Refleksi Iman Kristen Atas Air Mata di Hutan Papua
Ketika kita melihat kerusakan alam yang terjadi di sekitar kita, khususnya di Tanah Papua, hal itu bukan sekadar isu lingkungan atau ekonomi semata, melainkan sebuah krisis iman dan pelanggaran terhadap mandat ilahi.
Mari kita renungkan bersama urutan pemahaman rohani ini untuk melihat bagaimana Tuhan memandang bumi ciptaan-Nya dan apa peran kita di dalamnya.
Mandat Agung Manusia untuk Memelihara Alam
Sejak awal penciptaan, Tuhan telah meletakkan sebuah tanggung jawab yang sangat besar di pundak kita. Kita tidak diciptakan untuk menjadi penguasa yang semena-mena, melainkan menjadi penjaga dan perawat dari apa yang sudah Tuhan jadikan.
Tanggung jawab ini tertulis dengan sangat jelas dalam Kejadian 2:15:
"TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu."
Kata "memelihara" di sini (shamar dalam bahasa Ibrani) berarti menjaga agar tetap baik, melindungi dari kerusakan, dan memastikan bahwa kelestarian alam tetap terjaga. Ketika kita merawat alam, kita sedang menyembah Tuhan melalui tindakan nyata. Sebaliknya, ketika kita merusak alam, kita sedang mengabaikan perintah langsung dari Sang Pencipta.
Pandangan Tuhan atas Penghancuran Hutan Ciptaan-Nya
Hutan bukanlah sekadar kumpulan pohon atau komoditas ekonomi yang bisa ditebang demi keuntungan sesaat. Hutan adalah karya seni hidup yang diciptakan Tuhan dengan tatanan yang sangat sempurna. Di dalamnya ada keseimbangan hidup yang menopang napas banyak makhluk ciptaan.
Lantas, bagaimana pandangan Tuhan ketika melihat hutan buatan tangan-Nya dihancurkan oleh keserakahan manusia? Kita harus ingat apa yang tertulis dalam Mazmur 24:1:
"Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya."
Tuhan adalah pemilik sah atas bumi ini. Ketika manusia melakukan penggundulan hutan secara membabi buta, manusia sedang merampas dan merusak milik Tuhan. Di mata Tuhan, penghancuran hutan adalah bentuk pemberontakan terhadap kedaulatan-Nya.
Ketika pohon-pohon ditumbangkan secara paksa, aliran sungai tercemar, dan hewan-hewan kehilangan tempat tinggal, kita sedang merusak keindahan yang dipuji Tuhan sendiri saat penciptaan, di mana Dia melihat bahwa semuanya itu "sungguh amat baik" (Kejadian 1:31). Tuhan tidak menutup mata terhadap tangisan alam dan jerit penderitaan makhluk hidup yang kehilangan rumahnya akibat keserakahan kita.
Masyarakat Adat Papua: Penjaga Setia yang Dipilih Tuhan
Jika kita melihat jauh ke dalam pedalaman Papua, kita akan menemukan sebuah kebenaran teologis yang indah. Dalam pandangan iman kita, Tuhan menciptakan orang Papua dan menempatkan mereka di sana dengan maksud yang mulia: untuk menjaga tanah Papua. Bahkan fisik mereka pun Tuhan ciptakan untuk bertahan dalam hutan yang lebat serta cuaca ekstrem.
Tuhan membentuk suku Auyu, Marin, Muyu, Yi, dan suku-suku lainnya dengan kearifan yang melekat pada cara hidup mereka dan menjadi benteng pertahanan bagi kelestarian alam di sana.
Ya benar, Papua bukan "tanah kosong", di sana sudah ada manusia ciptaan Tuhan. Di sana ada masyarakat adat Papua yang menjalani kehidupan mereka dengan penuh kesederhanaan. Namun, di balik kesederhanaan itulah terletak hikmat yang mendalam. Mereka melihat hutan bukan sebagai musuh yang harus ditaklukkan, melainkan sebagai mama (ibu) yang memberi mereka kehidupan.
Melalui cara hidup yang selaras dengan alam, mereka berhasil mengelola dan merawat hutan Papua sehingga wilayah tersebut tumbuh menjadi paru-paru utama bagi Indonesia, bahkan bagi dunia. Ini adalah bukti nyata dari ketaatan alamiah terhadap mandat penciptaan. Tanpa teknologi tinggi atau keserakahan industri, dalam kesederhanaannya mereka mampu melakukan apa yang gagal dilakukan oleh manusia modern: mempertahankan kehidupan demi masa depan bumi kita bersama.
Jeritan Keadilan dan Simbol Salib di Tengah Hutan
Ketika proyek pembukaan lahan skala besar datang secara sepihak, ketenangan itu terusik. Kita menyaksikan bagaimana warga adat kehilangan tempat berburu, dusun sagu mereka digusur, dan air sungai mereka tercemar oleh zat kimia. Sagu, yang bagi mereka adalah simbol kerabat dan kehidupan, kini bertumbangan.
Logika Kristen kita ditantang ketika melihat warga suku Auyu menancapkan ribuan salib merah di dalam hutan mereka sebagai tanda larangan keras bagi perusahaan. Ini adalah sebuah jeritan iman yang mendalam. Salib adalah simbol pengorbanan dan keadilan Kristus. Ketika warga adat merasa suara mereka diabaikan oleh penguasa, mereka lari kepada salib Kristus.
Hal ini menjadi teguran keras bagi kita. Iman Kristen yang hidup tidak boleh menutup mata terhadap ketidakadilan. Firman Tuhan dalam Amos 5:24 mengingatkan kita:
"Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir."
Jika kita sebagai sesama anggota tubuh Kristus memilih diam saat hak hidup orang-orang kecil dirampas, kita sedang mengabaikan keadilan dan kesetiaan (Matius 23:23). Penderitaan orang Papua adalah penderitaan kita juga, karena jika satu anggota tubuh menderita, semua anggota turut menderita (1 Korintus 12:26).
Kegagalan Proyek Lumbung Pangan (Food Estate) dan Peringatan bagi Para Pemimpin
Niat untuk menyediakan pangan bagi bangsa sering kali dijadikan alasan untuk membenarkan pembukaan lahan skala besar atau yang sering disebut proyek lumbung pangan (food estate). Namun, ketika proyek ini dilakukan dengan cara menggunduli hutan adat secara serampangan, kita sedang berjalan menuju kehancuran kita sendiri.
Para pemimpin kita, khususnya para presiden, harus memiliki kerendahan hati untuk belajar dari kegagalan-kegagalan yang sudah terjadi. Alkitab mengingatkan para pemimpin dalam Amsal 29:14:
"Raja yang menghakimi orang lemah dengan adil, takhtanya tetap kokoh untuk selama-lamanya."
Bahwa seorang pemimpin harus bertindak dengan kebenaran agar masa depannya kokoh. Menghancurkan hutan demi proyek pangan yang tidak matang justru mendatangkan kutuk ekologis, bukan berkat. Secara logika Kristen dan hukum alam yang Tuhan tetapkan, penggundulan hutan secara paksa pasti akan melahirkan rantai bencana yang panjang:
- Bencana Alam: Hilangnya pohon sebagai penyerap air akan langsung memicu banjir bandang, tanah longsor, dan kekeringan yang ekstrem.
- Bencana Ekonomi: Masyarakat adat kehilangan sumber pangan lokal, tanaman obat, dan tempat berburu yang selama ini menghidupi mereka secara mandiri. Lahan yang telanjur rusak menjadi gersang, uang negara habis terbuang, dan kemiskinan baru justru tercipta.
- Bencana Kemanusiaan: Kehilangan ruang hidup membuat masyarakat lokal tercerabut dari akar budaya dan identitas spiritual mereka, memicu konflik sosial yang berkepanjangan.
Doa Syafaat untuk Tanah dan Masyarakat Adat Papua
Hanya doa yang dapat meredam semua hasrat politik, keserakahan, dan ambisi yang tidak pada tempatnya. Untuk itu, mari kita menyatukan hati kita dalam doa kepada Tuhan Yesus Kristus, Sang Pemilik Kehidupan:
Bapa Surgawi yang bertakhta di dalam kerajaan surga, Pencipta langit, bumi, dan segala isinya. Kami datang ke hadapan-Mu dengan hati yang hancur melihat kerusakan yang terjadi pada bumi ciptaan-Mu, khususnya di tanah Papua.
Tuhan Yesus, kami membawa masyarakat adat Papua ke dalam tangan kasih-Mu. Berikanlah mereka kekuatan, ketabahan, dan perlindungan dalam menjaga tanah ulayat dan hutan pusaka yang telah Engkau percayakan kepada mereka secara turun-temurun. Lindungilah hak-hak mereka, jagalah anak-cucu mereka, dan biarlah kesederhanaan mereka tetap menjadi teladan bagi kami semua untuk mencintai bumi.
Kami juga berdoa bagi hutan-hutan di Papua yang menjadi paru-paru dunia dan Indonesia. Biarlah kuasa-Mu menghentikan tangan-tangan serakah yang ingin merusaknya demi keuntungan pribadi atau golongan. Jamahlah hati para pemimpin bangsa kami, para presiden, dan para pengambil keputusan, agar Engkau karuniakan hikmat yang takut akan Tuhan. Sadarkanlah mereka untuk belajar dari kegagalan masa lalu, sehingga setiap kebijakan yang diambil tidak melahirkan bencana alam maupun bencana ekonomi bagi rakyat kecil.
Pulihkanlah tanah Papua, juga tanah Indonesia, ya Tuhan. Biarlah keadilan-Mu mengalir seperti air yang tidak pernah kering di atas tanah subur itu. Terima kasih Bapa, di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, kami berdoa dan berserah. Amin.
Catatan Penutup dan Apresiasi
Kita juga patut melayangkan rasa hormat dan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada tim pembuat video dokumenter "PESTA BABI: Kolonialisme di Zaman Kita" atas karya jurnalistik yang berani, teliti, dan penuh empati ini, mata rohani kita dibukakan untuk melihat realitas penderitaan yang selama ini sunyi dari perhatian publik.
Terima kasih karena telah menjadi penyambung lidah bagi masyarakat adat Papua, mendokumentasikan kearifan suku Muyu dalam mempersiapkan gerakan sosial melalui pesta adat, serta menyuarakan jeritan hati mereka yang rindu akan keadilan di atas tanah warisan Tuhan. Karya ini menjadi pengingat yang sangat berharga bagi iman dan kemanusiaan kita.
ITT - Senin, 1 Juni 2026