkan perihal iman.
- berkomitmen melayani Tuhan apapun akibatnya
- percaya bahwa Allah akan membebaskan kita, tapi seandainya tidak, (Dan3:18) maka kematianpun bukan apa-apa.

2. Allah dimuliakan dalam pencobaan - lihat seruan Nebukadnezar Dan3:28-29

3. Iman bagaimana yg kita punya?
- seperti ban reserep? digunakan hanya bila kepepet?
- seperti gerobak? harus di dorong-dorong?
- seperti pete-pete? ditumpangi hanya bila membawa ke jurusan yang kita mau?

Kiranya iman kita seperti Hananya (Zadrakh), Misael (Mezakh) dan Azarya (Abed-Nego), dan juga seperti Daniel, yang dengan komitmen yang tinggi dan setia melayani Tuhan.

Tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin dilaksanakan. Rasul Petrus mengajar kita bahwa iman tumbuh dengan tahapan: sebagai bahan bacaan di rumah, mari kita renungkan 2 petrus 1:5-7:

1:5 Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada
kebajikan pengetahuan,
1:6 dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan,
1:7 dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang

ITT - 20 Oktober 2009 - BPK-PW SP1 di Ibu Korua-Atmadja

Saturday, October 10, 2009

Filipi 2:12-19


2:12 Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,
2:13 karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.
2:14 Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan,
2:15 supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,
2:16 sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.
2:17 Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian.
2:18 Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku.
2:19 Tetapi dalam Tuhan Yesus kuharap segera mengirimkan Timotius kepadamu, supaya tenang juga hatiku oleh kabar tentang hal ihwalmu

Pengantar Surat Filipi

Surat Filipi yang ditulis oleh Rasul Paulus merupakan "surat terima kasih" atas perhatian dan pemberian gereja di Filipi (kemungkinan berupa sejumlah uang seperti kebiasaan masa itu untuk menunjukkan perhatian) bagi kebutuhan pelayanan Paulus (4:10-20). Pemberian itu diberikan kepada Paulus melalui perantaraan Epafroditus yang diutus oleh jemaat Filipi untuk membantu pelayanan Paulus yang penuh tantangan. Mengingat kondisi Epafroditus yang mengalami homesick dan hampir meninggal karena sakit, maka Rasul Paulus mengutus Epafroditus kembali ke tengah-tengah jemaat Filipi (2:25-30) sambil membawa sepucuk surat ucapan terima kasih dari Paulus dan Timotius.

Kemungkinan besar, Paulus menulis surat ini sekitar tahun AD 61-63, saat dia berada di penjara kota Roma. Beberapa teolog menyebut surat ini (bersama surat Filemon, Efesus dan Kolose) sebagai "Surat Kiriman dari Penjara". Bila anggapan ini benar, kekayaan rohani surat ini sungguh luar biasa, karena Paulus yang sedang menderita dalam penjara masih dapat menghibur jemaat Filipi yang seharusnya memberi penghiburan.

Berdirinya Jemaat Filipi

Paulus dan Silas berkunjung ke Filipi ± tahun 52, saat melakukan perjalanan misi kedua menuju ke Asia Tengah dan Eropa Tenggara. Di Filipi, Paulus bertemu dengan sekelompok wanita Yahudi (termasuk Lidia yang kemudian dibaptis bersama seluruh keluarganya) yang sedang berbakti di sebuah sinagoge (tempat ibadah orang Yahudi) yang terletak di tepi sungai (Kisah Para Rasul 16:13-15). Hasutan dan tuduhan palsu sekelompok tuan yang merasa dirugikan karena hamba perempuan mereka dilepaskan dari ikatan kuasa roh tenung membuat Paulus dan Silas dipenjarakan. Peristiwa itu dipakai Tuhan untuk membuat tanda ajaib. Terjadilah gempa bumi hebat yang merontokan belenggu dan pintu penjara yang membuka jalan bagi Paulus untuk menemui kepala penjara yang ketakutan dan memberitakan jalan keselamatan di dalam Kristus, sehingga kepala penjara beserta seluruh keluarganya bertobat dan dibaptis.

Sekalipun waktu pelayanan sangat singkat, pelayanan Paulus dan Silas di Filipi menghasilkan buah dan Paulus tetap menjalin hubungan dengan jemaat Filipi yang didirikannya. Beberapa kali dia berkunjung (1 Korintus 16:5; 2 Korintus 7:5; Kisah Para Rasul 20:6). Perhatian dan penggembalaan terhadap jemaat Filipi juga dibantu oleh Timotius (Kisah Para Rasul 19:22; 1 Tesalonika 3:1; Kisah Para Rasul 18:5) serta mungkin juga oleh Lukas yang menjadi anggota tim PI Paulus (Perhatikan kata "kami" dalam Kisah Para Rasul 20:6 yang menunjukkan bahwa Lukas yang menulis kitab Kisah Para Rasul sedang bersama-sama dengan Paulus).

Dalam kehidupan kita, banyak hal yang bisa merintangi iman kita, termasuk penderitaan yang bisa membuat kita menjadi tawar hati. Lebih-lebih, kita bisa menjadi tawar hati bila disalah mengerti oleh orang-orang yang kita layani. Dalam surat ini, Paulus meyakinkan dan menghibur kita, bahwa penderitaan tidak boleh membuat kita menjadi tawar hati. Dia menasehati, "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah!" (Flp 4:4).
Dalam Kitab ini, Paulus mengajarkan beberapa hal penting:
1. Kita harus belajar untuk senantiasa bersyukur saat menghadapi tekanan dan penderitaan.
2. Kita harus memiliki sukacita sejati agar dapat menghibur orang lain di kala kita sedang susah.
3. Yesus Kristus menjadi teladan dalam kerendahhatian, ketaatan dan sifat tidak mementingkan diri sendiri.
4. Membukakan kerangka berpikir baru tentang nilai-nilai Kristiani yang lebih utama: Kebanggaan duniawi yang lama diganti dengan keselamatan di dalam Tuhan Yesus.
5. Kita harus belajar mencukupkan diri dan merasa puas dengan apa yang ada.
Iman dan pengharapan tidak pernah sia-sia. Bila kita setia sampai akhir, kasih karunia Tuhan akan dilimpahkan kepada kita. Allah akan memberi kekuatan untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar.

Renungan:

Kerangka Khotbah Pekerjaan Tuhan

I. Dua pekerjaan Tuhan (ay. 12, 13)
A. Pekerjaan yang dilakukan oleh manusia (ay. 12)
1. Senantiasa taat
2. Senantiasa mengerjakan keselamatan
B. Pekerjaan yang dilakukan oleh Allah (ay. 13)
1. Di dalam kemauan orang beriman
2. Di dalam pekerjaan Tuhan

II. Sikap pekerjaan Tuhan (ay. 14)
A. Tidak bersungut-sungut
B. Tidak berbantah-bantah

III. Tujuan Pekerjaan Tuhan (ay. 15-18)
A. Orang beriman tiada beraib dan tiada bernoda
B. Orang beriman menjadi anak-anak Allah yang tiada bercela
C. Orang beriman bercahaya seperti bintang
D. Orang beriman berpegang pada firman kehidupan (ay. 16)
E. Orang beriman bersukacita dalam Tuhan (ay. 17, 18)

Banyak orang-orang Kristen yang pertumbuhan imannya bergantung pada tokoh-tokoh tertentu. Tokoh-tokoh itu mungkin adalah orang-orang yang seorang pemimpin yang memang mempunyai kewibawaan rohani yang menonjol, dalam sebuah gereja atau lembaga Kristen, yang dikaguminya atau yang secara langsung berperan penting dalam pertobatannya. Dalam batas tertentu, hal ini termasuk wajar. Namun, apakah pertumbuhan iman kita harus seterusnya bergantung kepada sang tokoh tersebut?

Tak diragukan lagi bahwa peran Paulus bagi jemaat Filipi sangatlah penting. Namun Paulus tidak ingin pertumbuhan iman mereka bergantung sepenuhnya kepadanya. Paulus yakin bahwa tanpa kehadirannya pun jemaat Filipi dapat melanjutkan pertumbuhan iman mereka karena Allah akan bekerja di tengah-tengah mereka. Di bagian akhir bacaan kita hari ini Paulus bahkan menegaskan bahwa dia tidak mengharapkan kemegahan kecuali pada akhir zaman (ay. 16, di hari Kristus).

Harus kita akui, tidak banyak pemimpin rohani yang mempunyai kedewasaan spiritual seperti ini.
Namun, perlu dicatat pula bahwa sikap kita sebagai jemaatlah yang sering kali juga membuat seseorang terjebak dalam perannya sebagai pemimpin tunggal yang menentukan semua hal.

Paulus mengajak jemaat Filipi tetap mengerjakan keselamatan mereka secara terus menerus dan taat, meski tanpa kehadirannya. Ada tiga hal praktis yang disebutkan Paulus di sini.

Mereka didorong untuk tetap melayani (tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantah), Bersungut-sungut menunjukkan kejengkelan/ketidaksenangan terhadap seseorang, baik yang dipendam dalam hati, atau yang dinyatakan di belakang orangnya. Berbantah-bantahan menunjuk pada pertengkaran yang terbuka. Jadi, dengan melarang dua hal ini, Paulus menekankan kesatuan gereja!
Agar tetap menjaga sikap moral kristiani di tengah masyarakat, ada banyak orang, pada waktu mendengar Firman Tuhan (misalnya Firman Tuhan yang melarang untuk berdusta), lalu berkata: 'Kita hidup di dunia. Itu tidak mungkin dilaksanakan!' Tetapi, ay 15 itu menunjukkan bahwa Paulus menyuruh hidup suci di dunia! Firman Tuhan bukanlah sesuatu yang harus kita laksanakan nanti di surga, tetapi sekarang di dunia! renungkan: apakah kita mempunyai tujuan/keinginan untuk hidup suci dan menjadi terang dunia? Atau kita hanya mempunyai tujuan/keinginan yang bersifat jasmani saja?
dan agar tetap mempelajari serta menerapkan firman Tuhan dengan setia. jadi, kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan berpegang pada Firman Tuhan!

Pertumbuhan iman kita memang tidak boleh bergantung kepada seseorang, namun juga tidak mungkin kita lakukan sendirian. Gereja dan masyarakat adalah tempat terbaik untuk menerapkan firman Tuhan dan untuk mewujudkan pertumbuhan iman kita.

ITT - 10 Oktober 2009 - K3 SP3A di Kel.Moka

Tuesday, August 18, 2009

Kolose 3:5-17


3:5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,
3:6 semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka].
3:7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya.
3:8 Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.
3:9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,
3:10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;
3:11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.
3:12 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.
3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.
3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.
3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.
3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.
3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.


Jemaat Kolose terletak di wilayah Asia bagian barat yang sekarang disebut Turki dan berada di bawah kekuasaan Romawi. Injil mungkin mencapai Kolose ketika Paulus berada di Efesus (Kisah 19:10), mungkin melalui Epafras, orang kolose (Kol 1:7;4:12,13).

Dalam pasal 1:2-14, rasul Paulus mengucap syukur kepada Allah sehubungan dengan kehidupan jemaat Kolose yang semakin mengalami kemajuan dalam Iman, dan Kasih. Paulus meyakinkan orang-orang percaya di Kolose dalam fasal 2:6-7, bahwa karena mereka telah menerima Kristus maka mereka harus tetap hidup di dalam Dia, berakar di dalam Dia, dibangun di atas Dia dan tetap bertambah teguh dalam iman kepada Dia.

Jikalau kita memperhatikan dengan seksama keseluruhan surat kolose dari fasal 1 sd fasal 4, maka salah satu hal yang ditegaskan oleh rasul Paulus ialah berkenaan dengan tuntutan Allah kepada setiap orang percaya untuk senantiasa hidup dalam kebaruan yang sejati.

Sehubungan dengan hal ini maka ada beberapa prinsip mendasar yang rasul Paulus kemukakan dalam pasal 3:5-17.

I. Menanggalkan Manusia Lama (ayat 5-9)

Setiap orang percaya yang telah diselamatkan oleh Allah seharusnya hidup dalam kebaruan sejati. Kehidupan dalan kebaruan sejati ini ditandai dengan adanya tindakan untuk menanggalkan kehidupan lama/cara hidup lama yang dikuasai oleh dosa. Tindakan menanggalkan manusia lama ini beranjak dari sebuah kenyataan bahwa Yesus Kristus telah mematahkan kuasa dosa serta membebaskan kita dari kekuatan dosa yang membelenggu kita sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menanggalkan manusia lama tersebut.
Dalam Roma 8:13, rasul Paulus mengungkapkan sebuah kebenaran penting tentang upaya setiap orang percaya untuk menanggalkan manusia lamanya, yaitu dengan cara hidup senantiasa dalam Roh. Hal ini sangat beralasan karena tidak mungkin “daging dapat meyelesaikan masalah daging” tetapi sebaliknya hanya “Rohlah yang dapat menyelesaikan masalah daging” sehingga oleh karenanya maka Paulus katakan “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup” (Roma 8:13).

Ada dua kata yang dipergunakan oleh rasul Paulus untuk menegaskan bahwa setiap orang percaya yang hidup dalam kebaruan sejati harus menanggalkan manusia lamanya ialah:

Pertama, “Matikanlah”. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, Kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.

Kedua, “Buanglah”. Tetapi sekarang buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendsutai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, Kolose 3:8-9.

II. Mengenakan Manusia Baru, ayat 9-17

Setiap orang percaya yang hidup dalam kebaruan sejati tidak hanya menanggalkan manusia lama tetapi juga harus siap untuk mengenakan manusia baru. Manusia baru yang dimaksud menunjuk pada cara berpikir serta cara bertindak yang berbeda dengan kehidupan lama yang pernah dihidupi. Paulus mengungkapkan model manusia baru yang harus dikenakan yaitu manusia baru yang penuh dengan belas kasihan, penuh dengan kemurahan, penuh dengan kerendahan hati, penuh dengan kelemahlembutan dan kesabaran, Kolose 3:12.

Manusia baru tidak dikenakan/dipakai pada waktu-waktu tertentu saja. Dalam segala situasi, kita harus tetap mengenakan manusia baru. Dengan kata lain mengenakan manusia baru merupakan sebuah kewajiban dari setiap orang yang hidupnya telah diselamatkan dan diperbaharui oleh Allah sehingga bukan sebuah pilihan mau atau tidak mau (suka tidak suka). Penegasan rasul Paulus tentang mengenakan manusia baru menunjuk pada tindakan untuk mengenakan ”pakaian” manusia baru secara utuh dan bukan sepenggal-sepenggal (sebagian).

Rasul Paulus juga menjelaskan tentang bukti yang harus ditampilkan oleh setiap orang percaya yang telah mengenakan manusia baru dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:

Pertama, Dalam hubungan pernikahan. Kolose 3:18-19, Istri harus tunduk kepada suami dan suami harus mengasihi istri, dan jangan berlaku kasar terhadap dia.

Kedua, Dalam hubungan keluarga. Kolose 3:20-21, Anak-anak harus taat kepada orang tua dan sebaliknya bapa-bapa jangan menyakiti hati anaknya.

Ketiga, Dalam hubungan kerja. Kolose 3:22; 4:1, Hamba-hamba taatilah tuanmu dan tuan-tuan berlaku adil dan jujur kepada hambanya.

KESIMPULAN:

1. Setiap orang percaya yang hidup dalam kebaruan sejati harus membuktikan bahwa dirinya telah menanggalkan manusia lamanya dengan mematikan dalam dirinya segala sesuatu yang duniawi serta bertindak untuk membuangnya dari kehidupannya.

2. Setiap orang yang hidup dalam kebaruan sejati wajib mengenakan manusia baru yang diimplementasikan dalam hidup keseharian sehingga pikiran, hati dan karakter Kristus menjadi nyata bagi orang lain di sekitarnya.

ITT - 18 Agustus 2009

Saturday, August 15, 2009

Galatia 4:26


“Tetapi Yerusalem sorgawi adalah perempuan yang merdeka, dan ialah ibu kita” (Galatia 4:26).

Ada sebuah iklan di televisi yang menanyai cita-cita anak kecil. Anak pertama ditanya, "Kalau besar mau jadi apa?" Menjadi dokter! Anak yang kedua ditanyai, "Kalau besar mau jadi apa?" Menjadi insinyur! Anak yang ketiga ditanyai, "Kalau besar menjadi apa?" Menjadi pilot! Anak yang ke empat ditanya, "Kalau besar mau jadi apa?" Dengan lucunya, sambil menunjukkan giginya yang ompong ia menjawab, "Mau menjadi presiden!" Dan ketika anak yang terakhir ditanyai, "Kalau besar mau jadi apa?" Anak ini menjawab mau seperti ibunya. Inilah cita-cita anak kecil.

Sementara menyaksikan acara tersebut, saya teringat masa kecil saya. Ketika saya ditanyai, "Kalau besar mau jadi apa?" Saya menjawab, "Menjadi pengelana sampai ke ujung dunia!" Sebab saya pikir kalau sudah mengelilingi dunia, tujuan hidup saya sudah tercapai.

Ternyata tujuan utama orang benar yang sesungguhnya bukan menjadi dokter, insinyur, pilot bahkan presiden sekalipun. Tetapi tujuan kita sesungguhnya adalah Yerusalem Surgawi (Yerusalem Baru).

Rasul Paulus mengibaratkan Hagar sebagai Gunung Sinai di tanah Arab, dan ia sama dengan Yerusalem yang sekarang (Gal. 4:25). Dan Sara adalah Yerusalem surgawi atau yang sering disebut Yerusalem Baru. Dan tujuan kita sesungguhnya adalah kota Yerusalem baru, seperti Alkitab katakan, “Barangsiapa menang, ia akan Kujadikan sokoguru di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem baru, yang turun dari sorga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru” (Why. 3:12).

Hidup ini seperti suatu perjalanan. Kita sedang menapaki setapak demi setapak. Langkah awal sangat penting, akan tetapi langkah awal tidak akan sempurna tanpa ada langkah akhir yang baik. Kita sudah memulai langkah awal yang sangat baik yaitu menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ini adalah langkah awal menuju Yerusalem surgawi. Sebab tanpa percaya Yesus tak seorang pun sampai ke kota kudus Allah. Tetapi dalam perjalanan ini kita masih menghadapi banyak rintangan-rintangan. Kadang-kadang ada jalan licin dan terjal yang harus kita lewati. Tetapi kalau kita bersama Tuhan, kita pasti bisa melewati rintangan-rintangan itu. Kita harus berkata seperti Daud, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” (Mzm. 23:4).

Renungan:

Kita boleh memiliki cita-cita menjadi apa saja. Jadi dokter, insinyur, pilot, bahkan menjadi presiden sekalipun. Tetapi jangan lupa jadikan tujuan akhir kita adalah Yerusalem Baru.

Tidak ada yang lebih indah dalam hidup ini selain masuk ke kota Yerusalem Baru.

ITT ~ 15-8-2009

Friday, August 14, 2009

1 Petrus 1:17-21


1:17 Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.
1:18 Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas,
1:19 melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.
1:20 Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir.
1:21 Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah.

Dari perikop ini kita dapat mengambil satu tema yaitu antara panggilan dan konsekuensinya. Mengapa ? Sebab setiap kali kita menyebut atau memanggil seseorang maka sebetulnya dalam panggilan itu memiliki konsekuensi yang cukup besar. Dalam suatu panggilan itu mengandung suatu konsekuensi.

Dalam bagian yang ditulis oleh Petrus ini, “Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa….” Tidak sembarang orang dapat memanggil bapa kecuali seorang anak yang dapat memanggilnya demikian. Bila kita memperhatikan konteksnya, sebetulnya perikop ini berada dalam konteks makna panggilan. Dari ayat 3-12, Petrus memberikan penjelasan bahwa keselamatan hanya ada di dalam Kristus, oleh karena itu di ayat 13-16 itu Petrus kemudian berbicara tentang hidup kudus. Hidup yang sudah diselamatkan oleh Allah yang kudus dan hidup yang sedang dikuduskan oleh Allah yang kudus, maka ketika sudah menjadi anak-anak Allah, hendaklah hidupnya kudus. Baru setelah itu sampai kepada perikop ayat 17-21 yang berbicara tentang hidup yang takut kepada Allah. Ketiga hal itulah yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya; Allah sudah selamatkan kita, kita dipanggil untuk hidup kudus, dan kita dipanggil untuk hidup takut kepada Allah.

Ayat 17 “Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.” Hal ini menarik karena Alkitab memberikan relasi yang luar biasa dalam hubungan antara Allah dan manusia itu bagaikan bapa dan anak. Tidak ada hubungan yang paling dekat dalam relasi di dunia ini selain relasi bapa dengan anak. Suatu hubungan yang dekat, akrab, dan terbuka. Suatu hubungan yang lebih bersifat informal, bukan hubungan yang bersifat formal. Juga suatu hubungan yang tidak dapat dipisahkan selain hubungan yang dekat dan terbuka. Kedekatan seperti itulah yang dinyatakan oleh Alkitab. Allah mau menjadi manusia, Allah datang untuk menyelamatkan oleh karena Allah mengasihi anak-anakNya. Maka jelas bagaimana relasi bapa dengan anak. Hubungan bapa dan anak yang dikatakan Petrus dalam perikop ini adalah hubungan yang betul-betul penuh kasih dan keadilan. Bapa yang mengerti kapan dia harus menghajar dan kapan harus mengampuni anaknya. Bapa yang mengerti keadaan dan pergumulan hidup anak-anaknya. Bapa yang demikian itulah bapa yang betul-betul memberikan kasih dan keadilannya yang penuh.

Petrus mengatakan hendaknya kita hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini. Arti takut disini bukanlah perasaan takut seperti seorang pencuri yang dikejar oleh polisi, bukan juga karena adanya ‘guilty feeling’. Ketakutan disini mempunyai arti takut mengecewakan dan takut soal apakah yang dikerjakan/dilakukan itu tidak dikehendaki oleh Tuhan. Berbicara tentang apakah kehidupan yang kita jalani ini betul-betul diperkenan oleh Tuhan, betul-betul menyenangkan hati Tuhan, lalu apakah pekerjaan yang dilakukan setiap hari itu betul-betul sudah berkenan di hadapan Tuhan. Atau mungkin kita tidak pernah bertanya seperti demikian. Itulah maksud dari menjalani hidup ini dalam ketakutan seperti yang ditulis dalam surat 1 Petrus ini.

Apa artinya ketika Petrus mengatakan “hendaklah kamu hidup dalam ‘ketakutan’ pada Allah ? Artinya adalah sebagai berikut

Karena kita sudah ditebus (ayat 18). Hidup kita sudah ditebus dari cara hidup yang sia-sia, dari kehidupan yang tanpa arah dan tak mengerti mau berjalan ke mana.

Karena darah Anak Domba Allah, yaitu Kristus yang telah menebus kita dan ditebus dengan harga tebusan yang tak terbayarkan oleh siapapun (ayat 19-20). Darah Anak Domba Allah yang tidak bercacat, tidak bercela, itulah darah yang menetes di kayu salib. Darah yang telah menebus hidup kita, yang mengampuni dosa kita, yang mengubah kematian menjadi kehidupan, dan mengubah kebinasaan menjadi kehidupan kekal bersama Allah melalui darah Anak Domba Allah yaitu darah Tuhan Yesus Kristus. Kalimat ‘bukan dengan barang yang fana, bukan dengan emas atau perak, melainkan dengan darah yang mahal yaitu darah Kristus “ dimaksudkan bahwa Allah telah memberikan diriNya, kita ditebus oleh darahNya/nyawaNya yang merupakan pemberian yang paling tinggi melebihi nilai barang yang paling tinggi di dunia dan pemberian ini adalah pemberian yang terbaik, maka berhati-hatilah jikalau kita mempertanyakan kasih dan perhatianNya di kala kita mengalami kesulitan hidup sebab yang terbaik sudah diberikanNya pada kita.

Karena Dia, kita menjadi percaya (ayat 21). Mengapa kita harus hidup takut kepada Allah ? karena Dia yang telah membuat kita percaya, Dia yang membereskan otak/ratio kita, Dia yang membereskan hati kita, untuk bisa mengenal Tuhan dengan baik. Dia yang menuntun langkah kita sehingga kita benar-benar dapat percaya dan benar-benar 100% menyerahkan seluruh totalitas hidup kita kepada Tuhan. Semua itu karena Dia.

Selanjutnya pada ayat 21, Petrus mengatakan “ engkau diberikan iman dan pengharapan yang tertuju kepada Allah yang benar”. Iman dan pengharapan itu adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan bagaikan satu keping uang logam.

Di dalam diri orang percaya terdapat pengharapan yang luar biasa untuk apa yang ia imani/percaya. Ketika Petrus mengatakan bahwa hendaknya hidup dengan takut di hadapan Tuhan, maksud takut disini ialah ketaatan kita di dalam mengerjakan firman Tuhan, ketaatan kita di dalam mengerjakan kebenaran, ketaatan kita di dalam mengaplikasikan kasih dengan sungguh-sungguh nyata.

Oleh karena itu, seseorang yang memiliki iman dan percaya maka ia harus memiliki apa yang namanya kesadaran dan percakapan yang baik di dalam realita hidupnya. Seseorang yang percaya itu memiliki a good conscience dan juga memiliki a good conversation. Harus seimbang antara good conscience dan good conversation. Apa yang dimaksud dengan a good conscience ? Good conscience itu kesadaran seseorang mengenai hal-hal yang baik dan benar tentang firman Tuhan dan yang ia lakukan. Kita diberikan kesadaran yang luar biasa oleh Allah dimana Allah mengintervensi, membetulkan ratio dan hati kita untuk melihat satu kebenaran yang benar-benar ada dalam diri Allah sehingga kita bisa kenal baik Allah yang benar dan kita percaya bahwa kita sungguh-sungguh telah dibenarkan di dalam Allah. Kemudian setelah itu kita terpanggil untuk memiliki good conversation. Good conversation itu ialah satu percakapan atau ucapan seseorang mengenai hal-hal yang baik dan benar yang ia lakukan. Bila kesadaran itu sudah benar maka yang dikatakan pun harus benar sesuai dengan apa yang ia ketahui. Ini yang disebut takut kepada Allah. Kehidupan yang takut akan Allah membutuhkan a good conscience dan antara a good conscience dengan a good conversation itu tidak dapat dipisahkan.

ITT - 14 Agustus 2009 - PKB SP1 di Bpk.Mandado

Sunday, June 7, 2009

1 Korintus 12:1-6

12:1 Sekarang tentang karunia-karunia Roh. Aku mau, saudara-saudara, supaya kamu mengetahui kebenarannya.
12:2 Kamu tahu, bahwa pada waktu kamu masih belum mengenal Allah, kamu tanpa berpikir ditarik kepada berhala-berhala yang bisu.
12:3 Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: "Terkutuklah Yesus!" dan tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan", selain oleh Roh Kudus.
12:4 Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.
12:5 Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan.
12:6 Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.

Surat kepada gereja yang terpecah belah

BAGAIMANA GEREJA DI KORINTUS DIMULAI.
Paulus pertama kali mengunjungi Korintus pada perjalanan misionarisnya yang kedua (Kis. 18:1). Sejumlah orang Yahudi, termasuk Krispus yang menjadi kepala rumah ibadat, dan banyak orang bukan Yahudi menjadi Kristen. Paulus memulai sebuah sekolah Alkitab untuk mereka, yang letaknya strategis dan mencolok karena berdampingan dengan rumah ibadat (Kis. 18:1-18). Ia tinggal di sana selama delapan belas bulan dan digantikan oleh Apolos sebagai guru Alkitab.

BAGAIMANA BERITA TENTANG GEREJA DI KORINTUS SAMPAI KEPADA PAULUS.
Paulus sedang berada di suatu tempat di Asia (1 Kor. 16:19), mungkin di Efesus (16:8), pada akhir masa perjalanan misionarisnya yang kedua, ketika Stefanus dan dua orang kawannya datang dengan membawa sepucuk surat dari jemaat di Korintus (16:17 dan 7:1).

SEBUAH GEREJA YANG TERPECAH BELAH.
1. Mereka terpecah karena soal kepemimpinan (1:12).
2. Mereka terpecah karena standar moral (5:1-8).
3. Mereka terpecah karena kasus pendakwa dan terdakwa (6:1-8).
4. Mereka terpecah karena kasus orang Kristen yang lemah dan yang kuat (8:7-12).
5. Mereka terpecah antara yang kaya dan yang miskin (11:17-22).
6. Bahkan karunia Roh menjadikan mereka terpecah belah (12:12-26).

1 Korintus 12:1-6

1.

Para warga jemaat di Korintus berbeda pendapat dan dengan itu saling berselisih mengenai karunia-karunia Roh. Menghadapi permasalahanan ini, Paulus menulis: “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh” (ayat 4). Secara tersirat Paulus mau menganjurkan prinsip kesatuan dalam kepelbagaian - - - “unity in diversity”.

Titik tolak kita yang paling baik adalah 1 Kor 12:4-6, dimana Paulus mengatakan: ‘Ada rupa-rupa karunia, . . . tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang’.

Maksud Paulus ialah menekankan bahwa sekalipun karunia-karunia itu berbeda-beda, tapi hanya ada satu Pemberi. Ia memakai 3 kata yang berbeda untuk menunjukkan karunia-karunia itu sendiri. Pertama (ay 4) karunia-karunia ialah kharismata, karunia dari kasih karunia Allah. Selanjutnya (ay 5) karunia-karunia itu ialah diakonia, bentuk-bentuk pelayanan. Ketiga (ay 6) karunia-karunia itu ialah energemata, daya-daya, aktivitas-aktivitas atau kuasa-kuasa, yang diaktifkan oleh Allah dalam tiap orang.

Dan ada ‘bermacam-macam’ atau ‘jatah-jatah’ dalam tiap golongan. Jika kita mengumpulkan ketiga kata itu, kita mungkin dapat merumuskan karunia-karnia rohani itu sebagai ‘kecakapan-kecakapan tertentu, yang diberikan oleh kasih karunia dan kuasa Allah, yang mencakapkan orang bagi pelayananan yang khusus dan sesuai’. Karunia rohani atau kharisma itulah kecakapan yang mencakapkan seseorang bagi suatu pelayanan. Lebih sederhana lagi, karunia rohani dapat dipandang sebagai suatu karunia dan jabatan yang dapat dilakukan dalam karunia itu, atau suatu jabatan dan karunia yang dengannya orang dapat melakukannya.

2.

Karunia-karunia Roh itu bersifat “supernatural”. Kalau diperhatikan ayat-ayat dalam 1 Korintus 12, Paulus jelas mengkaitkan “asal mula dan ditribusi” karunia-karunia itu dengan setiap pribadi dari Tritunggal. Paulus menulis: “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang” (ayat 4-6).

Informasi: When we realize that the New Testament authors generally use the name “God” (Gk. theos) to refer to God the Father and the name “Lord” (Gk. kyrios) to refer to God the Son, then it is clear that there is [a] Trinitarian expression in 1 Corinthians 12:4-6: . . .

Yang sangat mengesankan ialah cara setiap Pribadi dalam Allah Tritunggal dihubungkan dengan berbagai segi daripada karunia-karunia itu. Dengan demikian, karena kegiatan khusus daripada Roh Kudus ialah membagi-bagikan, maka Paulus berbicara tentang “karunia-karunia-Nya”. Karena Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, maka Paulus berbicara tentang “rupa-rupa pelayanan-Nya”. Karena Allah Bapa adalah sumber segala kuasa, maka Paulus berbicara tentang “berbagai-bagai perbuatan ajaib-Nya”. Karena itu, ada kegiatan yang mahahebat di dalam penggunaan karunia-karunia Roh. Pada waktu karunia-karunia itu dipergunakan oleh salah seorang anggota tubuh Kristus, maka Allah Tritunggal bekerja di dalam satu pribadi bagi kepentingan dan kebaikan orang lain.

So here we have something quite interesting: the same Spirit, the same Lord, and the same God the Father, but there are “diversities” and “difference.” The purpose of the Trinity is to bring about unity in the church, but it is unity in diversity. The Trinity is attempting to attain this unity in your church today.

3.

Bagaimana saya dapat mengetahui karunia Roh dalam diri saya?
Ada tiga langkah yang jemaat bisa ambil untuk menolong jemaat mengenal karunianya sehingga bisa mengetahui bidang-bidang terbaik untuk melayani:

1. Selidiki Roma 12:3-8; 1 Korintus 12:1-31; dan Efesus 4:1-13. Tulislah karunia-karunia yang kita temukan.
2. Buatlah daftar tentang hal-hal yang kita suka kerjakan atau yang selalu kita lakukan dengan hasil yang baik. Allah memberi kita kemampuan dan minat alamiah ini untuk dipakai bagi maksud-maksud-Nya.
3. Akhirnya, bicarakan dengan orang Kristen lainnya yang kita hormati. Mereka hendaknya orang yang mengenal kita dengan baik. Tanyakan kepada mereka apa kiranya yang menjadi karunia kita.

4.

Excursus
Kekeliruan-kekeliruan yang Harus Dihindari

Ada dua kekeliruan yang harus kita hindari ketika memikirkan karunia-karunia Roh. Yang pertama ialah kekeliruan dalam mana kita sangat menginginkan karunia-karunia rohani yang paling menakjubkan seperti yang dimiliki orang lain. Rasul Paulus dengan tegas memberi peringatan dalam hal ini. Telah sering saya ingin memiliki karunia dalam bidang musik maupun berceramah secara hebat. Dan bahkan yang lebih hebat lagi, saya mendambakan kemampuan untuk menyembuhkan orang-orang yang menderita penyakit yang manapun, dan bahkan menghidupkan orang mati.

Ternyata bahwa karunia-karunia yang demikian tidaklah Tuhan berikan kepada setiap orang percaya. Seandainya karunia-karunia tersebut dapat diminta atau dituntut, maka setiap orang Kristen di dunia ini akan memilikinya.

Memang menyembuhkan seseorang dari penyakit kanker yang ganas jelas lebih hebat daripada membawa sekeranjang buah-buahan kepada sebuah keluarga yang lapar. Namun demikian, Roh Kudus yang samalah yang memberikan kedua karunia itu, baik karunia penyembuhan, maupun karunia “kemurahan” dalam melayani orang-orang lain yang membutuhkan pertolongan (Rm 12:8).

Oleh sebab itu janganlah Anda iri hati atau cemburu melihat Roh Allah memberikan karunia yang lebih menggetarkan kepada orang lain. Sebaliknya, sadarilah apa karunia khusus yang Anda terima dari Tuhan. Kemudian mulailah mengembangkannya.

Kesalahan kedua yang sering kita temukan di kalangan Kristen ialah harapan atau anggapan bahwa kita semua harus menerima karunia-karunia yang bersamaan. Rasul Paulus mengatakan bahwa“ada rupa-rupa karunia” (1 Kor 12:4). Selanjutnya dia menunjukkan bahwa setiap anggota tubuh seseorang memiliki fungsi yang khusus dan perlu.

Itulah sebabnya tidak bijaksanalah bila kita mengharapkan atau menganggap bahwa orang-orang Kristen lain harus menerima karunia yang sama seperti Tuhan berikan kepada kita. Mengenai pembagian karunia-karunia, haruslah kita serahkan sepenuhnya kepada Roh Kudus, karena hanya Dia sendirilah yang berwenang membuat keputusan itu.

Di minggu Trinitas ini, marilah kita kembali menata pemahaman dan penghayatan, serta perilaku iman kita; yaitu:

Pertama; kita mau secara sungguh2 memahami bahwa Allah Tritunggal yang Kudus (bapa, Anak dan Roh Kudus) adalah Allah yang Esa, yang mengasihi dan berkuasa, yang senantiasa berkarya dalam hidup kita selaku umat yang percaya – bukan hanya pada karya penebusan hidup kita dari kuasa dosa, tetapi juga pada karya memaknai hidup baru kita dengan memperlengkapi kita dengan karunia-karuniaNya.

Kedua; ketika kita dengan perkenaanNya menerima anugerah Karunia Roh, maka hal itu kita syukuri, karena Allah berkenan dan mempercayakan kepada kita Karunia itu. Dan sebagai wujud syukur yang benar, maka Karunia itu harus kita berdayakan seturut dengan kehendakNya, bagi kehidupan berjemaat dan masyarakat luas.

Ketiga; semakin kita dipercayakan untuk menerima dan memberdayakan Karunia-karunia Roh itu, semestinya semakin rendah kita sebagai hamba-hambaNya dan semakin tinggi dan dimuliakan Allah Tritunggal yang Kudus.

Akhirnya, Tujuan karunia-karunia Roh adalah untuk pertumbuhan jemaat. Roh Kudus ingin menyatakan kasihNya lewat kita sebagai anggota tubuh Kristus sehingga jemaat bertumbuh. Bertumbuh banyak dan bertumbuh dewasa yang mendayagunakan segala Karunia untuk kemuliaan NamaNya dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Jenis-jenis Karunia Roh Kudus dan Artinya

Berdasarkan 1 Korintus 12:7-11, kita dapat mengetahui adanya sembilan jenis karunia Roh Kudus yaitu:

1. Berkata-kata dengan hikmat.
2. Berkata-kata dengan Pengetahuan.
3. Karunia untuk Menyembuhkan.
4. Karunia Iman.
5. Karunia Mengadakan Mujizat.
6. Karunia bernubuat.
7. Karunia untuk Membedakan Roh.
8. Karunia Bahasa Roh.
9. Karunia untuk mengartikan Bahasa Roh.

1. Berkata-kata dengan hikmat.
Kata hikmat adalah Sofias dalam bahasa Yunani yang berarti hikmat atau kecerdasan. Hikmat yang demikian inilah yang diminta Salomo dari Allah sehingga dia mampu untuk menyelesaikan perkara dua orang perempuan sundal yang memperebutkan seorang anak (1Raja-raja 3:16-28). Yesus menubuatkan tentang penderitaan dan penganiayaan yang akan menimpa murid-muridNya sehingga Dia berkata Apabila kamu diperhadapkan kepada pemimpin-pemimpin jangan kuatir sebab Roh Kudus yang akan mengatakan perkataan-perkataan yang akan kamu ucapkan (Matius 10:28). Pada masa infansi gereja itu tentu hikmat atau kecerdasan untuk mengarahkan gereja itu sangat dibutuhkan terlebih apabila dilihat dari sisi para penolak-penolak kekristenan yaitu orang-orang Yahudi dan kafir. Tanpa mendapat hikmat dari Allah maka para rasul tidak akan dapat memberikan solusi pada masalah yang dihadapi oleh Jemaat abad pertama yaitu adanya sikap pandang rupa dalam memberikan kebajikan kepada janda-janda dengan melalaikan janda-janda keturunan Gerika (Kisah rasul 6).

2. Berkata-kata dengan Pengetahuan.
Kata pengetahuan dalam hal ini berasal dari kata Gnoseos (bahasa Yunani) yang dapat berarti pengetahuan atau mengingat-ingat. Roh Kudus memberikan kemampuan bagi orang percaya untuk mengingat perkara-perkara yang telah dikatakan oleh Yesus pada saat bersama-sama dengan mereka. Hal itu sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh Yesus yang akan dilakukan Roh Kudus apabila Roh Kudus turun (Yohanes 14:26) “...... ialah akan mengajarkan kepadamu segala perkara itu dan akan mengingatkan kamu segala sesuatu yang Aku sudah katakan kepadamu.” Allah tidak ingin agar FirmanNya itu dilupakan begitu saja melainkan Dia menginginkan agar firmanNya itu tetap disimpan didalam hati setiap orang yang percaya (Kolose 3:16-17).

3. Karunia untuk Menyembuhkan.
Dalam Kisah Rasul 3, Lukas menuliskan penyembuhan seorang timpang yang dilakukan Petrus dan Yohanes pada pintu gerbang Bait Allah yang bernama Pintu Elok. Dalam ayat 6 Petrus berkata agar didalam nama Yesus orang tersebut dapat berjalan. Selanjutnya didalam ayat 7 dikatakan seketika (segera) itu juga dia berjalan dan tidak hanya itu saja melainkan dia juga meloncat sebagai tanda bahwa dia sembuh total. Petrus tidak harus teriak-teriak didalam nama Yesus lalu kelumpuhan itu berangsur-angsur pulih seperti yang dilakukan semua orang-orang yang mengatakan dirinya dapat melakukan penyembuhan. Karunia penyembuhan bukan semata-mata bertujuan untuk menyembuhkan orang-orang sakit. Karena jikalau demikian Paulus selayaknya telah menyembuhkan Teropimus yang ditinggalkan dalam keadaan sakit di Miletus (2 Timotius 4:20). Mengapa dia tidak menyembuhkan padahal dia dapat menyembuhkan bermacam-macam penyakit? Karena karunia penyembuhan itu bukan menjadi tanda kepada orang percaya melainkan kepada orang yang tidak percaya.

4. Karunia Iman.
Karunia iman ini ditujukan kepada cara bagaimana seseorang itu percaya yaitu dengan mendengarkan firman Allah (Roma10:17) tentunya firman yang disampaikan langsung oleh Roh Kudus terhadap seseorang. Dalam tulisannya Paulus berkata “Roh Kudus berkata” (1 Timotius 4:1 ; Ibrani 3:7). Ini berarti bahwa adakalanya Roh Kudus berbicara langsung terhadap seseorang Kristen yang menjadikan iman orang itu semakin bertambah.

5. Karunia Mengadakan Mujizat.
Dalam teks ini kata mujizat berasal dari kata Yunani yaitu Dunaneon yang berarti kuasa atau kekuatan. Kata dunaneon ini biasanya ditujukan kepada ledakan yang maha dasyat tetapi juga ditujukan kepada suatu tindakan yang maha menakjubkan karena bersifat diluar kekuatan normal (supranatural). Kekuatan yang demikian hanya dimiliki oleh Allah. Nikodemus percaya kepada Sabda Kristus sesudah dia melihat mujizat (Yohanes 3:1, 2). Simon tukang sihir juga percaya kepada Pilipus sesudah dia melihat mujizat (Kisah Rasul 8:13).

6. Karunia bernubuat.
Dalam teks ini kata bernubuat adalah Propheteia yang berarti; 1. Menyatakan hal-hal yang pasti akan terjadi pada hari yang akan datang. 2. Ditujukan untuk mengajar. Dalam teks ini arti bernubuat cenderung ditujukan kepada tindakan seseorang yang mengajarkan firman Allah sesuai dengan apa yang dinyatakan Roh Kudus kepadanya. Hal itu dengan jelas digambarkan Paulus dalam 1 Korintus 4:4, 29-31.

7. Karunia untuk Membedakan Roh.
Karunia seperti ini ditujukan kepada karunia yang dimiliki seseorang untuk membedakan pengajaran. Dalam 1 Yohanes 4:1, 2 Yohanes menasehatkan orang Kristen abad pertama untuk menguji roh (pengajaran), tentu mereka harus mendapat karunia Roh agar dapat melakukannya.

8. Karunia Bahasa Roh.
Ditujukan kepada kemampuan seseorang berbicara dalam bahasa asing yang tidak pernah dipelajari sebelumnya. Hal itu dikaruniakan Roh Kudus kepada orang-orang tertentu agar pemberitaan injil itu tidak terkendala hanya karena bahasa. Contoh yang tepat untuk ini terdapat pada Kisah Rasul 2:1-8.

9. Karunia untuk mengartikan Bahasa Roh.
Ditujukan kepada karunia yang dimiliki seseorang untuk mengartikan maksud firman Allah yang disampaikan oleh seseorang yang mendapatkan karunia bahasa Roh dan bukan berarti menterjemahkan.

ITT - 7 Juni 2009 - IHM RC Pkl.09:00 - Hari Minggu Trinitas

Wednesday, June 3, 2009

1 Korintus 12:12-26


12:12 Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.
12:13 Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.
12:14 Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.
12:15 Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh?
12:16 Dan andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh?
12:17 Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman?
12:18 Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.
12:19 Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh?
12:20 Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh.
12:21 Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau."
12:22 Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan.
12:23 Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus.
12:24 Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus,
12:25 supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.
12:26 Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita

Pembangunan Tubuh Kristus

1 Kor 12:12-26

Jika kita melihat sebuah pembangunan gedung, kita akan melihat semua mempunyai tahap, masing2 setiap hari, minggu, bulan, tahun. Hari ini kita melihat fondasi sedang di buat, minggu depan fondasi sedang di naikkan sampai lantai 4, bulan depan kamar mandi, dll. Masing-masing punya tahapan untuk akhirnya gedung berdiri dengan gagahnya dan begitu anggun, dan setiap orang yang melintas pun pasti melihat.

Dan tubuh Kristus pun perlu di bangun, sama seperti pembangunan gedung. Masing-masing punya tahapan, masing-masing tahapan punya fungsi, masing-masing tahapan punya tujuan.

Kita harus memperbaharui pola membangun tubuh Kristus, begitu juga dengan pembangunan gedung jaman tahun 1920-an tentu berbeda dengan jaman tahun 2000-an. Dari bahan sampai kepada teknik. Itulah kita harus mengikuti apa yang dipulihkan oleh Yesus di akhir jaman. Inilah yang harus kita perhatikan.

Pola yang kita pakai adalah pola tubuh Kristus yang terdapat di 1 korintus 12:12-26

Bagian #1

Satu tubuh, banyak anggota

1 korintus 12:12 Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.

1 korintus 12:14 Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.

1 korintus 12:19-20 Andaikata semuanya satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh.

(tambahan) 1 korintus 12: 27 Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing Adalah anggotanya.

Begitu banyak jemaatnya. Satu jemaat, banyak anggota jemaatnya. Dan mereka semua percaya satu Yesus Kristus.

Yang belum tercapai adalah mengakui bahwa mereka semua adalah satu tubuh Kristus, yang harus saling bekerja sama. Inilah yang perlu kita ketahui agar bisa mencapai kesatuan Tubuh Kristus.

Bagian #2

Saling mengakui

1 korintus 12:15-16 Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Dan andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh?

Bagian #3

Mengakui perbedaan

1 korintus 12:17 Andaikata tubuh seluruhnya mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman?

Bagian #4

Yesus menyukai perbedaan

1 korintus 12:18 Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendakiNya.
Perbedaan membuat kita menjadi satu, dan itulah yang Allah lakukan terhadap adam dan hawa; 12 suku israel; 12 murid; banyak anggota tubuh manusia; dan lain-lain. Justru dengan perbedaan ini, setiap bagian tidak akan merasa paling penting, karena semua saling membutuhkan.

Bagian #5

Saling membutuhkan

1 korintus 12:21 Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau."
Setiap gereja, setiap jemaat, setiap anggota jemaat, seluruh orang percaya Yesus, yang berbeda, saling membutuhkan.

Bagian #6

Paling lemah, paling dibutuhkan, paling berfungsi

1 korintus 12:22 Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan.
Jika kita melihat jari-jari tangan, jari kelingking sepertinya yang paling lemah, hanya jari ini diperlukan untuk beberapa fungsi yang jari lain tidak bisa lakukan. Sama juga berlaku dengan jari yang lain, jari jempol, jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis.
Kenapa anggota-anggota tubuh yang paling lemah, yang paling dibutuhkan? Karena dia mempunyai fungsi, semua anggota tubuh mempunyai fungsi. Jika dia tidak ada fungsi lagi maka anggota itu akan dibuang. Sama seperti jika jari kelingking seseorang mengalami kecelakaan, dan tidak bisa diselamatkan lagi, maka jari itu akan dibuang. Daripada akan membuat seluruh tangan hancur.

Bagian #7

Berfungsi diperhatikan

1 korintus 12:23 Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan Kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus.
Jika kita bisa memilih menjadi sebuah anggota tubuh, apa yang Anda pilih? Selain daripada kepala, karena ini Yesus Kristus.
Kaki adalah tempat yang tidak terhormat, dia yang menopang seluruh tubuh, dia dibungkus dengan kaos kaki dan sepatu dan setelah seharian berjalan, bau itu begitu bau, dia hanya beristirahat maksimal hanya pada saat tidur.
Bagi kita kaki hanya sebuah anggota tubuh yang biasa, bagi seorang pelari profesional kaki adalah alat yang paling penting.
Kulit, bagi para wanita adalah hal yang perlu dijaga. Bagi para pria, biasa saja.
Rambut, bagi wanita adalah mahkota, sedangkan bagi pria, biasa saja.
Jika rambut seorang wanita sedang rusak, maka dia akan berusaha untuk memulihkan rambutnya dengan segala cara. Jika kulit tubuhnya kurang putih, dia akan berusaha untuk memutihkannya.
Kita memberikan penghormatan khusus setelah dia berfungsi. Walau kaki kurang terhormat, dia diberikan perhatian khusus karena dia berfungsi, dan kita semua berterima kasih.

Kita memberikan perhatian khusus anggota jemaat yang tidak elok, karena kita ingin dia menjadi elok. Kita ingin seluruh penampilan kita bersama dengan Yesus, menjadi sempurna.
Sekalipun anggota jemaat itu tidak bisa sempurna, setidaknya kita bisa berbangga dengan anggota jemaat yang tidak elok itu. Setidaknya ada fungsi yang bisa dilakukannya lebih baik dari sebelumnya.
Jika kita meluaskan arti dari “kurang terhormat” dan “tidak elok”, maka yang kita dapati adalah orang berdosa atau orang yang belum percaya Yesus. Merekalah yang kita berikan perhormatan khusus dan perhatian khusus, karena Yesus mencari orang berdosa, merekalah yang harus diberikan makanan, pakaian, minuman.

Bagian #8

Yang sudah elok melayani yang tidak elok

1 korintus 12:24 Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, jika kulit kita yang jelek telah menjadi cantik, maka kita tidak akan memperhatikan lagi. Kita akan memperhatikan bagian lain yang kurang untuk menjadi elok.
Rambut kita yang dari pertama telah cantik, tidak perlu diberi perhatian khusus.
Jemaat kita yang kurang elok, kita berikan perhatian khusus untuk supaya dia menjadi elok sama seperti yang lain.

Bagian #9

Saling melayani

1 korintus 12:25 supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.
Tujuan dari perhatian khusus itu adalah untuk membuat kita tidak terjadi perpecahan dan saling memperhatikan. Inilah kuncinya SALING MEMPERHATIKAN ada dua pihak yang saling perhatian. Bukan satu. Kaki memberikan pelayanan kepada tubuh, tubuh menggunakan tangan memberikan pelayanan kepada kaki (memijat), membersihkan dari kotoran, menggunting kuku dll.

Bagian #10

Satu untuk semua, semua untuk satu

1 korintus 12:26 Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.
Semua berfungsi, tanpa mengeluh, saya yang bekerja lebih berat dibanding yang lain. Kaki mengeluh beri saya istirahat, jantung juga, tangan juga, mata juga, jadi akhirnya semua mengeluh yang mengakibatkan kematian.

Sebaliknya jika semua orang menjalankan fungsinya dengan maksimal tanpa memperhitungkan siapa yang lebih daripada yang lain, maka tubuh akan hidup dengan baik dan sehat.

Jemaat yang berfungsi dengan baik, sekalipun tidak besar, sekalipun tidak semegah yang lain, sekalipun hanya berdoa, dia layak menerima pujian, dia layak menerima perhatian khusus. Karena dia berfungsi dalam tubuh Kristus.

ITT - 3 Juni 2009 - K3 SP3C di Kel.Kuhuwael

Tuesday, June 2, 2009

Catatan Tercecer Dari Pembinaan/Sertifikasi Pengajar Katekisasi untuk Mupel Sulselbara


Pembinaan/sertifikasi Pengajar Katekisasi untuk Mupel Sulselbara, telah diadakan 29-30 Mei 2009. Mengambil tempat di Lt.6 Hotel Valentino, Pembinaan ini dibuka oleh Ketua Umum Majelis Sinode GPIB, Pdt.S. Th. Kaihatu, M.Th pada Jumat 29 Mei 2009 Pkl.14.15 Witeng, dan berlangsung marathon sampai Pkl.23:00. Dilanjutkan keesokan hari 07:30, juga berlangsung marathon dan ditutup oleh Ketua II Mupel Sulselbara, Pdt.A.R.Persang, M.Th pada Sabtu, 30 Mei 2009 Pkl.20:40.

Sertifikasi ini diikuti oleh 31 orang dari seluruh Wilayah Sulselbara, hanya 2 jemaat yang tidak mengirimkan wakilnya.

Pengajar dan pembawa materi adalah, Pdt.S.Th. Kaihatu, M.Th, Pdt.Nitis Harsono, M.Th, Pdt.Dr.Jan Rapar, Ph.D, Pdt.A.R.Persang, M.Th, Pnt.Prof.Dr.Ir.John FoEh dan Pnt.Dr.Ny.Maria Kumaat-Mantik, M.Hum, D.Th.

Pembinaan berjalan dengan baik dengan panduan & pelayanan panitia yang cukup rapi, dengan metode pelatihan yang sarat, latihan teknik komunikasi & mengajar, penilaian akhir katekumen, membuat kurikulum, SAP dll, serta Evaluasi Peserta sebagai materi akhir.

Kiranya Pembinaan seperti ini diadakan berkesinambungan dengan materi advanced dan angkatan lanjutan. Terimakasih kepada BP-Mupel yang telah mengadakan kegiatan ini, dengan penuh dedikasi dan kerja-keras.

Kristus memberkati kita semua.

Di bawah ini ada catatan singkat semasa pembinaan, ... yang kalau kepanjangan nanti disangka nda' ikut pembinaan, cuma mengamati orang doang ..... dan ampunkan kami kalau ada yang terluka oleh pengamatan kami.

ITT

+++++++++++++++++

Pembukaan.

Sudah 2 (dua) minggu kami menerima surat dari BP Mupel soal pembinaan/sertifikasi ini. Awalnya yang diminta cuma 2 (dua) orang, karena jumlah peserta dan kelas yang efektif adalah 40 orang. Tapi walau demikian aku nda' malu-malu & ngotot saja desak KMJ kami yang sekertaris BP Mupel biar bisa ikut, walau nanggung sendiri. Seperti biasa beliau dengan kalem menjawab ... "nanti di atur Pak ... "

Pekan lalu, ada kelonggaran, karena doa kami (yang kurang simpatik) terjawab, .... semoga ada jemaat yang kurang ngirim peserta, dan akhirnya Kamis, sehari sebelum kegiatan, lampu hijau buat kami ... bisa ikut 4 orang ... lumayanlah .... pasti Sang Bapa maklum, kami perlu tenaga pengajar yang lebih ....

Pkl.13:00 sehabis jumatan ... (teman-teman di kantor ... bukan kami) ... semuanya pada ngumpul, Dkn.Ny.Gaby Samahati-Lili yang biasa dipanggil Mama Gaby .... pelayan Taruna yang sudah cukup gaek, Dkn.Ny.Sherly Tangdiongga-Parinussa ... yang ini biasa dipanggil Ka' Elly, juga Pelayan Taruna yang tangguh .... Sekertaris PHMJ Kami Pnt.J.M.Sahilatua, S.Sos (Pa' Jop) ... dan diriku yang biasa dipanggil anak katekisasi ... Oom I'.

Masuk ke Valentino yang masuk hitungan Butik Hotel, kecil tapi manis .... dan terkenal sebagai hotelnya GPIB, .... (hehehehe maaf Ibu Evi .... merasa memiliki) ... kami diterima oleh Panitia yang semuanya BP-Mupel Sulselbara. Pnt.Feri Adam, sekertaris I Mupel yang juga Ketua II kami menerima kami dengan senyum khasnya yang baterek habis .... kami langsung mengambil tempat di deretan ke 2 ... duduk berjejer manis .... atur strategi, biar bisa ngobrol dulu. Ada gunanya juga karena Ka' Elly sempat mengajar diriku yang gaptek FB di HP .... mengasuh FBnya Bethania

Seperti biasa, acara GPIB dimana-mana dari PS sampai PST, dari Persidangan Mupel sampai SMJ ... semuanya telat ... dan setelah mulur 30 menit dari panduan acara yang menerakan pembukaan Pkl.13:00, ... Ibu Sekertaris II BP-Mupel Pnt.Drg.Ny.Netty Rehatta-Kawulusan, M.Kes memandu acara pembukaan.

Ibadah pembukaan dilayani oleh Pdt.Melkianus Nguru, S.Th, Ketua I Mupel & KMJ GPIB Kanatojeng Gowa .... Bacaannya dari I Tim 1:3-11 soal ajaran sesat. Sempat juga Ma' Gaby yang memang "mantan" penyanyi ... melagukan kesaksiannya lewat sebuah lagu ....

"selidiki aku, .... lihat hatiku

apakahku ....sungguh mengasihiMu Yesus ....

Memang pas lagu ini .... kita memang harus diselidiki Tuhan senantiasa, supaya motivasi melayani Tuhan nda' melenceng .... menjadi melayani diri sendiri.

Seusai ibadah 30 menit ini, sambutan diberikan Ketua II Mupel Pdt.A.R.Persang, M.Th, (eh ... Ketua Mupel kemana ya ....???? Kok nda' kelihatan?) ... beliau mengemukakan bahwa, mestinya pembinaan ini berlangsung tahun lalu, tapi karena satu dan lebih satu hal ... baru bisa diadakan sekarang. Tapi syukurlah, karena kita termasuk jajaran yang cukup awal melaksanakan kegiatan ini ....

Sesuai Pendaftaran ada 38 orang dari 14 jemaat, dan karena Mupel kami ada 16 jemaat, maka ada 2 jemaat yang nda' ikutan.

Sambutan dilanjutkan Ketum yang baru masuk dikawal Sekertaris Mupel ... baru tiba rupanya ....

Seperti biasa dengan energik beliau memberikan sambutan 10 menit dengan padat sekaligus membuka pembinaan/sertifikasi pengajar katekisasi non-pendeta ini, .... dengan santai beliau menceritakan masa katekisasi beliau yang waktu itu di Ambon. Rupanya di Ambon waktu itu katekisasi 3 tahun ... (bisa dapat S1 Katekisasi ya pak). Dan beliau karena (dulu) badung ... (keliatan kok ... hehehehe maaf pak) ... di keluarin (2 kali!) oleh Pdt.Latupeirissa waktu itu. Dan tanpa lapor or-tunya, beliau yang pindah ke Surabaya ikut Katekisasi di sana di bawah Pdt.Gerard Siwi dan karena cuma 1 tahun katekisasinya langsung lulus. Beliau ingat betul salah satu pembinanya adalah Penatua Suatan, yang waktu Ketum semester V diberi kesempatan khotbah di tempat katekisasinya, diantar naik mimbar oleh Penatua Suatan, beliau ditatap dengan pandangan tajam 1001 arti sang Penatua .... pasti dia bilang ... wah wah wah bisa jadi calon pendeta juga anak badung ini .....

Intinya adalah .... pergunakan dan buka lebar-lebar mata rohani kita dalam mendidik anak katekisasi .... karena suatu saat mereka akan menjadi "manusia" yang berhasil .... karena tuntunan Tuhan melalui kita, para pengajar Katekisasi.

Pembinaan Hari I

Pkl 14:25 Materi pertama yang berisi Rangkuman Materi Katekisasi dibawakan oleh Ketum sendiri. Moderator adalah Sekertaris Mupel, Pdt.Timotius Susilo.

Perkenalan singkat, beliau adalah kelahiran 1950 di kampung Oma Haruku. Tamat STT Jakarta 1975, Vikaris di GPIB Rawamangun, .. dan akhir-akhir ini menyandang predikat Duda, karena ditinggal istri terkasih dengan 2 anak, 1 anak mantu dan 1 cucu. Bangga karena status Duda itu ... (lho kok?) ... ia sih karena DUDA itu adalah Deos Ulios Deo Agapetos ... anak Tuhan dikasihi oleh Tuhan .... Amin Pak.

Dengan santai dan kocak dan sambil berdiri, beliau membawakan materi dengan suara keras .... dengan panduan slide show .... beliau lebih menekankan pada MAKNA dari apa yang akan kita ajarkan. Materi bisa dibaca dan dipelajari, tapi yang penting kita tahu, makna apa yang akan kita ajarkan lewat materi-materi itu.

Peserta dibukakan matanya bahwa proses Katekisasi berujung pada "Pengakuan sebagai Warga Sidi Gereja secara dewasa" dan "Memberlakukan imannya dalam perilaku dan kenyataan hidup" .... padat ... karena bermakna.

Dan terbukalah tas Ma' Gaby & Ka' Elly .... mengelarkan snack, coklat buavita dll dsb .... yah ini dia yang asyik kalau duduk dekat Pelayan Taruna ... isi tasnya selalu jadi daya tarik anak-anak asuhnya ... dan kali ini kami .... sikat tuh snack ... ngunyah terus ... pasti Ketum dari tempatnya lihat, kok deret ke dua ini semuanya pada ngunyah ya.... senyum saja pak, ... ini terapi anti kantuk yang mujarab.

Materi I yang berakhir pada Pkl.15:55 dilanjutkan Coffee Break ....

Pkl 16:10 Materi II dilanjutkan dengan Pendalaman Materi Theologia berdasarkan Pemahaman Iman GPIB. masih oleh Ketum dengan moderator yang sama ... beliau dengan tetap menekankan pada Makna ... membimbing peserta untuk memahami apa itu katekisasi dari sudut Pemahaman Iman GPIB .... selama 45 menit mengajar ... tiba-tiba beliau berhenti, ... dan selama 10 menit peserta diberi kesempatan untuk menyerap semua materi I & II tadi dan kalau kembali, peserta diberi kesempatan untuk mengemukakan pertanyaan apa saja sehubungan katekisasi .... tapi ... dengan berpikir seperti anak katekisasi ... dan beliau akan mencontohkan bagaimana seharusnya seorang pengajar menjawab ..... yah ... mulai keluar kepiawaian Ketum kita.

Sehabis break semuanya siap dengan pertanyaan yang dijawab langsung satu-persatu oleh Ketum. Dari sesi ini cakrawala peserta mulai terbuka karena seperti praktek mengajar, ... pengajar akan dicecar oleh pertanyaan lugu dan harus dijawab dengan cara pandang mereka supaya bisa dimengerti. Ini tidak mudah, ... karena sering pertanyaan anak katekisasi kita jawab dengan jawaban seorang penatua atau diaken yang tak terjangkau oleh cara pandang mereka yang berkisar 18 s/d 20 tahunan. Aku yang ikut-ikut bertanya: nanyanya "Pak apa artinya sidi, di kamus kok nda' ada? dan kenapa mesti sidi dulu baru ikut Perjamuan" ... nah apa ayoooooo .... silahkan dijawab para pembaca dan kasi mangerti itu pe anak-anak di kelas masing-masing ... cluenya ada di Roma 10:9-10.

Diberondong 21 penanya yang bawa 3-5 pertanyaan, beliau ngoceh terus ... dan tetap bermakna .... ada yang nanya gaya penatua, gaya pengasuh PA/PT, gaya PHMJ dan ada yang usul .... hahahaha ... semuanya dijawab dengan lugas, sampai kami mesti mengaku bahwa cakrawala kami kadang cuma beda-beda tipis dengan anak katekisasi ....

Materi ini berakhir Pkl.19:10 .... tanpa terasa .... tapi banyak yang harus dicatat, pantas saja banyak yang menggunakan HPnya buat rekam, sampai harus hapus file lain biar muat tu rekaman di memory HP.

Makan malam 19.15 .... dengan makanan yang menunya asyik plus lapar karena digodok tadi membuat ruangan sepi ngobrol, karena semuanya pada lahap .... dan 19:45 semua siap di materi III Pengantar Dogmatika oleh Pdt.Nitis Harsono, M.Th dengan moderator Pdt.Melkianus Nguru, S.Th.

Materi ini cukup berat, dan karena para peserta yang tanpa mandi dan istirahat ... ruangan mulai sepi dan serius .... dan karena snack sudah habis, masing-masing mulai catat dan (pura2) mencatat .... melawan kantuk. Maklum banyak yang sudah umur yang jam segini sudah tidur. Tapi semuanya berpegang pada satu hal, .... karena ada evaluasinya mesti diperhatikan, karena nda' ada waktu belajar .... harus diperhatikan, atau direkam otak dan HP masing2.

Materi III berakhir 21:00 setelah materinya yang banyak itu dipercepat slidenya .....

Break ngopi sejenak .... wah ... berat juga pembinaan ini .... Materi I, II dan III rasanya kayak makan Cap Cai di Materi I & II terus disuruh makan Bayam ... yang satu lebih enak dari yang lain ... tapi sama pentingnya .... (maaf Pak Nitis) .... ini masalah makna (ikut2an Ketum).

21:20 langsung masuk Materi IV yang lebih berat lagi, ... yaitu Pengantar Biblika oleh Pdt.A.R.Persang, M.Th. Untunglah beliau maklum bahwa ini sudah masuk jam tidur, dan peserta diajak nyanyi lagu Hinne Matov ... lagu berbahasa Ibrani kayak di kampungnya Tuhan yesus .... yang bermakna Mazmur 133. Lagunya asyik ... dan membantu kita kembali konsentrasi.

"Hinne Matov uma na'im, syevet akhim gam yakhad"

"Hinne Matov, syevet akhim gam Yahad" ==> 2 x

Lumayan pak ... biar bisa diterusin ke anak katekisasi .... daripada nyanyi cinta-cinta.

Belajar PL & PB jadi mengalir dengan gaya penyajian yang cukup santai ... Kanonisasi .... masalah-masalahnya .... dll dsb ..... dari pelajaran ini kita bisa melihat karya Allah dalam rentang waktu yang begitu panjang .... memberikan Roh Kudus kepada para penulis kitab-kitab dan akhirnya kepada kami .... untuk diteruskan kepada para katekumen ....dan kembali kepada tujuan tadi ... supaya menjadi perilaku dan peri sikap dalam kehidupan.

Menyisakan hanya 3 penanya, materi ini ditutup 23:00 dengan doa penutup dari rekan pengajar dari Bukit Zaitun Makassar.

Bubaran, selintas terlihat lobby penuh dengan para penggemar Ketum (karena besok pagi-pagi sudah pulang) & ketua II MS (yang juga sudah tiba sore tadi) .... hehehehe mau minta tanda-tangan yaaaaa .... pemandangan biasa .... banyak yang penting untuk dilaporkan (buktinya biar tengah malam ngotot) .... karena rupanya banyak masalah di Mupel kita ini .... hmmmm asal laporannya valid saja .... karena kalau invalid itu namanya issu .....

Selamat Istirahat, sampai besok! Kristus memberkati.

Pembinaan Hari II

Hari ke 2 Sabtu, 30 Mei 2009,di jadwal tertulis 07:30 - 08:00 adalah doa Pagi. Dan sebagaimana biasanya kalau Sabtu, aku bangun kesiangan (lagi). Sudah tidak hadir Doa Subuh di gereja, telat lagi ke pembinaan sampai tidak hadir di Doa Pagi pembinaan. Jadi datang 08:10, Pembinaan Materi V sudah mulai.

Materi V membahas Pemahaman Kurikulum & Penjabaran (Muatan Inti & Pendukung) dibawakan oleh Pdt.Dr.Jan Rapar, Ph.D dengan moderator Pdt.Timotius Susilo.

Pendeta Rapar yang berpostur "besar" tapi ramah dan kebapakan ini mulai menjabarkan cara menyusun Kurikulum dan penjabarannya, dan cara menentukan Muatan Inti & Pendukung yang berskala 70:30. Sejam menerangkan, akhirnya kita dibagi dalam 4 kelompok. Kelompok kami terdiri dari 8 orang, dari Bethania, Baras Mamuju, Bahtera Kasih, Raha dan Kanatojeng Gowa. Ketuanya Pak Nicodemus dari Pelita Kasih Baras Mamuju, yang pendiam, bertampang seram tapi ternyata sangat ramah dan humoris .... (hehehehe itu akibatnya kalau cuma menilai luarnya pak ... maaf ya... manusia seperti aku ini suka menilai dari casingnya doang ...) dan Ibu Corry Nanusinta dari Bahtera Kasih Makassar, yang penuh semangat dan kayaknya ....pakai baterei alkaline, karena konstan dari siang sampai malam kemarin, semangat terus.

Kelompok kami mendapat tugas untuk menyusun kurikulum "Katekisasi Pra Nikah". Rumit tapi menantang, karena GPIB dimana-mana kayaknya katekisasi pra nikahnya nda' sampe 3 bulan sesuai pesanan PS dulu. Ada yang cuma sekali, bahkan sekali pas 2 atau 3 hari sebelum hari "H".

Alhasil, anggota kami yang beragam ini, langsung mulai sibuk berdiskusi, sampai berdebat....waktu 30 menit sepertinya tidak cukup ....isinya materi inti: Pernikahan menurut Alkitab, PI GPIB, Negara, dan penjabarannya, materi pendukung adalah Komunikasi antar suami-istri, keluarga, anak dan.....perceraian. Semuanya sepakat, bahwa dalam katekisasi pra-nikah, topik perceraian harus di bahas habis, supaya calon pasangan ngeri melangkah ke situ.

Setiap kelompok mulai naik mempresentasikan kurikulumnya, dan kelompok kami terakhir, karena ngotot sana-sini ....dan akhirnya materi pendukung soal mengatur ekonomi rumah tangga dimasukkan....

Suasana jadi segar, karena kalau semua kelompok cuma diwakili 1 orang, kami diwakili 2,yaitu Oom Nico yang sudah cair dan humornya ternyata mengocok perut kami, dan Ibu Corry yang ternyata belum mau dipanggil Ibu, karena masih lajang. Dibuka oleh ketua dan dijabarkan oleh sekertaris, kompak habis, karena kata Ibu Corry, dia ngotot materi-materi itu, karena dia mau kalau (nanti) menikah di katekisasi dengan materi itu..... luar biasa, .... akhirnya presentasi kelompok kami mendapat tepuk tangan meriah....

Pak Pendeta Rapar, akhirnya menutup materi ini, dengan memperlihatkan kelemahan-kelemahan dan penjabaran kami semua, serta memuji, bahwa kelas ini,berdaya serap tinggi,karena mengerti (makna) pentingnya kurikulum dalam kelas katekisasi....ia sih pak, masih pagi jadi masih OK daya serapnya, ditambah kue-kue Ma' Gaby & Ka' Elly yang lancar keluarnya. Ka' Elly juga, tak henti-hentinya mengagumi beliau yang dengan ramah dan penuh senyum menjawab semua pertanyaan peserta di sesi tanya jawab.

Materi berhenti 10:20 untuk break sejenak minum kopi & teh.

Materi V di isi oleh Materi Teknik Evaluasi Belajar Mengajar & Prakteknya oleh Pnt.Prof.Dr.Ir.John FoEh yang didampingi moderator Pdt.Nitis.

Di sesi ini peserta diajar mengadakan evaluasi dengan data yang telah dibagikan. Materinya sangat menarik, karena meski materi ini sebenarnya tempatnya di bagian akhir, tapi karena Pak Ketua II su mau pulang ke Jkt, mesti diajukan....- tapi evaluasi kadang membuat kita terperangkap soal lulus tidaknya anak katekisan. Dari beberapa kasus di Makassar, hal ini sangat perlu untuk diseragamkan, karena ada yg tidak lulus, lalu pindah ke GPIB tetangga, atau malah ke gereja lain,..bahkan ada GPIB yang tidak melaksanakan katekisasi, dengan alasan katekisannya malas...(welehweleh ...apa nggak dikunjungi tu anak dan or-tunya ...dibiarin saja ya ... ?).

Ada juga kasus yang pendeta dan tim binanya di protes jemaat, karena dilulusin anak katekisannya yang narkoba habis .. (walau dalam tahap rehabilitasi), kayak di kami kemarin ada 2 anak yang tattonya sebadan habis, tapi yang satu setelah 8 kali akhirnya lulus juga .... (yang 7 x dia mundur sendiri karena kondisinya sakau hebat). Jadi ingat Pendeta Sammy yang 2x gagal jadi Pendeta, bahkan jadi Ketum MS-GPIB ..... lah ... kalau anak ini jadi apa ya nanti ....?

Pak Penatua John FoEh dengan lugas menerangkan teknik evaluasi tadi. Diawali dengan menunjukkan sebuah gambar di slide show, peserta diberi kesempatan menilai gambar yang memperlihatkan seorang laki-laki dan perempuan,memegang cangkul di sebuah bukit. Komentar serentak datang dari peserta, ada yang bilang itu petani karena bajunya, ada yang bilang itu suami istri petani, ada yang bilang itu gambar tidak pantas, karena masak perempuan bekerja di sawah dll dsb. Menarik memang,karena masing-masing menggunakan wawasannya dalam menilai, ada juga yang bilang itu kok kerja di malam hari... tuh langitnya warna hitam..... padahal itu gambar berwarna yang di foto copy.....hahahahaeeee.

Cocok juga sih pak buat menyadarkan kami bahwa mengevaluasi itu tidak semudah itu, harus di dukung data yang valid, ... itupun masih susah .... nanti lihat orang yang sudah menikah jalan berdua lawan jenisnya .... di malam hari lagi ... lalu kontan nuduh selingkuh .... padahal mereka berdua lagi kunjungan kilat karena ada jemaatnya yang sudah sekarat..... atau ... ah sudahlah ...

Beliau mengajar sambil memperlihatkan kelemahan sistim katekisasi kita yang produk masa lampau .... sebenarnya sih produk PS, ... yang ke depannya harus diperbaiki. Semoga di PS nanti ada pencerahan ....lagipula kan memang ini bidangnya beliau di bidang Bindik .... mana beliau dosen senior lagi, jadi tau pas apa yang diperlukan untuk mengevaluasi serta menata evaluasi bagi pengajar katekisasinya. Satu catatan penting yang beliau ingin peserta camkan baik-baik, adalah pengajar katekisasi non-pendeta yang disertifikasi ini diadakan bukan untuk menggantikan pendeta sebagai pengajar katekisasi, tetapi bersama pendeta-pendeta, para peserta ini akan membina katekisasi supaya lebih berkualitas.

Pkl.12:30 break saat makan siang ... sambil dihibur lagu Ma' Gaby dan Pak Luther Ansa dan pembinaan lanjut sampai 14:17 .... dimana Kembali dalam kelompok, peserta yang sudah dibagikan lembar data kehadiran dan nilai evaluasi katekisan, masing-masing mempresentasikan penilaiannya, yang mana lulus atau tidak ..... di kelompok kami meluluskan semuanya dengan catatan tertentu. Ada juga yang langsung menilai bahwa bisa jadi salah satu anak di data itu anaknya PHMJ atau warga terkemuka, ... (di data kehadirannya cuma 30% tapi nilai evaluasinya bagus ...) yang kalau nda' lulus nanti pendetanya bisa di protes,....bisa-bisa PHMJnya kalau kenal MS bisa dilaporin, trus pendetanya kena mutasi ... ada-ada saja. Ada juga yang dengan tegas cuma meluluskan satu orang saja dari sekian peserta katekisasinya .... dan... Kembali ke MAKNA, ... ingat nasihat Ketum, bahwa bisa jadi anak itu nda' hafal 10 hukum Tuhan, tapi dengan konsisten mempraktekkannya dalam kehidupannya... lalu disinilah seorang pengajar dengan mata rohaninya memperhatikan hal itu dan menggunakannya dalam evaluasi.

Materi ini berakhir dengan kesadaran kita semua, bahwa yang di evaluasi ini adalah katekisan yang akan bertumbuh rohaninya,... dengan data dan mata rohani kita kita mengevaluasi mereka, tetapi peran orang-tua dan pembinaan berkelanjutanlah yang akan membentuk mereka menjadi "Men of God" yang kita Kristus inginkan.

Setelah break 10 menit, Pkl.14:26 Materi VI Metoda Mengajar dan Teknik Komunikasi diberikan oleh satu-satunya pemateri perempuan yaitu Pnt.Dr.Ny.Maria Josephine Kumaat-Mantik, M.Hum, D,Th. yang didamping Pdt.Melkianus Nguru, S.Th.

Penatua yang ber-smiling face dan cantik ini .... sering bisa kita lihat di acara Pembinaan Bahasa Indonesia di TVRI Jkt dan anggota jemaat dan Penatua/Ketua I PHMJ di GPIB Paulus. Beliau juga mantan Ketua Dept.Bindik MS-GPIB s/d 2005 lalu, dan masih dosen aktif di beberapa PT di Jakarta dan Papua.

Satu lagi asset berharga GPIB ini membagi ilmunya dengan memberikan metode mengajar dan teknik komunikasi yang efektif. Peserta di bawa untuk berkomunikasi dengan baik dan benar, sehingga katekisan dapat menangkap serta memaknai apa yang akan pengajar sampaikan. Dibagi dalam beberapa metode beliau menerangkan kelebihan dan kekurangan metode2 tersebut, sebagai perbandingan di jemaat asalnya Paulus Jakarta, dipakai metode mengajar dengan tim...masukan berharga bagi kami semua.

Sudah barang tentu, para peserta khususnya pria hilang ngantuknya ...dan para perempuan mengagumi materi dan pembawa materinya.....memang bu,penampilan perlu untuk di depan kelas katekisasi, biar katekisan juga nda sakit mata lihat kita ngajar,....ada juga sih yang ngajar pakai sandal ....ya ampun ..... kok bisa ya.

Ada yang lucu, di kelas ini .... materinya waktu di bagi ternyata ada lembar evaluasinya,... grrrrr kelas tertawakarena soalnya sudah bocor..... walau ditarik kembali evaluasinya nda diadakan....ini dia namanya miskomunikasi antar pemberi perintah dan pengemban tugas foto copy. Tapi tidak soal, ... yang penting maknanya .... hmmmmm.

Lembar metode mengajar dan topiknyapun dibagi, ... kelompok kami dapat topik "perkawinan campuran" dengan metode diskusi kelompok peer teaching mode, yang artinya pengajar menyerahkan ke kelompok untuk mendiskusikan soal kawin campur ini. Alhasil kelompok kami yang senang ngomong ini mulai ngotot sana sini, sampai urat kening keluar dan jadi debat kusir antar Pak Jop dan Ibu .. sorry Nona Corry. Ma' Gaby yang kebagian tugas sebagai pengajar mulai kewalahan karena anak didiknya semua jago debat .... cut sana-sini, akhirnya ternyata di kelompok kami memang punya pengalaman pribadi sendiri yang diawali Ma' Gaby yang dahulunya juga adalah bukan pengikut Kristus waktu 28 tahun lalu, Mamanya Ka' Elly, kakaknya Pak Jop, saudara-saudara rekan kami dari Kanatojeng yang asli Makassar, kakaknya Oom I'dan kaya wawasanlah kelompok kami soal kawin campur ini, bayangkan bagaimana Roh Tuhan bekerja atas topik dan metode mengajar yang diundi ini.... dan dengan pas diantar Roh Kudus ke kelompok kami. Memang benarlah, tidak ada yang terjadi tanpa sepengetahuan & kehendak Tuhan, Terimakasih Tuhan.

Hal itu dikemukakan Ma' Gaby waktu presentase, sekalian memperlihatkan kelemahan dan kelebihan metode ini dan bagaimana ulah kami waktu diskusi ... rameeeeeee, mana mau menang sendiri lagi.

Hampir 3 jam bersama Ibu Maria tidak terasa, 17:08 materi berakhir dengan simpulan bahwa teknik mengajar dan komunikasi adalah suatu hal penting dan menentukan untuk mengantar katekisan mengerti atas materi-materi dalam kurikulum katekisasi mereka.

Tanpa banyak break materi dilanjutkan oleh Pak Pdt Rapar untuk Materi Teknik Penyusunan Materi Katekisasi (SAP dan Sylabus). Materi singkat padat dimulai Pkl.17:11 dan berakhir 18:33

Makan malam dengan mewah kami rasakan ... dan juga deg-degan karena sehabis ini adalah Evaluasi .... peserta yang muda kelihatan cukup tegang, yang setengah tua sepertiku pura-pura tidak panik, dan yang senior tenang-tenang saja .... makannya nambah lagi ....

19:00 tepat Pak Pendeta Persang, komandan evaluasi mulai membagikan soal dengan terlebih dahulu meminta kami menyingkirkan apapun di meja kami, kecuali gelas, karena gelas nda' bisa ditulisi contekan,...... Oom dibelakangku yang juga guru nyeletuk, ..."kayak dia nda' pernah sekolah saja..."...

19:10, 75 soal pilihan berganda dan 3 soal essay siap di isi di hadapan kami semua,dan dengan yakin kami mulai mengisinya ..... sambil diskusi sana-sini sampai di tegur sama Pak Pendeta Persang, ..."Bapak Ibu, diskusinya sudah selesai tadi, silahkan mengerjakan, ... bukan diskusi" ..... kamipun mulai mengisi dengan meyakinkan isian kami dengan rekan di sebelah .... (bahasa halusnya nyontek) ... maklum, biasanya yang muda daya serapnya lebih tinggi. Untung saja nda' ada katekisan di sini, soalnya bisa ribut mereka lihat calon guru mereka kayak cacing kepanasan clingak-clinguk nyarijawaban, tapi banyak juga yang santai, bahkan sambil bertelepon-ria mengisi lembar jawabannya. Belakangan baru tahu bahwa mereka bukan telepon, tapi dengar rekaman pemateri ngajar tadi .... buseeettttt!!! "Banyak Jalan Menuju Roma" kata Pak Pendeta Persang.

20:30 semua kumpul karena waktu habis. Bagaimana nda' habis, karena banyak peserta yang di essaynya "berkhotbah" ... hehehehe padahal jawabannya kalau dirangkum singkat betul.

Akhirnya Pembinaan/Sertifikasi Pengajar Katekisasi Non Pendeta ini ditutup, dilanjutkan Ibadah Penutup yang dipimpin oleh Pendeta Timotius Susilo sebgai PF dan Pak Penatua Feri Adam Sekertaris I BP Mupel Sulselbara sebagai Liturgos. Turut menyanyi Paduan Suara Peserta Perempuan dan Pria. Kompak dan Mantap karena sudah digodok sehati selama hampir 2 hari. PF mengingatkan kami bahwa besok adalah Hari Pentakosta, suatu tonggak bagi para pengajarnya untuk mengingat dan membagi ilmunya di jemaat masing-masing, bahwa Roh Kudus menuntun para pengajar untuk bersama para Pendeta, membina dan mengantar Katekisan/Katekumen memasuki kedewasaan Rohani dengan Mengaku Percaya dan memberlakukan pengakuan itu dalam kehidupan mereka.

Pkl.21:15 semuanya bubaran dengan rapi dan semangat ..... Katekisasi tahun ini akan dibina oleh Pendeta dan Pengajar bersertifikasi (kalau lulus) dengan lebih berkualitas.

Satu catatan, bahwa ucapan terimakasih dan penghargaan peserta wajib kami sampaikan kepada BP Mupel yang dengan konsisten dan tekun, mengawal dan bahkan ikut pembinaan ini. BP Mupel juga dengan sangat rajin turut membagi materi pembinaan dan absensi. Harapan kami kiranya di pembinaan lanjutan atau angkatan berikutnya, materinya telah disiapkan dalam satu buku panduan, sebagai pegangan kami dan bukan dalam bentuk foto-copy slide show.

Terimakasih MS-GPIB,BP-Mupel Sulselbara, Kristus memberkati kita Semua.

ITT