Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri

Thursday, August 17, 2023

Gereja yang "Overdosis" Kegiatan

Kesetiaan atau Sekadar Pelarian?

​Senin latihan paduan suara, Selasa ibadah kaum perempuan, Rabu ibadah sektor, Kamis latihan paduan suara lagi, Jumat ibadah kaum bapak dan ibadah Gerakan Pemuda, Sabtu ibadah Kaum Lanjut Usia, dan Minggu "habis" di gedung gereja (ibadah Pelayanan Anak, Persekutuan Teruna, Ibadah Hari Minggu), untuk yang memangku jabatan komisi, presbiter ada waktu tambahan, juga PHMJ! Jika jadwal ini terasa familiar bagi Anda, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: Apakah Tuhan benar-benar merancang gereja untuk menjadi kompetitor bagi waktu keluarga?


​Mari kita bedah fenomena "aktivisme religius" ini dengan kacamata kritis dan dasar Firman Tuhan.


1. Keluarga: Ladang Pelayanan yang Terlupakan


​Sering kali jemaat merasa "berdosa" jika absen dari ibadah sektor, namun merasa biasa saja ketika tidak punya waktu mengobrol dengan anak atau pasangan. Padahal, Alkitab dengan keras menekankan bahwa tanggung jawab spiritual utama dimulai dari rumah.


"Tetapi jika ada seorang yang tidak memelihara sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu telah murtad dan ia lebih buruk dari orang yang tidak percaya." – 1 Timotius 5:8


​Jika pelayanan di gereja membuat seseorang menelantarkan kebutuhan emosional dan kehadiran fisik di rumah, maka pelayanan tersebut telah kehilangan hakikatnya. Kita tidak bisa membangun "Kerajaan Allah" di gedung gereja sambil membiarkan "Gereja Kecil" (keluarga) di rumah berantakan.


2. Jebakan "Sindrom Marta": Sibuk Melayani, Lupa Mendengar


​Banyaknya jadwal ibadah sering kali menciptakan jemaat yang lelah secara fisik. Akibatnya, saat ibadah berlangsung, mereka hadir hanya sebagai rutinitas atau formalitas.


​"Tetapi Tuhan menjawabnya: 'Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya.'" – Lukas 10:41-42

Seperti Marta yang sibuk melayani sampai menggerutu, jadwal gereja yang terlalu padat bisa membuat jemaat kehilangan "bagian yang terbaik" - yaitu ketenangan untuk benar-benar merenungkan firman. Kesibukan kategorial sering kali menjadi "berhala baru" yang menjauhkan kita dari esensi hubungan pribadi dengan Tuhan.


3. Kritik Terhadap Ritual dan Kolekte


​Ada beberapa pertanyaan tajam jemaat mengenai "Apakah ini hanya soal kolekte?" Ini adalah kritik atas komodifikasi agama. Jika ibadah diadakan setiap hari tanpa ada perubahan karakter atau dampak sosial, maka ibadah tersebut terjebak dalam ritualisme kosong.


"Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu... Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir." – Amos 5:21, 24


​Tuhan tidak terkesan dengan banyaknya kotak kolekte atau frekuensi ibadah jika keadilan dan kasih di dalam rumah tangga dan masyarakat diabaikan. Gereja harus berani mengevaluasi: apakah program-program ini dibuat karena kebutuhan jemaat atau sekadar target program kerja yang ujung-ujungnya hanya soal laporan keuangan?


4. Makna Sabat: Manusia Bukan Budak Program


​Gereja sering kali lupa bahwa manusia membutuhkan istirahat. Sabat diciptakan agar manusia bisa berhenti dari pekerjaannya dan menikmati relasi dengan Sang Pencipta dan sesama.


"Lalu kata Yesus kepada mereka: 'Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.'" – Markus 2:27


​Jika jemaat menjadi "budak" dari jadwal gereja - di mana mereka merasa tertekan dan kehabisan waktu untuk beristirahat - maka gereja telah memutarbalikkan prinsip Sabat. Gereja seharusnya menjadi tempat perhentian, bukan sumber kelelahan baru yang merampas waktu istirahat jemaat bersama keluarganya.


Kesimpulan: Menuju Iman yang Sehat


​Setelah menelaah berbagai kesibukan yang ada, kita dapat menyimpulkan bahwa gereja yang sehat bukanlah gereja yang lampunya menyala 24 jam sehari untuk kegiatan organisasi, melainkan gereja yang mampu mengutus jemaatnya kembali ke rumah dan lingkungannya untuk menjadi garam dan terang bagi keluarga mereka.


​Sudah saatnya pimpinan gereja melakukan audit jadwal. Mari kita beri ruang bagi jemaat untuk kembali ke meja makan mereka sendiri – dalam budaya Timur, meja makan sering dipakai oleh orangtua dalam memberikan wejangan dan doa kepada keluarganya.


Pada akhirnya, kesaksian iman yang paling kuat bukan terjadi di atas mimbar, melainkan di dalam keharmonisan keluarga yang dibangun di atas waktu dan kasih sayang.


ITT - Jakarta, Senin 17 Agustus 2023