Pengantar
12 Tahun lalu, tepatnya di 19 November 2014, kami pernah meluncurkan tulisan di blogspot mengenai persepuluhan. Baca di https://didaktis.blogspot.com/2014/11/persepuluhan.html
Belakangan ini, kami sering berdiskusi dalam keluarga tentang hal ini dengan semakin maraknya di podcast serta youtube tentang persepuluhan. Akhirnya, kembali kami harus meneruskan opini dari 12 tahun lalu tersebut dengan artikel yang baru ini.
Tinjauan Alkitabiah atas Tradisi yang Bergeser
Dalam beberapa dekade terakhir, sebuah doktrin finansial telah mengakar kuat di berbagai gereja modern. Banyak pengajar menyampaikan janji bahwa apabila seseorang menyisihkan sepuluh persen dari pendapatannya, Allah akan membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat yang berlimpah (Maleakhi 3:10). Namun, kenyataan di lapangan sering kali menghadirkan paradoks: umat Kristen telah setia mempraktikkannya selama puluhan tahun, tetapi janji kemakmuran tersebut tidak kunjung terwujud. Fenomena ini memicu banyak pihak dan kita pribadi untuk meneliti kembali dasar Alkitabiah dari praktik persepuluhan itu sendiri, guna membedakan antara tradisi manusia dan kebenaran Firman yang sejati.
1. Hakikat Komoditas Agraris: Bukan Mata Uang
Jika kita menelusuri Alkitab secara menyeluruh dari Kitab Kejadian hingga Wahyu, tidak ditemukan satupun contoh di mana seseorang memberikan persepuluhan dalam bentuk uang tunai, baik kepada bait suci, gudang perbendaharaan Lewi, maupun di era Perjanjian Baru. Persepuluhan yang ditetapkan dalam hukum Taurat senantiasa berupa hasil bumi dan ternak dari tanah Israel.
Dasar hal ini tertulis dalam Imamat 27:30-32, yang menegaskan bahwa persepuluhan dari segala hasil tanah—baik biji-bijian maupun buah-buahan—adalah milik Tuhan dan dikuduskan bagi-Nya. Demikian pula dengan segenap persepuluhan dari lembu sapi dan kambing domba, di mana setiap hewan kesepuluh yang lewat di bawah tongkat gembala harus diserahkan secara objektif, tanpa memandang apakah hewan itu baik atau buruk. Komoditas persepuluhan mutlak terbatas pada produk agraris.
Sebagian pihak kerap berargumen bahwa pembatasan ini terjadi karena masyarakat zaman dahulu belum mengenal uang. Padahal, argumen tersebut tidak berdasar secara historis; mata uang, syikal, perak, dan emas telah beredar luas dan digunakan untuk pajak bait suci sejak era Perjanjian Lama. Oleh karena itu, ketetapan persepuluhan secara konsisten merujuk pada produk agraris, bukan pendapatan finansial modern.
2. Menelusuri Tiga Dimensi Persepuluhan dalam Taurat (Ma'aser)
Untuk memahami betapa kelirunya penerapan persepuluhan modern yang memusatkan seluruh 10% untuk kas lembaga gereja, kita perlu melihat bahwa sistem Taurat sebenarnya mengenal tiga jenis persepuluhan (Ma'aser) dengan fungsi dan peruntukan yang sangat spesifik (lihat: https://didaktis.blogspot.com/2025/11/maaser.html)
Ma'aser Rishon (Persepuluhan Pertama - Bilangan 18): Diberikan kepada suku Lewi sebagai upah atas pelayanan mereka di Kemah Pertemuan/Bait Allah, sebab mereka tidak mendapat bagian tanah warisan di tengah bangsa Israel (rasio 1:11 suku). Menariknya, orang Lewi pun masih harus menyisihkan sepersepuluh dari persepuluhan yang mereka terima untuk diserahkan kepada para imam (keluarga Harun).
Ma'aser Sheni (Persepuluhan Kedua - Ulangan 14:22-27): Ini adalah bagian yang kerap diabaikan oleh pengajar modern. Sebagian persepuluhan justru diuangkan sendiri oleh pemiliknya dan dibelanjakan untuk makanan, daging, atau minuman guna dimakan bersama keluarga di hadapan Tuhan di Yerusalem saat hari raya pesta panen. Tujuannya agar umat belajar takut akan Tuhan, bukan disetor penuh ke gedung keagamaan.
Ma'aser Ani (Persepuluhan Ketiga - Ulangan 14:28-29): Diharuskan setiap tahun ketiga dan keenam di gerbang kota sebagai jaminan sosial bagi orang Lewi, orang asing, anak yatim, dan janda agar mereka dapat makan sampai kenyang.
Akumulasi dari sistem perpajakan teokratis Israel ini bahkan mendekati angka 23,3% per tahun. Memaksakan sistem perpajakan nasional Israel kuno ini ke dalam kantong finansial orang percaya di era Perjanjian Baru adalah sebuah kekeliruan eksegesis yang fatal.
3. Meluruskan Teladan Abraham dan Yakub
Praktik persepuluhan sering kali dilegitimasi melalui kisah Abraham yang memberikan sepersepuluh dari hasil penjarahan kepada Melkisedek, raja Salem (Kejadian 14:18-20). Namun, jika dicermati, Abraham tidak pernah memberikan persepuluhan dari penghasilan rutin pribadinya; ia menyerahkan sepuluh persen dari hasil rampasan perang, sementara sembilan puluh persen sisanya dikembalikan kepada raja Sodom. Ia bertindak sebagai Abram (belum masuk dalam perjanjian sunat/Taurat) dan tidak pernah mengulangi tindakan itu sebagai rutinitas finansial sehari-hari.
Demikian pula dengan nazar bersyarat Yakub di Betel (Kejadian 28:20-22) yang diucapkan dalam pergumulannya, tidak pernah tercatat sebagai praktik ibadah rutin yang konsisten ia jalankan seumur hidupnya. Menjadikan insiden historis ini sebagai dasar mandat finansial gereja masa kini adalah penarikan kesimpulan yang tidak konsisten.
4. Pergeseran Historis: Dari Organisme Rohani Menjadi Institusi Keagamaan
Mengapa praktik ini bisa bergeser ke era modern? Secara historis, gereja mula-mula lahir sebagai organisme (persekutuan orang percaya/eklesia) yang berkumpul dari rumah ke rumah tanpa menuntut persepuluhan wajib.
Perubahan besar terjadi ketika Kaisar Konstantin melegalkan agama Kristen pada abad ke-4 dan gereja bertransformasi menjadi institusi kekaisaran. Gedung-gedung megah mulai didirikan, kasta keimaman baru dihidupkan kembali menyerupai pola Perjanjian Lama, dan kebutuhan gaji kaum klerus full-time mendesak pembentukan sistem keuangan tetap. Baru sekitar abad ke-9, persepuluhan akhirnya dilembagakan secara resmi menjadi kewajiban wajib bagi umat—sebuah pola struktural yang bertahan hingga hari ini. (Untuk sekarang ini Persepuluhan tidak dikenal lagi di Gereja Katolik, sementara Gereja Protestan umumnya masih memberlakukan kewajiban ini - walau tidak semua Gereja Protesstan)
5. Penatalayanan di Bawah Kasih Karunia dan Dukungan bagi Pelayan Injil
Melepaskan diri dari ikatan legalisme Taurat bukan berarti meniadakan tanggung jawab finansial dalam tubuh Kristus. Alkitab Perjanjian Baru tetap menegaskan bahwa mereka yang memberitakan Injil berhak hidup dari pemberitaan Injil tersebut (1 Korintus 9:14), sebagaimana rasul Paulus kadang kala menerima dukungan kasih dari jemaat untuk perjalanannya (Filipi 4:15-18).
Namun, paradigma pemberian telah bergeser secara radikal:
Bukan Perintah dan Ancaman: Tidak ada lagi ancaman kutuk (seperti Maleakhi 3) bagi yang tidak membayar sepuluh persen.
Kemurahan Hati yang Sukarela: Standar Perjanjian Baru adalah penatalayanan (stewardship) di mana 100% harta kita adalah milik Tuhan, dan pemberian dilakukan secara proporsional serta sukarela dari hati yang bersyukur, sebagaimana ditegaskan dalam 2 Korintus 9:7: "Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, bukan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita."
Integritas dan Keadilan Sosial: Dana yang dihimpun oleh komunitas iman harus dikelola dengan transparansi tinggi untuk menghidupkan pelayanan kasih, menopang para pekerja Injil secara wajar (bukan untuk memperkaya diri atau membangun kemegahan institusional yang berlebihan), serta memperhatikan kaum marjinal yang membutuhkan.
Kesimpulan
Segala hal yang diajarkan mengenai persepuluhan finansial modern ternyata tidak memiliki akar yang kuat di dalam Alkitab. Oleh karena itu, umat beriman dipanggil untuk tidak menelan mentah-mentah tradisi atau doktrin yang berkembang secara turun-temurun, melainkan tekun menyelidiki Alkitab secara mandiri dengan konteks yang utuh.
Dengan memahami kebenaran firman yang utuh, setiap orang percaya dapat memandang penatalayanan harta kekayaan, kemurahan hati, dan pemberian bukan lagi karena ikatan legalisme yang keliru atau rasa takut kehilangan berkat, melainkan sebagai wujud syukur yang tulus atas kasih Allah yang telah terlebih dahulu dilimpahkan kepada kita di dalam Kristus.
ITT - Kamis, 29 Oktober 2026



