Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri
Showing posts with label Keluaran. Show all posts
Showing posts with label Keluaran. Show all posts

Friday, September 11, 2026

KELUARAN 16 - MANNA

Rahasia Penyediaan Tuhan di Tengah Padang Gurun - Ujian Ketergantungan Kita

​Pernahkah kita merasa sangat khawatir tentang masa depan? Kita sering kali merasa harus memegang kendali penuh atas segala hal agar merasa aman. Namun, melalui kisah bangsa Israel di padang gurun, kita belajar tentang Manna - roti surgawi yang bukan sekadar makanan fisik, melainkan sebuah "sekolah iman" untuk belajar bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.

​Berikut adalah enam pelajaran rohani yang bisa kita renungkan bersama:
​
1. Menghadapi "Kemustahilan" di Padang Gurun

​Secara logika, mustahil bagi jutaan orang untuk bertahan hidup di padang gurun yang gersang. Tidak ada ladang untuk bercocok tanam, tidak ada pasar untuk bertransaksi.
​Pelajaran: Tuhan sering kali membawa kita ke titik di mana kekuatan manusiawi kita habis, supaya kita menyadari bahwa Dialah satu-satunya sumber pertolongan sejati.

"Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." (Lukas 1:37)

Fakta Menarik: Jumlah Bani Israel saat keluar dari Mesir adalah sekitar 600.000 orang laki-laki dewasa, belum termasuk perempuan dan anak-anak (Kel.12:37) - sehingga totalnya dapat berjumlah 2-2.5 juta jiwa.
Ketika tiba di perbatasan tanah Kanaan (wilayah Israel saat ini) setelah 40 tahun mengembara di padang gurun, dilakukan sensus kedua yang mencatat jumlah laki-laki dewasa berusia 20 tahun ke atas sebanyak 601.730 (Bilangan 26:51) dan totalnya hampir sama dengan jumlah mereka saat keluar dari Mesir. Juga sensus pertama yang diadakan setelah bulan kedua tahun kedua setelah Israel keluar dari Mesir (Bilangan 1:1), mencatat sebanyak 603.550 orang laki-laki dewasa (Baca Bilangan 1:45-46). Semuanya diluar suku Lewi, wanita dan anak-anak. - Jadi data bahwa ada jutaan orang jumlahnya adalah valid! - Jumlah yang (hampir) sama itu tetap menjadi misteri!

​2. Godaan untuk Menoleh ke Belakang

​Saat rasa lapar melanda, bangsa Israel mulai mengeluh dan merindukan Mesir—tempat perbudakan mereka—hanya karena di sana makanan terasa lebih "terjamin".
​Pelajaran: Ketakutan akan masa depan sering kali menjebak kita untuk kembali ke masa lalu yang buruk demi rasa aman yang semu. Jangan tukar kemerdekaan rohani Anda dengan kenyamanan palsu.

​Tetapi Yesus berkata: "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah." (Lukas 9:62)

​3. Apa itu Manna? (Kejutan dalam Penyediaan)

​Nama Manna berasal dari bahasa Ibrani Man hu yang berarti "Apakah ini?". Bentuknya kecil putih seperti biji ketumbar dan rasanya manis seperti madu. Ini adalah sesuatu yang benar-benar asing bagi mereka.
​Pelajaran: Pertolongan Tuhan sering kali datang dengan cara yang tidak terduga dan belum pernah kita lihat sebelumnya. Jangan membatasi cara kerja Tuhan dengan pikiran kita yang sempit.

"Ketika orang Israel melihatnya, berkatalah mereka seorang kepada yang lain: 'Apakah ini?' Sebab mereka tidak tahu apa itu. Tetapi Musa berkata kepada mereka: 'Inilah roti yang diberikan TUHAN kepadamu menjadi makananmu.'" (Keluaran 16:15)

​4. Ujian Ketergantungan Harian

​Tuhan memerintahkan mereka untuk mengambil Manna secukupnya untuk hari itu saja. Mereka dilarang menyimpannya untuk esok hari (ajaibnya: kecuali untuk persiapan Sabat). Jika ada yang mencoba menimbun karena takut kekurangan, Manna tersebut akan menjadi busuk dan berulat.
​Pelajaran: Tuhan ingin kita percaya kepada-Nya hari demi hari. Iman bukanlah tentang memiliki "tabungan kepastian" untuk masa depan, melainkan percaya bahwa Tuhan yang memelihara kita hari ini adalah Tuhan yang sama yang akan menyediakan esok hari.

"Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya." (Matius 6:11)

​5. Kesetiaan yang Tak Berkesudahan: Selama 40 Tahun​

Hal yang luar biasa adalah Tuhan tidak memberikan Manna ini hanya sesekali. Berdasarkan catatan Alkitab, bangsa Israel memakan Manna selama 40 tahun penuh tanpa terputus.
​Pelajaran: Ini menunjukkan kesetiaan Tuhan yang konsisten. Manna baru berhenti turun tepat setelah mereka memakan hasil bumi di tanah Kanaan. Tuhan akan terus menyertai proses Anda sampai Anda mencapai tujuan yang Ia janjikan.

"Orang Israel makan manna empat puluh tahun lamanya, sampai mereka tiba di tanah yang didiami orang; mereka makan manna sampai tiba di perbatasan tanah Kanaan." (Keluaran 16:35)

​6. Manna sebagai Bayangan dari "Roti Hidup"

Segala penyediaan fisik di padang gurun sebenarnya mengarah pada satu pemenuhan yang lebih besar. Tuhan Yesus menjelaskan bahwa Manna adalah simbol dari kehadiran-Nya. Jika Manna dikirim dari langit untuk menyelamatkan fisik bangsa Israel dari kematian di gurun, maka Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan jiwa kita dari kekosongan abadi.
Pelajaran: Berkat materi (seperti Manna) memang kita butuhkan, namun itu hanya mengenyangkan sementara. Kebutuhan terdalam manusia adalah pemuasan batin yang hanya bisa ditemukan dalam hubungan pribadi dengan Yesus setiap hari.

"Akulah roti hidup; barang siapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barang siapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi." (Yohanes 6:35)

​Kesimpulan

​Manna mengajarkan kita untuk melepaskan kendali dan belajar percaya. Jika Tuhan mampu memelihara jutaan orang di padang gurun yang gersang selama 40 tahun tanpa absen satu hari pun kecuali Sabat, Ia pasti mampu memelihara hidup kita semua saat ini.

"Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:22-23)
​
Refleksi: ​Apakah kita sedang mencoba "menimbun" kecemasan untuk hari esok? Mari serahkan hari ini ke dalam tangan Tuhan, karena penyediaan-Nya selalu segar dan baru setiap pagi.

ITT - Jumat, 11 September 2026

Friday, September 4, 2026

Daniel 5 - MENE, MENE, TEKEL, UFARSIN



Pengantar

Di usia sekitar 6 atau 7 tahun, masih membekas di ingatan kami, bagaimana guru sekolah minggu kami Yth. Almh Tante Nini menggunakan media gambar tempel dan mengajarkan kepada kami muridnya, perihal tulisan di dinding yang menggunakan bahasa Aram, yaitu: Mene, mene, tekel ufarsin.

Ingatan itu membekas sampai masa tua kami, barangkali karena kisah ini aneh dan bahasa itu juga tidak umum, akhirnya membentuk suatu nostalgia yang sangat dalam. Mari mulai memahami hal ini:

Bayangkan sebuah perjamuan besar yang dipenuhi anggur, tawa, dan kemewahan luar biasa, sementara di luar tembok istana, pasukan musuh tengah mengepung kota. Inilah ironi yang terjadi pada malam terakhir Kekaisaran Babel. Di tengah pesta yang buta akan realitas tersebut, sebuah tangan misterius tiba-tiba muncul dan menuliskan empat kata yang mengubah nasib sebuah bangsa untuk selamanya.

Mari kita menyelami lebih dalam peristiwa bersejarah ini—bukan sekadar sebagai cerita masa lalu, melainkan sebagai cermin spiritual yang tajam bagi kehidupan kita saat ini.

Siapakah Belsyazar?

Dalam Kitab Daniel pasal 5, kita diperkenalkan dengan sosok Raja Belsyazar. Namun, jika kita membedah catatan sejarah secara kritis, raja utama Babel pada masa itu sebenarnya adalah Nabonidus, ayah Belsyazar. Nabonidus lebih suka tinggal di padang gurun untuk mencari pengalaman religius dan aliansi politik, sehingga ia menunjuk Belsyazar sebagai penguasa bersama (co-regent) di ibu kota.

Fakta sejarah ini menjelaskan satu detail kecil yang sangat logis di dalam Alkitab. Ketika Belsyazar menawarkan hadiah kepada siapa pun yang bisa mengartikan tulisan di dinding, ia menjanjikan posisi sebagai "orang ketiga di dalam kerajaan" (Daniel 5:16).

Mengapa orang ketiga? Karena posisi pertama dipegang oleh Nabonidus, posisi kedua adalah Belsyazar sendiri, dan posisi tertinggi yang tersisa bagi orang luar adalah posisi ketiga. Belsyazar memang mewarisi kekuasaan dan kemegahan kerajaan, namun keangkuhannya jugalah yang menghancurkan warisan tersebut.

Melecehkan yang Kudus

Hal yang paling tragis dari Belsyazar adalah ia mengabaikan Tuhan bukan karena ketidaktahuan. Ia memiliki akses langsung pada rekam jejak pendahulunya, Raja Nebukadnezar, yang pernah direndahkan oleh Tuhan hingga akhirnya mengakui kebesaran Allah Yang Mahatinggi (Daniel 4:34-37). Belsyazar tahu persis kisah ini, tetapi ia secara sadar memilih untuk mengalami amnesia spiritual (Daniel 5:22-23).

Puncak kesombongan Belsyazar terjadi di tengah perjamuan. Ia memerintahkan agar perkakas emas dan perak yang dahulu dirampas dari Bait Suci di Yerusalem dibawa masuk. Perkakas yang dikhususkan semata-mata untuk menyembah Allah Israel itu justru digunakan untuk minum anggur dan bersulang memuji dewa-dewa berhala (Daniel 5:1-4).

Refleksi Kritis: Di mata Allah, menyalahgunakan hal yang kudus untuk tujuan yang keliru sama hinanya dengan menghancurkan hal kudus tersebut.

Ketika manusia kehilangan rasa takut akan Tuhan, ia akan mulai meremehkan hal-hal yang sakral. Pesta Belsyazar bukan sekadar acara mabuk-mabukan biasa; itu adalah tindakan pemberontakan spiritual yang disengaja terhadap Penguasa Semesta.

Tangan yang Menulis

Tepat ketika kesombongan mencapai puncaknya, penghakiman pun tiba. Tidak ada guntur atau gempa bumi; hanya jemari tangan manusia yang menulis pada kapur dinding istana (Daniel 5:5). Seketika itu juga, wajah sang raja pucat pasi, pikirannya kacau, dan lututnya bergetar hebat karena ketakutan (Daniel 5:6).

Mari kita renungkan makna "Jari Allah" ini. Dalam Perjanjian Lama, Jari Allah-lah yang secara langsung menuliskan Sepuluh Perintah Allah pada loh batu (Keluaran 31:18). Jari yang sama yang menetapkan Hukum Kebenaran, kini menuliskan vonis hukuman bagi penguasa yang berani menginjak-injak kekudusan-Nya. Allah tidak hanya berfirman, Ia juga bertindak menegakkan keadilan-Nya.

Menariknya, mari kita kontraskan peristiwa ini dengan tindakan Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru. Ketika orang-orang Farisi membawa seorang perempuan yang tertangkap basah berzina untuk dihakimi, Yesus membungkuk dan menulis di atas tanah (pasir) dengan jari-Nya (Yohanes 8:6-8).

Jika jari Allah di dinding istana Babel menuliskan akhir dari sebuah kerajaan yang tegar tengkuk, jari Kristus yang menulis di pasir melambangkan anugerah yang menuntun pada pertobatan. Jari yang berkuasa menghancurkan kesombongan manusia adalah jari yang sama yang menawarkan pengampunan bagi mereka yang hancur hati dan menyadari keberdosaannya.

Kegagalan Hikmat Dunia dan Hadirnya Sang Nabi

Belsyazar dengan panik memanggil semua orang berilmu dan ahli jampi di kerajaannya, tetapi tidak ada satu pun yang mampu membaca "bahasa surga" tersebut (Daniel 5:7-9). Kekaisaran Babel yang mampu menghitung pergerakan bintang dan membangun Taman Gantung yang megah, nyatanya buta secara rohani. Ini membuktikan kebenaran Amsal 21:30: “Tidak ada hikmat dan pengertian, dan tidak ada pertimbangan yang dapat menandingi TUHAN.”

Akhirnya, Daniel dipanggil masuk. Ketika ditawari harta dan kekuasaan, Daniel menolak dengan tegas: “Tahanlah hadiah tuanku, berikanlah pemberian tuanku kepada orang lain!” (Daniel 5:17). Daniel adalah nabi yang tidak bisa dibeli. Ia hadir bukan untuk berkompromi dengan kenyamanan penguasa, melainkan untuk menyatakan kedaulatan Tuhan yang menguji setiap hati pemimpin.

Makna Mene, Mene, Tekel, Ufarsin

Dengan otoritas ilahi, Daniel membacakan dan menguraikan makna empat kata tersebut, yang merupakan hasil audit surgawi atas hidup Belsyazar (Daniel 5:24-28):

  • Mene (Dihitung): Masa pemerintahan Belsyazar telah dihitung oleh Allah dan kini telah diakhiri. Pengulangan kata ini dua kali menegaskan bahwa perhitungan Allah sangat presisi dan mutlak. Jam pasir anugerah bagi Babel telah habis.

  • Tekel (Ditimbang): Belsyazar telah ditimbang di atas neraca Allah dan didapati terlalu ringan. Allah tidak menimbang kekuatan militer atau ketebalan tembok Babel; Ia menimbang hati, karakter, dan motivasi terdalam manusia.

  • Peres / Ufarsin (Dibagi): Kerajaan itu telah dipecah dan diserahkan kepada orang Media dan Persia (Ufarsin adalah bentuk jamak dari Peres).

Keruntuhan dalam Semalam

Penghakiman Tuhan tidak selalu membutuhkan proses yang panjang. Pada malam itu juga, Belsyazar terbunuh (Daniel 5:30). Sejarah mencatat bahwa pasukan Koresh dari Persia mengalihkan aliran Sungai Efrat dan menyusup masuk melalui dasar sungai yang mengering, sementara seisi istana masih sibuk berpesta. Tembok yang dianggap tak tertembus itu runtuh tanpa perlawanan, hanya karena kesombongan seorang pemimpin yang meremehkan apa yang suci.

Neraca Kesempurnaan yang Menyelamatkan

Kisah runtuhnya Babel bukan sekadar catatan kelam tentang murka Allah, melainkan sebuah penunjuk arah menuju penebusan di dalam Yesus Kristus. Realitas spiritual yang paling menakutkan dari tulisan 'Tekel' adalah bahwa, secara esensi, kita semua berada di posisi Belsyazar.

Jika kita ditimbang dengan neraca keadilan Allah, tidak ada satu pun manusia yang mampu memenuhi standar kesempurnaan-Nya karena kita semua telah berdosa (Roma 3:23). Kesombongan dan ketidaktaatan kita semestinya mendatangkan konsekuensi penghukuman yang sama mengerikannya.

Namun, di sinilah letak kabar baik Injil. Yesus Kristus turun ke bumi bukan hanya sebagai penilai, melainkan sebagai satu-satunya Pribadi yang ketika "ditimbang" di atas neraca Allah, memiliki bobot kebenaran yang sempurna dan tidak bercela.

Luar biasanya, di kayu salib, Yesus secara sukarela menanggung vonis Mene, Mene, Tekel, Ufarsin yang seharusnya menjadi milik kita:

  • Masa hidup-Nya di bumi "dihitung" dan dipersingkat oleh salib.

  • Ia membiarkan diri-Nya "ditimbang" dan menanggung murka Allah seolah-olah Ia yang kekurangan bobot.

  • Tubuh-Nya "dipecah" (terluka dan dibagi) agar kita yang seharusnya hancur dapat disatukan dan dilayakkan kembali di hadapan Allah Bapa (Yesaya 53:5).

Jika pemerintahan Belsyazar ditutup dalam satu malam karena penghakiman yang mutlak, maka pemerintahan dosa dalam hidup kita pun telah dihancurkan secara tuntas melalui satu pengorbanan Yesus yang sempurna di kayu salib (Ibrani 10:14). Kristus tidak datang untuk mendirikan kerajaan duniawi yang fana, melainkan Kerajaan Allah yang kekal dan tak tergoncangkan (Ibrani 12:28).

Refleksi Untuk Kita

Kini, kita dihadapkan pada pilihan yang krusial. Apakah kita akan menjadi seperti Belsyazar—yang menyia-nyiakan warisan kebenaran, mengeraskan hati, dan mabuk dalam kenyamanan dunia hingga semuanya terlambat? Ataukah kita mau merendahkan diri, menyadari keterbatasan kita, dan bersandar sepenuhnya pada kebenaran Yesus Kristus yang menutupi "kekurangan bobot" jiwa kita?

Mari kita menjaga hati agar tidak meremehkan kekudusan Tuhan. Hiduplah dengan rasa hormat yang mendalam kepada-Nya. Sebab kita tahu, hidup ini bukan tentang membangun menara kemegahan di dunia yang akan lenyap, melainkan tentang berakar di dalam Kristus, Sang Raja Kekal yang tidak akan pernah bisa digulingkan oleh apa pun.


ITT - Jumat, 4 September 2026


Tuesday, June 30, 2026

Amsal 6:16-19 - Tujuh Perkara!

​Memahami Tujuh Perkara yang Dibenci TUHAN 
dan Penggenapannya dalam Perjanjian Baru

​Sebagai orang percaya, kita sering kali fokus pada apa yang harus kita lakukan untuk menyenangkan hati Tuhan. Namun, Kitab Suci juga memberikan panduan yang sangat jelas mengenai apa yang tidak boleh kita lakukan. Dalam Kitab Amsal, kita dihadapkan pada sebuah daftar yang sangat spesifik mengenai hal-hal yang bertentangan dengan kekudusan Allah.

​Mari kita membaca firman Tuhan yang tertulis dalam Amsal 6:16-19:

​16 Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya:
17 mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah,
18 hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan,
19 seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara.

​Jika kita mempelajari seluruh isi Alkitab secara utuh, kita akan menemukan bahwa apa yang dibenci Tuhan dalam Perjanjian Lama ini mendapatkan sorotan yang lebih tajam dan mendalam melalui penggenapan ajaran Yesus Kristus dan para rasul dalam Perjanjian Baru. Mari kita uraikan secara sistematis.

​1. Kesombongan dan Dusta (Mata dan Lidah)

​Penulis Amsal memulai dari bagian tubuh yang paling cepat mengekspresikan isi hati, yaitu mata dan lidah.

  • ​Mata yang sombong: Kesombongan selalu menempati urutan pertama karena inilah akar dari kejatuhan manusia. Ketika mata kita menjadi sombong, kita mulai memandang rendah sesama dan merasa tidak membutuhkan Tuhan. Prinsip iman Kristiani mengingatkan kita bahwa segala hal yang kita miliki adalah anugerah. Mengapa kita harus sombong jika semua berasal dari-Nya?
    • Penggenapan Perjanjian Baru: Yesus membalikkan standar dunia tentang kehormatan. Dalam Matius 23:12, Yesus menegaskan penggenapan prinsip ini: "Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." Tuhan tidak hanya membenci kesombongan, tetapi di dalam Perjanjian Baru, Dia aktif merendahkan orang yang sombong.
  • ​Lidah dusta: Lidah adalah anggota tubuh yang kecil, tetapi daya rusaknya sangat besar. Tuhan adalah kebenaran, sehingga setiap dusta yang kita ucapkan adalah penolakan terhadap karakter Tuhan itu sendiri. Ketika kita berdusta, kita sedang membangun tembok pemisah antara diri kita dengan Allah yang mahatahu.
    • ​Penggenapan Perjanjian Baru: Daya rusak lidah dikupas secara sangat tajam oleh Rasul Yakobus. Dalam Yakobus 3:6, ia menyatakan: "Lidah pun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka."

​Perspektif Alkitab memperingatkan kita bahwa perkataan dusta memiliki daya rusak masif seperti api yang menghanguskan seluruh hidup. Oleh karena itu, Paulus menegaskan wujud hidup baru kita dalam Efesus 4:25: "Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota." Dusta tidak lagi dipandang sekadar sebagai pelanggaran moral individual, melainkan racun yang merusak keutuhan tubuh Kristus.

​2. Tindakan yang Merusak (Tangan dan Kaki)

​Dosa yang tidak dihentikan di dalam pikiran akan turun menjadi tindakan nyata yang merugikan sesama manusia.

  • ​Tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah: Secara harfiah, ini berbicara tentang pembunuhan. Namun secara rohani, kita menumpahkan darah atau membunuh karakter sesama ketika kita merugikan mereka demi keuntungan pribadi. Kita dipanggil untuk melindungi kehidupan, bukan merusaknya.
    • ​Penggenapan Perjanjian Baru: Yesus membawa perintah ini ke tingkat yang jauh lebih mendalam di dalam Matius 5:21-22. Yesus menyatakan bahwa ketika kita mulai marah tanpa alasan dan mengata-ngatai saudara kita dengan sebutan bodoh, kita sudah bersalah dan layak dihukum. Penggenapan hukum ini membuka mata kita: kita tidak perlu memegang senjata untuk membunuh seseorang; kebencian di dalam hati kita sudah dinilai sebagai pembunuhan di hadapan Tuhan.​
  • Kaki yang segera lari menuju kejahatan: Hal ini menggambarkan kecenderungan hati yang tidak sabar untuk berbuat dosa. Sering kali, kita begitu lambat untuk melakukan kebaikan, tetapi sangat cepat dan bersemangat ketika ada kesempatan untuk melakukan hal yang keliru. Kaki kita seharusnya melangkah untuk membawa kabar baik, bukan mendekati jerat dosa.
    • ​Penggenapan Perjanjian Baru: Dalam Roma 3:15, Paulus mengutip kondisi manusia yang berdosa: "Kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah." Namun, melalui Kristus, arah kaki kita diubah secara total. Dalam Efesus 6:15, kaki kita tidak lagi lari menuju kejahatan, melainkan dipasangkan kasut untuk "kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera."

​3. Akar Masalah: Hati yang Merancang Kejahatan

​Amsal menekankan bahwa seluruh tindakan luar manusia selalu bersumber dari dalam hati.

  • ​Hati yang membuat rencana-rencana yang jahat: Dosa yang paling berbahaya adalah dosa yang dirancang dengan sengaja dan matang.
    • ​Penggenapan Perjanjian Baru: Yesus menyempurnakan pemahaman ini dalam Markus 7:21-23: "Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, perzinaan, keserakahan, kejahatan, kelicikan... Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."

​Di sinilah letak esensi iman Kristen yang mendalam: kita tidak boleh hanya menjaga perilaku luar kita agar terlihat baik oleh orang lain, sementara hati kita penuh dengan rancangan yang buruk. Tuhan tidak melihat apa yang di luar, Ia melihat langsung ke dalam kedalaman hati kita. Perjanjian Baru menggenapi hukum Taurat dengan cara membenahi sumbernya, yaitu hati manusia, bukan hanya memoles kelakuan di luar agar tampak baik di mata sesama.

4. Perusak Komunitas (Saksi Dusta & Perpecahan)

​Dua perkara terakhir dalam Amsal berbicara tentang bagaimana dosa pribadi akhirnya menghancurkan hubungan sosial di antara umat Tuhan.

  • ​Saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan: Tindakan memutarbalikkan fakta demi kepentingan egois yang memicu perpecahan. Hal ini mengingatkan kita pada perintah dasar dalam Keluaran 20:16: "Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu."
  • ​Yang menimbulkan pertengkaran di antara saudara: Allah sangat mengasihi kesatuan dan kedamaian. Ketika kita menjadi motor penggerak perpecahan—baik di dalam keluarga, lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, maupun gereja—kita sedang melakukan sesuatu yang menjadi kekejian bagi hati-Nya. Sifat ini sangat bertolak belakang dengan karakter Kristus yang datang sebagai Raja Damai.
    • ​Penggenapan Perjanjian Baru: Dalam Galatia 5:19-21, Paulus mengategorikan kepentingan diri sendiri, perpecahan, dan kedengkian sebagai "perbuatan daging" yang membuat orang tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Sebaliknya, dalam Matius 5:9, Yesus memberikan berkat tertinggi bagi mereka yang membawa kedamaian: "Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Solusi di dalam Kristus

​Mengapa Tuhan membenci ketujuh perkara ini? Karena semuanya menghancurkan gambar diri Allah dalam manusia dan merusak kasih persaudaraan. Hukum dalam Perjanjian Lama memberi tahu kita apa yang Tuhan benci, tetapi hukum tersebut tidak mampu mengubah hati kita yang rapuh dan cenderung menyukai hal-hal buruk itu.

​Di sinilah letak keindahan penggenapan Perjanjian Baru. Kita tidak diselamatkan karena kita berhasil menjauhi tujuh perkara tersebut dengan kekuatan kita sendiri. Kita diselamatkan karena Kristus telah mati untuk menebus seluruh kegagalan kita.

​Ketika kita menerima Kristus, Roh Kudus memeteraikan kita dan memberikan kita hati yang baru. Seperti yang tertulis dalam 2 Korintus 5:17:
"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."

​Kesimpulan

​Tujuh perkara yang dibenci Tuhan dalam Amsal 6:16-19 bukanlah sekadar daftar peraturan kuno. Melalui pengajaran Perjanjian Baru, kita diingatkan bahwa kekudusan sejati bermula dari hati yang telah diperbarui oleh Kristus dan ucapan lidah yang telah ditundukkan di bawah otoritas-Nya.

​Mari kita memeriksa diri kita masing-masing. Jika hari-hari ini kita masih bergumul dengan kesombongan, dusta, atau kecenderungan untuk menciptakan perselisihan—seperti menyebarkan kabar burung atau gosip di media sosial atau di lingkungan kita—mari kita datang kepada Yesus Kristus.

​Kita membutuhkan kuasa Roh Kudus setiap hari agar seluruh anggota tubuh kita—mata, lidah, tangan, kaki, dan terutama hati kita—tidak lagi menjadi alat kejahatan, melainkan menjadi alat kebenaran yang membawa damai sejahtera bagi sesama.

ITT - Selasa, 30 Juni 2026 

Tuesday, June 16, 2026

Memahami Khotbah di Bukit 1

 Tulisan ini adalah seri ke 1 dari 2 seri tentang Khotbah di Bukit

Jembatan Menuju Kesempurnaan Karakter Kristus

Khotbah di Bukit adalah pesan paling berpengaruh yang pernah disampaikan dalam sejarah manusia. Pengajarannya bersifat revolusioner - tidak hanya bagi pendengar di zaman kuno, tetapi juga bagi kita saat ini. Melalui rangkaian pengajaran ini, kita diundang untuk menyelami atribut dan karakteristik sejati dari Sang Juruselamat, Yesus Kristus.

Gunung sebagai Tempat Wahyu

Dalam tradisi Alkitab, gunung sering menjadi simbol tempat ibadah dan ruang bagi manusia untuk menerima wahyu Allah. Kita dapat melihat polanya melalui beberapa peristiwa besar:

  • Gunung Moria: Tempat Abraham diuji kesetiaannya melalui Ishak, sekaligus tempat ia belajar tentang kuasa penebusan sang Mesias (Kejadian 22).
  • Gunung Sinai: Tempat Musa menerima Sepuluh Perintah Allah sebagai kompas moral bangsa Israel (Keluaran 20).
  • Gunung Karmel: Tempat Nabi Elia menyatakan kedaulatan Allah melalui api yang turun dari langit (1 Raja-raja 18).

Di atas sebuah bukit yang menghadap Danau Galilea, Tuhan Yesus melanjutkan tradisi suci ini. Ia seolah membawa "langit turun ke bumi" melalui pengajaran-Nya yang melampaui hukum lahiriah.

Ucapan Bahagia: Transformasi Karakter dari Dalam

Tuhan Yesus memulai khotbah-Nya dengan Ucapan Bahagia (Matius 5:3-12). Jika Sepuluh Perintah Allah banyak menekankan larangan (apa yang tidak boleh dilakukan), Ucapan Bahagia justru berfokus pada esensi diri - siapa kita seharusnya di hadapan Allah.

Khotbah ini mendefinisikan ulang makna "diberkati". Jika dunia pada masa itu mengukur keberuntungan melalui kekayaan dan kekuasaan, Yesus mengajarkan bahwa berkat sejati justru lahir dari:

  • Kerendahan hati dan kesadaran akan kemiskinan rohani di hadapan Allah.
  • Kehausan yang mendalam akan kebenaran.
  • Hati yang membawa damai dan penuh kemurahan.

Keadaan diberkati bukanlah tentang daftar kepatuhan ritual yang kaku seperti yang dipraktikkan para ahli Taurat, melainkan tentang ketulusan hati yang telah diubah.

Menjadi Garam dan Terang Dunia

Setelah membentuk karakter internal, Tuhan Yesus mengamanatkan murid-murid-Nya untuk menjadi berkat bagi sesama melalui dua perumpamaan yang kuat:

  1. Garam Dunia (Matius 5:13): Di zaman kuno, garam sangat berharga sebagai pengawet dan pemberi rasa. Garam juga menjadi bagian penting dalam kurban di mezbah, melambangkan perjanjian yang abadi. Kita dipanggil untuk mencegah "pembusukan" moral di sekitar kita.
  2. Terang Dunia (Matius 5:14-16): Kita diperintahkan untuk tidak menyembunyikan kebenaran di bawah gantang (wadah penutup lampu), melainkan membiarkannya bersinar. Tujuannya jelas: agar orang lain melihat perbuatan baik kita dan memuliakan Bapa di surga.

Menggenapi Hukum Taurat dengan Kasih

Tuhan Yesus menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk menghapus hukum Taurat, melainkan untuk membawanya pada kepenuhan (Matius 5:17). Ia menunjukkan bahwa ketaatan lahiriah saja tidaklah cukup jika tidak disertai dengan kemurnian batin.

Beliau memperdalam makna hukum lama dengan standar yang lebih tinggi:

  • Kemurnian Hati: Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kemarahan yang tidak terkendali dan pikiran jahat memiliki bobot dosa yang sama dengan tindakan fisik pembunuhan atau perzinaan (Matius 5:21-30).
  • Melampaui Keadilan: Hukum "mata ganti mata" (Imamat 24:20) sebenarnya adalah hukum keadilan agar balasan tidak melebihi kesalahan. Namun, Tuhan Yesus melampauinya dengan mengajarkan kasih yang rela berkorban—seperti memberikan pipi yang lain atau berjalan sejauh dua mil saat hanya diminta satu mil (Matius 5:38-41).

Kasih yang Radikal dan Jalan Menuju Kesempurnaan

Puncak dari karakter Kristus adalah kasih kepada musuh: "Kasihilah musuhmu, berkatilah mereka yang mengutuk kamu..." (Matius 5:44). Kristus tidak hanya berteori; Ia mempraktikkannya saat menyembuhkan telinga prajurit yang menangkap-Nya dan mengampuni mereka yang menyalibkan-Nya.

Perintah untuk menjadi "sempurna" (Matius 5:48) mungkin terdengar mustahil. Namun, dalam teks aslinya, kata ini merujuk pada menjadi "lengkap" atau "utuh". Kesempurnaan ini bukanlah gambaran kondisi kita saat ini, melainkan arah perjalanan iman kita.

Kesimpulan

Khotbah di Bukit mengajak kita untuk keluar dari jebakan rutinitas agama dan beralih pada transformasi diri yang sejati. Dengan bersandar pada kasih karunia Kristus, proses pengudusan inilah yang pada akhirnya akan membuat hidup kita menjadi lengkap dan utuh di hadapan-Nya.

Blessed by Aneel Aranha

ITT - Selasa, 16 Juni 2026

Wednesday, May 20, 2026

Mengenal Allah yang Melampaui Sekat dan Memulihkan Hubungan

Pengantar

Sering kali, tanpa sadar kita membangun tembok yang membatasi kuasa Tuhan. Kita cenderung mengurung kehadiran-Nya dalam batasan institusi, tradisi, atau sekadar label kelompok kita sendiri. Namun ternyata, Alkitab memberikan narasi yang jauh lebih luas dan radikal: bahwa Allah yang kita sembah melampaui segala definisi manusia dan hadir bagi setiap hati yang berseru kepada-Nya.

Sebentar lagi umat muslim akan merayakan idul qurban - mari kita cermati perdebatan Ishak vs Ismael yang sering berkumandang dari kacamata yang lebih luas.

El-Roi: Allah yang Hadir bagi Mereka yang Terpinggirkan

Kisah Hagar di padang gurun bukan sekadar catatan tentang seorang hamba yang terusir. Ini adalah sebuah penyingkapan teologis yang sangat penting. Hagar, seorang perempuan Mesir yang berada di luar struktur formal keluarga besar Abram (pada waktu itu, Abraham belum mengikat perjanjian dengan Allah dan masih bernama Abram), justru tercatat sebagai pribadi pertama dalam Alkitab yang memberikan gelar secara khusus kepada Allah. Ia menyapa-Nya sebagai El-Roi, yang berarti: "Engkaulah Allah yang telah melihat aku" (Kejadian 16:13: Kemudian Hagar menamakan TUHAN yang telah berfirman kepadanya itu dengan sebutan: "Engkaulah El-Roi." Sebab katanya: "Bukankah di sini kulihat Dia yang telah melihat aku?").

Dalam iman Kristen, kita memahami bahwa Allah Abraham tidak pernah berhenti menjadi Allah bagi Hagar. Meskipun jalur perjanjian mesianik ditetapkan melalui Ishak, kasih dan pemeliharaan Tuhan (providensia) tetap nyata bagi Hagar dan Ismael. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa kasih Allah tidak terbatas bagi mereka yang berada "di dalam tenda" saja. Ia adalah Tuhan yang bersedia melintasi padang gurun kehidupan untuk menjumpai mereka yang terabaikan, karena Allah Abraham dan Allah Hagar adalah subjek yang satu dan sama.

Musa dan Yitro: Pengakuan dalam Keberagaman

Kesamaan identitas Tuhan ini kembali ditegaskan dalam hubungan antara Musa dan mertuanya, Yitro. Sebagai seorang imam di Midian dan keturunan Abraham dari jalur Ketura, Yitro mewakili pengenalan akan Allah yang tetap terpelihara di luar bangsa Israel.

Ketika Musa menceritakan perbuatan ajaib Tuhan, Yitro tidak merasa asing dengan Tuhan tersebut. Ia justru mengakui kedaulatan-Nya dan merayakan persekutuan ibadah bersama Musa (Keluaran 18:10-12). Kejadian ini memperlihatkan bahwa jauh sebelum hukum agama yang baku ditetapkan, pengenalan akan Allah yang Esa telah melampaui sekat-sekat bangsa. Allah Musa dan Allah Yitro adalah subjek yang satu dan sama.

Puncak Pemulihan: Rekonsiliasi Ishak dan Ismael

Pengenalan akan Allah yang sama ini tidak hanya berhenti pada pengakuan lisan, tetapi membuahkan tindakan nyata dalam hubungan antarmanusia. Momen yang paling mengharukan namun jarang kita renungkan adalah apa yang terjadi di akhir hidup Abraham. Setelah bertahun-tahun terpisah oleh konflik, kecemburuan, dan kepahitan akibat pengusiran, 

Alkitab mencatat sebuah pemandangan indah di depan makam ayah mereka:​"Lalu Ishak dan Ismael, anak-anaknya, menguburkan dia dalam gua Makhpela..." (Kejadian 25:9)

Momen ini adalah simbol rekonsiliasi yang mendalam. Di hadapan kematian Abraham, Ishak (anak perjanjian) dan Ismael (anak berkat) berdiri berdampingan dalam keheningan yang penuh hormat. Mereka bersatu untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sumber keberadaan mereka. Narasi ini menegaskan bahwa meskipun peran mereka dalam sejarah keselamatan berbeda, mereka tetaplah saudara di bawah naungan Allah yang satu. Jika kedua tokoh ini mampu melampaui luka masa lalu untuk bersatu dalam kedamaian, betapa lebihnya kita yang hidup di masa sekarang.

Refleksi Kritis bagi Iman Kita

Sebagai umat beriman, pemahaman yang lebih luas ini seharusnya membuat kita menjadi pribadi yang lebih rendah hati dan terbuka dalam mengasihi. Kita dipanggil untuk menyadari beberapa poin krusial:

1. ​Allah Lebih Besar dari Institusi Agama Kita.

Tuhan tidak bisa dimonopoli oleh organisasi atau denominasi mana pun. Dia mampu berbicara kepada siapa pun, di mana pun, dan melalui cara apa pun—sama seperti Dia menjumpai Hagar di tengah keputusasaannya. (Kejadian 16:1-16)

2. ​Menghargai Jejak Tuhan pada Sesama.

Kita diajak untuk peka melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam diri orang lain, bahkan mereka yang kita anggap "berbeda". Seperti Musa yang rendah hati mendengarkan nasihat bijak dari Yitro, kita harus menyadari bahwa Tuhan bisa memakai siapa saja untuk menyatakan kebenaran-Nya. (Keluaran 18:13-27)


3. ​Iman yang Membebaskan, Bukan Memenjarakan.

Mengenal Allah secara benar seharusnya membebaskan kita dari prasangka dan kesombongan rohani. Iman sejati tidak membuat kita eksklusif, melainkan memampukan kita untuk mengasihi sesama dengan lebih tulus tanpa memandang sekat yang ada. (Kis. 10:34-35)

Kesimpulan

​Allah yang disembah oleh Musa, Zippora, Abraham, Hagar, Ishak, dan Ismael adalah Allah yang satu dan sama. Perbedaan jalur hidup mereka bukanlah alasan untuk perpecahan, melainkan bukti betapa kayanya cara Tuhan memelihara setiap ciptaan-Nya. Mari kita terus bertumbuh dalam iman yang terbuka, yang tidak hanya mencari kebenaran untuk diri sendiri, tetapi juga mampu melihat wajah Tuhan dalam diri setiap sesama yang kita jumpai.

"Sebab mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang tulus hati terhadap Dia." (2 Tawarikh 16:9a)

Penutup

Mengikuti Tuhan Yesus berarti belajar untuk melihat sesama bukan melalui lensa label agama atau sejarah konflik, melainkan melalui lensa kasih karunia. Yesus mengajarkan bahwa ukuran iman yang sejati bukanlah seberapa ketat kita menjaga "tenda" kita, melainkan seberapa luas kita mampu membentangkan tangan untuk merangkul sesama - sama seperti Allah yang tidak pernah memalingkan wajah-Nya dari tangisan Ismael maupun keputusasaan Hagar, Allah yang sama yang menyapa perempuan Samaria di sumur Yakub, juga yang merekonsiliasi dirinya dengan dunia di kayu salib serta menyapa seorang penjahat di penghujung ajal-Nya.

​"Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yohanes 4:24)

ITT - Rabu, 20 Mei 2026

Sunday, May 17, 2026

Dari Sinai ke Yerusalem

Pentakosta dalam Rencana Agung Tuhan

Peristiwa Pentakosta sering kali dianggap hanya sebagai hari ulang tahun gereja mula-mula. Namun, jika kita menggali lebih dalam melalui kacamata sejarah Israel dan kalender hari raya Yahudi, kita akan menemukan bahwa Pentakosta (atau Shavuot) adalah penggenapan luar biasa dari sebuah rencana yang telah Tuhan susun sejak zaman Musa.

​Berikut adalah sintesis komprehensif yang menghubungkan perjalanan bangsa Israel di Gunung Sinai dengan pencurahan Roh Kudus di Yerusalem.

1. Akar Sejarah: Hubungan Paskah dan Pentakosta

​Kata Pentakosta berasal dari bahasa Yunani yang berarti "ke-50". Dalam kalender Tuhan, hari raya ini tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung erat dengan Paskah (Passover).

  • ​Paskah (Eksodus): Memperingati pembebasan Israel dari perbudakan Mesir melalui darah domba. Secara rohani, ini melambangkan kematian Kristus sebagai Anak Domba Allah yang membebaskan kita dari dosa.
  • ​Pentakosta (Shavuot): Dirayakan 50 hari setelah Paskah (Imamat 23:15-16). Dalam tradisi Yahudi, ini adalah momen ketika bangsa Israel menerima Hukum Taurat di Gunung Sinai, sekitar tujuh minggu setelah keluar dari Mesir.

​2. Progresi Spiritual: Dari Jelai ke Gandum

​Ada simbolisme menarik dalam hasil panen yang dipersembahkan kepada Tuhan:

  • ​Pada Paskah: Umat mempersembahkan hulu hasil gandum jelai (barley), yang kualitasnya lebih rendah dan sering dianggap sebagai makanan ternak atau budak.
  • ​Pada Pentakosta: Umat mempersembahkan dua roti yang beragi dari gandum kualitas unggul (wheat).

​Penggunaan ragi di sini sangat unik karena biasanya ragi melambangkan dosa. Namun, dalam konteks Pentakosta (Imamat 23:17), dua roti beragi ini melambangkan bahwa Tuhan menerima manusia yang tidak sempurna (berdosa namun bertobat) untuk menjadi bagian dari panen raya jiwa-jiwa bagi Kerajaan-Nya. Ini menandakan kemajuan spiritual dari status "budak yang baru bebas" menjadi "umat perjanjian" yang berharga.

​3. Manifestasi Kehadiran Tuhan: Sinai vs Yerusalem

​Alkitab menunjukkan kemiripan fenomena supranatural (Shekhinah) yang menakjubkan antara peristiwa di Gunung Sinai (Keluaran 19:18) dan di kamar loteng Yerusalem (Kisah Para Rasul 2):

4. Hukum yang Membunuh vs Roh yang Memberi Hidup

​Salah satu kontras paling tajam antara Pentakosta Perjanjian Lama dan Baru adalah dampaknya terhadap umat:

  • ​Di Sinai, setelah Hukum Taurat diberikan, terjadi pemberontakan (anak lembu emas) yang mengakibatkan 3.000 orang mati (Keluaran 32:28).
  • ​Di Yerusalem, setelah Roh Kudus dicurahkan, khotbah Petrus menghasilkan pertobatan di mana 3.000 orang diselamatkan dan dibaptis (Kisah Para Rasul 2:41).

​Ini menggenapi prinsip dalam 2 Korintus 3:6 bahwa "hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh memberi hidup." Jika dahulu Taurat ditulis di atas loh batu, kini Roh Kudus menuliskan hukum Allah langsung di dalam hati manusia.

​5. Menjadi Kerajaan Imam dan Bangsa yang Kudus

​Tujuan akhir dari "Eksodus" kita adalah pengudusan. Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk selamat dari hukuman, tetapi untuk menjadi "kerajaan imam dan bangsa yang kudus" (Keluaran 19:5-6; 1 Petrus 2:9).

​Dalam Perjanjian Lama, para imam dikuduskan dengan percikan darah dan minyak. Dalam Perjanjian Baru, kita dikuduskan melalui:

  • ​Kematian & Kebangkitan Kristus: Menjadi "Paskah" kita yang memutus rantai dosa.
  • ​Baptisan: Menjadi "Laut Teberau" pribadi kita untuk meninggalkan kehidupan lama.
  • ​Pencurahan Roh Kudus: Memberikan kuasa yang dinamis bagi gereja untuk menjadi saksi di seluruh dunia.

​Kesimpulan: Makna Bagi Kita Saat Ini

​Pentakosta membuktikan bahwa Tuhan adalah Allah yang konsisten dengan rencana-Nya. Ia tidak ingin kita tidak peduli atau tidak tahu mengenai peran Roh Kudus (1 Korintus 12:1). Melalui Pentakosta, Allah menunjukkan bahwa masa transisi dari hukum yang kaku menuju kehidupan yang dipimpin Roh telah tuntas.

​Hari ini, setiap orang percaya adalah bait Allah yang hidup, di mana "lidah api" kehadiran-Nya tidak lagi berada di puncak gunung yang jauh, melainkan berdiam di dalam hati kita, memampukan kita untuk hidup dalam kekudusan dan berbicara tentang perbuatan-perbuatan besar Allah kepada dunia.

ITT - Minggu 17 Mei 2026







Wednesday, October 9, 2013

Keluaran 22:21-27

(Sesuai SBU - Rabu, 30 Oktober 2013)

22:21 "Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.
22:22 Seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas.
22:23 Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring.
22:24 Maka murka-Ku akan bangkit dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga isteri-isterimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim.
22:25 Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya.
22:26 Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam,
22:27 sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya -- pakai apakah ia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih."

KITAB KELUARAN

Kitab Keluaran merupakan buku kedua dari kumpulan 5 kitab yang disebut Taurat, yang disusun oleh Musa, dan urutan kedua dalam kanon Perjanjian Lama atau Tanakh (Alkitab Ibrani). Dalam bahasa Ibrani kitab ini disebut Shemoth dari kata-kata pertama Ve-eleh shemoth. Sedangkan dalam beberapa bahasa Inggris, disebut dengan nama Exodus. Kata ini diambil dari terjemahan bahasa Latin Santo Hieronimus yang mengambilnya dari Septuaginta, terjemahan bahasa Yunani. Ini artinya adalah "keluaran", dan terutama peristiwa "keluaran" bangsa Yahudi dari tanah Mesir, di mana mereka diperbudak selama lebih dari 400 tahun.

Kitab Keluaran adalah kelanjutan dari Kitab Kejadian. Kejadian terdiri dari kisah-kisah individu sedangkan Keluaran merupakan kisah tentang bagaimana suatu bangsa terbentuk. Dari Kel. 19 (di gunung Sinai) hingga akhir kitab Keluaran semuanya berhubungan dengan hukum-hukum/peraturan-peraturan. 

Kitab keluaran banyak dikutip dalam Alkitab PL dan PB. Corak keluarnya umat Israel dari Mesir sampai masuk ke Tanah Perjanjian paling banyak dipakai dan dikutip sebagai contoh dalam peristiwa-peristiwa di masa depan.

-. Penglihatan para nabi tentang kembalinya bangsa Israel dari pembuangan digambarkan sebagai peristiwa Keluaran yang baru (Yes. 43:14-21; Yeh. 20:32-44);
-. Pemazmur minta bantuan dari Allah dengan mengutip Keluaran sebagai contoh dari karya penyelamatan Allah (Maz.80:8; 81:6; 99:6);
-. Percakapan Yesus dalam Injil Matius yang banyak mengutip kisah Keluaran.
-. Kutipan lainnya dalam surat-surat Paulus (1Kor.10:4);

RUANG LINGKUP & STRUKTUR

Kitab Keluaran menandai suatu era baru dari kehidupan bangsa Israel. Kel. 1:8 (Kemudian bangkitlah seorang raja baru memerintah tanah Mesir, yang tidak mengenal Yusuf) memulai suatu babak baru bagi kehidupan bangsa Israel di Mesir. Penindasan dan kerja paksa serta penderitaan mewarnai kehidupan mereka sehingga mereka menjerit kepada ALLAH dan ALLAH melepaskan dan mengeluarkan mereka dari Mesir dan menyelesaikan perjanjianNYA dengan para Bapa Leluhur, untuk membawa Israel ke tanah perjanjian.

Mengenai struktur kitab keluaran, ada banyak pendekatan yang dapat dipakai. Salah satunya adalah pendekatan geografis dimana konteks peristiwa di Kitab Keluaran terjadi.

1. ISRAEL DI MESIR
a. Perbudakan di Mesir (1)
b. Kelahiran, kehidupan dan Panggilan Musa (2-4)
c. Penindasan Firaun atas bangsa Israel (5:1-6:13)
d. Daftar Keturunan (6:14-27)
e. Tulah dan Paskah (6:28-12:36)

2. DARI MESIR KE GUNUNG SINAI
a. Keluar dari Mesir (12:37-14:31)
b. Nyanyian Musa (15:1-21)
c. Padang gurun Syur (15:22-27)
d. Padang gurun Sin (16)
e. Batu karang Rafidim (17)
f. Yitro dan Musa (18)

3. PERJANJIAN DAN HUKUM DI SINAI
a. Persiapan Perjanjian (19)
b. 10 Perintah Allah dan Tanda-tanda Perjanjian(20)
c. Peraturan-peraturan pelaksanaan (21-33) ==> Bacaan kita pekan ini.
d. Pengesahan Perjanjian (24)
e. Kemah Suci (25-40)

KONTEKS BACAAN Kel.22:21-27

Setelah ALLAH menurunkan 10 Hukum, IA kemudian mengatur hukum-hukum pokok itu dan menerjemahkannya dalam peraturan-peraturan pelaksanaan (Kel 21:1 "Inilah peraturan-peraturan yang harus kaubawa ke depan mereka.).
Keluaran 21 s/d 23 mengatur peraturan-peraturan tersebut, yang didasarkan pada kesepuluh hukum, peraturan mana yang kemudian kita kenal sebagai Hukum Musa.

Bagian bacaan kita minggu ini adalah peraturan pelaksanaan mengenai orang-orang yang tidak mampu (Kel 22:21-27), yaitu mengenai bagaimana perlakuan umat Israel terhadap kaum asing dan miskin, sementara mereka harus tetap menjaga supaya budaya asing perihal penyembahan ilah asing tidak mempengaruhi mereka, tetapi juga mereka harus menunjukkan kasih dan keadilan terhadap kaum asing dan miskin ini. Mereka bukan hanya harus menghindari kesewenangan tetapi juga harus berbuat baik secara aktif.

Patut diperhatikan disini, adalah bahwa segala peraturan pelaksanaan ini mendahului kehidupan Israel sebagai suatu bangsa. Jadi peraturan tersebut bukan dibuat setelah bangsa itu tiba di tanah perjanjian dan menetap, tetapi jauh ke belakang, bahkan sebelum mereka mengakhiri perjalanan mereka.

Kaum minoritas di Israel dapat dibagi dalam:

1. Orang Asing 
Orang Asing yang menetap bersama orang Israel, mempunyai kelemahan karena mereka dianggap berbeda di mata hukum, politik, sosial ekonomi dan kepercayaan.
2. Janda dan anak Yatim
Seorang janda mempunyai kedudukan hukum yang sangat lemah. mereka bahkan tidak dapat memiliki tanah atas nama mereka sendiri. Janda-janda secara terpaksa harus bekerja dan menjadi buruh untuk menghidupi keluarga mereka, dan ketika mereka tua dan lemah, mereka hanya hidup dari belas kasihan orang disekitarnya. Demikian pula halnya bagi anak-anak yatim, yang hanya menggantungkan hidup mereka pada belas kasihan masyarakat.
3. Orang Miskin
Orang miskin adalah mereka yang tidak mampu bekerja sehingga tidak mampu menghidupi diri mereka dan keluarganya.

URAIAN

Jas Merah - Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah!

Keluaran 22:21 "Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.

Memakai kata menindas dan menekan pada ayat-ayat di atas, ALLAH memperingati umat Israel, supaya tidak mengambil keuntungan dari kelemahan kaum minoritas ini. Bagaimana mereka supaya tidak berlaku sewenang-wenang atas keadaan mampu yang merupakan anugerah ALLAH, serta mengeksploitasi kaum minoritas ini untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya bagi diri sendiri.

Allah mengingatkan dengan memakai sejarah kaum Israel, pada keadaan mereka sebelumnya ketika mereka sendiri pernah menjadi kaum minoritas di tanah Mesir (bandingkan Im.19:33-34 Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.)

Pentingnya sejarah ini diingat, adalah untuk menghasilkan rasa bersyukur kepada ALLAH atas kemerdekaan yang dianugerahkan-NYA. Hari-hari yang pernah mereka lalui dalam penindasan seperti kerja rodi dan paksa dalam lumpur, panas dan lapar serta siksaan, bukanlah suatu hal yang pahit saja, tetapi itu merupakan suatu bentukan ALLAH atas karakter mereka, supaya ketika mereka terbebas dan akhirnya menjadi suatu bangsa yang kuat, mereka tidak berlaku sama seperti apa yang mereka terima di Mesir dahulu.

Seruan dan Hukuman

Keluaran 22:22 Seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas.22:23 Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring.22:24 Maka murka-Ku akan bangkit dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga isteri-isterimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim.

Untuk lebih jauh mengingatkan Israel, Tuhan melanjutkan menggunakan contoh keluarnya Israel dari Mesir untuk memperlihatkan akibat kalau mereka tetap menindas dan menekan kaum minoritas ini.
Sebagaimana Tuhan tergerak dengan teriakan minta tolong Israel dan memperlihatkan Kuasa-Nya atas Alam Ciptaan-Nya dengan tulah dan akhirnya memusnahkan firaun dengan air Laut Merah, disinipun Tuhan mengingatkan dengan ayat 23 & 24, bahwa kalau janda dan anak yatim yang tertindas berseru minta tolong kepada ALLAH, maka IA akan murka dan menghukum dengan keras.

Mengenakan perasaan kasih yang aktif

Keluaran 22:25 Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya.22:26 Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam,
22:27 sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya -- pakai apakah ia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih."

Dalam ayat ini umat Israel diingatkan supaya mereka bukan hanya harus menghindari kesewenangan tetapi juga harus berbuat baik secara aktif. Sekali lagi ALLAH menekankan tentang seruan kaum miskin kepadaNYA, untuk mengingatkan bahwa ketika umat Israel berseru-seru kepadaNYA, IA mengeluarkan mereka dari Mesir, mengirimkan makanan dan minuman, bahkan secara aktif memandu perjalanan mereka di padang gurun, siang maupun malam.

CATATAN PENTING

ALLAH yang perduli terhadap orang Miskin

PL mencatat keperdulian ALLAH yang tinggi akan kaum tak punya dan mengapa. Ada 3 hukum yang IA turunkan untuk mengatasi kemiskinan dan menaruh keperdulian kepada kaum tak mampu, dan Kel.22:25-27 adalah yang pertama dari 3 hukum itu.

1. Kel.22:25-27
-. Bagaimana dengan orang miskin? = Kel.22:25-26 = Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya. Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam,
-. Mengapa harus demikian? = Kel.22:27 = sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya -- pakai apakah ia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih."

2. Ul.14:28-29
-. Bagaimana dengan orang miskin? = Ul.14:28-29a = Pada akhir tiga tahun engkau harus mengeluarkan segala persembahan persepuluhan dari hasil tanahmu dalam tahun itu dan menaruhnya di dalam kotamu; maka orang Lewi, karena ia tidak mendapat bagian milik pusaka bersama-sama engkau, dan orang asing, anak yatim dan janda yang di dalam tempatmu, akan datang makan dan menjadi kenyang ...."
-. Mengapa harus demikian? = Ul.14:29b = ".... supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau di dalam segala usaha yang dikerjakan tanganmu."

3. Ul.24:19-22 
-. Bagaimana dengan orang miskin? = Ul.24:19-21 = Apabila engkau menuai di ladangmu, lalu terlupa seberkas di ladang, maka janganlah engkau kembali untuk mengambilnya; itulah bagian orang asing, anak yatim dan janda -- supaya TUHAN, Allahmu, memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu. Apabila engkau memetik hasil pohon zaitunmu dengan memukul-mukulnya, janganlah engkau memeriksa dahan-dahannya sekali lagi; itulah bagian orang asing, anak yatim dan janda. Apabila engkau mengumpulkan hasil kebun anggurmu, janganlah engkau mengadakan pemetikan sekali lagi; itulah bagian orang asing, anak yatim dan janda.-.
-. Mengapa harus demikian? = Ul.24:22 = Haruslah kauingat, bahwa engkau pun dahulu budak di tanah Mesir; itulah sebabnya aku memerintahkan engkau melakukan hal ini."

Dari pemaparan di atas, maka kita dapat mengimani bahwa ketika kita tertindas, berada dalam keadaan miskin dan terlantar - Berserulah kepadaNYA karena TUHAN pasti mendengar seruan kita.
Bukankah Kristus Yesus mengatakan: "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Mat.11:28)

PENERAPAN

Sebagai umat Perjanjian Baru dalam Karunia Kristus Yesus, pelajaran yang bisa kita ambil dari bacaan kita pekan ini tentang sikap orang percaya terhadap kaum minoritas dan tidak mampu adalah:

1. Jangan menindas
Sebagai orang percaya di Indonesia, di mayoritas daerah, kita termasuk kaum minoritas, tetapi bagaimana sikap kita ketika kita berada di pihak mayoritas? (contohnya di beberapa bagian Indonesia wilayah timur). Demikian pula di antara kita sendiri - ketika kita menjadi penentu kebijakan dalam kehidupan, atau di jemaat - mampukah kita bersikap adil dan bijak? Ingatlah bahwa kitapun dahulu tertindas oleh dosa dan diselamatkan oleh Kristus Yesus (bandingkan Mat.18:23-34).

2. Perduli pada yang lemah
Dengan mempelajari sejarah Israel dalam PL, kita dapat mengetahui bagaimana sikap ALLAH kepada kaum lemah. Demikian pula sejarah Perjanjian Baru dan penyelamatan manusia berdosa oleh Kristus Yesus yang semuanya berisi tentang pelaksanaan Kasih yang aktif terhadap kaum lemah. Ingatlah perkataan Yesus di Mat 25:45-46 = Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.

ITT - Jakarta, Rabu 9 Oktober 2013

Thursday, June 30, 2011

Keluaran 22:21-24


Memperdulikan sesama yang tidak berdaya


Keluaran 22:21-24
22:21 "Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.
22:22 Seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas.
22:23 Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring.
22:24 Maka murka-Ku akan bangkit dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga isteri-isterimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim.


Latar Belakang

Setelah Allah menurunkan Dekalog, IA kemudian mengatur hukum-hukum pokok itu dan menerjemahkannya dalam peraturan-peraturan pelaksanaan (Kel 21:1 "Inilah peraturan-peraturan yang harus kaubawa ke depan mereka.).
Keluaran 21 s/d 23 mengatur peraturan-peraturan tersebut, yang didasarkan pada Dekalog, peraturan mana yang kemudian kita kenal sebagai Hukum Musa.

Bagian bacaan kita minggu ini adalah peraturan pelaksanaan mengenai orang-orang yang tidak mampu (Kel 22:21-27) - dimana bacaan kita ini adalah paruh pertama dari peraturan tersebut, yaitu mengenai bagaimana perlakuan umat Israel terhadap kaum asing dan miskin, sementara mereka harus tetap menjaga supaya budaya asing perihal penyembahan ilah asing tidak mempengaruhi mereka, tetapi juga mereka harus menunjukkan kasih dan keadilan terhadap kaum asing dan miskin ini.
Mereka bukan hanya harus menghindari kesewenangan tetapi juga harus berbuat baik secara aktif (Kel 22:26-27 Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam, sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya -- pakai apakah ia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih.").
Yesus Kristus kemudian dalam penggenapan-Nya berbicara mengenai Kasih yang aktif ini dalam Mat 5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu - dan juga dilaksanakan oleh Rasul Paulus dalam ajarannya di Roma 12:14 Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!

Kaum Minoritas

Kaum minoritas di Israel pada masa itu dapat dibagi dalam:
-. Orang Asing (Kel 22:21 "Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.)
Pada masa itu, orang Asing yang menetap bersama orang Israel, mempunyai kelemahan karena mereka dianggap berbeda di mata hukum, politik, sosial ekonomi dan kepercayaan.
-. Janda dan anak Yatim (Kel 22:22 Seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas)
Pada masa itu, seorang janda mempunyai kedudukan hukum yang sangat lemah. mereka bahkan tidak dapat memiliki tanah atas nama mereka sendiri. Janda-janda secara terpaksa harus bekerja dan menjadi buruh untuk menghidupi keluarga mereka, dan ketika mereka tua dan lemah, mereka hanya hidup dari belas kasihan orang disekitarnya. Demikian pula halnya bagi anak-anak yatim, yang hanya menggantungkan hidup mereka pada belas kasihan masyarakat.

Peringatan Tuhan Lewat Sejarah

Memakai kata menindas dan menekan pada ayat-ayat di atas, Allah memperingati umat Israel, supaya tidak mengambil keuntungan dari kelemahan kaum minoritas ini. Bagaimana mereka supaya tidak berlaku sewenang-wenang atas keadaan mampu yang merupakan anugerah Allah, serta mengeksploitasi kaum minoritas ini untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya bagi diri sendiri.

Allah mengingatkan dengan memakai sejarah kaum Israel, pada keadaan mereka sebelumnya ketika mereka sendiri pernah menjadi kaum minoritas di tanah Mesir (Kel 22:21b sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir. - Im 19:33-34 Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.)

Pentingnya sejarah ini diingat, adalah untuk menghasilkan rasa bersyukur kepada Allah atas kemerdekaan yang dianugerahkan-Nya. Hari-hari yang pernah mereka lalui dalam penindasan seperti kerja rodi dan paksa dalam lumpur, panas dan lapar serta siksaan, bukanlah suatu hal yang pahit saja, tetapi itu merupakan suatu bentukan Allah atas karakter mereka, supaya ketika mereka terbebas dan akhirnya menjadi suatu bangsa yang kuat, mereka tidak berlaku sama seperti apa yang mereka terima di Mesir dahulu.
Dalam komunitas PB, Rasul Paulus menasihatkan Murid-murid Kristus dengan motivasi yang sama untuk mengingat sejarah dalam Ef 2:12-13 bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.

Keselamatan yang kita peroleh melalui Yesus Kristus, haruslah senantiasa dan selamanya melekat dengan sikap kita dengan memberikan syukur yang tidak berkesudahan dengan melaksanakan pelayanan kasih. Itulah yang membedakan kita dari dunia, karena kita sudah ditebus melalui tebusan yang jauh lebih bernilai dari sekedar darah anak domba, yaitu darah Anak Domba Allah - yang memerdekakan kita dari perbudakan dosa dan iblis dan mengangkat kita menjadi anak-anak Allah dalam Yesus Kristus.

Seruan dan Hukuman

Untuk lebih jauh mengingatkan Israel, Tuhan melanjutkan menggunakan metafora keluarnya Israel dari Mesir untuk memperlihatkan akibat kalau mereka tetap menindas dan menekan kaum minoritas ini.
Sebagaimana Tuhan tergerak dengan teriakan minta tolong Israel dan memperlihatkan Kuasa-Nya atas Alam Ciptaan-Nya dengan tulah dan akhirnya memusnahkan firaun dengan air Laut Merah, disinipun Tuhan mengingatkan dengan ayat 23: Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring. Serta akibatnya di ayat 24 Maka murka-Ku akan bangkit dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga isteri-isterimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim.

Sejarah Israel mencatat itu, ketika mereka berbalik melawan Allah dan tidak mematuhi dan melaksanakan perintah-Nya, maka terjadi kejatuhan Israel dalam pembuangan dan perbudakan kembali. Allah memakai Kerajaan Asyur dan Babel untuk mengangkat Israel keluar dari tanah perjanjian atas perlawanan Israel terhadap Allah.
Ketika umat Tuhan menindas dan menekan kaum asing dan miskin, mereka bukan hanya sekedar tidak mematuhi Peraturan Pelaksanaan Hukum Tuhan, tetapi juga mereka menodai sejarah bangsa mereka dan menjadi bangsa yang "Tidak Tahu Diri", menodai "Tindakan Penyelamatan Allah" yang membuat mereka kuat seperti sekarang ini.

Aplikasi

Belajar dari bacaan kita di Hari Minggu ini, sebagai Murid-murid Yesus Kristus, kita dingatkan pula untuk memberlakukan Kasih secara aktif kepada kaum minoritas, dengan memperhatikan beberapa hal;

1. Dekalog yang secara padat dirangkum Yesus dalam Mat 22:37-39 hendaknya kita berlakukan dalam konteks kehidupan nyata, dengan memperdulikan kaum miskin atau menderita. Terkadang kita berpikir, Ya Tuhan ... akulah kaum miskin itu ....akulah yang menderita? Benarkah demikian? Apakah kita sudah menghitung berkat-berkat yang kita terima dengan teliti? Berkat yang terbesar yaitu Keselamatan atas Dosa yang di tebus Yesus Kristus hendaknya kita letakkan paling depan, dan dengan demikian syukur kita akan tidak berkesudahan - Dan atas pelaksanaannya, (mengutip dari aplikasi pekan lalu) bahwa Hukum Kasih diberikan sebagai berkat, dan syukur atas berkat itu adalah melaksanakannya, mengasihi sesama seperti mengasihi diri kita sendiri sebagai wujud mengasihi Allah.

2. Dari pembelajaran di atas, Allah menghendaki kita untuk senantiasa berseru kepada-Nya. Dalam ketertindasan dan kesesakan kita berseru dengan nyaring dan Allah mendengar serta melepaskan kita, dan ketika kita terlepas dan tumbuh kuat, apakah kita mau tertindas kembali dengan melalaikan pelayanan kasih bagi kaum miskin dan menderita? Sejarah Israel, Sejarah orang-orang yang diselamatkan Kristus, sejarah kehidupan kita ingatlah senantiasa, supaya kita tidak terjatuh ke dalam penindasan dan perbudakan dosa. Ketika lemah kita berseru, ketika kuat kita lupa diri - Itu yang tidak dikehendaki Allah.

3. Belajar dari Kisah Israel di PL, khususnya di Kitab Rut, ketika orang asing, janda dan anak yatim diperlakukan dengan kasih, maka era kegelapan suatu bangsa dibangkitkan dengan suatu era baru - Daud muncul, yang kemudian menjadi garis keturunan Yesus Kristus Anak Allah. Bandingkan dengan bacaan kita, seakan Allah berkata kepada kita "Jangan bersikap seperti Firaun yang senantiasa menindas kaum-KU, tetapi jadilah seperti Keluarga Allah yang senantiasa memperdulikan yang tidak berdaya, maka berkat-KU akan mengalir senantiasa, melalui kamu, kepada generasi penerusmu.”

4. Penggenapan Yesus Kristus dinyatakan dalam Mat 25:45-46 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal. - Dari ayat sebelumnya di Mat 25:42-44, kita belajar, bahwa Kasih itu aktif, dan Pelayanan Kasih bukan melulu pemberian secara finansial.

ITT - Minggu, 3 Juli 2011

Sunday, June 26, 2011

Keluaran 20:1-11


Allah yg harus disembah dan dimuliakan

Kel 20:1-11
20:1 Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:
20:2 "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.
20:3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
20:4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.
20:5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,
20:6 tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.
20:7 Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
20:8 Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:
20:9 enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,
20:10 tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.
20:11 Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.


Pendahuluan

Sekitar kurang lebih 3,300 tahun yang lalu, Allah memberikan Sepuluh Perintah kepada umat Israel. Hal ini menarik untuk diingat bahwa peristiwa itu terjadi di atas Gunung Sinai, yang terletak di negara Saudi Arabia saat ini. Sebelum Sepuluh Perintah diberikan, umat Israel telah diperbudak di Mesir selama lebih dari empat ratus tahun. Tetapi, kemudian Allah melepaskan umat pilihan-Nya dan menuntun mereka keluar dari perbudakan di Mesir menuju tanah yang sudah dijanjikan pada mereka. Tanah ini disebut Tanah Perjanjian, yaitu tanah di mana Anak Manusia akan dilahirkan 1,300 tahun kemudian. Selama 40 tahun, bangsa Yahudi harus mengembara di padang belantara menunggu Allah mengijinkan mereka memasuki Tanah Perjanjian. Mengapa? Karena Allah mempunyai banyak pelajaran yang akan diberikan kepada umat Israel sebelum IA mengijinkan mereka memiliki tanah tersebut.

Bahasa Ibrani untuk dekalog adalah aseret had d’barim. Dekalog adalah kata yang diambil dari bahasa Yunani. ‘Deka’ (sepuluh) dan ‘log - logos’(kata). Jadi, ‘dekalog’ berarti sepuluh kata, sepuluh firman atau sepuluh perintah. Kesepuluh Perintah Tuhan ini terdapat dalam Keluaran 20:1-17 dan Ulangan 5:1- 21.
Merupakan suatu yang penting untuk meninjau dekalog dari berbagai aspek, karena dengan memiliki pengertian yang benar terhadap dekalog kita akan dibawa untuk menggumuli dekalog dengan sikap hati yang benar pula.

Dari bacaan sebelumnya di Kel 19, kita dapat mengetahui bahwa:
a. 10 Hukum Tuhan diberikan di Gunung Sinai (Kel 19:1-9) dan
b. 10 Hukum Tuhan diberikan oleh Allah yang Kudus (Kel 19:10-13)
Dari bacaan ini dan sesudahnya, kita dapat pula mengetahui bahwa:
c. 10 Hukum Tuhan diberikan kepada Umat-Nya Israel (kel 20)
d. 10 Hukum Tuhan diberikan dalam 2 bagian (Kel 31:18, Kel 32:15-16)

Pembagian 10 Hukum Tuhan

Dekalog yang terdiri dari sepuluh firman tersebut adalah butir-butir hukum Tuhan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Seluruhnya merupakan satu kesatuan yang saling terkait. Pelanggaran terhadap salah satu butir hukum tersebut berarti melanggar keseluruhan dari hukum tersebut (Yak. 2:10 = Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.).

Para Teolog umumnya membagi Dekalog ini menjadi dua bagian, - berdasarkan Kesimpulan yang Tuhan Yesus berikan atas pertanyaan Hukum mana yang terutama di Mat 22:37-39 (Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri) - Pembagian tersebut yaitu:

1. Bagian pertama terdiri dari hukum kesatu sampai keempat (Kel 20:2-11). Bagian ini merupakan hukum-hukum yang mengatur hubungan umat dengan Allah.
Hukum ke 1 (Kel 20:3)
Hukum ke 2 (Kel 20:4-6)
Hukum ke 3 (Kel 20:7)
Hukum ke 4 (Kel 20:8-11)
2. Bagian kedua terdiri dari hukum kelima sampai kesepuluh (Kel 20:12-17). Bagian ini merupakan hukum-hukum yang mengatur hubungan antar sesama.
Hukum ke 5 (Kel 20:12)
Hukum ke 6 (Kel 20:13)
Hukum ke 7 (Kel 20:14)
Hukum ke 8 (Kel 20:15)
Hukum ke 9 (Kel 20:16)
Hukum ke 10 (Kel 20:17)

Maksud Tuhan dan pengertian manusia.

Menilik 10 Hukum Tuhan, biasanya akan bermuara pada suatu sikap untuk berusaha mengetahui dan mempelajari perintah-perintah itu. Ada 2 (dua) dari sekian banyak perspektif yang akan coba dikemukakan dalam hal pekan ini, dalam bentuk pertanyaan dan jawaban: "Sebagai Murid Tuhan Yesus, mengapa kita perlu mempelajari 10 Hukum Tuhan?"

1. Pada masa sekarang ini kita perlu mempelajari 10 Hukum Tuhan untuk mengingatkan kita atas "Apa yang menjadi standar kebenaran di Mata Tuhan"

Mengapa hal ini penting? Karena standar kebenaran menurut ukuran manusia dan dunia, saat ini sudah sangat jauh bergeser dari standar kebenaran dan moralitas. Kebenaran saat ini telah menjadi sebuah selera dan moralitas telah menjadi ukuran bebas secara individual.
Rasul Paulus telah mengingatkan kita tentang keadaan sekarang ini dalam 2 Tim 3:1-8 (Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu, yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran. Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa, demikian juga mereka menentang kebenaran. Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji.)

Mari lihat keadaan dunia sekitar kita, negara kita, lingkungan kita, jemaat kita bahkan keluarga dan pribadi kita. Berapa longgar nilai kebenaran dan kejujuran serta nilai moral yang jauh bergeser dari Dekalog?

Jadi dari pertanyaan di atas perihal perlunya mempelajari Dekalog, adalah sangat penting mempelajari, memahami dan melakukan Dekalog ini sebagai standar kehidupan, khususnya kehidupan sebagai murid Tuhan Yesus agar kita tidak tercemar oleh standar duniawi, tetapi tetap dalam standar yang diberikan oleh Tuhan.
Lebih jauh lagi, perlunya mempelajari Dekalog adalah untuk;

2. Menghindari kesalahpahaman atas maksud Dekalog ini sendiri.

Pemakaian istilah "Perintah" biasanya ditangkap dalam konotasi negatif oleh manusia, dengan mengartikannya sebagai Hukum dan beban yang berat yang harus dipikul dan ditaati.
Perhatikan Ulangan 10:12-13 = 10:12 "Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, 10:13 berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu.
Kalimat terakhir mengatakan "supaya baik keadaanmu" menandakan KASIH ALLAH dan bukan tekanan Allah bagi manusia dengan perintah ini dan itu. Ditegaskan kemudian di Yer 29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Yesus Kristus kemudian menekankan dalam rangkuman-Nya atas Dekalog dengan kalimat "Kasihilah ...." yang menandakan pengajaran-Nya bahwa Allah itu penuh Kasih, dan karena IA penuh Kasih, maka kitapun wajib mengasihi ALLAH. Bandingkan, bahwa Kasih Allah melepaskan Israel dari perbudakan, dan baru kemudian memberikan Dekalog untuk mengantar mereka ke Tanah Perjanjian, bukan sebaliknya, Dekalog baru kemudian melepaskan mereka.

Jadi Dekalog berkonotasi positif, dengan maksud untuk melindungi Israel dan kemudian kita semua dalam perjalanan kehidupan kita. Melindungi kita dari akibat dosa, melindungi kita dari keterasingan kita terhadap Tuhan.
Dengan perspektif ini, maka Dekalog bukanlah suatu perintah lagi, melainkan suatu "Pernyataan Kasih" dari Allah pencipta kepada kita manusia ciptaan-Nya. Ten Commandments menjadi Tender (lembut) Commandments - 10 Perintah adalah 10 Pernyataan Ungkapan Kasih Allah!

Aplikasi

Setelah memahami Dekalog sebagai wujud Kasih Allah, dalam konteks bacaan kita minggu ini yaitu Hukum 1 s/d 4, yaitu pernyataan Allah tentang maka sebagai Murid Tuhan Yesus kita wajib menyembah dan memuliakan Allah dengan jalan melaksanakan Hukum 5 s/d 10.

Perhatikan kalimat Tuhan Yesus dalam Mat 22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Kalimat “yang sama dengan itu” (itu = Mat 22:38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama) menunjuk kepada Mat 22:37 = Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Anugerah Kasih dalam Hukum 1-4 adalah melaksanakan Hukum 5-10. Amin

ITT – Minggu 26 Juni 2011