Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri
Showing posts with label Yosua. Show all posts
Showing posts with label Yosua. Show all posts

Tuesday, October 14, 2025

Tuhan Sang Pencipta Waktu

Beberapa hari lalu, bertemu seorang sahabat di kota lain yang sudah berpuluh tahun tidak ketemu. Lanjut ke satu tempat ngopi, perbincangan mendadak dalam dan serius dengan berbagai-bagai topik. Hal ini cukup mengesankan, maka kami coba rangkum dalam satu artikel supaya dapat ditangkap sebagai satu rangkaian brain storming yang punya landasan berpikir. Memang agak sulit menyatukan, dan berbeda dengan artikel kami pada umumnya, tetapi semoga berguna.

Memahami Penciptaan, Mukjizat Kana, 
dan Pemulihan Tahun-Tahun Kita yang Hilang

​
Selama berpuluh-puluh tahun, perdebatan mengenai usia Bumi - apakah Bumi ini sangat tua (miliaran tahun) atau masih muda (ribuan tahun) - terus berlangsung di kalangan umat beragama. Namun, alih-alih terjebak dalam pemikiran yang menuntut kita untuk memilih salah satu, mari kita belajar dari pola pikir alkitabiah yang sering kali mengajarkan konsep "keduanya" - Sangat tua, sekaligus masih muda. 

Bagaimana mungkin Bumi berusia tua sekaligus muda? Jawabannya terletak pada pemahaman teologis yang mendalam: Allah yang kita sembah adalah Pencipta waktu. Ia tidak tunduk atau dibatasi oleh waktu, melainkan berdiri melampauinya. Hal ini ditegaskan secara gamblang dalam firman-Nya:

​"Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam" (Mazmur 90:4).

Ya Allah kita Transenden. Ia berada di luar batas pemahaman, pengalaman, atau kesanggupan akal manusia. Ia melampaui alam materi, tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

​Untuk membangun pemikiran kritis kita mengenai hal ini, mari kita ajukan sebuah pertanyaan logis: Berapakah usia Adam pada hari ia diciptakan oleh Allah? Secara fisik, jika ia diperiksa oleh seorang dokter ahli pada hari itu, sang dokter mungkin akan menyimpulkan bahwa Adam berusia 20 atau 25 tahun. Ia diciptakan sebagai manusia dewasa yang sudah bisa berjalan, berbicara, bekerja memelihara taman, dan memberi nama binatang. Namun, secara kronologis, usianya mungkin baru lima menit. 

Jika Allah sanggup menciptakan manusia yang sudah dewasa dalam sekejap, maka sangat masuk akal jika Allah juga sanggup menciptakan alam semesta yang sudah "dewasa" dalam satu momen. Ia bisa menciptakan pohon yang langsung memiliki lingkaran tahun di batangnya, atau tata surya yang cahaya bintangnya sudah memancar hingga ke Bumi. Allah berdaulat untuk mengintervensi dan melipatgandakan waktu sesuai dengan kehendak-Nya yang berdaulat.
​
Sepanjang catatan Alkitab, kita melihat bukti nyata bagaimana Allah mendemonstrasikan kedaulatan-Nya atas waktu. Ia menghentikan perputaran Bumi dan menahan matahari pada zaman Yosua (Yosua 10), memundurkan bayang-bayang penunjuk waktu pada zaman Raja Hizkia (Yesaya 38), dan melipatgandakan ruang serta waktu ketika perahu murid-murid tiba-tiba langsung sampai ke tempat tujuan setelah Yesus naik ke dalamnya di tengah badai (Yohanes 6).
​
Pemahaman teologis tentang Allah yang melampaui waktu ini juga menjadi kunci utama untuk mengerti makna terdalam di balik mukjizat pertama Yesus di perjamuan kawin di Kana. Rasul Yohanes mengawali catatan mukjizat ini dengan sebuah penanda spesifik:

​"Pada hari ketiga ada perjamuan kawin di Kana yang di Galilea..." (Yohanes 2:1).

​Bagi pikiran masyarakat Yahudi abad pertama, "hari ketiga" bukanlah informasi acak. Dalam kisah penciptaan pada kitab Kejadian, hari ketiga adalah satu-satunya hari yang menerima berkat ganda dari Allah, menjadikannya hari yang sangat lazim untuk merayakan pernikahan.

​Di tengah perayaan sosial yang mempertaruhkan kehormatan seluruh keluarga besar itu, kehabisan anggur adalah sebuah aib sosial yang luar biasa. Di saat kritis inilah Yesus bertindak, dan Ia sengaja memilih sebuah media yang sarat akan makna teologis. Alkitab mencatat:

​"Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi..." (Yohanes 2:6).

​Mengapa enam? Dan mengapa menggunakan tempayan batu? (Tempayan pembasuhan menurut adat orang Yahudi terbuat dari batu, baca Alkitab terjemahan KJV: "Nearby stood six stone water jars, the kind used by the Jews for ceremonial washing, each holding from twenty to thirty gallons."). Dalam logika teologi Yahudi, angka enam adalah lambang ketidaksempurnaan - kurang satu dari angka tujuh yang melambangkan kesempurnaan ilahi. Tempayan batu digunakan karena batu dipercaya tidak bisa tercemar atau menjadi najis secara ritual.

​Lewat detail ini, Yesus sedang memberikan pesan kritis yang mendalam: Ia mengambil instrumen dari sistem agama dan hukum Taurat yang lama (yang tidak sempurna dan tidak mampu benar-benar menyucikan hati manusia), lalu mengubah air ketidaksempurnaan itu menjadi anggur keselamatan Injil yang baru. Kuantitas yang dihasilkan pun melimpah ruah, mencapai ratusan liter, menjadi cerminan betapa berlimpah dan mewahnya anugerah Allah bagi kita.

​Akan tetapi, puncak keajaiban yang melampaui nalar justru ada pada respons pemimpin perjamuan. Setelah mengecap air yang telah menjadi anggur itu, ia berseru:

​"Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu... tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang" (Yohanes 2:10).

​Secara alamiah, anggur dengan kualitas dan kompleksitas rasa terbaik membutuhkan proses fermentasi alami selama empat hingga lima tahun. Namun, Yesus menciptakan anggur yang kualitasnya melampaui buatan manusia itu dalam hitungan detik! Sang Pencipta waktu baru saja memampatkan proses bertahun-tahun menjadi satu momen sekejap mata. Serta jumlahnya sangat-sangat banyak. 1 buyung berisikan kira-kira 34-40 liter, dikalikan 2 sampai 3 buyung bisa menjadi 100 liter, sehingga 6 tempayan batu dapat berisi kurang lebih 600 liter (bandingkan!, kalau satu aqua gallon berisi 19 liter, sehingga 6 tempayan sebanding dengan kurang lebih 31 gallon aqua!)

​Mukjizat pertama di sebuah pernikahan ini memberikan kerangka bagi seluruh sejarah penebusan umat manusia, yang kelak juga akan diakhiri dengan sebuah pernikahan agung di surga, seperti yang tertulis:

​"Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba" (Wahyu 19:9).

​Lalu, apa relevansi logika penciptaan dan mukjizat Kana ini bagi kehidupan kita saat ini?

​Dalam perjalanan hidup, sering kali kita menatap ke belakang dengan penuh penyesalan. Kita meratapi tahun-tahun yang hilang secara sia-sia akibat dosa masa lalu, kesalahan fatal dalam mengambil keputusan, atau penderitaan yang memakan waktu panjang. Secara kronologis dan logika manusia, waktu yang hilang tidak mungkin bisa diputar kembali.

​Namun, ingatlah bahwa kita melayani Allah yang tidak dibatasi oleh waktu dan logika manusia. Jika Allah sanggup memampatkan lima tahun proses fermentasi anggur menjadi beberapa detik di Kana, maka Ia pun sanggup memampatkan anugerah, pemulihan, dan berkat-Nya ke dalam hidup kita untuk menggantikan tahun-tahun yang telah terbuang. Alkitab memberikan kita janji yang sangat kokoh:

​"Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan..." (Yoel 2:25).

​Allah kita tidak sekadar mengampuni masa lalu kita; Ia menebusnya. Ia menjadikan segala sesuatunya utuh kembali!

​Oleh sebab itu, bagi kita yang merasa bahwa hidup kita sudah hancur atau terlambat, jangan pernah kehilangan pengharapan. Selama kita masih memiliki napas, babak terakhir dari kisah hidup kita belumlah selesai ditulis. Mari kita datang menyerahkan seluruh hidup kita kepada Yesus Kristus—Tuhan yang menggenggam waktu. Ia berkuasa mengubah kehampaan dan masa lalu kita yang tidak sempurna menjadi "anggur terbaik" yang pernah ada, demi kemuliaan-Nya.

ITT - Selasa, 14 Oktober 2025

Sunday, September 8, 2013

Yosua 10:38-43

(Sesuai SBU - Rabu, 18 September 2013)

10:38 Kemudian Yosua dengan seluruh Israel kembali ke Debir, lalu berperang melawannya.
10:39 Negeri itu beserta rajanya dan segala kotanya direbutnya, dan dipukul dengan mata pedang. Semua makhluk yang ada di dalamnya ditumpas mereka, tidak seorang pun yang dibiarkannya lolos; seperti yang dilakukannya terhadap Hebron, demikianlah dilakukan terhadap Debir beserta rajanya, sama seperti yang dilakukannya terhadap Libna beserta rajanya.
10:40 Demikianlah Yosua mengalahkan seluruh negeri itu, Pegunungan, Tanah Negeb, Daerah Bukit dan Lereng Gunung, beserta semua raja mereka. Tidak seorang pun yang dibiarkannya lolos, tetapi ditumpasnya semua yang bernafas, seperti yang diperintahkan TUHAN, Allah Israel.
10:41 Yosua menewaskan mereka dari Kadesh-Barnea sampai Gaza, juga seluruh tanah Gosyen sampai Gibeon.
10:42 Semua raja ini dan negeri mereka telah dikalahkan Yosua sekaligus, sebab yang berperang untuk orang Israel ialah TUHAN, Allah Israel.
10:43 Kemudian Yosua dengan seluruh Israel pulang kembali ke tempat perkemahan di Gilgal.

PENGANTAR

Dalam kanon Ibrani kitab ini menduduki posisi pertama dalam kelompok tulisan para nabi (nebiim). Lebih spesifik, kitab ini tergolong dalam daftar nabi-nabi awal, yaitu mereka yang melayani setelah Musa sampai pembuangan ke Babel. Cara penempatan seperti ini sekilas tampak aneh bagi kita. Kitab Yosua adalah kitab sejarah, bukan suatu kitab yang dipenuhi dengan nubuat. Apa yang ditulis sudah digenapi atau terjadi pada jaman Yosua. Mengapa kitab ini dikategorikan tulisan para nabi?

Berangkat dari konsep umum yang salah tentang peranan nabi. Kita cenderung melihat tugas para nabi terutama sebagai pemberi nubuat (foreteller), padahal yang lebih utama dari tugas seorang nabi adalah penyampai kehendak Allah (forthteller).
Dengan konsep bahwa tugas utama seorang nabi adalah menyampaikan maksud Allah, maka kita dengan mudah memahami mengapa Kitab Yosua dikelompokkan ke dalam jajaran kitab para nabi.

Kitab Yosua sering juga disebut kitab pengantar, karena Kitab Yosua adalah kitab sesudah 5 kitab Musa (Pentateukh/Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan). Kitab Yosua adalah kitab pertama dari 12 kitab yang menceritakan sejarah Israel di Kanaan. Isi kitab Yosua ini adalah periode setelah kematian Musa dan peralihan kepemimpinannya kepada Yosua, abdi Musa (Yos 1:1). Kitab Yosua ini bercerita tentang masa 25 tahun pergumulan dan perjuangan Yosua dan umat Allah dalam penaklukan Tanah Kanaan.

Kitab Yosua ini dapat dibagi dalam 3 tema pembahasan:

1. Israel memasuki Kanaan (Yos.1-5)
2. Usaha Israel menaklukan Kanaan (Yos.6-12)
3. Keberhasilan Israel menduduki Kanaan dan Pembagian Tanah Kanaan (Yos.13-24)

Salah satu ayat yang terkenal dalam kitab ini adalah Yos.24:15 = Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"

PENAKLUKAN KANAAN SELATAN

Bagian bacaan kita pekan ini merupakan bagian akhir dari Yos.10 mengisahkan tentang penaklukan Kanaan bagian Selatan, yang sebaiknya dibaca dan dimengerti sebagai suatu kesatuan bahasan. 
Dalam pasal 10 ini tercatat begitu banyak kejadian dan mujizat dalam perang penaklukan Kanaan oleh Yosua dan umat Israel.
Beberapa hal yang tercatat di ayat 10 ini adalah:

1. ALLAH bertempur bagi umat Israel dan menyerahkan orang Amori ke tangan umat Israel.
Berulang-kali ditegaskah peranan ALLAH atas balatentara Israel di Yos.10:8; 10:10a; 10:14; 10:42. Perhatikan kata "TUHAN menyerahkan" yang terserak di sepanjang pasal 10 ini.

2. Ada 7 pertempuran yang keseluruhannya dimenangkan oleh Yosua dan umat Israel, yaitu pertempuran di Gibeon, Makeda, Libna, Lakhis, Eglon, Hebron, dan Debir.
Perhatikan taktik pertempuran Yosua yang tidak lazim bagi peperangan sekarang. Fokus penghancuran Yosua adalah menghabiskan kaum Amori, dan kembali ke Gilgal (2 kali Yosua kembali ke Gilgal, di Yos.10:15 dan 10:43).
Menurut beberapa ahli, Yosua tidak menjalankan pendudukan dan penghancuran kota, karena nantinya kota-kota tersebut akan dibagikan kepada umat Israel.


3. Yosua bertempur di Gibeon menghadapi 5 Raja yaitu Adoni-Zedek, raja Yerusalem; Hoham, raja Hebron; Piream, raja Yarmut; Yafia, raja Lakhis; dan Debir, raja Eglon - masing-masing dengan pasukannya. Seluruhnya dikalahkan dan ditewaskan Yosua dan umat Israel.
Di Yos.12:9-24, terdapat daftar raja-raja Kanaan yang dikalahkan oleh Yosua. Hanya orang Gibeon yang menyerahkan diri dengan sukarela walaupun dengan akal muslihat (Yos.9)

4. Mujizat Hujan batu yang menewaskan pasukan orang-orang Amori di lereng Bet-Horon sampai ke Azeka.

5. Matahari dan bulan berhenti bergerak seharian lamanya! Ini dikenal dengan "Hari terpanjang sepanjang sejarah"

Kedua mujizat di atas, sering menjadi perdebatan bagi ilmuwan dan teolog sendiri. Terlepas dari luar-biasanya kejadian itu, dengan cara pandang "tiada yang mustahil bagi ALLAH", maka mujizat-mujizat di atas bukanlah hal istimewa bagiNYA. Lautan terbelah, sungai Yordan terbendung ketika umat Israel menyeberang ... bahkan perjalanan di padang belantara yang dipimpin tiang awan dan api, manna di gurun pasir, air dari batu, rubuhnya tembok Yerikho ... bukankah itu semua dari ALLAH?

TAAT

Kata di atas, dibalikpun maknanya sama. Demikian juga bagi Yosua. Ketaatannya pada perintah ALLAH adalah luar biasa dan dalam keadaan apapun tetap teguh. Yos.10:40 melukiskan ketaatannya kepada perintah ALLAH. Perhatikan bahwa Yosua hanya menyerang target tertentu yang diperintahkan oleh ALLAH. Dan dengan ketaatannya itu ia memperoleh ganjaran seperti di Yos.10:42. Semua raja ini dan negeri mereka telah dikalahkan Yosua sekaligus, sebab yang berperang untuk orang Israel ialah TUHAN, Allah Israel. Karena Taat maka ALLAH berperan penuh. 

KEJAMKAH ALLAH?

Cara Yosua menjalankan perintah ALLAH untuk memusnahkan kaum Amori terlihat sangat kejam. Pasti di hati kecil kita akan terlintas, betapa kejamnya ALLAH dalam mencapai kehendakNYA melalui Yosua. Masakan IA menjanjikan tanah yang sudah ditempati orang Amori kepada Israel dengan membasmi mereka?

Sekilas hal di atas tampak sangat mengerikan dan bahkan bertentangan dengan perintahNYA untuk Jangan membunuh! Mengapa Allah memerintahkan sesuatu yang sangat “kejam”? Jika kita menyelidiki kasus ini secara seksama maka kita akan mengetahui dan mengerti bahwa ada alasan di balik sikap tegas Allah. Alasan-alasan ini sangat berkaitan:

1. Dosa-dosa bangsa Kanaan sangat besar dan sudah berlangsung sangat lama. Sesuai janji TUHAN kepada Abraham,TUHAN akan memberikan tanah Kanaan kepada bangsa Israel ketika dosa penduduk Kanaan sudah penuh (Kej 15:16). Kefasikan bangsa Kanaan menjadi alasan utama mengapa mereka ditumpas (Ul 9:5; bdk. Im 18:24-25). Hal ini didukung oleh Ulangan 20:10-18 yang mengajarkan sikap berbeda terhadap bangsa non-Kanaan dan penduduk Kanaan (bdk. Yos 9:1-27).

2. Pemusnahan ini merupakan bagian dari penggenapan isi perjanjian dengan para Bapa Leluhur. Tuhan telah berjanji akan memberkati siapa yang memberkati keturunan Abraham, demikian pula Ia akan mengutuk siapa yang mengutuk mereka (Kej 12:3). Karena bangsa-bangsa itu berperang melawan bangsa Israel (9:1-2; 10:1-6; 11:20), maka mereka dikutuk oleh Allah.

3. Pemusnahan ini dimaksudkan supaya bangsa Israel tidak terpengaruh oleh kefasikan bangsa-bangsa tersebut. Jika mereka tidak ditumpas sampai habis, maka mereka akan membuat bangsa Israel menyembah berhala (Ul 7:2-5; 20:18). Dalam sejarah bangsa Israel selanjutnya hal ini sungguh terjadi. Ketika bangsa Israel melanggar perintah TUHAN untuk menumpas bangsa Kanaan, maka mereka akhirnya terjebak pada penyembahan berhala (Hak 2:1-5; 3:4-6).

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa TUHAN adalah ALLAH yang panjang sabar (IA menunggu selama berabad-abad sampai dosa itu penuh). Ia adalah ALLAH yang setia kepada perjanjian-Nya: Ia mengutuk siapa saja yang mengutuk umat-Nya. Ia juga ALLAH yang mengasihi umat-Nya sehingga Ia menjaga mereka dari dosa-dosa yang menjijikkan.

APLIKASI

Contohilah Yosua, yang taat bertempur karena melaksanakan Tugas dari ALLAH. Di kemudian hari Yesus mencontohkan hal yang sama dengan kualitas yang lebih mendalam, IA taat melaksanakan Tugas BAPANYA, sampai mati di kayu salib. Mengapa kualitasnya lebih mendalam? Karena Yosua menghadapi kemenangan dunia dengan sorak sorai penduduk Israel dalam pertempuran dan sewaktu kembali ke Gilgal, tetapi Yesus Kristus menghadapi ejekan dunia dan akhirnya di salib. KemenanganNYA dicapai di kayu salib dengan mematahkan kuasa maut dan naik ke Surga. Tetapi terlepas dari perbandingan itu, beberapa hal dapat kita aplikasikan:

1. Sikap taat kepada kehendak ALLAH, adalah mutlak bagi kemenangan kehidupan kita. Ketaatan Yosua mendatangkan kuasa dan kekuatan yang besar karena ALLAH. Demikian juga dengan orang percaya dalam amanat agung Kristus Yesus di Mark.16:17-18. Ingin punya kekuatan seperti itu? Jalannya hanya satu: Taat Kepada ALLAH.

2. Dengan memahami mengapa ALLAH memusnahkan orang Amori, kita perlu tahu bahwa ALLAH adalah penuh Kasih dan sekaligus juga Tegas. Yang perlu kita jaga adalah jangan sampai kita merasa sebagai orang Israel tetapi sebenarnya perilaku kita seperti orang Amori, merasa seperti Daud, padahal sebenarnya kita berperilaku seperti Goliat, merasa sebagai orang percaya tetapi sebenarnya berperilaku seperti orang Farisi.

3. Ketika kita menghadapi pertempuran dalam kehidupan kita, - dalam konteks sekarang pertempuran melawan keinginan daging, hawa nafsu dan godaan iblis - maka yang diutamakan adalah bagaimana memenangkan pertempuran itu untuk Kemuliaan ALLAH. Berapa sering kita terlalu sibuk mengalahkan diri kita sendiri, saingan kita di jemaat, mendapatkan sesuatu pengakuan atau penghargaan sosial kemasyarakatan/jemaat tanpa lagi mengingat untuk memuliakan ALLAH? Bukankah seringkali kita berusaha mencapai kemenangan dan ketenaran hanya untuk diri kita sendiri dan bukan untuk memuliakan ALLAH?

ITT - Jakarta, Minggu 8 September 2013

Wednesday, May 4, 2011

Yosua 6:6-11


Kembangkan Kehidupan Spiritualmu

Yosua 6:6-11
6:6 Kemudian Yosua bin Nun memanggil para imam dan berkata kepada mereka: "Angkatlah tabut perjanjian itu dan tujuh orang imam harus membawa tujuh sangkakala tanduk domba di depan tabut TUHAN."
6:7 Dan kepada bangsa itu dikatakannya: "Majulah, kelilingilah kota itu, dan orang-orang bersenjata harus berjalan di depan tabut TUHAN."
6:8 Segera sesudah Yosua berkata kepada bangsa itu, maka berjalanlah maju ketujuh orang imam, yang membawa ketujuh sangkakala tanduk domba itu di hadapan TUHAN, lalu mereka meniup sangkakala, sedang tabut perjanjian TUHAN mengikut mereka.
6:9 Dan orang-orang bersenjata berjalan di depan para imam yang meniup sangkakala dan barisan penutup mengikut tabut itu, sedang sangkakala terus-menerus ditiup.

6:10 Tetapi Yosua telah memerintahkan kepada bangsa itu, demikian: "Janganlah bersorak dan janganlah perdengarkan suaramu, sepatah kata pun janganlah keluar dari mulutmu sampai pada hari aku mengatakan kepadamu: Bersoraklah! -- maka kamu harus bersorak."
6:11 Demikianlah tabut TUHAN mengelilingi kota itu, mengedarinya sekali saja. Kemudian kembalilah mereka ke tempat perkemahan dan bermalam di tempat perkemahan itu


Latar Belakang

Yosua berarti “Yahweh Menyelamatkan”, berasal dari kata Ibrani Kuno yang kalau diterjemahkan ke bahasa Aram (bahasa Yahudi masa PB) Yosua akan menjadi Yesus.

Kitab Yosua merupakan kelanjutan sejarah Pentateukh. Kitab Yosua mencatat peristiwa Israel menyebrangi Sungai Yordan memasuki Kanaan setelah Musa wafat, dan juga penaklukan dan menetapnya kedua belas suku Israel di Kanaan dibawah pemimipin Yosua. Tanggal alkitabiah untuk masuknya Israel ke Kanaan adalah sekitar tahun 1405 SM. Kitab ini meliputi 25-30 tahun selanjutnya dalam sejarah Israel, mengisahkan bagaimana Allah memberikan kepada Israel “negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah untuk diberikan kepada nenek moyang mereka” (Yos 21:43).

Sudah sepantasnya, kitab ini dinamakan menurut tokoh utama yang memainkan peranan utama selaku pemimpin yang ditetapkan Allah sepanjang kitab ini, Sejarah pribadi Yosua mempersiapkannya dengan baik untuk menjadi pemimpin penaklukan. Yosua yang hidup pada akhir masa penindasan Israel di Mesir menyaksikan kesepuluh tulah hukuman, Paskah pertama, penyeberangan ajaib laut Merah, dan tanda-tanda (dan hukuman-hukuman) adikodrati sepanjang perjalanan Israel di padang gurun. Ia menjadi panglima perang di bawah Musa dalam perang melawan suku Amalek tidak lama sesudah meninggalkan Mesir (Kel 17:8-16), dan hanya ia sendiri yang menyertai Musa naik ke Gunung Sinai ketika Allah memberikan Kesepuluh Hukum (Kel 24:12-18)

Sebagai pembantu Musa, Yosua menunjukkan suatu pengabdian dan kasih yang dalam kepada Allah dengan sering kali berada dihadapan Allah untuk jangka waktu yang lama (Kel 33:11); dialah orang yang sangat menghargai kehadiran Allah yang kudus. Ia pasti belajar banyak dari Musa, penasehat dan pembimbingnya yang dipercayai, tentang cara-cara Allah dan kesulitan menuntun umat ini. Di Kadesy Yosua menjadi salah seorang dari dua belas mata-mata yang mengintai negeri Kanaan. Bersama Kaleb, ia dengan gigih menolak laporan ketidakpercayaan sepuluh mata-mata yang lain, dan akhirnya mereka berdua yang akan diizinkan Tuhan masuk ke Kanaan (Bil 14:26-30 Lagi berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun: "Berapa lama lagi umat yang jahat ini akan bersungut-sungut kepada-Ku? Segala sesuatu yang disungut-sungutkan orang Israel kepada-Ku telah Kudengar. Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman TUHAN, bahwasanya seperti yang kamu katakan di hadapan-Ku, demikianlah akan Kulakukan kepadamu. Di padang gurun ini bangkai-bangkaimu akan berhantaran, yakni semua orang di antara kamu yang dicatat, semua tanpa terkecuali yang berumur dua puluh tahun ke atas, karena kamu telah bersungut-sungut kepada-Ku. Bahwasanya kamu ini tidak akan masuk ke negeri yang dengan mengangkat sumpah telah Kujanjikan akan Kuberi kamu diami, kecuali Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun! - Bahkan dari Yosua inilah masa penjelajahan umat Israel di padang gurun ditetapkan Tuhan menjadi 40 tahun! (Bil 14:32-35 Tetapi mengenai kamu, bangkai-bangkaimu akan berhantaran di padang gurun ini, dan anak-anakmu akan mengembara sebagai penggembala di padang gurun empat puluh tahun lamanya dan akan menanggung akibat ketidaksetiaan, sampai bangkai-bangkaimu habis di padang gurun. Sesuai dengan jumlah hari yang kamu mengintai negeri itu, yakni empat puluh hari, satu hari dihitung satu tahun, jadi empat puluh tahun lamanya kamu harus menanggung akibat kesalahanmu, supaya kamu tahu rasanya, jika Aku berbalik dari padamu: Aku, TUHAN, yang berkata demikian. Sesungguhnya Aku akan melakukan semuanya itu kepada segenap umat yang jahat ini yang telah bersepakat melawan Aku. Di padang gurun ini mereka akan habis dan di sinilah mereka akan mati.").

Bertahun-tahun sebelum menggantikan Musa sebagai pemimpin Israel, Yosua sudah menunjukkan bahwa ia seorang yang beriman, bervisi, memiliki keberanian, setia, taat dengan sungguh-sungguh, tekun berdoa, dan mengabdi kepada Allah dan firmanNya. Pada saat ia dipilih sebagai pengganti Musa, ia merupakan orang yang “penuh Roh” (Bil 27:18; bandingkan dengan Ul 34:9).

Yerikho

Yerikho dikenal sebagai kota pohon korma (Ul 34:3). Dari etimologinya, kata “Yerikho“ seakar dengan kata “Yareakh”, artinya “bulan” dan ini dihubungkan dengan dewa bangsa Sem Barat, namanya Yarikh atau Yerakh. Nama arti lain dari kata “Yerikho” adalah “tempat yang berbau harum”. Arti inilah yang sering dikenal orang. Di Alkitab ada 2 kota Yerikho yang berbeda, yaitu Yerikho kuno dan Yerikho modern.

Yerikho Kuno.
Yerikho kuno disebut Tell es-sultan, yaitu Yerikho pada zaman Yosua (PL), yang terletak 16 km sebelah barat laut Laut Mati, 2 km di barat laut desa er-Rikha dan 27 km di timur laut Yerusalem. Menurut penelitian, Yerikho adalah kota tertua yan dijadikan sebagai tempat tinggal menetap di Palestina. Pada awal millennium 8 sM, di Yerikho didirikan tembok batu guna memperkuat kota dan beberapa rumah bundar sebagai menara jaga. Tinggi temboknya ± 14 meter, terdiri dari 2 lapis tembok yang berjarak ± 5-6 meter. Karena itu Yerikho dikenal sebagai kota benteng. Kira-kira abad 13 sM, bangsa Israel di bawah pimpinan Yosua menyerbu Yerikho. Kota ini sendiri tidak begitu luas, hanya sekitar 3,5 hektar, tetapi mempunyai arti strategis karena jalanan utama pada masa itu melalui kota Yerikho (masuk ke dalam bagian kota).

Tahun 1930-1936, seorang arkeolog bernama Prof. John Garstang mengadakan penelitian di Yerikho dan sekitarnya. Ketika melakukan penelitian di kota-kota lain di sekitar Yerikho Prof. John Garstang menemukan fakta bahwa pada umumnya tembok-tembok kota selalu roboh ke arah dalam, karena musuh mendobrak pintu atau tembok dari arah luar. Tetapi ketika Prof. John Garstang menggali kota Yerikho, ia menemukan bahwa tembok Yerikho yang kokoh itu roboh dari dalam ke luar. Tembok Yerikho roboh ke arah luar bukan oleh alat Bantu atau tenaga manusia, tetapi oleh kuasa Allah. Bahkan pada penggalian-penggalian sebelumnya ditemukan juga bagian kota yang tidak hancur dan diduga sebagai rumah Rahab (Yos 2:15 Kemudian perempuan itu menurunkan mereka dengan tali melalui jendela, sebab rumahnya itu letaknya pada tembok kota, jadi pada tembok itulah ia diam. - bandingkan: Yos 6:22-23 Tetapi kepada kedua orang pengintai negeri itu Yosua berkata: "Masuklah ke dalam rumah perempuan sundal itu dan bawalah ke luar perempuan itu dan semua orang yang bersama-sama dengan dia, seperti yang telah kamu janjikan dengan bersumpah kepadanya." Lalu masuklah kedua pengintai muda itu dan membawa ke luar Rahab dan ayahnya, ibunya, saudara-saudaranya dan semua orang yang bersama-sama dengan dia, bahkan seluruh kaumnya dibawa mereka ke luar, lalu mereka menunjukkan kepadanya tempat tinggal di luar perkemahan orang Israel.)

Yerikho Modern.
Yerikho modern disebut er-Rikha, yaitu Yerikho pada zaman Raja Herodes (PB). Letaknya hanya 2 km di sebelah selatan Yerikho kuno. Di daerah Herodes Agung dan penerusnya membangun istana musim dingin dengan taman-tamannya yang asri, dekat dengan kebun korma dan balsam. Disana, Tuhan Yesus menyembuhkan Bartimeus dari kebutaannya dan menyelamatkan Zakheus di kepala bea cukai (Mark 10:46; Luk 19:1).

Awal Perebutan

Yerikho adalah kota pertama yang direbut umat Israel dalam memasuki tanah Kanaan. Hal ini juga yang membuat Yerikho begitu khusus, sehingga Allah mengawalinya dengan turun tangan sendiri merebutnya. Perhatikan bagaimana Allah memerintahkan hasil jarahan Yerikho (Yos 6:19 Segala emas dan perak serta barang-barang tembaga dan besi adalah kudus bagi TUHAN; semuanya itu akan dimasukkan ke dalam perbendaharaan TUHAN."). Bandingkan dengan kota kedua yaitu Ai.
Merebut Yerikho adalah Perintah Tuhan kepada Yosua, melalui "Panglima Balatentara Tuhan" di Yos 5:13-15 Ketika Yosua dekat Yerikho, ia melayangkan pandangnya, dilihatnya seorang laki-laki berdiri di depannya dengan pedang terhunus di tangannya. Yosua mendekatinya dan bertanya kepadanya: "Kawankah engkau atau lawan?" Jawabnya: "Bukan, tetapi akulah Panglima Balatentara TUHAN. Sekarang aku datang." Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah dan berkata kepadanya: "Apakah yang akan dikatakan tuanku kepada hambanya ini?" Dan Panglima Balatentara TUHAN itu berkata kepada Yosua: "Tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat engkau berdiri itu kudus." Dan Yosua berbuat demikian. - Yos 6:2 Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Ketahuilah, Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa.
Tuhan berfirman lengkap dengan cara bagaimana Israel harus berbuat untuk kejatuhan Yerikho. (Yos 6:3-5 Haruslah kamu mengelilingi kota itu, yakni semua prajurit harus mengedari kota itu sekali saja; demikianlah harus engkau perbuat enam hari lamanya, dan tujuh orang imam harus membawa tujuh sangkakala tanduk domba di depan tabut. Tetapi pada hari yang ketujuh, tujuh kali kamu harus mengelilingi kota itu sedang para imam meniup sangkakala. Apabila sangkakala tanduk domba itu panjang bunyinya dan kamu mendengar bunyi sangkakala itu, maka haruslah seluruh bangsa bersorak dengan sorak yang nyaring, maka tembok kota itu akan runtuh, lalu bangsa itu harus memanjatnya, masing-masing langsung ke depan.")

Stuktur Bacaan

Bacaan kita pekan ini merupakan penggalan dari perikop yang diberi judul oleh LAI "Jatuhnya Yerikho" Yos 6:1-27.
Dalam penggalan ini, Yosua memerintahkan Israel, tepat seperti apa yang Tuhan perintahkan kepadanya melalui "Panglima Balatentara Tuhan" yang Yosua temui di akhir Yosua 5 di atas.
7 Imam membawa 7 sangkakala di depan Tabut Perjanjian selama 7 hari dan pada hari ke-7 tersebut mengelilingi Yerikho 7 kali, menandakan kehadiran Tuhan sendiri. Cara yang Tuhan pakai tidak dipersoalkan sama-sekali oleh Yosua dan Israel, karena sebelumnya mereka sudah melihat dan mengalami bagaimana Tuhan bekerja dan membawa mereka masuk ke Kanaan melalui Sungai Yordan dengan keajaiban yaitu sungai tersebut menjadi surut (Yosua 3).

Aplikasi

1. Cara Yosua menerima perintah Tuhan adalah dengan taat dan patuh. Tanpa mempersoalkan cara Tuhan. Perhatikan bahwa tidak sedikitpun keluar komentar dari mulut Yosua, seperti bagaimana? apa bisa? mungkinkah? dsb, bahkan Yosua tidak mempersoalkan soal hari Sabat dan sebagainya. Yosua bisa saja berkata ... Tuhan, kalau hari sabat bagaimana? Apa tidak berhenti dahulu ... dsb dsb.
Cara Yosua, diajarkan kemudian oleh Tuhan Yesus dalam Doa Bapa Kami; Mat 6:10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Bahkan ketika IA menerima perintah BapaNya untuk mati di kayu Salib, sekalipun berat, Yesus berdoa dalam Mark 14:36 Kata-Nya: "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki."
Cara Yosua, Cara Tuhan Yesus .... adalah cara murid Tuhan Yesus atau cara hidup kita. Perintah dan Firman Tuhan wajib dijalankan dengan taat dan patuh.

2. Ketaatan dan kepatuhan Yosua ditunjukkan dengan meneruskan Firman Tuhan sebagaimana Yosua dengarkan sendiri. Yosua tidak menambah atau mengurangi, atau menerjemahkannya bagaimana, tapi Yosua teruskan sebagaimana ia dengarkan. Cara seperti ini pernah diterapkan oleh Rasul Paulus dalam 1 Kor 11:23-25 Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!" Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!" - atau yang kita kenal sebagai penetapan Perjamuan Kudus.
Menoleh ke bacaan hari minggu lalu Bilangan 9, ketaatan dan kepatuhan juga Musa laksanakan ketika ia menerima pertanyaan dari umat Israel perihal ketetapan Paskah bagi orang yang najis. Musa menjawab dalam Bil 9:8 Lalu jawab Musa kepada mereka: "Tunggulah dahulu, aku hendak mendengar apa yang akan diperintahkan TUHAN mengenai kamu.
Ketaatan dan Kepatuhan terhadap Firman Tuhan, termasuk cara pengambilan keputusan dalam hal apapun. Berhati-hatilah dengan pengertian manusia atau diri sendiri dengan terbiasa berpikir: "Ah, kan Tuhan mengerti, yang penting apa yang ada di hati kita". Ketaatan dan kepatuhan dihati kita akan dicerminkan dalam perbuatan kita.

3. Ketaatan dan Kepatuhan Yosua tetap dilaksanakan walaupun tidak masuk akal. Lalu apa dasar Yosua? Iman! karena Yosua tahu Siapa yang membawa Israel keluar dari Mesir, karena Yosua tahu Siapa yang membawa Israel menyeberangi Laut Merah dan Sungai Yordan. Tanpa Iman, maka perintah Yesus untuk mengasihi musuh dalam Matius 5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. - adalah tidak masuk akal. Juga apa yang diteruskan oleh Rasul Paulus dalam Roma 12:14 Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!
Iman, inilah dasar ketaatan dan kepatuhan Yosua hingga Yerikho jatuh (Ibrani 11:30 Karena iman maka runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya.)
Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. (Ibrani 11:1).

4. Ketaatan dan Kepatuhan berdasarkan Iman, hanya dapat dilaksanakan dengan hidup kudus di hadapan Allah seperti yang Yosua tunjukkan. Kekudusan Yosua, menyebabkan umat Israel tunduk pada apa yang Yosua perintahkan. Hal tersulit adalah bagaimana mengitari Yerikho tanpa bersuara dengan hanya membiarkan Suara Sangkakala yang dapat diartikan sebagai suara Tuhan belaka, bayangkan bagaimana mau diam tanpa suara kalau dari atas tembok itu ada teriakan ejekan atau tertawaan penduduk Yerikho?. Sulit, namun dipatuhi umat Israel.
Pada masa inipun, kalau kita mau taat dan patuh dalam iman dan kekudusan, akan ada teriakan dan ejekan dunia kepada kita, namun diamlah dan jangan bersuara, sampai Khairos atau waktu Tuhan mengizinkan kita bersuara.

5. Ketidak-taatan dan ketidakpatuhan akan berakibat hukuman Tuhan, seperti yang dicontohkan dalam Yos 7, ketika umat Israel tidak patuh atas perintah Tuhan perihal barang jarahan. Sangat menyedihkan, ketika berharap kemenangan, mereka patuh, ketika beroleh kemenangan berubah tidak patuh. Landasan iman dan kekudusan yang akan menentukan Taat dan Patuhnya kita terhadap Firman Tuhan,

Penutup:
Mari kita kembangkan kehidupan spiritual kita diawali dengan hidup kudus di hadapan Tuhan.
Kekudusan hidup akan mengantar kita kepada Iman yang kokoh. Iman yang kokoh akan membuat kita taat dan patuh kepada Firman Tuhan dalam pergumulan hidup kita, meruntuhkan tembok-tembok Yerikho yang kita temui dalam perjalanan hidup kita sebagai murid Tuhan Yesus. Amin

ITT - Rabu 4 Mei 2011 Ibadah K3 B di Ibu Roring

Sunday, April 11, 2010

Yosua 3:1-6


3:1 Yosua bangun pagi-pagi, lalu ia dan semua orang Israel berangkat dari Sitim, dan sampailah mereka ke sungai Yordan, maka bermalamlah mereka di sana, sebelum menyeberang.
3:2 Setelah lewat tiga hari, para pengatur pasukan menjalani seluruh perkemahan,
3:3 dan memberi perintah kepada bangsa itu, katanya: "Segera sesudah kamu melihat tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, yang diangkat para imam, yang memang suku Lewi, maka kamu harus juga berangkat dari tempatmu dan mengikutinya --
3:4 hanya antara kamu dan tabut itu harus ada jarak kira-kira dua ribu hasta panjangnya, janganlah mendekatinya -- maksudnya supaya kamu mengetahui jalan yang harus kamu tempuh, sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu."
3:5 Berkatalah Yosua kepada bangsa itu: "Kuduskanlah dirimu, sebab besok TUHAN akan melakukan perbuatan yang ajaib di antara kamu."
3:6 Dan kepada para imam itu Yosua berkata, demikian: "Angkatlah tabut perjanjian dan menyeberanglah di depan bangsa itu." Maka mereka mengangkat tabut perjanjian dan berjalan di depan bangsa itu.

Latar belakang:

Kitab Yosua merupakan kelanjutan sejarah Pentateukh. Kitab Yosua mencatat peristiwa Israel menyebrangi Sungai Yordan memasuki Kanaan setelah Musa wafat, dan juga penaklukan dan menetapnya kedua belas suku Israel di Kanaan dibawah pemimipin Yosua. Tanggal alkitabiah untuk masuknya Israel ke Kanaan adalah sekitar tahun 1405 SM. Kitab ini meliputi 25-30 tahun selanjutnya dalam sejarah Israel, mengisahkan bagaimana Allah memberikan kepada Israel “negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah untuk diberikan kepada nenek moyang mereka” (Yos 21:43).

Sudah sepantasnya, kitab ini dinamakan menurut tokoh utama yang memainkan peranan utama selaku pemimpin yang ditetapkan Allah sepanjang kitab ini, Sejarah pribadi Yosua mempersiapkannya dengan baik untuk menjadi pemimpin penaklukan. Yosua yang hidup pada akhir masa penindasan Israel di Mesir menyaksikan kesepuluh tulah hukuman, Paskah pertama, penyeberangan ajaib laut Merah, dan tanda-tanda (dan hukuman-hukuman) adikodrati sepanjang perjalanan Israel di padang gurun. Ia menjadi panglima perang di bawah Musa dalam perang melawan suku Amalek tidak lama sesudah meninggalkan Mesir (Kel 17:8-16), dan hanya ia sendiri yang menyertai Musa naik ke Gunung Sinai ketika Allah memberikan Kesepuluh Hukum (Kel 24:12-18)

Sebagai pembantu Musa, Yosua menunjukkan suatu pengabdian dan kasih yang dalam kepada Allah dengan sering kali berada dihadapan Allah untuk jangka waktu yang lama (Kel 33:11); dialah orang yang sangat menghargai kehadiran Allah yang kudus. Ia pasti belajar banyak dari Musa, penasehat dan pembimbingnya yang dipercayai, tentang cara-cara Allah dan kesulitan menuntun umat ini. Di Kadesy Yosua menjadi salah seorang dari dan belas mata-mata yang mengintai negeri Kanaan. Bersama Kaleb, ia dengan gigih menolak laporan ketidakpercayaan sepuluh mata-mata yang lain (Bil 14).

Bertahun-tahun sebelum menggantikan Musa sebagai pemimpin Israel, Yosua sudah menunjukkan bahwa ia seorang yang beriman, bervisi, memiliki keberanian, setia, taat dengan sungguh-sungguh, tekun berdoa, dan mengabdi kepada Allah dan firmanNya.

Pada saat ia dipilih sebagai pengganti Musa, ia merupakan orang yang “penuh Roh” (Bil 27:18; bandingkan dengan Ul 34:9).

I. Penyeberangan.

1) Imam-imam membawa tabut, bangsa Israel mengikuti dengan jarak 2000 hasta / 900 meter (3:3-4,6).
a) Dulu Tuhan memimpin dengan tiang awan dan tiang api; sekarang Tuhan memimpin dengan menggunakan imam-imam yang membawa tabut perjanjian. Ini menunjukkan bahwa sekalipun Tuhan sendiri tidak berubah (Ibr 13:8), tetapi cara-cara / tindakanNya bisa berubah!
b) Antara bangsa Israel dan para imam yang memikul tabut perjanjian, harus ada jarak 2000 hasta (sekitar 900 meter). Ini menunjukkan bahwa mereka harus hormat pada tabut yang merupakan simbol kehadiran Allah. Bdk. Bil 4:15 2Sam 6.

Penerapan:

Kita tak boleh sembarangan dalam datang kepada Tuhan, baik dalam bersaat teduh, berdoa, membaca/mendengar Firman Tuhan, berbakti, melayani Tuhan. Sekalipun Ia adalah Bapa yang mengasihi kita, ingatlah bahwa Ia juga adalah Allah yang maha suci dan maha mulia!

2) Terputusnya sungai Yordan.
a) Mujijat ini memang dibutuhkan:
· karena tanpa mujijat itu bangsa Israel tidak bisa menyeberang.
§ Sungai Yordan dalam keadaan normal lebarnya 18-27 meter dan dalamnya 2-4,5 meter.
§ Sungai ini mempunyai ‘tempat-tempat penyeberangan’ (Yos 2:7 bdk. Hakim-hakim 3:28 8:4 12:5-6 2Sam 17:22,24 19:15-18,39). Yang dimaksud dengan ‘tempat penyeberangan’ itu bukanlah jembatan! Dalam bahasa Inggris ‘tempat penyeberangan’ ini diterjemahkan ford (= bagian yang agak dangkal dari suatu sungai, sehingga bisa diseberangi).
§ Pada saat itu Sungai Yordan sedang meluap (3:15b). Pada awal musim panas, salju di gunung Lebanon mencair dan masuk ke sungai Yordan sehingga sungai Yordan meluap.
§ Sungai Yordan yang meluappun masih tetap bisa diseberangi, tetapi hanya oleh orang-orang tertentu saja (Yos 2:23 1Taw 12:15).
§ Bangsa Israel:

* berjumlah sekitar 2-3 juta orang, termasuk banyak anak-anak.
* membawa barang-barang dan ternak.
* mayoritas lahir dan besar di padang gurun sehingga tentu tak bisa berenang

Kesimpulan dari semua ini: mereka membutuhkan mujijat untuk bisa menyeberangi sungai Yordan.

· Supaya mereka bisa melihat kehadiran dan penyertaan Allah (3:10-13).

Seharusnya janji Tuhan/firman Tuhan sudah menyebabkan mereka percaya akan kehadiran / penyertaan Tuhan, tetapi karena kelemahan mereka, maka Tuhan memberikan mujijat supaya mereka percaya akan hal itu.

II) Persiapan penyeberangan (3:5).

* Pengudusan diri sebelum perang adalah sesuatu yang sangat penting, karena ini merupakan persiapan supaya Allah bekerja untuk kita dalam peperangan itu. Dosa/ketidakpercayaan menyebabkan Allah tak mau bekerja, sehingga kita kalah. Contoh: Yos 7 1Sam 4:1-11 Mat 13:58 / Mark 6:5-6.

Penerapan:

Apakah jemaat melakukan pengudusan sebelum:

· Kebaktian / Pemahaman Alkitab / Persekutuan Doa?
· Pelayanan, seperti mengajar sekolah minggu, ikut paduan suara, memainkan alat musik, melakukan penginjilan pribadi, mengajak orang ke gereja, dsb?
· Acara-acara istimewa seperti Perjamuan Kudus?

2 Tim 2:21 mengatakan, jikalau seseorang menguduskan dirinya dari hal-hal yang jahat, maka ia akan dipakai untuk melakukan pekerjaan dalam hal-hal yang mulia.

1 Yoh 1:9=Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.

Ketika Tuhan betul-betul membawa kita menyeberangi sungai Yordan rohani kita, di seberang sungai Yordan tersebut, di Tanah Perjanjian kita itu, akan ada begitu banyak raksasa yang lebih kuat dan lebih besar dari yang mungkin selama ini pernah kita hadapi dalam hidup kita.

Meskipun selama ini mungkin Anda sering mengalami banyak pergumulan dan masalah, akan tetapi itu semua belum sebanding dengan apa yang kita akan hadapi di depan sana. Itu sebabnya ketika Tuhan memberikan kita anugerah untuk dapat sampai pada titik di mana kita sekarang berada – di mana mungkin sebelumnya sudah banyak orang ataupun gereja lain yang sudah mencoba melakukan berbagai macam cara untuk juga dapat berada pada titik di mana kita berada dan menyeberangi sungai Yordan mereka, namun karena satu dan lain hal mereka mengalami kegagalan – ini waktunya kita memastikan bahwa kita tidak akan pernah mengalami kegagalan.

Karena itu, kita perlu memastikan bahwa segala sesuatu yang ada dalam hidup kita sudah siap sepenuhnya untuk menyeberangi sungai Yordan kita, karena di seberang sana ada 7 bangsa yang lebih kuat yang akan harus kita hadapi. Jika kita masih mengijinkan ada banyak ‘celah’ dalam hidup kita, suatu waktu celah-celah tersebut akan dapat dimanfaatkan oleh iblis. Merebut Kanaan bukan hanya berarti bahwa kita akan menikmati berkat, tetapi tujuan kita merebut Kanaan adalah untuk memastikan bahwa apapun yang menjadi tujuan Tuhan dalam hidup kita tergenapi. Itu juga berarti, beberapa dari Anda mungkin akan mulai dibawa oleh Tuhan untuk menyeberang dari aktivitas yang selama ini Anda anggap sebagai aktivitas rohani kepada aktivitas yang selama ini Anda anggap sebagai aktivitas sekuler, ataupun sebaliknya.

Tujuan Tuhan membawa kita menyeberang adalah agar apapun aspek hidup yang ada di kota kita akan betul-betul dapat kita tundukkan dan kuasai, agar kebenaran dapat sepenuhnya ditegakkan di sana. Untuk itu, pastikan kita terus membenahi area keinginan dalam hidup kita, area jiwa, maupun area ketaatan mutlak. Selama kita terus berjalan dalam ketaatan mutlak, selama itu juga kita akan melihat tangan Tuhan yang perkasa menopang dan menyertai kita.

1. Untuk kita melangkah dalam ketaatan mutlak, dibutuhkan pembaharuan akal budi.

Ketika Tuhan mulai membawa kita untuk merebut Tanah Kanaan yang Dia sudah sediakan bagi kita, kita akan mendapati ada banyak hal yang selama ini kita percayai sebagai sebuah kebenaran tapi ternyata kebenaran tersebut tidak lagi update buat kita.

Sebagai contoh: selama ini orang berpikir bahwa mereka melakukan bisnis untuk menghasilkan uang. Akan tetapi saya menghendaki agar setiap kita mulai memperbaharui akal budi kita, bahwa kita berbisnis bukan lagi sekedar untuk menghasilkan uang tetapi agar kita dapat bertemu dengan orang lain dan memastikan bahwa orang-orang lain pun dapat hidup di dalam kebenaran. Sebagai efek sampingnya, uangpun datang. Kalau tujuan dari segala sesuatu yang kita lakukan hanya untuk mendapatkan uang, pada akhirnya kita justru akan mengejar uang, dan sebagai akibatnya, kitapun dapat dengan mudah memanipulasi orang lain. Jika kita mengejar orang, kita akan memanfaatkan uang dan uang akan mendatangi kita, tapi pastikan konsep pikir kita diubah terlebih dahulu.

Di sinilah seringkali orang-orang Kristen mengalami kegagalan ketika mereka berusaha menyeberangi sungai Yordan dan merebut tanah kanaan mereka, karena apa yang selama ini mereka yakini dan percayai masih belum mengalami pembaharuan. Tuhan ingin agar kita bisa keluar dari 4 dinding gereja yang ada supaya kita dapat memberi pengaruh bagi komunitas di mana kita berada. Di komunitas, kita akan mulai berinteraksi dan berhadapan dengan banyak jenis orang – orang-orang yang fasik, orang-orang yang tamak, ataupun orang-orang yang menghalalkan segala macam cara untuk kepentingan pribadi mereka. Tanpa kita terus memperbaharui akal budi kita, tanpa kita sadari, secara perlahan tapi pasti kita akan mulai terseret oleh mereka dan akhirnya mengikuti jalan dunia ini. Jika kita sungguh-sungguh ingin mengubah dunia ini, jangan mengikuti jalan dunia ini tetapi ikutilah caranya Tuhan.

Akan tetapi, untuk kita bisa mengikuti caranya Tuhan, kita harus alami pembaharuan akal budi terlebih dahulu karena seringkali cara yang Tuhan sediakan jauh berbeda dengan jalan dunia ini. Jalan dunia ini mengajarkan bahwa untuk seseorang bisa naik ke atas, ia harus naik, akan tetapi Tuhan mengajarkan bahwa untuk seseorang bisa naik, ia harus turun terlebih dahulu. Ingatlah selalu akan hal ini: Kesuksesan sejati hanya bisa kita nikmati ketika kita ada dalam ketaatan mutlak, dan untuk kita dapat melangkah dalam ketaatan mutlak dibutuhkan pembaharuan akal budi.

Karena itu, ijinkan firman-Nya terus menuntun hidup kita karena jalan yang akan kita lalui di depan sana sangatlah berbeda dengan jalan yang pernah kita lalui sebelumnya (Yos. 3:1-5).

Ketika tabut Tuhan yang diusung oleh para imam Lewi mulai berjalan, Tuhan berfirman: â€Å“Beri jarak 2000 hasta dan kemudian kamu harus langsung mengikuti.” Maksudnya adalah, supaya mereka dapat mengetahui jalan mana yang harus mereka ikuti – biarkan firman melangkah terlebih dahulu dan kemudian melangkahlah di belakangnya. Saya percaya Tuhan sudah memberikan firman-Nya bagi kita untuk kita dapat mulai menyeberangi sungai Yordan kita dan merebut Tanah Kanaan kiat. Yang kita perlu lakukan hanyalah terus belajar melangkah mengikuti arahan yang Tuhan beri, dan untuk itu kita membutuhkan ketaatan mutlak dalam hidup kita. Jika ada satu aspek saja dalam hidup kita yang belum mengalami pembaharuan, di aspek itulah kita pasti akan mengalami kesulitan – atau bahkan gagal – untuk berjalan dalam ketaatan mutlak.

Cobalah renungkan sejenak: aspek apa dalam hidup Anda yang sampai pada hari ini membuat Anda masih mengalami kesulitan untuk taat? Selama Anda terus mengijinkan pembaharuan akal budi terjadi dalam hidup Anda, selama itu juga Anda akan dapat terus melangkah dalam ketaatan, di aspek apapun juga.

2. Untuk melangkah dalam ketaatan mutlak dibutuhkan ketergantungan penuh terhadap Tuhan.

Sebelum Tuhan – lewat Yosua – memerintahkan orang-orang Israel untuk merebut Kanaan, generasi yang terdahulu pernah menerima perintah yang sama lewat Musa tetapi mereka gagal melakukannya. Demikian pula, mungkin sebelum Tuhan memerintahkan kita untuk menyeberangi sungai Yordan dan merebut Tanah Kanaan kita, perintah yang sama pernah Tuhan berikan kepada generasi sebelum kita, tetapi mereka belum dapat mewujudkannya. Meskipun kita mungkin tidak memiliki contoh atau teladan yang dapat kita ikuti, Tuhan justru memanggil kita untuk berjalan dalam ketaatan, sehingga kita meninggalkan jejak kaki yang akan dapat menjadi teladan untuk diikuti oleh orang-orang lain, dan akan ada
lebih banyak orang lagi yang akan mulai melakukan apa yang kita lakukan, sehingga dengan demikian Kerajaan Sorga akan diperluas.

Karenanya, bangun terus ketergantungan kita terhadap Tuhan, karena ketergantungan terhadap Tuhan dan ketaatan mutlak akan selalu membawa kita di jalan kemenangan-Nya. Apa yang menjadi pergumulan Anda saat ini, bisa dengan mudah engkau kalahkan. Karena itu, ijinkan Tuhan secara pribadi mulai berbicara kepada kita, memberikan arahan dan melatih kita. Bangun terus persekutuanmu dengan Tuhan agar level ketergantunganmu terhadap Tuhan semakin hari semakin meningkat. Ketika Tuhan mulai perintahkan kita untuk melakukan sesuatu, mari kita belajar berkata kepada Tuhan: â€Å“Give me Your strategy.” Ingat baik-baik, setelah kemenangan yang gemilang atas Yerikho, Israel justru mengalami kekalahan telak ketika menghadapi Ai, karena mereka tidak mencari Tuhan untuk menanyakan strategi-Nya terlebih. Sebelum menghadapi Yerikho, Yosua mencari Tuhan dan Israel mengalami kemenangan. Ketika mereka akan menghadapi Ai, Yosua menetapkan strateginya sendiri berdasarkan pengamatan yang ia lakukan secara manusiawi. Sebagai akibatnya, Israel pun kalah telak.

Selama Tuhan selalu bersama kita, kita akan dapat menghadapi apapun yang harus kita hadapi. Bahkan meskipun persiapan yang kita lakukan belum sepenuhnya sempurna, kita akan tetap bisa melakukan banyak hal, karena Tuhan ada bersama kita. Karena itu, terus bangun persekutuanmu dengan Tuhan dan pastikan kita menggantungkan pengharapan kita hanya kepada Dia.

3. Ketaatan mutlak yang harus kita wujudkan, harus muncul dari setiap aspek hidup kita.

Dengan kata lain, seluruh aspek hidup kita (aspek rohani, manusiawi, keluarga, ekonomi) harus betul-betul dipastikan ada dalam dimensi ketaatan mutlak, karena selama kita ada dalam ketaatan mutlak, kita akan selalu menikmati perlindungan ilahi. Satu pertanyaan yang saya ingin ajukan kepada setiap Anda: Apakah beberapa waktu terakhir ini Anda mengalami kesulitan dalam mendengarkan suara Tuhan? Jika Anda mengalami seakan-akan Tuhan mulai jarang berbicara kepada Anda, cobalah ingat kembali kapan terakhir kalinya Tuhan berbicara kepadamu dan apa yang Tuhan katakan terakhir kali, sebelum selama sekian waktu Dia â€Å“membisu” dalam hidupmu. Jika engkau ingin mendengar Dia berbicara kembali kepadamu, lakukan saja apa yang terakhir kali Ia perintahkan untuk engkau lakukan maka Ia akan kembali berbicara kepadamu.

Jika Anda mulai jarang mendengar Tuhan berbicara akhir-akhir ini, itu berarti ada satu aspek ketidaktaatan dalam hidupmu yang masih belum engkau tanggulangi. Bereskan sekarang juga, jangan tunda terlalu lama, karena semakin lama engkau menunda untuk berjalan dalam ketaatan, semakin besar bahaya yang akan engkau hadapi. Karenanya, pastikan engkau terus membenahi setiap aspek hidupmu dan mulailah melangkah di dalam ketaatan.
Tuhan sedang membuka sebuah lembaran yang baru bagi Gereja-Nya; ada atmosfir dan anugerah yang baru yang Dia sediakan bagi kita. Mungkin kita akan menghadapi tantangan yang baru, tetapi kita juga akan menerima anugerah yang baru. Mungkin kita akan melihat musuh yang baru, tapi kita juga akan melihat Dia yang menyertai kita akan mencurahkan kuasa yang baru. Karenanya, ini waktunya kita terus memperbaharui akal budi kita dan mempersiapkan hidup kita sedemikian rupa, sehingga seluruh aspek hidup kita ada dalam ketaatan mutlak.

4. Untuk dapat melangkah dalam ketaatan mutlak, kita membutuhkan arahan yang akurat.

Level ketergantungan kita terhadap Tuhan harus terus diperbaharui, sehingga kita bisa dengan akurat mendengar apa yang Tuhan perintahkan. Tuhan sedang menantang setiap kita untuk terus belajar menerima arahan yang akurat dari sorga setiap hari. Ingatlah selalu: Manusia hidup bukan dari roti saja tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Apapun yang Tuhan katakan, biarlah itu yang mulai kita dengar dan lakukan, karena kepuasan yang sejati baru akan kita nikmati ketika kita berjalan di dalam ketaatan. Selama kita tahu bahwa kita sedang terus berjalan dalam ketaatan mutlak, kita akan selalu menikmati kepuasan hidup, di dalam Dia. Dengan kita mengetahui secara pasti apa yang Tuhan ingin untuk kita lakukan dan kita melangkah dalam ketaatan mutlak, meskipun ada banyak tantangan yang akan kita hadapi, tantangan tidak akan pernah melemahkan kita. Sebaliknya, tantangan justru akan membuat kita menjadi semakin bergairah.

Jangan pernah tergoda untuk melakukan apa yang engkau lihat orang-orang lain lakukan, karena belum tentu itu yang Tuhan perintahkan kepadamu. Jika engkau melakukan apa yang orang lain lakukan – meskipun apa yang engkau lakukan tersebut adalah hal yang baik – tetapi jika bukan itu yang Tuhan perintahkan kepadamu, sesungguhnya engkau sedang melakukannya dalam ketidaktaatan. Karena itu, marilah kita belajar menyelidiki hidup kita, apakah kita sedang melakukan apa yang Tuhan perintahkan dalam hidup kita, karena inilah titik yang paling menentukan, yang akan membuat kita ada di dalam perlindungan Tuhan sepenuhnya atau justru berada dalam bayang-bayang si jahat. Jika kita berada di tempat di mana kita tidak seharusnya berada, kita pasti akan selalu mengalami pergumulan di sana. Lambat laun, kitapun akan mulai merasa lelah dan kehilangan sukacita untuk mengerjakan apa yang sedang kita kerjakan tersebut.

Sebaliknya, jika kita tahu dengan pasti bahwa kita sedang melakukan apa yang Tuhan perintahkan untuk kita kerjakan, sukacita pasti akan selalu ada di sana. Selama kita berjalan dalam ketaatan, Tuhan akan selalu menyertai untuk memberi kekuatan, anugerah, dan sukacita. Apapun masalah yang menghadang, akan selalu ada pertolongan dari sorga untuk membawa kita menang atas setiap masalah.

Ini waktunya kita melakukan penyesuaian terakhir (final adjustment); ada suatu periode yang Tuhan berikan kepada kita sebelum Ia betul-betul membawa kita melewati lautan lepas, dan kita akan mulai melihat bahwa apapun yang Tuhan ingin kerjakan, akan dapat Ia selesaikan lewat kita Gereja-Nya. Pastikanlah dari waktu ke waktu, hati kita terus tertuju kepada kebenaran dan kita terus mendengarkan perintah dan arahan-Nya, karena dari sanalah kita akan alami bahwa Tuhan sendiri yang akan membawa hidup kita semakin naik dalam kemuliaan-Nya, sampai kita menyelesaikan setiap rencana-Nya dalam hidup kita.

ITT - 11 April 2010 - IHM di Pospel Karuwisi 09:00