Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri

Sunday, February 26, 2023

​Keintiman atau Penghinaan Terhadap Sang Pencipta?

"Kau" dari perspektif Awam

Latar Belakang

Sekitar tahun 1980 di Ambon, ketika Oma penulis masih ada, suatu hari Oma meminta kami untuk berdoa. Dalam doa, beberapa kali kami sebutkan kata "Kau" sebagai pengganti Tuhan.
Setelah selesai berdoa, beliau mengajak ngobrol dan bertanya serius (dalam dialek Ambon)
"Nyong, nyong pernah panggil mama &papa dengan sebutan kau"
Tentu saja kami menjawab: "Tidak pernah Oma"
Lalu beliau berkata tegas; "Nyong, kalau begitu jangan pernah memanggil atau menyebut Tuhan dengan kata Kau"

Sejak saat itu, sampai setua ini, kami tidak pernah lagi memakai kata ganti itu untuk menyebut Tuhan Allah, Bapa di Surga.
Terima kasih Oma Udi .... May you Rest in Peace

+++++++++

Pendahuluan

​Dalam belantika spiritualitas modern, kata ganti "Kau" telah menjadi standar baru yang mendominasi komunikasi iman. Kita mendengarnya dalam lirik lagu penyembahan yang emosional, dalam doa-doa spontan di mimbar, hingga dalam gaya bahasa khotbah yang populer. Kita menyapa Tuhan dengan nada yang sangat akrab - seolah-olah kita sedang bercengkerama dengan sahabat karib di sebuah kedai kopi.

​Namun, jika kita menilik sejarah bahasa dan teologi, penggunaan kata ganti yang cenderung kasual ini menyimpan perdebatan tajam. Apakah kita sedang meruntuhkan tembok pemisah demi kedekatan, ataukah kita sedang kehilangan rasa hormat yang seharusnya menjadi fondasi iman?

​1. Hilangnya Kesakralan: Belajar dari "Thou" dan "Thee"

​Dalam bahasa Inggris lama, terdapat pembedaan tajam dalam menyapa Tuhan. Alkitab versi King James (KJV) menggunakan kata Thou (subjek), Thee (objek), dan Thy/Thine (kepemilikan). Secara teknis, kata-kata ini awalnya adalah bentuk akrab. Namun, dalam konteks liturgi, kata-kata tersebut berevolusi menjadi bahasa khusus yang dikuduskan.
​Di Indonesia, kita mengalami pergeseran dari kesadaran posisi "Hamba dan Tuan" (Engkau) menjadi hubungan "Aku dan Kau". Pergeseran ini membawa risiko Antroposentrisme (pandangan filosofis yang menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta dan makhluk paling penting):
  • ​Dalam Doa: Doa yang seharusnya menjadi sujud penyembahan sering kali berubah menjadi "percakapan santai" yang kehilangan getaran kekudusan.
  • ​Dalam Khotbah: Pengkhotbah yang terlalu sering menggunakan kata "Kau" saat berbicara atas nama atau kepada Tuhan cenderung "mendomestikasi/menurunkan" keagungan Allah, membuat-Nya tampak seperti rekan bisnis atau asisten pribadi manusia.
  • Dalam penyebutan: Patut diingat, bahwa sekalipun ditulis dengan huruf besar, Kau disebutkan sama, tanpa ada penekanan tertentu (bandingkan Thou dan You)
Catatan: Tetragrammaton adalah empat huruf konsonan (huruf mati) Ibrani—יהוה (YHWH/YHVH)—yang merupakan nama pribadi Tuhan dalam Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama). Nama ini muncul lebih dari 6.800 kali dalam naskah Masoretik dan sering diterjemahkan sebagai "TUHAN" (huruf kapital) atau Yahweh/Yehuwa. 
Karena kesuciannya, dalam tradisi Yahudi, Tetragrammaton tidak boleh diucapkan. Saat membaca Kitab Suci, YHWH diganti dengan sebutan Adonai (Tuanku) atau HaShem (Nama Itu).

2. Manifestasi "Kau" dalam Praktik Iman

​Kritik terhadap penggunaan kata "Kau" bukan sekadar masalah tata bahasa, melainkan refleksi dari pergeseran teologis:

​A. Tuhan sebagai "Kekasih Kosmik" (Lagu Rohani)
Banyak lirik lagu modern terasa seperti lagu cinta sekuler yang hanya diganti subjeknya. Kita cenderung memuja Tuhan sebagai pemuas emosi pribadi daripada Penguasa Semesta yang dahsyat. Kata "Kau" dalam melodi yang catchy sering kali menghapus "jarak yang sehat" antara Pencipta dan ciptaan.

​B. Desakralisasi Komunikasi (Doa)
Dahulu, doa dibuka dengan sapaan yang penuh gentar. Kini, dalam doa-doa publik, penggunaan "Kau" sering kali dibarengi dengan tuntutan-tuntutan yang kehilangan kesopanan. Hilangnya kata "Engkau" yang bersifat takzim sering kali berbanding lurus dengan hilangnya kesadaran bahwa kita sedang berbicara di hadapan Takhta yang Menyala-nyala dan Maha Kudus.

​C. Retorika yang Terlalu Akrab (Khotbah)
Dalam khotbah, penggunaan "Kau" sering kali digunakan untuk menciptakan kesan relevansi. Namun, risikonya adalah kehilangan misteri ilahi. Alkitab mencatat bahwa ketika manusia bertemu Tuhan (Musa, Yesaya, Yohanes), mereka tersungkur. Tidak ada yang berani menunjuk wajah Tuhan atau menyebut nama-Nya dengan santai.

​3. Menimbang Kedekatan vs Keagungan

​Pembela penggunaan bahasa kasual tentu akan berargumen bahwa Tuhan Yesus mengajarkan kita memanggil Allah sebagai "Abba" (Bapa). Namun, perlu diingat:

​Catatan Kritis: "Abba" bukanlah panggilan yang kurang sopan; itu adalah keintiman yang lahir dari ketaatan mutlak. Keintiman tanpa penghormatan bukanlah kasih, melainkan kelancangan.

​Jika penyebutan "Kau" membuat kita merasa setara dengan Tuhan, maka kita telah gagal menyembah. Penyembahan, doa, dan khotbah yang benar harus menyeimbangkan fakta bahwa Tuhan adalah sahabat kita, namun Dia juga adalah Api yang Menghanguskan (Deus ignis Consumens - frasa yang berasal dari Ibrani 12:29, yang artinya "Allah kita adalah api yang menghanguskan").

Kesimpulan: Kembali ke Kerendahan Hati

​Mungkin masalah utamanya bukan hanya terletak pada kata "Kau" itu sendiri, melainkan pada sikap hati di baliknya.
  • ​Menggunakan "Engkau" atau "Bapa" hanya untuk terlihat religius namun hati jauh adalah kemunafikan.
  • ​Menggunakan "Kau" karena kemalasan linguistik tanpa rasa gentar adalah kecerobohan rohani.
​Sudah saatnya para pencipta lagu, pengkhotbah, dan jemaat kembali merenungkan: Apakah komunikasi kita sedang memuliakan takhta-Nya, atau hanya sedang membelai perasaan kita sendiri dengan kata-kata yang terlalu akrab?

​Tambahan Renungan:
"Dalam saat teduh kita hari ini, apakah sapaan kepada Tuhan mencerminkan seorang anak yang dikasihi, atau seorang hamba yang lupa siapa Tuannya?"

ITT - Jakarta, Minggu 26 Februari 2023