Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri
Showing posts with label Filipi. Show all posts
Showing posts with label Filipi. Show all posts

Friday, December 23, 2022

Filipi 3:13-14 - Selamat Tahun Baru

Apa yang Harus kita Lakukan di Tahun Depan?

Biasanya di akhir tahun kita merenung, meninjau kehidupan kita di tahun yang akan meninggalkan kita, serta membuat resolusi tahun baru.......

Dalam Filipi 3:13-14 = 3:13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, 3:14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Alkitab memberitahu kita ada 3 (tiga) hal yang harus kita lakukan di tahun depan. Apa saja itu?;

1. Melupakan dan Memaafkan serta Melepaskan Masa Lalu.

Kita harus melupakan kesalahan masa lalu, kegagalan, dan kesialan dan hal-hal negatif lainnya. Bila ada salah kita, segera minta maaf dan berdamai, bila kita  disakiti, memaafkanlah segera. Jangan bawa hal lama yang tidak baik dari tahun yang lama ke tahun yang baru. Biarlah Tahun Baru menjadi awal yang selalu baik dan positif dalam kehidupan kita, 1 Yohanes 1:9 = Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan

Jadi apa yang harus kita lakukan tahun depan? Kita harus melupakan masa lalu.

2. Terus Maju.

Kita harus maju terus dan melepaskan segala halangan, rintangan, dan kebiasaan-kebiasaan buruk. Filipi 3:14a = dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, Roma 8:37 = Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.

Jadi apa yang harus kita lakukan tahun depan? Kita harus terus maju dan hidup di dalam Kristus setiap hari.

3. Fokus pada Kristus.

Kita harus fokus pada Kristus dan membiarkan Ia menjadi Tuhan dalam pendengaran kita, rumah kita, dan segala peri kata dan peri laku kita. Filipi 3:14b = yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.

Jadi apa yang harus kita lakukan tahun depan? Kita harus terus fokus hanya kepada Tuhan Yesus Kristus.

Sebagai penutup; ........ Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di tahun yang baru, tetapi hal-hal yang harus kita lakukan adalah;

  • Melupakan dan Memaafkan masa lalu, 
  • Terus Maju,
  • dan Fokus hanya pada Kristus!

Tahun yang lama segera berlalu, apa yang harus kita lakukan? Tiada lain hanyalah; ...BERSYUKUR .... Karena apapun yang kita alami, Tuhan rencanakan semuanya untuk kebaikan kita.

Kidung Jemaat 332 - Kekuatan serta Penghiburan
(dari bagian Kidung Jemaat: Waktu dan Musim, sub bagian: "Pergantian Tahun" KJ 330-332)
https://www.youtube.com/watch?v=taM3fagHlHg

Syair: Blott en dag/Day by day, Carolina Sandell Berg 1865,
terj. E.L. Pohan Shn. 1969
Lagu: Oscar Ahnfelt (1813-1882)

1. Kekuatan serta penghiburan diberikan Tuhan padaku. Tiap hari
aku dibimbingNya; tiap jam dihibur hatiku. Dan sesuai dengan
hikmat Tuhan 'ku dib'rikan apa yang perlu. Suka dan derita
bergantian memperkuat imanku.
Yak 1:2-4

2. Tiap hari Tuhan besertaku, diberi rahmatNya tiap jam. DiangkatNya
bila aku jatuh, dihalauNya musuhku kejam. Yang namaNya
Raja Mahakuasa, Bapa yang kekal dan abadi, mengimbangi duka
dengan suka dan menghibur yang sedih.
Mzm 145:14

Selamat Jalan Tahun Penuh Berkat Tuhan. Tahun 2022, .... Puji Syukur atas pemeliharaan Tuhan Yesus
Selamat Memasuki Tahun Rahmat Tuhan, Tahun 2023 ..... Tuhan Yesus memberkati kita semua.

ITT - Jakarta, Jumat 23 Desember 2022

Tuesday, October 1, 2013

Filipi 4:8-9

(Sesuai SBU - Rabu, 16 Oktober 2013)

4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.
4:9 Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

LATAR BELAKANG

Kota Filipi adalah kota makmur di Kerajaan Roma. Banyak orang Roma pindah dan tinggal di Filipi. Kelihatannya, bahwa tidak ada banyak orang Yahudi yang tinggal di Filipi oleh karena tidak ada tempat ibadah orang Yahudi di situ (lihat Kis.16:13). Filipi terletak pada Jalan Egnatia, jalan raya dari propinsi-propinsi bagian timur ke kota Roma. Jadi ada banyak orang yang lewat kota Filipi dan berdagang di situ. Untuk latar belakang dan pendirian jemaat di Filipi lihatlah Kis.16:11-40.

Rasul Paulus dan Silas berkunjung ke Filipi ± tahun 52 M, saat melakukan perjalanan misi kedua menuju ke Asia Tengah dan Eropa Tenggara. Di Filipi, Rasul Paulus bertemu dengan sekelompok wanita Yahudi (termasuk Lidia yang kemudian dibaptis bersama seluruh keluarganya) yang sedang beribadah di sebuah sinagoge/tempat ibadah orang Yahudi yang terletak di tepi sungai (Kis.16:13-15). Hasutan dan tuduhan palsu sekelompok tuan yang merasa dirugikan karena hamba perempuan mereka dilepaskan dari ikatan kuasa roh tenung membuat Rasul Paulus dan Silas dipenjarakan. Peristiwa itu dipakai Tuhan untuk membuat tanda ajaib. Terjadilah gempa bumi hebat yang merontokan belenggu dan pintu penjara yang membuka jalan bagi Rasul Paulus untuk menemui kepala penjara yang ketakutan dan memberitakan jalan keselamatan di dalam Kristus, sehingga kepala penjara beserta seluruh keluarganya bertobat dan dibaptis.

Sekalipun waktu pelayanan sangat singkat, pelayanan Rasul Paulus dan Silas di Filipi menghasilkan buah dan Rasul Paulus tetap menjalin hubungan dengan jemaat Filipi yang didirikannya. Beberapa kali dia berkunjung (1Kor.16:5; 2Kor.7:5; Kis.20:6). Perhatian dan penggembalaan terhadap jemaat Filipi juga dibantu oleh Timotius (Kis.19:22; 1Tes.3:1; Kis.18:5) serta mungkin juga oleh Lukas yang menjadi anggota tim Pekabaran Injil Rasul Paulus (Perhatikan kata "kami" dalam Kis.20:6 yang menunjukkan bahwa Lukas yang menulis kitab Kisah Para Rasul sedang bersama-sama dengan Paulus).

SURAT FILIPI

Surat Filipi yang ditulis oleh Rasul Paulus merupakan "surat terima kasih" atas perhatian dan pemberian gereja di Filipi (kemungkinan berupa sejumlah uang seperti kebiasaan masa itu untuk menunjukkan perhatian) bagi kebutuhan pelayanan Paulus (Fil.4:10-20). Pemberian itu diberikan kepada Rasul Paulus melalui perantaraan Epafroditus yang diutus oleh jemaat Filipi untuk membantu pelayanan Rasul Paulus yang penuh tantangan. Mengingat kondisi Epafroditus yang rindu kampung halamannya dan hampir meninggal karena sakit, maka Rasul Paulus mengutus Epafroditus kembali ke tengah-tengah jemaat Filipi (2:25-30) sambil membawa sepucuk surat ucapan terima kasih dari Rasul Paulus dan Timotius.

Walaupun tujuan utama surat ini adalah untuk mengucap syukur kepada jemaat karena bantuan yang mereka kirim kepada Rasul Paulus. Tetapi Rasul Paulus memakai kesempatan ini untuk mendorong mereka di dalam iman, untuk hidup sebagai orang Kristen, untuk menjelaskan kerendah-hatian Kristus Yesus, dan memperingati mereka terhadap ajaran-ajaran palsu, khususnya orang-orang Yahudi yang mengajarkan hal sunat untuk diselamatkan.

Kemungkinan besar, Rasul Paulus menulis surat ini sekitar tahun 61-63 M, saat dia berada di penjara kota Roma. Beberapa teolog menyebut surat ini (bersama surat Filemon, Efesus dan Kolose) sebagai "Surat Kiriman dari Penjara". Kekayaan rohani surat ini sungguh luar biasa, karena Paulus yang sedang menderita dalam penjara masih dapat menghibur jemaat Filipi yang seharusnya memberi penghiburan.

Garis Besar Surat Filipi:

1. Ucapan syukur dan doa (1:1-11)
2. Keadaan Paulus (1:12-26)
3. Nasehat (1:27-2:18)
-. Tetap berjuang (1:27-30)
-. Merendahkan diri seperti Kristus (2:1-11)
-. Menjadi terang dunia (2:12-18)
4. Teman sekerja Paulus (2:19-30)
-. Timotius (2:19-24)
-. Epafroditus (2:25-30)
5. Peringatan terhadap golongan sunat (3:1-4:1)
6. Nasehat-nasehat terakhir (4:2-9)
7. Pengucapan syukur atas bantuan (4:10-23)

Bagian bacaan pekan ini masuk ke bagian 6 yaitu Nasehat-nasehat terakhir yang dapat dibagi lagi menjadi:

1. Memperbaharui Kesatuan 4:2-3: Menjaga kesatuan dengan sehati dan sepikir dalam TUHAN.
2. Menjaga Damai sejahtera 4:4-9: Bagaimana sebaiknya menjaga damai sejahtera tetap ada dalam persekutuan orang percaya.

KONTEKS BACAAN

Fil.4:2-3, mengisahkan nasihat Rasul Paulus kepada Euodia dan Sintikhe. Kedua nama ini, adalah nama-nama wanita (Alkitab KJV menuliskan: "help this women" - merujuk pada bahasa Yunani: "autais" diterjemahkan sebagai kata "mereka" di Fil.4:3a yang adalah kata feminin/menunjukkan gender wanita. ). Jadi Rasul Paulus menasihati kedua wanita ini supaya sehati dan sepikir dalam TUHAN. Rupanya ada ketidak-sepahaman antara kedua wanita ini dalam kehidupan mereka sebagai jemaat Filipi. Ketidak-sepahaman ini tidak dipermasalahkan Rasul Paulus lebih jauh, karena ia tahu bahwa bila mencari siapa yang salah atau benar, akan memerlukan waktu dan membawa perpecahan dalam jemaat, ia juga tidak mengatakan bahwa mereka harus berdamai, menahan emosi, saling mengampuni dan memaafkan - melainkan Rasul Paulus langsung menyatakan supaya mereka sehati dan sepikir dalam TUHAN! Dan karena wanita-wanita ini adalah orang yang berjuang bersama Rasul Paulus dalam pekabaran Injil (perhatikan kata "berjuang dengan aku" di Fil.4:3b) - maka sebagai orang percaya, Rasul Paulus langsung menyentuh mereka dengan nasihat sehati dan sepikir tersebut. Orang percaya, pasti mau menyisihkan kepentingan pandangan pribadi untuk menempatkan TUHAN di atas segala kepentingan.

Jadi Rasul Paulus menasihati Euodia dan Sintikhe karena:

1. Keretakan antara mereka berdua menyebabkan mereka sukar dan tidak bisa bekerja sama. Dan ini akan mempengaruhi pelayanan dari seluruh gereja Filipi!
2. Keretakan ini bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar, seperti kebencian, pertengkaran yang terbuka dsb yang akan mempengaruhi persatuan dan kesatuan di jemaat Filipi! 

Dari konteks inilah maka nasihat-nasihat terakhir Rasul Paulus terus diluncurkan sampai ke Fil.4:8-9 yang merupakan bacaan kita ini.

URAIAN

Filipi 4:8 Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Frasa "Jadi akhirnya", menunjukkan rangkuman Rasul Paulus atas nasihat-nasihatnya dari Fil.4:2 ke bawah. selanjutnya ia memakai 6, bahkan 7 kata sifat untuk melukiskan apa yang sebaiknya dipikirkan oleh orang percaya. 

1. Benar (Yunani: aletheia)
2. Mulia (Yunani: semna)
3. Adil (Yunani: dikaia)
4. Suci (Yunani: hagna)
5. Manis (Yunani: prosphilia)
6. Kebajikan dan patut dipuji (Yunani: euphema)

Semua kata sifat di atas, dicontohkan dalam pribadi Kristus Yesus yang adalah ALLAH. Dengan memikirkan hal di atas, maka orang percaya menempatkan pikirannya dan fokus kepada apa yang diajarkan olehNYA. Hanya standar pemikiran inilah yang dapat membentuk orang percaya berpikiran positif. 
Jadi pola berpikir positif adalah pola utama cara berpikir orang percaya yang dibentuk oleh keimanan kita kepada ALLAH. Mengapa demikian? Mari lihat ayat selanjutnya;

Filipi 4:9 Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu.

Kalau di ayat sebelumnya rasul Paulus mengajak kita berpikir positif dengan memikirkan semua yang benar, mulia, adil, suci, manis, kebajikan dan patut dipuji; maka langkah selanjutnya adalah: "lakukanlah itu".
Jadi pola berpikir positif, lanjutannya adalah perbuatan yang positif. Sederhana dan praktis cara Rasul Paulus menasihati, tetapi maknanya sangat dalam, melebihi ajaran-ajaran filosofi lainnya.
Hal ini bukan teori, karena Rasul Paulus sendiri sedang dan sudah menjalankannya. Bukankah ia sudah menjelaskan keadaannya di Fil.1:12-26? Mengulang kembali apa yang sudah ditulis di atas, Ingatlah, bahwa ketika menulis surat Filipi ini, Rasul Paulus sedang menderita dalam penjara, tetapi ia masih dapat menghibur dan menguatkan jemaat Filipi yang seharusnya memberi ia penghiburan dan kekuatan!

Selanjutnya ayat 9 ini ditutup dengan hasil dari berpikir positif dan melakukan hal-hal positif: " Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu." (bandingkan Mat.28:20 = dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."). Dengan kata lain Rasul Paulus hendak mengatakan bahwa: Bila jemaat Filipi ingin merasakan kehadiran dan penyertaan TUHAN, maka pikirkanlah dan lakukanlah hal yang positif.

Kembali ke atas kalau kita lihat bagian 2 dari Nasihat-nasihat terakhir, yaitu "menjaga damai sejahtera" (Fil.4:4-9) maka ada 5 hal yang Rasul Paulus anjurkan:

1. Bersukacitalah senantiasa dalam TUHAN (4:4)
2. Berbaik hati dengan semua orang (4:5)
3. Berdoa dan mengucap syukur senantiasa (4:6)
4. Pikirkanlah hal-hal yang baik (4:8)
5. Lakukanlah hal-hal baik sesuai ajaran Kristus tersebut (4:9a)

APLIKASI

Banyak hal dapat kita tarik dalam kehidupan kita, baik sebagai pribadi orang percaya, maupun sebagai jemaat Kristus Yesus. Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat kita lihat dan dikembangkan sesuai sudut pandang masing-masing orang percaya;

1. FOKUS KE PIKIRAN POSITIF.
Setiap orang percaya, bertanggungjawab akan pikiran dan perbuatannya. Rasul Paulus mengarahkan kita supaya pemikiran kita diarahkan kepada hal-hal positif saja dan dengan pemikiran itu akan melahirkan perilaku positif.
Seringkali dalam hubungan dengan sesama, kita diperhadapkan dengan konflik karena perbedaan pendapat. Boleh jadi kita berbeda pendapat karena latar belakang budaya, sosial dan pemikiran yang berbeda. Tetapi dengan mengarahkan pemikiran ke hal yang positif - dan seperti diminta kepada Eudia dan Sintikhe, supaya "sehati dan sepikir dalam TUHAN" - maka perbedaan pendapat tersebut segera teratasi. Sekali lagi ditekankan: Orang percaya, pasti mau menyisihkan kepentingan pandangan pribadi untuk menempatkan TUHAN di atas segala kepentingan.
Ingatlah bahwa berkutat dalam perbedaan pendapat, akan menghancurkan pekerjaan ALLAH dan jemaat Kristus Yesus!

2. PIKIRAN = PERILAKU
Banyak yang sudah mengenal istilah "mens sana in corpore sano - Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat". Senada dengan itu, bisa kita aplikasikan sebagai berikut; "Dalam pikiran yang positif dan baik, terdapat tindakan dan perilaku yang baik dan positif pula".
Darimana pikiran positif orang percaya? Darimana perilaku positif orang percaya?
Contoh Kristus Yesus adalah hal nyata dalam mencontohkan hal tersebut. Guru Rasul Paulus adalah Kristus Yesus, demikian pula kita sebagai murid-murid TUHAN YESUS. Jadi ini bukan teori belaka. Sudah ada pembuktian, dan Kristus Yesus juga menghendaki murid-muridNYA untuk menjadi contoh nyata bagi dunia dimana kita berada, sebagaimana Rasul Paulus mencontohkan dirinya kepada jemaat di Filipi. Dengan kata lain, Kekristenan bukan teori belaka, tetapi intinya adalah praktek.

Bila ada pertanyaan: Bagaimana cara hidup orang Kristen?
Semoga kita bisa menjawab: Cara hidup orang Kristen adalah berpikir positif dan berperilaku positif sebagaimana ajaran kasih Kristus Yesus.

ITT - Jakarta, Selasa 1 Oktober 2013.

Saturday, October 10, 2009

Filipi 2:12-19


2:12 Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,
2:13 karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.
2:14 Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan,
2:15 supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,
2:16 sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah-susah.
2:17 Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian.
2:18 Dan kamu juga harus bersukacita demikian dan bersukacitalah dengan aku.
2:19 Tetapi dalam Tuhan Yesus kuharap segera mengirimkan Timotius kepadamu, supaya tenang juga hatiku oleh kabar tentang hal ihwalmu

Pengantar Surat Filipi

Surat Filipi yang ditulis oleh Rasul Paulus merupakan "surat terima kasih" atas perhatian dan pemberian gereja di Filipi (kemungkinan berupa sejumlah uang seperti kebiasaan masa itu untuk menunjukkan perhatian) bagi kebutuhan pelayanan Paulus (4:10-20). Pemberian itu diberikan kepada Paulus melalui perantaraan Epafroditus yang diutus oleh jemaat Filipi untuk membantu pelayanan Paulus yang penuh tantangan. Mengingat kondisi Epafroditus yang mengalami homesick dan hampir meninggal karena sakit, maka Rasul Paulus mengutus Epafroditus kembali ke tengah-tengah jemaat Filipi (2:25-30) sambil membawa sepucuk surat ucapan terima kasih dari Paulus dan Timotius.

Kemungkinan besar, Paulus menulis surat ini sekitar tahun AD 61-63, saat dia berada di penjara kota Roma. Beberapa teolog menyebut surat ini (bersama surat Filemon, Efesus dan Kolose) sebagai "Surat Kiriman dari Penjara". Bila anggapan ini benar, kekayaan rohani surat ini sungguh luar biasa, karena Paulus yang sedang menderita dalam penjara masih dapat menghibur jemaat Filipi yang seharusnya memberi penghiburan.

Berdirinya Jemaat Filipi

Paulus dan Silas berkunjung ke Filipi ± tahun 52, saat melakukan perjalanan misi kedua menuju ke Asia Tengah dan Eropa Tenggara. Di Filipi, Paulus bertemu dengan sekelompok wanita Yahudi (termasuk Lidia yang kemudian dibaptis bersama seluruh keluarganya) yang sedang berbakti di sebuah sinagoge (tempat ibadah orang Yahudi) yang terletak di tepi sungai (Kisah Para Rasul 16:13-15). Hasutan dan tuduhan palsu sekelompok tuan yang merasa dirugikan karena hamba perempuan mereka dilepaskan dari ikatan kuasa roh tenung membuat Paulus dan Silas dipenjarakan. Peristiwa itu dipakai Tuhan untuk membuat tanda ajaib. Terjadilah gempa bumi hebat yang merontokan belenggu dan pintu penjara yang membuka jalan bagi Paulus untuk menemui kepala penjara yang ketakutan dan memberitakan jalan keselamatan di dalam Kristus, sehingga kepala penjara beserta seluruh keluarganya bertobat dan dibaptis.

Sekalipun waktu pelayanan sangat singkat, pelayanan Paulus dan Silas di Filipi menghasilkan buah dan Paulus tetap menjalin hubungan dengan jemaat Filipi yang didirikannya. Beberapa kali dia berkunjung (1 Korintus 16:5; 2 Korintus 7:5; Kisah Para Rasul 20:6). Perhatian dan penggembalaan terhadap jemaat Filipi juga dibantu oleh Timotius (Kisah Para Rasul 19:22; 1 Tesalonika 3:1; Kisah Para Rasul 18:5) serta mungkin juga oleh Lukas yang menjadi anggota tim PI Paulus (Perhatikan kata "kami" dalam Kisah Para Rasul 20:6 yang menunjukkan bahwa Lukas yang menulis kitab Kisah Para Rasul sedang bersama-sama dengan Paulus).

Dalam kehidupan kita, banyak hal yang bisa merintangi iman kita, termasuk penderitaan yang bisa membuat kita menjadi tawar hati. Lebih-lebih, kita bisa menjadi tawar hati bila disalah mengerti oleh orang-orang yang kita layani. Dalam surat ini, Paulus meyakinkan dan menghibur kita, bahwa penderitaan tidak boleh membuat kita menjadi tawar hati. Dia menasehati, "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: bersukacitalah!" (Flp 4:4).
Dalam Kitab ini, Paulus mengajarkan beberapa hal penting:
1. Kita harus belajar untuk senantiasa bersyukur saat menghadapi tekanan dan penderitaan.
2. Kita harus memiliki sukacita sejati agar dapat menghibur orang lain di kala kita sedang susah.
3. Yesus Kristus menjadi teladan dalam kerendahhatian, ketaatan dan sifat tidak mementingkan diri sendiri.
4. Membukakan kerangka berpikir baru tentang nilai-nilai Kristiani yang lebih utama: Kebanggaan duniawi yang lama diganti dengan keselamatan di dalam Tuhan Yesus.
5. Kita harus belajar mencukupkan diri dan merasa puas dengan apa yang ada.
Iman dan pengharapan tidak pernah sia-sia. Bila kita setia sampai akhir, kasih karunia Tuhan akan dilimpahkan kepada kita. Allah akan memberi kekuatan untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar.

Renungan:

Kerangka Khotbah Pekerjaan Tuhan

I. Dua pekerjaan Tuhan (ay. 12, 13)
A. Pekerjaan yang dilakukan oleh manusia (ay. 12)
1. Senantiasa taat
2. Senantiasa mengerjakan keselamatan
B. Pekerjaan yang dilakukan oleh Allah (ay. 13)
1. Di dalam kemauan orang beriman
2. Di dalam pekerjaan Tuhan

II. Sikap pekerjaan Tuhan (ay. 14)
A. Tidak bersungut-sungut
B. Tidak berbantah-bantah

III. Tujuan Pekerjaan Tuhan (ay. 15-18)
A. Orang beriman tiada beraib dan tiada bernoda
B. Orang beriman menjadi anak-anak Allah yang tiada bercela
C. Orang beriman bercahaya seperti bintang
D. Orang beriman berpegang pada firman kehidupan (ay. 16)
E. Orang beriman bersukacita dalam Tuhan (ay. 17, 18)

Banyak orang-orang Kristen yang pertumbuhan imannya bergantung pada tokoh-tokoh tertentu. Tokoh-tokoh itu mungkin adalah orang-orang yang seorang pemimpin yang memang mempunyai kewibawaan rohani yang menonjol, dalam sebuah gereja atau lembaga Kristen, yang dikaguminya atau yang secara langsung berperan penting dalam pertobatannya. Dalam batas tertentu, hal ini termasuk wajar. Namun, apakah pertumbuhan iman kita harus seterusnya bergantung kepada sang tokoh tersebut?

Tak diragukan lagi bahwa peran Paulus bagi jemaat Filipi sangatlah penting. Namun Paulus tidak ingin pertumbuhan iman mereka bergantung sepenuhnya kepadanya. Paulus yakin bahwa tanpa kehadirannya pun jemaat Filipi dapat melanjutkan pertumbuhan iman mereka karena Allah akan bekerja di tengah-tengah mereka. Di bagian akhir bacaan kita hari ini Paulus bahkan menegaskan bahwa dia tidak mengharapkan kemegahan kecuali pada akhir zaman (ay. 16, di hari Kristus).

Harus kita akui, tidak banyak pemimpin rohani yang mempunyai kedewasaan spiritual seperti ini.
Namun, perlu dicatat pula bahwa sikap kita sebagai jemaatlah yang sering kali juga membuat seseorang terjebak dalam perannya sebagai pemimpin tunggal yang menentukan semua hal.

Paulus mengajak jemaat Filipi tetap mengerjakan keselamatan mereka secara terus menerus dan taat, meski tanpa kehadirannya. Ada tiga hal praktis yang disebutkan Paulus di sini.

Mereka didorong untuk tetap melayani (tanpa bersungut-sungut dan berbantah-bantah), Bersungut-sungut menunjukkan kejengkelan/ketidaksenangan terhadap seseorang, baik yang dipendam dalam hati, atau yang dinyatakan di belakang orangnya. Berbantah-bantahan menunjuk pada pertengkaran yang terbuka. Jadi, dengan melarang dua hal ini, Paulus menekankan kesatuan gereja!
Agar tetap menjaga sikap moral kristiani di tengah masyarakat, ada banyak orang, pada waktu mendengar Firman Tuhan (misalnya Firman Tuhan yang melarang untuk berdusta), lalu berkata: 'Kita hidup di dunia. Itu tidak mungkin dilaksanakan!' Tetapi, ay 15 itu menunjukkan bahwa Paulus menyuruh hidup suci di dunia! Firman Tuhan bukanlah sesuatu yang harus kita laksanakan nanti di surga, tetapi sekarang di dunia! renungkan: apakah kita mempunyai tujuan/keinginan untuk hidup suci dan menjadi terang dunia? Atau kita hanya mempunyai tujuan/keinginan yang bersifat jasmani saja?
dan agar tetap mempelajari serta menerapkan firman Tuhan dengan setia. jadi, kita harus mengerjakan keselamatan kita dengan berpegang pada Firman Tuhan!

Pertumbuhan iman kita memang tidak boleh bergantung kepada seseorang, namun juga tidak mungkin kita lakukan sendirian. Gereja dan masyarakat adalah tempat terbaik untuk menerapkan firman Tuhan dan untuk mewujudkan pertumbuhan iman kita.

ITT - 10 Oktober 2009 - K3 SP3A di Kel.Moka