Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri

Tuesday, September 17, 2024

Kis 5:1-11 : Maut di Balik Flexing Rohani

 Relevansi Kisah Ananias & Safira bagi Gereja Modern

Kisah tragis Ananias dan Safira dalam Kisah Para Rasul 5:1-11 sering kali terasa seperti anomali yang menakutkan di tengah indahnya kisah kasih gereja mula-mula. Bagaimana mungkin di era kasih karunia, sebuah kebohongan tentang uang persembahan berujung pada eksekusi mati yang instan?


​Jika kita membawa kisah ini ke abad ke-21, Ananias dan Safira mungkin adalah jemaat terpandang yang namanya sering disebut dari mimbar, atau penyumbang dana utama untuk proyek pembangunan gedung gereja. Mari kita bedah makna mendalam dari kisah ini melalui lensa realitas gereja modern.


​1. Jebakan Pencitraan dan "Flexing" Rohani


​Dalam Kisah Para Rasul 4:36-37, Barnabas menjual tanahnya dan memberikan seluruh uangnya dengan tulus. Ia dihormati oleh jemaat. Ananias dan Safira melihat hal itu dan menginginkan "tepuk tangan" yang sama, tanpa mau membayar harganya secara penuh.


​Di era media sosial saat ini, virus kemunafikan ini bermutasi menjadi flexing rohani: Seseorang mungkin menyumbang besar-besaran agar namanya diukir di plakat gereja atau diumumkan di warta jemaat. Atau, seseorang mengunggah foto-foto sedang melayani di daerah pelosok demi likes dan pujian netizen, namun di balik layar, ia menelantarkan keluarganya atau menjalankan bisnis dengan cara curang.


​Tuhan menolak keras pelayanan yang dijadikan teater untuk memuaskan ego. Firman Tuhan dalam Matius 6:1 memperingatkan dengan sangat jelas:

​"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga."


​2. Sindrom Donatur VIP (Budaya Patronase)


​Secara historis, di dunia Romawi kuno terdapat sistem patronase, di mana orang kaya (patron) mendanai komunitas untuk "membeli" status, hak istimewa, dan kekuasaan. Ananias dan Safira membawa mentalitas transaksional duniawi ini ke dalam gereja. Mereka menyerahkan sebagian uang, namun bersikap seolah-olah menyerahkan semuanya, demi mendapatkan posisi elit di mata para rasul.


​Ini terjadi ketika ada jemaat kaya yang merasa bisa "membeli" gereja. Misalnya, menyumbang AC baru, alat musik mahal, atau mobil operasional gereja, lalu merasa berhak mendikte kebijakan pendeta. Mereka bisa marah jika tidak diberikan kursi paling depan atau jika ditegur dosanya dari mimbar.


​Dalam Kisah Para Rasul 5:4, Petrus menegaskan bahwa uang itu adalah hak mereka. Masalahnya bukan nominalnya, melainkan motivasinya. Tuhan tidak butuh uang kita; Dia menghendaki hati yang rela melepaskan, bukan hati yang berinvestasi untuk mencari kuasa politik di dalam gereja.


​3. Kontroversi Keadilan: Mengapa Sekarang Koruptor Gereja Tidak Langsung Mati?


​Salah satu pertanyaan paling tajam yang sering muncul adalah: "Kalau Ananias dan Safira langsung mati karena berbohong soal persembahan, mengapa hari ini banyak oknum pemimpin atau jemaat yang memanipulasi keuangan gereja tetap hidup kaya raya dan sehat?"


​Di sinilah kita perlu memahami konsep Coram Deo - hidup di hadapan wajah Allah yang suci. Gereja mula-mula sedang berada dalam fase pembentukan pondasi. Kematian Ananias dan Safira adalah sebuah preseden (penetapan standar) dari Allah. Sama seperti peristiwa Nadab dan Abihu di Perjanjian Lama yang langsung dihukum mati saat mempersembahkan api asing (Imamat 10), Tuhan sedang menetapkan batas yang tegas: Gereja tidak boleh dibangun di atas dasar manipulasi.


​Saat ini, kita hidup di era di mana Allah menahan murka-Nya untuk memberi ruang pertobatan (panjang sabar). Namun, kesabaran Tuhan tidak boleh disalahartikan sebagai persetujuan. Keadilan Tuhan yang tertunda sama sekali bukan berarti dibatalkan.


​"Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan." — Ibrani 12:29


​Kesimpulan: Melayani di Ruang Tanpa Sorot Lampu


​Kisah Ananias dan Safira mengundang kita untuk menelanjangi motif hati kita yang terdalam. Amsal 21:2 mengingatkan, "Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati."


Mari kita mengevaluasi diri: Apakah kita tetap melayani dengan sungguh-sungguh meskipun tidak ada satu orang pun yang melihat? Apakah persembahan kita murni lahir dari rasa syukur, atau diam-diam kita berharap mendapat pengakuan dari pendeta dan jemaat lain?


Di hadapan Tuhan, topeng rohani yang paling tebal pun akan tembus pandang. Pilihlah untuk menjadi gereja yang otentik, di mana integritas bernilai jauh lebih tinggi daripada popularitas.


ITT - Selasa 17 September 2024

Saturday, August 17, 2024

Ulangan 6:4-5 - Shema Israel

Mendengar dan Mengasihi:
Bertemu Yesus Kristus dalam Esensi Shema Israel


Berikut adalah teks Shema Israel (Ulangan 6:4-5) dalam tiga bahasa: bahasa asli (Ibrani), bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia.


1. Bahasa Aslinya (Ibrani / Hebrew)

Teks Aksara Ibrani:

שְׁמַע יִשְׂרָאֵל יְהוָה אֱלֹהֵינוּ יְהוָה אֶחָד. וְאָהַבְתָּ אֵת יְהוָה אֱלֹהֶיךָ בְּכָל לְבָבְךָ וּבְכָל נַפְשְׁךָ וּבְכָל מְאֹדֶךָ.

Cara Pengucapan (Transliterasi):

Shema Yisrael, Adonai Eloheinu, Adonai Echad. Ve'ahavta et Adonai Eloheikha, be-khol levavkha, u-v'khol nafshekha, u-v'khol me'odekha.


2. Bahasa Inggris (English)

"Hear, O Israel: The LORD our God, the LORD is one. Love the LORD your God with all your heart and with all your soul and with all your strength."(New International Version)


3. Bahasa Indonesia

"Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu."(Alkitab Terjemahan Baru)


Biasanya dilantunkan dalam bentuk doa atau nyanyian sserta panggilan doa di dalam bahasa aslinya, banyak ditemukan di YouTube.


Pengantar: Mengenal Shema Israel


Bagi bangsa Israel, tidak ada untaian kalimat yang lebih suci, agung, dan mendasar daripada Shema Israel. Kata Shema sendiri diambil dari bahasa Ibrani yang berarti "Dengarlah". Doa ini bersumber dari kitab suci, utamanya diambil dari Ulangan 6:4-5, yang berbunyi: "Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu."


Secara harfiah, kata Ibrani Shema berarti: 

  • Mendengar dengan menyimak baik-baik, kemudian memberikan respons.
  • Ketaatan atau kepatuhan sebagai respon langsung dari mendengar.
  • Sikap tunduk kepada wewenang, menjalankan apa yang diperintahkan, mematuhi apa yang dituntut, dan menjauhkan diri dari yang dilarang. 
  • Tanggung jawab

Dari filosofi Shema di atas, muncul pemahaman bahwa penyembahan tertinggi kepada Allah bukanlah ketika mulut seseorang bersuara memuji-muji Tuhan, melainkan justru di dalam kediaman dengan menyimak (mendengar) serta kemudian melaksanakan suara Tuhan tersebut dengan taat, patuh, tunduk serta bertanggungjawab. 

Dalam tradisi Yahudi, Shema bukan sekadar doa biasa, melainkan sebuah proklamasi iman yang wajib diucapkan dua kali sehari, yaitu pada waktu fajar dan malam hari. Doa ini diajarkan sejak usia dini dan diucapkan sebagai kata-kata terakhir menjelang kematian. Shema menggambarkan komitmen total untuk mengakui satu-satunya Allah yang sejati dan menolak segala bentuk penyembahan berhala. Melalui pengantar ini, kita diajak untuk memahami bahwa Shema adalah pusat dari seluruh identitas spiritual umat pilihan.


Namun, sebagai umat Kristen, kita perlu melihat lebih dalam: bagaimana doa kuno ini terhubung dengan iman kita hari ini?


Jika kita menggali Alkitab dengan cermat, kita akan menemukan bahwa esensi terdalam dari Shema Israel tidak dapat dipisahkan dari pribadi dan misi Yesus Kristus. Mari kita urai bersama bagaimana Yesus Kristus tidak hanya mengutip doa ini, tetapi juga menggenapi dan mendefinisikannya ulang bagi hidup kita.


Fondasi Iman: Hukum yang Terutama bagi Yesus Kristus


Untuk memahami hubungan ini, kita harus melihat kembali momen ketika Yesus ditanya oleh seorang ahli Taurat mengenai perintah mana yang paling utama. Dalam Markus 12:29-30, Yesus menjawab dengan sangat tegas:


"Jawab Yesus: 'Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.'"


Melalui jawaban ini, Yesus menegaskan bahwa fondasi iman kita tidak pernah berubah. Beliau meletakkan Shema sebagai tiang utama dalam bangunan spiritualitas kita. Mengaku bahwa Tuhan itu esa berarti kita berkomitmen untuk menolak segala bentuk berhala modern yang mencoba menduduki takhta hati kita. Yesus mengajak kita untuk sadar bahwa pengenalan akan Allah yang benar harus membuahkan kasih yang radikal—kasih yang melibatkan seluruh keberadaan hidup kita: emosi (hati), eksistensi (jiwa), rasio (akal budi), dan tindakan nyata (kekuatan).


Pemikiran Kritis: Radikalitas Kristus dalam Mendefinisikan Kasih Total


Secara kritis, kita perlu merenungkan implikasi dari tuntutan perintah ini. Di dalam Kitab Ulangan, kasih total tanpa syarat hanya boleh diberikan kepada Allah. Namun, dalam Perjanjian Baru, Yesus membuat sebuah pernyataan yang sangat radikal mengenai diri-Nya sendiri. Dalam Matius 10:37, Yesus berkata:


"Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku."


Mari kita telaah bagian ini dengan saksama. Bagaimana mungkin seorang Guru yang hidup di tanah Israel berani menuntut kasih tertinggi yang setara dengan porsi kasih milik Tuhan di dalam Shema? Di sinilah letak kedalaman spiritualnya: Yesus tidak sedang bersaing dengan Allah Bapa. Sebaliknya, Yesus sedang menyatakan identitas ilahi-Nya yang kudus. Ketika kita mengasihi Yesus dengan segenap hidup kita, kita justru sedang menaati Shema Israel yang sejati, sebab di dalam Yesus, seluruh kepenuhan Allah dinyatakan secara nyata kepada kita.


Menggali Rahasia Keesaan: Relasi Sang Anak dan Bapa


Kalimat utama dalam Shema menegaskan bahwa Tuhan itu esa. Kata "esa" di sini merujuk pada kesatuan yang mutlak. Melalui Kristus, pemahaman kita tentang keesaan Allah diperdalam, bukan dikurangi. Yesus menyingkapkan bahwa keesaan Tuhan bukanlah sebuah kesendirian yang kaku, melainkan sebuah persekutuan kasih yang sempurna.


Di dalam Yohanes 10:30, Yesus menyatakan kesatuan-Nya yang agung:

"Aku dan Bapa adalah satu."


Yesus membawa kita pada pemikiran yang jernih bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang penuh dengan relasi kasih. Keesaan-Nya terlihat dari bagaimana Bapa dan Anak bergerak dalam satu pikiran, satu kasih, dan satu misi penyelamatan manusia. Ketika kita dipersatukan dengan Kristus melalui iman, kita pun ditarik masuk ke dalam persekutuan kasih ilahi tersebut.


Manifestasi Praktis: Mendengar yang Membuahkan Ketaatan


Dalam pemahaman aslinya, kata "dengarlah" (Shema) tidak sekadar berarti mendengarkan suara yang masuk ke telinga, melainkan sebuah tindakan mendengar yang disertai dengan kepatuhan. Sering kali kita terjebak dalam kehidupan rohani yang hanya tahu secara teori tetapi mandul dalam tindakan. Yesus menghubungkan konsep mendengar dan mengasihi ini secara langsung dengan ketaatan praktis kepada perintah-perintah-Nya.


Dalam Yohanes 14:21, Yesus menegaskan:

"Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya."


Di sini kita melihat sebuah lingkaran kasih yang utuh. Kita tidak bisa mengklaim bahwa kita menghidupi Shema (mengasihi Allah) jika kita hidup dalam ketidaktaatan kepada Kristus. Mengasihi Yesus berarti tunduk pada otoritas Firman-Nya dalam kehidupan sehari-hari.


Kesimpulan


Shema Israel bukanlah sekadar warisan sejarah masa lalu, melainkan detak jantung dari iman Kristen kita hari ini. Melalui Yesus Kristus, doa agung ini mendapatkan wujudnya yang paling sempurna. Kita melihat bahwa Yesus adalah perwujudan dari Allah yang Esa yang turun menjumpai kita, dan sekaligus menjadi objek kasih tertinggi dalam hidup kita.


Tantangan bagi kita sekarang adalah: Sudahkah hidup kita mencerminkan esensi dari perintah ini? Marilah kita belajar mendengarkan suara-Nya setiap hari, menundukkan akal budi serta kekuatan kita, dan mengasihi Yesus di atas segala-galanya. Sebab di dalam ketaatan kepada Kristus, kita sedang menggenapi hukum yang terutama dan yang paling mulia.


ITT - Sabtu, 17 Agustus 2024

Tuesday, July 2, 2024

Mendengar Suara Tuhan di Tengah Kebisingan Dunia


Pendahuluan


Di tengah deru kehidupan modern, ada satu hal yang sering kali tanpa sadar mulai hilang dari kehidupan rohani kita. Sering kali kita disibukkan oleh berbagai suara dari luar—berita, media sosial, urusan pekerjaan, hingga tuntutan sehari-hari—namun kita justru berhenti mendengarkan satu suara yang paling penting, yaitu suara Tuhan. 


Keadaan ini sangat kontras dengan apa yang dialami oleh Rasul Yohanes. Ketika ia terasing sendirian di sebuah pulau buangan bernama Patmos, tanpa adanya gedung gereja yang megah, tanpa alunan musik pujian, ataupun khotbah dari seorang pendeta, ia justru mampu mendengar suara Tuhan dengan sangat jelas dan lantang. Pengalaman rohani ini mengajak kita untuk merenungkan kembali bagaimana cara kita memandang penyembahan serta pergumulan hidup kita hari ini.


Mengubah Tempat Kesusahan Menjadi Tempat Pujian


Mari kita perhatikan latar belakang rohani yang ditulis dalam Alkitab. Dalam Wahyu 1:9, Yohanes menulis:

“Aku, Yohanes, saudaramu dan sekutumu dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, berada di pulau yang bernama Patmos oleh karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus.” 


Yohanes tidak sedang berada dalam situasi yang nyaman; ia sedang mengalami penderitaan dan diasingkan oleh penguasa Romawi karena imannya. Namun, perhatikan apa yang dilakukannya dalam situasi yang serbaterbatas tersebut. Di ayat berikutnya, Wahyu 1:10, ia menyatakan: “Pada hari Tuhan aku dikuasai oleh Roh dan aku mendengar di belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala.” 


Di sinilah logika rohani kita harus dibangun: Yohanes berhasil mengubah sebuah pulau pengasingan yang sunyi menjadi sebuah tempat pemujaan bagi Tuhan. Hal ini mengajarkan sebuah prinsip mendalam bagi kita bahwa lingkungan atau keadaan lahiriah sama sekali tidak menentukan kualitas penyembahan kita. Tempat di mana kita berada tidak pernah membatasi akses kita kepada Tuhan. Sering kali, begitu kehidupan kita terasa berat, kita cenderung berhenti menyembah dan mulai mengeluh. Namun, Yohanes memahami bahwa ibadah bukanlah sekadar tentang gedung yang kita datangi, melainkan tentang sikap hati yang selalu kita bawa ke mana pun kita pergi.


Prinsip Rohani: Pujian yang Mendatangkan Kehadiran Tuhan


Sikap rohani seperti ini bukan hanya dimiliki oleh Yohanes. Kita juga mengingat kisah Rasul Paulus dan Silas ketika mereka dipenjara di kota Filipi setelah melayani Tuhan. Punggung mereka terluka karena dicambuk, kaki mereka dipasung dalam ruang paling gelap, tetapi Alkitab mencatat tindakan mereka yang luar biasa dalam Kisah Para Rasul 16:25:

“Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.”


Seketika itu juga, gempa bumi hebat mengguncang penjara, pintu-pintu terbuka, dan belenggu mereka terlepas. Dari peristiwa ini, kita dapat melihat sebuah hukum rohani yang pasti: ketika puji-pujian kita naik kepada Tuhan, maka kehadiran Tuhan akan turun melawat kita. Hal ini dipertegas dalam Mazmur 22:4 yang menyatakan:

“Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel.” 


Tuhan tinggal dan bertakhta di dalam pujian umat-Nya. Secara logika, kita tidak akan pernah bisa merasakan kehadiran Tuhan yang penuh kuasa jika isi hati dan mulut kita hanya dipenuhi oleh keluh kesah dan sungutan. Pilihan sepenuhnya ada di tangan kita; apakah kita mau tenggelam dalam keluhan karena keadaan, atau memilih menyembah di tengah keadaan?


Memahami Logika Alkitab: Menemukan Kebenaran di Pusat Piramida


Untuk menangkap pesan Tuhan dengan lebih tajam, kita perlu memahami cara penyampaian pesan dalam Alkitab. Berbeda dengan cara berpikir modern yang umumnya menyusun penjelasan secara berurutan dan menaruh kesimpulan paling penting di bagian paling akhir, tulisan di dalam Alkitab sering kali menggunakan metode penulisan berbentuk piramida. Dalam struktur piramida ini, pesan atau kebenaran yang paling utama tidak diletakkan di akhir, melainkan diletakkan tepat di tengah-tengah (sebagai pusat), sementara bagian awal dan bagian akhir ditulis sedemikian rupa untuk saling mendukung dan mencerminkan pusat tersebut.


Sebagai contoh, kita bisa melihat dalam Amsal 6:16-19 tentang tujuh perkara yang dibenci oleh Tuhan. Jika daftar tersebut disusun berdasarkan struktur piramida ini, hal yang berada tepat di titik tengah dari susunan tersebut adalah "hati yang membuat rencana-rencana jahat." Ini menunjukkan sebuah kesimpulan kritis: pusat dari segala masalah hidup manusia sebenarnya adalah masalah hati kita sendiri. Struktur penulisan Alkitab selalu mengarahkan perhatian kita langsung pada inti kebenaran yang berada di tengah.


Suara Yesus sebagai Pusat dari Segala Kebutuhan Hidup Kita


Logika struktur piramida ini jugalah yang digunakan oleh Yohanes ketika ia menggambarkan sosok Yesus yang bangkit. Dalam Wahyu 1:12-16, Yohanes menjabarkan penglihatannya mengenai Yesus dengan tujuh ciri utama yang saling berpasangan secara simetris:


  • Rambut-Nya putih seperti bulu domba dan salju berpasangan dengan Wajah-Nya yang bersinar terik seperti matahari (menggambarkan hikmat Tuhan yang tidak terbatas).
  • Mata-Nya bagai nyala api berpasangan dengan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam (menggambarkan pandangan Tuhan yang menembus dan firman-Nya yang menyucikan).
  • Kaki-Nya mengkilap seperti tembaga murni berpasangan dengan tangan kanan-Nya memegang tujuh bintang (menggambarkan kemurnian langkah-Nya dan otoritas tangan-Nya yang memegang kendali atas jemaat).
Lalu, apa yang berada tepat di tengah-tengah susunan penglihatan ini? Kebenaran yang berada di pusatnya adalah: “Suara-Nya bagai desau air bah” (Wahyu 1:15).

Ini bukanlah sebuah kebetulan. Melalui susunan yang sangat rapi ini, Alkitab ingin menuntun pemikiran kritis kita pada satu kesimpulan mutlak: hal yang paling mendasar dan paling penting yang kita butuhkan dari Yesus dalam kehidupan ini adalah mendengar suara-Nya dengan jelas. Mendengar suara Tuhan adalah fondasi utama yang menopang seluruh disiplin rohani kita yang lain.


Tantangan Mendengarkan di Tengah Kebisingan Zaman


Alkitab mencatat kata "dengar" atau "mendengarkan" sebanyak lebih dari 700 kali, dan sebagian besar di antaranya berbentuk kalimat perintah yang mendesak. Salah satu perintah terbesar dalam Perjanjian Lama dimulai dengan kalimat dalam Ulangan 6:4:

“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!”


Dalam bahasa Alkitab, kata "mendengar" tidak sekadar berarti menangkap gelombang suara dengan telinga, melainkan mengandung arti mendalam untuk menaati dan melakukannya dengan seluruh kehidupan kita. Itulah mengapa Rasul Paulus juga menekankan dalam Roma 10:17:

“Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” 


Kehidupan rohani kita dimulai dari saat kita mau membuka telinga hati kita untuk mendengar suara-Nya.

Tragisnya, mendengarkan suara Tuhan sering kali menjadi hal yang paling diabaikan. Di dalam kitab Wahyu pasal 2 dan 3, Yesus mengulang sebuah kalimat peringatan yang sama sebanyak tujuh kali kepada tujuh jemaat yang berbeda, salah satunya dalam Wahyu 2:7:

“Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat...” 


Yesus mengulangnya berkali-kali karena situasi yang dihadapi oleh jemaat-jemaat pada masa itu sangat genting. Mereka sedang tenggelam di tengah berbagai suara yang saling berebut perhatian: suara kebudayaan dunia yang menyesatkan, suara ancaman dari penguasa yang kejam, dan tuntutan duniawi untuk menyembah berhala.


Kondisi tersebut sama persis dengan apa yang kita hadapi hari ini. Setiap hari, telinga dan pikiran kita dihujani oleh suara-suara yang mengalihkan fokus kita—suara berita yang mencemaskan, suara gaya hidup duniawi dari media sosial, hingga suara-suara negatif di dalam pikiran kita sendiri yang terus melemahkan iman. Akibatnya, suara Yesus yang tenang dan penuh kedamaian sering kali terkubur oleh kebisingan tersebut. Padahal Yesus sudah menegaskan karakteristik umat-Nya dalam Yohanes 10:27:

“Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku.” 


Pertanyaannya bagi kita, kapankah terakhir kali kita benar-benar meluangkan waktu untuk diam dan menyediakan waktu demi mendengarkan bisikan Roh Kudus?


Yesus Berdiri di Tengah-Tengah Pergumulan Kita


Ketika Yohanes melihat Yesus, di manakah posisi Yesus saat itu? Wahyu 1:13 mencatat bahwa Yesus berada “di tengah-tengah kaki dian itu.” Kaki dian tersebut melambangkan jemaat atau gereja-Nya. Ini adalah sebuah kebenaran yang sangat menguatkan hati kita: Yesus tidak berada di luar dan tidak sedang menonton dari kejauhan. Dia berada tepat di tengah-tengah umat-Nya.


Dalam pergeseran zaman sekarang ini, kita mungkin sering merasa bahwa nilai-nilai iman kita mulai tersisih ke pinggiran masyarakat. Kita mungkin merasa seperti orang asing di tengah dunia yang bergerak menjauh dari kebenaran firman Tuhan. Namun, logika rohani mengingatkan kita bahwa pusat dari segala sesuatu di alam semesta ini bukanlah pusat keuangan dunia, bukan pusat kekuasaan politik, dan bukan pula tren hiburan. Pusat dari sejarah dan keabadian adalah Yesus Kristus. Karena Dia memegang kendali penuh, berarti Dia juga ada tepat di tengah-tengah musim kehidupan, tantangan, dan badai yang sedang kita hadapi saat ini.


Rahasia yang Tersembunyi di Pusat Mazmur 23


Keindahan logika yang berpusat pada kehadiran Tuhan ini juga dapat kita temukan di dalam salah satu pasal yang paling terkenal di seluruh Alkitab, yaitu Mazmur 23. Jika kita menghitung dengan sangat teliti berdasarkan susunan kata dalam teks asli bahasa Ibrani, Mazmur 23 terdiri dari tepat 55 kata. Struktur penulisannya juga membentuk pola piramida yang sangat sempurna, dengan 26 kata di bagian awal dan 26 kata di bagian akhir.


Lalu, kalimat apakah yang berada tepat di titik tengah yang menjadi pusat dari seluruh Mazmur 23 tersebut? Kalimatnya ada di dalam Mazmur 23:4:

“...Sebab Engkau besertaku...”


Mari kita renungkan hal ini secara mendalam. Seluruh gambaran indah lainnya yang ada di dalam Mazmur tersebut—tentang padang yang berumput hijau, air yang tenang, jiwa yang disegarkan, jalan kebenaran, bahkan meja hidangan yang disediakan di depan para musuh—semuanya diatur dan bersandar pada kalimat inti yang berada di pusatnya, yaitu kenyataan bahwa Tuhan menyertai kita.


Artinya, baik ketika kita sedang berada di puncak gunung keberhasilan maupun ketika kita harus berjalan melalui lembah kekelaman yang paling menakutkan, kebenaran rohani yang paling mendasar adalah Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia tidak berada di pinggiran hidup kita; Dia ada di pusatnya.


Kesimpulan


Rasul Yohanes dapat mendengar suara Tuhan yang bagaikan desau air bah bukan karena ia berada di tempat yang ideal atau memiliki keadaan yang menyenangkan, melainkan karena ia memilih untuk memposisikan dirinya di dalam Roh dan tetap menyembah Tuhan di tengah kesukarannya.


Melalui pemahaman ini, mari kita mengoreksi diri kita masing-masing. Di manakah kita sedang mencari Tuhan hari ini? Apakah kita hanya mencari-cari Dia di pinggiran hidup kita saat kita sedang butuh, ataukah kita sudah menaruh Dia di pusat dari seluruh kehidupan kita? Tuhan tidak pernah berhenti berbicara kepada kita.

 

Tantangan yang sebenarnya adalah apakah kita mau mengambil waktu untuk diam, menyingkirkan segala kebisingan dunia, dan memasang telinga hati kita untuk sungguh-sungguh mendengarkan-Nya. Ketika kita menaikkan penyembahan kita, kehadiran-Nya akan melawat kita, dan suara-Nya akan menenggelamkan setiap suara ketakutan di dalam hati kita. Amin.


ITT - Selasa, 2 Juli 2024