Salah satu kalimat bijak kami berbunyi demikian: "Teruslah berbuat baik, maka kebaikan akan mengikutimu. Hal yang sama pun berlaku bagi ketidakbaikan."
Memutus Rantai
Ketidakbaikan Melalui Kasih Karunia
Kalimat bijak diatas
pada intinya berbicara mengenai hukum "tabur-tuai" yang berlaku
universal dalam kehidupan manusia. Namun, ketika kita merenungkan prinsip ini
dalam terang kelahiran Tuhan Yesus Kristus, kita akan menemukan dimensi yang
jauh lebih indah dan mendalam.
Natal bukan sekadar
perayaan, melainkan jawaban Allah atas kegagalan manusia dalam memutus rantai
pelanggaran di dunia ini.
1. Hukum Tabur-Tuai
dan Realitas Dosa
Prinsip bahwa apa yang
kita tabur adalah apa yang akan kita tuai merupakan kebenaran moral yang
tertulis jelas di dalam Alkitab.
Galatia 6:7: "Jangan sesat! Allah tidak membiarkan
diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan
dituainya."
Jika kita jujur
melihat sejarah dan realitas hidup, manusia sering kali menabur benih
ketidakbenaran, keegoisan, dan dosa di hadapan Allah. Berdasarkan hukum
keadilan yang murni, upah dari dosa adalah maut (Roma 6:23).
Seandainya Allah hanya
bertindak berdasarkan prinsip balasan semata, kita tentu tidak akan memiliki
masa depan. Kita akan selamanya terjebak dalam siklus menuai hukuman atas apa
yang kita tabur.
2. Kelahiran Yesus:
Inisiatif Kasih yang Mengubah Takdir
Di sinilah letak
keagungan Natal. Kelahiran Tuhan Yesus bukan sekadar peristiwa sejarah biasa,
melainkan manifestasi kemurahan hati Allah yang tak terbatas. Allah tidak
membalas keberdosaan manusia dengan hukuman yang setimpal, melainkan justru
turun ke dunia untuk menawarkan jalan keselamatan.
Titus 3:4-5: "Tetapi ketika nyata kemurahan Allah,
Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah
menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi
karena rahmat-Nya..."
Melalui palungan yang
sederhana di Betlehem, Allah menaburkan benih kasih yang terbesar, yaitu
Anak-Nya sendiri. Kelahiran Yesus adalah wujud kebaikan Allah yang paling
sempurna bagi dunia yang kelam.
3. Transformasi:
Menuai Kasih Karunia dari Taburan Kristus
Momen Natal mengubah
cara kita memandang hukum tabur-tuai. Melalui Kristus, terjadi sebuah
"pertukaran ajaib": kita tidak lagi menuai apa yang kita tabur,
melainkan kita menuai apa yang telah ditabur oleh Kristus
Tuhan Yesus menaburkan
ketaatan sempurna, pengampunan, dan pengorbanan. Sebagai hasilnya, kita yang
percaya kepada-Nya menuai keselamatan dan hidup kekal—sesuatu yang sebenarnya
tidak layak kita terima, namun diberikan secara cuma-cuma melalui anugerah-Nya.
4. Respons Kita:
Menjadi Pembawa Kebaikan Kristus
Kasih karunia ini
tidak membuat kita berhenti berbuat baik. Sebaliknya, kelahiran Tuhan Yesus
memotivasi kita untuk terus menabur kebaikan, bukan lagi karena rasa takut akan
hukuman atau demi mengejar pahala, melainkan sebagai wujud syukur atas kasih
Allah yang telah lebih dulu kita terima.
Efesus 2:10: "Karena kita ini buatan Allah,
diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang
dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya."
Penutup
Kelahiran Tuhan Yesus
adalah bukti nyata bahwa kasih Allah jauh melampaui segala kegagalan dunia.
Mari kita rayakan Natal dengan tekad baru untuk menjadi saksi-Nya. Teruslah
menabur kasih dan damai sejahtera, meneladani Kristus yang telah lahir untuk
mengubah hidup kita selamanya.
Galatia 6:9: "Janganlah kita jemu-jemu berbuat
baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak
menjadi lemah."
Selamat Hari Natal
ITT - Jakarta, Minggu 15 Desember 2024