Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri

Friday, January 5, 2024

Kepada Siapa Kita Berdoa?

 

Tatanan Indah di Balik Doa Kristen

Pendahuluan

​Pernahkah kita berada dalam situasi di mana tangan sudah melipat dan kepala sudah menunduk untuk berdoa, namun tiba-tiba muncul keraguan kecil di dalam hati? Kita mungkin bertanya-tanya:

​"Kepada siapakah sesungguhnya kita sedang berbicara saat ini?"

​"Apakah kepada Bapa, kepada Yesus, atau kepada Roh Kudus?"

​"Jika kita menyebut nama yang salah, apakah doa kita tetap akan sampai ke tujuan?"


​Keraguan seperti ini ternyata bukanlah hal baru; hal ini telah membayangi hati orang-orang percaya selama ribuan tahun. Namun, jika kita memperhatikan Kitab Suci, para penulis Perjanjian Baru sama sekali tidak mempermasalahkan hal ini. Rasul Paulus berdoa kepada Bapa, Stefanus berseru langsung kepada Yesus, dan Yudas menasihati jemaat untuk berdoa di dalam Roh Kudus. Mereka tidak pernah meminta maaf atau menganggap hal tersebut sebagai suatu kekeliruan.

Untuk mengakhiri kebingungan ini, ada tiga pemahaman mendasar yang harus kita miliki agar doa kita tidak lagi terasa seperti sedang menebak nomor telepon dan berharap orang yang tepat akan mengangkatnya.


Allah Kita Adalah Esa

​Pemahaman pertama yang harus tertanam kuat di dalam diri kita adalah bahwa Allah itu tunggal dan tidak terbagi. Dasar iman yang paling utama ini telah dinyatakan sejak zaman kuno dalam Ulangan 6:4:

​"Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!"

​Melalui logika berpikir yang jernih, kita harus menyadari bahwa Allah bukanlah tiga sosok ilah yang berbagi tugas di dalam satu ruangan, bukan pula rekan kerja yang bergantian menjaga pintu. Surga tidak memiliki tiga pintu berbeda yang membuat kita harus memilih pintu mana yang harus diketuk.

​Alkitab menggambarkan bahwa hanya ada satu takhta. Allah menyatakan diri-Nya dalam tiga Pribadi—Bapa, Anak, dan Roh Kudus—yang sepenuhnya menyatu dalam kehendak, kasih, dan tujuan.

​Tuhan Yesus sendiri menegaskan kesatuan ini dalam Yohanes 10:30:

​"Aku dan Bapa adalah satu."

​Lebih lanjut, ketika Filipus meminta Yesus untuk menunjukkan Bapa kepada mereka, Yesus menjawab dalam Yohanes 14:9:

​"Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa."

​Oleh karena itu, ketika kita berbicara kepada salah satu Pribadi, kita tidak sedang mengabaikan dua Pribadi lainnya. Saat kita datang kepada Tuhan, seluruh keberadaan-Nya mendengarkan kita karena kesatuan Mereka yang sempurna.


​Memahami Peran Masing-Masing Pribadi dalam Tatanan Doa

​Meskipun Allah itu satu, Alkitab memberikan sebuah pola atau struktur yang indah mengenai peran dari masing-masing Pribadi dalam doa kita, tanpa bermaksud membuat kita menjadi kaku.

​Datang Kepada Bapa

Ketika para murid meminta diajar berdoa, Yesus tidak meminta mereka berdoa kepada diri-Nya, melainkan berkata dalam Matius 6:9:

​"Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,"

​Yesus mengarahkan pandangan kita kepada Bapa karena Dia datang untuk membawa kita pulang ke rumah, dan rumah itu adalah tempat di mana Bapa berada.

​Melalui Sang Anak (Yesus)

Kita tidak bisa melangkah masuk begitu saja ke hadapan Allah dengan kekuatan atau kepantasan diri sendiri. Dalam Yohanes 14:6, Yesus menyatakan:

​"Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

​Yesus adalah jalan itu. Melalui pengorbanan darah-Nya di kayu salib, pintu hubungan yang tadinya tertutup akibat dosa kini dibuka kembali. Kita berdoa dalam nama Yesus bukan sebagai "kata kunci rahasia", melainkan sebagai bentuk pengakuan bahwa hanya karena Dialah kita diterima oleh Bapa.

​Di Dalam Roh Kudus

Sering kali kita berada dalam kondisi yang sangat berat atau hancur, hingga kita tidak tahu kata-kata apa yang harus diucapkan. Di sinilah Roh Kudus bekerja. Roma 8:26 menyatakan:

​"Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan."

​Roh Kudus adalah Penolong di dalam diri kita yang mengerti bahasa hati terdalam dan menyampaikannya ke hadapan takhta Allah.

​Secara teologis, kita dapat melihat tatanan doa Kristen ini bagaikan sebuah aliran yang selaras: kita datang kepada Bapa, melalui tuntunan Anak, dan dibawa oleh kekuatan Roh Kudus. Jadi, saat kita berseru dengan tulus, "Tuhan, tolong saya," Surga tidak akan bingung. Bapa menerima seruan itu, Anak menyampaikannya, dan Roh Kudus telah menerjemahkannya bahkan sebelum kata-kata itu keluar dari mulut kita.


​Doa Adalah Hubungan Kasih, Bukan Transaksi Dagang

​Pemahaman ketiga yang sangat mendasar adalah bahwa doa pada hakikatnya merupakan sebuah hubungan kekeluargaan yang karib, bukan sebuah transaksi formal yang kaku.

​Bayangkan seorang anak di dalam sebuah rumah yang hangat. Ketika ia terjatuh atau memerlukan bantuan, ia tidak akan berdiri di bawah tangga sambil berpikir rumit apakah ia harus memanggil ayahnya atau ibunya terlebih dahulu. Ia hanya akan berteriak memanggil orang tuanya. Siapa pun yang berada paling dekat pasti akan langsung berlari mendekat, sementara yang lain pun turut mendengar.

​Alkitab memakai gambaran kedekatan anak dan orang tua ini dalam Galatia 4:6:

​"Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: 'ya Abba, ya Bapa!'"

​Kata "Abba" adalah panggilan intim seorang anak kecil kepada ayahnya—sebuah seruan spontan tanpa beban kepura-puraan atau ketakutan akan salah ucap. Kita bisa melihat bukti nyata dari kebebasan hubungan ini melalui contoh-contoh di Alkitab:

​Ketika Stefanus menghadapi maut saat dilempari batu, ia langsung berseru kepada Yesus dalam Kisah Para Rasul 7:59: "Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku." Tidak ada suara dari surga yang menegurnya karena tidak menyampaikannya melalui Bapa, sebab ia sedang berbicara kepada Pribadi yang paling dekat dengannya saat itu.

​Rasul Paulus juga berseru tiga kali langsung kepada Tuhan Yesus untuk memohon agar penderitaan yang ia sebut sebagai "duri dalam daging" diangkat. Yesus pun langsung menjawabnya dalam 2 Korintus 12:9: Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna."

Menembus Hambatan Emosional di Dalam Hati

​Secara lebih mendalam, jika kita mau menguji hati sendiri, alasan mengapa kita sering kali bingung atau merasa sungkan untuk berdoa kepada salah satu Pribadi Allah biasanya bukan terletak pada masalah pemahaman teologis, melainkan karena adanya hambatan emosional.

​Mungkin ada di antara kita yang tumbuh dengan rasa takut atau trauma terhadap sosok ayah di dunia, sehingga kata "Bapa" terasa sangat berat dan menakutkan untuk diucapkan. Akibatnya, kita memilih untuk hanya membisikkan doa kepada Yesus yang kita anggap lebih lembut, sambil menghindari "ruangan" Bapa. Atau sebaliknya, kita menganggap Roh Kudus terlalu misterius sehingga kita menjaga jarak dari-Nya.

​Namun, kebenaran Firman Tuhan meluruskan pandangan yang keliru ini. Allah tidak terbagi-bagi berdasarkan sifat emosional manusia. Bapa yang mengutus Yesus tidaklah kejam, dan Yesus tidak berjalan sendiri dengan kelembutan-Nya. Air mata Yesus di makam Lazarus menunjukkan dengan tepat bagaimana perasaan hati Bapa yang sesungguhnya kepada kita. Ibrani 1:3 menegaskan tentang Yesus:

​"Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah..."

​Tidak ada watak yang berbeda di balik wajah Yesus. Hati Bapa sama persis dengan hati Yesus, dan suara Roh Kudus selaras dengan suara Yesus. Mereka memiliki satu hati yang penuh kasih bagi kita.


​Penutup: Berdoa dengan Keberanian Percaya

​Melalui pemahaman yang utuh ini, kita tidak perlu lagi diliputi kecemasan saat berdoa. Alkitab merangkum tatanan indah ini dalam Efesus 2:18:

​"Karena oleh Dia kita kedua belah pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa."

​Dalam satu kalimat yang tenang ini, ketiga Pribadi Allah bekerja bersama untuk memberikan kita satu jalan masuk dan satu sambutan yang hangat. Keberanian kita ditegaskan kembali dalam 1 Yohanes 5:14:

​"Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya."

​Perhatikan bahwa Alkitab menggunakan kata ganti tunggal ("kepada-Nya"), karena Surga bukanlah sebuah papan sirkuit yang rumit, melainkan sebuah pelukan kasih dari Allah yang Esa.

​Semakin lama kita berjalan bersama Allah, kita tidak akan lagi disibukkan oleh rumus kata-kata yang rumit saat berdoa, melainkan sekadar berbicara dari hati ke hati. Ketika kita mengalami malam yang berat dan hati kita spontan berseru kepada Yesus, Dia menerima kita. Ketika kita memanggil Bapa, Dia mendengarkan. Yang terpenting bukanlah ketepatan "alamat" kata, melainkan keputusan kita untuk datang kepada-Nya.

​Saat kita bertelut berdoa, ingatlah bahwa Bapa sedang menunggu, Yesus adalah jalannya, dan Roh Kudus hadir membantu kita. Kita tidak sedang menghubungi orang asing; kita sedang melangkah pulang ke rumah.


ITT - Jumat, 5 Januari 2024