Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri
Showing posts with label Kolose. Show all posts
Showing posts with label Kolose. Show all posts

Wednesday, May 22, 2024

Menghidupi Masa Kini

Ingatlah bahwa apa yang engkau peroleh dan nikmati hari ini adalah hal yang pernah engkau doakan dan usahakan di hari-hari yang lalu. Jadi, teruslah berdoa, bersyukur, dan berusaha.

Kalimat bijak ini senantiasa kami ajarkan kepada anak dan istri, serta menjadi pengingat di meja makan kami. Kalimat itu adalah rangkuman dari perjalanan hidup kami, nasihat orang tua, dan ajaran Alkitab.
Tetapi, apakah kalimat bijak ini sudah tepat secara Iman Kristen? Mari kita telaah:

Antara Taburan Doa, Usaha, dan Dimensi Anugerah


Pernahkah kita berhenti sejenak di tengah kesibukan hari ini dan menyadari satu hal: Kondisi yang kita keluhkan atau kita anggap biasa saat ini, mungkin adalah mukjizat yang sangat kita doakan lima atau sepuluh tahun yang lalu? Ketika kita sedang berada di bawah, kita berdoa meminta pekerjaan. Ketika pekerjaan itu didapat dan mulai melelahkan, kita sering lupa untuk bersyukur. Mengingat bahwa apa yang kita nikmati hari ini adalah buah dari air mata, doa, dan keringat di masa lalu adalah jangkar yang akan menjaga jiwa kita tetap rendah hati.


Namun, untuk memahami prinsip ini secara utuh, kita tidak bisa berhenti pada pemahaman yang dangkal. Mari kita renungkan hal ini lebih dalam.


1. Hukum Tabur Tuai: Doa dan Usaha sebagai Benih


Alkitab sangat menghargai proses. Tuhan tidak selalu memberikan hasil yang instan; Ia mengundang kita untuk bermitra dengan-Nya melalui doa dan kerja keras. Apa yang kita nikmati hari ini adalah panen dari benih keyakinan dan ketekunan yang kita tanam di masa lalu. Tuhan melihat setiap malam di mana Anda berseru kepada-Nya, dan Ia menghargai setiap tetes keringat perjuangan Anda yang jujur.


Mazmur 126:5-6 (TB) "Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya."


2. Pendalaman Kritis: Melepaskan Diri dari Teologi Transaksional


Secara kritis, kita harus berhati-hati agar tidak jatuh pada pemahaman yang murni transaksional—yakni berpikir bahwa "saya mendapat A hanya karena saya telah melakukan B dan berdoa C." Mengapa hal ini perlu dikritisi?


Jika kita berpikir semuanya murni hasil usaha dan doa kita sendiri, kita bisa menjadi sombong saat berhasil, dan merasa dihakimi saat gagal atau ketika doa seolah tidak terjawab. Padahal, ada dimensi yang jauh lebih besar dari sekadar "sebab-akibat" manusiawi, yaitu anugerah (kasih karunia) Tuhan.


Kenyataannya, banyak hal baik yang kita nikmati hari ini bahkan tidak pernah terpikirkan untuk kita doakan. Adakah di antara kita yang berdoa agar jantungnya tetap berdetak saat tidur semalam? Siapa yang secara spesifik meminta perlindungan dari bahaya di jalan yang tidak kita sadari? Tuhan bekerja jauh melampaui daftar permintaan kita.


Efesus 3:20 (TB) "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita."


Keberhasilan hari ini bukanlah trofi atas kehebatan doa dan usaha kita semata, melainkan bukti nyata kemurahan hati Allah yang berkenan memberkati usaha kita yang terbatas.


3. Tiga Pijakan untuk Melangkah ke Depan


Dengan menyadari bahwa hidup kita saat ini adalah persimpangan antara usaha di masa lalu dan anugerah Tuhan yang tak terbatas, bagaimana seharusnya kita bersikap untuk hari esok?


  • Teruslah Berdoa (Sikap Ketergantungan): Jangan berhenti berdoa hanya karena Anda sudah merasa nyaman. Doa bukanlah sekadar "mesin pemesanan", melainkan napas persekutuan yang mengingatkan bahwa kita sangat bergantung pada Tuhan. Kolose 4:2 (TB) "Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur."
  • Teruslah Bersyukur (Sikap Kecukupan): Rasa syukur adalah penawar paling ampuh melawan keserakahan dan rasa tidak puas. Bersyukur mengkalibrasi ulang hati kita untuk melihat apa yang sudah ada, bukan apa yang belum ada. 1 Tesalonika 5:18 (TB) "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."
  • Teruslah Berusaha (Sikap Penatalayanan): Kerja keras bukanlah cara untuk "menyuap" Tuhan agar memberi berkat, melainkan bentuk tanggung jawab kita atas potensi dan waktu yang Ia titipkan. Lakukan yang terbaik hari ini untuk mempersiapkan benih yang baik bagi masa depan. Kolose 3:23 (TB) "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."


Kesimpulan


Ingatlah kembali perjalanan kita. Tersenyumlah melihat di mana kita berdiri hari ini, karena sering kali kita berdiri di atas tanah yang dulunya hanya menjadi impian, atau duduk di kursi yang bahkan lupa untuk kita doakan. Biarkan kesadaran ini menghancurkan segala keangkuhan, melenyapkan keluh kesah, dan membangkitkan semangat untuk terus menabur doa dan usaha yang benar demi masa depan, sambil senantiasa bersandar pada anugerah-Nya.


Pencerahan atas kalimat bijak di atas, akhirnya menjadi:


Ingatlah bahwa apa yang engkau peroleh dan nikmati hari ini adalah karena Kemurahan hati Tuhan, termasuk hal-hal yang pernah engkau doakan dan usahakan di hari-hari yang lalu. Jadi, teruslah bersyukur, berdoa, dan berusaha.


ITT - Rabu 22 Mei 2024


Tuesday, August 18, 2009

Kolose 3:5-17


3:5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,
3:6 semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka].
3:7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya.
3:8 Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.
3:9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,
3:10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;
3:11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.
3:12 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.
3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.
3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.
3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.
3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.
3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.


Jemaat Kolose terletak di wilayah Asia bagian barat yang sekarang disebut Turki dan berada di bawah kekuasaan Romawi. Injil mungkin mencapai Kolose ketika Paulus berada di Efesus (Kisah 19:10), mungkin melalui Epafras, orang kolose (Kol 1:7;4:12,13).

Dalam pasal 1:2-14, rasul Paulus mengucap syukur kepada Allah sehubungan dengan kehidupan jemaat Kolose yang semakin mengalami kemajuan dalam Iman, dan Kasih. Paulus meyakinkan orang-orang percaya di Kolose dalam fasal 2:6-7, bahwa karena mereka telah menerima Kristus maka mereka harus tetap hidup di dalam Dia, berakar di dalam Dia, dibangun di atas Dia dan tetap bertambah teguh dalam iman kepada Dia.

Jikalau kita memperhatikan dengan seksama keseluruhan surat kolose dari fasal 1 sd fasal 4, maka salah satu hal yang ditegaskan oleh rasul Paulus ialah berkenaan dengan tuntutan Allah kepada setiap orang percaya untuk senantiasa hidup dalam kebaruan yang sejati.

Sehubungan dengan hal ini maka ada beberapa prinsip mendasar yang rasul Paulus kemukakan dalam pasal 3:5-17.

I. Menanggalkan Manusia Lama (ayat 5-9)

Setiap orang percaya yang telah diselamatkan oleh Allah seharusnya hidup dalam kebaruan sejati. Kehidupan dalan kebaruan sejati ini ditandai dengan adanya tindakan untuk menanggalkan kehidupan lama/cara hidup lama yang dikuasai oleh dosa. Tindakan menanggalkan manusia lama ini beranjak dari sebuah kenyataan bahwa Yesus Kristus telah mematahkan kuasa dosa serta membebaskan kita dari kekuatan dosa yang membelenggu kita sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menanggalkan manusia lama tersebut.
Dalam Roma 8:13, rasul Paulus mengungkapkan sebuah kebenaran penting tentang upaya setiap orang percaya untuk menanggalkan manusia lamanya, yaitu dengan cara hidup senantiasa dalam Roh. Hal ini sangat beralasan karena tidak mungkin “daging dapat meyelesaikan masalah daging” tetapi sebaliknya hanya “Rohlah yang dapat menyelesaikan masalah daging” sehingga oleh karenanya maka Paulus katakan “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup” (Roma 8:13).

Ada dua kata yang dipergunakan oleh rasul Paulus untuk menegaskan bahwa setiap orang percaya yang hidup dalam kebaruan sejati harus menanggalkan manusia lamanya ialah:

Pertama, “Matikanlah”. Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, Kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala.

Kedua, “Buanglah”. Tetapi sekarang buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendsutai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, Kolose 3:8-9.

II. Mengenakan Manusia Baru, ayat 9-17

Setiap orang percaya yang hidup dalam kebaruan sejati tidak hanya menanggalkan manusia lama tetapi juga harus siap untuk mengenakan manusia baru. Manusia baru yang dimaksud menunjuk pada cara berpikir serta cara bertindak yang berbeda dengan kehidupan lama yang pernah dihidupi. Paulus mengungkapkan model manusia baru yang harus dikenakan yaitu manusia baru yang penuh dengan belas kasihan, penuh dengan kemurahan, penuh dengan kerendahan hati, penuh dengan kelemahlembutan dan kesabaran, Kolose 3:12.

Manusia baru tidak dikenakan/dipakai pada waktu-waktu tertentu saja. Dalam segala situasi, kita harus tetap mengenakan manusia baru. Dengan kata lain mengenakan manusia baru merupakan sebuah kewajiban dari setiap orang yang hidupnya telah diselamatkan dan diperbaharui oleh Allah sehingga bukan sebuah pilihan mau atau tidak mau (suka tidak suka). Penegasan rasul Paulus tentang mengenakan manusia baru menunjuk pada tindakan untuk mengenakan ”pakaian” manusia baru secara utuh dan bukan sepenggal-sepenggal (sebagian).

Rasul Paulus juga menjelaskan tentang bukti yang harus ditampilkan oleh setiap orang percaya yang telah mengenakan manusia baru dalam kehidupan sehari-hari, yaitu:

Pertama, Dalam hubungan pernikahan. Kolose 3:18-19, Istri harus tunduk kepada suami dan suami harus mengasihi istri, dan jangan berlaku kasar terhadap dia.

Kedua, Dalam hubungan keluarga. Kolose 3:20-21, Anak-anak harus taat kepada orang tua dan sebaliknya bapa-bapa jangan menyakiti hati anaknya.

Ketiga, Dalam hubungan kerja. Kolose 3:22; 4:1, Hamba-hamba taatilah tuanmu dan tuan-tuan berlaku adil dan jujur kepada hambanya.

KESIMPULAN:

1. Setiap orang percaya yang hidup dalam kebaruan sejati harus membuktikan bahwa dirinya telah menanggalkan manusia lamanya dengan mematikan dalam dirinya segala sesuatu yang duniawi serta bertindak untuk membuangnya dari kehidupannya.

2. Setiap orang yang hidup dalam kebaruan sejati wajib mengenakan manusia baru yang diimplementasikan dalam hidup keseharian sehingga pikiran, hati dan karakter Kristus menjadi nyata bagi orang lain di sekitarnya.

ITT - 18 Agustus 2009

Thursday, September 11, 2008

Kolose 3:5-14


Perikop: Manusia Baru

3:5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,
3:6 semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka].
3:7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya.
3:8 Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.
3:9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,
3:10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;
3:11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.
3:12 Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.
3:13 Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.
3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan

Kolose 3:8-9 berbunyi: “Tetapi sekarang buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui.”

Ef.4:17-32 adalah penafsiran yang tepat atas bagian pembacaan kita hari ini.
(Ef 4:17 Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia
4:18 dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.
4:19 Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.
4:20 Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.
4:21 Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,
4:22 yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,
4:23 supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,
4:24 dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.
4:25 Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.
4:26 Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu
4:27 dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.
4:28 Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan.
4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.
4:30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.
4:31 Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.
4:32 Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.)

Inilah prinsip penafsiran Alkitab yang penting. Yaitu Alkitab ditafsirkan oleh Alkitab sendiri. The best commentary of the Bible is the Bible itself. Dari ayat tersebut, kita mengerti bahwa arti menanggalkan manusia lama bukan hanya soal perilaku. Perhatikan tadi Kolose menulis “karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya. Manusia lama itu merujuk kepada siapa diri kita, yaitu perspektif hidup kita, sikap hidup kita, prioritas hidup kita, perasaan kita, dan perbuatan kita.

Mengenakan manusia baru dalam Kolose dijelaskan sebagai berikut di ayat 12: “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihiNya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran.” Dalam sekolah Kristus, inilah baju seragam yang harus kita kenakan. Kita belajar dalam sekolah Kristus untuk ditransformasi menjadi orang yang berbelas kasih, bermurah hati, rendah hati, lemah lembut, dan sabar.

Analogi yang paling tepat menggambarkan kebenaran ini adalah peristiwa Yesus membangkitkan Lazarus yang telah mati selama 4 hari dan tubuhnya mulai membusuk dan bau. Namun Yesus bersabda dan firmanNya tsb membangkitkan Lazarus dari kematian. Yoh 11:44 mencatat “Orang yang telah mati itu datang keluar, kaki dan tangannnya masih terikat dengan kain kapan, dan mukanya tertutup dengan kain peluh.”

Anda ingat apa kalimat berikut yang keluar dari mulut Tuhan kita? “BUKALAH KAIN-KAIN ITU, dan biarkanlah ia pergi.” Bukalah kain-kain itu! Tanggalkan baju kuburan itu. Copot baju itu karena itu baju untuk orang mati itu. Karena ia sekarang tidak lagi mati, tetapi hidup.

Kalau Anda dan saya yang tadinya mati secara rohani, dan telah mendengar seruan Kristus yang membangkitkan kita dari kematian, namun kita masih berjalan kesana-kemarin dengan baju kuburan, ada sesuatu yang tidak beres dengan hidup kita. Kita bukan orang mati, mengapa kita masih pakai baju orang mati? Kita sudah dimerdekakan dari belenggu dosa, mengapa kita masih pakai baju orang tahanan?

Jika Anda dan saya mengaku telah percaya Kristus, masuk dalam sekolah Kristus, namun masih memiliki perspektif hidup, nilai hidup, sikap hidup, prioritas hidup, dan kebiasaan-kebiasaan yang sama seperti dahulu, tidak ada perubahan, Anda dan saya perlu bertanya, BENARKAH SAYA SUDAH MENGENAL KRISTUS? BENARKAH SAYA SUDAH DISELAMATKAN?

Kristus berkata, “Ganti bajumu”, namun kita cuma merapikan baju kita yang lama, kita cuma tambahin aksesoris di baju kita, pakai pin, pakai dasi, ditutup dengan jaket, namun pakaian lapisan dalam yang lama itu tetap kita kenakan. Artinya: Setelah kenal Kristus, kita tetap adalah manusia yang cinta uang, yang terikat dengan pornografi, yang memandang rendah orang lain, yang suka mengumpat, yang egois, dan seterusnya. Kita masuk sekolah Kristus tidak dengan hati yang sungguh-sungguh. Hidup yang telah dibenarkan dalam Kristus akan melahirkan kesucian hidup, kecintaan terhadap Allah terhadap pekerjaan Allah, dan kebencian terhadap dosa. Jika setelah dibenarkan dalam Kristus tidak ada kesucian hidup, keselamatan kita harus kita pertanyakan.

1 Yoh 2:15 mencatat: Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.

Mari kita periksa diri kita saat ini. Kita yang mengaku Kristen, tetapi kita tidak pernah punya niat untuk meninggalkan dunia, dosa, dan si Jahat, tidak ada kemauan untuk berubah, kita perlu meragukan keselamatan kita sendiri. Jangan pikir karena sudah jadi anggota gereja, ikut pelayanan dalam gereja, maka keselamatan Anda terjamin. Perubahan gaya hidup adalah tanda dari keselamatan, buah dari keselamatan.

Hidup sebagai orang percaya merupakan suatu pergumulan, perjuangan dan peperangan. Ketika kita sudah memilih hidup bagi Kristus, maka kita menghadapi berbagai-bagai pencobaan. Peperangan tidaklah selalu melawan iblis, tetapi kedagingan dan cara hidup manusia lama kita, dan itu haruslah diperangi. Diperlukan pemrosesan untuk menjadi manusia baru, dan minimal ada tiga prinsip kebenaran Alkitab sebagai langkah yang harus ditempuh, yaitu:

1. Tanggalkan manusia lama. Kalau kita sudah menjadi orang Kristen, tetapi masih hidup sebagai manusia lama, apa yang harus kita perbuat? Bagaimana caranya kita menanggalkan segala bentuk kehidupan lama kita? Kekuatan yang bagaimana yang memberikan kita sanggup menanggalkannya? Tuhan tidak pernah mengubah kehidupan seseorang kalau orang itu tidak mau berubah. Dengan mendengar Firman Allah dan mau menyadari akan kekurangan yang ada padanya dan mohon Roh Kudus memberikan kekuatan, maka orang itu memiliki kemampuan untuk menanggalkan hidup manusia lama. Hanya dengan pekerjaan Firman Allah dan Roh Kudus, seseorang dapat diubah wataknya.

2. Kenakanlah manusia baru. Kenakanlah manusia baru yang diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan. Jangan berkata dusta, tetapi berkatalah jujur dan benar. Kenakanlah manusia baru di dalam Kristus, yaitu hidup dalam kasih, sukacita, damai sejahtera, sabar, lemah lembut, baik hati, sederhana, berbudi luhur, berpengetahuan, saleh, murah hati, dan penguasaan diri. Dan jika semuanya itu ada pada diri kita, maka nyatalah kemuliaan Allah melalui hidup kita, sehingga kita dapat menjadi berkat bagi semua orang.

3. Berjalan dalam pimpinan Roh Kudus. Hanya melalui hidup yang dipimpin Roh Kudus, kita mampu menjaga dan memelihara kehidupan kita agar tidak jatuh kembali ke hidup manusia lama. Dan dengan hidup takut akan Tuhan, di dalam kekudusanNya, maka melalui FirmanNya kita hidup dan berjalan dalam pimpinan Tuhan dan Roh KudusNya. Roh Kudus akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran, menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi, dan menyatakan rahasia Allah. Janganlah kita mendukakan Roh Kudus.

Marilah kita hidup sebagai manusia baru dalam pimpinan Roh Kudus dan kita dapat menyatakan kehendak Roh Kudus melalui kehidupan kita. Amin

ITT - 10 September 2008