Relevansi Kisah Ananias & Safira bagi Gereja Modern
Kisah tragis Ananias dan Safira dalam Kisah Para Rasul 5:1-11 sering kali terasa seperti anomali yang menakutkan di tengah indahnya kisah kasih gereja mula-mula. Bagaimana mungkin di era kasih karunia, sebuah kebohongan tentang uang persembahan berujung pada eksekusi mati yang instan?
Jika kita membawa kisah ini ke abad ke-21, Ananias dan Safira mungkin adalah jemaat terpandang yang namanya sering disebut dari mimbar, atau penyumbang dana utama untuk proyek pembangunan gedung gereja. Mari kita bedah makna mendalam dari kisah ini melalui lensa realitas gereja modern.
1. Jebakan Pencitraan dan "Flexing" Rohani
Dalam Kisah Para Rasul 4:36-37, Barnabas menjual tanahnya dan memberikan seluruh uangnya dengan tulus. Ia dihormati oleh jemaat. Ananias dan Safira melihat hal itu dan menginginkan "tepuk tangan" yang sama, tanpa mau membayar harganya secara penuh.
Di era media sosial saat ini, virus kemunafikan ini bermutasi menjadi flexing rohani: Seseorang mungkin menyumbang besar-besaran agar namanya diukir di plakat gereja atau diumumkan di warta jemaat. Atau, seseorang mengunggah foto-foto sedang melayani di daerah pelosok demi likes dan pujian netizen, namun di balik layar, ia menelantarkan keluarganya atau menjalankan bisnis dengan cara curang.
Tuhan menolak keras pelayanan yang dijadikan teater untuk memuaskan ego. Firman Tuhan dalam Matius 6:1 memperingatkan dengan sangat jelas:
"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga."
2. Sindrom Donatur VIP (Budaya Patronase)
Secara historis, di dunia Romawi kuno terdapat sistem patronase, di mana orang kaya (patron) mendanai komunitas untuk "membeli" status, hak istimewa, dan kekuasaan. Ananias dan Safira membawa mentalitas transaksional duniawi ini ke dalam gereja. Mereka menyerahkan sebagian uang, namun bersikap seolah-olah menyerahkan semuanya, demi mendapatkan posisi elit di mata para rasul.
Ini terjadi ketika ada jemaat kaya yang merasa bisa "membeli" gereja. Misalnya, menyumbang AC baru, alat musik mahal, atau mobil operasional gereja, lalu merasa berhak mendikte kebijakan pendeta. Mereka bisa marah jika tidak diberikan kursi paling depan atau jika ditegur dosanya dari mimbar.
Dalam Kisah Para Rasul 5:4, Petrus menegaskan bahwa uang itu adalah hak mereka. Masalahnya bukan nominalnya, melainkan motivasinya. Tuhan tidak butuh uang kita; Dia menghendaki hati yang rela melepaskan, bukan hati yang berinvestasi untuk mencari kuasa politik di dalam gereja.
3. Kontroversi Keadilan: Mengapa Sekarang Koruptor Gereja Tidak Langsung Mati?
Salah satu pertanyaan paling tajam yang sering muncul adalah: "Kalau Ananias dan Safira langsung mati karena berbohong soal persembahan, mengapa hari ini banyak oknum pemimpin atau jemaat yang memanipulasi keuangan gereja tetap hidup kaya raya dan sehat?"
Di sinilah kita perlu memahami konsep Coram Deo - hidup di hadapan wajah Allah yang suci. Gereja mula-mula sedang berada dalam fase pembentukan pondasi. Kematian Ananias dan Safira adalah sebuah preseden (penetapan standar) dari Allah. Sama seperti peristiwa Nadab dan Abihu di Perjanjian Lama yang langsung dihukum mati saat mempersembahkan api asing (Imamat 10), Tuhan sedang menetapkan batas yang tegas: Gereja tidak boleh dibangun di atas dasar manipulasi.
Saat ini, kita hidup di era di mana Allah menahan murka-Nya untuk memberi ruang pertobatan (panjang sabar). Namun, kesabaran Tuhan tidak boleh disalahartikan sebagai persetujuan. Keadilan Tuhan yang tertunda sama sekali bukan berarti dibatalkan.
"Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan." — Ibrani 12:29
Kesimpulan: Melayani di Ruang Tanpa Sorot Lampu
Kisah Ananias dan Safira mengundang kita untuk menelanjangi motif hati kita yang terdalam. Amsal 21:2 mengingatkan, "Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati."
Mari kita mengevaluasi diri: Apakah kita tetap melayani dengan sungguh-sungguh meskipun tidak ada satu orang pun yang melihat? Apakah persembahan kita murni lahir dari rasa syukur, atau diam-diam kita berharap mendapat pengakuan dari pendeta dan jemaat lain?
Di hadapan Tuhan, topeng rohani yang paling tebal pun akan tembus pandang. Pilihlah untuk menjadi gereja yang otentik, di mana integritas bernilai jauh lebih tinggi daripada popularitas.