Pengantar
Sabtu kemarin ketika kami menghadiri acara kemenakan ipar kami yang dibaptis di Gereja Katolik St.Barnabas Pamulang Jakarta, di dalam gereja di belakang mimbar terpampang megah sebuah kalimat dalam bahasa latin yang berbunyi IN VERBO AUTEM TUO LAXABO RETE.
Sebuah ungkapan iman yang luar biasa dari Rasul Petrus terhadap perintah Sang Guru. Mari kita dalami.
Ketika Ketaatan Melampaui Logika Manusia
Dalam tradisi Protestan, firman Tuhan bukan sekadar teks sejarah, melainkan otoritas tertinggi (Sola Scriptura) yang menuntun hidup orang beriman. Salah satu kutipan Latin yang paling menggetarkan hati diambil dari Lukas 5:5: "In verbo autem tuo laxabo rete"—yang berarti: "Namun, karena Engkau mengatakannya, aku akan menebarkan jala juga."
Kalimat ini bukan sekadar jawaban sopan dari seorang nelayan kepada gurunya. Ini adalah titik balik di mana logika manusia yang terbatas bertemu dengan kedaulatan Allah yang tak terbatas. Baiklah kita ulas maknanya lebih dalam lagi.
1. Realita Kelelahan Manusia
Konteks ayat ini dimulai dengan kegagalan. Petrus dan teman-temannya adalah nelayan profesional. Mereka tahu persis kapan waktu terbaik untuk menangkap ikan (malam hari) dan di mana lokasi yang tepat. Namun, setelah bekerja keras sepanjang malam, hasilnya nihil.
Secara manusiawi, Petrus punya alasan kuat untuk menolak perintah Yesus. Ia lelah, ia ahli di bidangnya, sementara Yesus adalah seorang tukang kayu, bukan nelayan. Namun, di sinilah letak keunikan iman: Anugerah Allah seringkali bekerja di titik di mana usaha manusia menemui jalan buntu.
2. Otoritas Firman (In Verbo Tuo)
Petrus tidak berkata, "Karena saya rasa ini ide bagus," atau "Karena saya sedang beruntung." Ia berkata, "Namun, karena Engkau mengatakannya" (In verbo autem tuo).
Dalam pandangan Protestan, iman yang sejati lahir dari pendengaran akan Firman Kristus: "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17)
Ketaatan Petrus didasarkan pada siapa yang berbicara, bukan pada masuk akalnya perintah tersebut. Ini mengajarkan kita bahwa ketaatan Kristen bukanlah ketaatan buta, melainkan ketaatan yang berlabuh pada karakter Allah yang setia.
3. Tindakan Iman: Menebarkan Jala
Iman tanpa perbuatan adalah mati. Petrus tidak hanya percaya dalam hati; ia menurunkan jalanya (laxabo rete). Kerap kali kita berdoa meminta mukjizat, tetapi kita enggan melakukan bagian yang "merepotkan" atau yang menurut kita akan sia-sia.
Refleksi: Mengapa Kita Sering Gagal "Menangkap Ikan"?
Jika kita merefleksikan kisah ini untuk kehidupan modern, ada beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan secara jujur:
- Keangkuhan Intelektual: Terkadang kita merasa lebih tahu dari Tuhan karena gelar, pengalaman kerja, atau status sosial kita. Kita membatasi kuasa Tuhan hanya dalam ruang lingkup yang menurut kita "logis". Apakah kita berani merendahkan diri seperti Petrus dan mengakui bahwa keahlian kita tidak ada apa-apanya tanpa perkenanan-Nya?
- Ketaatan yang Bersyarat: Kita sering berkata, "Tuhan, saya akan taat jika jalannya masuk akal." Namun, mukjizat dalam Lukas 5 terjadi justru ketika perintah-Nya bertentangan dengan hukum alam perikanan saat itu (menjala di siang hari di tempat yang dalam).
- Bukan Tentang Hasil, Tapi Tentang Relasi: Fokus utama kisah ini sebenarnya bukan pada jumlah ikan yang didapat, melainkan pada pengenalan Petrus akan siapa Yesus. Perhatikan bahwa setelah tangkapan besar itu, Petrus justru tersungkur dan mengakui dosanya (Lukas 5:8). Tujuan akhir dari setiap "jala yang kita tebarkan" atas perintah Tuhan seharusnya adalah pengenalan yang lebih dalam akan kekudusan-Nya.
Kesimpulan
Menghidupi semangat "In verbo autem tuo laxabo rete" berarti berani melangkah di atas ketidakpastian dengan jaminan janji Tuhan. Seperti yang tertulis dalam Yesaya 55:11:
"Demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya."
Bagi kita yang saat ini mungkin sedang merasa lelah karena "jala" kita kosong meski sudah berjuang habis-habisan, cobalah berhenti sejenak. Dengarkan suara-Nya. Jika Ia meminta kita menebarkan jala sekali lagi di tempat yang sepertinya mustahil, beranikanlah diri untuk berkata: "Tetapi karena Engkau mengatakannya, Tuhan, aku akan melakukannya."
Sebab di balik ketaatan yang sulit, selalu ada rencana Tuhan yang melampaui segala akal.
ITT - Jakarta, Minggu 15 Maret 2026
