Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri
Showing posts with label 1 Korintus. Show all posts
Showing posts with label 1 Korintus. Show all posts

Saturday, October 24, 2026

ECCLESIA REFORMATA, SEMPER REFORMANDA

Pengantar


​Dalam perjalanan iman, kita sering kali terjebak dalam rutinitas. Kita cenderung merasa nyaman dengan apa yang sudah kita jalani, cara kita beribadah, atau cara kita berpikir tentang Tuhan. Namun, sejarah iman Kristen meninggalkan sebuah warisan kalimat berharga yang sangat mendalam: "Ecclesia reformata, semper reformanda secundum verbum Dei."

​Artinya adalah: "Gereja yang telah direformasi harus selalu diperbarui sesuai dengan Firman Allah."



​Slogan ini bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan sebuah panggilan hidup yang nyata, kritis, dan mendalam bagi gereja sebagai komunitas, sekaligus bagi kita masing-masing sebagai pribadi yang percaya. Mari kita ulas bersama bagaimana semboyan ini menuntun kehidupan rohani, cara pandang, dan pengajaran iman kita saat ini.

​Menjadi Milik Allah yang Telah Dikuduskan (Ecclesia Reformata)

​
Kata pertama dari slogan ini mengingatkan status kita sebagai umat yang telah dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang-Nya yang ajaib. Kita adalah orang-orang yang telah ditebus dan dibentuk kembali oleh pengorbanan Kristus di kayu salib.

​Namun, pemikiran kritis kita harus mulai berjalan di sini: Menjadi orang Kristen tidak berarti proses pembentukan hidup kita sudah selesai.

​Sering kali kita merasa aman hanya karena sudah rajin beribadah atau terlibat dalam pelayanan. Kita berpikir bahwa status sebagai "orang percaya" membuat kita otomatis selalu benar dalam segala hal. Padahal, keselamatan yang kita terima adalah awal dari sebuah perjalanan iman yang panjang, bukan garis akhir tempat kita bisa duduk bersantai dan berhenti bertumbuh.

​Panggilan untuk Selalu Diperbarui (Semper Reformanda)


​Bagian kedua dari slogan ini adalah inti dari kegelisahan rohani yang sehat, yaitu kerinduan untuk selalu diperbarui. Mengapa kita harus selalu diperbarui? Karena sebagai manusia, kita memiliki kecenderungan alami untuk mengalami kemunduran, menjadi suam-suam kuku, atau perlahan-lahan terseret oleh arus zaman.

​Di sinilah kita perlu melihat ke dalam hati secara jujur. Tanpa disadari, kebiasaan hidup kita kerap meniru standar dunia. Kita bisa menjadi egois, mudah menghakimi, atau mengejar ambisi pribadi dengan cara yang keliru.

​Rasul Paulus mengingatkan kita dengan sangat tegas dalam Roma 12:2:
​"Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."
​
Pembaruan budi atau pikiran adalah proses yang terjadi setiap hari. Ini adalah tindakan aktif di mana kita mengizinkan Roh Kudus membongkar kebiasaan buruk, menyembuhkan luka hati, dan meluruskan cara pandang kita yang keliru. Jika kita berhenti berubah, kita sedang berjalan menuju kemunduran rohani.

​Firman Allah Sebagai Kompas Utama (Secundum Verbum Dei)


​Dunia menawarkan banyak standar perubahan. Ada tren pemikiran baru, gaya hidup yang tampak menarik, hingga rupa-rupa motivasi yang populer. Namun, slogan ini memberikan batasan yang sangat jelas: perubahan kita harus sesuai dengan Firman Allah.

​Tanpa Firman Allah, keinginan untuk "selalu berubah" justru bisa membuat kita tersesat. Tanpa jangkar yang kuat, gereja maupun hidup pribadi kita akan mudah terombang-ambing mengikuti apa yang sedang disukai orang banyak, bukan apa yang dikehendaki oleh Tuhan.

​Pembaruan yang sejati bukanlah mengubah kebenaran agar cocok dengan selera kita, melainkan mengubah hidup kita agar cocok dengan kebenaran Tuhan.
​Pemazmur menuliskan hal ini dengan indah dalam Mazmur 119:105:
​"Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku."

​Firman Tuhan adalah alat uji bagi setiap pemikiran, keputusan, dan tindakan kita. Ketika kita membaca Alkitab, kita tidak sedang mencari ayat untuk mendukung keinginan pribadi, melainkan membiarkan Firman itu menegur, mengoreksi, dan mengarahkan kembali langkah kaki kita yang mulai melenceng.

​Memurnikan Doktrin dan Pengajaran Gereja


​Jika Firman Allah adalah standar tertinggi, maka pemikiran kritis kita harus meluas pada hal yang sangat mendasar, yaitu doktrin dan pengajaran gereja. Apakah doktrin gereja juga masuk dalam panggilan untuk selalu diperbarui? Ya, tentu saja. Bahkan, doktrin justru merupakan sasaran utama dari semboyan ini ketika pertama kali dicetuskan oleh para leluhur gereja.

​Kita perlu memahami dengan bijak perbedaan antara kebenaran ilahi dan rumusan manusia: Alkitab itu sempurna dan tidak berubah, tetapi doktrin gereja adalah rumusan manusia untuk menjelaskan isi Alkitab.

​Doktrin atau pengakuan iman biasanya dirumuskan oleh para pemimpin gereja pada zaman tertentu untuk menjawab tantangan zaman tersebut. Karena dirumuskan oleh manusia yang terbatas, doktrin tidak boleh disembah atau dianggap setara dengan Alkitab. Doktrin harus selalu tunduk di bawah otoritas Firman Allah.

​Menerapkan semboyan ini pada doktrin bukan berarti kita asal mengubah iman mendasar kita—seperti keyakinan kita tentang Allah Tritunggal atau keselamatan melalui Yesus Kristus. Melainkan, kita harus terus memeriksa apakah penjelasan, penerapan, dan aturan-aturan di gereja kita hari ini masih murni mencerminkan Alkitab, atau jangan-jangan sudah tercampur oleh ego kelompok, tradisi turun-temurun, dan kenyamanan organisasi. Sering kali, aturan buatan manusia yang sudah berjalan puluhan tahun perlahan-lahan kita anggap sebagai "doktrin suci" yang tidak boleh diubah, padahal bisa jadi aturan tersebut justru menjauhkan kita dari esensi kasih Allah.
​
Alkitab memberikan contoh sikap yang sangat indah melalui jemaat di Berea dalam Kisah Para Rasul 17:11:
​"Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian."

​Jemaat Berea tidak menelan mentah-mentah apa yang diajarkan kepada mereka, sekalipun yang mengajar adalah seorang rasul besar seperti Paulus. Mereka tetap membuka Kitab Suci setiap hari untuk menguji dan memastikan kesesuaiannya dengan Firman Allah. Kita dipanggil untuk memiliki kedewasaan iman yang sama: terbuka untuk belajar, namun tetap kritis dan menjadikan Firman Allah sebagai penguji tertinggi atas semua pengajaran yang kita dengar di dalam gereja.
​ 

Pembaruan yang Dimulai dari Diri Kita


​Namun, pemikiran kritis kita tidak boleh berhenti pada tingkat organisasi atau doktrin gereja saja. Sangat mudah bagi kita untuk menuntut perubahan pada diri orang lain, pada pendeta, atau pada pengurus gereja. Esensi sejati dari pembaruan ini akhirnya harus menyentuh hati kita masing-masing secara pribadi melalui pertanyaan-pertanyaan jujur:

  • ​Apakah kita bersedia ditegur oleh Firman Tuhan saat kita merenungkannya?
  • ​Apakah kita memiliki hati yang lembut untuk mengakui kesalahan dan berbalik dari jalan yang salah?
  • ​Apakah iman kita hari ini membuat kita lebih penuh kasih, rendah hati, dan berbuah dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya?

​Gereja secara keseluruhan tidak akan pernah mengalami pembaruan yang sejati jika kita, sebagai anggota-anggotanya, menolak untuk diperbarui oleh kuasa Firman-Nya.

​Kesimpulan


​Slogan rohani Ecclesia reformata, semper reformanda secundum verbum Dei adalah sebuah undangan sekaligus pengingat yang indah bagi kita semua. Kita tidak dipanggil untuk menjadi kaku, mandek, dan puas diri dengan tradisi atau tingkat rohani kita saat ini. Kita dipanggil untuk menjadi dinamis, terus bertumbuh, dan semakin hari semakin serupa dengan Kristus.

​Mari kita buka hati kita setiap hari. Izinkan Firman Allah mengoreksi hidup kita, menguji pengajaran kita, membongkar kepalsuan kita, dan menuntun kita pada pertobatan yang tulus. Sebab di dalam Tuhan, proses pembentukan kita tidak akan pernah selesai sampai kita berjumpa dengan-Nya di kekekalan. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

Selamat Hari Reformasi Gereja 31 Oktober ke-509!

ITT - Sabtu, 24 Oktober 2026

Thursday, August 27, 2026

Yohanes 17:21 - Ut Omnes Unum Sint


Refleksi Kritis atas Fragmentasi Gereja:
Menemukan Kembali Esensi Kesatuan Tubuh Kristus

​

Dunia kekristenan saat ini terfragmentasi ke dalam lebih dari 45.000 denominasi. Fakta ini menantang narasi sejarah gereja dengan mengajukan satu pertanyaan mendasar: Apakah Yesus pernah menghendaki perpecahan ini? Melalui kacamata kritis, kita diajak untuk melihat melampaui sekat-sekat institusional dan kembali kepada esensi Injil yang satu.

​

1. Akar Sejarah: Antara Iman dan Kekuasaan


​Perkembangan gereja mengalami titik balik yang signifikan ketika mulai berinteraksi erat dengan Kekaisaran Romawi, khususnya pada masa pemerintahan Kaisar Konstantinus. Transisi dari komunitas kecil yang teraniaya menjadi institusi negara yang masif membawa dampak ganda. Di satu sisi, Injil menyebar luas; namun di sisi lain, terjadi politisasi doktrin dan sentralisasi kekuasaan. Hal ini tidak jarang menggunakan klaim otoritas absolut untuk melegitimasi dominasi satu kelompok atas kelompok lainnya.


​Perpecahan yang terjadi sepanjang sejarah—mulai dari Skisma Besar hingga Reformasi—sering kali berawal dari pencarian kebenaran, namun akhirnya justru membangun tembok pemisah yang tinggi.


​2. Kritik Terhadap Denominasionalisme


​Sebuah pertanyaan kritis perlu diajukan: Apakah denominasionalisme telah menjadi berhala baru? Sering kali, umat Kristen lebih setia pada label gereja mereka (seperti Katolik, Ortodoks, atau Protestan dengan berbagai alirannya) daripada kepada Kristus itu sendiri. Ketika identitas kelompok lebih diutamakan daripada kasih persaudaraan, gereja telah kehilangan mandat utamanya sebagai saksi kesatuan Allah di dunia.


"Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir." — 1 Korintus 1:10


​3. Esensi yang Hilang: Satu Tubuh, Satu Iman


​Yesus Kristus tidak pernah memerintahkan pembentukan ribuan denominasi yang saling bertentangan. Panggilan Kristus adalah agar para pengikut-Nya menjadi satu tubuh. Kesatuan tidak berarti keseragaman dalam tata cara ibadah, melainkan kesatuan di dalam roh dan kebenaran Injil yang murni.


​Kita perlu mengevaluasi kembali, apakah perbedaan doktrin yang selama ini diperdebatkan adalah hal yang esensial bagi keselamatan, atau sekadar tradisi manusia yang membatasi persekutuan?


​"Satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan." — Efesus 4:4-5

​

Kesimpulan: Kembali kepada Dasar

​

Langkah yang membangun bagi setiap orang percaya bukanlah membenci institusi gereja, melainkan menempatkan Kristus kembali sebagai Kepala Gereja yang tunggal. Kita harus berani menguji setiap pengajaran dengan Alkitab dan melepaskan keangkuhan denominasional yang merasa paling benar sendiri.


​Kesatuan gereja adalah doa terakhir Yesus sebelum Ia disalibkan. Mengabaikan kesatuan berarti mengabaikan kerinduan terdalam Sang Juru Selamat.


​"Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku." — Yohanes 17:21

"Ut omnes unum sint, sicut tu, Pater, in me, et ego in te, ut et ipsi in nobis unum sint, ut credat mundus quia tu me misisti."


Catatan Penutup


​Artikel ini mengajak kita untuk tidak hanya menjadi penonton sejarah, tetapi menjadi pelaku aktif dalam rekonsiliasi tubuh Kristus. Marilah kita berfokus pada apa yang menyatukan kita - yaitu pengorbanan Kristus - bukan pada apa yang memisahkan kita.


ITT - Kamis 27 Agustus 2026

Friday, July 17, 2026

Mencari Ekklesia yang Sesungguhnya


Latar Belakang


Dalam Perjanjian Baru, kata yang diterjemahkan sebagai "gereja" atau "jemaat" adalah ekklesia. Kata ini sendiri berakar dari bahasa Yunani, yaitu ekklesia (dibaca: ek-kle-sia), yang memiliki arti "kumpulan orang yang dipanggil keluar" (dari dunia) untuk berkumpul bersama.


​Gereja akhirnya merujuk pada bangunan fisik, rumah ibadah, atau tempat di mana jemaat umat Kristiani berkumpul untuk melakukan ibadah, berdoa, dan mendengarkan firman Tuhan.


Pendahuluan


​Pernahkah kita duduk di bangku gereja yang empuk, dikelilingi tata cahaya panggung yang memukau dan tata suara menggelegar, namun justru merasa "kosong"? Di tengah kemegahan institusi agama modern, banyak orang mulai bertanya-tanya: Apakah ini yang Tuhan Yesus bayangkan ketika Ia berkata akan mendirikan jemaat-Nya?

​Mari kita bedah realitas ini dengan jujur dalam 4 (empat) poin, dan melihat apakah solusinya justru terletak pada kesederhanaan sebuah ruang tamu.


​1. Korporasi vs Komunitas Meja Makan


​Gereja modern sering kali terjebak dalam struktur korporasi. Ada CEO (pendeta utama), target jumlah jemaat, dan anggaran pemasaran yang besar. Namun, Alkitab menunjukkan pola yang berbeda.

​"Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati." (Kisah Para Rasul 2:46).


​Di (Gereja) Rumah, tidak ada "panggung". Yang ada adalah meja makan. Di sini, hubungan tidak bersifat transaksional (datang, dengar, pulang), melainkan relasional. Rumah mengembalikan fungsi gereja sebagai keluarga, bukan sekadar penonton pertunjukan.


​2. Teologi Megah vs Beban Bersama


​Banyak gereja besar hari ini terjebak pada "Teologi Kemakmuran" - yang terlalu berfokus pada bagaimana Tuhan bisa membuat hidup kita lebih nyaman. Sebaliknya, Alkitab menekankan pentingnya berbagi beban.

​"Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2).


​Dalam (Gereja) Rumah, ketika satu anggota sakit atau kehilangan pekerjaan, seluruh komunitas langsung tahu dan bertindak. Di gedung berkapasitas 5.000 orang, kita bisa menderita sendirian di baris belakang tanpa ada yang menyadari kehadiran atau ketidakhadiran Anda.


​3. Konsumerisme Ibadah vs Partisipasi Aktif


​Gereja modern sering kali mengubah jemaat menjadi "konsumen rohani". Kita datang untuk mendapatkan musik terbaik dan khotbah yang paling menghibur. Jika tidak puas, kita cenderung berpindah ke "toko" sebelah.

​ "Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran..." (1 Korintus 14:26).


​Pandangan Kontroversial: (Gereja) Rumah memaksa setiap orang untuk berfungsi. Anda tidak bisa hanya duduk diam. Setiap orang adalah pelayan. Konsep ini lebih sesuai dengan gagasan "Imamat yang Rajani" daripada sistem pendeta-sentris yang sering kita lihat di gedung-gedung besar.


​4. Investasi Beton vs Investasi Manusia


​Salah satu kritik paling tajam terhadap gereja modern adalah biaya operasional gedung yang fantastis. Sound sistim, interior gedung, listrik, perawatan, gaji pegawai dan pendeta serta cicilan gedung sering kali menelan sebagian besar persembahan jemaat.

​"Allah yang telah menjadikan dunia... tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia." (Kisah Para Rasul 17:24).


​Alternatif: (Gereja) Rumah tidak membutuhkan anggaran gedung. Bayangkan jika 100% persembahan digunakan untuk menyekolahkan anak yatim, membantu janda, atau membiayai misi di pelosok. Bukankah hal tersebut jauh lebih relevan dengan pesan kasih dalam Alkitab?


​Kesimpulan: Mana yang Lebih Alkitabiah?


​Pada dasarnya, Alkitab tidak melarang atau mengharamkan gedung besar. Namun, Alkitab menekankan bahwa Gereja adalah orangnya, bukan gedungnya.

​(Gereja) Rumah menawarkan alternatif yang menyentuh bagi kita yang mungkin lelah dengan formalitas. (Gereja) Rumah menawarkan kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan sistem audio tercanggih sekalipun.


Mungkin saja, relevansi yang kita cari tidak terletak pada kemegahan mimbar, melainkan pada ketulusan hati saat dua atau tiga orang berkumpul di ruang tamu dalam nama-Nya.


​Pertanyaan untuk renungan:

​Apakah kita merasa lebih bertumbuh saat menjadi bagian dari kerumunan besar, atau saat duduk melingkar di ruang tamu bersama keluarga dan beberapa saudara seiman?


ITT - Jumat 17 Juli 2026


Friday, April 10, 2026

Emaus

(Sebuah monolog Kebangkitan Kristus)

Lukas 24:13-35
Markus 16:12

Keberangkatan dari Yerusalem

Kami berangkat meninggalkan Yerusalem saat hari mulai masuk senja. Debu menempel di kaki dan perlahan kota itu berada di belakang kami.

Aku tidak ingin menoleh ke belakang; terlalu banyak hal yang telah terjadi di sana. Mereka berkata kubur itu kosong. Mereka berkata mereka telah melihat penampakan malaikat dan bahwa Dia hidup. 
Aku mendengar hal-hal ini, namun hatiku tetap berada di bawah bayang-bayang salib. Sorakan, kegelapan, dan apa yang mereka lakukan terhadap-Nya masih membekas. 

Aku mencoba mengingat kata-kataNya, namun kesedihan begitu kuat menguasai diriku. Jadi kami terus berjalan, tanpa kedamaian maupun pemahaman, karena Yerusalem telah menjadi terlalu berat bagi kami, dan harapan tampak begitu jauh.

Kebingungan dan Kekecewaan

Sambil berjalan, kami terus kembali pada hal yang sama: kubur itu kosong. Kami mengatakannya berulang kali, seolah mengucapkannya berkali-kali akan membuat kami memahaminya. 

Batu itu telah terguling, para wanita berkata Ia hidup, dan yang lain menemukan kubur itu persis seperti yang mereka katakan. Namun peristiwa penyaliban itu terasa lebih nyata bagi kami daripada janji-janjiNya. 
Kami tadinya berharap bahwa Ialah yang akan menebus Israel, dan kini kami tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan semua ini.

Perjumpaan dengan Sang Orang Asing

Saat kami sedang membicarakan hal-hal tersebut, Ia mendekat. Ia tidak datang dalam kemuliaan atau dengan cara yang membuat kami takut ... hanya mendekat dan berjalan bersama kami. 
Mata kami terhalang sehingga kami tidak mengenali-Nya. Kami berbicara kepada-Nya seperti kepada orang asing, meskipun Tuhan sendiri ada di samping kami. 

Kami menceritakan bagaimana imam-imam kepala dan penguasa kami telah menyerahkan-Nya untuk dihukum mati dan menyalibkan-Nya. Padahal kami telah percaya bahwa Ialah yang akan menebus Israel, dan sekarang ini adalah hari ketiga sejak penyaliban itu terjadi.

Penjelasan

Lalu Ia mulai berbicara. Bukan sebagai orang yang berdebat atau menebak hal-hal tersembunyi, Ia berbicara sebagaimana kebenaran berbicara, menerangi kegelapan kami.

Saat Ia berbicara, perlahan semua pengajaranNya mulai terbuka di hadapanku. Dia berbicara tentang Anak Domba, dan tiba-tiba kayu salib itu tidak bisa hilang dari pikiranku. 

Ia berbicara tentang batu yang dibuang, dan untuk pertama kalinya kegelapanku mulai bersinar, ... bahwa ternyata kubur itu bukanlah kekalahan melainkan sebuah pintu. 

Ia berbicara tentang Orang Benar yang harus menderita, dan kekelamn hari itu tidak lagi tampak seperti akhir. Janji demi janji muncul di hadapan kami — hal-hal yang sudah lama diucapkan dan dibaca, namun tersembunyi dari kami hingga saat ini.

Wahyu di Emaus

Ketika kami mendekati desa, Ia bersikap seolah-olah hendak melanjutkan perjalanan. Aku langsung merasa tidak ingin Ia pergi. 
Sesuatu yang dingin terendam dalam kesedihan mulai bergerak mencair, dan membiarkan-Nya pergi terasa seperti kehilangan cahaya untuk kedua kalinya. 

Maka kami mendesak-Nya dengan mengatakan, "Tinggallah bersama kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." 

Maka masuklah Ia untuk tinggal bersama kami.

Dan terjadilah, saat Ia duduk makan bersama kami, Ia mengambil roti, memberkatinya, memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada kami.
Seketika itu juga mata kami terbuka dan kami mengenali-Nya, lalu Ia lenyap dari pandangan kami. 

Roti itu masih ada di depan kami, pelita masih menyala, tetapi Dia telah pergi dari hadapan mata kami. Namun pada saat itu, kami tahu — kami tahu bahwa maut tidak dapat menahan-Nya.

Tinggal Sertaku - Abide with Me - Amadeus Symphony Orchestra
https://youtu.be/JG36xkiZaj8?si=aRiJoEBjXDL51ICv


ITT - Sabtu 10 April 2026

Friday, February 27, 2026

The Ten Commandments

Sepuluh Perintah Allah (Ten Commandments) sudah berlaku jauh sebelum Musa menerimanya di Gunung Sinai. Artikel ini memberikan bukti bahwa hukum-hukum tersebut bersifat kekal dan sudah ada sejak penciptaan manusia.

​Banyak orang menganggap Sepuluh Perintah Allah adalah hukum sementara yang hanya untuk bangsa Israel kuno. Namun, artikel ini menegaskan bahwa perintah-perintah tersebut adalah hukum Tuhan yang sudah ada sejak awal keberadaan manusia.

Rincian 10 Bukti (Perintah demi Perintah)

  1. ​Jangan ada Allah lain di hadapan-Ku: Adam dan Hawa melanggar perintah ini saat mereka lebih menaati setan daripada Allah di Taman Eden (Kejadian 3:11).
  2. Jangan membuat patung ukiran: Yakub memerintahkan keluarganya untuk membuang dewa-dewa asing dan memurnikan diri sebelum pergi ke Betel (Kejadian 35:2-4).
  3. Jangan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan: Ayub (yang kitabnya dianggap paling tua) secara rutin mempersembahkan korban karena khawatir anak-anaknya mungkin telah mengutuki Allah dalam hati mereka (Ayub 1:5).
  4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: Kata "Ingatlah" menunjukkan hukum ini sudah ada sebelumnya. Sebelum sampai di Sinai, Allah sudah menguji bangsa Israel terkait pengumpulan manna pada hari ketujuh (Keluaran 16).
  5. Hormatilah ayah dan ibumu: Yakub menaati orang tuanya (Kejadian 28:6-7), sementara Adam dan Hawa dianggap tidak menghormati orang tua tunggal mereka, yaitu Allah Sang Pencipta.
  6. ​Jangan membunuh: Allah memperingatkan Kain sebelum ia membunuh Habel, dan menyebut tindakan tersebut sebagai dosa yang mengintai (Kejadian 4:6-8).
  7. Jangan berzinah: Yusuf menolak istri Potifar karena ia tahu berzina adalah dosa besar terhadap Allah (Kejadian 39:7-9). Abimelekh pun tahu bahwa mengambil istri orang lain adalah dosa besar.
  8. Jangan mencuri: Yakub memahami hak milik dan hukum tentang pencurian saat berurusan dengan Laban (Kejadian 30:33). Saudara-saudara Yusuf juga tahu bahwa mencuri memiliki hukuman berat.
  9. Jangan mengucapkan saksi dusta: Kebohongan pertama dicatat dilakukan oleh setan di Taman Eden. Kain juga berbohong kepada Allah tentang keberadaan Habel.
  10. Jangan mengingini milik sesamamu: Hawa mengingini hak istimewa Allah untuk menentukan yang baik dan jahat (Kejadian 3:6). Ayub juga menyatakan bahwa mengingini istri tetangga adalah kejahatan (Ayub 31:9-11).

​Kesimpulan

Artikel ini menyimpulkan bahwa apa yang difirmankan Allah di Gunung Sinai hanyalah bentuk formal (kodifikasi) dari hukum yang sudah ada sejak awal.

Hukum-hukum ini dianggap kudus, benar, dan baik, serta membawa berkat bagi mereka yang menaatinya, serta karena sudah ada sejal awal - maka berlaku universal, sampai saat ini.

ITT - Jumat 27 Februari 2026

Sunday, May 30, 2010

Renungan di Minggu Trinitas 2010

Hari Minggu Trinitas dirayakan satu minggu sesudah hari Pentakosta (Pentakosta I). Ia merupakan hari Minggu penutup cyclus hari-hari raya besar. Di sini pernyataan ALLAH dan kekudusan keesaanNYA menjadi pusat penyembahan Jemaat.Jadi dirayakan untuk menyaksikan ALLAH yang Esa.

Warna dasar : Putih
Lambang/Logo : Lingkaran segi tiga/triquetra
Warna lambangnya : Merah

Arti : Simbol ini merupakan simbol mula-mula dari ketritunggalan. Tiga buah lekukan yang tidak terputus. Pada pusat dari ketiga lekukan itu terbentuklah sebuah segitiga yang merupakan simbol warisan Tritunggal.

Karunia-karunia Roh Kudus

1. Jenis-jenis karunia Roh dan artinya.
2. Tujuan mengapa karunia-karunia Roh itu diberikan.
3. Bagaimana cara untuk memperoleh karunia-karunia Roh itu.
4. Durasi (jangka waktu berlakunya karunia Roh itu).

1. Jenis-jenis Karunia Roh Kudus dan Artinya

Berdasarkan 1 Korintus 12:7-11, kita dapat mengetahui adanya sembilan jenis karunia Roh Kudus yaitu:

1. Berkata-kata dengan hikmat.
Kata hikmat adalah Sofias dalam bahasa Yunani yang berarti hikmat atau kecerdasan. Hikmat yang demikian inilah yang diminta Salomo dari Allah sehingga dia mampu untuk menyelesaikan perkara dua orang perempuan sundal yang memperebutkan seorang anak (1Raja-raja 3:16-28). Yesus menubuatkan tentang penderitaan dan penganiayaan yang akan menimpa murid-muridNya sehingga Dia berkata Apabila kamu diperhadapkan kepada pemimpin-pemimpin jangan kuatir sebab Roh Kudus yang akan mengatakan perkataan-perkataan yang akan kamu ucapkan (Matius 10:28). Pada masa infansi gereja itu tentu hikmat atau kecerdasan untuk mengarahkan gereja itu sangat dibutuhkan terlebih apabila dilihat dari sisi para penolak-penolak kekristenan yaitu orang-orang Yahudi dan kafir. Tanpa mendapat hikmat dari Allah maka para rasul tidak akan dapat memberikan solusi pada masalah yang dihadapi oleh Jemaat abad pertama yaitu adanya sikap pandang rupa dalam memberikan kebajikan kepada janda-janda dengan melalaikan janda-janda keturunan Gerika (Kisah rasul 6).

2. Berkata-kata dengan Pengetahuan.
Kata pengetahuan dalam hal ini berasal dari kata Gnoseos (bahasa Yunani) yang dapat berarti pengetahuan atau mengingat-ingat. Roh Kudus memberikan kemampuan bagi orang percaya untuk mengingat perkara-perkara yang telah dikatakan oleh Yesus pada saat bersama-sama dengan mereka. Hal itu sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh Yesus yang akan dilakukan Roh Kudus apabila Roh Kudus turun (Yohanes 14:26) “...... ialah akan mengajarkan kepadamu segala perkara itu dan akan mengingatkan kamu segala sesuatu yang Aku sudah katakan kepadamu.” Allah tidak ingin agar FirmanNya itu dilupakan begitu saja melainkan Dia menginginkan agar firmanNya itu tetap disimpan didalam hati setiap orang yang percaya (Kolose 3:16-17).

3. Karunia untuk Menyembuhkan.
Dalam Kisah Rasul 3, Lukas menuliskan penyembuhan seorang timpang yang dilakukan Petrus dan Yohanes pada pintu gerbang Bait Allah yang bernama Pintu Elok. Dalam ayat 6 Petrus berkata agar didalam nama Yesus orang tersebut dapat berjalan. Selanjutnya didalam ayat 7 dikatakan seketika (segera) itu juga dia berjalan dan tidak hanya itu saja melainkan dia juga meloncat sebagai tanda bahwa dia sembuh total. Petrus tidak harus teriak-teriak didalam nama Yesus lalu kelumpuhan itu berangsur-angsur pulih seperti yang dilakukan semua orang-orang yang mengatakan dirinya dapat melakukan penyembuhan. Karunia penyembuhan bukan semata-mata bertujuan untuk menyembuhkan orang-orang sakit. Karena jikalau demikian Paulus selayaknya telah menyembuhkan Teropimus yang ditinggalkan dalam keadaan sakit di Miletus (2 Timotius 4:20). Mengapa dia tidak menyembuhkan padahal dia dapat menyembuhkan bermacam-macam penyakit? Karena karunia penyembuhan itu bukan menjadi tanda kepada orang percaya melainkan kepada orang yang tidak percaya.

4. Karunia Iman.
Karunia iman ini ditujukan kepada cara bagaimana seseorang itu percaya yaitu dengan mendengarkan firman Allah (Roma10:17) tentunya firman yang disampaikan langsung oleh Roh Kudus terhadap seseorang. Dalam tulisannya Paulus berkata “Roh Kudus berkata” (1 Timotius 4:1 ; Ibrani 3:7). Ini berarti bahwa adakalanya Roh Kudus berbicara langsung terhadap seseorang Kristen yang menjadikan iman orang itu semakin bertambah.

5. Karunia Mengadakan Mujizat.
Dalam teks ini kata mujizat berasal dari kata Yunani yaitu Dunaneon yang berarti kuasa atau kekuatan. Kata dunaneon ini biasanya ditujukan kepada ledakan yang maha dasyat tetapi juga ditujukan kepada suatu tindakan yang maha menakjubkan karena bersifat diluar kekuatan normal (supranatural). Kekuatan yang demikian hanya dimiliki oleh Allah. Nikodemus percaya kepada Sabda Kristus sesudah dia melihat mujizat (Yohanes 3:1, 2). Simon tukang sihir juga percaya kepada Pilipus sesudah dia melihat mujizat (Kisah Rasul 8:13).

6. Karunia bernubuat.
Dalam teks ini kata bernubuat adalah Propheteia yang berarti; 1. Menyatakan hal-hal yang pasti akan terjadi pada hari yang akan datang. 2. Ditujukan untuk mengajar. Dalam teks ini arti bernubuat cenderung ditujukan kepada tindakan seseorang yang mengajarkan firman Allah sesuai dengan apa yang dinyatakan Roh Kudus kepadanya. Hal itu dengan jelas digambarkan Paulus dalam 1 Korintus 4:4, 29-31.

7. Karunia untuk Membedakan Roh.
Karunia seperti ini ditujukan kepada karunia yang dimiliki seseorang untuk membedakan pengajaran. Dalam 1 Yohanes 4:1, 2 Yohanes menasehatkan orang Kristen abad pertama untuk menguji roh (pengajaran), tentu mereka harus mendapat karunia Roh agar dapat melakukannya.

8. Karunia Bahasa Roh.
Ditujukan kepada kemampuan seseorang berbicara dalam bahasa asing yang tidak pernah dipelajari sebelumnya. Hal itu dikaruniakan Roh Kudus kepada orang-orang tertentu agar pemberitaan injil itu tidak terkendala hanya karena bahasa. Contoh yang tepat untuk ini terdapat pada Kisah Rasul 2:1-8.

9. Karunia untuk mengartikan Bahasa Roh.
Ditujukan kepada karunia yang dimiliki seseorang untuk mengartikan maksud firman Allah yang disampaikan oleh seseorang yang mendapatkan karunia bahasa Roh dan bukan berarti menterjemahkan.

2. Tujuan Karunia Roh Kudus

Karunia-Karunia Roh Kudus diberikan oleh Roh Kudus dengan tujuan tertentu, dan tujuan itu dapat dibagi dalam tiga bagian besar yaitu:

1. Untuk meneguhkan firman Allah.
Objek pemberitaan firman Allah yang memerlukan karunia Roh ini adalah orang-orang yang tidak percaya. Jikalau mereka sudah melihat sesuatu yang menakjubkan diluar dari kemampuan manusia (kekuatan supranatural) maka umumnya mereka akan percaya. Nikodemus percaya kepada Yesus Kristus sesudah melihat mujizat yang dilakukan oleh Yesus (Yohanes 3:1, 2). Dalam Markus 16:15-20 Yesus menyuruh murid-muridNya untuk memberitakan Injil. Yesus mengetahui bahwa pemberitaan itu akan kurang mendapat respon apabila tidak disertai tanda-tanda ajaib, Itulah sebabnya dalam ayat 20 dikatakan bahwa tanda-tanda ajaib itu meneguhkan pemberitaan mereka. Hasil yang pertama dari pemberitaan yang disertai dengan mujizat terdapat dalam Kisah Rasul 2:1-41, yaitu dibaptiskannya kira-kira 3000 orang yang percaya setelah mereka melihat mujizat Allah.

2. Bertujuan untuk meneguhkan Sidang Jemaat (1 Korintus 14:2).
Paulus berkata dalam Roma 10:17 bahwa iman itu timbul oleh sebab mendengar Firman Allah yang dilakukan Allah dengan memberikan karunia Roh Kudus yaitu bernubuat (mengajar) firman Allah. Sebagai hasil pengajaran itu Sidang Jemaat akan semakin teguh didalam iman. Sebaliknya jikalau Roh Kudus tidak memberikan karunia bernubuat kepada seseorang dari anggota jemaat, maka pengajaranpun tidak ada dan sebagai akibatnya iman atau keyakinan Jemaat itupun jadi rapuh dan mengarah kepada gaya hidup duniawi serta mengikuti ajaran-ajaran yang kontradiksi dengan firman Allah.

3. Bertujuan untuk meneguhkan individu.
Allah sangat peduli terhadap perorangan maupun kelompok. Untuk meneguhkan iman seseorang itu Roh Kudus mengaruniakan: Iman - tentu melalui perkataan yang dikatakan langsung oleh Roh Kudus itu kepada yang bersangkutan. Paulus mendengar Roh Kudus berbicara kepadanya secara langsung, 1 Timotius 4:1, “.... Roh Kudus berkata dengan jelasnya ....” Hal ini tentu akan menjadi nilai plus bagi seseorang yang mengalami hal yang demikian yang kemudian akan menjadikan imannya semakin kuat.

3. Cara Untuk Menerima Karunia Roh Kudus

Dalam Alkitab Perjanjian Baru kita mendapat informasi bahwa ada dua cara untuk menerima karunia-karunia Roh itu. Yang pertama adalah melalui baptisan Roh Kudus. Sebelum kenaikanNya ke surga, Yesus telah berpesan kepada rasul-rasul itu agar tidak meninggalkan Yerusalem karena mereka akan menerima janji Allah, dimana Yohanes membaptiskan dengan air tetapi mereka akan dibaptis dengan Roh Kudus (Lukas 4:48; Matius 3:11; Kisah Rasul 1:4, 5). Selanjutnya dalam Kisah Rasul pasal dua dinyatakan bahwa pada hari raya Pentakosta yang pertama sesudah kebangkitan Kristus, rasul-rasul dipenuhi dengan Roh Kudus yang memenuhi tempat mereka berhimpun yang turun menyerupai lidah api. Sebagai hasilnya rasul-rasul penuh dengan Roh Kudus (baptisan Roh Kudus) dan mendapat salah satu karunia Roh yaitu berkata-kata dalam bahasa lain. Hal yang sama juga dialami oleh keluarga Kornelius. Ketika Petrus menyampaikan Firman Allah, Roh Kudus turun ke atas sekalian orang yang mendengar (Kornelius dan kaum keluarganya) (Kisah Rasul 10:24), persis seperti yang terjadi pada Kisah Rasul 2:1-4. "Dapatkah seorang menegahkan air itu daripada membaptiskan orang yang sudah menerima Roh Kudus sama seperti kami ini?" (Kisah Rasul 10:47). Sebagai konsekuensi kejadian tersebut, keluarga Kornelius berbicara di dalam berbagai-bagai bahasa sehingga orang-orang yang datang dengan Petrus-pun heran dan berkata bahwa Allah-pun mencurahkan RohNya kepada orang kafir yang juga adalah penggenapan nubuatannya di dalam Yoel 2:28-30.

Kemudian cara yang ke-dua adalah dengan penumpangan tangan rasul. Orang-orang yang mendapat tumpangan tangan rasul akan mendapat karunia Roh Kudus. Tentu penumpangan itu bukan atas kemauan rasul itu sendiri melainkan Roh Kudus, “Tetapi sekaliannya itu dikerjakan oleh Roh yang Satu itu juga dengan membahagi-bahagi kepada masing-masing, sebagaimana kehendak-Nya” (1 Korintus 12:11).

Contohnya: (1) Kisah Rasul 6:1-5, salah satu dari tujuh saudara yang dipilih itu melakukan tanda-tanda mujizat di Samaria sebagai konsekuensi tumpangan tangan rasul. (2) Kisah Rasul 19:1-7, orang Kristen di Efesus mendapat tumpangan tangan dari Paulus dan mereka bernubuat dan berkata-kata dalam berbagai bahasa.

Orang-orang yang mendapat tumpangan tangan rasul tidak dapat menumpangkan tangan ke atas orang lain sehingga orang tersebut mendapat karunia Roh. Hal itu menjadi penyebab sehingga Petrus dan Yohanes harus turun ke Samaria untuk menumpangkan tangan ke atas orang-orang yang telah dibaptis pada waktu mendengarkan khotbah Pilipus yaitu salah seorang diantara tujuh orang yang mendapat tumpangan tangan dari rasul pada Kisah Rasul 6. Sesudah semua rasul dan orang-orang yang mendapat tumpangan tangan dari rasul meninggal, maka karunia-karunia Roh berhenti.

4. Jangka waktu (durasi) berlakunya Karunia Roh Kudus

Satu hal yang perlu kita ingat bila kita berbicara tentang masa berlakunya karunia-karunia Roh Kudus yaitu bahwa Allah selalu merencanakan pekerjaanNya dengan teratur. Maksudnya ialah bahwa dalam pekerjaanNya Dia telah menetapkan; (1) Kapan pekerjaan itu dimulai; (2) Bagaimana memulai; (3) Apa yang dibutuhkan (diperlukan) untuk memulai dan menindak-lanjuti; (4) Berapa dan apa harga yang harus dibayar; (5) Berapa-lama pekerjaan itu akan berlangsung. Semua hal-hal di atas dapat dikaji dengan jelas dan nyata di dalam penciptaan alam semesta, dimulai pada hari pertama dan berakhir pada hari ke-enam, selanjutnya kesinambungan kehidupan di dalam alam semesta terjadi secara alami. Contoh yang lain adalah dalam pemberian hukum. Pada mulanya Allah memberikan hukumNya kepada kepala-kepala keluarga yang dikenal dengan zaman Bapa-bapa (zaman Patriakh). Zaman (periode) ini berakhir pada zaman Yakub (hukum tersebut mengikat non Yahudi ketika Allah memberikan hukum Taurat bagi orang Yahudi melalui Musa) di gunung Sinai. Hukum inilah yang dilakukan oleh Kornelius (Kisah Rasul 10) sehingga doa dan amal serta rasa takutnya kepada Allah diperkenankan Allah. Dalam hal ini pada waktu Allah memberikan hukumNya kepada bangsa Israel (Yahudi) maka non Yahudi diikat oleh hukum yang diberikan pada zaman Bapa-bapa, tetapi ini hanya untuk periode tertentu, yang kita tahu bahwa kedua hukum itu berakhir pada waktu Yesus disalibkan (Efesus 2:15, 16) dan kemudian lahirlah hukum yang baru yaitu hukum Kristus (Galatia 3:27, 28; 1 Korintus 9:28, “.... aku takluk dibawah hukum Kristus ....”).

Hukum Taurat sudah berakhir dan tidak lagi mengikat manusia, dimulai pada hari Pentakosta yang pertama sesudah kebangkitan Kristus (hukum Taurat itu hanya bersifat sementara, Galatia 3:23-25). Jikalau hukum Taurat itu masih mengikat dan dapat menyelamatkan manusia, mengapa Paulus yang dahulu disebut Saul meninggalkan ritual-ritual yang diperintahkan di dalam hukum Taurat dan dibaptiskan untuk jalan keampunan dosa yang tidak pernah diperintahkan didalam hukum Taurat? Karena periode hukum Taurat dan prinsip yang diberikan pada zaman Bapa-bapa sudah berakhir maka siapa saja yang mencoba untuk mendapatkan (mencari) keselamatan melalui salah satu hukum tersebut tidak mendapat bagian di dalam pengorbanan Kristus (Galatia 4:4, 5; Kisah Rasul 17:30).

Rasul-rasul dan Sidang jemaat bertangung-jawab untuk memberitakan Injil itu yang merupakan kuasa Allah untuk menyelamatkan manusia (Efesus 3:10; Kisah Rasul 8:3, 4; Roma 1:16). Yesus mengetahui batas kemampuan murid-muridNya dalam mengemban misi ini, yaitu kemampuan untuk mengingat segala perkataan yang dikatakan Yesus dan juga ketidak-yakinan orang-orang yang mendengarkan pengajaran Injil itu. Untuk mengantisipasi hal ini Yesus berjanji bahwa Bapa akan mengutus Roh Kudus untuk mengajarkan dan mengingatkan segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Yesus kepada mereka (Yohanes 14:26), tentu dengan memberikan karunia-karunia Roh. Tetapi sistim itu hanya bersifat temporer (sementara). Paulus berkata di dalam 1 Korintus 13:8-10 bahwa:
1. Kasih tiada berkesudahan tetapi nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti dan pengetahuan akan lenyap.
2. Tiga jenis karunia Roh di atas merupakan wakil dari enam karunia Roh lainnya yang di dalam istilah Theologia disebut Sinokdoke. Hal itu berarti jikalau satu saja berakhir dari karunia Roh itu, maka yang lainpun ikut berakhir.
3. Paulus menyatakan alasan mengapa karunia-karunia Roh itu berlaku - yaitu karena pengetahuan mereka tidak lengkap dan nubuat (pengajaran) mereka tidak sempurna. Paulus mengatakan ke dua hal di atas tidak sempurna adalah karena ditujukan kepada metode untuk mendapatkan pengetahuan dan untuk usaha menyampaikan pengajaran - dimana mereka tergantung dengan ilham atau karunia Roh Kudus itu. Sekalipun mereka berhasrat untuk memberitakan tetapi jikalau mereka tidak mendapat ilham, maka mereka tidak berbuat apa-apa, “.... Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya” (1 Korintus 12:11). Dan di dalam 1 Korintus 14:1-31 dengan jelas Paulus mengatakan kepada kita bahwa karunia itu diberikan kepada seseorang tentu sesuai dengan keinginan dan kualitas kehidupan rohani seseorang.
4. Paulus mengatakan waktu berakhirnya karunia Roh itu yaitu apabila yang sempurna itu tiba. Kata sempurna di dalam teksnya di dalam bahasa Yunani yaitu to teleion - yaitu sebuah kata benda yang berjenis kelamin netral. Alkitab berada di dalam jenis kelamin yang sama, jadi kemungkinannya adalah apabila kitab itu sudah sempurna atau sudah lengkap dan tertulis yang dapat dipakai sebagai kanon pengajaran dan prilaku (aksi) maka karunia-karunia Roh Kudus itu tidak lagi berlaku. Barang siapa yang mengaku bahwa dia mendapat salah satu karunia Roh itu, maka dia hanya berupaya untuk menipu orang (2 Tesalonika 2:8, pengajar palsu datang dengan tanda-tanda mujizat palsu), yang harus berteriak-teriak sampai parau agar orang lumpuh bisa perlahan-lahan berdiri lalu lumpuh lagi yang sangat berbeda dengan mujizat Allah lewat Petrus hambaNya (Kisah Rasul 3:1-8). Petrus hanya berbicara serta menegakkan dia berdiri dan yang lumpuh itupun berdirilah dan meloncat-loncat pada saat Petrus berkata berdiri dan tidak lumpuh lagi serta mengikut Petrus dan Yohanes.

Kesimpulan

Sebelum bayi berjalan dengan kedua kakinya, dia merangkak dengan bantuan ke-dua tangannya. Tetapi apabila dia sehat dan bertumbuh dengan baik jadilah dia balita. Dia tidak mempergunakan tangannya lagi untuk merangkak melainkan dengan gagahnya dia berlari kian kemari dengan kedua kakinya. Roh Kudus menjadi pembimbing bagi orang Kristen pada abad pertama pada masa infansi gereja itu dengan cara melengkapi gereja itu dengan berbagai-bagai karunia sesuai dengan yang Dia inginkan. Walau demikian Roh Kudus dalam waktu yang bersamaan juga mengilhami orang-orang tertentu untuk menuliskan firman Allah yang selanjutnya akan dipakaiNya sebagai sarana untuk membimbing orang Kristen. Karunia-karunia Roh Kudus hanya bersifat temporer dan bukan untuk selama-lamanya, yang berakhir ketika firman Allah itu sudah tertulis dengan sempurnanya dan orang-orang yang mendapat tumpangan rasul itu meninggal dunia.

Pustaka acuan:
1. Barclay M. Newman Jr., Kamus Yunani-Indonesia, P.T. BPK. Gunung Mulia
2. Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi II 1991, Balai Pustaka.
3. Kurt Aland, Matthew Black, The Greek New Testament, edisi III, 1983, United Bible Sociaties

ITT - Sabtu, 30 Mei 2010

Sunday, June 7, 2009

1 Korintus 12:1-6

12:1 Sekarang tentang karunia-karunia Roh. Aku mau, saudara-saudara, supaya kamu mengetahui kebenarannya.
12:2 Kamu tahu, bahwa pada waktu kamu masih belum mengenal Allah, kamu tanpa berpikir ditarik kepada berhala-berhala yang bisu.
12:3 Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: "Terkutuklah Yesus!" dan tidak ada seorang pun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan", selain oleh Roh Kudus.
12:4 Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.
12:5 Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan.
12:6 Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.

Surat kepada gereja yang terpecah belah

BAGAIMANA GEREJA DI KORINTUS DIMULAI.
Paulus pertama kali mengunjungi Korintus pada perjalanan misionarisnya yang kedua (Kis. 18:1). Sejumlah orang Yahudi, termasuk Krispus yang menjadi kepala rumah ibadat, dan banyak orang bukan Yahudi menjadi Kristen. Paulus memulai sebuah sekolah Alkitab untuk mereka, yang letaknya strategis dan mencolok karena berdampingan dengan rumah ibadat (Kis. 18:1-18). Ia tinggal di sana selama delapan belas bulan dan digantikan oleh Apolos sebagai guru Alkitab.

BAGAIMANA BERITA TENTANG GEREJA DI KORINTUS SAMPAI KEPADA PAULUS.
Paulus sedang berada di suatu tempat di Asia (1 Kor. 16:19), mungkin di Efesus (16:8), pada akhir masa perjalanan misionarisnya yang kedua, ketika Stefanus dan dua orang kawannya datang dengan membawa sepucuk surat dari jemaat di Korintus (16:17 dan 7:1).

SEBUAH GEREJA YANG TERPECAH BELAH.
1. Mereka terpecah karena soal kepemimpinan (1:12).
2. Mereka terpecah karena standar moral (5:1-8).
3. Mereka terpecah karena kasus pendakwa dan terdakwa (6:1-8).
4. Mereka terpecah karena kasus orang Kristen yang lemah dan yang kuat (8:7-12).
5. Mereka terpecah antara yang kaya dan yang miskin (11:17-22).
6. Bahkan karunia Roh menjadikan mereka terpecah belah (12:12-26).

1 Korintus 12:1-6

1.

Para warga jemaat di Korintus berbeda pendapat dan dengan itu saling berselisih mengenai karunia-karunia Roh. Menghadapi permasalahanan ini, Paulus menulis: “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh” (ayat 4). Secara tersirat Paulus mau menganjurkan prinsip kesatuan dalam kepelbagaian - - - “unity in diversity”.

Titik tolak kita yang paling baik adalah 1 Kor 12:4-6, dimana Paulus mengatakan: ‘Ada rupa-rupa karunia, . . . tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang’.

Maksud Paulus ialah menekankan bahwa sekalipun karunia-karunia itu berbeda-beda, tapi hanya ada satu Pemberi. Ia memakai 3 kata yang berbeda untuk menunjukkan karunia-karunia itu sendiri. Pertama (ay 4) karunia-karunia ialah kharismata, karunia dari kasih karunia Allah. Selanjutnya (ay 5) karunia-karunia itu ialah diakonia, bentuk-bentuk pelayanan. Ketiga (ay 6) karunia-karunia itu ialah energemata, daya-daya, aktivitas-aktivitas atau kuasa-kuasa, yang diaktifkan oleh Allah dalam tiap orang.

Dan ada ‘bermacam-macam’ atau ‘jatah-jatah’ dalam tiap golongan. Jika kita mengumpulkan ketiga kata itu, kita mungkin dapat merumuskan karunia-karnia rohani itu sebagai ‘kecakapan-kecakapan tertentu, yang diberikan oleh kasih karunia dan kuasa Allah, yang mencakapkan orang bagi pelayananan yang khusus dan sesuai’. Karunia rohani atau kharisma itulah kecakapan yang mencakapkan seseorang bagi suatu pelayanan. Lebih sederhana lagi, karunia rohani dapat dipandang sebagai suatu karunia dan jabatan yang dapat dilakukan dalam karunia itu, atau suatu jabatan dan karunia yang dengannya orang dapat melakukannya.

2.

Karunia-karunia Roh itu bersifat “supernatural”. Kalau diperhatikan ayat-ayat dalam 1 Korintus 12, Paulus jelas mengkaitkan “asal mula dan ditribusi” karunia-karunia itu dengan setiap pribadi dari Tritunggal. Paulus menulis: “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang” (ayat 4-6).

Informasi: When we realize that the New Testament authors generally use the name “God” (Gk. theos) to refer to God the Father and the name “Lord” (Gk. kyrios) to refer to God the Son, then it is clear that there is [a] Trinitarian expression in 1 Corinthians 12:4-6: . . .

Yang sangat mengesankan ialah cara setiap Pribadi dalam Allah Tritunggal dihubungkan dengan berbagai segi daripada karunia-karunia itu. Dengan demikian, karena kegiatan khusus daripada Roh Kudus ialah membagi-bagikan, maka Paulus berbicara tentang “karunia-karunia-Nya”. Karena Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani, maka Paulus berbicara tentang “rupa-rupa pelayanan-Nya”. Karena Allah Bapa adalah sumber segala kuasa, maka Paulus berbicara tentang “berbagai-bagai perbuatan ajaib-Nya”. Karena itu, ada kegiatan yang mahahebat di dalam penggunaan karunia-karunia Roh. Pada waktu karunia-karunia itu dipergunakan oleh salah seorang anggota tubuh Kristus, maka Allah Tritunggal bekerja di dalam satu pribadi bagi kepentingan dan kebaikan orang lain.

So here we have something quite interesting: the same Spirit, the same Lord, and the same God the Father, but there are “diversities” and “difference.” The purpose of the Trinity is to bring about unity in the church, but it is unity in diversity. The Trinity is attempting to attain this unity in your church today.

3.

Bagaimana saya dapat mengetahui karunia Roh dalam diri saya?
Ada tiga langkah yang jemaat bisa ambil untuk menolong jemaat mengenal karunianya sehingga bisa mengetahui bidang-bidang terbaik untuk melayani:

1. Selidiki Roma 12:3-8; 1 Korintus 12:1-31; dan Efesus 4:1-13. Tulislah karunia-karunia yang kita temukan.
2. Buatlah daftar tentang hal-hal yang kita suka kerjakan atau yang selalu kita lakukan dengan hasil yang baik. Allah memberi kita kemampuan dan minat alamiah ini untuk dipakai bagi maksud-maksud-Nya.
3. Akhirnya, bicarakan dengan orang Kristen lainnya yang kita hormati. Mereka hendaknya orang yang mengenal kita dengan baik. Tanyakan kepada mereka apa kiranya yang menjadi karunia kita.

4.

Excursus
Kekeliruan-kekeliruan yang Harus Dihindari

Ada dua kekeliruan yang harus kita hindari ketika memikirkan karunia-karunia Roh. Yang pertama ialah kekeliruan dalam mana kita sangat menginginkan karunia-karunia rohani yang paling menakjubkan seperti yang dimiliki orang lain. Rasul Paulus dengan tegas memberi peringatan dalam hal ini. Telah sering saya ingin memiliki karunia dalam bidang musik maupun berceramah secara hebat. Dan bahkan yang lebih hebat lagi, saya mendambakan kemampuan untuk menyembuhkan orang-orang yang menderita penyakit yang manapun, dan bahkan menghidupkan orang mati.

Ternyata bahwa karunia-karunia yang demikian tidaklah Tuhan berikan kepada setiap orang percaya. Seandainya karunia-karunia tersebut dapat diminta atau dituntut, maka setiap orang Kristen di dunia ini akan memilikinya.

Memang menyembuhkan seseorang dari penyakit kanker yang ganas jelas lebih hebat daripada membawa sekeranjang buah-buahan kepada sebuah keluarga yang lapar. Namun demikian, Roh Kudus yang samalah yang memberikan kedua karunia itu, baik karunia penyembuhan, maupun karunia “kemurahan” dalam melayani orang-orang lain yang membutuhkan pertolongan (Rm 12:8).

Oleh sebab itu janganlah Anda iri hati atau cemburu melihat Roh Allah memberikan karunia yang lebih menggetarkan kepada orang lain. Sebaliknya, sadarilah apa karunia khusus yang Anda terima dari Tuhan. Kemudian mulailah mengembangkannya.

Kesalahan kedua yang sering kita temukan di kalangan Kristen ialah harapan atau anggapan bahwa kita semua harus menerima karunia-karunia yang bersamaan. Rasul Paulus mengatakan bahwa“ada rupa-rupa karunia” (1 Kor 12:4). Selanjutnya dia menunjukkan bahwa setiap anggota tubuh seseorang memiliki fungsi yang khusus dan perlu.

Itulah sebabnya tidak bijaksanalah bila kita mengharapkan atau menganggap bahwa orang-orang Kristen lain harus menerima karunia yang sama seperti Tuhan berikan kepada kita. Mengenai pembagian karunia-karunia, haruslah kita serahkan sepenuhnya kepada Roh Kudus, karena hanya Dia sendirilah yang berwenang membuat keputusan itu.

Di minggu Trinitas ini, marilah kita kembali menata pemahaman dan penghayatan, serta perilaku iman kita; yaitu:

Pertama; kita mau secara sungguh2 memahami bahwa Allah Tritunggal yang Kudus (bapa, Anak dan Roh Kudus) adalah Allah yang Esa, yang mengasihi dan berkuasa, yang senantiasa berkarya dalam hidup kita selaku umat yang percaya – bukan hanya pada karya penebusan hidup kita dari kuasa dosa, tetapi juga pada karya memaknai hidup baru kita dengan memperlengkapi kita dengan karunia-karuniaNya.

Kedua; ketika kita dengan perkenaanNya menerima anugerah Karunia Roh, maka hal itu kita syukuri, karena Allah berkenan dan mempercayakan kepada kita Karunia itu. Dan sebagai wujud syukur yang benar, maka Karunia itu harus kita berdayakan seturut dengan kehendakNya, bagi kehidupan berjemaat dan masyarakat luas.

Ketiga; semakin kita dipercayakan untuk menerima dan memberdayakan Karunia-karunia Roh itu, semestinya semakin rendah kita sebagai hamba-hambaNya dan semakin tinggi dan dimuliakan Allah Tritunggal yang Kudus.

Akhirnya, Tujuan karunia-karunia Roh adalah untuk pertumbuhan jemaat. Roh Kudus ingin menyatakan kasihNya lewat kita sebagai anggota tubuh Kristus sehingga jemaat bertumbuh. Bertumbuh banyak dan bertumbuh dewasa yang mendayagunakan segala Karunia untuk kemuliaan NamaNya dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Jenis-jenis Karunia Roh Kudus dan Artinya

Berdasarkan 1 Korintus 12:7-11, kita dapat mengetahui adanya sembilan jenis karunia Roh Kudus yaitu:

1. Berkata-kata dengan hikmat.
2. Berkata-kata dengan Pengetahuan.
3. Karunia untuk Menyembuhkan.
4. Karunia Iman.
5. Karunia Mengadakan Mujizat.
6. Karunia bernubuat.
7. Karunia untuk Membedakan Roh.
8. Karunia Bahasa Roh.
9. Karunia untuk mengartikan Bahasa Roh.

1. Berkata-kata dengan hikmat.
Kata hikmat adalah Sofias dalam bahasa Yunani yang berarti hikmat atau kecerdasan. Hikmat yang demikian inilah yang diminta Salomo dari Allah sehingga dia mampu untuk menyelesaikan perkara dua orang perempuan sundal yang memperebutkan seorang anak (1Raja-raja 3:16-28). Yesus menubuatkan tentang penderitaan dan penganiayaan yang akan menimpa murid-muridNya sehingga Dia berkata Apabila kamu diperhadapkan kepada pemimpin-pemimpin jangan kuatir sebab Roh Kudus yang akan mengatakan perkataan-perkataan yang akan kamu ucapkan (Matius 10:28). Pada masa infansi gereja itu tentu hikmat atau kecerdasan untuk mengarahkan gereja itu sangat dibutuhkan terlebih apabila dilihat dari sisi para penolak-penolak kekristenan yaitu orang-orang Yahudi dan kafir. Tanpa mendapat hikmat dari Allah maka para rasul tidak akan dapat memberikan solusi pada masalah yang dihadapi oleh Jemaat abad pertama yaitu adanya sikap pandang rupa dalam memberikan kebajikan kepada janda-janda dengan melalaikan janda-janda keturunan Gerika (Kisah rasul 6).

2. Berkata-kata dengan Pengetahuan.
Kata pengetahuan dalam hal ini berasal dari kata Gnoseos (bahasa Yunani) yang dapat berarti pengetahuan atau mengingat-ingat. Roh Kudus memberikan kemampuan bagi orang percaya untuk mengingat perkara-perkara yang telah dikatakan oleh Yesus pada saat bersama-sama dengan mereka. Hal itu sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh Yesus yang akan dilakukan Roh Kudus apabila Roh Kudus turun (Yohanes 14:26) “...... ialah akan mengajarkan kepadamu segala perkara itu dan akan mengingatkan kamu segala sesuatu yang Aku sudah katakan kepadamu.” Allah tidak ingin agar FirmanNya itu dilupakan begitu saja melainkan Dia menginginkan agar firmanNya itu tetap disimpan didalam hati setiap orang yang percaya (Kolose 3:16-17).

3. Karunia untuk Menyembuhkan.
Dalam Kisah Rasul 3, Lukas menuliskan penyembuhan seorang timpang yang dilakukan Petrus dan Yohanes pada pintu gerbang Bait Allah yang bernama Pintu Elok. Dalam ayat 6 Petrus berkata agar didalam nama Yesus orang tersebut dapat berjalan. Selanjutnya didalam ayat 7 dikatakan seketika (segera) itu juga dia berjalan dan tidak hanya itu saja melainkan dia juga meloncat sebagai tanda bahwa dia sembuh total. Petrus tidak harus teriak-teriak didalam nama Yesus lalu kelumpuhan itu berangsur-angsur pulih seperti yang dilakukan semua orang-orang yang mengatakan dirinya dapat melakukan penyembuhan. Karunia penyembuhan bukan semata-mata bertujuan untuk menyembuhkan orang-orang sakit. Karena jikalau demikian Paulus selayaknya telah menyembuhkan Teropimus yang ditinggalkan dalam keadaan sakit di Miletus (2 Timotius 4:20). Mengapa dia tidak menyembuhkan padahal dia dapat menyembuhkan bermacam-macam penyakit? Karena karunia penyembuhan itu bukan menjadi tanda kepada orang percaya melainkan kepada orang yang tidak percaya.

4. Karunia Iman.
Karunia iman ini ditujukan kepada cara bagaimana seseorang itu percaya yaitu dengan mendengarkan firman Allah (Roma10:17) tentunya firman yang disampaikan langsung oleh Roh Kudus terhadap seseorang. Dalam tulisannya Paulus berkata “Roh Kudus berkata” (1 Timotius 4:1 ; Ibrani 3:7). Ini berarti bahwa adakalanya Roh Kudus berbicara langsung terhadap seseorang Kristen yang menjadikan iman orang itu semakin bertambah.

5. Karunia Mengadakan Mujizat.
Dalam teks ini kata mujizat berasal dari kata Yunani yaitu Dunaneon yang berarti kuasa atau kekuatan. Kata dunaneon ini biasanya ditujukan kepada ledakan yang maha dasyat tetapi juga ditujukan kepada suatu tindakan yang maha menakjubkan karena bersifat diluar kekuatan normal (supranatural). Kekuatan yang demikian hanya dimiliki oleh Allah. Nikodemus percaya kepada Sabda Kristus sesudah dia melihat mujizat (Yohanes 3:1, 2). Simon tukang sihir juga percaya kepada Pilipus sesudah dia melihat mujizat (Kisah Rasul 8:13).

6. Karunia bernubuat.
Dalam teks ini kata bernubuat adalah Propheteia yang berarti; 1. Menyatakan hal-hal yang pasti akan terjadi pada hari yang akan datang. 2. Ditujukan untuk mengajar. Dalam teks ini arti bernubuat cenderung ditujukan kepada tindakan seseorang yang mengajarkan firman Allah sesuai dengan apa yang dinyatakan Roh Kudus kepadanya. Hal itu dengan jelas digambarkan Paulus dalam 1 Korintus 4:4, 29-31.

7. Karunia untuk Membedakan Roh.
Karunia seperti ini ditujukan kepada karunia yang dimiliki seseorang untuk membedakan pengajaran. Dalam 1 Yohanes 4:1, 2 Yohanes menasehatkan orang Kristen abad pertama untuk menguji roh (pengajaran), tentu mereka harus mendapat karunia Roh agar dapat melakukannya.

8. Karunia Bahasa Roh.
Ditujukan kepada kemampuan seseorang berbicara dalam bahasa asing yang tidak pernah dipelajari sebelumnya. Hal itu dikaruniakan Roh Kudus kepada orang-orang tertentu agar pemberitaan injil itu tidak terkendala hanya karena bahasa. Contoh yang tepat untuk ini terdapat pada Kisah Rasul 2:1-8.

9. Karunia untuk mengartikan Bahasa Roh.
Ditujukan kepada karunia yang dimiliki seseorang untuk mengartikan maksud firman Allah yang disampaikan oleh seseorang yang mendapatkan karunia bahasa Roh dan bukan berarti menterjemahkan.

ITT - 7 Juni 2009 - IHM RC Pkl.09:00 - Hari Minggu Trinitas

Wednesday, June 3, 2009

1 Korintus 12:12-26


12:12 Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.
12:13 Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.
12:14 Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.
12:15 Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh?
12:16 Dan andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh?
12:17 Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman?
12:18 Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.
12:19 Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh?
12:20 Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh.
12:21 Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau."
12:22 Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan.
12:23 Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus.
12:24 Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus,
12:25 supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.
12:26 Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita

Pembangunan Tubuh Kristus

1 Kor 12:12-26

Jika kita melihat sebuah pembangunan gedung, kita akan melihat semua mempunyai tahap, masing2 setiap hari, minggu, bulan, tahun. Hari ini kita melihat fondasi sedang di buat, minggu depan fondasi sedang di naikkan sampai lantai 4, bulan depan kamar mandi, dll. Masing-masing punya tahapan untuk akhirnya gedung berdiri dengan gagahnya dan begitu anggun, dan setiap orang yang melintas pun pasti melihat.

Dan tubuh Kristus pun perlu di bangun, sama seperti pembangunan gedung. Masing-masing punya tahapan, masing-masing tahapan punya fungsi, masing-masing tahapan punya tujuan.

Kita harus memperbaharui pola membangun tubuh Kristus, begitu juga dengan pembangunan gedung jaman tahun 1920-an tentu berbeda dengan jaman tahun 2000-an. Dari bahan sampai kepada teknik. Itulah kita harus mengikuti apa yang dipulihkan oleh Yesus di akhir jaman. Inilah yang harus kita perhatikan.

Pola yang kita pakai adalah pola tubuh Kristus yang terdapat di 1 korintus 12:12-26

Bagian #1

Satu tubuh, banyak anggota

1 korintus 12:12 Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.

1 korintus 12:14 Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.

1 korintus 12:19-20 Andaikata semuanya satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh.

(tambahan) 1 korintus 12: 27 Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing Adalah anggotanya.

Begitu banyak jemaatnya. Satu jemaat, banyak anggota jemaatnya. Dan mereka semua percaya satu Yesus Kristus.

Yang belum tercapai adalah mengakui bahwa mereka semua adalah satu tubuh Kristus, yang harus saling bekerja sama. Inilah yang perlu kita ketahui agar bisa mencapai kesatuan Tubuh Kristus.

Bagian #2

Saling mengakui

1 korintus 12:15-16 Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Dan andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh?

Bagian #3

Mengakui perbedaan

1 korintus 12:17 Andaikata tubuh seluruhnya mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman?

Bagian #4

Yesus menyukai perbedaan

1 korintus 12:18 Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendakiNya.
Perbedaan membuat kita menjadi satu, dan itulah yang Allah lakukan terhadap adam dan hawa; 12 suku israel; 12 murid; banyak anggota tubuh manusia; dan lain-lain. Justru dengan perbedaan ini, setiap bagian tidak akan merasa paling penting, karena semua saling membutuhkan.

Bagian #5

Saling membutuhkan

1 korintus 12:21 Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau."
Setiap gereja, setiap jemaat, setiap anggota jemaat, seluruh orang percaya Yesus, yang berbeda, saling membutuhkan.

Bagian #6

Paling lemah, paling dibutuhkan, paling berfungsi

1 korintus 12:22 Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan.
Jika kita melihat jari-jari tangan, jari kelingking sepertinya yang paling lemah, hanya jari ini diperlukan untuk beberapa fungsi yang jari lain tidak bisa lakukan. Sama juga berlaku dengan jari yang lain, jari jempol, jari telunjuk, jari tengah, dan jari manis.
Kenapa anggota-anggota tubuh yang paling lemah, yang paling dibutuhkan? Karena dia mempunyai fungsi, semua anggota tubuh mempunyai fungsi. Jika dia tidak ada fungsi lagi maka anggota itu akan dibuang. Sama seperti jika jari kelingking seseorang mengalami kecelakaan, dan tidak bisa diselamatkan lagi, maka jari itu akan dibuang. Daripada akan membuat seluruh tangan hancur.

Bagian #7

Berfungsi diperhatikan

1 korintus 12:23 Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan Kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus.
Jika kita bisa memilih menjadi sebuah anggota tubuh, apa yang Anda pilih? Selain daripada kepala, karena ini Yesus Kristus.
Kaki adalah tempat yang tidak terhormat, dia yang menopang seluruh tubuh, dia dibungkus dengan kaos kaki dan sepatu dan setelah seharian berjalan, bau itu begitu bau, dia hanya beristirahat maksimal hanya pada saat tidur.
Bagi kita kaki hanya sebuah anggota tubuh yang biasa, bagi seorang pelari profesional kaki adalah alat yang paling penting.
Kulit, bagi para wanita adalah hal yang perlu dijaga. Bagi para pria, biasa saja.
Rambut, bagi wanita adalah mahkota, sedangkan bagi pria, biasa saja.
Jika rambut seorang wanita sedang rusak, maka dia akan berusaha untuk memulihkan rambutnya dengan segala cara. Jika kulit tubuhnya kurang putih, dia akan berusaha untuk memutihkannya.
Kita memberikan penghormatan khusus setelah dia berfungsi. Walau kaki kurang terhormat, dia diberikan perhatian khusus karena dia berfungsi, dan kita semua berterima kasih.

Kita memberikan perhatian khusus anggota jemaat yang tidak elok, karena kita ingin dia menjadi elok. Kita ingin seluruh penampilan kita bersama dengan Yesus, menjadi sempurna.
Sekalipun anggota jemaat itu tidak bisa sempurna, setidaknya kita bisa berbangga dengan anggota jemaat yang tidak elok itu. Setidaknya ada fungsi yang bisa dilakukannya lebih baik dari sebelumnya.
Jika kita meluaskan arti dari “kurang terhormat” dan “tidak elok”, maka yang kita dapati adalah orang berdosa atau orang yang belum percaya Yesus. Merekalah yang kita berikan perhormatan khusus dan perhatian khusus, karena Yesus mencari orang berdosa, merekalah yang harus diberikan makanan, pakaian, minuman.

Bagian #8

Yang sudah elok melayani yang tidak elok

1 korintus 12:24 Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, jika kulit kita yang jelek telah menjadi cantik, maka kita tidak akan memperhatikan lagi. Kita akan memperhatikan bagian lain yang kurang untuk menjadi elok.
Rambut kita yang dari pertama telah cantik, tidak perlu diberi perhatian khusus.
Jemaat kita yang kurang elok, kita berikan perhatian khusus untuk supaya dia menjadi elok sama seperti yang lain.

Bagian #9

Saling melayani

1 korintus 12:25 supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.
Tujuan dari perhatian khusus itu adalah untuk membuat kita tidak terjadi perpecahan dan saling memperhatikan. Inilah kuncinya SALING MEMPERHATIKAN ada dua pihak yang saling perhatian. Bukan satu. Kaki memberikan pelayanan kepada tubuh, tubuh menggunakan tangan memberikan pelayanan kepada kaki (memijat), membersihkan dari kotoran, menggunting kuku dll.

Bagian #10

Satu untuk semua, semua untuk satu

1 korintus 12:26 Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.
Semua berfungsi, tanpa mengeluh, saya yang bekerja lebih berat dibanding yang lain. Kaki mengeluh beri saya istirahat, jantung juga, tangan juga, mata juga, jadi akhirnya semua mengeluh yang mengakibatkan kematian.

Sebaliknya jika semua orang menjalankan fungsinya dengan maksimal tanpa memperhitungkan siapa yang lebih daripada yang lain, maka tubuh akan hidup dengan baik dan sehat.

Jemaat yang berfungsi dengan baik, sekalipun tidak besar, sekalipun tidak semegah yang lain, sekalipun hanya berdoa, dia layak menerima pujian, dia layak menerima perhatian khusus. Karena dia berfungsi dalam tubuh Kristus.

ITT - 3 Juni 2009 - K3 SP3C di Kel.Kuhuwael