Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri

Saturday, February 4, 2006

Matius 17:1-13

Yesus Dimuliakan di atas Gunung

17:1 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
17:2 Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.
17:3 Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.
17:4 Kata Petrus kepada Yesus: "Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."
17:5 Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: "Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia."
17:6 Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.
17:7 Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: "Berdirilah, jangan takut!"
17:8 Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri.
17:9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."
17:10 Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: "Kalau demikian mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?"
17:11 Jawab Yesus: "Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu
17:12 dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka."
17:13 Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis.

PERUBAHAN RUPA MELALUI DOA

"Yesus membawa Petrus, Yohanes, dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung dan berdoa. Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan" (Luk 9:28-29). Perubahan rupa adalah suatu gambaran tentang keadaan-Nya kelak dalam Kerajaan-Nya yang akan datang. Tidak pelak lagi perubahan rupa itu merupakan suatu pengalaman penuh sukacita yang memperkuat manusia Yesus menghadapi kematian-Nya yang semakin dekat. Perubahan rupa diberikan untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah Anak Allah, dan suatu jaminan atas kebangkitan-Nya dan Kerajaan-Nya yang akan datang serta membuktikan keunggulan Yesus dari Musa dan Elia, seperti ditunjukkan dalam kesaksian Petrus yang diberikan dalam 2Petrus 1:16-18.

Perubahan rupa terjadi "Ketika Ia sedang berdoa". Kita tidak tahu apa yang dikatakan-Nya dalam doa itu. Pasti doa itu adalah pujian kepada Allah atas karya keselamatan yang akan diselesaikan di kayu salib dan tentang kebangkitan.
Sementara kita mendaki bukit doa, kehidupan kita dapat diubah dan diperindah. Dari bukit itu kita memperoleh pemandangan Allah atas kehidupan dan keadaan-keadaan kita. Dari tempat tinggi yang menguntungkan itu kita dapat menilai kehidupan dan pekerjaan kita dengan tepat. Beberapa hal yang dulu kita pikir berarti, akan tampak tak berarti, dan sebaliknya. Rencana-rencana kita, pekerjaan- pekerjaan kita, kekuatiran-kekuatiran kita, kesedihan- kesedihan kita, perhatian-perhatian kita, dan kesukacitaan kita dapat dilihat dari sudut pandangan yang benar dari bukit doa itu. Kita memandang segala sesuatu dari sudut pandangan Allah.

Betapa luar biasanya hak istimewa yang diberikan kepada murid-murid ini. Mereka sungguh-sungguh melihat Yesus berubah rupa dihadapan mata mereka. Mereka melihat Yesus dalam kemanusiaan-Nya dan dalam kemuliaan surgawi-Nya. Seluruh tubuh-Nya menunjukkan kemuliaan ilahi-Nya. Mereka melihat Raja dalam kemulian-Nya dari bukit doa yang kudus itu, dari mana dengan iman, kita juga dapat melihat Dia dalam kemuliaan-Nya.

Setelah Petrus mengukakan pernyataannya yang sembrono itu (ayat 33), Allah berbicara dari surga, kata-Nya, "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia".

1. Pengalaman supranatural adalah anugerah.

Tidak semua orang mengalami pengalaman supranatural, karena pengalaman supranatural adalah anugerah. Pengalaman ini dialami oleh beberapa orang tertentu bukan berdasarkan siapakah mereka di hadapan Tuhan, namun semata-mata berdasarkan anugerah-Nya. Tuhan memiliki tujuan khusus bagi orang-orang yang mengalaminya. Ada yang mengalaminya sehingga ia percaya kepada Kristus, ada yang mengalaminya sehingga kehidupannya berubah, ada pula yang mengalaminya sehinga ia mendapatkan visi yang jelas dari Allah, ada pula yang mengalaminya sehingga mendapatkan kekuatan dalam pergumulan yang berat. Namun pengalaman supranatural bukan satu-satunya cara Allah untuk menyatakan diri kepada manusia.

Ketiga murid Yesus: Petrus, Yakobus, dan Yohanes mengalami pengalaman supranatural bukan karena mereka lebih baik dari yang lain, semata-mata karena ketiganya diperkenankan Yesus untuk menyaksikan kemuliaan-Nya. Ia mengajak mereka naik ke gunung yang tinggi, supaya pengalaman itu hanya dialami oleh mereka berempat. Di sana mereka menyaksikan kemuliaan wajah dan pakaian Yesus bagai matahari dan terang, menandakan betapa berkilaunya sehingga mereka tak sanggup menatap secara kasat mata. Di sana pun hadir Elia yang mewakili nabi dan Musa yang mewakili Taurat. Pengalaman ini membuat mereka begitu bahagia, sehingga mereka tidak mau kembali kepada realita yang penuh penderitaan (ayat 16:24), maka Petrus menawarkan 3 kemah untuk Yesus, Elia, dan Musa. Tiba-tiba awan yang terang menaungi mereka dan terdengar pernyataan Illahi tentang Yesus, Anak Allah. Puncak penyataan Illahi ini membuat ketiga murid tersungkur dan sangat ketakutan, sehingga mereka tidak sanggup lagi menyaksikan peristiwa selanjutnya.

Pengalaman supranatural bersifat sesaat dan setiap orang yang mengalaminya harus kembali kepada realita, karena pengalaman supranatural tidak bertujuan meninabobokan seseorang, tetapi memberikan dasar kebenaran bagi seseorang untuk hidup dalam realita. Pengalaman supranatutal ini pun bukan untuk dipublikasikan (ayat 9), sehingga orang yang mengalaminya tidak menjadi sombong rohani.

Renungkan: Betapa indahnya kesaksian seorang yang mengalami pengalaman supranatural, yang tidak berfokus kepada kesombongan rohaninya, tetapi kepada kemuliaan Yesus Sang Mesias.

2. Janji Tuhan

Musa, Elia dan Yesus. Dalam tradisi Perjanjian Lama, umat Tuhan percaya bahwa tokoh Musa dan Elia termasuk tokoh yang sangat penting. Musa adalah nabi yang menerima hukum Tuhan, dan Elia adalah nabi besar yang memperbarui komitmen umat pada hukum Tuhan. Setelah peristiwa pengakuan Petrus, di atas gunung Hermon, Allah menyuarakan kembali bahwa Tuhan Yesus adalah Anak-Nya yang dikasihi-Nya dan meneguhkan kepercayaan para murid. Kristen kini sebenarnya lebih beruntung dari para murid dulu. Yesus sekarang sudah kembali dalam kemuliaan-Nya. Kita mengalami kemuliaan-Nya tiap saat, asal hati kita peka dan terbuka.

Janji-Nya digenapi. Kebenaran bahwa Elia akan datang sebelum Mesias datang, sesungguhnya sudah digenapi Allah. Elia yang dimaksud bukan Elia yang sudah mati. Yohanes Pembaptislah yang dimaksud Allah sebagai pendahulu datangnya Mesias. Janji Allah pasti dan teguh! Apa yang Allah telah katakan, Ia pun akan menggenapinya. Ini sesuai dengan sifat Allah. Allah adalah setia, patut dipercaya. Kristen tidak perlu meragukan janji-janji Allah yang dinyatakan oleh-Nya di dalam Alkitab. Percaya, patuh, dan taat adalah sikap yang benar seorang anggota keluarga Allah.

Ajakan: Ajar kami untuk selalu mempercayai janji-janji-Mu

3. Bukti Kemesiasan Kristus.

Tidak mudah menjadi murid Yesus dan tidak mudah menyangkal diri untuk sepenuh hati memikul salib yang dibebankan oleh-Nya. Kadang bisa timbul keraguan, apakah kehendak-Nya memang yang benar dan yang terbaik.

Para murid baru saja menerima pelajaran keras, yaitu mengakui Yesus sebagai Mesias berarti siap menerima konsekuensi menderita demi Dia. Maka para murid memerlukan penguatan. Peristiwa Yesus dimuliakan bukan hanya penting untuk meneguhkan misi-Nya, tetapi juga untuk membuka mata rohani murid-murid-Nya bahwa Dia memang Mesias yang dipilih Allah. Apa makna Yesus dimuliakan itu?

Pertama, Yesus adalah Mesias yang sudah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Musa mewakili Hukum Taurat yang sejak awal menjanjikan seorang Nabi yang akan datang untuk mengajarkan kebenaran sejati (Lih. Ul.18:18-19). Elia mewakili para nabi yang mengarahkan hati umat Israel untuk mengantisipasi datangnya Sang Mesias (ayat 2-3). Tuhan Yesus sendiri menerangkan bahwa Yohanes berperan sebagai Nabi Elia mempersiapkan orang banyak untuk menyongsong kedatangan diri-Nya (ayat 11-13). Kedua, Allah Bapa menyatakan perkenan-Nya atas diri Yesus berupa awan hadirat dan suara restu-Nya. Bapa memerintahkan murid-murid, yang diwakili oleh ketiga murid terdekat untuk mempercayai Yesus dan pemberitaan-Nya (ayat 5).

Tanda-tanda kemuliaan Allah apakah yang boleh menguatkan gereja masa kini? Pertama, pertobatan yang terjadi ketika gereja mewartakan kebenaran Injil. Kedua, orang-orang yang percaya dan diubahkan oleh pemberitaan firman Tuhan bahwa Yesus memang satu-satunya Juruselamat manusia. Semua itu menjadi bukti bahwa apa yang dipercayai gereja adalah benar. Sekaligus menjadi penguat gereja untuk tetap setia walaupun di tengah-tengah penganiayaan.

Renungkan: Mukjizat terbesar adalah pertobatan. Itu bukti Yesus adalah Mesias.

ITT - 4 Februari 2006

Thursday, July 31, 2003

Domba yang Nakal


Ada seorang hamba Tuhan yang selain melayani sebagai pendeta dan memimpin sebuah gereja kecil di perbukitan di suatu daerah, ia juga adalah seorang gembala domba yang memiliki banyak domba peliharaan.

Dalam keseharian dia menggembalakan domba, sebagai pekerjaannya. Ia memberi mereka makan, membawa mereka ke padang rumput, dan memelihara mereka dengan penuh kasih sayang sama seperti ia memimpin gerejanya yang kecil.

Telah beberapa waktu, ia memperhatikan, bahwa dari antara kawanan dombanya yang cukup banyak itu, terdapat 3 ekor domba yang lain daripada yang lain. Ketiga ekor dombanya itu lebih lincah dan liar. Ketiga domba ini selalu memisahkan diri dari teman-temannya. Ketika domba-domba yang lain makan rumput secara berkelompok, dia akan keluar dari kelompoknya dan pergi ke tempat yang dia suka, atau ketika gembalanya sedang menggiring domba-dombanya ke padang rumput, si domba nakal akan lari sendirian ke arah yang berlawanan, jauh dari kelompoknya.

Reaksi si gembala adalah selalu mengejar domba nakal ini dan menempatkannya kembali ke kelompoknya. Dan hal ini selalu dia lakukan berulang kali dan membuat lelah si gembala. Tetapi ia dengan sabar menghadapi ketiga dombanya, hanya saja ia mulai kuatir, karena lama kelamaan, kawanan dombanya yang banyak itu mulai terpengaruh dan sering mengikuti domba-domba nakal itu. Ia semakin kesulitan menggembalakan domba-dombanya, pekerjaan ini membuat ia sangat kelelahan .....

Ketika sedang duduk memperhatikan domba-dombanya itu, iapun bertekad untuk berdoa dan meminta jalan keluar dari Tuhan, bukankah ia seorang Hamba Tuhan juga?
Malam harinya, sebelum tidur iapun berdoa;
"Tuhan,...Engkau adalah seorang Gembala yang baik,..dalam Mazmur, Daud pun mengilustrasikan Engkau sebagai Gembala yang membawa domba-domba-Mu ke padang rumput yang hijau. Daud, pada masa mudanyapun adalah seorang gembala domba dan apa yang dia ungkapkan tentang Engkau sebagai seorang Gembala, ...... aku percaya bahwa Daud pun menemukan hal-hal ini ketika dia sedang menggembalakan dombanya, lalu .... apa yang harus aku lakukan menghadapi domba yang nakal ini?"

Dengan keyakinan penuh, bahwa Tuhan akan menjawab doanya iapun pergi tidur. Setelah beberapa hari lamanya, suatu malam ia bermimpi Tuhan berbisik kepadanya ...... dan berkata; "Patahkan kakinya..."

Ia segera terbangun dan duduk termenung ...... "patahkan kakinya..?" Sungguh alangkah kejamnya ia kalau sampai melakukan ini. tetapi, ................ bukankah ia meminta jawaban dari Tuhan?, alangkah lebih kejam lagi kalau ia tidak mengindahkan jawaban Tuhan yang dimintanya. Ia resah ....... ! Hatinya berkecamuk .... antara rasa bersalah bila menyakiti domba-dombanya atau mematuhi perintah Tuhan. Lalu iapun memutuskan untuk berdoa lebih tekun supaya ia lebih peka lagi atas jawaban dan kehendak Tuhan.

Kembali ia terjaga pada suatu malam dengan mimpi yang sama. “Patahkan kakinya” dan kali ini suara itu lebih jelas lagi. Ah ... suara Tuhankah ini? Kegelisahan memenuhi hatinya, bila lelah sehabis mengusir domba-domba nakal itu, ingin sekali ia melaksanakan bisikan dalam mimpinya itu, tetapi begitu mendekati ketiga domba itu, hatinya tak tega ..... dan iapun bertekad untuk lebih sekali lagi bertekun dalam doa .....

Malam hari sehabis berdoa dan baru beberapa saat terlelap, terdengar suara yang berkata dengan tegas dan lantang ..... “Patahkan kakinya !!!”. Segera ia bangun dan bersujud minta ampun ... “Ya Bapa, ampuni aku meragukanMu .... aku akan melaksanakan hal itu, kuatkan hatiku, karena aku sayang, teramat sayang kepada domba-dombaku itu, tetapi aku percaya bahwa Tuhan maha mengetahui segala sesuatu.”

Keesokan harinya, sebelum membuka kandang dan mengeluarkan kawanan domba lainnya, ia mengambil ketiga ekor domba nakal itu. Dengan perasaan tidak tega dan kasihan, tetapi takut akan Tuhan, iapun mengangkat mereka satu-persatu dan mematahkan satu kaki mereka. Domba-domba itu menjerit keras, dan ditimpali oleh suara kawanan domba yang lain, mengiris hati si gembala. Para kawanan domba berdesakan di depan kandang mereka, dan memandang si gembala dengan heran, ... seakan mereka hendak berkata; “alangkah keji dan kejamnya gembala ini, mengapa ia mematahkan kaki teman-teman kami?”

Setelah ia mematahkan kaki ketiga domba nakal itu, iapun membalut dan merawatnya dengan obat-obatan yang dibuatnya. Setiap hari digendongnya ketiga domba nakal itu karena mereka tidak dapat berjalan. Dibuatnya gendongan dibelakangnya, sehingga ia dapat membawa mereka bertiga sekaligus, ... satu di belakang ... dan dua di kedua belah tangannya ....... Sungguh suatu pekerjaan yang berat bagi si gembala yang sudah tidak  muda lagi, ... terkadang ia hendak mengeluh atas beban barunya itu, tetapi karena kasih sayang dan kepatuhannya kepada Tuhan, ia tetap merawat mereka dengan tekun.

Ia akan meletakkan mereka dekat kakinya, dan bahkan mengambilkan rumput dan air untuk mereka ..... setiap kali domba nakal ini haus, dia akan menjilat keringat si gembala yang menggendongnya, kepalanya selalu bersandar pada dada si gembala dan menggosokkan kepalanya di bahu gembala bila sedang berjalan-jalan di padang rumput.

Setelah beberapa waktu lamanya, kakinya merekapun sembuh. Si gembala membuka balutan dan melepaskan mereka untuk bergabung dengan kawanan domba yang lain. 

Namun, hal inilah yang terjadi, ............
Kemanapun gembala itu berjalan, ketiga ekor domba itu selalu berada di dekatnya. Bahkan mereka akan merapatkan diri kepada si gembala, dan menjilat-jilat keringatnya ... ketika saat ia beristirahat. Mereka tidak lagi nakal dan liar, sikap mereka itu diikuti oleh kawanan yang lain, dan si gembala tidak lagi kelelahan setiap kali memburu dan mengumpulkan dombanya.

Pada saat teduh dan berdoa, ia berterimakasih atas petunjuk Tuhan dan seakan terdengar suara Tuhan berkata;
"Itulah yang tidak dimengerti oleh umat-Ku,...ketika Aku membiarkan mereka berbeban berat atau terluka atau Aku ijinkan sesuatu menimpa mereka,...itu adalah untuk membawa mereka mendekat kepada-Ku. 
Aku melakukan itu untuk membuat mereka mengerti betapa  berharganya mereka di hati-Ku,... betapa Aku ingin mereka hidup bergantung hanya pada-Ku, dekat dan intim dengan-Ku. Tetapi, seringkali  mereka semakin menjauh ketika hal-hal itu terjadi...."

Gembala itu akhirnya mengerti, mengapa Tuhan menyuruh dia mematahkan kaki domba nakal itu, yaitu untuk menyatakan isi hati-Nya, betapa manusia berharga di hati-Nya dan mengajar dia tentang kerinduan Allah untuk hidup intim dengan umat-Nya, namun banyak orang yang tidak menyadari hal itu.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. 
Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu.” ................. (Yeremia 29:11-14)

ITT - Makassar, 31 Juli 2003

Tuesday, April 10, 2001

3 Hari 3 Malam

Sejak masih SD, pertanyaan yang selalu kami tanyakan ke orang tua kami adalah; Bagaimana Kita Menghitung Tiga Hari Tiga Malam pada kematian dan kebangkitan Yesus Kristus?

Akhirnya setelah cukup umur dan dewasa kami coba tuntaskan pertanyaan tersebut dengan mencari jawaban lebih dalam atas tanda tanya besar tersebut. Sebagai patokan awal, bangsa Yahudi menghitung hari dengan pola 24 jam (1 malam dan 1 siang) dari jam 18:00 ke 18:00 hari berikutnya (Kej 1:5) - berbeda dengan yang kita kenal sekarang, yang kita serap dari budaya barat/Roma).

Yesus Kristus berkata bahwa Ia akan berada di dalam kubur selama tiga hari tiga malam. Namun, bagaimana Kita bisa membedakannya dari Jumat Agung sore hingga Minggu Paskah pagi?

Kita mungkin berpikir bahwa kebanyakan orang dapat menghitung sampai tiga tanpa masalah. Namun, tampaknya itu kurang tepat jika menyangkut lamanya waktu yang Yesus Kristus katakan bahwa Ia akan berada di dalam kubur. Apakah Ia benar-benar bermaksud "tiga hari tiga malam," atau mungkinkah Ia hanya bermaksud bagian dari tiga hari dan bagian dari tiga malam?

Kekristenan arus utama merayakan kematian Kristus dan kebangkitan berikutnya pada Jumat Agung dan Minggu Paskah, dan gereja-gereja Kristen di seluruh dunia menarik banyak orang untuk kebaktian mereka pada dua kesempatan ini.

Namun, bagi mereka yang mempercayai Alkitab sebagaimana adanya, sangat sulit (bahkan mustahil) untuk mendapatkan tiga hari tiga malam - atau bahkan bagian dari tiga hari tiga malam - antara matahari terbenam pada hari Jumat dan matahari terbit pada hari Minggu.

Jadi, apa kebenarannya? Apa yang sebenarnya Alkitab katakan kepada kita?

Matius 12:39-40 adalah kuncinya; 12:39 Tetapi jawab-Nya kepada mereka: "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. 12:40 Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.

Hitungan yang tidak (mungkin) pas!

Sebelum meneliti ayat-ayat ini, mari kita tentukan terlebih dahulu apakah mungkin untuk menghitung tiga hari tiga malam antara Jumat sore dan Minggu pagi (“ketika hari masih gelap,” Yohanes 20:1). Mari kita hitung bersama: Jumat malam adalah malam pertama; Sabtu adalah hari pertama; dan Sabtu malam adalah malam kedua. Tetapi hanya itu! Totalnya ada dua malam dan satu hari!

Tidak mungkin menghitung tiga hari tiga malam antara matahari terbenam pada hari Jumat dan matahari terbit pada hari Minggu!

Apakah mungkin menghitung bagian dari tiga hari dan bagian dari tiga malam antara hari Jumat dan Minggu? Untuk melakukannya, Kita harus mempertimbangkan bahwa waktu yang singkat pada Jumat sore adalah bagian dari satu hari; Jumat malam adalah satu malam penuh; Sabtu adalah satu hari penuh; Sabtu malam adalah satu malam penuh; dan kemudian entah bagaimana Minggu pagi adalah bagian dari satu hari (meskipun Yohanes mengatakan para wanita pergi ke makam dan mendapati makam itu kosong "ketika hari masih gelap"). Bahkan hitungan ini akan memberi kita hanya bagian dari tiga hari (Jumat, Sabtu, dan Minggu) tetapi hanya dua malam (Jumat dan Sabtu).

Kebenarannya mulai terungkap: tidak mungkin menghitung tiga hari dan tiga malam dari Jumat sore hingga Minggu pagi dan sama mustahilnya menghitung bagian dari tiga hari dan bagian dari tiga malam.

Jika memang Kitab Suci harus dipercaya, maka tidak ada kemungkinan penyaliban pada hari Jumat dan kebangkitan pada Minggu pagi.

Percaya (hanya) pada Kristus

Ajaran arus utama Kekristenan saat ini bahwa Kristus disalibkan pada hari Jumat dan dibangkitkan pada Minggu pagi adalah tidak tepat dan bahkan bertentangan dengan Alkitab. Penting bagi kita untuk menerima pernyataan yang jelas dari Kitab Suci dan membangun kepercayaan kita di atasnya dan tidak menerima sesuatu yang lebih mudah. Kita percaya pada perkataan Kristus; bahwa Ia akan berada di dalam kubur selama tiga hari tiga malam.

Menurut hemat kami, frasa yang digunakan dalam Matius 12 secara harfiah berarti tiga hari tiga malam dan bukan ungkapan yang dapat ditafsirkan, karena kalau jumlah malam disebutkan mengikuti jumlah hari, maka itu bukan lagi ungkapan melainkan pernyataan akan fakta yang akan terjadi!

Pada hari apakah Kristus disalibkan?

Jika Kristus tidak disalibkan pada hari Jumat, pada hari apakah Ia disalibkan? Dalam Matius 26:19-21 dan 27:33-35 kita menemukan bahwa Ia disalibkan di suatu tempat bernama Golgota pada hari Paskah, tanggal 14 bulan pertama kalender Ibrani (Imamat 23:5).

Kebenarannya menjadi jelas: tidak mungkin menghitung tiga hari dan tiga malam dari Jumat sore hingga Minggu pagi dan sama mustahilnya menghitung bagian dari tiga hari dan bagian dari tiga malam. Menurut catatan Yohanes, banyak orang Yahudi makan makanan Paskah mereka pada malam setelah kematian Yesus Kristus (Yohanes 18:28), yang akan menjadi awal tanggal 15 Nisan karena, bagi orang Yahudi, setiap hari dimulai saat matahari terbenam. Beberapa orang berpendapat bahwa Kristus makan makanan "pra-Paskah" dan bukan Paskah yang sebenarnya pada malam sebelum Dia mati. Tetapi apa yang sebenarnya dikatakan Kitab Suci?

Kita memiliki sembilan ayat yang menggambarkan makanan yang dimakan oleh Kristus dan murid-murid-Nya sebagai Paskah. Ada tiga ayat dalam Matius, tiga dalam Markus dan tiga dalam Lukas (Matius 26:17-19; Markus 14:12, 14, 16; Lukas 22:8, 11, 15). Berdasarkan bukti ini, kita dapat yakin bahwa Yesus dan murid-murid-Nya makan perjamuan Paskah pada malam sebelum kematian-Nya, yang menurut Kitab Suci, adalah malam tanggal 14 Nisan.

Tahun berapa?

Untuk menentukan hari dalam seminggu, kita harus mengajukan pertanyaan lain. Pada tahun berapa peristiwa ini terjadi? Tahun yang paling umum diterima untuk penyaliban adalah tahun 33 M, tetapi tampaknya sudah terlambat berdasarkan bukti internal.

Ada beberapa penanda dalam Kitab Suci yang dapat digunakan untuk menentukan tahun yang berbeda:

  1. Nubuat 70 minggu dalam Kitab Daniel,
  2. Jabatan gubernur Pilatus,
  3. Kematian Herodes,
  4. Sensus selama pemerintahan Kaisar Agustus, dan
  5. Jumlah Paskah selama pelayanan Kristus yang dicatat dalam Kitab Suci.

Pencatatan Paskah selama pelayanan-Nya memberikan bukti pelayanan selama 3.5 tahun yang dimulai pada musim gugur tahun 27 M, ketika Kristus berusia sekitar 30 tahun, dan berlanjut hingga empat Paskah (28, 29, 30, dan 31 M). Berdasarkan bukti ini, kami percaya tanggal yang lebih baik untuk kematian Kristus adalah tahun 31 M.

Dengan bantuan kalender Ibrani, kita dapat menghitung bahwa Paskah pada tahun 31 M jatuh pada hari Rabu.

Peristiwa seputar kematian dan penguburan Kristus

Berikut ini adalah apa yang kita ketahui dari Kitab Suci tentang peristiwa pada hari Rabu itu. Yesus Kristus disalibkan sekitar pukul 9 pagi (Markus 15:25). Pada siang hari, dimulailah tiga jam kegelapan (Markus 15:33). Kristus mati di akhir kegelapan, sekitar pukul 3 sore (Markus 15:34). Yusuf dari Arimatea datang kepada Pilatus untuk mencari jenazah Kristus (Yohanes 19:38). Dengan persetujuan Pilatus, Yusuf bergegas membawa jenazah ke sebuah makam di dekatnya tepat sebelum matahari terbenam atau sekitar pukul 6 sore.

Malam itu adalah awal dari Sabat, tetapi itu bukanlah Sabat mingguan. Itu adalah hari besar, hari pertama Roti Tidak Beragi (Yohanes 19:31 = 19:31 Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib -- sebab Sabat itu adalah hari yang besar -- maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan). Semua ini terjadi begitu cepat sehingga para wanita tidak punya waktu untuk mempersiapkan jenazah dengan benar. Semua orang beristirahat pada hari suci (Sabat), tidak menyisakan waktu bagi para wanita untuk membeli dan menyiapkan rempah-rempah sampai setelah Sabat berlalu.

Para wanita dapat membeli dan menyiapkan rempah-rempah pada hari Jumat, sehari setelah Sabat pertama (hari raya). Setelah membeli dan menyiapkan rempah-rempah, tidak ada cukup waktu tersisa pada hari itu untuk pergi ke makam untuk mengurapi jenazah sebelum Sabat kedua (Sabat mingguan/hari Sabtu) memulai hari istirahat lainnya saat matahari terbenam (Lukas 23:55-56 = 23:55 Dan perempuan-perempuan yang datang bersama-sama dengan Yesus dari Galilea, ikut serta dan mereka melihat kubur itu dan bagaimana mayat-Nya dibaringkan. 23:56a Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. 23:56b Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat). – Perhatikan bahwa Sabat tidak selamanya jatuh pada hari Sabtu, di bacaan ini, hari ke-7 dihitung dari awal perayaan roti tidak beragi (Ulangan 16:8 Enam hari lamanya engkau harus makan roti yang tidak beragi dan pada hari yang ketujuh harus ada perkumpulan raya bagi TUHAN, Allahmu; maka janganlah engkau melakukan pekerjaan.) - tidak melakukan pekerjaan = istirahat = sabat. "Sabat" (shabbat) berasal dari kata Ibrani שַׁבָּת (shavat), yang berarti "berhenti" atau "beristirahat".

Jadi, setelah Sabat kedua dalam minggu itu, dan pagi-pagi sekali pada hari pertama minggu itu (sebelum matahari terbit), mereka pergi ke makam dengan membawa rempah-rempah. Namun ketika mereka tiba, jenazah itu sudah tidak ada (Lukas 24:1-3). Yesus Kristus telah dibangkitkan tepat seperti yang Dia katakan, setelah 72 jam di dalam makam, pada Sabtu sore.

Apakah ada masalah tentang istilah?

Namun bagaimana dengan kitab suci yang berbicara tentang "setelah tiga hari," "hari ketiga" dan "dalam tiga hari"? Apakah mereka bertentangan dengan periode "tiga hari tiga malam"?

"Setelah tiga hari" ditemukan dalam Matius 27:63. Jika Kristus dibangkitkan sebelum matahari terbenam pada hari Sabtu dan tepat 72 jam setelah tubuh-Nya dimasukkan ke dalam kubur pada hari Rabu, maka itu adalah "setelah tiga hari." Pemakaman pukul 6 sore pada hari Rabu dan kebangkitan pukul 6 sore pada hari Sabtu memenuhi pernyataan "setelah tiga hari." "Hari ketiga" digunakan dalam Matius 16:21. Jika Kristus dikuburkan saat matahari terbenam pada hari Rabu, maka Sabtu akan menjadi hari ketiga (Kamis adalah hari pertama, lalu Jumat, lalu Sabtu). Istilah ini tidak menimbulkan masalah karena Sabtu jelas memenuhi syarat sebagai "hari ketiga." "Dalam tiga hari" ditemukan dalam Matius 26:61. Hal yang sama berlaku di sini. Kebangkitan pukul 6 sore pada hari Sabtu adalah "dalam tiga hari" atau "dalam waktu tiga hari" (Markus 14:58). Mengapa kebanyakan orang merayakan Jumat Agung dan Minggu Paskah? Jelas dari Kitab Suci bahwa Yesus Kristus tidak disalibkan pada hari Jumat atau dibangkitkan pada Minggu pagi. Dia disalibkan pada hari Rabu sore, dikuburkan sekitar pukul 6 sore, dan dibangkitkan 72 jam kemudian, sekitar pukul 6 sore pada hari Sabtu. Dan kalau kita kembali ke Alkitab, jelaslah perkataan Yesus Kristus harus jadi pegangan; (Matius 12:40b: demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.) – perhatikan istilah “akan tinggal di dalam rahim bumi!”)

Jadi mengapa agama Kristen arus utama bersikeras pada penyaliban hari Jumat dan kebangkitan hari Minggu? Bagi sebagian besar orang Kristen, ini adalah "bukti" utama bahwa hari Minggu adalah hari yang tepat untuk beribadah. Alasannya adalah jika Kristus dibangkitkan pada hari Minggu, ada pembenaran untuk beribadah pada hari Minggu, alih-alih hari ketujuh dalam seminggu yang diperintahkan Tuhan dalam Alkitab di PL.

Sebagai orang Kristen, adalah tanggung jawab kita untuk menerima Kitab Suci sebagaimana adanya dan bukan apa yang kita inginkan. Yesus Kristus hanya memberikan satu tanda bahwa Ia adalah Mesias—Ia akan berada di dalam kubur selama tiga hari tiga malam. Jika Ia tidak berada di dalam kubur, maka, menurut perkataan-Nya sendiri, Ia harus ditolak sebagai Juruselamat kita.

Tetapi Ia berada di dalam kubur selama tiga hari tiga malam! Tanda itu terpenuhi persis seperti yang Ia katakan. Ia adalah Juruselamat kita!

Akhirnya .... Bagaimana Kita menghitung tiga hari tiga malam? Jawabnya sederhana; Ikuti Alkitab!


Perhatikan clue/petunjuk Alkitab

Catatan penulis: Apakah perlu dipertentangkan? Agaknya kurang bijak menentang arus utama, dan terperangkap ke benar & salah. Tetapi hendaknya ini menjadi pengetahuan tentang wafat dan kebangkitan Yesus Kristus dan membuat kita selalu ingin menelaah Alkitab yang mempunyai 1001 makna yang masih tersimpan serta perlu kita gali terus dan bukan hanya sekedar dibaca.

ITT – Makassar, Selasa 10 April 2001

Tulisan ini adalah Draft Pribadi yang jadi bagian dan akan dimasukkan dalam penelitian bersama rekan-rekan dari berbagai denominasi.