Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri

Thursday, November 24, 2022

2 Yohanes 1:1-8

Perikop LAI: Salam (2 Yoh 1:1-3) - Tetaplah di dalam Ajaran Kristus (2 Yoh 1:4-11)

1:1 Dari penatua kepada Ibu yang terpilih dan anak-anaknya yang benar-benar aku kasihi. Bukan aku saja yang mengasihi kamu, tetapi juga semua orang yang telah mengenal kebenaran,
1:2 oleh karena kebenaran yang tetap di dalam kita dan yang akan menyertai kita sampai selama-lamanya.
1:3 Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Yesus Kristus, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih.
1:4 Aku sangat bersukacita, bahwa aku mendapati, bahwa separuh dari anak-anakmu hidup dalam kebenaran sesuai dengan perintah yang telah kita terima dari Bapa.
1:5 Dan sekarang aku minta kepadamu, Ibu -- bukan seolah-olah aku menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut perintah yang sudah ada pada kita dari mulanya -- supaya kita saling mengasihi.
1:6 Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya.
1:7 Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.
1:8 Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya.

PENGANTAR

Surat Yohanes yang kedua  ini ditulis oleh "pemimpin jemaat" kepada "Ibu yang  dipilih oleh Allah" dan kepada anak-anaknya yang dicintai. Mungkin yang dimaksud dengan "Ibu dan anak-anaknya" ialah  sebuah jemaat dan anggota-anggotanya. Dalam suratnya yang pendek ini, penulis surat ini meminta dua hal kepada pembacanya. Pertama, supaya mereka mengasihi satu sama lain. Kedua, supaya mereka waspada terhadap guru-guru palsu dan ajaran-ajaran guru-guru itu.  

Isi 2 Yohanes

  1.   Pendahuluan 1-3
  2.   Pentingnya kasih 4-6 
  3.   Peringatan terhadap ajaran-ajaran yang salah 7-11 
  4.   Penutup 12-13  

URAIAN

1. Hidup dalam Kebenaran

Dalam 2 Yohanes 1:4, dikatakan: “Aku sangat bersukacita, bahwa aku mendapati, bahwa separuh dari anak-anakmu hidup dalam kebenaran sesuai dengan perintah yang telah kita terima dari Bapa.”

Melalui ayat ini, kita menlihat bahwa Rasul Yohanes memberikan pujian kepada ibu yang membuat dirinya sangat bersukacita. Ia mengatakan bahwa ibu yang terpilih dan anak-anaknya hidup dalam kebenaran. Mereka hidup benar sesuai dengan perintah yang telah diterima dari Allah Bapa. Sungguh. Rasul Yohanes sangat menghormati dan menghargai ibu yang berhasil membawa anak-anak mengikuti jejak ibunya yang takut akan Tuhan. Rasul Yohanes sangat bersukacita karena melihat ibu yang terpilih itu dapat mendidik, mengajar, menasihati anak-anak untuk beribadah, berdoa, mengucap syukur, memuji, menyembah, memuliakan, memberi persembahan dan melayani Firman-Nya dengan penuh rasa takut akan Tuhan.

Sudahkah kita hidup dalam kebenaran?

2.  Hidup saling Mengasihi

Dengan sangat hormat Rasul Yohanes meminta kepada ibu yang terpilih supaya saling mengasihi. Permintaan untuk saling mengasihi kepada ibu tersebut, menurut Rasul Yohanes, bukanlah merupakan suatu perintah baru. Perintah saling mengasihi itu, sesungguhnya merupakan perintah Allah dari mulanya.

Beginilah bunyi Firman Tuhan dalam Surat 2 Yohanes 1:5: “Dan sekarang aku minta kepadamu, Ibu — bukan seolah-olah aku menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut perintah yang sudah ada pada kita dari mulanya — supaya kita saling mengasihi.”

Rasul Yohanes yang juga penulis Kitab Injil Yohanes merekam Firman Tuhan dalam Kitab Injil Yohanes 13:34 = “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Ia juga merekam Firman-Nya dalam Kitab Injil Yohanes 15:12 = “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.”

Ya, memang benar! Saling mengasihi bukanlah suatu perintah baru dari Rasul Yohanes. Melainkan merupakan perintah Tuhan Yesus. Tuhan Yesus memerintahkan kita untuk saling mengasihi, karena Dia sudah lebih dulu mengasihi kita.

Sudahkah kita sebagai Jemaat Tuhan hidup taat sesuai perintah Yesus Kristus dalam saling mengasihi?

3. Hidup di dalam Kasih

Sejatinya, di dunia ini tidak ada hidup dan kehidupan yang lebih indah dan bahagia daripada hidup di dalam kasih. Hidup di dalam kasih adalah melebihi segalanya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang merindukan hidup dalam dendam, dengki, iri hati, perdebatan, perbantahan, perselisihan, pertengkaran dan permusuhan.

Dikatakan dalam 2 Yohanes 1:6 = “Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya.” Melalui ayat ini, Rasul Yohanes menekankan bahwa kasih itu adalah harus hidup menurut perintah-Nya. Dan secara tersirat, perintah itu adalah bahwa kita harus hidup tekun hidup dalam Kasih.

Sudahkah kita melakukan perintah-Nya dan hidup dalam Kasih?

4. Penyesat dan antikristus

Sejak dua ribu tahun yang lalu, para penyesat dan antikristus sudah berupaya menolak dan menentang ajaran Tuhan. Mereka tidak suka apabila banyak orang yang datang dan percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Mesias, Penebus dan Juru Selamat manusia berdosa, termasuk kita dan semua orang yang percaya kepada-Nya.

2 Yohanes 1:7 = “Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.”

Oleh sebab itu, Rasul Yohanes menasihati ibu yang terpilih dan anak-anaknya supaya waspada. Supaya mereka mereka tidak kehilangan kasih setia dan kasih karunia-Nya. Supaya mereka tidak kehilangan Injil Tuhan yang membawa sukacita dan damai sejahtera. Tetapi sebaliknya, mereka akan memperoleh upah besar. 2 Yohanes 1:8: “Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya.”

Mampukah kita mengenal dan menolak serta waspada terhadap si penyesat dan antikristus?

APLIKASI

Mari kita akhiri bacaan kita hari ini, dengan membaca tuntas serta membaca bersama secara perlahan untuk mendapatkan simpulan seluruh Kitab 2 Yohanes;

2 Yoh 1:9-13

1:9 Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak.
1:10 Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya.
1:11 Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat.
1:12 Sungguhpun banyak yang harus kutulis kepadamu, aku tidak mau melakukannya dengan kertas dan tinta, tetapi aku berharap datang sendiri kepadamu dan berbicara berhadapan muka dengan kamu, supaya sempurnalah sukacita kita.
1:13 Salam kepada kamu dari anak-anak saudaramu yang terpilih.

Dari bacaan di seluruh kitab 2 Yohanes ini kita mendapatkan benang merah tanpa keraguan, bahwa penulis kitab ini walaupun tidak menyebutkan nama adalah Rasul Yohanes, dan bahwa Yohanes yang sama ini, telah mengangkatnya dalam tema-tema Injilnya, yaitu di;

1. Tema Kebenaran: Yohanes 14:6 = Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

2. Tema Kasih: Yohanes 3:16 = Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

3. Tema Kasih yang menuntun kepada ketaatan: Yohanes 15:9-17 = 9 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. 10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. 11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. 12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. 13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. 14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. 15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. 16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. 17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.

........ Amin

ITT - Jakarta, Kamis 24 November 2022

Monday, November 21, 2022

Galatia 5:1-5

Perikop LAI : Kemerdekaan Kristen (Gal 5:1-15)

5:1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.
5:2 Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.
5:3 Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat.
5:4 Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.
5:5 Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan.

PENGANTAR

Surat Galatia ditulis oleh Paulus. Ini salah satu surat Paulus yang pertama, di dalam pelayanan misinya yang pertama, yaitu sekitar tahun 48-an, masih pada masa ‘Gereja mula-mula’. Jemaat Galatia sendiri adalah jemaat yang didirikan oleh Paulus. Kurang lebih 1-2 tahun sebelumnya, Paulus pergi ke Galatia menginjili dan banyak orang bertobat, kemudian dia tinggalkan untuk pergi ke tempat lain lagi; dan sekarang, mendengar kabar di sana, barulah Paulus menulis surat ini.

Posisi Galatia adalah di sebelah selatan Turki yang sekarang. Pada saat itu, kota Galatia ada di bawah kekuasaan kerajaan Romawi yang menguasai dunia waktu itu, dengan kaisarnya Kaisar Cladius. Penduduk Galatia sendiri beragam/heterogen dari berbagai macam orang, dan secara penyembahan juga banyak dewa-dewanya. Penduduk setempat memiliki dewanya sendiri, para pendatang juga membawa dewa-dewa mereka sendiri untuk disembah, bahkan ada juga yang menyembah Kaisar Claudius sebagai dewanya karena dia membawa euangelion/kabar keselamatan untuk mereka. Orang-orang Yahudi diaspora juga ada yang tinggal di sana, jumlahnya cukup banyak meski tetap saja minoritas, dan secara khusus mereka tetap dengan keyahudiannya.  Mereka mendirikan sinagoge untuk beribadah yang letaknya selalu di pinggiran, karena mereka tidak diperhitungkan sebagai orang-orang istimewa. Di dalam konteks inilah Paulus melayani. Dimulai dengan menginjili orang-orang Yahudi terlebih dahulu, sampai akhirnya Injil masuk juga kepada gentiles dan banyak dari antara mereka yang bertobat, sehingga orang-orang Kristen di sana bukan cuma terdiri dari orang Yahudi tapi juga orang Yunani. 

Tadinya orang-orang di situ mengenal suku Yahudi dengan keagamaan Yahudi-nya, lalu sekarang ada satu orang bernama Paulus yang datang membawa euangelion versi lain. Di dalam kabar baik yang dibawanya itu, dia membawa sebuah proyek yang digadang-gadangnya. Proyek apakah yang diberitakan oleh Paulus? Satu istilah yang berkali-kali muncul di dalam surat Paulus, seperti juga di dalam surat Efesus dan surat Roma, istilah yang sama juga muncul di surat Galatia, dan inilah pola yang selalu dipakai Paulus di dalam motif penginjilannya, yaitu dia membawa proyek ‘pembangunan’. Proyek pembangunan apa? Bukan pembangunan dengan tembok dan batu, melainkan satu proyek yang boleh dikata sangat provokatif terhadap kerajaan Romawi, yaitu membangun Kerajaan Allah, bukan dengan batu seperti benteng-benteng besar, tapi membangun Kerajaan Allah dengan manusia. Inilah proyek yang ditawarkan Paulus; dan di dalam beritanya, Paulus mengatakan bahwa hanya ada satu Tuhan.

Dalam konteks zaman itu, mereka tahunya satu Tuhan dalam pengertian monoteis yang hanya ada pada orang Yahudi, sementara sekarang Paulus memberitakan hanya ada satu Tuhan juga, tapi berbeda. Apa yang jadi perbedaan? Yaitu bahwa Tuhan yang dikatakan oleh Paulus, adalah Tuhan dari seluruh alam semesta, Pencipta alam semesta yang berencana dan berdaulat atas seluruh dunia; dan yang paling indah, yang jadi kontras dengan agama Yahudi, bahwa rencana kekal Tuhan atas dunia ini digenapi dengan kedatangan Yesus Kristus, Dia adalah Raja di atas segala raja.

Setelah Kabar Baik tentang Yesus mulai diberitakan dan diterima di antara orang-orang bukan Yahudi, timbullah pertanyaan apakah untuk menjadi seorang Kristen yang sejati orang harus mentaati hukum agama Yahudi. Paulus mengemukakan bahwa hal; tidak perlu -- bahwa sesungguhnya satu-satunya dasar yang baik untuk kehidupan Kristen adalah percaya kepada Kristus. Dengan kepercayaan itu hubungan manusia dengan Allah menjadi baik kembali. Tetapi orang-orang yang menentang Paulus telah datang ke jemaat-jemaat di Galatia, yaitu sebuah provinsi Roma di Asia Kecil. Mereka berpendapat bahwa untuk berbaik kembali dengan Allah, orang harus melaksanakan hukum agama Yahudi. 

Surat Paulus Kepada Jemaat-jemaat di Galatia  ini ditulis untuk menolong orang-orang yang telah disesatkan oleh ajaran-ajaran salah itu, supaya mereka kembali taat kepada  ajaran yang benar. Paulus mulai dengan mengatakan bahwa ia berhak  disebut rasul Yesus Kristus. Dengan tegas Paulus mengatakan bahwa  panggilannya untuk menjadi rasul berasal dari Allah, bukan dari  manusia. Juga bahwa tugasnya ditujukan terutama sekali kepada  orang bukan Yahudi (Pasal 1-2). Setelah itu Paulus membentangkan pendiriannya bahwa hubungan manusia dengan Allah menjadi baik  kembali hanya melalui percaya kepada Allah (Pasal 3-4). Di dalam pasal-pasal terakhir buku ini (Pasal 5-6), Paulus menunjukkan bahwa cinta kasih yang timbul pada diri orang Kristen karena ia percaya  kepada Kristus, akan dengan sendirinya menyebabkan orang itu  melakukan perbuatan-perbuatan Kristen.  

Isi Kitab Galatia

  1.   Pendahuluan 1:1-10 
  2.   Hak Paulus sebagai rasul 1:11--2:21 
  3.   Kabar Baik tentang rahmat Allah 3:1--4:31 
  4.   Kebebasan dan kewajiban orang Kristen 5:1--6:10 ==> Bagian bacaan ini
  5.   Penutup 6:11-18 

ILUSTRASI

Penulis memakai pendekatan ilustrasi untuk menguraikan pola pikir Rasul Paulus supaya lebih mudah sedikit kita cerna.

Sewaktu bermain dengan putri kami yang berusia 7 tahun, terkadang untuk menghentikan ia bermain dengan sekeranjang mainannya memerlukan usaha yang cukup alot. Apalagi kalau kalimat; "Anne, sudah waktunya berhenti bermain, kumpulkan mainannya di keranjang mainannya ya"

Sebagai ayahnya, saya punya 2 pilihan untuk si Anne kecil,

  1. "Anne, masukkan sekarang juga mainannya atau Anne akan kena hukum dari Papi", atau
  2. "Anne, ayo masukkan mainannya bersama Papi ya"

Kalau pilihan pertama kami terapkan, tetap saja si Anne kecil akan mengumpulkan mainannya sesegera mungkin, tapi dengan kening berkerut dan bibir yang cemberut serta wajah kesal, karena ia merasa seperti diperintah dengan ancaman. Sedangkan pilihan kedua, akan lebih menyenangkan, karena ia merasa bebas dan senang karena toh masih dibantu Papinya. Tentu saja si Anne kecil tahu, bahwa kalau tidak mengumpulkan mainannya, ia akan dihukum, tetapi pilihan kedua masih cukup menyenangkan, karena Papinya ada dan turut serta membantu dia.

Demikian pula ada pilihan bagi saya ayahnya;

  1. Saya dapat membuatnya sendiri melaksanakan perintah dan mengancam bahwa hukuman akan saya jatuhkan,
  2. Atau saya bisa turun membantunya dan mengubah suasananya menjadi lebih menyenangkan.

Menarik, karena cara pertama akan menghasilkan anak-anak perbudakan, cara kedua akan melahirkan anak-anak kebebasan (Galatia 4:21-31 dalam Perikop LAI: Hagar dan Sara), yang kuncinya adalah kemerdekaan, dimana Tuhan Allah turun untuk membantu kita melakukan apa yang Dia minta dan apakah kita hidup oleh iman dalam karya kasih karunia itu.

URAIAN & APLIKASI

Dari Ilustrasi di atas, kita akan beroleh gambaran bacaan hari ini dari ayat 1 sampai kesimpulannya di ayat 5. Gambaran itu meliputi;

1. Bahwa kemerdekaan manusia itu sangat penting di mata Tuhan.

Teks ini dimulai dengan pernyataan yang jelas dan menyegarkan tentang kehendak Kristus bagi hidup kita (5:1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.) KBBI, Kuk = kuk1 n kayu lengkung yang dipasang di tengkuk kerbau (lembu) untuk menarik bajak (pedati dan sebagainya). Dari sini kita dapat menyimpulkan jelas, bahwa kemerdekaan dari perhambaan ini adalah sesuatu yang sangat sangat penting bagi Tuhan untuk kita. Untuk ini Kristus datang, disalibkan, mati dan meninggalkan Roh Kudus bagi kita, sehingga bukan lagi teori dan hukuman, tapi praktek nyata kasih dinyatakan bagi manusia.

2. Bahwa kemerdekaan itu, sama sekali bukan mengabaikan Hukum Taurat.

Kalau pada Gal 5:2 dst, Rasul Paulus menegur orang Kristen yang mau kembali kepada hukum sunat sebagai syarat keselamatan, bukan melalui anugerah dengan iman kepada Kristus maka sebaliknya Paulus pada Galatia 5:13 =  Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. (Perhatikan bahwa bacaan masih dalam perikop yang sama) - maka kita jangan terjebak pada pendapat bahwa kita boleh mengabaikan Hukum Taurat. Kalau membaca sekilas dan sepotong saja tanpa memahami secara menyeluruh, maka banyak orang yang berpikir kalau kita bebas dari hukum berarti tidak lagi bertanggung jawab mentaati perintah-perintah moral dari Allah. Kalau begitu apakah arti merdeka dari hukum Taurat? 

a. Artinya adalah: "merdeka atau bebas dari berusaha untuk mendapatkan keselamatan melalui hanya melakukan hukum Taurat.". 
b. Artinya adalah: "merdeka dari berusaha  untuk berusaha mempertahankan standar kekudusan Allah tanpa pertolongan Tuhan.

Masih bingung? Kita kembali ke Ilustrasi si Anne kecil tadi, bahwa ia tetap melakukan perintah, hanya kali ini dengan kemerdekaan penuh dan dengan pertolongan ayah-nya. Dengan kata lain, kita tetap tunduk pada perintah Allah, bukan hanya dengan melaksanakan hukum-hukum-Nya, tapi dengan kemerdekaan penuh oleh pertolongan-Nya sendiri.

Peringatan: Berhati-hati terhadap ajaran bahwa kita tidak lagi perlu Hukum Taurat. Mari bandingkan dengan perkataan Tuhan Yesus di Matius 5:17-19 = 5:17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

Khusus untuk topik apakah hukum Taurat masih berlaku bagi orang Kristen akan kita bahas dalam tulisan di lain kesempatan. 

3. Bahwa Kemerdekaan Bergantung pada Kasih Karunia.

Sekarang Gal 5:4 = Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia., memperingatkan kita untuk berdiri teguh dalam kebebasan dan tidak tunduk pada kuk perbudakan. Jadi, apa yang diajarkan ayat ini adalah bahwa pengalaman kebebasan/kemerdekaan, termasuk kebebasan/kemerdekaan hidup yang kekal, hanya dapat dinikmati jika kita bergantung pada Kasih Karunia Kristus. Perbudakan adalah apa yang terjadi ketika kita jatuh dari kuasa kasih karunia. Kunci kebebasan/kemerdekaan adalah tetap bergantung pada kasih karunia ini, yaitu apa yang diajarkan Tuhan Yesus dalam kasih adalah upaya penyelamatan dan pemeliharaan Tuhan dalam hidup kita. Kita bebas ketika Tuhan dengan bebas datang untuk membantu kita dan kita dengan sukacita mempercayai bantuan-Nya.

4. Bahwa Bagaimana Pengikut Kristus menunggu akhir zaman..

Gal 5:5 = Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan. Itulah gambaran Rasul Paulus bagi kita orang percaya yang menyongsong akhir zaman. Jadi meskipun ada keyakinan penuh bahwa kita sudah dibenarkan oleh iman di dalam Kristus dan mengenakan kebenaran-Nya (Roma 5:1 = Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.; 1 Korintus 1:30 = Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.), penghakiman terakhir ada di hadapan kita di mana keputusan akhir akan terungkap. Inilah harapan yang kita tunggu dan dambakan. Tapi bukankah begitu pula dengan kaum Yahudi? Pertanyaannya adalah bagaimana kita menantikan kebenaran: sebagai orang merdeka yang bebas atau sebagai budak?

........ Amin

ITT - Jakarta, Senin 21 November 2022 

Friday, November 18, 2022

Galatia 3:15-22

Perikop LAI: Hukum Taurat atau janji (Gal 3:15-29)

3:15 Saudara-saudara, baiklah kupergunakan suatu contoh dari hidup sehari-hari. Suatu wasiat yang telah disahkan, sekalipun ia dari manusia, tidak dapat dibatalkan atau ditambahi oleh seorang pun.
3:16 Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus.
3:17 Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya.
3:18 Sebab, jikalau apa yang ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, ia tidak berasal dari janji; tetapi justru oleh janjilah Allah telah menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada Abraham.
3:19 Kalau demikian, apakah maksudnya hukum Taurat? Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran -- sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu -- dan ia disampaikan dengan perantaraan malaikat-malaikat ke dalam tangan seorang pengantara.
3:20 Seorang pengantara bukan hanya mewakili satu orang saja, sedangkan Allah adalah satu.
3:21 Kalau demikian, bertentangankah hukum Taurat dengan janji-janji Allah? Sekali-kali tidak. Sebab andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, maka memang kebenaran berasal dari hukum Taurat.
3:22 Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya.

PENGANTAR

Setelah Kabar Baik tentang Yesus mulai diberitakan dan diterima di antara orang-orang bukan Yahudi, timbullah pertanyaan apakah untuk menjadi seorang Kristen yang sejati orang harus mentaati hukum agama Yahudi. Paulus mengemukakan bahwa hal; tidak perlu -- bahwa sesungguhnya satu-satunya dasar yang baik untuk kehidupan Kristen adalah percaya kepada Kristus. Dengan kepercayaan itu hubungan manusia dengan Allah menjadi baik kembali. Tetapi orang-orang yang menentang Paulus telah datang ke jemaat-jemaat di Galatia, yaitu sebuah provinsi Roma di Asia Kecil. Mereka berpendapat bahwa untuk berbaik kembali dengan Allah, orang harus melaksanakan hukum agama Yahudi. 

Surat Paulus Kepada Jemaat-jemaat di Galatia  ini ditulis untuk menolong orang-orang yang telah disesatkan oleh ajaran-ajaran salah itu, supaya mereka kembali taat kepada  ajaran yang benar. Paulus mulai dengan mengatakan bahwa ia berhak  disebut rasul Yesus Kristus. Dengan tegas Paulus mengatakan bahwa  panggilannya untuk menjadi rasul berasal dari Allah, bukan dari  manusia. Juga bahwa tugasnya ditujukan terutama sekali kepada  orang bukan Yahudi (Pasal 1-2). Setelah itu Paulus membentangkan pendiriannya bahwa hubungan manusia dengan Allah menjadi baik  kembali hanya melalui percaya kepada Allah (Pasal 3-4). Di dalam pasal-pasal terakhir buku ini (Pasal 5-6), Paulus menunjukkan bahwa cinta kasih yang timbul pada diri orang Kristen karena ia percaya  kepada Kristus, akan dengan sendirinya menyebabkan orang itu  melakukan perbuatan-perbuatan Kristen.  

Isi Kitab Galatia

  1.   Pendahuluan 1:1-10 
  2.   Hak Paulus sebagai rasul 1:11--2:21 
  3.   Kabar Baik tentang rahmat Allah 3:1--4:31 ==> Bagian bacaan ini
  4.   Kebebasan dan kewajiban orang Kristen 5:1--6:10 
  5.   Penutup 6:11-18 

LATAR BELAKANG & KESIMPULAN AWAL

Rasul Paulus (dikalangan Yahudi dikenal sebagai Rabbi Saul) adalah murid dari ahli Taurat terkenal: Rabban Gamaliel yang juga kepala dari Sidang Sanhedrin (gelar Rabban adalah gelar yang lebih tinggi dari Rabbi (guru), karena sudah sangat menguasai Taurat dengan setiap pengertiannya per kata dan kalimat). Maka, Rasul Paulus paham betul Taurat itu isinya bagaimana. Dia membaca Taurat dengan cara yang seperti kita kenal sebagaimana para rabbi membaca Taurat, dimana mereka membaca ayat per ayat dengan satu-persatu kata-katanya diteliti. Itulah sebabnya para ahli Taurat disebut juga "Shoferim" (para penghitung aksara dari naskah Tanakh. Tanakh terdiri dari;

  1. 5 kitab Musa/Taurat, 
  2. Kitab nabi-nabi/Neviim, 
  3. dan tulisan-tulisan/Ketuvim.).

Dan Dalam Galatia Pasal 3 ini, Rasul Paulus menjelaskan dengan cara pendalaman itu. Ia menemukan satu kata dengan cara "melakukan penguraian ayat Taurat" dan fokusnya adalah pada kata "keturunanmu" (yang bermakna tunggal) di Kejadian 12:7 = Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu." Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. dan di Kejadian 22:18 = Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku." -  dan Rasul Paulus menarik kesimpulan berani, bahwa bahwa Allah sedang berbicara mengenai Sang Mesias yang akan lahir dari garis Abraham.

Perkiraan Rentang Waktu Perjanjian Lama dari Berbagai Sumber

Demikian juga benang merah itu dikuatkan oleh kesaksian Yohanes pembaptis di Yoh 1:17 = "Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus" dan dikunci oleh Tuhan Yesus sendiri di Yoh 8:56 & 58 = 8:56 Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita." 8:58 Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.

Dari Latar Belakang dan Kesimpulan Awal ini, baru kita akan mulai menguraikan bacaan hari ini, supaya memudahkan mengerti pengajaran Rasul Paulus yang terkadang terasa agak sulit untuk kita pahami.

 URAIAN

Sebelum bacaan ini, Rasul Paulus menuliskan bahwa orang bukan Yahudi tidak perlu disunat karena mereka telah menerima Roh oleh iman dan Roh itu adalah tanda bahwa mereka milik umat Allah (Gal 3:1-5). Iman adalah satu-satunya syarat untuk menjadi milik keluarga Tuhan; iman menjadikan mereka anak-anak rohani Abraham (Gal 3:6-9). Dia memperingatkan mereka bahwa hukum atau perbuatan kebenaran menempatkan seseorang di bawah kutuk dan iman di dalam Kristus menebus mereka dari kutuk hukum (Gal 3:10-14).

Selanjutnya, dalam bacaan kita hari ini, Rasul Paulus menggambarkan hubungan antara janji dan hukum. Hukum tidak menggantikan janji tetapi bahwa tujuan hukum adalah untuk menyingkapkan keberdosaan dosa dan kebutuhan kita akan Juruselamat.

Prioritas Janji (ayat 15-18)

Janji didasarkan pada Perjanjian Abraham

Rasul Paulus mulai dengan memberikan contoh hidup sehari-hari untuk menunjukkan bagaimana sifat perjanjian itu. Ia mengemukakan hal ini, karena kaum Yudais mengatakan bahwa perjanjian Musa adalah wahyu terakhir dan mengalahkan Perjanjian Abraham. Galatia 1 menunjukkan bahwa ada ajaran yang menyimpang dari ajaran Kristus, demikian juga dengan ajaran bahwa untuk dibenarkan di hadapan Allah seseorang harus menambahkan 'perbuatan hukum Taurat' kepada iman. Padahal dengan melakukan itu mereka mengubah sifat dasar Perjanjian Abraham. Paulus menguraikan bahwa, manusia saja dalam perjanjian bersifat mengikat dan tidak berubah, apalagi perjanjian yang dibuat oleh Allah. Satu-satunya syarat yang dituntut oleh perjanjian Abraham adalah iman (Kej 12:1-3 = 12:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; 12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. 12:3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.").

Perjanjian ini menunjuk pada apa yang Allah janjikan untuk dilakukan atas nama Abraham dan keturunannya. Fakta menarik dari catatan penulis, bahwa ketika Abraham mencoba melakukan sesuatu dengan caranya sendiri, mencoba memenuhi janji Allah dengan tidur dengan pelayannya untuk mendapatkan keturunan, ia mengacaukan segalanya. Abraham tidak meyakini benar akan janji Tuhan dan berakhir dengan seorang putra dari hambanya Hagar, yang sampai sekarang masih jadi masalah utama di Timur Tengah.

Janji digenapi di dalam Yesus Kristus

Rasul Paulus menafsirkan Perjanjian Abraham melalui mata Perjanjian Baru, melihat Kristus sebagai penggenapan keturunan Abraham. Paulus melihat janji-janji yang dibuat kepada Abraham bukan saja dipenuhi sebagian dengan anak-anak fisik Abraham dan tanah Kanaan, tetapi janji itu menunjuk pada sesuatu yang lebih besar - karena janji itu adalah untuk semua keluarga di bumi dan warisan negeri itu - lebih dari sekadar tanah Kanaan. Paulus melihat penggenapan akhir dari keturunan Abraham menjelma dalam Yesus Kristus, dan semua keluarga di bumi diberkati sebagaimana Injil disampaikan kepada semua bangsa dan penggenapan akhirnya adalah langit baru dan bumi baru. Paulus melihat Perjanjian Abraham digenapi di dalam kita, anak-anak rohani Abraham.

Tujuan Hukum (ayat 19-22)

Paulus kemudian mengajukan dua pertanyaan yang diajukan oleh pemahamannya tentang hukum, dengan jawaban yang tegas dan jelas. Bahwa;

  1. Hukum Taurat ditambahkan karena pelanggaran-pelanggaran, sampai datang keturunan dimaksud yaitu Yesus Kristus
  2. Hukum Taurat tidak bertentangan dengan janji-janji Allah. Karena Hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Tuhan Yesus datang (dijelaskan kemudian di ayat 24)

APLIKASI

Kesimpulan akhir dari bacaan dan bahasan kita hari ini dapat kita baca dalam lanjutan bacaan dari perikop yang sama, mari baca bersama secara perlahan dan lambat untuk mendalami dan menguraikan pengertiannya

Galatia 3:23-29

3:23 Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan.
3:24 Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.
3:25 Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.
3:26 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.
3:27 Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.
3:28 Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.
3:29 Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah

Sehingga kita dapat memahami bahwa;

1. Kasih karunia Allah yg berdasarkan janji tanpa syarat lebih kuat dari perjanjian hukum Taurat Musa yg menuntut syarat.
Sebelum Abraham, Nuh adalah salah satu tokoh iman yg menerima kasih karunia sehingga dia dan keluarganya tidak binasa oleh air bah dan perjanjian Allah dengan Nuh (pasca air bah) adalah perjanjian kekal tanpa syarat yang menjadi Jaminan Kekal kelangsungan kehidupan segala makhluk hidup bumi. (Kej.9:8-17)
Demikian juga dengan perjanjian yg diadakan dari pihak Allah kpd Abraham yg percaya oleh iman dan menerima kasih karunia. Inilah perjanjian kekal mengenai 'KETURUNAN ABRAHAM' yg akan menjadi berkat bagi segala bangsa dibumi. Perjanjian tanpa syarat yang memiliki Jaminan Kekal bagi segala bangsa atas dasar kasih karunia dan yang tidak bisa dibatalkan oleh perjanjian bersyarat antara Allah dan Musa yg mengandung tuntutan dan hukuman.
2. Kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus adalah indah adanya, tanpa syarat dan ketentuan apapun yang berlaku.
Sesuai dengan Firman-Nya di Matius 11:28-30 = 11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.  11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. 11:30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."

........ AMIN

Catatan Penulis:

Sebentar lagi kita akan masuk masa Advent pertama, yang oleh tradisi gereja GPIB dipahami sebagai ‘kedatangan.’
Masa Advent (latin: Adventus), adalah merupakan masa penyadaran diri dan pertobatan. Manusia yang jatuh ke dalam dosa mengharapkan perjanjian ALLAH tentang datangnya YESUS KRISTUS sebagai Juruselamat. Masa Adventus juga bersifat eskatologis (studi tentang akhir zaman) yang menunjuk kepada kedatangan KRISTUS kembali. Adventus dirayakan 4 minggu berturut-turut sebelum Natal.
Simbol Minggu Advent, seperti terdapat pada kain mimbar dan stola GPIB, adalah Jangkar – Salib dengan warna dasar Ungu muda.
  • Warna dasar: Ungu Muda (warna pertobatan)
  • Lambang/Logo: Salib jangkar
  • Warna jangkar: kuning
Arti :
Salib jangkar ini dipergunakan oleh orang Kristen mula-mula yang tinggal di Katakombe-katakombe (ruang-ruang bawah tanah/kuburan bawah tanah). Sebenarnya lambang ini merupakan warisan dari bangsa Mesir kuno, namun di kemudian hari ia menjadi lambang universal yang menunjuk pada penderitaan Kristus. Di sini lambang salib jangkar hendak berkata-kata tentang pengharapan yang dimiliki oleh umat percaya di dalam penantian akan kedatangan Kristus kembali.

Dalam pengertian pendalaman penulis, masa Advent sendiri disamping menyiratkan makna penyadaran diri dan pertobatan yang dianut GPIB, penulis memaknainya lebih dalam bahwa masa Advent merupakan peringatan akan 3 masa, dahulu - sekarang - masa depan;


  1. Dahulu - Peringatan akan kedatangan Kristus yang pertama di dunia, 
  2. Sekarang - Kehadiran Yesus Kristus yang tidak pernah putus di tengah umat manusia. walaupun Ia naik telah ke Surga, dalam Roh Kudus dan ajaran Injil-Nya.
  3. Masa Depan - Penantian akan kedatangan-Nya kembali di akhir zaman.
ITT - Jakarta,  Jumat 18 November 2022