Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri
Showing posts with label Makalah Rohani. Show all posts
Showing posts with label Makalah Rohani. Show all posts

Sunday, May 30, 2010

Renungan di Minggu Trinitas 2010

Hari Minggu Trinitas dirayakan satu minggu sesudah hari Pentakosta (Pentakosta I). Ia merupakan hari Minggu penutup cyclus hari-hari raya besar. Di sini pernyataan ALLAH dan kekudusan keesaanNYA menjadi pusat penyembahan Jemaat.Jadi dirayakan untuk menyaksikan ALLAH yang Esa.

Warna dasar : Putih
Lambang/Logo : Lingkaran segi tiga/triquetra
Warna lambangnya : Merah

Arti : Simbol ini merupakan simbol mula-mula dari ketritunggalan. Tiga buah lekukan yang tidak terputus. Pada pusat dari ketiga lekukan itu terbentuklah sebuah segitiga yang merupakan simbol warisan Tritunggal.

Karunia-karunia Roh Kudus

1. Jenis-jenis karunia Roh dan artinya.
2. Tujuan mengapa karunia-karunia Roh itu diberikan.
3. Bagaimana cara untuk memperoleh karunia-karunia Roh itu.
4. Durasi (jangka waktu berlakunya karunia Roh itu).

1. Jenis-jenis Karunia Roh Kudus dan Artinya

Berdasarkan 1 Korintus 12:7-11, kita dapat mengetahui adanya sembilan jenis karunia Roh Kudus yaitu:

1. Berkata-kata dengan hikmat.
Kata hikmat adalah Sofias dalam bahasa Yunani yang berarti hikmat atau kecerdasan. Hikmat yang demikian inilah yang diminta Salomo dari Allah sehingga dia mampu untuk menyelesaikan perkara dua orang perempuan sundal yang memperebutkan seorang anak (1Raja-raja 3:16-28). Yesus menubuatkan tentang penderitaan dan penganiayaan yang akan menimpa murid-muridNya sehingga Dia berkata Apabila kamu diperhadapkan kepada pemimpin-pemimpin jangan kuatir sebab Roh Kudus yang akan mengatakan perkataan-perkataan yang akan kamu ucapkan (Matius 10:28). Pada masa infansi gereja itu tentu hikmat atau kecerdasan untuk mengarahkan gereja itu sangat dibutuhkan terlebih apabila dilihat dari sisi para penolak-penolak kekristenan yaitu orang-orang Yahudi dan kafir. Tanpa mendapat hikmat dari Allah maka para rasul tidak akan dapat memberikan solusi pada masalah yang dihadapi oleh Jemaat abad pertama yaitu adanya sikap pandang rupa dalam memberikan kebajikan kepada janda-janda dengan melalaikan janda-janda keturunan Gerika (Kisah rasul 6).

2. Berkata-kata dengan Pengetahuan.
Kata pengetahuan dalam hal ini berasal dari kata Gnoseos (bahasa Yunani) yang dapat berarti pengetahuan atau mengingat-ingat. Roh Kudus memberikan kemampuan bagi orang percaya untuk mengingat perkara-perkara yang telah dikatakan oleh Yesus pada saat bersama-sama dengan mereka. Hal itu sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh Yesus yang akan dilakukan Roh Kudus apabila Roh Kudus turun (Yohanes 14:26) “...... ialah akan mengajarkan kepadamu segala perkara itu dan akan mengingatkan kamu segala sesuatu yang Aku sudah katakan kepadamu.” Allah tidak ingin agar FirmanNya itu dilupakan begitu saja melainkan Dia menginginkan agar firmanNya itu tetap disimpan didalam hati setiap orang yang percaya (Kolose 3:16-17).

3. Karunia untuk Menyembuhkan.
Dalam Kisah Rasul 3, Lukas menuliskan penyembuhan seorang timpang yang dilakukan Petrus dan Yohanes pada pintu gerbang Bait Allah yang bernama Pintu Elok. Dalam ayat 6 Petrus berkata agar didalam nama Yesus orang tersebut dapat berjalan. Selanjutnya didalam ayat 7 dikatakan seketika (segera) itu juga dia berjalan dan tidak hanya itu saja melainkan dia juga meloncat sebagai tanda bahwa dia sembuh total. Petrus tidak harus teriak-teriak didalam nama Yesus lalu kelumpuhan itu berangsur-angsur pulih seperti yang dilakukan semua orang-orang yang mengatakan dirinya dapat melakukan penyembuhan. Karunia penyembuhan bukan semata-mata bertujuan untuk menyembuhkan orang-orang sakit. Karena jikalau demikian Paulus selayaknya telah menyembuhkan Teropimus yang ditinggalkan dalam keadaan sakit di Miletus (2 Timotius 4:20). Mengapa dia tidak menyembuhkan padahal dia dapat menyembuhkan bermacam-macam penyakit? Karena karunia penyembuhan itu bukan menjadi tanda kepada orang percaya melainkan kepada orang yang tidak percaya.

4. Karunia Iman.
Karunia iman ini ditujukan kepada cara bagaimana seseorang itu percaya yaitu dengan mendengarkan firman Allah (Roma10:17) tentunya firman yang disampaikan langsung oleh Roh Kudus terhadap seseorang. Dalam tulisannya Paulus berkata “Roh Kudus berkata” (1 Timotius 4:1 ; Ibrani 3:7). Ini berarti bahwa adakalanya Roh Kudus berbicara langsung terhadap seseorang Kristen yang menjadikan iman orang itu semakin bertambah.

5. Karunia Mengadakan Mujizat.
Dalam teks ini kata mujizat berasal dari kata Yunani yaitu Dunaneon yang berarti kuasa atau kekuatan. Kata dunaneon ini biasanya ditujukan kepada ledakan yang maha dasyat tetapi juga ditujukan kepada suatu tindakan yang maha menakjubkan karena bersifat diluar kekuatan normal (supranatural). Kekuatan yang demikian hanya dimiliki oleh Allah. Nikodemus percaya kepada Sabda Kristus sesudah dia melihat mujizat (Yohanes 3:1, 2). Simon tukang sihir juga percaya kepada Pilipus sesudah dia melihat mujizat (Kisah Rasul 8:13).

6. Karunia bernubuat.
Dalam teks ini kata bernubuat adalah Propheteia yang berarti; 1. Menyatakan hal-hal yang pasti akan terjadi pada hari yang akan datang. 2. Ditujukan untuk mengajar. Dalam teks ini arti bernubuat cenderung ditujukan kepada tindakan seseorang yang mengajarkan firman Allah sesuai dengan apa yang dinyatakan Roh Kudus kepadanya. Hal itu dengan jelas digambarkan Paulus dalam 1 Korintus 4:4, 29-31.

7. Karunia untuk Membedakan Roh.
Karunia seperti ini ditujukan kepada karunia yang dimiliki seseorang untuk membedakan pengajaran. Dalam 1 Yohanes 4:1, 2 Yohanes menasehatkan orang Kristen abad pertama untuk menguji roh (pengajaran), tentu mereka harus mendapat karunia Roh agar dapat melakukannya.

8. Karunia Bahasa Roh.
Ditujukan kepada kemampuan seseorang berbicara dalam bahasa asing yang tidak pernah dipelajari sebelumnya. Hal itu dikaruniakan Roh Kudus kepada orang-orang tertentu agar pemberitaan injil itu tidak terkendala hanya karena bahasa. Contoh yang tepat untuk ini terdapat pada Kisah Rasul 2:1-8.

9. Karunia untuk mengartikan Bahasa Roh.
Ditujukan kepada karunia yang dimiliki seseorang untuk mengartikan maksud firman Allah yang disampaikan oleh seseorang yang mendapatkan karunia bahasa Roh dan bukan berarti menterjemahkan.

2. Tujuan Karunia Roh Kudus

Karunia-Karunia Roh Kudus diberikan oleh Roh Kudus dengan tujuan tertentu, dan tujuan itu dapat dibagi dalam tiga bagian besar yaitu:

1. Untuk meneguhkan firman Allah.
Objek pemberitaan firman Allah yang memerlukan karunia Roh ini adalah orang-orang yang tidak percaya. Jikalau mereka sudah melihat sesuatu yang menakjubkan diluar dari kemampuan manusia (kekuatan supranatural) maka umumnya mereka akan percaya. Nikodemus percaya kepada Yesus Kristus sesudah melihat mujizat yang dilakukan oleh Yesus (Yohanes 3:1, 2). Dalam Markus 16:15-20 Yesus menyuruh murid-muridNya untuk memberitakan Injil. Yesus mengetahui bahwa pemberitaan itu akan kurang mendapat respon apabila tidak disertai tanda-tanda ajaib, Itulah sebabnya dalam ayat 20 dikatakan bahwa tanda-tanda ajaib itu meneguhkan pemberitaan mereka. Hasil yang pertama dari pemberitaan yang disertai dengan mujizat terdapat dalam Kisah Rasul 2:1-41, yaitu dibaptiskannya kira-kira 3000 orang yang percaya setelah mereka melihat mujizat Allah.

2. Bertujuan untuk meneguhkan Sidang Jemaat (1 Korintus 14:2).
Paulus berkata dalam Roma 10:17 bahwa iman itu timbul oleh sebab mendengar Firman Allah yang dilakukan Allah dengan memberikan karunia Roh Kudus yaitu bernubuat (mengajar) firman Allah. Sebagai hasil pengajaran itu Sidang Jemaat akan semakin teguh didalam iman. Sebaliknya jikalau Roh Kudus tidak memberikan karunia bernubuat kepada seseorang dari anggota jemaat, maka pengajaranpun tidak ada dan sebagai akibatnya iman atau keyakinan Jemaat itupun jadi rapuh dan mengarah kepada gaya hidup duniawi serta mengikuti ajaran-ajaran yang kontradiksi dengan firman Allah.

3. Bertujuan untuk meneguhkan individu.
Allah sangat peduli terhadap perorangan maupun kelompok. Untuk meneguhkan iman seseorang itu Roh Kudus mengaruniakan: Iman - tentu melalui perkataan yang dikatakan langsung oleh Roh Kudus itu kepada yang bersangkutan. Paulus mendengar Roh Kudus berbicara kepadanya secara langsung, 1 Timotius 4:1, “.... Roh Kudus berkata dengan jelasnya ....” Hal ini tentu akan menjadi nilai plus bagi seseorang yang mengalami hal yang demikian yang kemudian akan menjadikan imannya semakin kuat.

3. Cara Untuk Menerima Karunia Roh Kudus

Dalam Alkitab Perjanjian Baru kita mendapat informasi bahwa ada dua cara untuk menerima karunia-karunia Roh itu. Yang pertama adalah melalui baptisan Roh Kudus. Sebelum kenaikanNya ke surga, Yesus telah berpesan kepada rasul-rasul itu agar tidak meninggalkan Yerusalem karena mereka akan menerima janji Allah, dimana Yohanes membaptiskan dengan air tetapi mereka akan dibaptis dengan Roh Kudus (Lukas 4:48; Matius 3:11; Kisah Rasul 1:4, 5). Selanjutnya dalam Kisah Rasul pasal dua dinyatakan bahwa pada hari raya Pentakosta yang pertama sesudah kebangkitan Kristus, rasul-rasul dipenuhi dengan Roh Kudus yang memenuhi tempat mereka berhimpun yang turun menyerupai lidah api. Sebagai hasilnya rasul-rasul penuh dengan Roh Kudus (baptisan Roh Kudus) dan mendapat salah satu karunia Roh yaitu berkata-kata dalam bahasa lain. Hal yang sama juga dialami oleh keluarga Kornelius. Ketika Petrus menyampaikan Firman Allah, Roh Kudus turun ke atas sekalian orang yang mendengar (Kornelius dan kaum keluarganya) (Kisah Rasul 10:24), persis seperti yang terjadi pada Kisah Rasul 2:1-4. "Dapatkah seorang menegahkan air itu daripada membaptiskan orang yang sudah menerima Roh Kudus sama seperti kami ini?" (Kisah Rasul 10:47). Sebagai konsekuensi kejadian tersebut, keluarga Kornelius berbicara di dalam berbagai-bagai bahasa sehingga orang-orang yang datang dengan Petrus-pun heran dan berkata bahwa Allah-pun mencurahkan RohNya kepada orang kafir yang juga adalah penggenapan nubuatannya di dalam Yoel 2:28-30.

Kemudian cara yang ke-dua adalah dengan penumpangan tangan rasul. Orang-orang yang mendapat tumpangan tangan rasul akan mendapat karunia Roh Kudus. Tentu penumpangan itu bukan atas kemauan rasul itu sendiri melainkan Roh Kudus, “Tetapi sekaliannya itu dikerjakan oleh Roh yang Satu itu juga dengan membahagi-bahagi kepada masing-masing, sebagaimana kehendak-Nya” (1 Korintus 12:11).

Contohnya: (1) Kisah Rasul 6:1-5, salah satu dari tujuh saudara yang dipilih itu melakukan tanda-tanda mujizat di Samaria sebagai konsekuensi tumpangan tangan rasul. (2) Kisah Rasul 19:1-7, orang Kristen di Efesus mendapat tumpangan tangan dari Paulus dan mereka bernubuat dan berkata-kata dalam berbagai bahasa.

Orang-orang yang mendapat tumpangan tangan rasul tidak dapat menumpangkan tangan ke atas orang lain sehingga orang tersebut mendapat karunia Roh. Hal itu menjadi penyebab sehingga Petrus dan Yohanes harus turun ke Samaria untuk menumpangkan tangan ke atas orang-orang yang telah dibaptis pada waktu mendengarkan khotbah Pilipus yaitu salah seorang diantara tujuh orang yang mendapat tumpangan tangan dari rasul pada Kisah Rasul 6. Sesudah semua rasul dan orang-orang yang mendapat tumpangan tangan dari rasul meninggal, maka karunia-karunia Roh berhenti.

4. Jangka waktu (durasi) berlakunya Karunia Roh Kudus

Satu hal yang perlu kita ingat bila kita berbicara tentang masa berlakunya karunia-karunia Roh Kudus yaitu bahwa Allah selalu merencanakan pekerjaanNya dengan teratur. Maksudnya ialah bahwa dalam pekerjaanNya Dia telah menetapkan; (1) Kapan pekerjaan itu dimulai; (2) Bagaimana memulai; (3) Apa yang dibutuhkan (diperlukan) untuk memulai dan menindak-lanjuti; (4) Berapa dan apa harga yang harus dibayar; (5) Berapa-lama pekerjaan itu akan berlangsung. Semua hal-hal di atas dapat dikaji dengan jelas dan nyata di dalam penciptaan alam semesta, dimulai pada hari pertama dan berakhir pada hari ke-enam, selanjutnya kesinambungan kehidupan di dalam alam semesta terjadi secara alami. Contoh yang lain adalah dalam pemberian hukum. Pada mulanya Allah memberikan hukumNya kepada kepala-kepala keluarga yang dikenal dengan zaman Bapa-bapa (zaman Patriakh). Zaman (periode) ini berakhir pada zaman Yakub (hukum tersebut mengikat non Yahudi ketika Allah memberikan hukum Taurat bagi orang Yahudi melalui Musa) di gunung Sinai. Hukum inilah yang dilakukan oleh Kornelius (Kisah Rasul 10) sehingga doa dan amal serta rasa takutnya kepada Allah diperkenankan Allah. Dalam hal ini pada waktu Allah memberikan hukumNya kepada bangsa Israel (Yahudi) maka non Yahudi diikat oleh hukum yang diberikan pada zaman Bapa-bapa, tetapi ini hanya untuk periode tertentu, yang kita tahu bahwa kedua hukum itu berakhir pada waktu Yesus disalibkan (Efesus 2:15, 16) dan kemudian lahirlah hukum yang baru yaitu hukum Kristus (Galatia 3:27, 28; 1 Korintus 9:28, “.... aku takluk dibawah hukum Kristus ....”).

Hukum Taurat sudah berakhir dan tidak lagi mengikat manusia, dimulai pada hari Pentakosta yang pertama sesudah kebangkitan Kristus (hukum Taurat itu hanya bersifat sementara, Galatia 3:23-25). Jikalau hukum Taurat itu masih mengikat dan dapat menyelamatkan manusia, mengapa Paulus yang dahulu disebut Saul meninggalkan ritual-ritual yang diperintahkan di dalam hukum Taurat dan dibaptiskan untuk jalan keampunan dosa yang tidak pernah diperintahkan didalam hukum Taurat? Karena periode hukum Taurat dan prinsip yang diberikan pada zaman Bapa-bapa sudah berakhir maka siapa saja yang mencoba untuk mendapatkan (mencari) keselamatan melalui salah satu hukum tersebut tidak mendapat bagian di dalam pengorbanan Kristus (Galatia 4:4, 5; Kisah Rasul 17:30).

Rasul-rasul dan Sidang jemaat bertangung-jawab untuk memberitakan Injil itu yang merupakan kuasa Allah untuk menyelamatkan manusia (Efesus 3:10; Kisah Rasul 8:3, 4; Roma 1:16). Yesus mengetahui batas kemampuan murid-muridNya dalam mengemban misi ini, yaitu kemampuan untuk mengingat segala perkataan yang dikatakan Yesus dan juga ketidak-yakinan orang-orang yang mendengarkan pengajaran Injil itu. Untuk mengantisipasi hal ini Yesus berjanji bahwa Bapa akan mengutus Roh Kudus untuk mengajarkan dan mengingatkan segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Yesus kepada mereka (Yohanes 14:26), tentu dengan memberikan karunia-karunia Roh. Tetapi sistim itu hanya bersifat temporer (sementara). Paulus berkata di dalam 1 Korintus 13:8-10 bahwa:
1. Kasih tiada berkesudahan tetapi nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti dan pengetahuan akan lenyap.
2. Tiga jenis karunia Roh di atas merupakan wakil dari enam karunia Roh lainnya yang di dalam istilah Theologia disebut Sinokdoke. Hal itu berarti jikalau satu saja berakhir dari karunia Roh itu, maka yang lainpun ikut berakhir.
3. Paulus menyatakan alasan mengapa karunia-karunia Roh itu berlaku - yaitu karena pengetahuan mereka tidak lengkap dan nubuat (pengajaran) mereka tidak sempurna. Paulus mengatakan ke dua hal di atas tidak sempurna adalah karena ditujukan kepada metode untuk mendapatkan pengetahuan dan untuk usaha menyampaikan pengajaran - dimana mereka tergantung dengan ilham atau karunia Roh Kudus itu. Sekalipun mereka berhasrat untuk memberitakan tetapi jikalau mereka tidak mendapat ilham, maka mereka tidak berbuat apa-apa, “.... Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya” (1 Korintus 12:11). Dan di dalam 1 Korintus 14:1-31 dengan jelas Paulus mengatakan kepada kita bahwa karunia itu diberikan kepada seseorang tentu sesuai dengan keinginan dan kualitas kehidupan rohani seseorang.
4. Paulus mengatakan waktu berakhirnya karunia Roh itu yaitu apabila yang sempurna itu tiba. Kata sempurna di dalam teksnya di dalam bahasa Yunani yaitu to teleion - yaitu sebuah kata benda yang berjenis kelamin netral. Alkitab berada di dalam jenis kelamin yang sama, jadi kemungkinannya adalah apabila kitab itu sudah sempurna atau sudah lengkap dan tertulis yang dapat dipakai sebagai kanon pengajaran dan prilaku (aksi) maka karunia-karunia Roh Kudus itu tidak lagi berlaku. Barang siapa yang mengaku bahwa dia mendapat salah satu karunia Roh itu, maka dia hanya berupaya untuk menipu orang (2 Tesalonika 2:8, pengajar palsu datang dengan tanda-tanda mujizat palsu), yang harus berteriak-teriak sampai parau agar orang lumpuh bisa perlahan-lahan berdiri lalu lumpuh lagi yang sangat berbeda dengan mujizat Allah lewat Petrus hambaNya (Kisah Rasul 3:1-8). Petrus hanya berbicara serta menegakkan dia berdiri dan yang lumpuh itupun berdirilah dan meloncat-loncat pada saat Petrus berkata berdiri dan tidak lumpuh lagi serta mengikut Petrus dan Yohanes.

Kesimpulan

Sebelum bayi berjalan dengan kedua kakinya, dia merangkak dengan bantuan ke-dua tangannya. Tetapi apabila dia sehat dan bertumbuh dengan baik jadilah dia balita. Dia tidak mempergunakan tangannya lagi untuk merangkak melainkan dengan gagahnya dia berlari kian kemari dengan kedua kakinya. Roh Kudus menjadi pembimbing bagi orang Kristen pada abad pertama pada masa infansi gereja itu dengan cara melengkapi gereja itu dengan berbagai-bagai karunia sesuai dengan yang Dia inginkan. Walau demikian Roh Kudus dalam waktu yang bersamaan juga mengilhami orang-orang tertentu untuk menuliskan firman Allah yang selanjutnya akan dipakaiNya sebagai sarana untuk membimbing orang Kristen. Karunia-karunia Roh Kudus hanya bersifat temporer dan bukan untuk selama-lamanya, yang berakhir ketika firman Allah itu sudah tertulis dengan sempurnanya dan orang-orang yang mendapat tumpangan rasul itu meninggal dunia.

Pustaka acuan:
1. Barclay M. Newman Jr., Kamus Yunani-Indonesia, P.T. BPK. Gunung Mulia
2. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi II 1991, Balai Pustaka.
3. Kurt Aland, Matthew Black, The Greek New Testament, edisi III, 1983, United Bible Sociaties

ITT - Sabtu, 30 Mei 2010

Saturday, May 1, 2010

Sola Fide


Apakah Tanpa iman seseorang bisa mendekati Tuhan? Lalu bagaimana ia akan mendekati Tuhan? Apakah dengan Akal Budi? Apakah dengan Pengalamannya? Lalu apa kaitan antara Iman dengan Akal Budi dan Pengalaman? Apakah Standar untuk berkenan kepada Allah pada Perjanjian Lama berbeda dengan Perjanjian Baru? Ataukah Allah mengubah ketetapanNya? Dengan cara bagaimanakah kita dapat menghampiri dan berkenan kepada Allah?

Dalam Firman Tuhan jelas dituliskan bahwa ” Tetapi Tanpa Iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah” ( Ibrani 11:6 ). . Sebenarnya bukan hanya kepada Allah, bahkan semua hubungan kemanusiaan, mulai dari ibu-bayi, kakak-adik, suami-istri, guru-murid semuanya harus berlandaskan kepada satu dasar, yaitu Iman. Seandainya suami akan selalu memeriksa segala Fakta tentang istrinya, baru percaya kepadanya, atau sebaliknya, maka semua hubungan akan hancur berantakan. Allah sudah menaruh dasar ini ke dalam Natur Mind dan Heart dari manusia, sehingga semua Relasi di dunia harus dihubungkan dengan faktor intrinsik di dalam diri Manusia, yaitu PERCAYA.

Hilangkanlah semua faktor PERCAYA dalam Hubungan antar manusia, maka yang akan kita dapatkan di dunia ini adalah kecurigaan dan prasangka yang akan menghancurkan peradaban manusia.

Jadi jelas, bahwa Iman dalam kekristenan bukan Iman yang Emosional atau Cengeng setelah Kekristenan tidak bisa dijelaskan dengan Akal Budi. Melainkan Iman yang menjadi SEMUA LANDASAN Pengetahuan dan Akal Budi yang akan menggerakkan Kehendak dan Rasio untuk berserah penuh. Agustinus mengatakan : Aku Beriman supaya Aku bisa mengerti. Jadi yang mana dulu : Percaya dulu, baru Mengerti? Atau Mengerti dulu, baru Percaya? Kedua hal ini tidak perlu dipertentangkan karena Iman sudah mencakup Pengertian yang benar ke dalamnya dan Pengertian yang benar sudah merupakan bagian dari Iman. Seperti Rasul Paulus mengatakan : Kalau kalian berpegang teguh pada apa yang saya beritakan itu, maka Kabar Baik itu menyelamatkan kalian, kecuali kalau Saudara percaya tanpa pengertian. ( 1 Kor 15:2 , BIS)….Karena Iman, kita mengerti……. ( Ibrani 11:3 ).

Karena iman, maka Abraham dibenarkan ( Kejadian 15 :6 ). Jadi dari Kitab Kejadian sampai Wahyu, Iman adalah syarat untuk masuk ke dalam Perjanjian Anugerah Tuhan. Bacalah Ibrani pasal 11, yang penuh dengan pahlawan iman, yang tidak mendapat semua yang dijanjikan di dunia ini. Tapi mereka mengarahkan kepada upah di masa depan ( Ibrani 11:26, 38 ). Mereka mengharapkan Kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah. ( Ibrani 11:10). Itulah dasar keselamatan dari PL, yaitu mereka mengarahkan diri kepada Perjanjian Anugerah Tuhan, yang Tuhan persiapkan untuk mereka. Iman mereka MELIHAT jauh ke depan bahwa Perjanjian Anugerah Tuhan akan terus berlangsung dalam relasi Pencipta-Ciptaan. Dan Puncaknya adalah Penyataan Diri Allah sendiri, yaitu Yesus Kristus. ( bacalah Relasi ini dalam Ibrani 11sampai 12:3). Kenapa Penulis Ibrani menuliskan kalimat “dengan mata tertuju kepada Yesus”? ( 12:2). Tidak lain karena pahlawan iman kita pada PL telah MELAKUKANNYA.

Jadi, syarat untuk berkenan kepada Allah tetap satu, yaitu Iman. Mulai dari Adanya Relasi Pencipta-Ciptaan, Allah tetap berkenan kepada orang yang BERIMAN kepadaNya. Dan Sola Fide ini juga menjadi syarat untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga melalui Pengorbanan Kristus. Tidak ada perbuatan baik apapun yang berkenan kepada Allah karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah ( Roma 3:23). Dan Inilah dasar dari Injil. Inilah dasar mengapa Allah harus menjadi manusia dan mempercayakan diriNya supaya manusia bisa percaya kepadaNya. Iman berkenaan dengan PEMBENARAN dan PENGUDUSAN atau REGENERASI dari manusia. Karena manusia Yesus telah menjadi penggantian bagi kita supaya kita DIBENARKAN di hadapan Allah. Iman adalah Dasar Pembenaran yang TELAH dilakukan oleh Yesus di hadapan Tuhan Allah.

Rasul Paulus merangkumkan dasar Injil berdasarkan iman di dalam surat Roma 1 : 16-17: Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”

Dari Iman kepada Iman. Dari Kebenaran kepada Iman. Itulah Injil Kekuatan Allah, bukan berdasarkan kekuatan manusia. Ketika kita percaya kepada Kebenaran Allah, maka SEMUA KEBENARAN kita mesti ditinggalkan, karena semuanya adalah kenajisan bagi Allah.

Dari Iman kepada Iman. Berarti Orang yang Benar memulai dari Iman dan akan mengakhirinya dalam Iman. Bukan dari Iman kepada Perbuatan. Bukan dari kebenaran Allah kepada Kebenaran Diri. Jadi apakah sesudah kita beriman, kita mesti berbuat baik, bukan masuk ke dalam kategori PEMBENARAN kita. Tidak ada PERBUATAN APA-APA yang dapat membuat kita memasuki Perjanjian Anugerah Allah. Mulai dari Adam, Abraham, Musa, sampai Perjanjian Baru, Allah lah yang MENCARI manusia dan MENETAPKAN PERJANJIAN bagi manusia. Manusia harus MEMBERI DIRI untuk masuk ke dalam Perjanjian Anugerah itu.

Dari Iman kepada Iman. Merupakan suatu proses perjalanan hidup orang percaya. Karena orang percaya SUDAH DIBENARKAN, maka dia AKAN hidup oleh IMAN, dan AKAN hidup berdasarkan IMAN. Sekali saja dalam hidupnya mengandalkan kekuatan perbuatannya sendiri, maka ia berdosa terhadap KEBENARAN ALLAH. Paradoksnya adalah : Orang Benar akan hidup oleh Iman, dan Orang beriman menunjukkan dia Orang yang DIBENARKAN.

Tetapi kemudian kita bertanya, apakah iman orang kristen adalah iman yang “asal percaya” atau “pokoknya beriman”? Disinilah kesulitan mendefinisikan iman. Kalau kita katakan : Hanya percaya maka engkau selamat, maka berarti kita bisa percaya saja, lalu berbuat dosa seenaknya. Toh, kita tetap selamat. Disisi lain, kalau kita mendefinisikan Iman terlalu rumit, maka apakah tidak akan menyelewengkan ajaran iman dari Alkitab? Jelas, Alkitab menekankan bahwa PERCAYA merupakan syarat menerima Karunia Hidup Kekal. HANYA PERCAYA. Tetapi jelas juga, Alkitab mengingatkan bahwa bukan Iman yang kosong atau mati, tetapi Iman yang didalamnya terdapat sesuatu yang dapat dinilai.

Yakobus 2 :22-24 : Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.” Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.

Jelas kalau kita membaca Yakobus, iman yang ditekankan adalah iman yang hidup. Karena kita Beriman, maka Perbuatan kita Akan……….Itulah dalil dasar dari Yakobus, karena dia jelas mengalamatkan suratnya kepada orang yang percaya. Ketika Abraham disebut Orang Beriman, ia bukan hanya beriman dengan TIDAK MENUNJUKKAN PERBUATAN, tetapi Imannya ditunjukkan dengan perbuatan Mempersembahkan Anaknya, Ishak. Tetapi kebenaran ini tidak bisa dipahami begitu saja secara gamblang, dalam arti tidak bisa kita katakan sebaliknya : Kalau Anda TIDAK MENUNJUKKAN PERBUATAN anda, maka anda bukan Orang BERIMAN. Seandainya point ini terlalu ditekankan, maka kita akan menjadi Legalisme dan akan menilai orang hanya dari perbuatannya.

Rasul Paulus ketika menekankan bahwa tidak ada orang yang dibenarkan karena melakukan Hukum Taurat, mempunyai dasar yang berbeda dalam menjelaskan iman kristen. Penekanan Rasul Paulus adalah Kebenaran Allah yang telah dinyatakan dalam Kristus sebagai pengganti kita, HANYA bisa melalui Iman diterima. Bukan dengan melakukan ini dan itu. Hukum Taurat adalah petunjuk bahwa kita butuh Kebenaran Allah, sedangkan Iman Kristen adalah Penerimaan atas penerimaan Allah terhadap kita. TIDAK ADA yang bisa ditambahkan dalam Kebenaran Allah ini lagi. Yang harus dilakukan adalah PERCAYA.

R.C Sproul dalam bukunya FAITH ALONE menjelaskan bahwa iman kristen terdapat 3 elemen penting :

1. Notitia : Iman melibatkan pengetahuan. Bagaimana kita bisa beriman, kalau kita tidak mengenal Siapa yang kita imani? Jadi, ungkapan :”Tidak menjadi masalah apa yang kamu percayai, sepanjang kamu tulus mempercayainya”, jelas bertentangan dengan Iman Kristen.

2. Assensus : Iman adalah persetujuan. Kita menyetujui bahwa kita tidak bisa Benar jika mengandalkan diri kita. Kita assent proporsi Yesus mati di kayu salib sebagai suatu Kebenaran yang menyelamatkan.

3. Fiducia : iman adalah suatu Kehendak yang akan berefek kepada tindakan. Fiducia berarti kecenderungan positif dari jiwa atau pikiran pada suatu objek.

Dalam Firman Tuhan, Ibrani 11: 1-3 : Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat. Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.

Jadi, apakah Iman Kristen itu sederhana? Ya, Only Faith ( Sola Fide ). Tetapi apakah Iman Kristen itu Sembarangan dan Asal-asal? Tidak, karena iman Kristen adalah Iman yang dipimpin oleh Roh Tuhan, Iman yang menghasilkan ketaatan, Iman yang melahirkan kasih. Lalu, apakah Iman dan Perbuatan Baik bertentangan? Tidak. Kenapa mesti dipertentangkan suatu Hubungan Sebab-Akibat?

Karena kita Beriman, maka…………….Akhirnya kita akan didapati Setia ( Beriman). Itulah pengharapan terbesar kita. From Faith to Faith. Dan yang akan memimpin adalah Allah sendiri.

Iman yang Benar (Sola Fide) berlandaskan kepada konsep Anugerah (Sola Gratia). Sola Fide dan Sola Gratia harus berlandaskan Wahyu Khusus dalam Alkitab (Sola Scriptura). Sola Scriptura menyaksikan hanya Kristus (Sola Christos). Semuanya Rencana Keselamatan adalah untuk Soli Deo Gloria.

ITT - 01 Mei 2010

Friday, January 1, 2010

Melangkah Bersama Tuhan Memasuki Tahun yang Baru


Bersyukur kita sudah menginjakkan kaki kita masuk dalam Tahun Baru. Banyak orang pada akhir tahun berusaha mencari tahu atau mempredeksi apa yang bakal terjadi pada tahun depan. Baik melalui metode yang bersifat mistik melalui berbagai macam ramalan paranormal, atau dengan metode iptek yang canggih termasuk media cetak dan media elektronik. Tuhan memang tidak pernah memberi tahu kepada kita apa yang bakal terjadi besok, minggu depan, bulan depan atau tahun depan.

Ada 2 maksud Tuhan tidak memberi tahu kepada kita apa yang bakal terjadi:
1. Agar kita dapat menikmati segala anugerah yang Tuhan siapkan di depan kita dan terbebas dari segala macam kekuatiran yang tidak perlu.
2. Agar kita belajar selalu beriman dalam setiap langkah hidup kita.

Jika Tuhan menunjukkan semua yang bakal terjadi baik yang baik, maupun yang buruk, maka kita pasti dipenuhi kekuatiran dan tidak dapat menikmati apa yang ada di depan kita. Contoh: jika kita tahu bulan depan akan beroleh keuntungan yang besar dalam bisnis, tiga bulan lagi kedudukan kita akan naik, tahun depan keluarga kita akan bertambah seorang anak yang pintar, tentu kita akan sangat suka cita, tetapi bagaimana jika kita tahu kalau lima tahun lagi kita akan menderita sakit kanker yang ganas? Tentunya semua berkat yang kita terima itu tidak ada artinya sama sekali bukan? Tuhan tidak menghendaki kita terus dilanda kekuatiran, tepat seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus: “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat.6:34). Di samping itu Tuhan juga mengajar agar kita selalu memiliki iman untuk menapaki jalan di depan dengan satu keyakinan setiap langkah Tuhan selalu menyertai kita, tepat seperti Pemazmur berkata: “ TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya (Mazmur 37:23-24).

Ketika bangsa Israel siap untuk masuk negeri Kanaan, Tuhan mengajar mereka terlebih dahulu dengan 3 macam pelajaran rohani:

1. Iman
Alkitab menegaskan: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr.11:1) Ketika bangsa Israel akan masuk negeri Kanaan yakni negeri perjanjian Tuhan yang penuh dengan susu dan madunya, Yosua berkata: “Sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu” Mereka harus melewati jalan yang sama sekali belum pernah dilalui, oleh sebab itu, mereka harus sepenuhnya bersandar pada Tuhan, demikian juga halnya dengan kita ketika memasuki tahun ini. Apa yang bakal terjadi dalam tahun ini, kita tidak tahu, tetapi hal itu tidak membuat kita berkecil hati, karena semuanya sudah Tuhan atur dengan sempurna demi kebaikan kita. Tuhan tidak putus-putusnya mengajarkan pelajaran iman kepada umat-Nya Israel, karena pengalaman menunjukkan bahwa walaupun Tuhan tidak pernah berhenti menyatakan perbuatan-Nya yang besar dan ajaib selama 40 tahun di padang gurun, namun mereka tetap bersungut-sungut dan bimbang ketika menghadapi kesulitan. Sekarang mereka siap masuk ke dalam negeri perjanjian, tetapi bukan berarti akan bebas sama sekali dari segala kesulitan, sebaliknya kesulitan demi kesulitan tetap siap menghadang mereka. Bukan saja kesulitan alam ketika menyeberang sungai Yordan, juga masih banyak musuh yang menanti mereka, pada hal bangsa Israel tidak memiliki pengalaman sama sekali untuk menghadapinya. Satu2nya cara yang paling tepat ialah selalu dengan iman bersandar sepenuhnya kepada Tuhan.

Ketika kita akan meninggalkan tahun yang telah lewat, dalam kilas balik kita akan mengingat ingat pimpinan dan anugerah Tuhan sepanjang satu tahun yang memberi kekuatan kepada kita untuk melewatinya, tetapi apakah pelajaran rohani yang penting ini menyebabkan kita makin mengenal Tuhan dan makin bersandar kepada-Nya? Apakah iman kita makin hari makin kuat, tambah tahun tambah kuat? Apakah kita tetap setia mengikut Tuhan dengan memelihara hubungan kita kepada-Nya setia waktu? Kalau sungguh jujur, kenyataannya pasti tidak demikian bukan? Sering kali justru sebaliknya: berapa besarpun mujizat yang pernah kita alami dengan pertolongan Tuhan, akan begitu cepat kita lupakan ketika kita menghadapi jalan buntu atau kesulitan yang besar yang sedang berada di depan kita. Mari kita perhatikan: Bukankah bangsa Israel dengan mata kepala sendiri melihat Tuhan membelah laut Merah? Bukankah mereka melihat Tuhan menurunkan manna dari sorga? Bukankah mereka melihat perlindungan Tuhan siang malam melalui tiang awan dan tiang api selama 40 tahun? Iman pada hakekatnya bukan sekedar suatu tingkatan, dalam arti, bukan berarti seperti ilmu bela diri atau silat yang makin dilatih akan makin kuat, atau makin banyak pengalaman, maka akan makin tinggi ilmunya, melainkan lebih cenderung seperti kesehatan kita yang sangat bergantung pada suatu kondisi. Ketika kita mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, ditambah dengan istirahat yang cukup, juga olah raga yang teratur maka kesehatan kita akan makin meningkat, tetapi apabila kita lalai menjaga kesehatan, maka segera akan menurun dengan drastis, bahkan kita akan jatuh sakit. Oleh sebab itu, menjaga hubungan selalu dengan Tuhan adalah metode yang paling ampuh dalam menjaga kondisi iman kita. Kiranya peringatan Tuhan melalui hamba-Nya Yosua juga sekali lagi mengingatkan kita untuk melangkah dengan iman memasuki tahun yang baru ini.

2. Kesucian Diri
Malam menjelang bangsa Israel menyeberangi Sungai Yordan, Yosua berkata kepada mereka: “Kuduskanlah dirimu” Sungguh suatu hal yang sangat mengherankan, suatu umat yang besar dengan jumlah dua setengah juta orang, ketika siap akan menyeberang sungai yang tengah meluap airnya, Yosua tidak menyuruh mereka segera membuat jembatan, atau perahu, tetapi Yosua memerintahkan mereka untuk menguduskan dirinya. Kesulitan yang dihadapi bangsa Israel bukan saja terbatas pada menyeberangi sungai Yordan, tetapi ada musuh yang kuat dengan benteng yang tangguh sedang menghadang mereka. Yosua tidak memerintahkan mereka untuk menyiapkan perlengkapan senjata yang memadai untuk menghadapi musuh, melainkan hanya memerintahkan agar mereka menguduskan dirinya.

Sebenarnya dosa apa saja yang telah dilakukan bangsa Israel sehingga membuat Tuhan begitu marah kepada mereka? Paulus memberi sedikit gambaran yang menjadi peringatan bagi kita bersama: “Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingatkan kita, supaya jangan kita menginginkan hal-hal yang jahat seperti yang telah mereka perbuat, dan supaya jangan kita menjadi penyembah-penyembah berhala, sama seperti beberapa orang dari mereka, seperti ada tertulis: “Maka duduklah bangsa itu untuk makan dan minum; kemudian bangunlah mereka dan bersukaria.” Janganlah kita melakukan percabulan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga pada satu hari telah tewas dua puluh tiga ribu orang. Dan janganlah kita mencobai Tuhan, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka mati dipagut ular. Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut (I Kor.10:6-10)

Ada 2 macam dosa zinah yang sangat dibenci Tuhan yakni zinah rohani dan zinah jasmani. Yang dinamakan zinah rohani yakni kita telah berpaling kepada berhala atau illah lain, tidak sepenuh hati melayani Tuhan, bahkan menggantikan kedudukan Tuhan dalam hati dengan hal-hal duniawi ini. Sedangkan zinah jasmani ialah berbagai macam dosa percabulan baik yang nyata dalam perbuatan atau hanya dalam pikiran saja. Kesucian hidup adalah sangat penting bagi kita anak-anak Tuhan, karena tanpa kesucian kita tidak dapat melihat Allah (Ibr.12:14) Kesucian adalah hal yang abstrak yang mudah dipalsukan dan sulit untuk dinilai kesungguhannya, karena itu iblis selalu dengan kemunafikan menutupi dosa yang tersembunyi dalam hati kita. Kita tidak takut berapa besar kesulitan yang ada di depan kita, kita tidak takut berapa besar kekuatan musuh yang sedang menanti kita, tetapi kita harus merasa gentar apabila Tuhan meninggalkan kita, karena kita tidak bisa hidup suci di hadapan Tuhan. Tanpa kesucian, semua jembatan dan semua perahu yang disiapkan untuk menyeberangi sungai Yordan akan sia-sia. Mari kita belajar selalu hidup suci dalam menapaki tahun 2009 ini.

3. Ketaatan
Ketika bangsa itu berangkat dari tempat perkemahan mereka untuk menyeberangi sungai Yordan, para imam pengangkat tabut perjanjian itu berjalan di depan bangsa itu. Segera sesudah para pengangkat tabut itu sampai ke sungai Yordan, dan para imam pengangkat tabut itu mencelupkan kakinya ke dalam air di tepi sungai itu–sungai Yordan itu sebak sampai meluap sepanjang tepinya selama musim menuai– maka berhentilah air itu mengalir. Air yang turun dari hulu melonjak menjadi bendungan, jauh sekali, di dekat Adam, kota yang terletak di sebelah Sartan, sedang air yang turun ke Laut Araba itu, yakni Laut Asin, terputus sama sekali. Lalu menyeberanglah bangsa itu, di tentangan Yerikho. Tetapi para imam pengangkat tabut perjanjian TUHAN itu tetap berdiri di tanah yang kering, di tengah-tengah sungai Yordan, sedang seluruh bangsa Israel menyeberang di tanah yang kering, sampai seluruh bangsa itu selesai menyeberangi sungai Yordan (Yosua 3:14-17)

Satu pelajaran rohani lagi yang penting yang diberikan Tuhan kepada orang Israel di dalam menyeberangi sungai Yordan, yakni taat sepenuhnya akan pimpinan Tuhan. Perhatikan: Para imam pengangkat tabut perjanjian Tuhan berjalan di depan dan iring-iringan bangsa Israel mengikutinya dari belakang. Tidak terbalik: bangsa Israel jalan di depan lalu para imam dari belakang. Ini merupakan sebuah symbol dari kepemimpinan rohani yang tidak boleh di bolak-balik dan di utak-atik. Tabut Perjanjian yang di angkut oleh para imam adalah melambangkan kehadiran Allah dan penyertaan-Nya. Ini berarti bahwa di dalam segala hal kita patut mendahulukan kehadiran Tuhan dan kita mendahulukan Tuhan berjalan di depan dan kita mengikutinya dari belakang.

Mari kita ingat juga bahwa pada saat itu Tuhan tidak langsung menghentikan aliran sungai lebih dulu, sampai kaki para imam pengangkat tabut perjanjian menginjak air sungai sesuai dengan perintah Tuhan. Dan ketika mereka taat sepenuhnya menghormati pimpinan Tuhan melalui Tabut Perjanjian yang di angkut oleh para imam; maka, mujizatpun terjadilah! Aliran air sungai Yordan terputus sama sekali, suatu kuasa yang ajaib telah membendung aliran sungai sehingga bangsa Israel tanpa kesulitan boleh menyeberangi sungai Yordan.

Jalan di depan kita masih panjang. Barangkali mujizat yang seperti itu tidak lagi terjadi pada hari ini. Tuhan barangkali tidak akan menghentikan semua aliran sungai yang ada di depan kita. Tetapi mari tidak menjadi putus asa, takut, khawatir, kecewa karena barangkali itulah saatnya Dia menghendaki kita terus melangkah di dalam iman, kesucian dan ketaatan pada-Nya. Kehadiran Tuhan dan penyertaan-Nya dalam memasuki Tahun Baru ini jauh lebih penting dari pada semua pengalaman dan ketrampilan yang kita miliki. Mari kita dengan iman, kesucian dan ketaatan masuk dalam tahun 2010, agar dalam tahun ini juga kita akan menyaksikan banyak mujizat Tuhan terjadi dalam setiap aspek kehidupan kita. Tuhan memberkati anda sekalian, Amin. Selamat Tahun Baru 2010.

ITT - 1 januari 2010

Wednesday, March 5, 2008

The 7 Habits of Effectives Christian’s Life

7 LANGKAH UNTUK KEHIDUPAN KRISTEN YANG EFEKTIF (2 Petrus 1:5-7)

2 Petrus 1:5 Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, 1:6 dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, 1:7 dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.

Rasul Petrus memberikan nasehat, dan olehnya para murid Tuhan dapat memakai perlengkapan ini, dan memanfaatkannya di dalam pertumbuhan rohani. Dengan demikian kita akan menyatakannya secara jelas kepada orang-orang lain bahwa kasih Yesus Kristus ada dalam kehidupan kita.

Khusus pada ayat 2 Petrus 1:5-7, dituliskan ada 7 hal yang "ditambahkan" kepada Iman., terjemahan yang barangkali lebih memadai adalah "dilengkapi" :

Ketujuh hal yang saling melengkapi secara berturut-turut adalah:

1. Kebajikan
moral yang positif, lawan dari kata "fasik", "buruk", "jahat"; Tanpa keinginan hati untuk berbuat kebajikan, tidak akan ada iman yang bertumbuh.

2. Pengetahuan
bukan hanya sekedar teori tetapi juga mengalami; Perhatikan relasi yang timbul antara kebajikan dan pengetahuan. Bukankah bila kita ingin berbuat baik kita harus mengetahui kebaikan itu apa? Lebih jauh lagi, keinginan kita untuk berbuat baik adalah buah iman, dan menambah pengetahuan

3. Penguasaan Diri
menguasai kehendak dan keinginan (nafsu), plus selera. Contoh yang baik adalah orang waras dengan orang mabuk, yang waras dibilang dapat menguasai diri sedangkan orang mabuk sering melakukan tindakan di luar kontrol; Hanya Allah saja yang dapat memberi kepada kita kemampuan mengendalikan diri, dan hal ini hanya diperoleh apabila kita mengenal Dia secara mendalam. Relasi antara Pengetahuan dan Penguasaan Diri adalah antara teori dan praktek,. Pengetahuan adalah berlaku yang benar, bukan kebenaran itu sendiri.

4. Ketekunan
Artinya adalah kesanggupan untuk berpegang teguh dalam mencapai tujuan walaupun ada pertentangan, rintangan dan penganiayaan. Bandingkan dengan ayat dibawah ini :

* Ibrani 12:1-3
12:1 Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.
12:2 Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.
12:3 Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.

Ketekunan adalah buah dari penguasaan diri.

5. Kesalehan
Di bagian lain diterjemahkan dengan "ibadah" (1 Timotius 3:16, 4:7-8, 6:5-6, 11; 2 Timotius 3:5; Titus 1:1). 2 Petrus 1:3, "segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia". Saleh berarti kehidupan yang mencerminkan Kristus. Kesalehan adalah buah dari ketekunan.

6. Kasih akan Saudara-saudara
Buah nyata atas kesalehan kita dalam beribadah adalah kasih.

Dalam Perjanjian Baru Yunani, kata 'philadelphia' digunakan untuk kasih Kristiani. Kasih kepada saudara-saudara ditekankan sebagai buah kelahiran baru. Dan ini diperintahkan Kristus sebagai ciri khas murid-muridNya :

* Yohanes 13:34-35
13:34 Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.
13:35 Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."


7. Kasih akan semua orang
'agapê', sudah umum diketahui oleh kebanyakan orang Kristen. Kita diminta mengasihi musuh dengan 'agapê' dan mengasihi saudara dengan 'philia', tentu saja kedua kata itu berbeda. Kasih adalah mahkota dari semua kebajikan kristiani, seperti dikemukakan dalam :

* 1 Korintus 13:13 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

* Kolose 3:14 Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan

Kesimpulan:

Setelah mulai dengan iman, orang percaya harus dengan tekun mengejar keunggulan moral, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara, dan kasih akan semua orang, yang akan menghasilkan iman dewasa dan pengenalan yang benar akan Tuhan Yesus

Pola hidup semacam ini tidak tertutup diterapkan kepada sesama saudara Kristen kita, melainkan akan tercermin kepada semua orang yang ada di sekitar kita. Jadikanlah hal tersebut sebagai gaya hidup yang menjadi keutamaan cerminan ajaran yang benar dan membimbing kita kepada hidup moral yang benar. Perhatikan 2 Petrus 1:9 yang mengatakan “barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan.”. Sebaliknya umat Tuhan yang mengerti akan panggilannya, akan bergegas melaksanakan panggilannya dengan pikiran dan sikap yang benar dan akhirnya akan membawa kita kepada Kerajaan Kekal Kristus, Sang Juruselamat, Tuhan kita.

Marilah kita mengalami perjalanan iman bersama Kristus dengan 7 hal pelengkap iman ini. Selayaknya sebuah benih berada di tanah subur, ia akan bertumbuh dan berbuah lebat. Kristus adalah pemimpin iman yang membawa iman kita pada kesempurnaan.

Hasil dari ke 7 langkah tadi adalah:

2 Petrus 1:8-11
8 Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.
9 Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan.
10 Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.
11 Dengan demikian kepada kamu akan dikaruniakan hak penuh untuk memasuki Kerajaan kekal, yaitu Kerajaan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus

ITT - Makassar, 5 Maret 2008
Dibawakan pada Retreat Katekisan 2007-2008 GPIB Jemaat Bethania Makassar 6-8 Maret 2008 di TC-GKSS

7 versus 7


-->
"The 7 Habits of Highly Effective People"
Versus
The 7 Habits of Effectives Christian’s Life
Penulis
  • Stephen Covey
  • Simon Petrus
  • Seorang Penatua / pengajar di Provo, Utah & Brigham Young University USA
  • Murid Tuhan Yesus dari Kapernaum (Mark 1:29; Luk 4:38)
  • Berasal Dari The Church of Jesus Christ of Latter-day Saints atau Gereja Mormon
  • Penulis Kitab I & II Petrus
Thema
  • Ada 3 hal yang tetap di dunia ini, yaitu: perubahan, prinsip dan adanya pilihan. Perubahan terus terjadi di dunia, namun prinsip-prinsip tidak berubah. Prinsip-prinsip itu misalnya gravitasi bumi, minyak mudah terbakar, juga prinsip-prinsip kesopanan, kejujuran, keberanian, dan kebaikan hati. Karena prinsip-prinsip tak pernah berubah, dia merupakan dasar yang kokoh untuk membangun karakter manusia.
Kebenaran Sejati Lawan Guru-Guru Palsu
  • Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang --- oleh karena itu keberhasilan bukanlah merupakan suatu perbuatan --- tetapi merupakan suatu KEBIASAAN.
  • Tujuan Petrus menulis surat ini
  • untuk menasihati orang percaya agar mereka dengan tekun mengejar kesalehan dan pengenalan yang benar akan Kristus, dan
  • untuk membeberkan dan menolak tindakan yang berakal busuk dari para nabi dan guru palsu di kalangan gereja di Asia Kecil yang sedang meruntuhkan kebenaran rasuli.

  • Petrus meringkaskan maksudnya dalam 2Pet 3:17-18 ketika dia menasihati orang percaya yang sejati
  • untuk waspada supaya mereka tidak "terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum" (2Pet 3:17), dan
  • untuk "bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus" (2Pet 3:18).
Perbandingan Buku
  • Diterbitkan tahun 1990
  • Ditulis tahun 66 – 68 Masehi
  • Sebagai Best Seller dengan cetakan lebih dari 10 juta buku
  • Tulisannya membuat penulisnya diburu dan akhirnya mati dibantai oleh Kaisar Nero di Roma
  • Dilanjutkan dengan menerbitkan the 8 Habits
Alkitab s/d 2008 telah dicetak sekitar 4.700.000.000 eksemplar/buku
Misi Mormon
  • Misi Mormon luar biasa, saat ini disebut telah memiliki 10 juta lebih anggota dengan 56 ribu lebih utusan misi yang bekerja di lebih dari 160 negara termasuk Indonesia. Gereja Mormon memiliki 15 pusat pelatihan misi, dan yang terbesar bertempat di 'Provo'. Mereka juga memiliki Brigham Young University dengan 29.000 mahasiswa yang merupakan universitas swasta terbesar di Amerika Serikat. Salah satu dosen BYU dan pusat pelatihan di Provo adalah Stephen Covey yang terkenal dengan bukunya 'The 7 Habits of Highly Effective People.'
  • Tidak dapat disangkal bahwa salah satu alasan perkembangan pesat Mormon juga didorong populernya ajaran Mormon yang senafas dengan 'New Age' yang dipopulerkan melalui sistem pelatihan bisnis '7 Habits' yang bernafas ajaran Mormon yang populer di seluruh dunia. Dalam ajaran '7 Habits' yang disebut 'Prinsip' tidak lain adalah 'kemandirian' manusia yang bebas dari dosa (paradigma lama yang harus dihilangkan), dan yang disebut sebagai 'Pro-Aktif' adalah tindakan manusia mandiri yang dengan 'kehendak bebas'nya memilih 'lingkaran pengaruh' atau 'lingkaran kepedulian' dan menjadikannya sebagai 'manusia berhasil' (ibarat ilah-ilah yang kekal).
  • Misi Mormon lebih banyak dilakukan oleh generasi muda. Sekalipun umumnya para pimpinan dan terutama ke-12 Rasul kepala umumnya sudah sangat senior dan tua, pimpinan tertinggi atau presidennya bernama 'Gordon B. Hinckley' sudah berumur 90 tahun, dan bila ia meninggal maka penerusnya adalah mereka dari ke-12 Rasul yang melayani paling lama, tiga perempat aktivis gereja Mormon adalah angkatan muda! Pelayanan lebih banyak dilakukan oleh kaum awam dengan biaya sendiri dimulai umur 12 tahun. Seumur mereka, umumnya pada umur produktif, mereka menyerahkan dua tahun hidup mereka melayani sebagai utusan misi Mormon dengan biaya sendiri/keluarga. Selain 85 pimpinan teras gereja Mormon, lainnya melayani dengan biaya sendiri.
Penutup
  • Dari beberapa uraian yang diringkas dari buku-buku Mormon ini dapatlah kita lebih berhati-hati dengan berbagai ajaran yang dikemas menarik lewat buku-buku “best seller”, bahkan ada yang menggunakan label 'kristen' yang mempercayai Yesus yang bukan 'Tuhan Yesus Alkitab' dan mengajarkan jalan keselamatan melalui pilihan bebas (pro-aktif) berdasarkan kehendak bebas manusia yang mandiri. Ini berarti menolak penebusan 'Yesus di kayu salib' atau Yesus sebagai Juruselamat manusia, karena Yesus hanya dianggap sebagai mitra manusia dalam mencari keselamatannya sendiri-sendiri.
  • Marilah Kita Back to the Bible sebagai Buku Pegangan Hidup yang Menyelamatkan seluruh aspek kehidupan kita, baik dalam kehidupan pribadi, sosial, pekerjaan, bisnis, maupun keluarga.
ITT - Makassar, 5 Maret 2008
*) Dibawakan pada Retreat Katekisan 2007-2008 GPIB Jemaat Bethania Makassar, 6-8 Maret 2008 di TC-GKSS


Tuesday, July 24, 2007

Persembahan Persepuluhan - Pdt.S.Th.Kaihatu

Selasa, 2007 Juli 24

Persembahan Persepuluhan


Sebuah Tantangan Praktek Beriman

(Pdt. S.Th. Kaihatu)


Asal-mula Adanya Persembahan


Penelitian antropologi budaya menginformasikan kepada kita bahwa pada mula pertama sekali manusia hidup dalam fase ‘pemetik’. Mereka hidup dari buah buah pohon. Pada masa itu mereka menyembah bumi. Sebab bumi dilihat sebagai ‘Sang Ibu’ yang menghidupi. Fase ini diikuti oleh fase berburu. Mereka memburu binatang untuk dimakan. Karena binatang-buruan itu ‘kelihatannya’ sudah disediakan bumi, maka tetap saja bumi disembah sebagai ‘sang Ibu’ yang menghidupi. Fase ketiga adalah fase pertanian. Apa yang dinikmati dalam fase pertama tadi, seka-rang dibudi-dayakan. Namun ada perobahan penting dalam penyembahan. Dalam budaya pertanian-awal, selain fungsi bumi sebagai tempat bercocok tanam, maka dua hal menjadi mengemuka, yakni hujan dan matahari. Orang menyadari bahwa tanpa matahari, tidak akan ada kehidupan di bumi. Obyek penyembahan bergeser, dari penyembahan terhadap bumi, menjadi penyembahan terhadap matahari. Dalam rangka ini matahari dilihat sebagai raja dan panglima yang perkasa yang menakluk- kan kegelapan malam. Fase keempat adalah fase penggembala1. Apa yang dinikmati dalam fase kedua tadi, sekarang dibudi-dayakan. Tetapi seperti kita mengerti, ternak yang digembalakan tergantung dari rumput, rumput tergantung dari hujan dan hujan tergantung dari matahari, maka obyek penyembahan tetap pada matahari. Bukan pada bumi2.

Krisis kehidupan nampaknya tidak intens dalam fase pemetik dan fase ber-buru. Sebab pada kedua fase ini kekurangan-pangan dijawab dengan langkah seder-hana, yakni berpindah tempat. Itulah sebabnya kedua fase ini sering disebut sebagai satu fase saja, yakni fase nomaden. Sebetulnya dalam arti sempit, fase penggembalaan ternak juga bisa dipandang sebagai fase nomaden. Sebab dalam fase ini orang berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari rumput dan air bagi hewan gembalaannya. Bedanya adalah bahwa pada fase penggembala sudah ada semacam ‘home base’ kemana mereka pasti akan pulang. Budaya menetap sebetulnya baru benar benar menjadi kenyataan dalam fase pertanian. Jadi sebetulnya fase penggembala adalah semacam penghubung antara budaya nomaden dan budaya menetap.

Persoalan muncul ketika terjadi krisis krisis yang menyebabkan hidup menjadi sulit. Ada banjir besar, ada musim kering yang panjang dsb, gunung meletus dsb. Sejak dari agama Purba, orang mengimani, bahwa ada kekuatan penentu kehidupannya dan berada diluar dirinya. Dan guna menyenangkan hati Sang Kekuatan itu, -baik ketika semuanya berhasil dengan baik, maupun ketika terjadi krisis- maka mereka memberikan Persembahan. Entah dari hasil tani, pun ternak pun harta milik. Sejajar dengan perkembangan peradaban, yang kemudian bertambah dengan perniagaan dan bidang bidang lain yang sekarang dikenal sebagai sektor jasa, maka persembahan juga makin bervariasi. Ini kita catat semuanya untuk menggaris-bawahi empat hal.

Pertama, bahwa sekalipun gaya hidup dan gaya mata pencaharian berkembang, tetap saja logika bahwa rejeki melibatkan ‘campur tangan dari suatu kekuatan yang tak terlihat yang berada di atas’ tetap saja berlaku sepanjang sejarah peradaban.

Kedua, bahwa persembahan itu diberikan dari berbagai jenis mata pencaharian yang makin bervariasi. Ketiga, pengaturan terhadap apa yang dipersembahkan itu makin lama makin bervariasi juga. Keempat, ini semua diyakini sebagai kehendak dari kekuatan yang tak terlihat itu.

Persembahan dalam Tradisi Alkitab.

Fase fase antropologi budaya yang dikatakan diatas, terutama fase ketiga dan keempat juga terjadi dikalangan agama-agama Semitik, dalam hal ini agama Yahudi, sejak Israel kuno. Dalam kitab kejadian misalnya kita membaca tentang Kain dan Habil yang mempersembahkan hasil pertanian dan peternakan.

Dalam pemahaman spiritual orang Israel, karena Allah sudah melakukan kebaikan, maka umat mengungkapkan kesaksian mereka tentang apa yang sudah Allah lakukan itu dalam bentuk korban dan persembahan. Umat yang tidak melakukannya akan di-pandang sebagai pihak yang tidak tahu berterimakasih. Sebab Allah telah memberikan berkat secara cuma-cuma pada jalan kehidupan. Inilah gambaran situasi spiritual yang harus kita mengerti, kalau kita mau memahami korban dan persembahan dalam Alkitab.

Di dalam Alkitab kita membaca bagaimana persembahan diterima berdasarkan kwalitasnya. Artinya melalui kwalitas persembahan itu kita bisa melihat sikap hati orang yang memberikan persembahan. Orang yang tulus memberikan yang terbaik untuk dipersembahkan. ‘Menyisihkannya’ sejak awal untuk dipersembahkan. Orang yang tidak tulus, menjadikan persembahan sebagai basa-basi, dan karena itu memberikan apa yang ‘disisakan’ di akhir semuanya sebagai persembahan.

Karena Allah memperhatikan sikap hati inilah, maka persembahan Kain ditolak, sementara persembahan Habil diterima. Terlepas dari apa yang terjadi kemudian, kita belajar satu hal, bahwa, Tuhan Allah melihat sikap hati. Dan karena itu sikap kita ketika memberikan persembahan harus cocok dengan apa yang Tuhan Allah inginkan.

Dalam rangka pembahasan kita pertama sekali kita perlu ingat bahwa ada dua istilah yang sangat dekat penggunaannya dalam Alkitab. Istilah-istilah itu adalah ‘Korban’ dan ‘Persembahan’.

Kalau istilah korban digunakan, maka itu pasti menyangkut sesuatu yang disembelih. Ada darah di sana. Sementara kalau istilah persembahan digunakan, maka tidak harus ada yang disembelih. Jadi istilah persembahan lebih luas jangkauannya dari istilah korban.

Kita perlu mengenal lebih dahulu jenis jenis korban dan persembahan dalam tradisi Alkitab, sebab dengan demikian kita juga akan memahami makna korban dan persembahan itu sendiri. Karena banyaknya, kita ikhtisarkan saja sebagai berikut:

1. Korban Pendamaian

Dilakukan untuk meminta pendamaian bagi dosa dosa yang tidak disengaja (Bil. 15/22 ff). Ini tidak berlaku bagi dosa yang disengaja (Bil 15/30-31). Ini adalah korban yang diberikan untuk meminta pendamaian atas dosa-dosa yang dilakukan. Dengan melakukan perbuatan dosa, manusia lalu menjadi seteru Allah. Dalam posisi itu manusia berhutang nyawa pada Allah. Nyawa itu dilambangkan dengan darah. Maka yang harus terjadi adalah penebusan yang dilambangkan dengan darah juga, sebagai cara pendamaian. Korban Pendamaian ini terbagi atas dua jenis:

a. Korban Penghapus Dosa

Dilakukan untuk untuk memperbaiki kembali hubungan dengan Allah dan untuk menebus dosa.

b. Korban Penebus Salah

Berhubungan dengan pertobatan seseorang yang telah mencuri milik sesamanya, atau juga lalai membayar nazar atau tidak membayar iuran kepada Imam. Mirip dengan korban penghapus dosa. Sebelum hewab korban disembelih, orang yang merasa dirinya berdosa, harus meletakkan tangannya pada kepala hewan tersebut sebagai lambang bahwa dia menyerahkan dosanya untuk ditanggung oleh binatang tadi. Dalam Imamat 4 – 7 kita membaca sejumlah aturan tentang korban penghapus dosa dan korban penebus salah ini.


2. Korban Pemujaan

a. Korban Bakaran

Lambang penyerahan diri kepada Allah ( Im.1)

b. Korban Keselamatan

Sama dengan Korban bakaran, tapi hanya lemaknya yang dibakar (Im.3; 7/11-12, 28 – 34).

i. Korban Puji-pujian

Tanda terimakasih atas karunia karunia Tuhan

ii Korban Nazar

Dipersembahkan dengan suatu janji secara sukarela, akan tetapi begitu janji diucapkan, maka Tuhan Allah menagih janji itu agar ditepati (Ul 23/21-23)

iii. Korban Sukarela

Dipersembahkan dengan sukarela tanpa suatu janji

c. Korban Sajian

Dipersembahkan sebagai tambahan pada korban bakaran dan korban sembelihan sebagai lambang persembahan hasil bumi. (Im 2; 7/12 -14; Ul 15/ 3 – 10)

Tentu saja kita bisa memperdalam dan menemukan jenis korban lain juga seperti korban perjanjian, korban kecemburuan dan lain lain lagi. Namun hal korban bukanlah focus kita. Ikhtisar diatas sebetulnya hanya mau menunjukkan betapa banyak kelemahan manusiawi kita yang ditanggung oleh korban satu pribadi saja, yakni Yesus Kristus. Sehingga melalui Dia kita terbebas dari rumitnya korban korban khas Perjanjian Lama.


Sementara itu mengenai hal Persembahan, ternyata banyak sekali bentuknya.

Karena banyaknya kita akan sebutkan beberapa saja.


• Pertama. Persembahan dalam arti umum. Persembahan ini adalah pemberian berupa uang atau harta benda lainnya bagi pekerjaan Tuhan. Kita temukan ini misalnya untuk pembuatan kemah Suci (Kel. 35/5) atau juga untuk menolong sesama orang miskin . (Kis. 24:17).

• Kedua. Persembahan pagi dan petang atau persembahan tetap (Kel 29/38). Persembahan ini berhubungan dengan pengakuan bahwa Tuhan Allah sendirilah yang menuntun umatnya keluar dari penderitaan. Dan tetap bersedia berdiam diantara mereka. Persembahan ini dilakukan dalam berbagai variasi, dengan nama-nama yang berbeda, sesuai dengan tekanan peristiwanya. Misalnya persembahan cucuran atau persembahan curahan.

• Ketiga. Persembahan Khusus, yakni sesuatu yang dipisahkan untuk Tuhan. Karena umat menatang, menimang atau mengunjuk persembahan ini, maka persembahan ini disebut juga persembahan tatangan, persembahan timangan atau persembahan unjukkan. Kita membaca tentang persembahan persem-bahan ini dalam Kel 25/2; 29/ 24 – 28 ; Bil 18/8, 19; Neh. 12/44; dan banyak lagi bagian Alkitab yang menunjuk pada hal tersebut.

• Keempat. Persembahan Pentahbisan. Ini khususnya berhubungan dengan pentahbisan Imam (Im 8/22-31).

Seluruh persembahan-persembahan yang disebutkan tadi, tergolong dalam persembahan pemujaan. Persembahan persembahan yang mengungkapkan peng-akuan bahwa tanpa Tuhan umat tidak akan menerima berkat, tetapi sekaligus jawaban terhadap tantangan kehidupan, bahwa hidup orang percaya, aman dalam tangan Tuhan. Salah satunya yang sering masih menjadi kontroversi ada-lah Persembahan Persepuluhan.


Persembahan Persepuluhan


Kita tiba pada bagian yang sekarang merupakan pokok pembicaraan kita. Topik persembahan persepuluhan ini telah menimbulkan semacam kontroversi dan dilemma di GPIB. Dikatakan kontroversi karena ada banyak orang yang tidak menyetujui adanya persembahan persepuluhan. Mereka melihat ini dari segi ekonomis memberatkan. Mereka melihat ini sebagai semacam pajak dalam bergereja. Mereka juga melihat ini memberatkan karena sudah ada PTB segala. Dikatakan dilemma, karena banyak gereja dan warga gereja juga mengatakan bahwa GPIB bukanlah gereja yang benar, karena tidak menjalankan perpuluhan. Malahan banyak warga GPIB yang memper- sembahkan persepuluhan di gereja lain karena di GPIB sendiri tidak diberlakukan persembahan persepuluhan.

Kontroversi dan dilemma ini makin ramai karena ada kenyataan bahwa ada warga Gereja yang mempersembahkan perpuluhannya kepada Yayasan, Lembaga tertentu, malahan kepada Pendeta atau Hamba Tuhan yang melayani. Dan yayasan, lembaga, apalagi hamba Tuhan ini merasa, kalau itu sebagai berkat, dan menikmatinya.

Beberapa Praktek Persembahan Persepuluhan dalam Alkitab

Praktek Persepuluhan kita baca dalam berbagai bagian Alkitab, terutama Kitab Perjanjian Lama. Kenyataan ini bisa kita fahami karena Umat Israel sangat menekankan hal hal ritual yang dalamnya ada korban dan persembahan, sementara semuanya itu menuju kepada Yesus Kristus. Namun itu tidak berarti bahwa masyarakat Perjanjian Baru tidak melaksanakan persembahan sama sekali. Bisa dikatakan bahwa orang Kristen pertama pasti masih mengikuti tradisi Yahudi, kecuali dalam satu hal yakni korban yang berdarah. Tradisi perjanjian Baru itu yang kemudian sampai kepada kita, termasuk persembahan persepuluhan.

Pemberian persepuluhan sebagai persembahan kita baca pertama sekali dalam Kejadian 14/203. Dikatakan di sana, bahwa seorang raja bernama Melkisedek, sekaligus imam Allah yang Maha tinggi, keluar menyambut Abram, setelah Abram berhasil mengalahkan banyak raja-raja lain yang menawan Lot seke-luarga. Dan Abram memberikan kepadanya sepersepuluh dari semuanya

Nama Melkisedek itu berarti ‘Raja Kebenaran’. Nama itu berasal dari dua patah kata: Melekh yang berarti Raja, dan Tzadik yang berarti kebenaran atau kebi-jaksanaan. Maka, mereka yang membaca ayat ini dengan mendalam akan mengerti, bahwa Abram memberikan sepersepuluh dari semua yang dia dapat dari perang mengalah-kan para raja, kepada Raja Kebenaran yang adalah Imam Allah Yang Maha-tinggi’. Mudah-mudahan jelas bagi kita -yang menghubungkan gelar Raja dan Imam pada orang yang sama- bahwa ini adalah Tuhan sendiri.

Abraham -Bapa orang beriman- memberikan sepersepuluh dari pendapatannya kepada Tuhan. Ini data pertama tentang persepuluhan, yaitu bahwa orang beriman memberikan persepuluhan kepada Tuhan dari semua hasilnya.

Dalam Kejadian 28/22 kita membaca bahwa setelah mengalami mimpi di Betel, Yakub berjanji, bahwa dia akan mempersembahkan sepersepuluh dari semua yang Tuhan berikan kepadanya kelak. Perhatikanlah kenyataan yang luar-biasa ini. Yakub waktu itu barulah seorang pelarian. Dia tidak memiliki apa- apa. Tapi dia bernazar tentang persepuluhan.

Orang beriman bernazar atau berjanji bagi Tuhan untuk memberikan perse-puluhan dari semua hasilnya kepada Tuhan, justru ketika dia masih dalam usaha untuk mencapai hasil.

Dalam uraian kepada orang Ibrani4 (Ibr 7/9) kita membaca kenyataan yang menarik. Suku Lewi karena tidak mendapat pembagian tanah berhak atas persepuluhan. Dari persembahan itulah mereka hidup. Dengan kata lain orang Lewi mendapat penghasilan dari persembahan persepuluhan umat. Namun dari mereka pun -karena mereka keturunan Abraham, ditarik juga persembahan persepuluhan.

Kita harus mengatakan kenyataan yang jujur ini. Bahwa tidak seorangpun bisa mengatakan diri bebas dari persembahan persepuluhan sekalipun dia hidup dari persembahan persepuluhan itu sendiri.

Dalam II Tawarikh pasal 31, kita membaca bagaimana Raja Hizkia memerin-tahkan agar Israel hidup sesuai dengan kehendak Allah. Dalam rangka itu Hizkia mengatur pengumpulan dan pendistribusian persembahan. Termasuk didalamnya persembahan persepuluhan. Sang Raja juga ikut membayar kewajibannya. Ayat ayat terakhir dari pasal 31 ini menyimpulkan bahwa begitulah Hizkia bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan dan karena itu dia berhasil dalam semua usahanya.

Kita melihat kenyataan menarik bahwa ada hubungan antara pemberian persembahan -termasuk dalamnya persembahan persepuluhan- sebagai pelaksanaan kehendak Tuhan, dan keberhasilan dalam usaha.

Dalam Nehemia pasal 13 kita membaca, bagaimana dalam ketaatannya kepada hukum -Taurat- Nehemia melakukan hal yang sama dengan Hizkia yang disebutkan diatas, termasuk hal persembahan persepuluhan umat dan segala pengaturan persembahan yang lain juga. Dengan cara itu kehidupan umat itu kembali benar di mata Tuhan.

Kita belajar bahwa ada memang banyak hal yang menunjukkan kepautuahn kita terhadap kehendak Tuhan. Dan persembahan persepuluhan merupakan salah satu yang signifikan diantara semua itu.

Perjanjian Baru memberikan tanda yang jelas bahwa Persembahan Persepuluhan berlaku. Sejumlah orang yang membayarnya melakukan hal itu dalam kemunafikan, sehingga ditegur5 oleh Yesus (Mat. 23/23; Luk 11/42; 18/12).

Pada akhirnya kita harus melihat kenyataan Jemaat- Jemaat Pertama. I Kor 9/ 7-146, 16/27, II Kor 8/1 -158, Gal 6/69; I Tim 5/17-1810 dan Ibr 7, semuanya menunjukkan bahwa hal persembahan persepuluhan tidak asing dalam Jemaat jemaat pertama. Justru sejajar dengan itu kita melihat juga bahwa ‘korban berdarah’ seperti yang jelas dalam tradisi makin memudar.

Kita belajar bahwa tidak ada satu ayatpun dalam Perjanjian Baru yang memba-talkan atau yang mengusulkan penggantian pemberian Persembahan Persepu-luhan.

Doktrin Persembahan Persepuluhan Dalam Alkitab

Dari praktek yang diuraikan diatas, kita lalu bisa mengatakan bahwa ada dua fase yang bisa kita baca dalam keseluruhan Alkitab tentang persembahan persepuluhan. Fase pertama adalah Fase Perjanjian Lama yang ditandai dengan hukum hukum Musa. Fase kedua adalah fase Perjanjian Baru yang ditandai dengan ajaran Yesus dan surat surat Pastoral, terutama surat surat Paulus.

Dalam fase Perjanjian Lama yang ditandai dengan Hukum Hukum Musa kita melihat beberapa hal penting yang bisa kita catat.

Pertama, Persembahan Persepuluhan itu diperintahkan sebagai sesuatu yang diharus-kan. (Im. 27/30; Mal.3/10).

Kedua, Persembahan Persepuluhan itu diberikan dengan beberapa kepentingan.

1. Untuk Orang Lewi (Bil 18/21 -24). Orang Lewi tidak mendapat tanah sebagai milik pusaka. Mereka ditugas-kan untuk hal hal menyangkut Bait Allah. Karena itu mereka hidup dari persembahan persepuluhan umat.

2. Sepersepuluh dari sepersepuluh yang diberikan pada orang Lewi itu harus mereka persembahkan sebagai persembahan persepuluhan mereka (Bil. 18/26; Neh 10/37; 12/44). Jadi, sekalipun orang Lewi hidup dari persembahan persepuluhan, namun mereka tidak bebas dari hal mempersembahkan persembahan persepuluhan itu sendiri.

3. Sepersepuluh dari persembahan persepuluhan setiap tiga tahun sekali diberikan kepada orang asing/miskin, orang Lewi, para janda dan anak yatim (Ul. 14/27-29; 26/12 – 14). Dengan demikian jelas sekali bahwa peruntukan persembahan persepuluhan adalah untuk menolong mereka yang sengsara.

4. Persembahan Persepuluhan itu untuk menjadi Persediaan di rumah Tuhan (Mal. 3/10). Istilah Rumah Tuhan disini menunjuk pada Institusi atau persekutuan yang harusnya menjadi pelaksana kasih Allah dalam penggunaan persem-bahan Persepuluhan itu.

5. Persembahan Persepuluhan diberikan sebagai bentuk penghormatan dan kepatuhan terhadap Tuhan Allah (Ams. 3/9-10) Hasil pertama yang disisihkan selalu berhubungan dengan persembahan Persepuluhan. Mempersembahkannya berarti memuliakan Tuhan sebagai penjamin berkat dalam kehidupan.


Ketiga, waktu untuk membawa persembahan persepuluhan itu adalah secara tahunan, bersamaan dengan semua persembahan yang lain untuk upacara Hari Raya (Ul 12/6-7; 14/22-26).

Keempat, bahwa Persembahan Persepuluhan itu adalah Milik Allah dan bukan milik orang yang mempersembahkannya (Im. 27/30 – 34; Mal 3/8).

Kelima, kemana persembahan Persepuluhan itu harus di bawa, yakni ke rumah Tuhan (II Taw. 31/12; Neh. 10/38; 12/44; 13/5, 12; Mal 3/10).

Keenam, kalau persembahan persepuluhan itu dipinjam, maka ketika dibayar harus ditambahkan kepada pinjaman itu seperlima atau dua persepuluh. Dengan demikian keseluruhan yang dikembalikan adalah tiga persepuluh (Im 27/31)

Ketujuh, kalau ditukar, maka yang ditukar berikut tukarannya harus dibayar (Im 27/33).

Dengan demikian jelaslah bahwa bagi dunia Perjanjian Lama, Persembahan Persepuluhan merupakan bagian dari hukum kehidupan, dalam hal ini, Hukum Taurat.

Dalam Fase Perjanjian Baru ketika Yesus Kristus mengajar maka Yesus Kristus juga menyinggung persembahan persepuluhan.

Kita bisa melihat tanggapan Yesus itu dalam Mat 23/23; Luk 11/42; Bd Mat 5/20 dgn Luk 18/11-12; Lihat juga Mat 10/10; Luk 16/16. Kesulitan kita adalah kebiasaan yang sifatnya ‘konkordatif’11 dalam memahami Alkitab. Padahal, terhadap pertanyaan apakah Tuhan Yesus mempersembahkan persembahan persepuluhan, maka acuan kita mestinya bukan hanya kata kata ‘persepuluhan’ yang keluar dari mulut Tuhan Yesus. Sebagai putera Yahudi, pasti Yesus memberikan persembahan persepuluhan, sebab hal itu dilakukan sebagai hukum kehidupan keagamaan khas Yahudi. Maka kata kata Tuhan Yesus dalam Mat 5 : 17 – 20 bagi kita mestinya berarti bahwa bukan hanya Yesus, tetapi juga para muridNya adalah pelaksana pelaksana persembahan Persepuluhan.


Selain Yesus, Rasul Paulus juga bicara tentang hal yang sama:


1. Mengkritik pelanggaran terhadap hal hal yang menyangkut hal hal yang tabu untuk dilakukan (Rm 2/22) atau perampokan terhadap Bait Suci (Mal 3/8 – 10) dan penggunaan benda benda suci (Im 27)

2. Bahwa pengajar yang harus di beri bayaran (Gal. 6/6)

3. Bahwa Tuhan Allah menetapkan bantuan bagi para pelayanNya (I Kor 9/7-14, I Tim 6/ 17-18).

4. Orang Kristen juga harus memberi sebab Allah sendiri telah memberkati mereka dengan banyak berkat (I Kor 16/2).

5. Keturunan Abraham -terutama secara iman- harus berjalan dalam jejak jejak iman yang dicontohkan Abraham.

6. Imamat Melkisedek adalah kekal dan karena itu harus dipelihara oleh keturunan Abraham (Ibr 6/20; 6/1-11, 17, 21).

7. Persembahan Persepuluhan adalah bukti kepatuhan dan penghargaan atas berkatberkat Tuhan (Rom 4/12; Ibr 7/6 -10; I Kor 9/ 7 – 14; I Tim 6/17 – 18; Bd. Mal 3/8 – 10; Ams 3/9 – 10; Kej 14/20; Ul 8/10 – 20).

Berkat-berkat Berhubungan Dengan Persembahan Persepuluhan.

Alkitab juga bicara tentang berkat berkat, berhubungan dengan persembahan persepuluhan ini.

  • Berkat karena kepatuhan ( lihat diatas )

  • Rumah Tuhan tidak akan mengalami kekurangan (Mal. 3/10), sehingga tetap bisa melaksanakan tugasnya dengan baik.

  • Pelayan pelayan Tuhan tidak akan kelaparan (I Kor. 9/7 – 14; I Tim 5/17 – 18; Neh 13/8 – 10; Mal. 3/8 – 10.

  • Berkat material dan spiritual (Mal 3/8 – 10; Ams 3/9 – 10; II Taw 31; Neh 13).

Ada baiknya kita membuat beberapa kesimpulan sederhana tentang petunjuk petunjuk Alkitab yang sempat kita kumpulkan diatas.

Pertama, jelas sekali bahwa persembahan persepuluhan itu punya dasar dalam Alkitab. Tokoh tokoh Alkitab mempraktekkannya dan mengajarkannya.

Kedua, jelas juga bahwa persembahan persepuluhan itu diharuskan oleh Alkitab. Ini berarti diperintahkan oleh Tuhan sendiri. Dan perintah Tuhan itu belum pernah dibatalkan.

Ketiga, bahwa persembahan persepuluhan itu bukan beban melainkan identi-tas umat beriman, sehingga harusnya dilakukan dengan sukacita. Bukan dengan rasa tertekan.

Keempat, persembahan Persepuluhan adalah milik Tuhan dalam keseluruhan berkat yang Tuhan berikan bagi umatNya. Dengan kata lain dalam berkat berkat kita ada bagian Tuhan sendiri yang harus disisihkan.

Kelima, dengan demikian dalam memberikan persembahan Persepuluhan kita harus sadar bahwa kita memberikan apa yang punya Tuhan. Bukan sedang menyumbang atau memperkaya institusi persekutuan orang percaya.

Keenam, jelas bahwa persembahan Persepuluhan itu dibawa ke Rumah Tuhan sebagai representasi persekutuan umat. Dan karena itu tidak ada alasan untuk memberikannya kepada pribadi, yayasan atau lembaga.

Ketujuh, penggunaan persembahan Persepuluhan itu oleh Institusi mestinya berakibat pelayanan yang lebih baik lagi sehingga institusi makin mampu membagikan kasih Allah bagi makin banyak orang.

Kedelapan, adalah salah -bahkan dinilai sebagai upaya menipu Tuhan- kalau orang mengabaikan persembahan persepuluhan. Bahwa ada persembahan lain, itu tidak meniadakan persembahan persepuluhan, sebagai sesuatu yang khusus.

Kesembilan, mereka yang memberikan persembahan Persepuluhan, baik sebagai pribadi maupun sebagai persekutuan, diberkati oleh Allah. Namun harus jelas bahwa orang tidak bisa menyogok Tuhan Allah dengan memberikan persembahan persepuluhan.

Kesepuluh, persembahan Persepuluhan itu berlaku bagi orang percaya disegala tempat dan segala zaman.

Pergumulan Pergumulan Kontemporer

Pergumulan kontemporer yang umum adalah bagaimana memahami persem-bahan Persepuluhan begitu rupa sehingga sekalipun kita berada pada era niaga dan sektor jasa, namun persembahan persepuluhan sebagai praktek beriman tetap bisa dilaksanakan dengan baik dan benar. Harus dikatakan bahwa secara umum, perkem-bangan perkembangan membuat kita tertolong. Misalnya saja tentang waktu pembe-rian persembahan persepuluhan itu. Jelas sekali bagi dunia Perjanjian Lama, itu diberikan secara tahunan. Ini karena latar-belakang pertanian dan penggembalaan. Dalam masyarakat seperti itu penghasilan baru akan jelas kelihatan secara tahunan. Dewasa ini kita tidak lagi harus menunggu setahun, tetapi bisa kita lakukan setiap bulan. Karena penghasilan kita -kecuali didaerah pertanian tradisional- adalah penghasilan bulanan, maka persembahan Persepuluhan juga harus diberikan setiap bulan. Misal yang lain adalah bahwa -lagi lagi kecuali di daerah pertanian yang sangat tradisional- kita tidak usah lagi membawa persembahan Persepuluhan dalam bentuk hasil pertanian atau peternakan. Kita bisa melakukannya dalam bentuk uang.

Pergumulan kontemporer khas Gerejawi ternyata lebih rumit dari pergumulan kontemporer yang umum. Dan salah satu contohnya adalah GPIB sendiri. Dalam hubungan ini barangkali kita mau melihat sejumlah -pasti tidak semua- pergumulan khas GPIB tentang persembahan persepuluhan.

Pergumulan awal tentang persembahan persepuluhan ada dua.

Yang pertama, adalah apakah persembahan persepuluhan itu masih tetap wajib setelah Perjanjian Baru?. Jawaban tentang hal ini jelas. Bahwa fakta Yesus sebagai putera Yahudi dan Paulus yang banyak surat pastoral tidak pernah membatalkan ataupun mengganti persembah-an Persepuluhan. Darah Yesus di Golgota membatalkan korban korban berdarah. Bukan membatalkan persembahan Persepuluhan.

Pergumulan awal yang kedua, adalah pertanyaan, apakah ini semacam ‘pajak’ bagi Gereja?. Jelas jawabnya tidak. Perlu diketahui bahwa dikalangan masyarakat seputar Israel sendiri ada yang memang menarik persepuluhan dari rakyat mereka. Ada yang ditarik untuk kepentingan Raja, ada yang ditarik untuk kepentingan tentara. Justru dalam Alkitab persepuluhan ditarik oleh Bait Allah yang tidak mempunyai kekuatan duniawi seperti Raja dan tentara. Tapi mengapa ini terus berjalan? Jawabnya, karena persembahan persepuluhan itu membuat persekutuan makin mampu membuat makin banyak orang mengalami belas-kasihan Allah.

Setelah pergumulan utama diatas, muncul berbagai pergumulan yang tak kurang beratnya, dibandingkan dengan pergumulan awal diatas. Berikut ini mau dicatat beberapa saja dari kebiasaan yang salah12.

  • Kebiasaan salah pertama adalah mempersoalkan Persembahan Persepuluh-an dalam hubungan dengan PTB. Jawabnya sederhana. PTB itu terjadi karena GPIB belum mampu menerapkan aturan Alkitab yang namanya persepuluhan. Dalam Persidangan Sinode Tahun 2000 GPIB mulai memperhatikan hal persembahan persepuluhan ini13. Tapi dalam Persidangan Sinode Istimewa tahun 2004, GPIB makin bertobat dalam arti berusaha sebagai gereja untuk memberlakukan prinsip prinsip Alkitab, termasuk tentang persepuluhan14. Apakah PTB masih ada?. Jawabnya, masih ada dalam masa transisi. Tapi kita menuju ke persepuluhan. Apakah harus dobbel, PTB dan persepuluhan?, jawabnya tidak perlu. PTB itu aturan GPIB, Persepuluhan itu aturan Tuhan. Sekarang GPIB mengajak seluruh umatnya untuk mematuhi aturan Tuhan. Konkritnya, kalau sekarang kita melaksanakan Persepuluhan apakah kita boleh mengabaikan PTB?. Jawabnya, boleh sekali. Kalau ada yang mau tetap mempersembahkan PTB selain Persembahan Persepuluhan?. Boleh saja. Kalau ada yang mengangkat Persepuluhan, kemudian membaginya atas berbagai macam, termasuk PTB?. Jawabnya ya tidak boleh. Persepuluhan ya persepuluhan. Apakah tidak takut kolekte berkurang? Jawabnya, kalau kolekte berkurang tapi persembahan Persepuluhan bertambah, maka yang akan terjadi adalah saldo tambah. Bukan saldo kurang!.

• Kebiasaan salah yang kedua, sebagaimana disinggung di atas adalah, adanya sejumlah orang yang mengklaim diri sebagai berhak atas persepuluhan, dan tidak mau memberikan persepuluhan. Sedihnya, orang orang ini sering adalah fungsionaris fungsionaris ibadah, termasuk lembaga atau yayasan independent yang bergerak dalam bidang yang sama. Ini jelas bertentangan dengan kesaksian Alkitab. Ada sejumlah orang dengan roh materialistik yang mau memanipulasi Firman, khususnya mengenai persepuluhan. Jangan berikan kesempatan kepada orang-orang seperti ini. Kita harus menjaga agar jangan ada fungsionaris pelayanan gereja yang materialistik, dan ingin mengambil keuntungan dari persepuluhan. Tetapi kita juga harus mengingatkan umat agar jangan menjadi pelit kepada Tuhan lalu ‘menipu’ milik-Nya sendiri, yakni hak Tuhan atas persepuluhan. Kalau jelas bahwa Suku Lewipun harus memberikan persembahan Persepuluhan, maka bisa ditarik kesimpulan bahwa para fungsionaris pelayanan -termasuk pendeta yang hidup dari persembahan umat- tidak bisa membebaskan diri dari ketentuan Persembahan persepuluhan. Kitab Nabi Maleakhi 3:8–10 secara jelas mengatakan, bahwa orang yang tidak mempersembahkan persepuluhan dia menipu Tuhan. Kalau hidup seorang penipu terus-menerus bermasaalah dan berkekurangan, apalagi seorang penipu Tuhan. Besar kerusakannya.

Kita telah melihat data Alkitab yang persis, bahwa yang menjadi terminal terakhir Persembahan persepuluhan, adalah Rumah Tuhan. Dengan begitu yang dimaksud adalah persekutuan setempat dimana orang beribadah. Tidak ada data bahwa seorang dari Hebron memberikan persembahan persepuluhan ke Yerikho misalnya. Karena itu, maka juga tidak benar apabila seorang warga jemaat GPIB di Jakarta, mengirimkan Persembahan persepuluhannya ke GPIB lain di pos pelkes. Yang benar adalah GPIB tersebut di Jakarta -sebagai persekutuan- membantu GPIB di Pos Pelkes juga sebagai persekutuan.

• Kebiasaan salah yang ketiga adalah, memberikan persepuluhan secara tahunan. Telah diuraikan diatas tadi, perbedaan pola penghasilan di Israel zaman PL dengan sistim kita yang bulanan. Maka persembahan persepuluhan juga seyogyanya diberikan secara bulanan. Kalau masih diberikan secara tahunan sebetulnya persepuluhan itu dipandang sebagai semacam PTB. Maka akan aneh kalau diumumkan, bahwa persepuluhan pak anu bulan September sekian, padahal beliau telah almarhum dibulan Juni!.

• Kebiasaan salah keempat adalah angka persepuluhan yang mutlak harus sama. Justru tidak harus sama. Angka persepuluhan bisa fluktuatif, tergantung penghasilan. Disini kadang kadang ‘kedagingan’ masih bermain peranan. Seorang yang biasanya memberikan sekian, merasa ‘tidak-enak’ kalau bulan ini hanya memberi sekian. Padahal yang terjadi adalah perusahannya tutup, dia baru pension, panennya gagal dsb. Jangan merasa risih kalau penghasilan bulan ini lebih rendah dari bulan lalu. Adalah menyedihkan kalau dalam memberikan persembahan persepuluhan kita mencari kehormatan di mata manusia, sementara di mata Tuhan Allah kita justru butuh pertolongan.

• Kebiasaan salah kelima adalah pemahaman tentang penghasilan yang sepersepuluhnya dipersembahkan. Sebetulnya persembahan persepuluhan adalah hal yang sangat pribadi. Penghasilan adalah penghasilan dan bukan modal kerja. Tegasnya, uang makan dan uang transport baik yang regular maupun karena penugasan khusus, bukanlah penghasilan dan karena itu tidak kena aturan persepuluhan. Mengapa demikian?. Karena modal kerja adalah benih. Bukan hasil. Persepuluhan tidak pernah dipersembahkan dari benih. Persepuluhan dipersembahkan dari hasil. Masalah kita memang menjadi rumit karena kemajuan. Yang pertama ada pekerjaan yang hanya memberikan gaji secara total, tanpa memperhitungkan transportasi, makan siang dsb. Pokoknya, sekian. Kalau ini yang terjadi, maka pribadi yang bersangkutan harus menghitung sendiri berapa penghasilan sesungguhnya. Dengan demikian kita terhindar dari kasus Ananias dan Safira. Yang kedua ada pekerjaan yang gajinya diberikan lewat rekening Bank. Jadi tidak ada amplop yang pulang kerumah untuk membuat Ibu rumah tangga membuat perhitungan. Penyelesaiannya sama saja. Hitung, dan jangan menjadi seperti Ananias dan Safira. Tentu saja ada orang yang mengangkat persepuluhan dari keseluruhannya, karena merasa semuanya adalah penghasilan. Boleh boleh saja.

• Kebiasaan salah keenam adalah, sikap masa-bodoh terhadap pemeriksaan yang berdasar dalam pemahaman yang salah tentang Firman. Memang Tuhan Yesus mengatakan bahwa apa yang diberikan dengan tangan kanan, tidak usah diketahui tangan kiri. Ini benar kalau berarti bahwa kita tidak usah mempersoalkan untuk program yang mana persepuluhan digunakan, sebab ini kesepakatan program pelayanan. Akan tetapi kita wajib mencek apakah persembahan persepuluhan kita memang telah sampai ke perbendaharaan rumah Tuhan. Dan untuk itu, kita harus memeriksanya lewat warta keuangan. Namun kadang kadang terjadi ekstrim yang lain juga. Justru karena kita melihat ketidak-beresan management gereja sebagai institusi lalu kita batal memberikan persembahan Persepuluhan. Jawabannya sederhana. Perbaiki managementnya dan tuntut agar terus terjadi perbaikan. Tapi kalau kita berpikir bahwa karena manusianya salah maka hak Tuhan kita tahan dulu, rasanya kita salah dan tidak logis juga. Lain orang yang melakukan kesalahan, lain orang yang menerima ‘getahnya’.

• Kebiasaan salah ketujuh adalah, penolakan secara mentah-mentah terhadap persembahan persepuluhan, karena memang tidak mau. Ada yang karena berpikir bahwa Gereja justru punya banyak uang. Ada yang berpikir bahwa dengan memberikan persembahan persepuluhan dia melayani hasrat materialistik institusi. Ada yang memang sayang akan uangnya. Namun ada juga yang menolaknya karena memandang dirinya begitu berkekurangan sehingga dia yang justru perlu dibantu. Orang seperti ini membutuhkan sejumlah pengalaman dari Tuhan untuk lebih beriman. Sebab ini bukan soal kaya-miskin. Ini soal ketaatan. Catatan kecil yang Tuhan Yesus berikan tentang janda miskin sangat menarik perhatian. Seorang janda, yang justru di bela oleh institusi Bait Allah, tetap memberikan persembahan. Tuhan ingin kita jujur dihadapan-Nya. Penerima bantuan diakoni tidak bebas dari persembahan persepuluhan.

• Kebiasaan salah yang kedelapan yang menyangkut hampir seluruh umat adalah pada satu sisi pengabaian terhadap penilaian kinerja fungsionaris pelayanan, dan pada sisi yang lain, pengabaian terhadap program pelayanan itu sendiri. Suatu proses introspeksi diri yang serius dibutuhkan baik pada pribadi, mekanisme kerja, maupun beban program yang harus dilayani. Dengan demikian, persembahan umat mencapai maksudnya. Harap jelas bahwa kita bukan hanya menangani persembahan orang. Kita juga menangani ‘doa’ orang sejajar dengan persembahan itu.

Catatan catatan berikut akan dibuat justru setelah kita selesai pembahasan. Sebab pembahasan ini memang disempurnakan oleh catatan demi catatan dari jemaat ke jemaat.


Estehaka.-


1 Istilah penggembala digunakan disini untuk membedakannya dari peternakan modern, dimana ternak ditempatkan ditempat yang tetap, tidak berpindah pindah. Dalam fase penggembala, ternaknya berpindah pindah mengikuti gembala yang mencarikan rumput dan air untuk ternak gembalaan.

2 Dan Brown, penulis novel The DaVinci Code yang terkenal itu mengeksplorasi fakta antropologis ini untuk mengatakan bahwa model penyembahan sekarang yang berorientasi ‘ke atas’ adalah penyimpangan. Penyembahan harus dikembalikan ke bawah. Dari sini dia memanfaatkan euphoria feminisme dan menuduh agama sekarang merupakan semacam penjajahan kaum maskulin. Ujung ujungnya yang harus disembah -menurut Brown- adalah Maria Magdalena dan bukan Yesus.

3 Urutan <<surat>> dalam Alkitab yang digunakan disini adalah sebagaimana yang digunakan Gereja. Argumentasi akademis tentang tua-muda nya naskah asli sengaja tidak diperhitungkan.

4 Penulis Surat Ibrani menuliskan suratnya kepada orang Kristen yang berlatar-belakang Yahudi dan karena itu pasti menggunakan latar belakang keyahudian, yang sekaligus berarti hubungan erat dengan Ibadah <<Israel>> juga.

5 Yesus menegur mereka karena mereka mengabaikan kasih, dan menggunakan hal persembahan persembahan mereka -termasuk persepuluhan- sebagai semacam hak untuk menjadi sombong-rohani dihadapan Allah. Tapi ini sama sekali tidak berarti bahwa Yesus tidak bersetuju dengan persembahan persepuluhan. Kita malahan harus mengatakan bahwa sebagai putera Yahudi yang taat, Yesus pasti mempersembahkan persembahan persembahan, termasuk persembahan persepuluhan.

6Disini Paulus bicara tentang hak dan kewajiban Rasul. Khusus dalam ay 13 Paulus menunjuk pada hak dan kewajiban suku Lewi yang ditopang oleh persembahan -termasuk persembahan persepuluhan- umat, namun Paulus sendiri menolak menggunakan hal itu.

7 Paulus menganjurkan agar pada hari pertama tiap minggu pengumpulan uang bagi orang kudus dilaksanakan sesuai dengan perolehan umat. Persembahan itu harus disisihkan secara sengaja. Ini menun-juk secara jelas kepada Persembahan Persepuluhan.

8 Disini Paulus mengajak orang Korintus agar meniru iman orang Makedonia, yang sekalipun ber-ada dalam kesulitan, tetap melaksanakan tugas iman mereka dalam bentuk persembahan. Tentu saja di-dalamnya termasuk persembahan persepuluhan.

9 Kembali anjuran untuk membantu mereka yang memberikan ajaran dengan jalan membagikan kepada pengajar, apa yang ada pada yang diajar. Kembali kita melihat tugas dan peranan persembahan persepuluhan disini.

10 Sama dengan Gal 6/6, hanya disini dikatakan secara lebih eksplisit, malahan para pengajar adalah penatua.

11 Kebiasaan konkordatif yang dimaksudkan adalah memeriksa kedalam konkordansi, apakah ada kata yang berhubungan dengan permasalahan secara eksplisit dalam ayat Alkitab. Kalau tidak ada, maka dianggap bahwa Alkitab tidak mempersoalkannya. Dalam pendekatan holistic, dimana semua hal di pertimbangkan, maka tafsiran Alkitab menjadi lebih dekat pada aslinya.

12 Khusus mengenai inventarisasi kebiasaan yang salah ini, dirangkum dari berbagai pertanyaan lewat rubrik dalam Warta Jemaat. Karena itu inventarisasi ini bisa berubah dari jemaat ke Jemaat, entah bertambah, entah berkurang.

13 Lihat buku Ketetapan PS XVII hal 98

14 Lihat Ketetapan PSI tahun 2002 hal 46 dan 54.