Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri
Showing posts with label Ibrani. Show all posts
Showing posts with label Ibrani. Show all posts

Thursday, October 1, 2026

Seni Mengampuni: Menyembuhkan Jiwa dari Racun Kepahitan

Pengantar

Sebuah analogi sederhana menggambarkan jebakan emosional yang sering kita alami saat disakiti:

​"Bayangkan kita digigit ular. Alih-alih mengeluarkan racun dan mengobati luka, kita justru sibuk mengejar ular tersebut untuk menanyakan alasannya menyengat—seolah ingin membuktikan bahwa kita tidak pantas diperlakukan demikian."

​Saat dikhianati, difitnah, atau diperlakukan tidak adil, wajar jika kita ingin menuntut keadilan. Namun, semakin kita terobsesi pada "sang ular", semakin cepat racun rasa sakit itu menjalar dan merusak jiwa dari dalam.

​Akar Kepahitan dan Ego Membenarkan Diri

​Mengapa kita sering memilih mengejar ular tersebut? Ego manusia cenderung ingin merasa benar (self-righteousness). Kita kerap lebih mencintai pembenaran diri daripada kedamaian batin. Alkitab mengingatkan bahaya membiarkan luka hati mengendap:

​"Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang." (Ibrani 12:15)

​Gigitan ular adalah tindakan masa lalu orang lain yang tidak bisa diubah. Namun, racunnya adalah kebencian yang kita rawat setiap hari. Saat menjadikan permintaan maaf orang lain sebagai syarat untuk pulih, kita telah menyerahkan kendali atas kedamaian jiwa kita kepada orang yang melukai kita.

​Menyerahkan Hak Membalas Dendam

​Iman Kristen tidak meminta kita berpura-pura tidak sakit, melainkan mengarahkan ke mana rasa sakit itu harus dibawa. Tuhan melarang kita bertindak sebagai hakim:

​"Janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan." (Roma 12:19)

​Dua figur Alkitab memberi teladan nyata dalam melepaskan cengkeraman luka:

  1. ​Yusuf (Kejadian 50:19–20): Dijual oleh saudara-saudaranya, Yusuf memiliki kuasa penuh untuk membalas dendam saat menjadi penguasa Mesir. Namun, ia memilih berkata, "Memang kamu telah merancangkan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah merancangkannya untuk kebaikan." Ia memfokuskan hatinya pada pemulihan dari Tuhan, bukan pembalasan.
  2. ​Kristus di Kayu Salib (Lukas 23:34): Di tengah siksaan yang tidak adil, Yesus tidak membuang energi untuk membela diri. Ia justru berdoa, "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."

​3 Langkah Pemulihan Hati

  1. ​Jujur Mengakui Luka kepada Sang Tabib: Jangan menyembunyikan rasa sakit. Daud menuangkan isi hatinya secara jujur dalam doa (Mazmur 142:2–3). Bawa luka itu kepada Kristus, sebab "Oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh" (Yesaya 53:5).
  2. ​Menjadikan Pengampunan Sebagai Keputusan Kehendak: Mengampuni bukanlah soal perasaan, melainkan keputusan untuk membebaskan orang lain dari utang moralnya kepada kita (Efesus 4:32).
  3. ​Mengubah Fokus Pikiran: Lepaskan harapan bahwa pelaku akan menyadari kesalahannya. Kunci kesembuhan kita ada di tangan Kristus. Ubah pertanyaan "Mengapa mereka melakukan ini padaku?" menjadi "Tuhan, bagaimana Engkau ingin memulihkan hatiku hari ini?"

​Mengampuni bukan berarti membenarkan kejahatan, melainkan memilih untuk tidak membiarkan racun orang lain menghancurkan masa depan yang telah Tuhan sediakan bagi kita.

ITT - Kamis, 1 Oktober 2026

Monday, September 7, 2026

Pandangan Iman Kristen terhadap Perceraian dan Hubungan Baru

Pernikahan dalam ajaran Kristen dipandang sebagai ikatan kudus seumur hidup di hadapan Tuhan (Matius 19:6, "Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."). Namun, dalam realitas kehidupan, keretakan rumah tangga dapat terjadi hingga memicu perpisahan. Ketika upaya pemulihan sudah tidak lagi memungkinkan, iman Kristen memberikan pedoman etis yang jelas bagi pihak yang terlibat.

​1. Kejelasan Status Hukum dan Gerejawi

Berpisah rumah selama bertahun-tahun tidak secara otomatis menghapuskan ikatan pernikahan, baik secara iman maupun hukum. Membiarkan status pernikahan menggantung tanpa kepastian dapat membuka celah konflik baru serta membingungkan secara moral. Jika seluruh upaya rekonsiliasi telah gagal total, status pernikahan harus diselesaikan secara tuntas melalui proses hukum yang berlaku serta pendampingan pastoral gereja.

​2. Etika Hubungan Baru dan Pernikahan Kembali

Tinggal bersama tanpa ikatan pernikahan yang sah (cohabitation) dengan pasangan baru—di saat status pernikahan pertama belum selesai secara hukum dan gerejawi—merupakan bentuk pelanggaran terhadap standar moral Kristen (Ibrani 13:4, "Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, karena orang-orang mesubuh dan pezinah akan dihakimi Allah."). Setiap orang wajib merapikan masa lalunya terlebih dahulu sebelum melangkah ke hubungan yang baru. Terkait kemungkinan menikah kembali (remarriage), setiap tradisi gereja memiliki regulasi pastoral yang perlu dihormati dan diikuti.

​3. Tanggung Jawab Moral terhadap Anak

Perceraian orang tua tidak pernah memutus ikatan serta kewajiban terhadap anak. Anak-anak tetap menjadi prioritas utama yang berhak mendapatkan kasih sayang, perlindungan, dan dukungan finansial dari kedua orang tuanya (1 Timotius 5:8, "Tetapi jikalau ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman."). Kerja sama yang baik antara mantan pasangan dalam mengasuh anak (co-parenting) merupakan wujud nyata dari integritas iman.

Penutup

​Sikap jujur, pertobatan, pemulihan moral, dan kejelasan hukum merupakan pondasi utama dalam menghadapi krisis pernikahan. Dukungan moral dari orang tua serta pendampingan dari gereja setempat sangat diperlukan agar setiap langkah yang diambil tetap berada dalam koridor firman Tuhan dan pertimbangan pastoral yang bijaksana.

ITT - 7 September 2026

Friday, September 4, 2026

Daniel 5 - MENE, MENE, TEKEL, UFARSIN



Pengantar

Di usia sekitar 6 atau 7 tahun, masih membekas di ingatan kami, bagaimana guru sekolah minggu kami Yth. Almh Tante Nini menggunakan media gambar tempel dan mengajarkan kepada kami muridnya, perihal tulisan di dinding yang menggunakan bahasa Aram, yaitu: Mene, mene, tekel ufarsin.

Ingatan itu membekas sampai masa tua kami, barangkali karena kisah ini aneh dan bahasa itu juga tidak umum, akhirnya membentuk suatu nostalgia yang sangat dalam. Mari mulai memahami hal ini:

Bayangkan sebuah perjamuan besar yang dipenuhi anggur, tawa, dan kemewahan luar biasa, sementara di luar tembok istana, pasukan musuh tengah mengepung kota. Inilah ironi yang terjadi pada malam terakhir Kekaisaran Babel. Di tengah pesta yang buta akan realitas tersebut, sebuah tangan misterius tiba-tiba muncul dan menuliskan empat kata yang mengubah nasib sebuah bangsa untuk selamanya.

Mari kita menyelami lebih dalam peristiwa bersejarah ini—bukan sekadar sebagai cerita masa lalu, melainkan sebagai cermin spiritual yang tajam bagi kehidupan kita saat ini.

Siapakah Belsyazar?

Dalam Kitab Daniel pasal 5, kita diperkenalkan dengan sosok Raja Belsyazar. Namun, jika kita membedah catatan sejarah secara kritis, raja utama Babel pada masa itu sebenarnya adalah Nabonidus, ayah Belsyazar. Nabonidus lebih suka tinggal di padang gurun untuk mencari pengalaman religius dan aliansi politik, sehingga ia menunjuk Belsyazar sebagai penguasa bersama (co-regent) di ibu kota.

Fakta sejarah ini menjelaskan satu detail kecil yang sangat logis di dalam Alkitab. Ketika Belsyazar menawarkan hadiah kepada siapa pun yang bisa mengartikan tulisan di dinding, ia menjanjikan posisi sebagai "orang ketiga di dalam kerajaan" (Daniel 5:16).

Mengapa orang ketiga? Karena posisi pertama dipegang oleh Nabonidus, posisi kedua adalah Belsyazar sendiri, dan posisi tertinggi yang tersisa bagi orang luar adalah posisi ketiga. Belsyazar memang mewarisi kekuasaan dan kemegahan kerajaan, namun keangkuhannya jugalah yang menghancurkan warisan tersebut.

Melecehkan yang Kudus

Hal yang paling tragis dari Belsyazar adalah ia mengabaikan Tuhan bukan karena ketidaktahuan. Ia memiliki akses langsung pada rekam jejak pendahulunya, Raja Nebukadnezar, yang pernah direndahkan oleh Tuhan hingga akhirnya mengakui kebesaran Allah Yang Mahatinggi (Daniel 4:34-37). Belsyazar tahu persis kisah ini, tetapi ia secara sadar memilih untuk mengalami amnesia spiritual (Daniel 5:22-23).

Puncak kesombongan Belsyazar terjadi di tengah perjamuan. Ia memerintahkan agar perkakas emas dan perak yang dahulu dirampas dari Bait Suci di Yerusalem dibawa masuk. Perkakas yang dikhususkan semata-mata untuk menyembah Allah Israel itu justru digunakan untuk minum anggur dan bersulang memuji dewa-dewa berhala (Daniel 5:1-4).

Refleksi Kritis: Di mata Allah, menyalahgunakan hal yang kudus untuk tujuan yang keliru sama hinanya dengan menghancurkan hal kudus tersebut.

Ketika manusia kehilangan rasa takut akan Tuhan, ia akan mulai meremehkan hal-hal yang sakral. Pesta Belsyazar bukan sekadar acara mabuk-mabukan biasa; itu adalah tindakan pemberontakan spiritual yang disengaja terhadap Penguasa Semesta.

Tangan yang Menulis

Tepat ketika kesombongan mencapai puncaknya, penghakiman pun tiba. Tidak ada guntur atau gempa bumi; hanya jemari tangan manusia yang menulis pada kapur dinding istana (Daniel 5:5). Seketika itu juga, wajah sang raja pucat pasi, pikirannya kacau, dan lututnya bergetar hebat karena ketakutan (Daniel 5:6).

Mari kita renungkan makna "Jari Allah" ini. Dalam Perjanjian Lama, Jari Allah-lah yang secara langsung menuliskan Sepuluh Perintah Allah pada loh batu (Keluaran 31:18). Jari yang sama yang menetapkan Hukum Kebenaran, kini menuliskan vonis hukuman bagi penguasa yang berani menginjak-injak kekudusan-Nya. Allah tidak hanya berfirman, Ia juga bertindak menegakkan keadilan-Nya.

Menariknya, mari kita kontraskan peristiwa ini dengan tindakan Yesus Kristus dalam Perjanjian Baru. Ketika orang-orang Farisi membawa seorang perempuan yang tertangkap basah berzina untuk dihakimi, Yesus membungkuk dan menulis di atas tanah (pasir) dengan jari-Nya (Yohanes 8:6-8).

Jika jari Allah di dinding istana Babel menuliskan akhir dari sebuah kerajaan yang tegar tengkuk, jari Kristus yang menulis di pasir melambangkan anugerah yang menuntun pada pertobatan. Jari yang berkuasa menghancurkan kesombongan manusia adalah jari yang sama yang menawarkan pengampunan bagi mereka yang hancur hati dan menyadari keberdosaannya.

Kegagalan Hikmat Dunia dan Hadirnya Sang Nabi

Belsyazar dengan panik memanggil semua orang berilmu dan ahli jampi di kerajaannya, tetapi tidak ada satu pun yang mampu membaca "bahasa surga" tersebut (Daniel 5:7-9). Kekaisaran Babel yang mampu menghitung pergerakan bintang dan membangun Taman Gantung yang megah, nyatanya buta secara rohani. Ini membuktikan kebenaran Amsal 21:30: “Tidak ada hikmat dan pengertian, dan tidak ada pertimbangan yang dapat menandingi TUHAN.”

Akhirnya, Daniel dipanggil masuk. Ketika ditawari harta dan kekuasaan, Daniel menolak dengan tegas: “Tahanlah hadiah tuanku, berikanlah pemberian tuanku kepada orang lain!” (Daniel 5:17). Daniel adalah nabi yang tidak bisa dibeli. Ia hadir bukan untuk berkompromi dengan kenyamanan penguasa, melainkan untuk menyatakan kedaulatan Tuhan yang menguji setiap hati pemimpin.

Makna Mene, Mene, Tekel, Ufarsin

Dengan otoritas ilahi, Daniel membacakan dan menguraikan makna empat kata tersebut, yang merupakan hasil audit surgawi atas hidup Belsyazar (Daniel 5:24-28):

  • Mene (Dihitung): Masa pemerintahan Belsyazar telah dihitung oleh Allah dan kini telah diakhiri. Pengulangan kata ini dua kali menegaskan bahwa perhitungan Allah sangat presisi dan mutlak. Jam pasir anugerah bagi Babel telah habis.

  • Tekel (Ditimbang): Belsyazar telah ditimbang di atas neraca Allah dan didapati terlalu ringan. Allah tidak menimbang kekuatan militer atau ketebalan tembok Babel; Ia menimbang hati, karakter, dan motivasi terdalam manusia.

  • Peres / Ufarsin (Dibagi): Kerajaan itu telah dipecah dan diserahkan kepada orang Media dan Persia (Ufarsin adalah bentuk jamak dari Peres).

Keruntuhan dalam Semalam

Penghakiman Tuhan tidak selalu membutuhkan proses yang panjang. Pada malam itu juga, Belsyazar terbunuh (Daniel 5:30). Sejarah mencatat bahwa pasukan Koresh dari Persia mengalihkan aliran Sungai Efrat dan menyusup masuk melalui dasar sungai yang mengering, sementara seisi istana masih sibuk berpesta. Tembok yang dianggap tak tertembus itu runtuh tanpa perlawanan, hanya karena kesombongan seorang pemimpin yang meremehkan apa yang suci.

Neraca Kesempurnaan yang Menyelamatkan

Kisah runtuhnya Babel bukan sekadar catatan kelam tentang murka Allah, melainkan sebuah penunjuk arah menuju penebusan di dalam Yesus Kristus. Realitas spiritual yang paling menakutkan dari tulisan 'Tekel' adalah bahwa, secara esensi, kita semua berada di posisi Belsyazar.

Jika kita ditimbang dengan neraca keadilan Allah, tidak ada satu pun manusia yang mampu memenuhi standar kesempurnaan-Nya karena kita semua telah berdosa (Roma 3:23). Kesombongan dan ketidaktaatan kita semestinya mendatangkan konsekuensi penghukuman yang sama mengerikannya.

Namun, di sinilah letak kabar baik Injil. Yesus Kristus turun ke bumi bukan hanya sebagai penilai, melainkan sebagai satu-satunya Pribadi yang ketika "ditimbang" di atas neraca Allah, memiliki bobot kebenaran yang sempurna dan tidak bercela.

Luar biasanya, di kayu salib, Yesus secara sukarela menanggung vonis Mene, Mene, Tekel, Ufarsin yang seharusnya menjadi milik kita:

  • Masa hidup-Nya di bumi "dihitung" dan dipersingkat oleh salib.

  • Ia membiarkan diri-Nya "ditimbang" dan menanggung murka Allah seolah-olah Ia yang kekurangan bobot.

  • Tubuh-Nya "dipecah" (terluka dan dibagi) agar kita yang seharusnya hancur dapat disatukan dan dilayakkan kembali di hadapan Allah Bapa (Yesaya 53:5).

Jika pemerintahan Belsyazar ditutup dalam satu malam karena penghakiman yang mutlak, maka pemerintahan dosa dalam hidup kita pun telah dihancurkan secara tuntas melalui satu pengorbanan Yesus yang sempurna di kayu salib (Ibrani 10:14). Kristus tidak datang untuk mendirikan kerajaan duniawi yang fana, melainkan Kerajaan Allah yang kekal dan tak tergoncangkan (Ibrani 12:28).

Refleksi Untuk Kita

Kini, kita dihadapkan pada pilihan yang krusial. Apakah kita akan menjadi seperti Belsyazar—yang menyia-nyiakan warisan kebenaran, mengeraskan hati, dan mabuk dalam kenyamanan dunia hingga semuanya terlambat? Ataukah kita mau merendahkan diri, menyadari keterbatasan kita, dan bersandar sepenuhnya pada kebenaran Yesus Kristus yang menutupi "kekurangan bobot" jiwa kita?

Mari kita menjaga hati agar tidak meremehkan kekudusan Tuhan. Hiduplah dengan rasa hormat yang mendalam kepada-Nya. Sebab kita tahu, hidup ini bukan tentang membangun menara kemegahan di dunia yang akan lenyap, melainkan tentang berakar di dalam Kristus, Sang Raja Kekal yang tidak akan pernah bisa digulingkan oleh apa pun.


ITT - Jumat, 4 September 2026


Sunday, May 10, 2026

Kenaikan Tuhan Yesus

Bukan Akhir Perjalanan, Melainkan "Normalisasi" Keilahian


Dalam teologi Kristen arus utama, peristiwa Kenaikan Tuhan Yesus sering kali dipandang sebagai "pintu keluar" atau perpisahan emosional antara Tuhan Yesus dan murid-muridNya. Namun, jika kita melihat dari sudut pandang yang lebih luas - Kenaikan Tuhan Yesus bukanlah sebuah perpisahan, melainkan sebuah intervensi Tuhan dalam sejarah manusia.

Berikut adalah pendalaman mengenai makna Kenaikan Tuhan Yesus dari sudut pandang yang tidak umum.

1. Kenaikan sebagai Penobatan, Bukan Kepergian

Seringkali kita membayangkan Peristiwa Kenaikan sebagai perjalanan vertikal menuju awan-awan. Namun, secara teologis, ini adalah peristiwa Penobatan (Inaugurasi). Tuhan Yesus tidak sedang "pergi" ke tempat yang jauh, melainkan sedang memasuki dimensi otoritas tertinggi.

Dalam Mazmur 110:1, yang dikutip berulang kali di Perjanjian Baru, dikatakan:
"Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: 'Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu." - Markus 16:19, Lukas 22:69, Kis 7:55-56, Efesus 1:20-22

Duduk di "sebelah kanan" Allah bukanlah posisi geografis, melainkan posisi kekuasaan absolut. Tuhan Yesus naik untuk memerintah secara aktif atas alam semesta, bukan untuk beristirahat.

2. Efek "Omnipresensi" (Kehadiran di Mana Saja)

Ada paradoks menarik: Selama di bumi, Tuhan Yesus dibatasi oleh tubuh fisik-Nya. Beliau hanya bisa berada di satu tempat pada satu waktu. Kenaikan-Nya justru memungkinkan Ia hadir bagi semua orang melalui Roh Kudus.

Tuhan Yesus sendiri menegaskan hal ini dalam Yohanes 16:7: "Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu..."

Dengan naik ke surga, Tuhan Yesus "memperluas" kehadiran-Nya. Ia tidak lagi terbatas oleh koordinat GPS di Yerusalem dsk, di Israel - melainkan hadir di setiap hati dan hadir untuk orang percaya di seluruh dunia secara simultan.

3. Kenaikan: Fakta Sejarah, Bukan Mitos Puitis

Perlu ditegaskan bahwa Kenaikan Tuhan Yesus adalah fakta sejarah yang objektif, bukan sekadar metafora atau mitos yang diciptakan untuk menghibur para murid yang berduka. Mengapa demikian?

  • Saksi Mata yang Konsisten: Peristiwa ini disaksikan oleh kelompok orang yang sama yang melihat Yesus wafat dan bangkit. Lukas mencatatnya dalam Kisah Para Rasul 1:9 dengan detail yang sangat fisik: "Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka."
  • Perubahan Radikal Para Murid: Mitos tidak dapat mengubah pengecut menjadi martir. Para murid tidak akan rela mati demi sebuah "cerita indah" jika mereka tidak benar-benar melihat Tuhan Yesus disalibkan, mati, bangkit, menampakkan diri & naik ke takhta-Nya.
  • Logika Kebangkitan: Jika Tuhan Yesus bangkit secara fisik, maka Ia harus berada di suatu tempat secara fisik pula. Kenaikan adalah konsekuensi logis dari kebangkitan tubuh. Tanpa kenaikan, kita akan memiliki masalah sejarah mengenai di mana Tuhan Yesus menghabiskan sisa hidup-Nya di bumi.

4. Jembatan bagi Kemanusiaan

Sudut pandang yang jarang dibahas adalah bahwa Yesus naik ke surga dengan membawa tubuh manusia-Nya. Ini adalah kabar luar biasa. Di takhta alam semesta, ada sosok yang memahami rasa sakit, air mata, dan kelelahan manusia karena Ia sendiri pernah merasakannya. Ibrani 4:15 menyatakan: "Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa."

Peristiwa Kenaikan adalah jaminan bahwa kemanusiaan kita sekarang memiliki "perwakilan" di dalam keilahian Allah.

Kesimpulan

Kenaikan Tuhan Yesus bukanlah akhir dari sebuah biografi, melainkan awal dari pemerintahan-Nya yang bersifat universal. Peristiwa ini adalah realitas sejarah yang mengonfirmasi bahwa Tuhan Yesus bukan sekadar guru moral yang hebat, melainkan Raja semesta alam yang sedang mempersiapkan tempat bagi umat-Nya.

Dengan memahami bahwa Kenaikan adalah fakta, kita tidak lagi melihat surga sebagai tempat yang jauh, melainkan sebuah realitas yang dipimpin oleh Tuhan yang sangat mengasihi kita.

Yohanes 14:1-3 = 1 "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. 2 Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. 3 Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.

ITT - Minggu 10 Mei 2026


Tuesday, September 17, 2024

Kis 5:1-11 : Maut di Balik Flexing Rohani

 Relevansi Kisah Ananias & Safira bagi Gereja Modern

​Kisah tragis Ananias dan Safira dalam Kisah Para Rasul 5:1-11 sering kali terasa seperti anomali yang menakutkan di tengah indahnya kisah kasih gereja mula-mula. Bagaimana mungkin di era kasih karunia, sebuah kebohongan tentang uang persembahan berujung pada eksekusi mati yang instan?


​Jika kita membawa kisah ini ke abad ke-21, Ananias dan Safira mungkin adalah jemaat terpandang yang namanya sering disebut dari mimbar, atau penyumbang dana utama untuk proyek pembangunan gedung gereja. Mari kita bedah makna mendalam dari kisah ini melalui lensa realitas gereja modern.


​1. Jebakan Pencitraan dan "Flexing" Rohani


​Dalam Kisah Para Rasul 4:36-37, Barnabas menjual tanahnya dan memberikan seluruh uangnya dengan tulus. Ia dihormati oleh jemaat. Ananias dan Safira melihat hal itu dan menginginkan "tepuk tangan" yang sama, tanpa mau membayar harganya secara penuh.


​Di era media sosial saat ini, virus kemunafikan ini bermutasi menjadi flexing rohani: Seseorang mungkin menyumbang besar-besaran agar namanya diukir di plakat gereja atau diumumkan di warta jemaat. Atau, seseorang mengunggah foto-foto sedang melayani di daerah pelosok demi likes dan pujian netizen, namun di balik layar, ia menelantarkan keluarganya atau menjalankan bisnis dengan cara curang.


​Tuhan menolak keras pelayanan yang dijadikan teater untuk memuaskan ego. Firman Tuhan dalam Matius 6:1 memperingatkan dengan sangat jelas:

​"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga."


​2. Sindrom Donatur VIP (Budaya Patronase)


​Secara historis, di dunia Romawi kuno terdapat sistem patronase, di mana orang kaya (patron) mendanai komunitas untuk "membeli" status, hak istimewa, dan kekuasaan. Ananias dan Safira membawa mentalitas transaksional duniawi ini ke dalam gereja. Mereka menyerahkan sebagian uang, namun bersikap seolah-olah menyerahkan semuanya, demi mendapatkan posisi elit di mata para rasul.


​Ini terjadi ketika ada jemaat kaya yang merasa bisa "membeli" gereja. Misalnya, menyumbang AC baru, alat musik mahal, atau mobil operasional gereja, lalu merasa berhak mendikte kebijakan pendeta. Mereka bisa marah jika tidak diberikan kursi paling depan atau jika ditegur dosanya dari mimbar.


​Dalam Kisah Para Rasul 5:4, Petrus menegaskan bahwa uang itu adalah hak mereka. Masalahnya bukan nominalnya, melainkan motivasinya. Tuhan tidak butuh uang kita; Dia menghendaki hati yang rela melepaskan, bukan hati yang berinvestasi untuk mencari kuasa politik di dalam gereja.


​3. Kontroversi Keadilan: Mengapa Sekarang Koruptor Gereja Tidak Langsung Mati?


​Salah satu pertanyaan paling tajam yang sering muncul adalah: "Kalau Ananias dan Safira langsung mati karena berbohong soal persembahan, mengapa hari ini banyak oknum pemimpin atau jemaat yang memanipulasi keuangan gereja tetap hidup kaya raya dan sehat?"


​Di sinilah kita perlu memahami konsep Coram Deo - hidup di hadapan wajah Allah yang suci. Gereja mula-mula sedang berada dalam fase pembentukan pondasi. Kematian Ananias dan Safira adalah sebuah preseden (penetapan standar) dari Allah. Sama seperti peristiwa Nadab dan Abihu di Perjanjian Lama yang langsung dihukum mati saat mempersembahkan api asing (Imamat 10), Tuhan sedang menetapkan batas yang tegas: Gereja tidak boleh dibangun di atas dasar manipulasi.


​Saat ini, kita hidup di era di mana Allah menahan murka-Nya untuk memberi ruang pertobatan (panjang sabar). Namun, kesabaran Tuhan tidak boleh disalahartikan sebagai persetujuan. Keadilan Tuhan yang tertunda sama sekali bukan berarti dibatalkan.


​"Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan." — Ibrani 12:29


​Kesimpulan: Melayani di Ruang Tanpa Sorot Lampu


​Kisah Ananias dan Safira mengundang kita untuk menelanjangi motif hati kita yang terdalam. Amsal 21:2 mengingatkan, "Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati."


Mari kita mengevaluasi diri: Apakah kita tetap melayani dengan sungguh-sungguh meskipun tidak ada satu orang pun yang melihat? Apakah persembahan kita murni lahir dari rasa syukur, atau diam-diam kita berharap mendapat pengakuan dari pendeta dan jemaat lain?


Di hadapan Tuhan, topeng rohani yang paling tebal pun akan tembus pandang. Pilihlah untuk menjadi gereja yang otentik, di mana integritas bernilai jauh lebih tinggi daripada popularitas.


ITT - Selasa 17 September 2024

Tuesday, February 27, 2024

Misteri Kejadian 18

Apakah Abraham Bertemu Yesus Sebelum Inkarnasi?

​Banyak umat Kristiani merasa penasaran saat membaca Yohanes 8:58, di mana Yesus menyatakan, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada." Pernyataan ini memicu sebuah pertanyaan penting: Di manakah Yesus pada zaman Abraham?


​Jika kita meneliti Kejadian 18, kita akan menemukan sebuah narasi yang luar biasa. Abraham dikunjungi oleh tiga sosok asing di dekat pohon tarbantin di Mamre. Namun, secara teologis, kunjungan ini bukanlah sekadar jamuan makan biasa, melainkan sebuah penyingkapan ilahi yang krusial.


​1. Identitas Sang Tamu: Makna di Balik Nama "Adonai"

​Alkitab mencatat dalam Kejadian 18:1 bahwa "TUHAN (YAHWEH) menampakkan diri kepada Abraham." Menariknya, apa yang dilihat secara fisik oleh Abraham adalah tiga orang pria.

​Hal yang sangat mendalam terdapat pada ayat ke-3. Abraham menyapa pemimpin dari ketiga orang tersebut dengan sebutan, "Tuanku". Dalam teks asli Ibrani, kata yang digunakan adalah Adonai. Bentuk kata Adonai yang digunakan di sini adalah bentuk jamak khusus yang dalam tradisi Alkitab hanya diperuntukkan bagi Allah semesta alam, bukan sekadar sapaan hormat antar manusia. Hal ini mengindikasikan bahwa Abraham menyadari bahwa di hadapannya berdiri Sang Pencipta dalam wujud manusia.

​2. Pemisahan Ilahi: Mengapa Hanya Dua yang Pergi ke Sodom?

​Bagian ini adalah kunci untuk memahami kehadiran Kristus. Setelah mereka makan, Alkitab mencatat sebuah pemisahan yang jelas:
​"Lalu berjalanlah orang-orang itu dari sana menuju ke Sodom, tetapi Abraham masih tetap berdiri di hadapan TUHAN." (Kejadian 18:22)

Perhatikan polanya yang sangat spesifik:

  • ​Tiga pribadi datang menemui Abraham.
  • ​Dua pribadi (yang kemudian diidentifikasi sebagai malaikat dalam Kejadian 19:1) melanjutkan perjalanan ke Sodom untuk menyelamatkan Lot.
  • ​Satu pribadi tetap tinggal bersama Abraham.
​Pribadi yang tetap tinggal inilah yang disapa Abraham sebagai Adonai dan diajak bernegosiasi mengenai nasib Sodom. Abraham bahkan menyapa-Nya sebagai "Hakim segenap bumi" (Kejadian 18:25). Mengingat bahwa Allah telah menyerahkan seluruh penghakiman kepada Anak (Yohanes 5:22), besar kemungkinan bahwa sosok tersebut adalah Yesus dalam wujud pra-inkarnasi.

​3. Kristofani: Penampakan Sang Anak

​Pandangan ini didukung oleh fakta bahwa "Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah (Bapa)" (Yohanes 1:18). Oleh karena itu, setiap kali Tuhan menampakkan diri secara fisik dalam Perjanjian Lama, para teolog menyebutnya sebagai Kristofani—yaitu penampakan Sang Anak atau Logos sebelum Ia lahir di Betlehem.
​Beberapa bukti pendukung lainnya adalah:
  • ​Kejadian 19:1: Mencatat bahwa hanya "kedua malaikat" yang sampai ke Sodom, mengonfirmasi bahwa tamu ketiga memiliki identitas yang berbeda dan lebih tinggi.
  • ​Yohanes 8:56: Yesus sendiri berkata, "Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya..." Banyak ahli percaya momen yang dimaksud Yesus adalah pertemuan di bawah pohon tarbantin Mamre ini.
  • ​Kejadian 18:33: Menutup narasi dengan menyatakan, "Lalu pergilah TUHAN, setelah Ia selesai berfirman kepada Abraham."

Kesimpulan


​Pertemuan dalam Kejadian 18 menunjukkan bahwa keberadaan Tuhan Yesus tidak dimulai sejak peristiwa di Betlehem. Ia adalah Tuhan yang kekal, yang pernah turun ke dunia untuk makan bersama manusia dan mendengar doa syafaat sahabat-Nya. Sebagaimana tertulis dalam Ibrani 13:8: "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya."
​Dia adalah Adonai yang sama, yang menyapa Abraham di Mamre dan yang menyelamatkan kita hari ini. Ia adalah sang Alfa dan Omega, yang telah ada jauh sebelum sejarah dimulai dan akan tetap ada ketika dunia ini berakhir.
Wahyu 1:8 ”Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa.”

ITT - Selasa 27 Februari 2024

Friday, January 5, 2024

Kepada Siapa Kita Berdoa?

 

Tatanan Indah di Balik Doa Kristen

​Pendahuluan

​Pernahkah kita berada dalam situasi di mana tangan sudah melipat dan kepala sudah menunduk untuk berdoa, namun tiba-tiba muncul keraguan kecil di dalam hati? Kita mungkin bertanya-tanya:

  • ​"Kepada siapakah sesungguhnya kita sedang berbicara saat ini?"
  • ​"Apakah kepada Bapa, kepada Yesus, atau kepada Roh Kudus?"
  • ​"Jika kita menyebut nama yang salah, apakah doa kita tetap akan sampai ke tujuan?"

​Keraguan seperti ini ternyata bukanlah hal baru; hal ini telah membayangi hati orang-orang percaya selama ribuan tahun. Namun, jika kita memperhatikan Kitab Suci, para penulis Perjanjian Baru sama sekali tidak mempermasalahkan hal ini. Rasul Paulus berdoa kepada Bapa, Stefanus berseru langsung kepada Yesus, dan Yudas menasihati jemaat untuk berdoa di dalam Roh Kudus. Mereka tidak pernah meminta maaf atau menganggap hal tersebut sebagai suatu kekeliruan.

Untuk mengakhiri kebingungan ini, ada tiga pemahaman mendasar yang harus kita miliki agar doa kita tidak lagi terasa seperti sedang menebak nomor telepon dan berharap orang yang tepat akan mengangkatnya.


Allah Kita Adalah Esa

​Pemahaman pertama yang harus tertanam kuat di dalam diri kita adalah bahwa Allah itu tunggal dan tidak terbagi. Dasar iman yang paling utama ini telah dinyatakan sejak zaman kuno dalam Ulangan 6:4:
​"Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!"

​Melalui logika berpikir yang jernih, kita harus menyadari bahwa Allah bukanlah tiga sosok ilah yang berbagi tugas di dalam satu ruangan, bukan pula rekan kerja yang bergantian menjaga pintu. Surga tidak memiliki tiga pintu berbeda yang membuat kita harus memilih pintu mana yang harus diketuk.

​Alkitab menggambarkan bahwa hanya ada satu takhta. Allah menyatakan diri-Nya dalam tiga Pribadi—Bapa, Anak, dan Roh Kudus—yang sepenuhnya menyatu dalam kehendak, kasih, dan tujuan.

​Tuhan Yesus sendiri menegaskan kesatuan ini dalam Yohanes 10:30:
​"Aku dan Bapa adalah satu."
​
Lebih lanjut, ketika Filipus meminta Yesus untuk menunjukkan Bapa kepada mereka, Yesus menjawab dalam Yohanes 14:9:
​"Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa."

​Oleh karena itu, ketika kita berbicara kepada salah satu Pribadi, kita tidak sedang mengabaikan dua Pribadi lainnya. Saat kita datang kepada Tuhan, seluruh keberadaan-Nya mendengarkan kita karena kesatuan Mereka yang sempurna.


​Memahami Peran Masing-Masing Pribadi dalam Tatanan Doa

​Meskipun Allah itu satu, Alkitab memberikan sebuah pola atau struktur yang indah mengenai peran dari masing-masing Pribadi dalam doa kita, tanpa bermaksud membuat kita menjadi kaku.

​Datang Kepada Bapa

Ketika para murid meminta diajar berdoa, Yesus tidak meminta mereka berdoa kepada diri-Nya, melainkan berkata dalam Matius 6:9:
​"Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,"

​

Yesus mengarahkan pandangan kita kepada Bapa karena Dia datang untuk membawa kita pulang ke rumah, dan rumah itu adalah tempat di mana Bapa berada.

​Melalui Sang Anak (Yesus)

Kita tidak bisa melangkah masuk begitu saja ke hadapan Allah dengan kekuatan atau kepantasan diri sendiri. Dalam Yohanes 14:6, Yesus menyatakan:
​"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."


​Yesus adalah jalan itu. Melalui pengorbanan darah-Nya di kayu salib, pintu hubungan yang tadinya tertutup akibat dosa kini dibuka kembali. Kita berdoa dalam nama Yesus bukan sebagai "kata kunci rahasia", melainkan sebagai bentuk pengakuan bahwa hanya karena Dialah kita diterima oleh Bapa.

​Di Dalam Roh Kudus

Sering kali kita berada dalam kondisi yang sangat berat atau hancur, hingga kita tidak tahu kata-kata apa yang harus diucapkan. Di sinilah Roh Kudus bekerja. Roma 8:26 menyatakan:
​"Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan."


​Roh Kudus adalah Penolong di dalam diri kita yang mengerti bahasa hati terdalam dan menyampaikannya ke hadapan takhta Allah.

​Secara teologis, kita dapat melihat tatanan doa Kristen ini bagaikan sebuah aliran yang selaras: kita datang kepada Bapa, melalui tuntunan Anak, dan dibawa oleh kekuatan Roh Kudus. Jadi, saat kita berseru dengan tulus, "Tuhan, tolong saya," Surga tidak akan bingung. Bapa menerima seruan itu, Anak menyampaikannya, dan Roh Kudus telah menerjemahkannya bahkan sebelum kata-kata itu keluar dari mulut kita.


​Doa Adalah Hubungan Kasih, Bukan Transaksi Dagang

​Pemahaman ketiga yang sangat mendasar adalah bahwa doa pada hakikatnya merupakan sebuah hubungan kekeluargaan yang karib, bukan sebuah transaksi formal yang kaku.

​Bayangkan seorang anak di dalam sebuah rumah yang hangat. Ketika ia terjatuh atau memerlukan bantuan, ia tidak akan berdiri di bawah tangga sambil berpikir rumit apakah ia harus memanggil ayahnya atau ibunya terlebih dahulu. Ia hanya akan berteriak memanggil orang tuanya. Siapa pun yang berada paling dekat pasti akan langsung berlari mendekat, sementara yang lain pun turut mendengar.

​Alkitab memakai gambaran kedekatan anak dan orang tua ini dalam Galatia 4:6:
​"Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: 'ya Abba, ya Bapa!'"

​Kata "Abba" adalah panggilan intim seorang anak kecil kepada ayahnya—sebuah seruan spontan tanpa beban kepura-puraan atau ketakutan akan salah ucap. Kita bisa melihat bukti nyata dari kebebasan hubungan ini melalui contoh-contoh di Alkitab:

​Ketika Stefanus menghadapi maut saat dilempari batu, ia langsung berseru kepada Yesus dalam Kisah Para Rasul 7:59: "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku." Tidak ada suara dari surga yang menegurnya karena tidak menyampaikannya melalui Bapa, sebab ia sedang berbicara kepada Pribadi yang paling dekat dengannya saat itu.

​Rasul Paulus juga berseru tiga kali langsung kepada Tuhan Yesus untuk memohon agar penderitaan yang ia sebut sebagai "duri dalam daging" diangkat. Yesus pun langsung menjawabnya dalam 2 Korintus 12:9: Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna."

​

Menembus Hambatan Emosional di Dalam Hati

​Secara lebih mendalam, jika kita mau menguji hati sendiri, alasan mengapa kita sering kali bingung atau merasa sungkan untuk berdoa kepada salah satu Pribadi Allah biasanya bukan terletak pada masalah pemahaman teologis, melainkan karena adanya hambatan emosional.

​Mungkin ada di antara kita yang tumbuh dengan rasa takut atau trauma terhadap sosok ayah di dunia, sehingga kata "Bapa" terasa sangat berat dan menakutkan untuk diucapkan. Akibatnya, kita memilih untuk hanya membisikkan doa kepada Yesus yang kita anggap lebih lembut, sambil menghindari "ruangan" Bapa. Atau sebaliknya, kita menganggap Roh Kudus terlalu misterius sehingga kita menjaga jarak dari-Nya.

​Namun, kebenaran Firman Tuhan meluruskan pandangan yang keliru ini. Allah tidak terbagi-bagi berdasarkan sifat emosional manusia. Bapa yang mengutus Yesus tidaklah kejam, dan Yesus tidak berjalan sendiri dengan kelembutan-Nya. Air mata Yesus di makam Lazarus menunjukkan dengan tepat bagaimana perasaan hati Bapa yang sesungguhnya kepada kita. Ibrani 1:3 menegaskan tentang Yesus:
​"Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah..."

​Tidak ada watak yang berbeda di balik wajah Yesus. Hati Bapa sama persis dengan hati Yesus, dan suara Roh Kudus selaras dengan suara Yesus. Mereka memiliki satu hati yang penuh kasih bagi kita.


​Penutup: Berdoa dengan Keberanian Percaya

​Melalui pemahaman yang utuh ini, kita tidak perlu lagi diliputi kecemasan saat berdoa. Alkitab merangkum tatanan indah ini dalam Efesus 2:18:
​"Karena oleh Dia kita kedua belah pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa."
​Dalam satu kalimat yang tenang ini, ketiga Pribadi Allah bekerja bersama untuk memberikan kita satu jalan masuk dan satu sambutan yang hangat. Keberanian kita ditegaskan kembali dalam 1 Yohanes 5:14:
​"Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya."

​Perhatikan bahwa Alkitab menggunakan kata ganti tunggal ("kepada-Nya"), karena Surga bukanlah sebuah papan sirkuit yang rumit, melainkan sebuah pelukan kasih dari Allah yang Esa.

​Semakin lama kita berjalan bersama Allah, kita tidak akan lagi disibukkan oleh rumus kata-kata yang rumit saat berdoa, melainkan sekadar berbicara dari hati ke hati. Ketika kita mengalami malam yang berat dan hati kita spontan berseru kepada Yesus, Dia menerima kita. Ketika kita memanggil Bapa, Dia mendengarkan. Yang terpenting bukanlah ketepatan "alamat" kata, melainkan keputusan kita untuk datang kepada-Nya.

​Saat kita bertelut berdoa, ingatlah bahwa Bapa sedang menunggu, Yesus adalah jalannya, dan Roh Kudus hadir membantu kita. Kita tidak sedang menghubungi orang asing; kita sedang melangkah pulang ke rumah.


ITT - Jumat, 5 Januari 2024

Tuesday, June 7, 2011

Ibrani 7:25:28


7:25 Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka.
7:26 Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga,
7:27 yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban.
7:28 Sebab hukum Taurat menetapkan orang-orang yang diliputi kelemahan menjadi Imam Besar, tetapi sumpah, yang diucapkan kemudian dari pada hukum Taurat, menetapkan Anak, yang telah menjadi sempurna sampai selama-lamanya


Uraian

Ay 25.
- Menyelamatkan dengan sempurna orang yang datang Ke Allah Melalui Yesus/Menjadi Pengantara.

1 Tim 2:5 Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,

Menyelamatkan dengan sempurna ==> Dosa ditebus habis.

Bagaimana Kalau kita masih berdosa/melakukan dosa?

1 Yoh 2:1-2
2:1 Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.
2:2 Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.

Karakter yang sempurna dari Kristus ay 26-27

1. Saleh (terjemahan dari asal kata hosios => Holy => Kudus. (alkitab asli Yunani dan KJV)
sangat kudus sehingga kekudusannya itu dapat membuat kita yang dipimpinNya juga kudus.

2. Tanpa salah (diterjemahkan dari asal kata akakos => a=tidak kakos=jahat/kejahatan => harmless)
Karakter ini dipahami Paulus dalam 2 Kor 5:21 Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.

3. Tanpa noda (KJV menyebutnya undefiled => bersih, murni, tidak kotor, tanpa cela.)
Korban sembelihan harus yang tidak bercacat, Imam tidak boleh menyentuh yang tidak tahir sebelum penyembahan (mis: tubuh orang mati atau bangkai hewan). Im 21:1 TUHAN berfirman kepada Musa: "Berbicaralah kepada para imam, anak-anak Harun, dan katakan kepada mereka: Seorang imam janganlah menajiskan diri dengan orang mati di antara orang-orang sebangsanya,

4. Yang terpisah dari orang-orang berdosa
Karena 3 keadaanNya di atas, maka IA terpisah dari keberdosaan itu sendiri.

5. Lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga
lihat Ibr 1:3b Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi
Paulus menjelaskan keadaan ini di Filipi 2:9-11 2:9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,
2:10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,
2:11 dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!

6. IA tidak perlu korban bagi dosa sendiri karena IA tanpa dosa.
Imam di PL harus mempersembahkan korban terlebih dahulu untuk penghapus dosanya sendiri.
Im 16:6 Kemudian Harun harus mempersembahkan lembu jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa baginya sendiri dan dengan demikian mengadakan pendamaian baginya dan bagi keluarganya
Im 16:11 Harun harus mempersembahkan lembu jantan yang akan menjadi korban penghapus dosa baginya sendiri dan mengadakan pendamaian baginya dan bagi keluarganya; ia harus menyembelih lembu jantan itu

7. Yesus merupakan korban tebusan yang sempurna
Yoh 1:29 Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.
Yoh 1:36 Dan ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah!"

ay 28 adalah penutup yang indah ketika penulis surat Ibrani memperlihatkan perbandingan antara Imam Besar PL dan Yesus Kristus.
Kalimat sumpah terambil dari Maz 110:4 TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: "Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek.
Perhatikan bahwa Raja Daud menulis Mazmur 110 ini sekitar seabad setelah Allah memberikan hukumNya bagi Musa. Jadi penggenapan adalah dalam Yesus Kristus.
Ingat Lukas 24:44 Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.

Simpulan

Rasul Paulus menyimpulkan keistimewaan dan keutamaan serta kesempurnaan Karakter Yesus ini dalam Kol 1:27 Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!
1:28 Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.
1:29 Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku

Kehidupan Paulus adalah Pelayanan dan Kesaksian sepanjang hidupnya atas Keselamatan dalam Yesus Kristus.
Jangan mau menukar segala kekhususan Yesus yang kita sudah terima dengan apapun, dan bersyukurlah dengan Pelayanan dan Kesaksian atas anugerah besar ini.

ITT - 7 Juni 2011 – Renungan Pekan Pelkes Hari ke-2 di IS II/8

Saturday, June 4, 2011

Ibrani 1:1-4


Keunggulan Kristus
(Sesuai Bacaan Minggu, 5 Juni 2011)

(Ibrani 1:1-4) Allah Berfirman dengan perantaraan Anak-Nya
1:1 Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi,
1:2 maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.
1:3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,
1:4 jauh lebih tinggi dari pada malaikat-malaikat, sama seperti nama yang dikaruniakan kepada-Nya jauh lebih indah dari pada nama mereka.


Latar Belakang

Surat Ibrani dalah Surat Rasuli yang ditujukan kepada orang Yahudi yang telah menjadi pengikut Kristus.
Penulisnya tidak diketahui, dan pernah menjadi perdebatan panjang di dunia Teologi. Beberapa pandangan menganggap surat ini ditulis oleh Rasul Paulus dengan mendasarkan kepada Ibr 13:23 (Ketahuilah, bahwa Timotius, saudara kita, telah berangkat. Segera sesudah ia datang, aku akan mengunjungi kamu bersama-sama dengan dia.), tetapi oleh pendapat lain dibantah karena tidak sebagaimana Surat Rasuli Paulus, surat ini tidak dimulai dengan salam dan gaya penulisannya pun sangat berbeda.
Terlepas dari itu, kita boleh berpendapat bahwa Surat Ibrani ini ditulis dengan sangat rendah hati dengan tidak mencantumkan identitas penulis, tetapi mengedepankan Kemuliaan Yesus Kristus sebagai Anak Allah dan Imam Besar.
Waktu penulisan mungkin saja sebelum tahun 70 dimana Yerusalem jatuh ke tangan Roma dan dihancurkan, karena tidak dicatat atau disinggung dalam surat ini. Menurut sejarawan Alkitab, hal inilah yang mengakibatkan, kitab ini pada abad ke-2 baru dimasukkan dalam kanonisasi Alkitab.

Secara Umum, Surat Ibrani ini merupakan sebuah surat yang berisi teguran dan nasihat. Sekalipun demikian nasihat-nasihat yang ada di dalamnya bukanlah merupakan surat-surat tanpa dasar yang kuat. Nasihat-nasihat tersebut berdiri di atas dasar yang sangat kokoh yaitu Yesus Kristus sendiri, di mana Yesus Kristus mengadakan pembaharuan dalam praktek hidup maupun dalam kultus religius ibadah orang Yahudi. Surat ini adalah suatu khotbah yang diakhiri dengan sebagaimana suatu surat dengan salam akhir.

Bagian bacaan kita pekan ini, yaitu Hari Minggu sesudah Kenaikan Kristus Yesus ke Surga adalah Ibrani 1:1-4 dari perikop LAI: Allah Berfirman dengan perantaraan Anak-Nya. Perikop ini, adalah suatu perikop yang sarat tentang Kristologi yang sangat dalam, walaupun hanya dilukiskan dalam kalimat-kalimat yang begitu singkat!

Allah yang Berbicara

Allah kita adalah Allah yang berbicara, ya mari lihat dengan seksama ..... "Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya,"

Kalau diuraikan;
a. Allah berbicara
b. Allah berbicara berulang-kali
c. Allah berbicara dalam pelbagai cara
d. Allah berbicara kepada nenek moyang kita
e. Allah berbicara dengan perantaraan nabi-nabi.
f. Allah berbicara dengan perantaraan Anak-Nya
Dan itu semua dilakukan Allah pada dua masa, yaitu zaman dahulu dan zaman akhir ini/sekarang.

Dalam sedikit pendalaman, kita bisa mengungkapkan bahwa sampai masa sekarang ini, Allah berbicara kepada manusia dengan 3 fase:
1. Fase Persiapan - Yaitu masa PL dari masa kitab Kejadian sampai Maleakhi (Perjanjian Allah dengan Nuh, Abraham, Ishak dan Yakub serta Musa - Nubuatan tentang Mesias)
2. Fase Penggenapan - Yaitu masa kedatangan Yesus Kristus (Luk 24:44 Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.")
3. Fase Penjelasan - Yaitu masa Roh Kudus bekerja melalui Rasul-rasul sampai Murid-murid yang menjelaskan tentang Ajaran Kristus.(Amanat Agung Yesus Kristus Mat 28:18-20 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.").

Keunggulan Kristus

1:2 maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya, yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta.
1:3 Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan. Dan setelah Ia selesai mengadakan penyucian dosa, Ia duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi,

Dari ayat 2 sampai 3 ada 7 (tujuh) keutamaan Yesus Kristus yang dapat kita lihat:

1. yang telah Ia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. (dilukiskan dengan jelas dalam Filipi 2:9-11 = 9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 11 dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!)

2. Oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta. (Yoh 1:3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan - Kol 1:16 karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.)

3. Ia adalah cahaya kemuliaan Allah (Mat 17:2 Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.)

4. gambar wujud Allah (karakter Allah; 1 Yoh 4:7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.)

5. menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan (Kol 1:17 Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.)

6. mengadakan penyucian dosa (Yoh 1:29 Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.)

7. duduk di sebelah kanan Yang Mahabesar, di tempat yang tinggi (Luk 22:69 Mulai sekarang Anak Manusia sudah duduk di sebelah kanan Allah Yang Mahakuasa.)

Singkat, padat dan jelas, 7 keutamaan Kristus dilukiskan dalam 2 ayat ini, bahkan di ayat 4 Yesus Kristus dinyatakan lebih tinggi dari malaikat (Mat 4:11 Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus) dan bahkan nama-Nya adalah dari Allah (Mat 1:21 Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.") ~ Yesus = Tuhan Menyelamatkan ... bukankah nama itu indah?
Malaikat biasa disebut anak-anak Allah (Ayub 2:1 Pada suatu hari datanglah anak-anak Allah menghadap TUHAN dan di antara mereka datang juga Iblis untuk menghadap TUHAN.) tetapi Yesus Kristus adalah Anak Allah (Luk 1:35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.).

Penutup/Aplikasi

1. Ketika Tuhan berbicara kepada kita, itu adalah suatu proses yang berkesinambungan tanpa henti, yang dimulai sejak penciptaan sampai detik ini. IA ingin hubungan-NYA dengan manusia yang dirusak oleh dosa terus menerus diperbaiki, dan untuk itu Allah sendiri menjelma sebagai Manusia di dalam Yesus Kristus. Itu menandakan Kasih Allah begitu luar biasa dan tanpa batas kepada kita ciptaanNya. Untuk itu kita sebagai murid Yesus, wajib mengungkapkan syukur kita dengan senantiasa mempelajari apa yang menjadi Kehendak Allah, dan melaksanakan perintahNya.

2. Menjadi Manusia yang terus menerus diperbaharui, sebagai tema tahunan kita, harus kita aminkan dalam konteks bacaan kita hari ini, dengan memahami siapa Kristus Yesus sebagai Anak Allah yaitu inkarnasi Allah sendiri. Memahami salah satu dari sekian banyak keunggulanNya yaitu “Karena Dia Allah menjadikan Alam Semesta ini”, menjadi peringatan bagi kita untuk senantiasa hidup menjaga Lingkungan Hidup kita dengan hati-hati, sehingga tema bulan Mei-Juni ini yaitu “Manusia Baru Menjadi Berkat bagi Lingkungan Hidup” dapat senantiasa kita wujudkan dalam kehidupan kita dan bukan hanya slogan belaka.

3. Bulan Pelkes yang kita laksanakan pun, jangan hanya sekedar dilaksanakan dengan Ibadah Ritual belaka, tetapi hendaknya dengan rendah hati kita melangkah ke luar dari tembok dan lingkungan gereja kita, serta menggapai masyarakat luas dalam memberikan Pelayanan dan Kesaksian. Kesaksian bahwa Allah kita berbicara dari zaman dahulu, sampai saat ini, berbicara melalui Anak-Nya Yesus Kristus, yang ketika Naik ke Surga menurunkan Rohnya yang Kudus bagi kita semua, akan menghasilkan pelayanan yang mewujudkan Damai Sejahtera.

Mari, jangan menyia-nyiakan Keselamatan yang sangat Besar ini dengan berpaling kembali menjadi Manusia Lama dalam dosa. Sebagaimana yang diingatkan oleh Surat Ibrani ini, sebagai pewaris keunggulan Kristus Yesus kita harus melangkah maju sebagai Manusia Baru yang diselamatkan Allah.

ITT – Minggu, 5 Juni 2011 PF RGB 07:00

Saturday, March 1, 2008

Ibrani 13:1-6


13:1 Peliharalah kasih persaudaraan!
13:2 Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat.
13:3 Ingatlah akan orang-orang hukuman, karena kamu sendiri juga adalah orang-orang hukuman. Dan ingatlah akan orang-orang yang diperlakukan sewenang-wenang, karena kamu sendiri juga masih hidup di dunia ini.
13:4 Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah.
13:5 Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."
13:6 Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?"

Hidup Kristiani itu Bukan Teori

Apa kehendak Allah bagi kita? Yoh 15:12: Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. Kedengarannya gampang. Tapi kenyataannya tidak begitu gampang dilaksanakan, selagi kita memiliki masalah mengasihi diri kita sendiri.

Tuhan Yesus bahkan mengasihi Musuh Nya. Kasih yang amat menakjubkan!
Kita didukung bahwa kita dapat melakukan semua melalui Kristus yang akan memberi kita kekuatan (Fil. 4:13 Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku). Kehendak Nya pada pokoknya menggantikan milik kita.

Ibrani 13:1-6 mengajarkan kita langkah praktis kehidupan Kristiani:

1. Peliharalah Kasih Persaudaraan!

2. Jamulah orang asing (ayat 2). (Mat 25:40 Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku). Pengikut Kristus harus proaktif dan mencari-cari peluang untuk "menjamu" orang asing, seperti perkataan yang lemah lembut kepada orang yang duduk di samping kita di angkutan umum.

3. Menderita dengan yang menderita (Ayat 3). Apakah kita menangis, atau sedikitnya sedih, pada waktu melihat gambaran anak-anak yang menderita ditimpa bencana alam pada televisi atau disekeliling kita? Yesus tersentuh dengan rasa kasihan bahkan untuk manusia bersalah. Kita harus tersentuh juga sebagaimana dicontohkan Yesus, dengan melayani orang berkesusahan sebagai ungkapan syukur kita yang telah dilayani oleh Kristus. Karena penderitaan yang dialami oleh manusia di lain tempat, juga dapat terjadi pada diri kita sewaktu-waktu

4. Hormati ikatan perkawinan yang suci (ayat 4).

5. Tunjukkan total ketergantungan kepada Allah (Ayat 5, 6). Ayat yang sebenarnya berbicara tentang mengingini & keinginan. Apakah anak seorang raja minyak akan punya keinginan sama dengan anak-anak kita? Samasekali tidak. Demikian juga kita sebagai anak-anak Raja. Kita harus berterima kasih dan memuji Tuhan secara terbuka untuk Kebaikan Nya dan Kemurahan hati Nya.

Ada model doa permohonan yang sangat menarik untuk dijadikan pegangan dalam Amsal 30:7-9: Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku.

Mari kita jadi praktisi dalam kehidupan Kekristenan kita sehingga dunia boleh mengenal Yesus sebagai Teman yang peduli. Amin.

ITT - 1 Maret 2008 - Ibadah Doa Pagi