Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri

Wednesday, May 22, 2024

Menghidupi Masa Kini

Ingatlah bahwa apa yang engkau peroleh dan nikmati hari ini adalah hal yang pernah engkau doakan dan usahakan di hari-hari yang lalu. Jadi, teruslah berdoa, bersyukur, dan berusaha.

Kalimat bijak ini senantiasa kami ajarkan kepada anak dan istri, serta menjadi pengingat di meja makan kami. Kalimat itu adalah rangkuman dari perjalanan hidup kami, nasihat orang tua, dan ajaran Alkitab.

Antara Taburan Doa, Usaha, dan Dimensi Anugerah


Pernahkah kita berhenti sejenak di tengah kesibukan hari ini dan menyadari satu hal: Kondisi yang kita keluhkan atau kita anggap biasa saat ini, mungkin adalah mukjizat yang sangat kita doakan lima atau sepuluh tahun yang lalu? Ketika kita sedang berada di bawah, kita berdoa meminta pekerjaan. Ketika pekerjaan itu didapat dan mulai melelahkan, kita sering lupa untuk bersyukur. Mengingat bahwa apa yang kita nikmati hari ini adalah buah dari air mata, doa, dan keringat di masa lalu adalah jangkar yang akan menjaga jiwa kita tetap rendah hati.


Namun, untuk memahami prinsip ini secara utuh, kita tidak bisa berhenti pada pemahaman yang dangkal. Mari kita renungkan hal ini lebih dalam.


1. Hukum Tabur Tuai: Doa dan Usaha sebagai Benih


Alkitab sangat menghargai proses. Tuhan tidak selalu memberikan hasil yang instan; Ia mengundang kita untuk bermitra dengan-Nya melalui doa dan kerja keras. Apa yang kita nikmati hari ini adalah panen dari benih keyakinan dan ketekunan yang kita tanam di masa lalu. Tuhan melihat setiap malam di mana Anda berseru kepada-Nya, dan Ia menghargai setiap tetes keringat perjuangan Anda yang jujur.


Mazmur 126:5-6 (TB) "Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya."


2. Pendalaman Kritis: Melepaskan Diri dari Teologi Transaksional


Secara kritis, kita harus berhati-hati agar tidak jatuh pada pemahaman yang murni transaksional—yakni berpikir bahwa "saya mendapat A hanya karena saya telah melakukan B dan berdoa C." Mengapa hal ini perlu dikritisi?


Jika kita berpikir semuanya murni hasil usaha dan doa kita sendiri, kita bisa menjadi sombong saat berhasil, dan merasa dihakimi saat gagal atau ketika doa seolah tidak terjawab. Padahal, ada dimensi yang jauh lebih besar dari sekadar "sebab-akibat" manusiawi, yaitu anugerah (kasih karunia) Tuhan.


Kenyataannya, banyak hal baik yang kita nikmati hari ini bahkan tidak pernah terpikirkan untuk kita doakan. Adakah di antara kita yang berdoa agar jantungnya tetap berdetak saat tidur semalam? Siapa yang secara spesifik meminta perlindungan dari bahaya di jalan yang tidak kita sadari? Tuhan bekerja jauh melampaui daftar permintaan kita.


Efesus 3:20 (TB) "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita."


Keberhasilan hari ini bukanlah trofi atas kehebatan doa dan usaha kita semata, melainkan bukti nyata kemurahan hati Allah yang berkenan memberkati usaha kita yang terbatas.


3. Tiga Pijakan untuk Melangkah ke Depan


Dengan menyadari bahwa hidup kita saat ini adalah persimpangan antara usaha di masa lalu dan anugerah Tuhan yang tak terbatas, bagaimana seharusnya kita bersikap untuk hari esok?


  • Teruslah Berdoa (Sikap Ketergantungan): Jangan berhenti berdoa hanya karena Anda sudah merasa nyaman. Doa bukanlah sekadar "mesin pemesanan", melainkan napas persekutuan yang mengingatkan bahwa kita sangat bergantung pada Tuhan. Kolose 4:2 (TB) "Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur."
  • Teruslah Bersyukur (Sikap Kecukupan): Rasa syukur adalah penawar paling ampuh melawan keserakahan dan rasa tidak puas. Bersyukur mengkalibrasi ulang hati kita untuk melihat apa yang sudah ada, bukan apa yang belum ada. 1 Tesalonika 5:18 (TB) "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."
  • Teruslah Berusaha (Sikap Penatalayanan): Kerja keras bukanlah cara untuk "menyuap" Tuhan agar memberi berkat, melainkan bentuk tanggung jawab kita atas potensi dan waktu yang Ia titipkan. Lakukan yang terbaik hari ini untuk mempersiapkan benih yang baik bagi masa depan. Kolose 3:23 (TB) "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."


Kesimpulan


Ingatlah kembali perjalanan kita. Tersenyumlah melihat di mana kita berdiri hari ini, karena sering kali kita berdiri di atas tanah yang dulunya hanya menjadi impian, atau duduk di kursi yang bahkan lupa untuk kita doakan. Biarkan kesadaran ini menghancurkan segala keangkuhan, melenyapkan keluh kesah, dan membangkitkan semangat untuk terus menabur doa dan usaha yang benar demi masa depan, sambil senantiasa bersandar pada anugerah-Nya.


ITT - Jakarta, Kamis 23 Mei 2024