Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri

Friday, April 3, 2009

Yesaya 53:5-7


53:5 Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

53:6 Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

53:7 Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya

Menghamba & Mengabdi

Ide tentang Domba korban itu bukan sesuatu yang baru. Banyak orang bahkan pernah menyaksikan sekumpulan domba atau kambing sedang dipersiapkan untuk dijadikan korban.

*Mengapa Mempersembahkan Korban?*

Banyak pemimpin agama mengajar umat mereka untuk mempersembahkan korban. Namun sering kali tidak mengajarkan alasan dan tujuan dalam mempersembahkan korban. Akhirnya, mereka menghasilkan umat yang hanya sekedar menurut saja, tanpa memahami makna perbuatan mereka sendiri

Sesungguhnya domba korban diperlukan manusia setelah umat manusia jatuh ke dalam dosa. Allah pencipta langit dan bumi adalah Allah yang maha suci, yang tidak bisa berkompromi dengan dosa atau kejahatan, yang sekecil apapun.

Sebagai contoh, kalau seseorang tertangkap mencuri sesuatu, maka ia akan dijatuhkan hukuman terkurung di dalam penjara untuk suatu jangka waktu. Setelah ia menjalankan penghukumannya, maka hutang dosanya telah terlunaskan di hadapan hukum. Demikian juga prinsip hukum Tuhan berlaku. Prinsip tata-hukum manusia itu pada hakekatnya berasal dari prinsip tata-hukum Tuhan. Karena Tuhanlah yang memberikan akal budi kepada manusia.

Allah telah menetapkan untuk memakai domba sebagai gambaran tentang Sang Penyelamat yang akan dijadikan korban penghapus dosa. Allah tidak memilih babi, anjing maupun ayam, apa lagi sayur-sayuran. Apa makna dibalik ketetapan untuk memakai domba sebagai binatang korban?

Tentu karena domba memiliki sifat-sifat khusus yang cocok untuk melambangkan Sang Penyelamat yang akan diutus. Dan, keadaan domba yang tak bercacat melambangkan kesucian. Kalau tidak melambangkan sesuatu, berarti binatang apa saja bisa dijadikan korban, sesuai dengan apa yang dimiliki oleh seseorang. Domba yang tak bercacat itu melambangkan bahwa Penyelamat yang akan datang untuk menyelamatkan manusia dari penghukuman itu adalah pribadi yang tidak berdosa.

Orang yang mengorbankan domba atas dosanya, harus mempercayai janji Allah, yaitu janji pengiriman seorang Penyelamat. Tanpa beriman kepada Sang Penyelamat, sekalipun mereka mempersembahkan seribu ekor domba, dosa mereka akan tetap tak terhapuskan. Sebab, kalau dosa dapat terhapuskan hanya melalui penyembelihan domba, maka orang kaya pasti akan lebih gampang masuk Surga, berhubung mereka memiliki lebih banyak uang untuk membeli domba.

Tentu pertanyaan berikut akan muncul, "mengapakah manusia yang berbuat dosa, tetapi domba yang menjadi korbannya?" Seharusnya,

1. Pertama, setiap manusia yang berdosa pasti akan dihukum.

2. Kedua, manusialah yang harus menganggung dosa manusia, bukan binatang.

3. Ketiga, orang berdosa tidak bisa menjadi penanggung dosa orang lain, karena ia sendiri harus menanggung dosanya sendiri. Hanya orang yang tidak berdosa yang dapat menjadi penanggung dosa orang lain.

Hanya ada satu jalan untuk menyelesaikan dosa manusia. Yaitu melalui seorang manusia yang tidak berdosa yang rela menggantikan manusia berdosa menerima penghukuman. Mungkinkah ada seorang manusia yang tidak berdosa yang rela menanggung dosa orang lain? Mungkin ada orang yang berani mati bagi seseorang yang sangat dikasihinya, bahkan ia rela menanggung dosa kekasihnya di Neraka. Namun, jika ia sendiri juga seorang berdosa, ia tidak layak menjadi penanggung dosa, karena ia sendiri termasuk yang akan dihukum di Neraka. Hukuman yang diterimanya di Neraka itu adalah porsi untuk dirinya, bukan porsi orang lain yang ditanggungnya. Adakah orang yang tak berdosa yang secara sukarela menyerahkan diri menjadi penanggung dosa?

Bagi manusia, hal itu mustahil. Karena ada beberapa syarat yang menghalanginya. Syarat yang pertama, sang Penyelamat harus seorang yang tak berdosa. Syarat kedua, harus dilakukan atas kesukarelaan hatinya. Itu berarti, diperlukan seorang yang maha suci dan juga maha kasih. Dari persyaratan-persyaratan tersebut di atas, jelas sekali hanya Allah saja yang dapat melakukan semua itu.


Kita bersyukur sekali karena Dia telah merencanakan dan bahkan telah bertindak untuk menyelamatkan manusia yang jatuh ke dalam dosa. Tindakan yang Allah lakukan adalah yang tidak akan bertentangan dengan sifat-sifatnya. Ia tidak bisa menolong orang miskin dengan barang curian dari orang kaya. Karena tindakan mencuri bertentangan dengan sifat kesucianNya. Allah dapat melakukan segala sesuatu dengan satu syarat, yaitu yang tidak bertentangan dengan sifat-sifatNya. Dia adalah Allah yang maha kasih. Tetapi Dia juga Allah yang maha suci dan maha adil.
Untuk menyelamatkan manusia berdosa dengan cara yang tidak bertentangan dengan sifat-sifatNya, Allah menjelma menjadi manusia.

Manusia jelmaan Allah itu diberi nama Yesus, yang artinya Juruselamat. Ketika Allah mempersiapkan Sang Penyelamat itu, Ia memerintahkan manusia berdosa untuk percaya kepada janjiNya.

Sementara menunggu Sang Penyelamat, Allah memerintahkan manusia untuk melakukan sesuatu yang menggambarkan proses penyelamatan itu dengan iman. Sang Penyelamat digambarkan dengan domba yang tak bercacat, dan setiap orang berdosa yang ingin diselesaikan dosanya harus menimpakan dosanya ke atas domba itu.Jadi, mempersembahkan korban domba adalah perbuatan yang menggambarkan program Allah untuk menyelamatkan manusia.

Untuk beberapa saat, refleksikanlah kenyataan ini: Ramalan yang Anda baca di kitab Yesaya ditulis hampir 700 thn sebelum Yesus lahir -- namun hal itu dapat menggambarkan diriNya dengan sangat akurat! Yesaya tidak memiliki petunjuk bahwa seorang penyelamat akan datang -- paling tidak bukan penyelamat seperti Yesus, yang akan menyelamatkan seluruh dunia dengan cara wafat di kayu salib. Namun bagaimanapun Tuhan menggerakkan Yesaya untuk mengumumkan kata-kata yang menakjubkan ini!

Jika ini merupakan satu-satunya ramalan dalam kitab suci, kita tetap saja akan merasa kagum. Namun ada banyak lagi yang lainnya ! (sekitar 322 s/d saat ini=Judul Buku : Bukti Nubuat Sang Mesias Pengarang : Ralph O. Muncaster). Nabi Mikha meramalkan bahwa dari Bethlehem akan datang "seorang yang akan memerintah Israel" (Mikha: 5:1). Seorang murid Yesaya mengatakan pada kita bahwa pelayan Tuhan akan "tertikam oleh karena pemberontakan kita" dan "diremukkan oleh karena kejahatan kita", meskipun dia "tidak membuka mulutnya" (Yesaya (53:5,7). Bahkan Raja Daud juga membicarakan tentang kebangkitan Yesus ketika ia berkata, "Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan" (Mazmur 16:10).

Intinya? Sejak penciptaan dunia, rencana Tuhan akan keselamatan sudah bergerak maju dengan stabil. Melalui ramalan Nabi Yesaya, Yeremia, dan lainnya, dia telah mengatakan pada dunia tentang rencana, yang akan terpenuhi ketika Yesus datang dalam kemuliaan. Lagipula, tidak ada kejadian historis lainnya, tidak dalam suatu waktu, dan tidak ada satu orang pun yang tidak memenuhi tujuannya yang utama. Tuhan memegang kendali -- dan Dia dengan penuh kasih membiarkan kita mengetahui hal itu melalui kata-kataNya yang penuh inspirasi!

Jika Tuhan memelihara dengan cara sedemikian rupa untuk melaksanakan rencanaNya hampir 3000 tahun yang lalu, pasti Dia juga membuka rencanaNya dalam hidup kita! Dia memegang kita di telapak tanganNya sama seperti Ia memelihara Yesaya dan orang Israel kuno. Sebagaimana Ia berbicara melalui Nabi yang lain: "Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan" (Yeremia 29:11). Pakailah kata-kata ini sebagai janji pribadi untuk kehidupan Anda saat ini -- dan bersukacitalah karena Anda memiliki Bapa yang sangat pemurah!


Segala sesuatu telah jelas. Maksud Allah memerintahkan orang yang jatuh ke dalam dosa untuk mempersembahkan domba sebagai korban dosa ialah karena Ia akan mengirim Yesus. Yesus, yang berarti Penyelamat adalah manusia yang dilahirkan oleh Roh Allah.Kita, yang hidup sesudah pelaksanaan pengorbanan domba Allah, diperintahkan untuk beriman kepadaNya. Hanya melalui percaya kepadaNya, belajar dan mengerti apa yang diajarkanNya dan melaksanakan perintahNya manusia bisa diselamatkan dari penghukuman.

ITT - 3 April 2009 - PKB SP6

Thursday, April 2, 2009

Renungan Memasuki Perjamuan Kudus


Perjamuan Kudus memang salah satu kegiatan gerejawi yang bisa & biasa disalah-artikan dan disalah-gunakan. Misalnya orang menganggap bahwa Perjamuan Kudus itu melulu sebagai upacara keramat, yang kalau tidak dijalani secara benar akan mendatangkan melapetaka. Pandangan seperti ini menyebabkan diberlakukannya persiapan Perjamuan Kudus yang begitu ketat. Perjamuan Kudus yang disalahgunakan misalnya memperlakukan roti dan anggur Perjamuan Kudus itu sebagai obat yang multi khasiat dan bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Akibatnya ada orang ikut Perjamuan Kudus dan melihat Perjamuan Kudus sebagai bentuk pengobatan alternatif saja. Jarang sekali orang melihat Perjamuan Kudus sebagai perenungan untuk memperjuangkan gaya hidup yang benar seperti Kristus sudah melakukannya secara sempurna dan tuntas.

Keikutsertaan seorang anggota jemaat dalam Perjamuan Kudus kalau diselami dengan dalam; bertujuan menimba kekuatan dan keberanian Kristus, untuk melakukan apa saja kehendak Bapa-Nya. Dengan menimba kekuatan & keberanian itu, kita juga memiliki kemampuan untuk hidup memperjuangkan perwujudnyataan secara sempurna kasih Allah dalam kehidupan kita.

Hal yang paling pokok dari kesatuan kita dengan Kristus adalah kasih agape yang dicirikan dengan pengorbanan diri. Pengorbanan diri yang pada konteks kita sekarang ini adalah menaklukkan ego kita dengan hanya bersandar kepada Firman Tuhan. Sebagaimana diperumpamakan Kristus dalam Yoh.15:1-8 (Pokok Anggur Yang Benar) “Sang Petani” yaitu Kristus Yesus akan berusaha sedemikian rupa, sehingga hal-hal yang menghambat, merusak, dan tidak memungkinkan para murid bertumbuh dan berbuah dalam kasih-Nya akan dibuang (ranting-ranting itu dipangkas dan disiangi). Ini bukan proses yang bisa kita terima dengan senang hati karena yang dilawan di sini adalah egoisme kita. Bukankah musuh yang paling sulit kita kalahkan adalah diri kita sendiri? Egoisme inilah yang tidak memungkinkan buah-buah kehidupan beriman kita dinikmati juga oleh sesama kita atau bahkan lebih tepatnya, tidak bisa berbuah. Bukankah petani menanam pohon buah-buahan agar pada waktunya buahnya bisa dipetik dan bukan supaya daunnya jadi lebih rimbun?

Perjamuan Kudus menjadi lambang dari kesediaan Kristus menjadi sumber dan inspirasi bagi setiap orang yang membuka diri dan menengadahkan tangan untuk menerima semangat Kristus itu. Dengan demikian keikutsertaan kita pada Perjamuan Kudus harus dilihat sebagai tanda peng-aminan dan peng-imanan kita atas kehidupan dan karya Kristus. Bersatu dengan Tubuh Kristus dalam Perjamuan Kudus berarti bahwa orang mesti punya semangat dan kesediaan berkorban demi kasih Allah kepada dunia ini seperti yang Yesus lakukan. Perjamuan Kudus menjadi lambang jaminan Tuhan, bahwa hidup dengan spiritualitas Yesus (yang anti egoisme) bukanlah hal yang mustahil, bahkan pada masa sekarang ini.

Selamat memasuki Perjamuan Kudus.

ITT - 1 April 2009

Wednesday, April 1, 2009

Markus 10:45


10:45 Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."

Merajut Pola Kepemimpinan Yesus - Melayani atau Dilayani?

SAYA kira kita sebagai umat telah melakukan suatu kesalahan dalam menerjemahkan kata-kata Yesus. Misalnya, selama ini kita terbiasa memakai istilah atau mengatakan: “melayani Tuhan”.

Kebanyakan dari kita bangga dan senang bila disebut sebagai pelayan Tuhan. Kita senang dan bangga bila melayani Tuhan. Ya, kita semua seolah berlomba untuk melayani Dia. Padahal Yesus sendiri pernah mengatakan bahwa Dia datang ke dunia ini untuk melayani, bukan untuk dilayani. Bagaimana kita mengaktualisasikan ucapan Yesus tersebut di atas?

Jemaat yang dikasihi Tuhan, bicara soal melayani memang memerlukan perspektif yang komprehensip, agar kita tak salah menilai dan pada akhirnya salah menjalani. Mari kita mulai dengan ucapan Yesus Kristus sendiri, yang berkata: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20: 28= sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."; Markus 10: 45). Kata yang dipakai di sini untuk pengertian “melayani” adalah “diakonein”, yang meluksikan pelayanan di meja makan. Sehingga gambarannya adalah bagaimana Yesus melayani setiap mereka yang membutuhkan, dengan penuh kasih dan tanggung jawab penuh. Hal ini juga mengingatkan kita akan apa yang dilakukan Yesus ketika membasuh kaki para murid-Nya.

Guru membasuh kaki murid, sungguh tak lazim, dan sangat merendahkan diri guru iru sendiri. Ucapan Yesus Kristus ini sangat tepat sasaran untuk mengoreksi sikap para murid yang justru berlomba untuk menjadi yang terbesar. Sikap yang justru mewarnai kebanyakan para pelayan masa kini, yang memakai pakaian serba wah, mobil mewah, bahkan bodyguard, dengan berbagai alasan diberkati dan lain-lain.

Apakah Yesus tidak diberkati hanya karena Dia tidak naik kereta kuda, atau berbaju mewah seperti para ahli taurat, bahkan menghardik murid-murid-Nya ketika berlaku bagai bodyguard dengan menghalangi anak-anak dibawa pada-Nya? (Sebuah perenungan!) Dengan segera kita bisa mengerti apa yang dimaksud Yesus dengan melayani, yakni bukan melayani diri melainkan memberi diri. Yesus Kristus yang melayani, dengan mencari orang berdosa, menebus dosa mereka, bahkan dengan memberikan nyawa-Nya sendiri di salib. Dia yang tidak berdosa, harus menanggung banyak dosa manusia berdosa, sehingga dalam kematian-Nya manusia dibebaskan, dan dalam kebangkitan-Nya manusia dimenangkan.

Yesus Kristus telah tampil seutuhnya sebagai seorang pelayan yang tidak pernah memikirkan kepentingan diri-Nya sendiri. Hanya saja, awas, jangan sampai salah mengerti, karena Yesus sudah melakukan itu semasa pelayanan-Nya di bumi. Nanti pada kedatangan-Nya yang kedua kali, tentu Dia tidak akan berkata sama, karena Dia akan datang bukan lagi sebagai pelayan melainkan Hakim Agung yang akan menghakimi manusia (Yohanes 5: 22= Bapa tidak menghakimi siapa pun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak,; Ibrani 10: 30= Sebab kita mengenal Dia yang berkata: "Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan." Dan lagi: "Tuhan akan menghakimi umat-Nya."; 1). Jadi, harus dilihat konteksnya.

Sekarang Yesus Kristus telah bertakhta di surga mulia, dan akan datang kembali sebagai Hakim Agung yang adil. Maka sementara bentang waktu antara kenaikan Yesus Kristus dan kedatangan-Nya yang kedua, kita diperintahkan Tuhan untuk melayani, dan Dia telah mengatakan dengan tegas: “Siapa yang melayani Aku harus mengikut Aku” (Yohanes 12: 26= Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.). Para rasul menyebut diri mereka sebagai pelayan-pelayan Tuhan (Kolose 1: 23= Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.; 1 Timotius 4: 6= Dengan selalu mengingatkan hal-hal itu kepada saudara-saudara kita, engkau akan menjadi seorang pelayan Kristus Yesus yang baik, terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat yang telah kauikuti selama ini.). Kemudian sebagai sesama tubuh Yesus Kristus, orang Kristen diperintahkan agar saling melayani (Markus 9: 35= Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya." ; 1 Petrus 4: 10= Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.), juga pelayanan khusus kepada para janda (Kisah 6: 1=). Dan masih banyak catatan Alkitab yang menyebut kita sebagai pelayan Tuhan yang memang dipanggil untuk melayani Tuhan.

Jadi, Jemaat yang dikasihi Tuhan, tidak ada yang salah dengan sebutan pelayan Tuhan, dan melayani Tuhan, karena memang itulah tugas inti kita sebagai murid Yesus. Apa yang dimaksud Yesus dengan “datang untuk melayani, bukan untuk dilayani”, adalah tujuan kedatangan-Nya yang pertama ke bumi. Ingat, kedatangan kedua akan lain lagi. Nah, sebagai orang berdosa yang telah ditebus, dan dijadikan-Nya umat kepunyaan-Nya, kita dipanggil untuk melayani Tuhan, sebagai pelayan-pelayan-Nya. Ucapan Yesus mengingatkan kita akan semangat pelayanan-Nya, yaitu untuk melayani, bukan dilayani. Kita dipanggil untuk memberitakan Injil kepada orang berdosa, membawa mereka mengenal Yesus Kristus dengan benar. Sebagai pelayan Tuhan, kita harus sadar sesadar-sadarnya, bahwa kita hanyalah pelayan, bukan bos.

Yang memang menjadi masalah sekarang ini adalah orang berlomba-lomba bukan untuk menjadi pelayan Tuhan yang melayani Tuhan, melainkan melayani kepuasan diri sendiri. Kebanggan pelayanan masa kini berpusat pada kehebatan organisasi, kemegahan bangunan gereja, banyaknya jumlah kolekte, kepopuleran nama, dan lain-lain yang bersifat sangat kuantitatif. Pola hidup modern yaitu: all about you, memang telah menjebak banyak hidup orang percaya. Diri menjadi centre point dari pelayanan, bukan Tuhan Yesus lagi. Nama Yesus masih terus dan akan terus disebut, namun tanpa penyerahan diri kepada-Nya, bahkan sebaliknya menjual nama-Nya untuk keuntungan diri. Ini memang perlu kita sikapi dengan hati-hati.

Kedudukan dan jabatan dapat mempengaruhi karakter seseorang

4 filsafat seorang hamba:

1) SEORANG PELAYAN TIDAK BERFOKUS PADA KUASA DAN POSISI (Markus 10:42)
Karena ketika org fokus pada kuasa, mereka akan melakukan apa saja untuk mempertahankan posisinya.

2) SEORANG PELAYAN MEMFOKUSKAN DIRI MELAYANI (Markus 10:43)
Servant=diakonos, pelayan.
Orang yg tidak punya mental seorang pelayan tidak akan menjadi seorang leader yg baik. Mental pelayanan yg benar : bukan kalau punya waktu, bukan tergantung mood. Semua hanyalah tergantung kemauan kita semua.

3) SEORANG PELAYAN FOKUS PADA KEBUTUHAN ORANG LAIN (Markus 10:44)
""..and whoever wants to be first, must be slave of all.""
Slave: doulos, hamba, budak. Budak utk memenuhi kebutuhan orang lain. Kita sukar untuk menjadi ""budak"" ketika kita hanya fokus pada diri sendiri. Menjadi budak- harus melawan kemauan kita.

4) SEORANG PELAYAN FOKUS PADA TUHAN YESUS KRISTUS (Markus 10:45)
3 teladan Tuhan Yesus:
- Yesus tidak egois. Ia punya kuasa, namun Ia tidak fokus pd diriNya sendiri.
- Melayani
- Berkorban
Ada waktu yg dikorbankan, ada tenaga yg dikorbankan. Jangan menjadi seorang pelayan bila tidak punya 3 point ini!

ITT - 1 April 2009 - Khotbah pada KRT SP6 di Kel.Titaheluw