Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri

Friday, March 27, 2009

Kisah Para Rasul 23:1-11


Paulus Di hadapan Mahkamah Agama

23:1 Sambil menatap anggota-anggota Mahkamah Agama, Paulus berkata: "Hai saudara-saudaraku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah."
23:2 Tetapi Imam Besar Ananias menyuruh orang-orang yang berdiri dekat Paulus menampar mulut Paulus.
23:3 Membalas itu Paulus berkata kepadanya: "Allah akan menampar engkau, hai tembok yang dikapur putih-putih! Engkau duduk di sini untuk menghakimi aku menurut hukum Taurat, namun engkau melanggar hukum Taurat oleh perintahmu untuk menampar aku."
23:4 Dan orang-orang yang hadir di situ berkata: "Engkau mengejek Imam Besar Allah?"
23:5 Jawab Paulus: "Hai saudara-saudara, aku tidak tahu, bahwa ia adalah Imam Besar. Memang ada tertulis: Janganlah engkau berkata jahat tentang seorang pemimpin bangsamu!"
23:6 Dan karena ia tahu, bahwa sebagian dari mereka itu termasuk golongan orang Saduki dan sebagian termasuk golongan orang Farisi, ia berseru dalam Mahkamah Agama itu, katanya: "Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati."
23:7 Ketika ia berkata demikian, timbullah perpecahan antara orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki dan terbagi-bagilah orang banyak itu.
23:8 Sebab orang-orang Saduki mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada malaikat atau roh, tetapi orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya.
23:9 Maka terjadilah keributan besar. Beberapa ahli Taurat dari golongan Farisi tampil ke depan dan membantah dengan keras, katanya: "Kami sama sekali tidak menemukan sesuatu yang salah pada orang ini! Barangkali ada roh atau malaikat yang telah berbicara kepadanya."
23:10 Maka terjadilah perpecahan besar, sehingga kepala pasukan takut, kalau-kalau mereka akan mengoyak-ngoyak Paulus. Karena itu ia memerintahkan pasukan untuk turun ke bawah dan mengambil Paulus dari tengah-tengah mereka dan membawanya ke markas.
23:11 Pada malam berikutnya Tuhan datang berdiri di sisinya dan berkata kepadanya: "Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma."


Sanhedrin
san’-he-drin (canhedhrin, the Talmudic transcription of the Greek sunedrion):

The Sanhedrin was, at and before the time of Christ, the name for the highest Jewish tribunal, of 71 members, in Jerusalem, and also for the lower tribunals, of 23 members, It is derived from sun, "together," and hedra, "seat." In Greek and Roman literature the senates of Sparta, Carthage, and even Rome, are so called.

Bilangan 11:16 Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Kumpulkanlah di hadapan-Ku dari antara para tua-tua Israel tujuh puluh orang, yang kauketahui menjadi tua-tua bangsa dan pengatur pasukannya, kemudian bawalah mereka ke Kemah Pertemuan, supaya mereka berdiri di sana bersama-sama dengan engkau. – s/d ayat 24

Paulus di hadapan Mahkamah Agama (23:1-10).

A) 23:1-5:

1) ‘Hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah’ (23:1).

Artinya: Paulus selalu hidup sesuai dengan apa yang ia anggap benar, atau sesuai dengan apa yang ia anggap adalah kehendak Tuhan. Hal seperti ini sebetulnya harus ada dalam diri setiap orang kristen. Apakah kita hidup seperti itu?
Tetapi kalau hal itu tidak disertai dengan pengetahuan yang benar tentang kebenaran/kehendak Allah, maka akan menyebabkan kita justru melakukan hal-hal yang jahat (bdk. Yoh 16:2).
Karena itu, kita harus belajar Firman Tuhan dengan tekun!

2) Imam besar menyuruh orang menampar Paulus sehingga menghentikan pembelaan/penjelasan Paulus (23:2).

Penerapan:
Kalau kita sedang marah kepada istri/anak/pegawai/pembantu dsb, dan mereka berusaha memberikan penjelasan/pembelaan diri, pernahkah kita lalu justru jadi tambah marah sehingga lalu membentak mereka/menggebrak meja dsb dan dengan itu menghentikan penjelasan/pembelaan mereka? Ingatlah bahwa menghentikan pembelaan/penjelasan dari orang yang kita tuduh, adalah sesuatu yang salah karena justru akan menyebabkan kita tidak bisa mengetahui kebenaran.

3) 23:3 - “Membalas itu Paulus berkata kepadanya: ‘Allah akan menampar engkau, hai tembok yang dikapur putih-putih! Engkau duduk di sini untuk menghakimi aku menurut hukum Taurat, namun engkau melanggar hukum Taurat oleh perintahmu untuk menampar aku’”.
a) ‘Allah akan menampar engkau’.
sekalipun saat itu Allah tidak melakukan sesuatu apapun, tetapi Paulus tetap yakin akan keadilan Allah, yang pasti akan menghukum orang yang bersalah.
ada penafsir-penafsir yang menganggap bahwa kata-kata Paulus ini adalah suatu nubuat. Dan apa yang Paulus katakan itu memang terjadi. Fakta sejarah mengatakan bahwa 5 tahun setelah itu imam besar Ananias mati dibunuh.
b) ‘tembok yang dikapur putih-putih’.
Kata-kata Yesus tentang orang Farisi dan ahli Taurat dalam Mat 23:27 lebih keras lagi dari kata-kata Paulus ini, karena Yesus mengatakan bahwa mereka seperti ‘kuburan yang dilabur putih’. Tetapi arti kedua kata-kata ini adalah sama, yaitu menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang munafik, yang selalu berusaha supaya diri mereka kelihatan bagus dari luarnya saja.

Penerapan:
Janganlah hanya berusaha supaya diri kita terlihat bagus dari luar, tetapi berusahalah untuk bisa bagus dari luar dan dalam!

d) Kata-kata Paulus dalam 23:3b itu memang benar.
Dengan menyuruh orang untuk menampar Paulus yang sedang memberikan pembelaan, maka Ananias memang melanggar hukum Taurat seperti Ul 16:18-20 17:4 dsb. Ananias sedang mengadili berdasarkan Taurat, tetapi ia sendiri melanggar Taurat. Ini sikap yang tidak konsekwen!

Penerapan:
Seringkah kita bersikap tidak konsekwen? Misalnya: kita memberikan peraturan di rumah/kantor kita, tetapi kita sendiri tidak mempedulikan peraturan itu.

4) 23:4 - “Dan orang-orang yang hadir di situ berkata: ‘Engkau mengejek Imam Besar Allah?’”.
Ini adalah kecaman yang salah karena tidak fair/tidak adil. Mengapa mereka tidak mengecam imam besar Ananias yang menyuruh orang untuk menampar Paulus?

Kalau si A memukul si B, dan si B lalu membalas, maka adalah tidak adil kalau kita hanya menegur si B (kecuali kalau kita tidak kenal si A). Tetapi hal seperti ini sering terjadi! Kalau orang tua melakukan hal yang salah kepada orang muda, dan orang muda itu lalu memberikan reaksi yang terlalu keras, maka kita seringkali hanya menegur orang mudanya, tetapi membiarkan orang tuanya! Kalau Pendeta/Majelis melakukan hal yang salah se hingga jemaat menyerangnya, maka seringkali kita menegur jemaatnya, tetapi membiarkan kesalahan dari pendeta/mejelis itu! Ini semua adalah sikap yang tidak fair/tidak adil!

5) 23:5 - “Jawab Paulus: ‘Hai saudara -saudara aku tidak tahu, bahwa ia adalah Imam Besar. Memang ada tertulis: Janganlah engkau berkata jahat tentang seorang pemimpin bangsamu!’”.


B) 23:6-10:
1) Doktrin orang Saduki bertentangan dengan orang Farisi (23:8).

Farisi: Suatu golongan dari para _rabi_ dan_ ahli Taurat_ yang sangat berpengaruh. Mereka berpegang pada _Taurat_ Musa dan pada "adat istiadat nenek moyang". Seluruh hukum dan peraturan mereka taati secara mutlak.

Saduki: Suatu golongan pemimpin agama Yahudi, yang sebagian besar terdiri dari imam-imam. Mereka mendasarkan pengajarannya pada kelima kitab Musa dan menolak segala adat istiadat yang ditambahkan kemudian. Mereka tidak percaya kepada kebangkitan dan adanya malaikat. Terhadap kebudayaan Yunani golongan ini sangat terbuka.

a) Orang Saduki tidak percaya pada kebangkitan, maupun pada malaikat/roh. Mereka percaya bahwa pahala maupun hukuman diterima manusia dalam hidup ini.
Betul-betul ajaib bahwa orang-orang sesat seperti ini bisa menjadi anggota-anggota mahkamah Agama! Tetapi ini menunjuk­kan bahwa kita tidak perlu terlalu heran kalau pada jaman ini ada pendeta, komisi theologia, sinode dari suatu gereja yang terdiri dari orang-orang yang sesat!

b) Dalam pertentangan ini jelas bahwa orang Farisilah yang benar (bdk. Mat 22:23-33). Tetapi mereka hanya benar secara intelek tual, dan merekapun sebenarnya termasuk orang-orang sesat, karena mereka menolak Yesus sebagai Mesias, Juruselamat, dan Tuhan.

Penerapan:
Hati-hati dengan orang yang hanya mempunyai pengertian intelektual yang benar, tetapi sebetulnya tetap sesat! Kelihatannya mereka pro kita tetapi kita harus tetap waspada karena mereka tetap sesat!

2) Paulus tahu akan pertentangan itu dan ia menggunakan hal itu (23:6), sehingga menimbulkan perpecahan di antara kedua golongan itu (23:7,9,10a), dimana orang-orang Farisi itu lalu memihak Paulus (23:9).

Perpecahan mudah terjadi kalau doktrin berbeda/bertentangan. Karena itu, untuk menghindari perpecahan maka:
- kita harus mengusahakan kesatuan doktrin dan ini hanya bisa tercapai kalau:
- Seluruh jemaat mengikuti Kebaktian maupun Pemahaman Alkitab dengan setia dan rajin. Orang yang tidak hadir dalam Kebaktian/Pemahaman Alkitab, akan mempunyai kekurangan dalam pengertian, dan ini tetap akan menimbulkan perbedaan/pertentangan doktrin! Karena itu rajinlah menghadiri baik Kebaktian maupun Pemahaman Alkitab!
- kita harus bisa membedakan antara perbedaan/pertentangan yang bersifat prinsip dan yang remeh. Kalau itu bersifat prinsip, maka itu patut dipertengkarkan, tetapi kalau itu remeh, harus bisa ditoleransi!

3) Kepala pasukan lalu menyelamatkan Paulus dari kekacauan itu (23:10).
Tuhan berfirman kepada Paulus (23:11).
Orang yang terus menerus mengalami problem, kesukaran dan penderi taan, bisa saja lalu kehilangan sukacita, semangat dan bahkan merasa Tuhan tidak menyertainya. Mungkin sekali itulah yang dialami oleh Paulus saat itu sehingga Tuhan lalu memberikan Firman kepadanya untuk menguatkannya.

Dalam 23:11 ini Tuhan secara nyata menunjukkan bahwa Ia tetap menyertai Paulus.
Tetapi, sebetulnya, baik pada waktu ada di markas, maupun pada waktu ada di hadapan Mahkamah Agama, sekalipun Tuhan tidak menampak kan diri atau berfirman kepada Paulus, jelas bahwa Tuhan tetap beserta dengan Paulus karena Tuhanlah yang mengatur sehingga Paulus lolos.

Kesimpulan:

”Dalam Kesulitan Ada Penyertaan Tuhan”.

Dalam kehidupan sehari-hari acap kali kita berhadapan dengan kesulitan. Terlebih lagi bila kita memasyhurkan berita Injil keselamatan. Karena kehidupan orang Kristen adalah unik, ia merupakan perpaduan antara dimensi rohani dan duniawi, juga keberadaan kita adalah menyaksikan kuasa Injil, maka tidak heran kalau kita akan banyak menghadapi kesulitan.

Kejadian yang menimpa Paulus dapat kita jadikan sebagai bahan kajian.

(I). Dalam kesulitan maka penyertaan Tuhan akan memberi kita kekuatan dan keberanian.
Pada saat Paulus di Mahkamah Agama, Paulus seorang diri. Namun dalam kenyataan Tuhan menyertai dia. Oleh sebab itu dalam kesulitan yang ia hadapi kita menyaksikan keberanian dan kekuatan yang luar biasa. Hal ini disebabkan karena anugerah Tuhan kepada dia. Kita diingatkan oleh kejadian yang menimpa Daniel. Karena kesetiaannya kepada Tuhan Daniel dilempar ke dalam perapian yang menyala-nyala (Daniel 3).
Satu kali lagi ia di lempar ke dalam gua singa (Daniel 6). Demikian juga dengan Paulus di tengah kesulitan dan ancaman ia tetap tegar, kuat dan berani “Sambil menatap anggota-anggota Mahkamah Agama, Paulus berkata:’ Hai saudara-saudara-ku, sampai kepada hari ini aku tetap hidup dengan hati nurani yang murni dihadapan Allah.” (Kis23:1).

(II). Dalam kesulitan maka penyertaan Tuhan akan memberi kita hikmat.
Apa yang diucapkan oleh Paulus di tengah persidangan Mahkamah Agama yang mengadili dia menunjuk pada satu fakta kalau penyertaan Tuhan akan memberi kita hikmah ditengah kekritisan.. Apa yang dilakukan oleh Paulus waktu itu ialah mencari titik terobosan dengan cara melemahkan pihak yang menentangnya. “Dan karena ia tahu, bahwa sebagian dari mereka itu termasuk golongan orang Saduki dan sebagian termasuk golongan orang Farisi, ia berseru:’Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi…” (23:6).

Adakalanya ketika kita menghadapi kesulitan maka penyertaan Tuhan memberi kita hikmat untuk menanggulangi kesulitan. Lukas 21: 14-15. – (21:12 Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. 21:13 Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. 21:14 Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. 21:15 Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu.)

(III). Dalam kesulitan, Tuhan menyatakan kesetiaannya.
Janji imanuel-Tuhan beserta kita menyatakan kasih, karunia dan kesetiaan Tuhan terhadap anak-anaknya yang mentaati Dia dalam menjalankan amanat agung. Dalam Kitab Kisah Para Rasul beberapa kali mencatat Tuhan menyertai serta memberi penghiburan dan kekuatan kepada Paulus yang memasyhurkan Injil Tuhan. 23:11 Kis. 18:9. – (18:9 Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: "Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam!).

Inilah yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus Kristus kepada kita apabila kita memberitakan Injil maka Ia akan menyertai kita hingga akhir zaman.

Dari semua ini bisalah disimpulkan bahwa pada saat dimana penyertaan Tuhan itu tidak nyata atau bahkan sama sekali tidak terlihat, Tuhan tetap beserta dengan Paulus.

Ini bukan hanya berlaku untuk Paulus, tetapi juga untuk kita! Karena itu, baik dalam keadaan dimana penyertaan Tuhan tampak jelas atau tidak tampak sama sekali, percayalah bahwa Tuhan tetap menyertai/melindungi kita! Amin

ITT

Tuesday, March 17, 2009

Matius 17:9


17:9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."

Menjaga Rahasia Tuhan

Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: "Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati."

Ada satu konsep di alkitab yang mungkin membingungkan banyak orang, yaitu tentang merahasiakan hal-hal spiritual. Terdapat beberapa bukti dalam alkitab saat Yesus memerintahkan para saksi untuk tidak memberitakan kebesaranNya. Kadangkala itu berarti tidak menyatakan penyembuhan fisik yang dilakukanNya dalam setiap kejadian ini, orang yang disembuhkan diperintahkan untuk tidak memberitahukan kepada siapapun mengenai perbuatanNya kepada mereka. (Mat.12:16, Mat.16:20, Mark.3:12, Mark.7:36, Mark.8:30, Luk.5:14, Luk.8.56, Luk.9:21). Yesus melarang murid-muridNya untuk menyatakan bahwa Dia sebenarnya adalah Kristus, Anak Allah.

Matius 17:9 dan Markus 9:9 membicarakan tentang perubahan rupa Yesus di gunung. Murid-muridNya melihat Yesus, Musa, dan Elia. Di gunung itu Yesus menyatakan kemuliaanNya. Pada saat Dia turun dari gunung, Yesus memperingatkan mereka agar tidak memberitahukan kepada siapapun tentang peristiwa yang baru saja mereka saksikan. Mengapa selama pelayananNya Yesus meminta beberapa saksi tertentu untuk tidak memberitakan keagunganNya, kuasaNya, kehendakNya? Dan mengapa Dia meminta kita, saksi-saksiNya saat ini untuk merahasiakan beberapa pewahyuan tertentu?

Waktu Tuhan

Ada beberapa alasan untuk itu, salah satunya adalah waktu. Kita tahu bahwa jalanNya bukan jalan kita, berdasarkan Yesaya 55:8 ( Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN). Pengkotbah menyatakan ada waktu untuk semuanya. Dalam Matius 26:18, menjelang kematianNya, Yesus berbicara bahwa waktuNya sudah dekat. Wahyu berbicara tentang akhir jaman. Baik di perjanjian lama maupun perjanjian baru, waktu adalah kata kuncinya, kata kunci dari rencana Tuhan, kata kunci dalam pelayanan Yesus, dan juga kata kunci dalam pelayanan kita sebagai seorang Kristen di bumi ini.

Dengan pemahaman ini, Roh Kudus seringkali menyuruh kita tetap diam karena waktu untuk menyatakannya tidak tepat. Sama seperti seorang penabur dan tanah, keduanya harus siap sebelum benih dapat ditanam dan iman dapat bertumbuh. Karena itu, pihak yang menerima pernyataan kita dan kita yang menyatakan suatu hal yang penting harus siap terlebih dahulu untuk apa yang akan dilakukanNya.

Tanah yang Telah Dibajak

Terkadang kita tidak siap untuk menghadapi reaksi orang lain setelah kita menyatakan hal-hal rohani yang kita dapatkan secara pribadi dari Tuhan, bahkan terhadap reaksi atau tanggapan dari sesama orang Kristen. Saat orang lain tidak siap untuk mendengar pernyataan Tuhan yang kita dapatkan (Tuhan belum menyuruh kita menyatakannya), itu sama seperti kita melemparkan mutiara kebijaksanaan kepada yang lain, tapi mutiara itu akan terinjak-injak.

Jika waktunya tidak tepat, menyatakan hal itu akan membuat kita atau pihak lain menjadi frustasi atau marah, berselisih paham, keraguan, juga reaksi negatif dari orang lain yang membuat kita meragukan apakah Tuhan benar-benar telah berbicara pada kita. Sekali keraguan itu mulai memenuhi hati kita, iblis dapat dengan mudah mencuri benih pewahyuan tersebut.
Saat kita sedang berapi-api, kita sering lupa bahwa setiap orang percaya berada pada level kedewasaan rohani yang berbeda-beda. Kita perlu berhati-hati agar jangan sampai menyebabkan yang lain tersandung karena mereka belum memahami apa yang berusaha kita sampaikan. Tuhan ingin melindungi kita dari ketidakpercayaan orang lain dan memastikan bahwa kita siap untuk menghadapi perlawanan saat kita perlu menyatakan pekerjaanNya.

Penabur yang Bertanggung Jawab

Kadangkala inti persoalannya sangat berkaitan dengan rasa tidak aman dan harga diri. Ada godaan yang besar untuk menyatakan pewahyuan dari Tuhan, mungkin agar kita dipandang layak atau dipandang sebagai seorang Kristen yang sangat dewasa. Saat motivasi kita berpusat pada diri sendiri, berhati-hatilah, karena iman kita akan terguncang jika kita menerima respon negatif. Dan tanpa iman, kita tidak dapat mempercayaiNya, kita tidak akan meresponi pewahyuanNya.
Jika Tuhan melarang kita menyatakan pewahyuan itu, mungkin itu adalah caraNya mengajarkan kebijaksanaan dan kesabaran pada kita. Dan terkadang, dalam berkomunikasi dengan Dia, beberapa hal yang kita lihat atau dapatkan tidak dimaksudkan untuk dibagikan kepada orang lain, terkadang itu hanya untuk diri kita pribadi, untuk membangun iman kita, membawa kita dekat kembali pada Tuhan. Kita mungkin tidak tahu mengapa, namun Tuhan mempunyai alasanNya sendiri.

Kita mungkin tergoda untuk berpikir bahwa perwujudan rencana Tuhan sangat tergantung pada kita, dan karena itu kita harus menyatakannya pada orang lain sehingga Tuhan kemudian dapat bertindak. Namun kenyataannya tidaklah demikian, rancanganNya pasti terjadi entah kita menyatakannya atau tidak. Intinya adalah, apabila apa yang kita dengar atau dapatkan itu benar-benar berasal dari Tuhan, maka itu akan terjadi. Meskipun sulit untuk tetap diam, tapi jika kita lakukan dan Tuhan mengijinkan kita menyatakan keajaibanNya pada saat yang tepat, kita akan mengatakannya dengan kerendahan hati dan Tuhanlah yang mendapatkan kemuliaan.

Pelajaran dari Yusuf

Yusuf mungkin adalah seseorang yang sangat dihormati dan berpengaruh pada akhirnya, namun masalahnya adalah dia tidak dapat menyimpan rahasia Tuhan tentang apa yang akan terjadi padanya di masa depan. Dalam Kejadian 37:8, setelah Yusuf menceritakan mimpinya pada saudara-saudaranya, dikatakan, “Lalu saudara-saudaranya berkata kepadanya: "Apakah engkau ingin menjadi raja atas kami? Apakah engkau ingin berkuasa atas kami?" Jadi makin bencilah mereka kepadanya karena mimpinya dan karena perkataannya itu.” Saat kedua kalinya Yusuf menceritakan mimpinya, ayahnya, Yakub, sedikit jengkel, “Mimpi apa mimpimu itu? Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?” (Kejadian 37:10).

Saudara-saudaranya mengira Yusuf angkuh dan menyebutnya “tukang mimpi”. Kita tahu bahwa Yusuf menyatakan kebenaran yang dia dapatkan dari Tuhan. Tapi ada sesuatu yang luput dari perhatiannya, apakah Tuhan mau dia menyatakannya segera setelah dia mendapatkannya? Apa yang akan terjadi jika seandainya Yusuf menyimpan kebenaran ini untuk dirinya sendiri?
Lagipula jika apa yang dia dapatkan benar-benar berasal dari Tuhan, toh hal itu akan terjadi juga. Mungkin hidup Yusuf akan jadi lebih mudah jika dia menutup mulut. Jika Yusuf tidak memberi lebih banyak alasan pada saudara-saudaranya untuk membencinya, apakah dia tetap akan dijual sebagai budak dan dipenjara? Atau mungkinkah dia akan melewati semua masa penderitaan itu dan melalui proses yang berlangsung perlahan tapi pasti dari anak bungsu menjadi pemimpin dari suatu bangsa? Tidak dapat dipastikan. Namun ini membuat kita berpikir, bukan?

Untungnya, bagi Yusuf dan kita, kita sebagai orang Kristen kadang mengacaukan segalanya, namun masih mendapatkan berkat Tuhan. Ini adalah bukti bahwa Dia tetap setia meskipun kita tidak. Kita tidak mengubah rencanaNya atas kita, tapi kita hanya menyimpang dari rencanaNya sampai kita
kembali berada dibawah kuasaNya. Karena itu, jika kita seperti Yusuf, seperti banyak orang Kristen lain yang pernah tidak memegang tanggung jawab untuk merahasiakan hal-hal yang dari Tuhan sampai pada saat yang tepat, kita dapat berlega hati. Tuhan mengampuni dan memulihkan.

Dia akan memberi hikmat pada kita jika kita ragu, yang perlu kita lakukan hanya berdoa & bertanya padaNya;

“Apakah ini adalah sesuatu yang bisa saya bagikan sekarang?”
“Kepada siapa akan saya bagikan?”
“Bagaimana saya akan menyatakan hal ini?”

Jangan melewatkan langkah penting ini, karena dapat menyelamatkan hidup kita dari kesengsaraan, penghinaan, atau bahkan mencegah kita dari menyebabkan orang lain tersandung.

ITT - 17 Maret 2009 - PW SP3 di Ibu Ida Que

Friday, February 27, 2009

Catatan Perjalanan PST 2009


12 s/d 15 February 2009. Bethania Makassar – Kota Batu Jatim

Dari Penulis:

Dear All,
Catatan ini dibuat dengan spontan, ... bila ada kata atau kalimat yang menyinggung, menghasut, mendukakan hati .. kami mohon ampun sebelumnya. Tulisan ini dimuat di mailing list GPIB di Yahoogroups & juga buat bagi adik-adik pemuda di Media bulletin pemuda Bethania Makassar – MP3

++++++++


Persiapan

Ketika pertama-kali diputuskan di rapat PHMJ bahwa utusan ke PST 2009 di Batu Malang adalah KMJ & Sekertaris I, mulai timbul pertanyaan di benak ini .... PST itu bagaimana ya? Apa mirip Sidang Mupel? Apa lebih mirip Sidang Majelis Jemaat?

Tapi setelah seminggu berpikir-pikir & cari informasi, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti cari info tentang PST & tempatnya (seperti mau ketemu siapa .... bawa pulang oleh2 apa ...). Saya berhenti dan mulai sesuatu yang baru ... bertanya ke Sang Bapa ... apa yang Kristus kehendaki dengan memilih saya ke PST lalu bertanya ke diri sendiri “apa yang bisa saya bawa ke sidang itu? Buah pikiran apa? Atau minimal tau apa saya tentang GPIB ini?” Ketika pertanyaan itu timbul lalu mulailah otakku mengevaluasi diri sendiri dengan semangat “Ketulusan & Kejujuran” ...dan akhirnya aku menyerah ...tau-ku ternyata cuma bernilai skala 2 dari 10 ... kurang sekali !

Mulailah aku berpusing-pusing ke sana-sini cari bahan PST 2008, baca hasil Sidang Mupel & SMJ ..... dan ketika masuk akhir Januari 2009.. tau-ku naik pangkat jadi skala 6 dari 10, masih kurang sih ... tapi yah .. apalah daku ini ..... semua bahan dan buah pikiran rebutan masuk di pintu benak yg semakin kecil, jadinya malah cuma sedikit yg masuk ... dan bahan2 yg rebutan masuk itu cedera dan terhenti di luar ... hehehehe... pemalas!

Malu Hati

Dua hari sebelum berangkat, saya singgah di Kantor Gereja, .....bagian keuangan datang dan bilang: “Pak, tolong tanda tangan tanda terima ini, buat biaya ke PST”. Keningku berkerut dan ... (pura2) kaget .... ternyata, sekarang jadi utusan Gereja ke PST sama baiknya dengan dengan perjalanan dinas kantor .... lumayan.

Balik ke kantor, pikiranku malah jadi kusut, ... wah kalau sudah siap bahan, trus ditambah biaya perjalanan yang lumayan 1st class + tiket pesawat PP, biaya dll .... kok malah jadi beban ya? Mungkin karena duitnya dari Gereja, yang mestinya diberi malah memberi ... dan atas tau diri ini pulang ke rumah bukannya beristirahat dan “bercengkerama” dengan istri, malah langsung duduk di depan PC dan belajar segala sesuatu tentang GPIB. Beban memang, jadi utusan dan mewakili 60 Presbiter, 6 sektor pelayanan, 357 KK , 835 warga sidi jemaat dan 1254 orang warga jemaat, walaupun agak melegakan juga karena beban ini dipikul berdua dengan Pendeta, yang kalau menurut perhitunganku yang “mau enak sendiri”: beban itu 65% di beliau dan 35% di saya ... hehehehehe kan beliau pendeta.

Waktu keberangkatan disepakatilah bahwa Kamis, 12 February berangkat .. jam 9 pagi terbang. Menurut Pak Pendeta sih berangkat pagi di hari yg sama saja, karena masih sempat tiba, kan PST menurut jadwal dibuka 14.00 waktu setempat, dan menurut beliau yang sudah belasan kali PST, biasanya sih waktu pembukaannya molor 2-3 jam. Hitung-hitung memang lebih hemat, karena kalau berangkat Rabu sore, oom2 & tante2 di jemaat mesti tanggung lagi kita pe lumpsum en hotel ..... mar su talalu seh.

Iman membuat mengantuk

Singkat cerita bangun pagi2 di hari Kamis, mandi, siap2 dan pakaian, soalnya janjian jam 7 lebih sedikit dengan pak Pendeta. Jam 7 teng sudah selesai berdoa dengan keluarga, lalu mulai menunggu, .... 10, .... 20 ..... 30 ... menit, eh kok pak Pendeta belum jemput ya, apa Pak Nyoman (pegawai KTU merangkap Driver) yang telat, atau ... ? Mana di luar hujan keras mulai turun mengguyur Makassar. Terlintas juga kengerian terbang dengan cuaca begini, tapi saya lalu tenang saja, kan jalan sama pak Pendeta, halangan apa sih yang bisa timbul .. ? bukan takabur, tapi ini pengalaman iman, soalnya yang mau didatangi ini tempat seluruh hamba Tuhan se GPIB Indonesia, yang ditemani jalan juga hamba Tuhan .............. yang lagi2 65 % lebih dekat ke Boss dari saya ... hehehehe .... yakinlah.

07.50 seiring dengan berhentinya hujan ....(hehehehe saya bilang memang ... ) pak pendeta muncul, yang drive pak Nyoman, dan dengan ketenangannya malah turun nyalamin orang rumah .... dan siap berangkat. So pasti tidak telat, karena Dia besertaku, .. bossnya Pak Pendeta maksudnya.

08.20 check in ... cuaca cerah dengan semangat mau rasa pesawat barunya Lion, menuju ruang tunggu gate 6 dan .... “jreng” .. ternyata .... “lion masih .... seperti yang dulu” ... di pintu belalai gate 6 terparkir pesawat tua yang panjang ... pake merk sabun cuci lagi!. Wah wah wah .. rasanya tertipu deh, kan kata travel pesawat baru, kan tiketnya tulis Lion .. bukan “sabun cuci!” .... Tapi ingat Wan, kata si hati .. ini perjalananmu sebagai Pelayan .. bukan sebagai boss, .... dan pelayan nda' pernah protes, nda pernah ngomel, nda pernah banyak maunya ...kecuali kalau dianiaya ...hehehehe. Juga waktu naik pesawat, dan ternyata dikasi nomor seat 35 ... yaitu paling belakang... kedua pelayan ini senyam senyum saja, pasang head set, dan dengar musik melawan bunyi mesin pesawat,,, mungkin gara2 senyum kami berdua, para pramugari yang duduk dengan kami di belakang trus jadi ramah dan senyum terus ... manis juga rasanya ..... (permen lho ... bukan yang itu ... ).

Take off, 09.15 ..... 1 jam 20 lamanya, kata si yang senyum tadi, lamanya perjalanan Makassar – Surabaya dan beda waktu 1 jam lebih lambat dari Makassar. 10 menit on air....hujan keras dan cuaca gelap menyelimuti pesawat. Rasanya kayak naik mobil oleng di jalanan berlubang di rute menuju acaranya anak PT di Wisata Kebun itu lho ... tapi dengan ketinggian 32.000 kaki .....siapa (tidak) takut? Tapi coba lihat ke kirinya boss ... pak Pendeta tidur nyenyak! Luar biasa, goncangan pesawat semakin keras, penumpang di depan kanan sudah baca ayat-ayat ... pelayan yang satu malah tidur nyenyak, ... terpaksa pelayan yang lebih rendah ini ...(tinggi badannya)... jadi ngantuk dan tidur juga ... ini serius ... ketika pikiran takut karena pesawat goyang dan diganti ketenangan karena lihat pak pendeta tidur, maka ketakutan lenyap, karena Si Pemberi Tugas yang Agung, pasti mengawal perjalanan ini sampai tiba di tujuan dengan selamat ....Amin. Dan 9.35 pas pesawat mendarat di Bandara Internasional Juanda Surabaya, setelah kami tidur kurang lebih sejam di 32.000 kaki yang berlubang tadi.

Balapan

Ambil barang, suasana PST mulai tercium,.....ketemu Presbiter dari Pare2, Pospel Pinrang, Bukit Zaitun Mks, Bahtera Kasih Mks serta presbiter lain yang walau nda' punya tanda the saint di atas kepalanya kami yakini sebagai hamba Tuhan, karena mereka dengan ramah menganggukkan kepala kepada kami, ..... mungkin saja mereka yang lihat ada tanda the saint di atas kepala kami.......

“Kesaktian” KMJ pun mulai keliatan, dengan bahasa ibunya... akhirnya kita dapat transportasi langsung ke Batu yang lebih murah dari hitungan transport dari kantor gereja..... (maaf VIP travel), lumayan bisa menghemat dan jadi berkat untuk teman-teman yang lain. Jam 10.30 dengan driver Mas Acung ber-enam kita ber-APV ke Batu, Pdt.Yusuf dari Pare2, Pdt. Ibu Persang dari Pinrang, Oom Pnt.Bruce dari Bukit Zaitun, dan 2 pelayan dari Bethania (....... lho pendeta Ebser dari Bahtera Kasih menghilang kemana ya?) ...... Berdasarkan prinsip Ladies First, Ibu Pdt.Persang the only lady here, duduk di depan .... waktu tiba di Batu, baru aku tersadar, bahwa kalau ada apa-apa di jalan, beliau juga yang paling first apa-apa.

Sepanjang perjalanan kami nikmati dengan santai, apalagi buatku, .... walau Mas Acung balap dengan kencang, tapi berdasarkan pengalaman di atas, ....rasa takut tidak singgah lagi .... dengan satu pendeta terbang di 32.000 kaki saja selamat, apalagi cuma naik mobil, dengan 3 pendeta dan 1 penatua!!! Lagi-lagi maaf, .... ini bukan takabur, tapi berdasar pengalaman iman.

Mas Acung rupanya memang driver kawakan, sama ahlinya dengan driver sabun cuci terbang tadi pagi, ..... dengan ahlinya dia menghindar macet, menghindari daerah wisata tragedi nasional Lumpur Lapindo, dan tau-tau muncul di jalan sesudah kawasan macet .... “Ini jalan tikus pak” kata Mas Acung, .... untung kami bukan tikus.

90 menit balapan, akhirnya cacing-cacing di perut kami stress dan teriak ..... dan Ibu Pendeta Persang yang duduk di depan (sambil bantu Mas Acung injek rem), akhirnya kedengaran juga suaranya mengiakan maksud lapar kami tadi.... seperti sudah refleks,kami semua memandang Pak Pendeta Susilo .... maaf pak, tapi di sini bapak memang andalan kami,... tujuan makan jelas: Lawang ... ETA 10 menit.

Singgah makan di RM.Kertosono di Lawang memang asyik, sebenarnya sih apa saja pasti enak kalau lapar, ... dan suguhan tempe, tahu dan bumbu petisnya memang yahud. Pas lagi pilih menu, masuk 2 orang perwira marinir, mengawal seorang berpakaian preman.(dalam hatiku berbisik, pasti ini komandannya), tapi tiba-tiba kok pak pendeta Susilo menyapanya, dan ternyata beliau adalah pendeta Rudy Tendean dari GPIB Batam. Luar biasa, ... marinir yg ada pestolnya saja segan .... heran ya, ada yang suka ngeyel bentak-bentak pendeta. Dan kalau marinir segan dengan pak pendeta, maka pelayan rumah makan Kertosono ternyata lebih segan dengan marinir, ..... pesanan mereka duluan tiba dari kami yang duluan tiba & pesan ... Rasanya mau protes, tapi berhubung kami pun pelayan, maka kami juga segan dengan marinir.

Mendaftar

13:40 kami tiba di Hotel Purnama di kota Batu ... (untuk selanjutnya kita sebut kota Batu, karena Batu secara administratif telah lepas dari kota Malang dengan walikota sendiri.).

Memang benar kata pak pendeta Susilo, kita pasti tiba sebelum jam 14.00, mantap mentong cess.

Mendaftar di PST tenyata seperti urusan di kantor kelurahan. Mau urus KTP atau urusan apapun juga, ndak bisa kalau belum bayar PBB. Di sini juga begitu, kalau belum perlihatkan fotokopi pelunasan kewajiban PST (maaf, mesti disebutkan di sini, supaya yang baca ngerti....: ......) - maka pendaftaran tidak akan dilayani. Tapi sudahlah, kan kalau mau PST harus bayar iuran kan? Memangnya makan & tinggal itu gratis? Sayang pengesahannya pake stempel Majelis Sinode, ... mestinya pake stempel SAH saja dari panitia, kan stempel itu mewakili lembaga,... apa seluruh MS setuju ini? Wallahualam.

Memasuki arena PST bagiku, seperti murid karate ban putih di kerumunan shimpai-shimpainya yang berban hitam ... rasanya seperti murid yunior shaolin di tengah-tengah suhu-suhu mereka .... bayangkan ... di sini ada pak pendeta Sammy, pak pendeta Sihite, pak pendeta Naza dan puluhan nama-nama teolog legendaris yang mumpuni dengan buah-buah pikiran mereka, ..... luar biasa rasanya, bisa bertegur sapa dan melihat mereka.

Berbagai keragaman terhirup kental, dengan berbagai tipe presbiter, ... ada yang ramah dan menyapa memperkenalkan diri dan tempat asal ... ada yang acuh tak acuh menghirup rokok dengan wajah tanpa senyum, ada yang mirip ibu-ibu pejabat dengan rambut made in salon, ada yang sederhana dengan wajah dan raut baru bangun tidur sehabis perjalanan, ada (banyak) pendeta muda yang mirip aktris/aktor sinetron .... dan ada yang bingung seperti diriku yang kaget disalami oleh seorang presbiter dan berkata: “selamat datang pak pendeta, ... tugas di mana?” ... wah wah wah ini pasti Penatua atau Diaken ..... pantas panitia mewajibkan kami menempel foto 4x6 dan tulisan namanya cukup gede .. dapat di lihat dari jarak 10 meter.

Pembukaan

Sehabis mendaftar, kami diarahkan ke hotel Filadelfia yang jaraknya sekitar 2 km dari hotel Purnama, rupanya ada 3 lokasi tinggal, hotel Purnama tempat PST dilangsungkan, hotel Wijaya dan hotel Filadelfia. Menunggu angkutan lebih kurang 1 jam, akhirnya datang juga .... kami sampai & diterima oleh reception dengan senyum khasnya ... dan rupanya kami ditempatkan di kamar 7308, di lantai 3. Naik tangga ke lantai 3 lumayan capek, sambil menyeret koper dll .... inilah seninya jadi pelayan .... masing-masing ngotot tidak mau dilayani ... sampai room boy-nya takjub juga lihat kita. Sekamar berempat, dan ketiga rekan lain rupanya sudah duluan ke tempat PST. Mandi kilat dan turun, ternyata masih tunggu jemputan lagi sampai hampir sejam (perhatian .. perhatian ... sesama pelayan nda' boleh protes......).

Tiba di Purnama, ketemu dengan Pak Pendeta Joy Wongkar, sekertaris I Panpel yang langsung info “mantap pak .... acaranya sedikit berubah ..... tapi tetap pake jas ya” ..... (rupanya acara pembukaan ditukar dengan Ibadah Perjamuan Kudus, .. dan seperti biasanya banyak juga peserta yang tidak pakai jas sesuai permintaan panitia, ... ya sudahlah pak ... yang penting isinya kok ... asal nda' pake' jas hujan saja). PK yang dipimpin Pdt.Sihite sudah mulai, dan ruangan yang harusnya cukup untuk seluruh peserta, jadi tidak cukup, karena banyak juga jemaat lokal yang ikut, dan akhirnya kami hanya berdiri saja tunggu giliran. Di belakang kami ada segerombolan pelawak yang sebentar-sebentar tertawa keras dan cerita joke-joke lucu ... waktu aku perhatikan, ... waduh .. berdosa lagi aku ini, ternyata kebanyakan mereka Pdt ..... wah pendeta kok dibilang pelawak ... sampai akhirnya ada panitia yang sudah tua/senior, keluar dan menegur para pelawak ... eh .. pendeta ini dengan keras baru mereka diam. Ketika PK selesai, dan cawan anggur dikumpulkan dan dilanjutkan pengucapan syukur ... pintu terbuka dan segerombolan presbiter bergegas keluar ..... hahahahaha .. mereka terus pergi lihat-lihat souvenir PST yang dijual di samping arena PST ...... padahal Ibadah belum selesai .... hmmm .... (maaf) kolektenya dibeliin souvenir ya!. Jadi ingat kalau di jemaat kami ibadah PK Jumat Agung masuk meja & pakai cawan besar, kalau sudah dapat giliran ada yg keluar merokok sambil tunggu berkat di akhir ibadah, ... tapi lumayanlah ... kami dapat tempat, jadi bisa masuk (rasain ... yg terima berkat penutup kami dan bukan yang beli souvenir .... ah benar juga ... yang terdahulu jadi terbelakang dan sebaliknya) .... KMJ dengan sigap mengambil tempat di mana papan nama Bethania Makassar tertera ..... menggeser pendeta Poppy dan pendeta Henny .... yang dengan perasaan kedaerahannya yg kental mengambil tempat kami tadi ... dasar anak Bethania ... dasar anak Gunung Nona ... jangan lupa undangannya ya pendeta Henny, ... ditunggu lho, .. semoga acaranya di Makassar.

Ibadah selesai dan dilanjutkan pembukaan oleh MC pada 16.30 WIB. Acara dibuka dengan aktraksi musik rap ala MTV GPIB oleh trio anggota PT, wah .... muantapppp ... para oom & tante presbiter mengangguk-anggukkan kepala mengikuti irama rap. Dilanjutkan dengan Lagu Indonesia Raya ... peserta berdiri ... termasuk bulu kuduk juga berdiri ... mendengarkan para presbiter GPIB se Indonesia menyanyikan lagu kebangsaan .... hikmat dan menghanyutkan, ... terbayang betapa besar karunia Pengutus yang Agung .... ternyata Indonesia juga milik kita ... dan bukan hanya milik “saudara” kita yang lain ...... (sebenarnya sih semuanya milik Bapa di Surga).

Acara dilanjutkan sambutan-sambutan, yang pertama oleh Pnt.Ir.Benyamin Hilly, M.Si sebagai ketua Panpel, yang menyebutkan bahwa sampai sejam yang lalu peserta PST berjumlah 704 orang terus bertambah karena ada yg masih di Juanda dan dalam perjalanan ke Batu, maklum ada peserta yang butuh 3-4 hari baru sampai ke lokasi PST. Dilanjutkan dengan hiburan musik Kolintang, dan pkl.17.14 Sang Ketum memberikan sambutannya. Dengan gayanya yang khas beliau mengajak seluruh peserta untuk menyalakan lilin-linnya, bukan hanya satu, tapi bersama-sama menyalakan lilin sampai menjadi ribuan lilin yang menerangi bumi pelayanan GPIB di Indonesia, .... yah ... prinsipnya cahaya-lah ... karena lilin mudah mati diterpa hujan (ada hujan berkat, hujan konflik, hujan sengketa dan hujan benaran .... hihihihihi) .... lampu anti hujan barangkali ya pak pendeta ..... jadi ingat kata bijak KMJ waktu kasih ucapan natal via SMS: Jadilah cahaya di tempat gelap, bukan di tempat terang. Tapi apapun itu, diterpa hujan atau hujat .... kita mesti (tetap) bersinar .... seperti Bapa telah menyinari kita dengan pengampunan melalui Kristus.

Beliau menutup sambutannya dengan menekankan bahwa masanya untuk mengedepankan eksistensi gereja sudah berakhir .... sekarang masanya untuk menjalankan Fungsi Gereja ... khususnya mengatasi kemiskinan ... dalam bentuk apapun! Saking bahagianya aku bertepuk tangan ... diikuti peserta yang lain ... (maunya mo!) ... bukan menepuki Ketum saja, tapi bertepuk tangan bagi Dia, karena dari telingaku yang sering kutulikan mendengar nasehat-Nya ini, aku pernah mendengar kata-kata Ketum itu juga keluar dari Pendeta kami dan Ketua III kami (.... beliau pernah meneleponku di pagi buta dan berbicara pendek dan tegas “Jalankan Fungsi Gereja!”) – bayangkan, ... mereka bertiga jarang bertemu tapi bervisi sama tentang gereja dan pelayanannya .... itu pasti karya Roh Kudus, sesuai tema 2009 Roh Kudus memberi damai sejahtera dan sukacita ... terimakasih Tuhan.

Sambutan beliau diaminkan oleh PS PW Baskara Surabaya yang bernyanyi dengan luar biasa indahnya (sampai pak wali memuji terus) .... ini juga pasti karena Roh Kudus yang memenuhi mereka dan (telinga) kami .... Akhirnya, Bpk.Eddy Rumpoko walikota Kota Wisata Batu, menyampaikan sambutannya yang bergaya khas pejabat ... didahului sapaan “Syalom!”, ... tanpa teks, beliau bercerita soal latar belakang beliau yang walaupun muslim, tapi punya ibu seorang Nasrani, .... bagaimana beliau dalam rumah tangga rukun karena Natal & Lebaran adalah agenda keluarga yang wajib dirayakan ... dan ..... jreng jreng jreng ... ada juga HP peserta yang berbunyi ..... lagu dangdut lagi!!!, ck ck ck .... semua peserta serentak berbunyi ... dan si pemilik dengan tersipu tapi acuh mengangkat HPnya dan bicara. Diakhir pidato beliau mengutip Matius 6:33 = Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Serentak peserta mengamininya .... dan tepuk tangan ... wah Pak Wali ini, .... kalau 700-an amin oleh sebagian besar pendeta, bapak bisa jadi gubernur lho ... bahkan jadi Pres .... jangan ah, nanti dikira kampanye, ............... padahal maksudnya Presbiter.

Aku jadi ingat kata bijak seorang akademisi di Makassar yang cerita bahwa ia melarang seorang temannya yang belum Kristen untuk masuk Kristen, beliau berkata: “nda usah kau masuk Kristen, laksanakan saja kewajibanmu sebagai seorang pengikut agamamu dengan benar, niscaya pada tingkat keagamaanmu yang paling tinggi, kau sudah Kristen”.

Pak wali menutup sambutannya dengan ucapan Assalamu Alaikum Wr Wb yang dijawab cepat oleh 700an peng-amin tadi dengan Wassalamu Alaikum Wr Wb juga .... hebat ... hebat ..... tidak mau tong dikalah presbiter kita ini.

Akhirnya pemukulan gong oleh pak Wali didampingi Ketum MS dan Ketua Panpel pada Pkl.17.52 menandakan PST dimulai ... Acaranya dilanjutkan acara sumbangan Tari Topeng dari pak wali, yang kata Ketua III Zebaoth Bogor, ... “jika dilihat dengan 'hati' sebenarnya banyak pembelajaran di sana” .... setuju Bung Okta .... kita manusia memang punya topeng .... tapi topeng ciptaanNya yang asli yang harus dipertahankan ... atau kalau pakai topeng hari Senin s/d Sabtu ... harus sama dengan yang topeng hari Minggu. Topeng siang dan malam juga sama ....

Tariannya luar biasa, karena berhasil mengait Ketum dan rekan-rekannya berjoget di panggung, ... hahahaha kapan lagi lihat Majelis Sinode joget ... asyik juga ... masing-masing punya bakat .... pak Wahyono dengan gaya asli dan pak Sihite dengan gaya tortor .... hebat juga penari tunggal ini .. berhasil menyeret & membawa MS kita ke panggung .... semoga di sidang nanti MS bisa menyeret & membawa kita yang 700an ini ke panggung pelayanan yang aktual. Kami siap Tuhan Yesus.... Kami siap bersidang dengan sukacita tarian tadi .... dan membiarkan diri kami dibawa dan melakukan, kemanapun dan apapun yang Tuhan kehendaki.

Penutupan yang berakhir pkl.18.20 itu dilanjutkan makan malam dan istrirahat sejenak .... sebenarnya sih bukan sejenak, karena 1 jam. Pkl.19.30 semua masuk ruang sidang, dan Roll Call dimulai yang dipandu oleh Sekertaris II MS Pak Pnt.Johan Tumanduk. Dan dengan gagahnya ke-2 utusan dari daerah Mupel Sulselbara sebagai utusan yang paling pertama disebut berdiri ...

Sekr II MS: “Bethania Makassar”

Bethania Makassar (sambil berdiri): “Ya !!! Hadir.”

Dan 285 jemaat berikutnya pun dipanggil, ... sebenarnya memang hanya 286 dari 289 jemaat karena ada 3 jemaat yang sudah tutup/dilebur, dan hasilnya yang hadir pada saat Roll Call adalah 275 jemaat dan utusan lengkap dari 24 Mupel, Dewan-dewan BPK, Pokja Lansia, PKFP, UP2M, PPWG with the humble & remarkable Oom Naza, dll ... dan (huuuuuu ... seru peserta .... ketika dipanggil:) Yayasan Dana Pensiun GPIB!.

Dukacita

20.03 Teleponku bergetar .... ketika kuangkat ... ternyata ada sms dukacita .... kakak baptisku Ibu Ice Moka meninggal dunia dalam perjalanan dari Kendari ke Makassar di atas pesawat. Terpaksa keluar sejenak menelepon ke Makassar, mataku berkaca-kaca .... mengingat masa kecil di Jalan Banteng ... selamat jalan Zus Ice ... selamat datang di pangkuan Bapa di Surga.

Sukacita kembali

Dukacitaku harus berakhir, karena setelah skor sidang 15 menit memilih Majelis Ketua, yang oleh para komandan Mupel dipilih Pdt.Martinus Tetelepta dari Galilea Bekasi sebagai Ketua .... mencabut skorsing sidang.

Warisan

Arahan Ketum yang merupakan lanjutan dari sambutan pembukaannya terangkum rapi dalam satu buah pikiran, yaitu menghadirkan Gereja yang dalam berbagai program dan kegiatannya, bermuara pada Jemaat yang beribadah secara Ritual dan Aktual, dengan siap menghadapi berbagai problem dalam masyarakat ..... salah satunya yang terpenting ... adalah Kemiskinan .....sehingga Gereja, menjadi suatu kebutuhan, karena pengabdiannya .. yang tulus dan jujur ... (yang terakhir sih nambah sendiri ... ).

Sidang dilanjutkan ke Informasi mengenai Dana Pensiun GPIB yang susah-susah gampang .... susah karena menjadi utang GPIB yang belasan M ... ber ....(dan terus berbunga), .... gampang karena kalau semua sepakat utang pasti lunas. Arena sidang yang adem berubah hangat karena rupanya sudah banyak yang pasang “ancang-ancang” soal ini. Tapi ancang-ancang ini kandas karena Ketum dengan “gesitnya” sekali lagi meredam sidang dengan langsung bicara sendiri .... (bayangin sendiri deh kalau Yayasan Dana Pensiun nda' ditemani Ketum/MS) .... hebat pak, .... dengan lugas pak Ketum menjelaskan bahwa “dana pensiun yang terkumpul sebanyak 3.803.042.544 ember ... sama sekali belum terpakai ... dan tidak akan terpakai untuk hal lain ... walaupun untuk Desember kemarin harus “pinjam” untuk bayar THR”. Sebagai jemaat aku tertegun .... wah .. wah .... berarti para Pendeta kita posisinya harus melayani dengan “ketulusan dan kejujuran” ... ditemani “kekuatiran dan kecemasan” .... soal bagaimana kalau mereka pensiun nanti.

Jadi ingat koster kami Alm.Bpk.Ruben Atamau, yang meninggal dalam tugas, Oktober 2007 lalu .... yang berdinas selama 11 tahun dengan setia .... dan ketika akhirnya Vonis Uang pensiunnya tiba .. hanya menerima Rp.59.600/bulan atau kalau mau diambil sekaligus sebesar Rp.8 jutaan. Yah ... itulah manfaat pasti ... pasti menyedihkan, pasti mengkuatirkan .... pasti Ibu Martha istrinya ambil yang besar dan pulang kampung ke Tanah Alor, membawa kenangan akan GPIB yang tercinta, ... semoga .... ah sudahlah, kok ngomongin itu sih.

Pak Ketum dengan gesit menggandeng Dr.Richard Risambessy yang adalah Professional Accountant, yang sangat menguasai bidangnya, dan dengan piawai menjelaskan Manfaat Pasti dan Iuran Pasti ... para peserta mendengarkan juga dengan tenang dan gelisah ... (lho kok ... ?) ..... yang semoga bukan berarti Pasti mengecewakan ..... tapi Pasti layak untuk kehidupan hari tua para Pendeta dan Karyawan GPIB kita.

Sebagai jemaat, boleh jadi aku pernah masuk kelompok yang anti dana pensiun ... (yang hilang) .... tapi apa mesti menoleh terus ke belakang .... bersidang siang hari malampun utang tetap utang kan ... ? jadi jalan keluarnya apa? .... ya bayar dong ... barangkali yang dituntut jemaat adalah tindakan hukum yang pasti bagi yang “salah urus” tempo hari ..... jadi ingat cerita Raja Daud, ... Pertobatan berlangsung dan Pengampunan pasti ada, ... tetapi akibat dosa (juga) tetap ada .... permanen .... hehehehehe .... Semoga kita tidak berniat mengambil “Hak” pembalasan itu. Susah juga pak, ketika kita buka kotak di Jemaat soal Dana Pensiun, yang maju mengisi kotak cuma belasan orang, tetapi kalau gempa Manokwari, Aceh dan lain lain dibukakan kotak, jemaat rebutan isi sampai ngantri di Ibadah Hari Minggu ... ketika jual kupon ... yang laku belasan lembar, tapi kalau jual aksi masak untuk bantu BPK ... semuanya lupa kolesterol ... semua bage tu RW deng Tinuransak .... biar akang pung harga bisa beli RW sa ekor!

Jadi bukan soal jemaat tidak mau ... lebih banyak soal Trust .... kepercayaan ... apa jaminannya kalau hal ini terulang ....? Pendeta (juga pasti) mau geber hal ini di jemaat, (tapi) juga mesti hati-hati ... nanti dikira cuma urus diri sendiri ... jadi, terpaksa cuma adem-adem saja .... nunggu Keputusan Persidangan atau Fatwa MS.

Ketika pertanyaan bergulir dengan “yang itu itu juga” .... Ketum pun dengan sabar menanggapinya ... dengan kata kunci “ketulusan dan kejujuran” ..... aku jadi berpikir dalam ... “Apa ya maknanya Tuhan mengijinkan hal ini terjadi bagi GPIB?” ... pasti supaya kita bersatu memikul beban itu .... supaya dalam memikul beban itu ... kita mendapat pengalaman Iman yang indah ... bersatu ... mengampuni .... hati yang memberi .... mengasihi hamba Tuhan ... so why not ?... let's take deep breath .. dan menyelami kehendak-Nya. Memang masalah ini masalah warisan dari generasi lalu yang tidak boleh kita wariskan lagi ke generasi berikut.

Sidang di skors dengan wajah kurang puas dari beberapa penanya .... yang gemas karena kandas .... hahahaha ... sampai besok ya ... kulirik jam ku ... 22.43 ... ibadah malampun berlangsung hikmat.

Kembali ke hotel, masih diwarnai berbagai percakapan .... dan diskusi di sidang nda' resmi di berbagai kelompok .... dan aku terbawa suasana .... bagaimana ya suasana di rumah duka di Makassar, ... semoga semuanya lancar saja.

Bangun Pagi

Terbangun di pagi hari, rupanya ada weker hidup disebelahku ...... tidur berempat mengasyikkan juga di Hotel Resort Filedelfia ini .... 3 Penatua + 1 Pendeta, yang istimewanya pak pendeta ini jadi weker untuk kami, ... hmmmm ngoroknya itu lho ..... hebat pak pendeta ini, tidurpun beliau menjalankan fungsinya ... mengingatkan jemaatnya! tapi asyik-asyik saja kok, sampai bisa jalan-jalan pagi menikmati kota Batu plus minum STMJ.

Jam 7 tepat semua parkir buat makan pagi, suasana segar karena disambut Panitia dengan senyum sama manisnya dari kemarin .... sampai kupon makan yang di gantung di ID pesertapun diambilkan .... luar biasa. Makananpun luar biasa, lengkap menunya. Dengar-dengar sih jauh lebih baik dari di Prigen PST 2007.

Habis makan pagi yang di atur di hotel masing-masing kamipun siap berangkat dengan bus dan mobil panitia yang senantiasa siap ..... dan pkl.07.50 sebagian besar penghuni Filadelfia sudah di lokasi sidang. Bawa titipan dari jemaat, segera cari Ibu Pendeta Noni dari Shalom Jakarta, .... dan trims Bu' buat buku sejarahnya ... bisa jadi perbandingan buat buku sejarah kami yang tak kunjung usai .... nda' percuma bawa titipan yang awalnya menjengkelkan juga hahahaha.

PA berkesan

Ibadah pagi yang dilanjutkan PA oleh Ketum mengasah kami semua untuk perduli terhadap kemiskinan .... dilandasi Roma 14:13-23 dan diskusipun berlangsung hangat. Walaupun sebagian di kelompok kami tidak bawa alkitab, .... hmmmm ... 3 pertanyaan penuntunpun dapat disingkap oleh presbiter-presbiter yang sebagian besar di kelompok kami dari pos pelayanan, pos terdepan GPIB yang sehari-harinya banyak menatap langsung problema ekonomi di Indonesia.

Kembali lagi ingat kondisi di jemaat kami, yang terkadang sibuk membela pendapat masing-masing, sampai lupa fungsi gereja .... sampai lupa bahwa “konflik” menurunkan kualitas pelayanan, dan akhirnya sukacita menjauh dari kehidupan jemaat. Tapi juga bersyukur, karena Diakonia cukup baik ... karena ada 11 penerima diakonia, walaupun mereka bukan benar-benar janda, ..... 11 juga anak SD,SMP, SMA yang dibantu dengan Dana Bantuan Pendidikan .... semoga di tahun mendatang bisa membantu Mahasiswa PT, jurusan STT tentunya, sehingga bisa menjadi Pelayan Firman, .... entah di GPIB atau dimanapun, ... tapi Firman Tuhan bisa diberitakan. Diharapkan ketika mereka tumbuh dan menjadi manusia dewasa dalam iman dan perbuatan, mereka juga akan mensyukuri dengan menjadi “helping hand” untuk saudara-saudaranya yang lain.

Dalam diskusipun, ... (yang walaupun cukup riuh rendah, karena semua ngomong ... hehehehe) kami juga mendapat output bahwa yang harus dibangun adalah sikap hidup, karena banyak jemaat yang miskin karena punya pandangan hidup miskin. Ada contoh dari seorang janda di jemaat, yang kehilangan suami dengan tanggungan 3 anak ... yang waktu mendapat bantuan dari jemaat dan gereja, memulangkan sepersepuluh dari yang ia terima bagi gereja, .... ini yang patut dibangun jemaat, ... ketika semuanya kelam karena si suami dipanggil Bapa, ia percaya bahwa Bapanya tetap bersamanya melalui tangan-tangan jemaat yang dipenuhi Roh Kudus ... bagiku, ibu ini sudah kaya, ... karena menolak kemiskinan itu dengan menjadi berkat bagi gereja. Amsal 30:7-9 harus dipegang erat .... bukan kekayaan atau kemiskinan yang menentukan ... tetapi kemampuan menyikapi kondisi kita dengan bersyukur. Dan dalam program kongkrit Gereja dalam memerangi kemiskinan, niscaya Roh Kudus akan membuat kebaikan itu seperti refleks ..... seperti refleks ketika kita jatuh tangan ini melindungi kepala ... seperti itu pula kita bersikap bila ada sesama kita jatuh ..... Ya .. yang susah harus dibantu .... yang dibantu harus bersyukur .... dan dalam bersyukur ia juga membantu sesama dan menjadi berkat. ..... (kok sampai khotbah ya ......)

1 Jam saja tapi sangat berarti, .... ditambah nyanyian & suara emas Pendeta Hendra Dores .... kolekte berjalan .. dan kali ini bagi membantu seorang Pendeta yang harus segera pulang karena anaknya kritis di RS PGI,...... banyak juga hamba-hamba Tuhan yang matanya berkaca-kaca ... yah aku juga membayangkan .. takut apalagi bila kita semua yang hampir 800 orang ini saling mendukung .... biar dana pensiun sekalipun pasti teratasi .... yaaaa kesitu lagi deh .......

Paripurna II dan Bahan yang membanjir

09.05 teng ... sidang kembali digelar. Pak Sekum mengarahkan sidang ... dan laporan-laporan pun membentang di hadapan peserta sidang. Laporan keuangan + BPPG ... , Badan-badan + yayasan, serta panpel Pembangunan Griya Bina memaparkan laporannya dengan baik. Di sela-sela itu panitia dengan gencarnya membagikan bahan-bahan sidang, ... yang saking banyaknya mengalir, jadi bingung bagaimana bacanya .... ada pula dokumen soal Studi Lanjut Pendeta yang (rupanya?) sudah jadi Keputusan MS, ... yang .... maaf pak Ketua II dan Sekum .... kok tidak ditanda-tangani ya ....... hmmm mau nanya soal itu sih pak, tapi berhubung KMJ kami juga lagi studi .... nanti ... anu ... itu lhoooo ... eeeee ...ah ... nggak jadilah .... mending diam saja.

Coffee break, .... dan pkl 11.12 dilanjutkan Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan 2008-2009 yang dibawakan masing-masing Ketua MS dengan programnya .... masih klasik juga, karena banyak yang akhirnya tidak terlaksana .... menghibur juga karena ada launching website GPIB www.gpib.org oleh Ketum .... “melawan roh-roh di angkasa” ujar beliau. Semoga website itu sering di update, ... biasalah ... buat web-nya tidak mudah ... menjaga kontinuitasnya lebih sulit lagi ... karena sampai hari ini di klik ... masih yang itu-itu juga :) tapi salut bagi bung V dkk, .... mereka sudah buat banyak bagi penyebaran info di medan juang internet. Hal ini pula yang memacuku ketika jam makan, segera mencari Bung moderator kita yang dengan setia menjaga informasi dan berita di Yahoogroups kita, ... salut dan salam kenal bung FT .... yang rupanya sangat bersahaja dan simpatik.... after all this years, ... akhirnya kenalan juga .... rasanya kayak Copy Delta di jaman 2 meteran, ..... tapi btw www.gpib.or.id nya kemana ya? Ke Balikpapan ya :))

Komisi

Banyak juga pertanyaan-pernyataan (:) yang bermutu diajukan peserta sidang .... yang bersahut-sahutan .... kebanyakan soal biaya dan duit .... catatan menarik dari Bendahara MS kita yang pada awal persidangan, ketika diperkenalkan dan diminta berdiri tapi masih juga didaulat untuk berdiri :( .... jangan main fisik dong peserta ....!!!! salut buat beliau yang punya satu sikap: TAAT ... yang walau dibalik sekalipun bunyinya sama .... sampai peserta mengerutkan kening karena ada juga jemaat yang ngaku sudah setor ke MS tapi entah kemana di jalan .... wallahualaaaaaam.

Kapten “M” kita juga di Medan juang tidak ketinggalan dengan pertanyaan dan pengajarannya yang simpatik, lalu ada juga peserta yang “kudu wajib” ngomong, walau kadang ngelantur kemana-mana.

Soal ngomong itu, ada juga cerita lucunya .... salah seorang petinggi GPIB (caileee ... maaf pak ....) pernah mengajar begini; “wahai para presbiter, .... kalian kalau sudah berdiri di depan jemaat atau sidang .... karena otoritas kalian, sebenarnya sudah 50% memenangkan massa .... jadi tinggal cari mau omong apa yang baik supaya jadi bertambah >50%, ..... jadi kalau nda tau mau omong apa mending diam atau langsung saja bilang “Amin” .... nilai tetap 50.... daripada omong sembarangan dan dihancurin jadi 0 ..... kalah telak!” ... hahahaha betul juga pak, bukannya bertanya atau usul tapi malah cerita omongin dirinya ... saya ... saya .... saya ..... bikin gregetan Ketum saja :(

Makan siang dengan lahap, malah menambah kantuk yang luar biasa ..... rasanya mau usul ke panitia supaya makanannya jangan terlalu enak dan cukup ... supaya tidak ngantuk, tapi kalau ingat kalau kita diutus ke PST bukan untuk tidur dan ngobrol atau jalan-jalan, jadi rasa berdosa .... dan kantukpun hilang, .... mana kios panitia yang jualan buku dan asesoris yang menarik bikin jadi alasan kalau keluar ke toilet jadi berlama-lama .... 2 thumbs up .... dan mohon petunjuknya wahai panitiaku tercinta ... bagaimana caranya jual buku semurah itu ....? akhirnya kuputuskan oleh-olehku buku saja, karena murah (5000 or 10.000) ..... daripada asesoris yang mahal .... (dasar kikir ... itukan buat membantu jemaat yang jualan juga!). Ada juga studio foto mulai dari foto sendiri sampai juru potret pro yang majangin fotonya biar kehujanan....sepanjang depan lokasi sidang .... bukan gratis tentunya .... lumayan buat kenang-kenangan yang kalau dipajang di rumah, bisa buat cerita ke anak-cucu & jemaat ....”Opa dulu, ..... waktu PST ..... mengantuk terus ... hahahahaha”.

Ketika para “petinggi” ... eh MS mengemukakan program-programnya ... rasanya ada kontroversi di sini ... ah itu kan perasaanku saja ya ... mungkin karena bosan & ngantuk .... tapi ajakan Ketum di awal sidang, masih jauh panggang dari api ..... masih juga banyak program yang aneh, karena seperti menuh-menuhin kertas saja, ..... atau kayak ada yang komentar .... “biar dibilang ada kerjanya” ... tapi bukan itu .... kita datang PST bukan untuk mengkritik atau ngoceh nda' karuan... tapi untuk duduk bersama, ... meluaskan wawasan .... be positive, be creative .. (be careful .... ini sih kata Bung Okta ... pinjem ya bung) .... lalu pulang ke jemaat untuk diterapkan dan bukan untuk disimpan di lemari file lalu kasak kusuk kiri kanan dan berlakukan keinginan sendiri!

Pembagian komisi yang sudah di isi di data panitia pagi hari tadi, menempatkan diriku di Komisi IV atau BPK (sesuai arahan KMJ, Ibu pendeta Nguru, Oom Feri, Oom Does, Oom John, Oom Jopie, Oom Hans, Tante Telly, di rapat PHMJ), dan KMJ kami di Komisinya .... Komisi I IAI. Hijrah ke Ruang Mawar dekat Swimming Pool langsung merubah suasana yang sebelumnya serius memikirkan segudang program ... (hayooo ngaku ... banyak yang bingung kan ..... ) ... jadi lebih santai, karena di sana-sini sudah terlihat warna-warni BPK yang apik .... hijau, kuning, biru, ungu ... abu-abu (tapi jelas ... soalnya duduk di sebelah Oom Berth dan Bung Zonny .. the smiling PKB) .... di GPIB nan indah ... (balon kaleeee!), Dewan-dewan yang piawai dan menguasai bidangnya ditambah Pokja Lansia .... (sebaiknya sih ... Pokja Purna Bakti ... ) dan PKFP dan UP2M yang tak henti-hentinya kukagumi.

Diarahkan Pak Ketua III yang sangat kebapakan mengayomi pasukannya dan Sekertaris II yang sersan (serius tapi santer .... arahannya .... salam kenal Bung Johan .. akhirnya ...) ... langsung wawasan bertambah. Dilanjutkan pemilihan Ketua & sekertaris Komisi yang sangat tepat .... Pdt Agus ... eh Adri Wangkay dari Pniel Singaraja ... (maaf pak Agus) .. dan mantan Dewan Pemuda Pnt.Diah dari Bethesda Jakarta. Tepat dan serius mereka menggiring peserta untuk menelaah semua program ... menambah yang kurang dan yang terlalu lebih (biayanya) dipangkas .... lagi-lagi suatu langkah berani diambil PA dengan mengecilkan kegiatan emasnya yang hanya dilaksanakan serentak di Mupel-mupel, membuat kami tersadar, bahwa kegiatan besar seremonial yang melibatkan banyak massa ... jemaat dan biaya memang harus di re-invented, menjadi menciut dengan kualitas yang lebih baik ... bukan yang dulu tidak bagus, .... tetapi bukankah pengalaman lalu adalah guru yang baik menuju ke depan? Think Global Act Local .... Pemikiran Sinodal dan Aksi di Jemaat ... itu yang perlu.

Sambil pembahasan jalan, otakku juga jalan-jalan dalam ruangan ini membayangkan gambar BPK Terpadu yang bergandengan tangan .... dan dalam brain storming dengan beberapa rekan-rekan memang harus diakui, bahwa ada kesenjangan dalam BPK yang senantiasa harus dipangkas, supaya ke-5 BPK ini (nanti 6) bisa berjalan searah dan menabuh alat musik yang walau berlainan ... tapi dengan irama yang sama .... benang merah kegiatan dan pembinaan antara BPK harus ada, khususnya PA, PT & GP .... mereka harus merasakan sukacita dalam perjalanan kehidupan mereka .... ber PA, PT & GP ... sampai dewasa ... dan dengan katekisasi pra-nikah akan memasuki alam PW, PKB dan Lansia. Ketiga BPK dengan rentang usia sebagai pemisah dan BPK PW & PKB dengan landasan gender lalu (nanti) di Lansia dengan ukuran usia kembali sudah bagus .... tidak perlu perubahan berarti, hanya saja PW dan PKB harus punya program yang tajam dalam membina ke-3 BPK ini sebagai anak-anak mereka .... sebagai satu kesatuan, yaitu sebagai orang-tua, ... bukan hanya sibuk dengan kewanitaan dan kelaki-lakian mereka .... Pengasuh PA & PT sumber utamanya harusnya bukan dari GP tapi dari ke-2 BPK yang berada dalam tataran pembimbing ini. Stop mempersoalkan siapa yang duluan lahir atau belakangan, tapi mulai bertindak sesuai status dan usia kita. Soal Lansia..... hati-hati pemirsa ... mereka adalah “bukti cinta kasih Tuhan” yang harus dilayani dan di syukuri kehadirannya di tengah-tengah kita, .... jangan malah “diterek” kalau ikut Paduan Suara dll, ..... yah memang mereka sudah lansia, tapi ... mereka pernah muda ... dan kita yang muda ... belum tentu bisa lanjut usia seperti mereka.... (heheheh betul nda'?). Dan lagi-lagi membayangkan .... untuk dikaji, barangkali Dewan-dewan yang ada di tingkat sinodal disatukan saja di Dewan BPK, dan di Mupel pada Korwil BPK .... untuk duduk bersama menyusun program .... dari Sinodal sampai tingkat Mupel .... nanti di jemaat baru pengurusnya terpecah 5 atau 6 BPK tadi. Lebih irit manning, lebih irit biaya, .... dan Dewan atau Korwil BPK ini bisa masak bersama dengan bumbu masak lebih nyata bagi 6 sajian tadi (tentunya jadi lebih enak ... lapar ah ... ngemil dulu...)

Lots of Fun and Laughing di ruangan ini dan pertanyaan-pertanyaan dan jawaban dari PKFP dan UP2M sungguh memperlihatkan profesionalisme dan kegigihan mereka ..... supaya yang profesional, tetap eksis melayani ... (seperti tante Syeni dokter praktek di Bethania yang meluangkan waktu 2 x seminggu ... gratis lagi ... obat dan biaya dokternya .... hebat!) dan para pendeta bisa praktek segala macam sampai bikin tempe dan masak di jemaat-jemaat binaannya. Salut dan ungkapan syukur ke Tuhan atas kehadiran mereka ... dan pertanyaan-pertanyaan yang lucu dijawab lugas oleh Ketua komisi dengan pernyataan-pernyataan jenaka yang lebih lucu lagi :))

Waktu menunjukkan 17.20 waktu Komisi ini menuntaskan tugasnya dan dengan wajah cerah karena banyak tawa dan tetap serius, kami coffee break dan lagi-lagi jempol buat panitia yang selalu mengenyangkan dan mengantukkan kami dengan hidangan-hidangannya.

Nostalgila

Sambil menanti Paripurna Komisi-komisi, di Cofee Break, ketemu-ketemuan dengan para mantan KMJ Bethania .... ada Pak Pendeta John Tambunan, Pak Pendeta Jeff Talise, Ibu Pendeta Nonie Pieritsz, dan mantan Vikaris di Bethania Ibu Pendeta .... (masih nona sih ... ) Murti Simanjuntak, Ibu Pendeta Metty Risamena ..... yang tidak kelihatan di PST Ibu Pendeta Ribka Atalaka .... (ini juga Nona hehehehe), Ibu Pendeta Monica Joris dan Nona Pendeta Inri Kiroyan. Semuanya masih seperti yang dulu, ... apalagi Pak Talise dengan humor dan senyum khasnya .... teringat pendahulu mereka Alm.Pak Pdt. Coen Hursepuny, Alm.Pak Pdt.Tumakaka, Alm.Pak Pdt.Linggar ... dan Pak Pdt.Pamungkas yang terbaring sakit .... apa yang kami rasakan di Bethania sekarang adalah hasil kerja keras mereka .... Diam-diam diri ini minta ampun kepada para mantan ini (dan Sang Empunya ... Pengutus yang Agung) karena banyak yang mutasi dengan rasa kesal dan jengkel karena ulah kami-kami di jemaat yang suka mengangkat diri menjadi “hakim-hakim” kecil .... Ya .. harus seperti Nehemia yang “minta ampun” atas perilaku pendahulu-pendahulunya .... mengajar kami supaya rendah hati dan tahu diri atas jemaat titipan Tuhan ini. Tapi rencana Tuhan memang indah .... apa yang mereka tanamkan dahulu, dengan berpeluh dan “ber-airmata” dapat kami rasakan sekarang melalui proses pendewasaan yang panjang.

Ada yang dicaci karena terlalu lemah ... ada yang dicaci karena terlalu keras ... sampai “diteriakin” (badakkkkkkk !!!!) ... ada yang dibuat menangis ... (berkali-kali) ... karena dipangkas tunjangannya .... karena tidak mau mengakomodir kemauan “kelompok” main stream .... yang mengaku pembaharu dalam jemaat. Tapi semua proses itu melahirkan jemaat yang mulai tumbuh dewasa .... apalagi ditambah KMJ yang santun tapi tegas sekarang ini, bahkan kami juga boleh ditambah punya PJ, Ibu Pdt.Amperiyana Nguru. Bersyukur kami juga, karena punya 3 pendeta non GPIB yang tinggal di wilayah Bethania dan selalu setia membantu pelayanan, baik IHM, KRT, BPK, Ibadah Persekutuan Doa yang pagi-pagi buta, maupun perkunjungan .... Pdt.Sisca Tapilatu, S.Th dari GPM, Pdt.Gusti Arnawa, SPAK dari GKSS dan Pdt.Ny.Resty Arnawa-Tehupeiory, M.Th dari GKPB, yang terakhir ini juga dosen di STT Intim ....

Barangkali kami punya “sense of belonging” yang terlalu tinggi terhadap jemaat kami sendiri, yang berbeda dengan jemaat yang dibangun GPIB, ... kami jemaat tua yang berdiri sejak 1953 dan 20 tahun kemudian 1 Januari 1973 menghibahkan gereja ini ke GPIB. Dan sesudah hibah, kadang masih merasa pakai baju tua .... dan lupa bahwa kami sudah ber-GPIB. Letak yang di tengah kota, membuat wilayah kami tidak lagi berkembang .... dan yang muda-muda kalau menikah .. akhirnya pindah ke jemaat lain yang berbatasan dengan daerah pengembangan kota ... membuat kami terkadang “sangat kepala batu” dalam berbagai hal .... meski musti diakui dalam beberapa hal juga positif, karena memberlakukan “perwilayahan” dengan sangat konsisten .... tinggal di luar wilayah berarti harus atestasi ke jemaat setempat, .. atau hanya jadi jemaat biasa yang pakai bintang satu di daftar pemilihan (boleh milih zonder dipilih) di pemilihan apapun ... kecuali panitia-panitia kecil.

Tapi jangan takut wahai Pendeta-pendetaku (ini undangan .... karena dengar-dengar ..... dengar-dengar ..... katanya .... katanya .... memangnya sudah mau mutasi ka?) .... sekarang Bethania sudah lain kok, ..... sudah penuh senyum dan santun ... sudah “nda' kaya' dulu” lagi .... karena sudah merasakan pendewasaan yang cukup memakan waktu dan “korban”, jadi kalau ada yang mutasi ke jemaat kami .... selamat datang selalu (maaf KMJ .... bukan ngusir lho .... tapi kadang kami mendahului gossip yang sksd sok kenal sok dekat sama MS dan suka cerita kayak dia saja yang ngatur MS dan mutasi .... hahahaha) ...... sebentar lagi beliau selesai studi dan dapat M.Min dan kami juga M.Min... mung minteri .... alias sok pinter!

Paripurna Lagi

Masuk ke Paripurna Komisi I ... suasana sidang mulai sunyi ... karena banyak peserta yang bukan komisi bersangkutan mulai ngilang .... dan kami yang di Filadelfia dan Wijaya, memilih nekad tidak mandi, karena maklum kalau kami pulang mandi bisa dilanjutkan dengan tidur .... (besoknya baru sadar ... ada juga yang sleeping beauty sehabis mandi dan baru bangun pkl 22.00 waktu sidang su mau abis!!!!).

Komisi I adem ayem saja, semua manggut-manggut kelelahan, ada juga pertanyaan-pertanyaan seputar pernikahan, juga pertanyaan “lucu” soal sertifikasi penulis Sabda-sabda, jadi mikir ... memangnya mereka waktu di sertifikasi jadi pendeta nda' termasuk nulis khotbah .... ada-ada saja ...

Waktu berlalu cepat, meja kami mulai oleng kiri-kanan karena kantuk yang mengundang ngemil dan jajan supaya melawan roh kantuk itu .... dilanjutkan Komisi II juga biasa-biasa saja ... karena Pelkes memang wajib dan makan ongkos serta waktu ... yang penting kontinuitasnya jalan, bukan sekedar pelkes dan pergi begitu saja sampai program berikut .... hehehe kalau banyak program Pak Ketua I bisa lebih banyak di angkasa terbang daripada di darat pelayanannya.

Masuk Komisi III kantuk mulai terusir dengan pertanyaan-pernyataan menggoda dari peserta, khususnya soal aturan Vikaris ... Ketua Sidang sampai sibuk membatasi penanya, ... belum lagi (kayaknya) ada yang pakai nota ke meja sidang .... dan para peserta yang merasa jemaatnya sudah keluarin duit banyak mengirim mereka ke PST, harus “bunyi” juga setelah sekian lama diam. Memang Komisi ini sarat program dan cita-cita, .... semua bagus ... tapi apa bisa terlaksana dalam waktu dekat ya ...?

Soal Kursus Dasar dan lanjutan Kependetaan juga penting, karena kalau mau tugas harus punya kemampuan manajerial yang apik ... supaya bisa mimpin sendiri ... atau berdua .... hehehehe kayaknya kalau sendiri lebih baik ya ... kalau berdua, tiga atau berbanyak malah susah karena masalah klasik ... rebutan pengaruh dan lahan di jemaat .... nda' semua sih, ... tapi tetap ada ..... KMJ yang disharmoni dengan PJ dst dst .... lanjut ah ....

Ada juga soal mutasi yang sampai “minta maaf” bergaung keras .... jadi telat mikir nih siapa yang minta maaf ke siapa .... yahhhh sekedar ngusul diam-diam ... barangkali sudah saatnya kita GPIB punya Dewan Kepangkatan dan Mutasi/Rotasi Pendeta ... yang memutasi pendeta sesuai masa dinas dan lamanya jemaat ... bukan karena kedekatan dan kebasahan jemaat ... memang konsekuensinya jemaat-jemaat mesti diklasifikasi dengan “ketulusan dan kejujuran”. Soal puas atau tidak, itu pasti ada, ... tapi minimal ada dasar berpijak, .... supaya tetap ada penyegaran buat jemaat dan pendeta bersangkutan. Jadi ingat .... di jemaat tetangga kami ada mutasi sampai 4 kali dalam 5 tahun .... (apa benar ya ... ?) ... bisa habis tu doi' cuma par kasi bapinda tu pandeta .... celoteh tante deng oom di jemaat itu ... belum lagi soal SK yang bisa loncat lokasi ... bikin capek Staff MS buat Pemberitahuan dan SK ke jemaat-jemaat.

Yang surprise nda' ada peserta yang nanya soal studi lanjut (yang maaf ... dokumen keputusannya beredar kemarin dan tidak di ttd/stempel ... juga nda' ada di jemaat kami arsipnya ... cek via telpon sih ...semoga karyawan kami yang salah periksa) ... barangkali takut kalau kena periksa dan studi-studi bisa terhalang .... sebenarnya sih tanya aja pak, kata seorang Diaken kepadaku ... kan studi itu untuk kemajuan GPIB juga, .... tapi lanjut beliau ... ada juga sih yang buat bisa cepat naik pangkat .... keduanya bagiku sah-sah saja, kan kalau pendeta berkualitas baik dan sejahtera yang untung kan jemaat juga ... semakin berkualitas dan sejahtera juga .... rohaninya. Aku sih tetap diam ... sekali lagi nda' enak sama KMJ dan rekan-rekannya yang lagi rame-rame studi di STT Intim, hmmm ..... juga nda' enak sama atasannya.

Hari yang melelahkan ini berakhir dengan Ibadah Malam dan 23.00 lebih sedikit, kami kembali ke penginapan masing-masing .... sampai di sana ... Eh .... kok pada ilang ngantuknya ya .... biasalah ... sidang kecil tidak resmi berlanjut sambil main domino dan ngopi sambil dengar gossip seputar pelayanan, mutasi dan sikon di jemaat-jemaat sampai 01.30 dinihari baru bisa tidur. Yang penting bisa membedakan mana gossip dan mana informasi, dan tidak ketukar ... biar bisa akurat mengambil keputusan dan sikap.

Selamat Malam Tuhan, semoga besok tidak telat bangun ... terimakasih untuk hari yang sarat pengalaman ini.

Hari Terakhir

Diawali bangun pagi 05.30 .... kami semua mandi, ... weker kami tetap paling akhir mandinya ... dan langsung turun sarapan. Tas dan seluruh perangkat harus dibawa serta karena sebentar tidak kembali lagi ke Filadelfia .... asyik juga rasanya ... soalnya belum pernah merasakan harus check out dari hotel jam 7 pagi. Menu sarapannya bahkan lebih banyak dari kemarin .... barangkali karena sarapan hari terakhir. Ngobrol sana-sini di meja makan, akhirnya kami semua siap naik bus ke Purnama .... titip barang di Purnama (yang dengan setia dijaga Panitia!), ... dan langsung masuk ruang sidang.

Seperti biasa, dibuka dengan Ibadah pagi, dan 08.30 sudah masuk Paripurna Komisi IV Bepeka. Ketua Sidang mengingatkan bahwa hari ini adalah Valentine Day, untung nda' pake dress code pinky. Sekali lagi Ketua & Sekertaris Komisi memandu paripurna ini dengan ahli .... komentar hanya bagi peserta di luar komisi ... seperti biasa, kode etiknya, anggota komisi nda' boleh nanya.

Inilah Bidang yang paling banyak melibatkan jemaat, karena pasukannya paling banyak, 5 BPK, 1 Pokja Purna Bakti .... Lansia resminya .. PKLU, PKFP, UP2M. Susah juga ya Pak Pendeta Rudy ... punya pasukan sebanyak ini, tapi kata Oom Does Ketua III kami, “ikuti baik-baik perkembangan BPK dan kita laksanakan nanti di jemaat. Ingat, untuk program yang bagus, tidak boleh ada yang mandek hanya karena kurang dana, .... laksanakan saja, niscaya Tuhan pasti bantu!” ..... yah kalau lihat Pak Rudy jadi ingat Oom Does ... selalu optimis dan kebapakan mengayomi pasukannya.

Saking banyaknya, yang dibahas hanya yang berubah, .... dan penekanan HUT Emas BPK-PA hanya dilaksanakan di Mupel-Mupel di luar Jabodetabek banyak bikin kecewa peserta, soalnya banyak yang sudah siap jalan-jalan ke Jakarta ... juga kayak di komisi ada juga yang komentar, kok hanya Jabodetabek? Kalau kami sih ok ok saja karena di Sultan Batara atau Sulselbara, kami juga pasti bikin meriah tu HUT PA ... biar rame undang jo tu Opa Oma, lalu Papa Mama deng kaka-kaka GP & PT. Sudah terbayang Family Day buat ngerayain HUT Emas BPK-PA. PKB muncul dengan program sederhana, setelah 2008 lalu bikin geger bumi GPIB dengan mengumpulkan 1000 bapak-bapak se GPIB ... (luar biasa .....!!! jempol buat tuan rumah dan peserta !) ... tapi patut diakui membina 1000 kaum bapak bukan hal yang mudah dilaksanakan, ... 700an peserta PST saja banyak yang sidang komisi 6, 7, 8 di luar ruangan. Ada juga yang usul PKB diubah ke PKP Persekutuan Kaum Pria ... dipikir-pikir ada benarnya juga kalau pakai Pria, jangkauannya bisa lebih luas, karena sekarang banyak Pria yang GP bukan tapi PKB juga belum, nah kalau pake' Pria, banyak tuh nyong-nyong yang masih jomblo pasti mau ikut PKB ... contohnya di saudara kita di GPM (Gereja Protestan Maluku) pakai nama Pelpri (Pelayanan Pria) dan Pelwata (Pelayanan Wanita), ... lagipula kalau Bapak ya mesti Ibu dong ... tapi masak pakai nama PKI (Persatuan Kaum Ibu)? .... iiiihhh .... katong pung mama dapa tangkap samua nanti.

PKFP dan UP2M penuh dengan program yang fokus dan terarah yang penuh tantangan, jemaat kami mesti belajar banyak, karena belum punya 2 bidang ini + PKLU. Kalau PKLU ini ceritanya banyak di jemaat kami, ........ kemarin otak-atik data jemaat buat perkunjungan Lansia, ... ternyata di jemaat kami ada 200an yang berusia di atas 60 tahun, .... kata Ketua III, bisa habis itu PW & PKB karena semua menyeberang ke PKLU. Biasalah, .... rata-rata tunggu usia di atas 40 baru ke KRT, PKB atau PW .... tunggu lelah dulu baru beribadah .... kalau masih sehat .... ah sibuk, ... kita kan kerja, ..... seng ada waktu .... seng bisa .... lama-lama seng makan .... mati & makan seng ..... mati juga. Tapi bentuk Pelayanannya sudah ada, yaitu Ibadah Hari Minggu bagi PKLU yang sudah tidak ke Gereja oleh Presbiter ... seru, karena masing-masing harus nyiapin khotbah singkat .... soalnya PKLUnya ingin pendeta yang layani, ... tapi kan Sunday, ... jadi semua pendeta melayani, jadi alhasil cuma sekali-sekali pendeta, sisanya Penatua atau Diaken .... juga ada kunjungan tiap Kamis oleh KMJ dan PJ didampingi Majelis Sektor Pelayanan masing-masing.

Komisi IV berlangsung dengan mulus dan sebelum pkl 10.00 kami semua sudah Coffee Break. Mengunjungi stand buku untuk terakhir kali aku beli 5 buku lagi ... dan ketemu Pak Pendeta Yusuf Samperuru dari GPIB Immanuel Pare-pare ... beliau bilang; “Pak ... bisa ya bawa TV ke Makassar ...?” ..... “kenapa Pak” jawabku .... “ini, ... saya menangkan TV 14” .. hasil beli buku terbanyak!” .... wah wah wah luar biasa Pak Pendeta ini, sesuai penampilannya yang low profile dan pendiam, rupanya beliau sangat suka baca buku, sampai habis hampir sekian ratus ribu ... pembeli terbanyak yang pulang bawa hadiah TV ..... yeeee kalau tau kemarin, gabung saja sama KMJ beli buku, supaya bawa TV .... hehehehe sirik dikit nda' apa-apa ya Pak Yusuf. Bawa saja pak Pendeta, kan tiket kita bareng pulang ke Makassar, ... nanti kita gotong rame-rame.

Pkl.10.30 masuk paripurna Komisi Dana Pensiun ... eh Komisi V, pertanyaan kembali membludak dengan nada sama ... Dana Pensiun. Tapi ada juga pernyataan simpatik dari rekan di Jakarta yang menawarkan solusi tenaga gratis untuk membantu MS, .... dan solusinya harusnya ada niat pasti dari kita semua, buat pastikan bahwa pergumulan dana Pensiun harus berakhir dalam waktu cepat, minimal di PST 2010, ..... solusi hutang cuma satu .... BAYAR! Hehehehe jadi bingung ... kalau pulang mesti jelasin baik-baik ke Ketua IV, Bendahara & Bendahara I, soalnya dari kewajiban kami yang sekitar berapa puluh Jut itu baru 10 persennya yang kami lunasi. Soalnya hutang kita yang yang belasan ember itu jadi ringan kalau dipikul bersama 286 jemaat .... AMIN. Tidak terasa hampir 2 jam .... pembahasan ... banyak yang bicara, .... dan kepiawaian Ketum menjawabnya membawa nada penanya jadi menurun .... yahhhhh apa boleh buat, .... kita mesti pulang ke jemaat dan serius soal yang satu ini, karena kayaknya cuma terpikir kalau sudah mau PST dan kalau ada surat dari MS mengingatkan soal Dana Pensiun ini. Juga dibahas soal pajak penghasilan dari Karyawan dan pendeta, ..... yah sudah haruslah ... kan orang Bijak taat Pajak .... nanti sudah punya pensiun sedikit dapat penalti lagi dari orang Pajak!

Sambil, mencatat sana sini, kusempatkan mengirim satu email dari ruang sidang ke mailing list kita tercinta, .... rasanya aneh bin ajaib .... kirim mail ke mailing list, sambil natap moderatornya yang lagi menjalankan tugasnya di kejauhan .... memang, harus kita akui, panitia memang sigap dan care dengan peserta. Menyatu dengan rekan-rekan yang lain, .... ada yang hitung-hitung corat-coret di kertasnya ... “apa itu Pak?” tanyaku ... anu pak ... hitung kata “Kejujuran dan Ketulusan” dan kata “dana Pensiun” .... rupanya ada yang menghitungnya, dan alhasil ketika selesai ... kata “dana pensiun” ada 69 kali dan kata “ketulusan dan kejujuran” ada 49 kali selama Komisi V dibahas ..... semoga kata itu tidak mewakili kekuatiran kita yang besar terhadap masalah kita ini.

Pkl.12.49 Hasil Komisi V diterima oleh Sidang ... dan diumumkanlah bahwa PST 2010 akan dilaksanakan di Griya Bina Lawang yang sudah disulap jadi mooooi oleh Panitia Pembangunannya yang gigih .... tapi oleh karena 2010 diadakan juga Persidangan Sinode, maka peserta PST 2010, dibatasi hanya oleh wakil-wakil dari Mupel .... (hehehehe ini dia nih ... Struktural tidak, tapi punya suara dan wakil ..... celetuk seorang peserta sidang) ... Tapi nggak apa-apalah .... efisiensi dan efektivitas harus jadi prioritas utama. PS diadakan di Jakarta November 2010 ... dan Konven Pendeta diundurkan ke tahun 2011.

12.54 Palu sidang diserahkan kembali ke MS, menandai tugas Pdt. Martinus Tetelepta, Pdt Ivonne taroreh, Pdt.Julianus Kaimarehe, Penatua Dad Sembodo dan Diaken Inneke Manuputty sebagai Majelis Ketua PST 2009 berakhir sudah..... dan langsung disambung oleh Sambutan Ketum, sekaligus menutup PST 2009..... ”perhatian para peserta yang saya kasihi, .... makan siangnya nanti setelah ibadah penutupan yaaaa, ... ” kata Ketum dengan mesra. Masih ada kata penutup dari Bapak Ketua Panitia, .... saat yang dengan cepat kugunakan untuk keluar dan cari makan karena perut ini sudah tidak bisa kompromi .... dan dibantu oleh Moderator yang panitia, makan siang jadi khusus, karena makan dengan panitia ... hehehehehe .....

Kembali masuk ibadah Penutupan sudah dimulai, yang mana dirangkaikan dengan Ibadah Purna Bakti ”Oppung” Pdt.Siahaan .... (..... rasanya pengen nanya ... pensiun Bapak berapa yaaa? Tapi itu nda' sopan sekali .... nanti saja tunggu bocoran .... biar bisa jadi data buat ngotot dana pensiun dibayar ...). Selamat pak Pendeta .... pergumulan yang panjang masih berlanjut, .... lihat Oom Naza ... masih tetap membina kami semua dengan tulisan-tulisannya ... (walau kadang ada juga yang nekad baca langsung semua ..... hiiiiii.) Di akhir ibadah semua gelisah, ... tapi dimaklumi ... Pkl.15.20 dan sebagian besar belum makan siang, ... termasuk KMJ ku .... yang gelisah dan keringat dingin menahan lapar :)

Ibadah selesai dan Ketum yang jadi PF beserta seluruh anggota MS dan Majelis bertugas serta ”Pdt.Em. ”Oppung” Siahaan menyalami kami dengan senyum lebar .... semua keluar dengan senyum dan lega, karena tugas besar telah selesai babakan pertamanya ... ada babakan Sidang Mupel dan SMJ yang semuanya terangkum menjadi satu tugas besar untuk memasuki Tahun Rahmat Tuhan .... Tahun Pelayanan dan Anggaran 2009-2010.

Dilanjutkan Makan Siang yang antrinya puannnjanggg sekali, .... (nda' makan daku ... karena tadi sudah duluan) .... para peserta kebingungan cari hasil PST. Walau selama Sidang Komisi V sudah di umumkan melalui Slide, bahwa hasil akan dikirim secepat mungkin ke Mupel-Mupel. Sayang sekali .... karena ini membuat hasil kerja panitia yang apik jadi terganggu ... bukan apa-apa, ... ingat komentar Bendahara, bahwa kalau kirim surat ke jemaat-jemaat bisa keluar Rp.7 jutaan, .... wah untuk hasil PST kali ini berapa lagi biaya mesti keluar untuk itu?. PR buat panitia ke depan, ... minimal ada 5 Desktop PC dan 2 Notebook yang selalu harus siap mengelola hasil Komisi-komisi, ..... supaya semua peserta bisa pulang bawa hasil dan langsung gelar Panitia Program di Mupel & Jemaat ... (seperti yang sudah-sudah .... :).

Anyway ... terimakasih atas kerja keras Panitia dan MS serta staffnya ... terimakasih bagi Kristus yang selalu mendampingi mereka.

Pulang

Berencana pulang, tiket kami hari Minggu, berarti masih ada waktu sehari, yang bisa kugunakan menjenguk kakak dan kemenakan di Surabaya, ... tetapi karena ajakan KMJ buat ber-STMJ dengan mantan jemaat di Lawang, menggodaku buat ikut beliau ke kota Malang. Dijemput Pak Sodikin dan anak-anaknya, kami tour d'Batu & d'Malang sejenak, ..... ber STMJ dan dioleh-olehi sekarton kripik tempe ... (lagi) oleh Bu Sodikin .... ternyata KMJ kami di sana akrab disapa ”Pak Tim” ... banyak juga fansnya, .... sampai rebutan minta beliau pimpin di hari Minggu besok ... dan akhirnya dimenangkan Pasuruan. Yaaahhh itulah .... kalau di Jemaat, pelayanannya baik, ... pasti dirindukan, .... tapi kalau di jemaat .... banyak anunya, .... pasti (pura-pura) dirindukan juga.....

Cut .... Langsung ke Airport

Hari Minggu pukul 14.30 aku sudah tiba di Juanda, .... langsung masuk buat melapor di bagian penerbangan ”sabun cuci” lion ... Wings Air maksudnya :( ..... dan confirm, pkl 17.00 berangkat ke Makassar.

Akhirnya bertemu juga dengan rombongan Sultan Batara & Kaltim I, ... ada Penatua Bruce dan Pendeta Marlen dari Bukit Zaitun, Pendeta Yusuf with the winning 14' TV dari Immanuel Pare-pare, Pendeta Persang yang mewakili Mupel, dari Pinrang pendeta istrinya Pak Persang yang bajunya selalu senada dengan sang suami .... ini menandakan Love in Valentine season ya pak ...., dapat Gate 3. Juga ketemu penumpang yang ”mirip” pak pendeta Sihite Ketua I MS, yang ternyata memang beliau .... yang lagi bercakap-cakap dengan seorang ibu yang masih ber-Valentine Day dengan t-shirt pinknya. Ketika semua ngumpul ibu itu menyapa, ”Saya dari Balikpapan pak ...Kaltim I, ... pak pendeta tugas dimana?” ... keki juga rasanya .... soalnya sudah 3 x kena panggil pendeta ... pertama via telepon dari VIP Tournya panitia, kedua waktu pendaftaran dan ... eh si ibu lagi ... dan dengan (harus) senyum menjelaskan bahwa saya adalah dari PDS .... bukan Partai damai Sejahtera lho ... tapi Penatua Dan Sekertaris I di jemaat kami..... akhirnya kami terlibat percakapan akrab karena pernah di Balikpapan dulu .... ada juga pendeta Heru Ketua Mupel Kaltim I dan beberapa rekan lain ..... sayang mereka tidak di delayed seperti kami sehingga percakapan terputus .... Gate 4 buat penerbangan ke Bpp harus boarding ... hehehehe rasanya ingin di delayed bareng biar adil dan rame. Belakangan setelah di Makassar akhirnya tahu juga bahwa si ibu yang satu ini ternyata anggota mailing listnya kita juga dengan aktivitas yang luar biasa banyaknya di Mupel, Jemaat dan di masyarakat.

Masuk ke ruang boarding, ngobrol panjang dengan Ketua I yang juga bertujuan ke Makassar untuk menghadiri Sidang MPL-PGI, yang dengan bijaknya memberi bekal kepada kami untuk memahami perkembangan GPIB sekarang ini, .... membuka wawasan kami khususnya diriku, mengenai pelayanan dan bagi kajian-kajian yang harus dibuat di jemaat maupun di Mupel .... sangat berharga ... bayangkan saja, ketika tiba di PST, rasanya cukup pintar ... mengikuti PST membuatku merasa tidak pintar lagi dan masih banyak kurangnya .... lalu ketika selesai dan pulang dengan perasaan cukup pintar, ... dibuat merasa tidak cukup pintar lagi oleh Ketua I kita, ... artinya aku bersyukur ... karena masih memperkenankan diri di isi oleh yang lebih berisi .... lumayan .. sudah berkurang kepala batunya.

Beliau dengan lugas mendorong kami untuk senantiasa memikirkan, merancang, membuat dan menjalankan program dengan memperhatikan landasan Teologis, landasan Konstitusional dan landasan Operasional yang jelas .... dan banyak percakapan ”lain” yang sebaiknya tidak diceritakan di sini .... (hmmmm penasaran yaaaaaa).

Setelah dapet roti dan air .... (kata Lion Air biar nggak kesal menunggu) ... akhirnya kami diberangkatkan juga setelah delayed 2 jam ... dan 20.30 waktu Makassar kami mendarat dengan selamat dan baik di Airport Internasional Hasanuddin Makassar .... (bagi yang belum lihat .... megahnya kayak Cengkareng .... Juanda kalah lhooo).

Catatan ini harus berakhir ... karena yang tulis sudah capek dan juga karena sebentar lagi Mupel Sultan Batara akan bersidang, ya pada 12-14 Maret 2009 di Immanuel Bau-Bau Sulawesi Tenggara .... sampai jumpa di PST berikut (kalau terpilih mewakili Mupel) dan di PS (kalau masih PHMJ ... hehehehe) .... sampai jumpa di medan pelayanan ...... Kristus bersama kita semua.

ITT - 27 Februari 2009