Masa Adven dalam Kerangka Berpikir Kritis
Namun, di balik estetika liturginya yang syahdu,
muncul sebuah pertanyaan provokatif: Apakah masa Adven ini adalah perintah
Tuhan, atau sekadar konstruksi sejarah manusia untuk menciptakan suasana
religius?
Memahami Esensi Adven
Secara etimologis, Adventus berasal dari bahasa
Latin yang berarti "Kedatangan." Masa ini dirancang sebagai periode
persiapan selama empat minggu sebelum Natal. Fokusnya ganda: merayakan
kedatangan Kristus yang pertama sebagai bayi di Betlehem, sekaligus menumbuhkan
kewaspadaan iman dalam menanti kedatangan-Nya yang kedua kali sebagai Hakim dan
Raja Semesta Alam.
Dasar Alkitabiah: Esensi vs Format
Jika kita mencari perintah spesifik di dalam Alkitab
untuk merayakan "Masa Adven" selama empat minggu, jawabannya cukup
tegas: Tidak ada. Alkitab tidak pernah menetapkan kalender khusus sebagai
prasyarat untuk menyambut kelahiran Yesus.
Meskipun demikian, para pendukung masa Adven
menggunakan beberapa fondasi teologis sebagai pembenaran:
- Penantian Mesianik: Merefleksikan kerinduan
bangsa Israel akan janji Allah di Perjanjian Lama (Yesaya 9:1-6).
- Kewaspadaan Iman: Mengikuti amanat Yesus untuk
senantiasa berjaga-jaga karena waktu kedatangan-Nya tidak dapat diprediksi
(Matius 24:42-44).
- Persiapan Jalan: Mengambil inspirasi dari seruan
Yohanes Pembaptis untuk "mempersiapkan jalan bagi Tuhan" (Matius
3:3).
Secara teologis, sikap "menanti Tuhan"
memang sangat alkitabiah. Namun, secara format ritual (warna ungu, urutan
lilin, dan durasi waktu), hal tersebut murni merupakan tradisi gerejawi yang
berkembang berabad-abad kemudian.
Kritik Tajam: Mengapa Adven Sering Dipertanyakan?
Di sinilah letak kontroversinya. Kelompok Kristen yang
memegang teguh prinsip puritan atau fundamentalis sering kali memandang Adven
dengan skeptisisme tinggi. Berikut adalah beberapa kritik tajam yang sering
dilontarkan:
- Pelanggaran terhadap Prinsip Sola Scriptura
Kritik yang
paling mendasar adalah tuduhan bahwa gereja telah "menambah-nambahi"
Firman Tuhan. Jika Alkitab tidak memerintahkannya, mengapa umat seolah
diwajibkan (secara moral maupun liturgis) untuk mengikutinya? Bagi para
kritikus, hal ini bisa terjerumus ke dalam legalisme baru, di mana seseorang
merasa lebih suci hanya karena telah menyelesaikan ritual mingguan tersebut.
- Jebakan Ritualisme Kosong
Sering kali,
simbolisme seperti lilin Hope, Peace, Joy, dan Love berhenti
hanya sebagai "estetika liturgis." Bahaya terbesarnya adalah ketika
umat terjebak pada seremoni fisik namun mengabaikan transformasi batin. Adven
berisiko menjadi sekadar rutinitas tahunan yang kehilangan daya ubahnya—kita
merayakan "bayi Yesus" yang lucu, namun mengabaikan otoritas Kristus
yang berdaulat.
- Akar Sejarah yang Dianggap Sinkretis
Beberapa
kritikus menyoroti bahwa penentuan masa Adven dan Natal dipengaruhi oleh upaya
gereja mula-mula untuk melakukan "Kristenisasi" terhadap festival
pagan Romawi. Dari sudut pandang ini, Adven dianggap sebagai produk hibrida
yang akarnya dianggap meragukan.
- Komersialisasi yang Mengaburkan Makna
Di era modern, Adven telah menjadi komoditas pasar. Munculnya "Kalender Adven" berisi kosmetik, cokelat, hingga barang mewah menunjukkan betapa tradisi spiritual ini telah dikooptasi oleh kapitalisme. Masa yang seharusnya digunakan untuk pertobatan (metanoia) justru sering kali berubah menjadi musim belanja yang konsumtif.
Penutup
Sarana atau Berhala?
Pada akhirnya, Adven hanyalah sebuah alat atau sarana. Jika ia digunakan sebagai momen introspeksi diri mengenai kesiapan kita bertemu Sang Pencipta, maka tradisi ini memiliki nilai spiritual yang mendalam.
Namun, jika Adven dirayakan hanya demi mempertahankan tradisi kuno atau memperindah dekorasi gereja tanpa adanya pertobatan yang nyata, maka jujur saja: itu hanyalah sebuah sandiwara liturgis.
Adven adalah tradisi manusia, bukan hukum Tuhan.
Keabsahannya tidak terletak pada warna lilin yang kita nyalakan, melainkan pada
kesiapan hati kita menyambut kedatangan Sang Raja.
Bagaimana pandangan Pembaca? Apakah menurut Pembaca ritual
tahunan seperti ini masih efektif untuk memelihara iman, atau sudah saatnya
gereja menanggalkan tradisi yang tidak tertulis secara eksplisit di Alkitab?
ITT - Jakarta, Kamis 30 November 2023
