Dalam momen-momen paling gelap dalam sejarah kekristenan, ketika Yesus tergantung tak bernyawa di kayu salib, muncullah seorang tokoh yang selama ini memilih untuk tetap berada di balik layar. Namanya bukan Petrus, Yohanes, atau Yakobus. Ia adalah Yusuf dari Arimatea. Kisahnya memberikan pelajaran berharga tentang iman, pengorbanan, dan keberanian untuk menyatakan identitas sebagai pengikut Kristus ketika situasi menjadi tidak aman.
1. Iman yang Tersembunyi di Tengah Kekuasaan
Yusuf dari Arimatea digambarkan sebagai seorang yang kaya, terpandang, dan anggota terhormat dari Mahkamah Agama (Sanhedrin). Selama bertahun-tahun, ia adalah murid Yesus yang "diam-diam" karena takut kepada para pemimpin Yahudi lainnya. Ia hidup dalam ketegangan: di siang hari, ia adalah penasihat yang dihormati, namun di malam hari ia diam-diam mendengarkan ajaran Yesus.
Banyak dari kita mungkin merasa seperti Yusuf. Kita mengasihi Yesus, tetapi di lingkungan kerja, di meja rapat, atau dalam lingkaran pertemanan, kita memilih untuk "mengedit" Yesus dari percakapan kita karena takut akan penilaian atau kehilangan status.
Yohanes 19:38 = "Sesudah itu Yusuf dari Arimatea—ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi—meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus."
2. Titik Balik di Kaki Salib
Peristiwa penyaliban memaksa Yusuf untuk membuat pilihan. Ia melihat ketidakadilan terjadi di depan matanya sendiri dalam dewan tempat ia duduk. Ketika Yesus mati, Yusuf menyadari bahwa "nanti" mungkin tidak akan pernah datang. Jika ia tetap diam, maka diamnya adalah bentuk persetujuan atas pembunuhan itu.
Keberanian Yusuf muncul justru saat Yesus tampak paling "kalah". Ia tidak menunggu mukjizat atau kebangkitan; ia melangkah maju saat yang tersisa hanyalah tubuh yang hancur. Ia pergi menghadap Pilatus—sebuah tindakan yang sangat berisiko bagi reputasi dan nyawanya.
Markus 15:43 = "Karena itu Yusuf dari Arimatea, seorang anggota Majelis Agama yang terkemuka, yang juga menanti-nantikan Kerajaan Allah, memberanikan diri menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus."
3. Menggunakan Hak Istimewa untuk Kemuliaan Tuhan
Yusuf menggunakan posisi dan kekayaannya bukan untuk melindungi dirinya sendiri, melainkan untuk menghormati Kristus. Ia memberikan kain lenan yang bersih dan makam pribadinya yang baru dipahat untuk Yesus. Dengan melakukan ini, Yusuf secara tidak sadar menggenapi nubuat nabi Yesaya yang ditulis ratusan tahun sebelumnya.
Yesaya 53:9 = "Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya."
4. Pelajaran Bagi Kita: Apa yang Kita Lakukan dengan "Tubuh" Yesus?
Kita semua akhirnya ditantang dengan pertanyaan: Apa yang akan kita lakukan dengan Yesus ketika tidak lagi aman atau populer untuk dikaitkan dengan-Nya?. Yusuf dari Arimatea mengingatkan kita bahwa: Keberanian bukan berarti tidak ada rasa takut, tetapi memilih untuk menghormati Tuhan lebih dari sekadar menjaga reputasi.
Posisi kita adalah kesempatan. Tuhan menempatkan kita di "ruang-ruang" tertentu agar kita bisa menjadi saksi-Nya di sana.
Ketaatan di saat sulit adalah ibadah yang sejati. Mengikut Yesus saat mukjizat terjadi itu mudah, tetapi mengidentifikasi diri dengan-Nya saat Ia "terhina" adalah tanda murid sejati.
Penutup
Kisah Yusuf dari Arimatea berakhir dengan sunyi di dalam Alkitab setelah pemakaman itu. Namun, tindakannya bergema selamanya. Ia melepaskan bayang-bayang ketakutan dan melangkah ke dalam terang komitmen yang tulus. Mari kita berhenti menunggu "momen yang sempurna" untuk menyatakan iman kita.
Matius 10:32 = "Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga."
ITT - Jakarta, Minggu 9 Maret 2025