Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri

Sunday, September 8, 2013

Yosua 10:38-43

(Sesuai SBU - Rabu, 18 September 2013)

10:38 Kemudian Yosua dengan seluruh Israel kembali ke Debir, lalu berperang melawannya.
10:39 Negeri itu beserta rajanya dan segala kotanya direbutnya, dan dipukul dengan mata pedang. Semua makhluk yang ada di dalamnya ditumpas mereka, tidak seorang pun yang dibiarkannya lolos; seperti yang dilakukannya terhadap Hebron, demikianlah dilakukan terhadap Debir beserta rajanya, sama seperti yang dilakukannya terhadap Libna beserta rajanya.
10:40 Demikianlah Yosua mengalahkan seluruh negeri itu, Pegunungan, Tanah Negeb, Daerah Bukit dan Lereng Gunung, beserta semua raja mereka. Tidak seorang pun yang dibiarkannya lolos, tetapi ditumpasnya semua yang bernafas, seperti yang diperintahkan TUHAN, Allah Israel.
10:41 Yosua menewaskan mereka dari Kadesh-Barnea sampai Gaza, juga seluruh tanah Gosyen sampai Gibeon.
10:42 Semua raja ini dan negeri mereka telah dikalahkan Yosua sekaligus, sebab yang berperang untuk orang Israel ialah TUHAN, Allah Israel.
10:43 Kemudian Yosua dengan seluruh Israel pulang kembali ke tempat perkemahan di Gilgal.

PENGANTAR

Dalam kanon Ibrani kitab ini menduduki posisi pertama dalam kelompok tulisan para nabi (nebiim). Lebih spesifik, kitab ini tergolong dalam daftar nabi-nabi awal, yaitu mereka yang melayani setelah Musa sampai pembuangan ke Babel. Cara penempatan seperti ini sekilas tampak aneh bagi kita. Kitab Yosua adalah kitab sejarah, bukan suatu kitab yang dipenuhi dengan nubuat. Apa yang ditulis sudah digenapi atau terjadi pada jaman Yosua. Mengapa kitab ini dikategorikan tulisan para nabi?

Berangkat dari konsep umum yang salah tentang peranan nabi. Kita cenderung melihat tugas para nabi terutama sebagai pemberi nubuat (foreteller), padahal yang lebih utama dari tugas seorang nabi adalah penyampai kehendak Allah (forthteller).
Dengan konsep bahwa tugas utama seorang nabi adalah menyampaikan maksud Allah, maka kita dengan mudah memahami mengapa Kitab Yosua dikelompokkan ke dalam jajaran kitab para nabi.

Kitab Yosua sering juga disebut kitab pengantar, karena Kitab Yosua adalah kitab sesudah 5 kitab Musa (Pentateukh/Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan). Kitab Yosua adalah kitab pertama dari 12 kitab yang menceritakan sejarah Israel di Kanaan. Isi kitab Yosua ini adalah periode setelah kematian Musa dan peralihan kepemimpinannya kepada Yosua, abdi Musa (Yos 1:1). Kitab Yosua ini bercerita tentang masa 25 tahun pergumulan dan perjuangan Yosua dan umat Allah dalam penaklukan Tanah Kanaan.

Kitab Yosua ini dapat dibagi dalam 3 tema pembahasan:

1. Israel memasuki Kanaan (Yos.1-5)
2. Usaha Israel menaklukan Kanaan (Yos.6-12)
3. Keberhasilan Israel menduduki Kanaan dan Pembagian Tanah Kanaan (Yos.13-24)

Salah satu ayat yang terkenal dalam kitab ini adalah Yos.24:15 = Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"

PENAKLUKAN KANAAN SELATAN

Bagian bacaan kita pekan ini merupakan bagian akhir dari Yos.10 mengisahkan tentang penaklukan Kanaan bagian Selatan, yang sebaiknya dibaca dan dimengerti sebagai suatu kesatuan bahasan. 
Dalam pasal 10 ini tercatat begitu banyak kejadian dan mujizat dalam perang penaklukan Kanaan oleh Yosua dan umat Israel.
Beberapa hal yang tercatat di ayat 10 ini adalah:

1. ALLAH bertempur bagi umat Israel dan menyerahkan orang Amori ke tangan umat Israel.
Berulang-kali ditegaskah peranan ALLAH atas balatentara Israel di Yos.10:8; 10:10a; 10:14; 10:42. Perhatikan kata "TUHAN menyerahkan" yang terserak di sepanjang pasal 10 ini.

2. Ada 7 pertempuran yang keseluruhannya dimenangkan oleh Yosua dan umat Israel, yaitu pertempuran di Gibeon, Makeda, Libna, Lakhis, Eglon, Hebron, dan Debir.
Perhatikan taktik pertempuran Yosua yang tidak lazim bagi peperangan sekarang. Fokus penghancuran Yosua adalah menghabiskan kaum Amori, dan kembali ke Gilgal (2 kali Yosua kembali ke Gilgal, di Yos.10:15 dan 10:43).
Menurut beberapa ahli, Yosua tidak menjalankan pendudukan dan penghancuran kota, karena nantinya kota-kota tersebut akan dibagikan kepada umat Israel.


3. Yosua bertempur di Gibeon menghadapi 5 Raja yaitu Adoni-Zedek, raja Yerusalem; Hoham, raja Hebron; Piream, raja Yarmut; Yafia, raja Lakhis; dan Debir, raja Eglon - masing-masing dengan pasukannya. Seluruhnya dikalahkan dan ditewaskan Yosua dan umat Israel.
Di Yos.12:9-24, terdapat daftar raja-raja Kanaan yang dikalahkan oleh Yosua. Hanya orang Gibeon yang menyerahkan diri dengan sukarela walaupun dengan akal muslihat (Yos.9)

4. Mujizat Hujan batu yang menewaskan pasukan orang-orang Amori di lereng Bet-Horon sampai ke Azeka.

5. Matahari dan bulan berhenti bergerak seharian lamanya! Ini dikenal dengan "Hari terpanjang sepanjang sejarah"

Kedua mujizat di atas, sering menjadi perdebatan bagi ilmuwan dan teolog sendiri. Terlepas dari luar-biasanya kejadian itu, dengan cara pandang "tiada yang mustahil bagi ALLAH", maka mujizat-mujizat di atas bukanlah hal istimewa bagiNYA. Lautan terbelah, sungai Yordan terbendung ketika umat Israel menyeberang ... bahkan perjalanan di padang belantara yang dipimpin tiang awan dan api, manna di gurun pasir, air dari batu, rubuhnya tembok Yerikho ... bukankah itu semua dari ALLAH?

TAAT

Kata di atas, dibalikpun maknanya sama. Demikian juga bagi Yosua. Ketaatannya pada perintah ALLAH adalah luar biasa dan dalam keadaan apapun tetap teguh. Yos.10:40 melukiskan ketaatannya kepada perintah ALLAH. Perhatikan bahwa Yosua hanya menyerang target tertentu yang diperintahkan oleh ALLAH. Dan dengan ketaatannya itu ia memperoleh ganjaran seperti di Yos.10:42. Semua raja ini dan negeri mereka telah dikalahkan Yosua sekaligus, sebab yang berperang untuk orang Israel ialah TUHAN, Allah Israel. Karena Taat maka ALLAH berperan penuh. 

KEJAMKAH ALLAH?

Cara Yosua menjalankan perintah ALLAH untuk memusnahkan kaum Amori terlihat sangat kejam. Pasti di hati kecil kita akan terlintas, betapa kejamnya ALLAH dalam mencapai kehendakNYA melalui Yosua. Masakan IA menjanjikan tanah yang sudah ditempati orang Amori kepada Israel dengan membasmi mereka?

Sekilas hal di atas tampak sangat mengerikan dan bahkan bertentangan dengan perintahNYA untuk Jangan membunuh! Mengapa Allah memerintahkan sesuatu yang sangat “kejam”? Jika kita menyelidiki kasus ini secara seksama maka kita akan mengetahui dan mengerti bahwa ada alasan di balik sikap tegas Allah. Alasan-alasan ini sangat berkaitan:

1. Dosa-dosa bangsa Kanaan sangat besar dan sudah berlangsung sangat lama. Sesuai janji TUHAN kepada Abraham,TUHAN akan memberikan tanah Kanaan kepada bangsa Israel ketika dosa penduduk Kanaan sudah penuh (Kej 15:16). Kefasikan bangsa Kanaan menjadi alasan utama mengapa mereka ditumpas (Ul 9:5; bdk. Im 18:24-25). Hal ini didukung oleh Ulangan 20:10-18 yang mengajarkan sikap berbeda terhadap bangsa non-Kanaan dan penduduk Kanaan (bdk. Yos 9:1-27).

2. Pemusnahan ini merupakan bagian dari penggenapan isi perjanjian dengan para Bapa Leluhur. Tuhan telah berjanji akan memberkati siapa yang memberkati keturunan Abraham, demikian pula Ia akan mengutuk siapa yang mengutuk mereka (Kej 12:3). Karena bangsa-bangsa itu berperang melawan bangsa Israel (9:1-2; 10:1-6; 11:20), maka mereka dikutuk oleh Allah.

3. Pemusnahan ini dimaksudkan supaya bangsa Israel tidak terpengaruh oleh kefasikan bangsa-bangsa tersebut. Jika mereka tidak ditumpas sampai habis, maka mereka akan membuat bangsa Israel menyembah berhala (Ul 7:2-5; 20:18). Dalam sejarah bangsa Israel selanjutnya hal ini sungguh terjadi. Ketika bangsa Israel melanggar perintah TUHAN untuk menumpas bangsa Kanaan, maka mereka akhirnya terjebak pada penyembahan berhala (Hak 2:1-5; 3:4-6).

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa TUHAN adalah ALLAH yang panjang sabar (IA menunggu selama berabad-abad sampai dosa itu penuh). Ia adalah ALLAH yang setia kepada perjanjian-Nya: Ia mengutuk siapa saja yang mengutuk umat-Nya. Ia juga ALLAH yang mengasihi umat-Nya sehingga Ia menjaga mereka dari dosa-dosa yang menjijikkan.

APLIKASI

Contohilah Yosua, yang taat bertempur karena melaksanakan Tugas dari ALLAH. Di kemudian hari Yesus mencontohkan hal yang sama dengan kualitas yang lebih mendalam, IA taat melaksanakan Tugas BAPANYA, sampai mati di kayu salib. Mengapa kualitasnya lebih mendalam? Karena Yosua menghadapi kemenangan dunia dengan sorak sorai penduduk Israel dalam pertempuran dan sewaktu kembali ke Gilgal, tetapi Yesus Kristus menghadapi ejekan dunia dan akhirnya di salib. KemenanganNYA dicapai di kayu salib dengan mematahkan kuasa maut dan naik ke Surga. Tetapi terlepas dari perbandingan itu, beberapa hal dapat kita aplikasikan:

1. Sikap taat kepada kehendak ALLAH, adalah mutlak bagi kemenangan kehidupan kita. Ketaatan Yosua mendatangkan kuasa dan kekuatan yang besar karena ALLAH. Demikian juga dengan orang percaya dalam amanat agung Kristus Yesus di Mark.16:17-18. Ingin punya kekuatan seperti itu? Jalannya hanya satu: Taat Kepada ALLAH.

2. Dengan memahami mengapa ALLAH memusnahkan orang Amori, kita perlu tahu bahwa ALLAH adalah penuh Kasih dan sekaligus juga Tegas. Yang perlu kita jaga adalah jangan sampai kita merasa sebagai orang Israel tetapi sebenarnya perilaku kita seperti orang Amori, merasa seperti Daud, padahal sebenarnya kita berperilaku seperti Goliat, merasa sebagai orang percaya tetapi sebenarnya berperilaku seperti orang Farisi.

3. Ketika kita menghadapi pertempuran dalam kehidupan kita, - dalam konteks sekarang pertempuran melawan keinginan daging, hawa nafsu dan godaan iblis - maka yang diutamakan adalah bagaimana memenangkan pertempuran itu untuk Kemuliaan ALLAH. Berapa sering kita terlalu sibuk mengalahkan diri kita sendiri, saingan kita di jemaat, mendapatkan sesuatu pengakuan atau penghargaan sosial kemasyarakatan/jemaat tanpa lagi mengingat untuk memuliakan ALLAH? Bukankah seringkali kita berusaha mencapai kemenangan dan ketenaran hanya untuk diri kita sendiri dan bukan untuk memuliakan ALLAH?

ITT - Jakarta, Minggu 8 September 2013

Wednesday, September 4, 2013

Roma 13:11-14

(Sesuai SBU - Rabu, 11 September 2013)

13:11 Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya.
13:12 Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!
13:13 Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.
13:14 Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.

GARIS BESAR

Rasul Paulus telah merencanakan kepulangannya ke Yerusalem hanya sebagai selingan dalam misinya yang lebih besar. la sudah menyusun rencana untuk suatu tujuan yang lebih luas daripada kota-kota yang telah diinjilinya sebelum ini. Roma menghimbau dirinya karena ia adalah seorang warga negara Roma. Bila ia dapat menguasai Roma dengan Injil, maka dengan mudah Injil akan tersebar ke seluruh pelosok negaranya, karena semua jalan raya menuju ke Roma. 

Surat Roma ditulis sebagai ganti bertatap muka langsung secara pribadi dan sebagai persiapan untuk menjadikan jemaat Roma sebagai pusat pelayanan seperti Antiokhia, Efesus, Filipi, dan kota-kota lain di mana Rasul Paulus pernah bekerja. Oleh karenanya, dalam Surat Roma Rasul Paulus tidak terlalu menekankan perbaikan kesalahan seperti dalam Korintus, tetapi lebih menekankan pada pengajaran tentang kebenaran. 

Tema utama dari Surat Roma adalah: "Pernyataan kebenaran Tuhan kepada manusia, dan penerapannya pada kebutuhan rohani manusia."

Bagian bacaan kita kali ini dari Roma 13:11-14 adalah bagian dari apa yang dapat kita sebut sebagai "Penerapan Praktis dari Kebenaran oleh Iman" atau lebih singkatnya "Mempraktekkan Kebenaran", yang tertulis di Roma 12:1 sampai Roma 15:13 dan dapat dirinci sbb:

A. Orang Percaya dan Penyerahan Diri (Rom 12:1-2)
B. Orang Percaya dan Masyarakat (Rom 12:3-21)
C. Orang Percaya dan Pemerintah (Rom 13:1-7)
D. Orang Percaya dan Hukum Kasih (Rom 13:8-15:13)

STRUKTUR ROMA 13

Lebih dalam lagi bila kita lihat di Roma 13, maka pasal ini sebenarnya terbagi 3 yaitu:

1. Sikap orang percaya terhadap pemerintah (Rom.13:1-7) - Penjabaran dari ajaran Kristus Yesus di Mat.22:21 = Jawab mereka: "Gambar dan tulisan Kaisar." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.

2. Sikap orang percaya terhadap masyarakat umum (Rom.13:8-10) - Penjabaran dari ajaran Kristus Yesus di Mat.22:39 = Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

3. Sikap orang percaya dalam Pengharapan akan kedatangan Kristus kembali (Rom.13:11-14) - Penjabaran dari ajaran Kristus Yesus akan kedatangan kembali di Mat.24, Luk.17:24 = Sebab sama seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain, demikian pulalah kelak halnya Anak Manusia pada hari kedatangan-Nya.

MOTIVASI

Dari bagian akhir dari Pasal 13 ini, Rasul Paulus bergerak, dari: memaparkan tanggung jawab orang percaya terhadap pemerintah (13:1-7) dan dilanjutkan dengan: praktek nyata dari tanggung jawab itu dalam masyarakat (13:8-10) serta berakhir pada: motivasi apa yang menggerakkan orang percaya untuk bersikap seperti itu (13:11-14).

Bangunlah
13:11 Hal ini harus kamu lakukan, karena kamu mengetahui keadaan waktu sekarang, yaitu bahwa saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur. Sebab sekarang keselamatan sudah lebih dekat bagi kita dari pada waktu kita menjadi percaya.

Frase: "Hal ini" ... mengacu bukan hanya pada ayat sebelumnya, tetapi juga mengacu ke pasal 12. Adalah sangat penting dipahami, bahwa sejak Kenaikan Kristus Yesus, maka kita semua hidup di Akhir Zaman, yaitu masa penantian akan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya, untuk hari penghakiman. (bandingkan Rom.14:10; Fil.3:20; 1Tes.5:6). Rasul Paulus mengingatkan supaya kita terjaga dan berjaga dengan melakukan hal-hal itu, yaitu mempraktekkan kebenaran yang kita ketahui, bukan dengan memegang kebenaran dan membawanya tidur.

Sudah Hampir
13:12 Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!

Di sini, Rasul Paulus berpikir sama seperti ketika ia menuliskan 1Tes.5:1-11 (5:1 Tetapi tentang zaman dan masa, saudara-saudara, tidak perlu dituliskan kepadamu, 5:2 karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam. 5:3 Apabila mereka mengatakan: Semuanya damai dan aman -- maka tiba-tiba mereka ditimpa oleh kebinasaan, seperti seorang perempuan yang hamil ditimpa oleh sakit bersalin -- mereka pasti tidak akan luput. 5:4 Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, 5:5 karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. 5:6 Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. 5:7 Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam. 5:8 Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbajuzirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan. 5:9 Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, 5:10 yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia. 5:11 Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.).
Perlengkapan senjata terang bisa dijelaskan oleh Ef.6:12-18a (6:12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. 6:13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. 6:14 Jadi berdirilah tegap,  berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, 6:15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; 6:16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, 6:17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah, 6:18a dalam segala doa dan permohonan.)
Tanpa perlu penjelasan panjang lebar, kita pasti memahami apa yang dimaksud Rasul Paulus dengan Hari yang telah hampir siang dan perlengkapan senjata terang. Yang jelas, Rasul Paulus menekankan bahwa, "acara berikut" dalam Rancangan Allah, adalah masa kembalinya Kristus Yesus yaitu akhir zaman; dan untuk itu ia menyiapkan orang-orang percaya dan generasi mendatang dengan bukan hanya berpengharapan, tetapi juga bagaimana bersikap dalam pengharapan itu.

Ingat .. ingat! 
13:13 Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati.

Perilaku orang percaya, khususnya yang Rasul Paulus tuliskan di sepanjang Rom.13:1-10, sudah menjelaskan akan perilaku kristiani orang percaya. Dan hal-hal yang ia tekankan dengan mengajak hidup dengan sopan dan menghindari perilaku negatif di atas, sudah menjadi hal umum di kota Korintus tempat Rasul Paulus menulis surat ini. Ia telah mengamati dengan seksama bahwa kehilangan penguasaan diri akan berakibat kepada dosa seksual dan akhirnya menimbulkan perselisihan dan iri hati.

Bertolak-belakang
13:14 Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.

Dua pernyataan, yang satu bersifat "positif" ... kenakanlah Tuhan Yesus Kristus .... dan yang satunya bersifat "negatif" ... janganlah .... dst.

a. Positif: Kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang.
Ketika kita mengenakan Tuhan Yesus Kristus, itu berarti kita mewujudkan dan menghidupkan IA dalam kehidupan kita. Kita mewujudkanNYA melalui Kasih, bukan saja bagi teman kita, tetapi juga bagi orang yang membenci kita. Mengenakan di sini juga berarti bergantung sepenuhnya kepada Kristus Yesus dalam segala hal. Dan ini hanya dapat dilakukan melalui Iman dan dalam Roh Kudus.

b. Negatif: Janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.
Kebalikan dari wujud mengenakan Tuhan Yesus Kristus, yaitu Kasih - dituliskan Rasul Paulus sebagai memuaskan keinginannya atau keinginan tubuh atau keinginan daging. Jadi Kasih dan keinginan daging adalah 2 kutub yang berlawanan.

Beruntung kita memakai bahasa Indonesia yang mencatat ajaran Tuhan Yesus sebagai Kasih. Dalam bahasa Inggris, hanya dipakai istilah "love" (kasih) yang akhirnya sering diplesetkan oleh generasi kini dengan istilah "making love" (berhubungan seks) yang nyata artinya hanya memuaskan keinginan daging!

PENUTUP

1. Perhatikan bahwa ketika Rasul Paulus menuliskan buah pikirannya dalam surat-suratnya - secara khusus Surat Roma ini, ia tetap teguh memegang ajaran Kristus Yesus. Apa yang ia tuliskan dan ajarkan adalah penjabaran dari pengetahuan akan Firman Tuhan sendiri.

2. Roma Pasal 13 berbicara tentang hidup di dunia ini sebagai orang percaya. Rasul Paulus merangkumnya dengan bagaimana hidup dengan tetap patuh kepada pemerintah, mengasihi sesama dan tetap secara aktif menanti kedatangan Tuhan Yesus Kristus kembali. Secara khusus di Rom.13:11-14 diingatkan supaya orang percaya berada dalam keadaan aktif atau terjaga.

3. Motivasi yang menggerakkan orang percaya untuk bersikap seperti di atas (Rom.13:1-10) haruslah tepat. Motivasi untuk patuh kepada pemerintah adalah kasih, bukan motivasi dengan rasa takut karena kekuatan pemaksa dari pemerintah, atau karena sudah hampir kiamat atau hari penghabisan. Orang percaya akan bersikap positif dengan mempraktekkan kasih, dan bukan bersikap negatif dengan hanya menanti hari penghakiman tanpa berbuat apa-apa, bahkan larut dalam keinginan daging.

4. Bijaklah menggunakan waktu yang ada, karena bila Hari Akhir belum tiba semasa kita hidup, maka sudah tentu kita yang akan lebih dahulu menghadap ke SANG PENCIPTA. Ef.5:15-16 = Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.

5. Mari, jangan tunggu sampai nanti. Sekaranglah waktunya bagi kita untuk hidup lebih baik. Kita tinggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak benar, kepahitan-kepahitan, ataupun kemarahan-kemarahan dalam hati kita. Mari kita mengenakan Yesus Kristus sebagai senjata terang bagi kita untuk berbuat baik, penuh damai sejahtera, dan penuh kasih kepada sesama kita.

Tidak ada seorangpun yang tahu kapan waktunya Kristus datang kembali, namun dengan hati yang terus melekat pada Tuhan kita akan siap menyambut kedatangan-Nya.

ITT - Jakarta, Rabu 4 September 2013

Sunday, September 1, 2013

Efesus 3:14-21

(Sesuai SBU - Rabu, 4 September 2013)

3:14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa,
3:15 yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.
3:16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,
3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.
3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,
3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,
3:21 bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.

LATAR BELAKANG

Surat Efesus merupakan salah satu puncak dalam penyataan alkitabiah tentang Kristus Yesus dan menduduki tempat yang unik di antara surat-surat Rasul Paulus. Surat ini tidak ditulis sebagai jawaban terhadap suatu persoalan pastoral seperti banyak surat lain, sebaliknya Efesus memberikan kesan akan luapan penyataan yang melimpah sebagai hasil dari kehidupan doa pribadi Rasul Paulus. Rasul Paulus menulis surat ini ketika dipenjara karena Kristus (Ef.3:1; 4:1; 6:20), kemungkinan besar di Roma. Surat ini dibawa ke tujuannya oleh seorang kawan sekerja Rasul Paulus yang bernama Tikhikus (Ef.6:21).

Secara garis besar, surat Efesus dapat dibagi ke dalam 2 bahagian dengan rinciannya, yaitu:

A. Doktrin/ajaran tentang posisi sebagai Murid Kristus (Pasal 1 s/d 3)
- Jemaat direncanakan sejak semula (1:1-14)
- Doa Paulus (1:15-23)
- Orang yang dihidupkan oleh Kristus (2:1-10)
- Orang Yahudi dan orang bukan Yahudi dipersatukan (2:11-22)
- Rahasia Allah dinyatakan (3:1-13)
- Doa Paulus (3:14-21)

B. Nasihat tentang Tugas Panggilan Murid Kristus (Pasal 4 s/d 6)
- Kesatuan (4:1-6)
- Karunia Allah (4:7-16)
- Manusia baru (4:17-5:21)
- Hubungan dengan orang lain (5:22-6:9) - [Suami isteri (5:22-33) - Orang tua dan anak (6:1-4) - Tuan dan hamba (6:5-9)]
- Perlengkapan rohani (6:10-24)

URAIAN

Doa Rasul Paulus di Efesus 3:14-21 sekaligus mengajarkan keagungan kasih Kristus. Memahami kasih Kristus memang bukan sesuatu yang mudah. Kasih ini begitu sempurna dan melampaui segala pengetahuan, sehingga untuk memahaminya merupakan sebuah pergumulan spiritual, bukan hanya intelektual belaka.
Dalam teks ini Rasul Paulus menunjukkan sikapnya dalam berdoa, yaitu “sujud” (ayat 14a). Ia lalu menjelaskan obyek doanya, yaitu Bapa sebagai sumber segala keturunan (ayat 14b-15). Setelah itu ia menaikkan tiga isi doa yang ditandai dengan kata sambung “supaya" di ayat 16, 18, dan 19b. Bagian terakhir dari doa ini adalah sebuah pujian (doxology) kepada Allah (ayat 20-21).

Sikap dalam doa
Ef.3:14a Itulah sebabnya aku sujud ......
(penulis sengaja memenggal bagian Ef.3:14 supaya mudah dimengerti)

Salah satu karakteristik Surat Efesus adalah penggunaan kalimat yang sangat panjang. Dan kalau kita membaca dan mencari sebab dari maksud Rasul Paulus dalam kalimat "Itulah sebabnya ...", maka kita mesti kembali dan membaca ayat-ayat sebelumnya dan mengenal karakter dan garis besar surat Efesus seperti yang dijabarkan di latar belakang di atas.
Perhatikan bahwa kata "Itulah sebabnya" muncul dua kali, yaitu di Ef.3:1 dan Ef.3:14. Kedua kata tersebut merujuk balik pada Ef.2, yaitu peruntuhan tembok yang membatasi orang-orang Yahudi dan Yunani oleh kuasa injil. Rasul Paulus tidak hanya puas dengan hal itu. Ia ingin agar jemaat terus bertumbuh dalam pengenalan yang benar tentang Allah. Itulah sebabnya ia sujud kepada Allah.

Menarik untuk mencermati sikap doa seperti Rasul Paulus yang sujud ... bandingkan dengan Ezra 9:15, mengapa Nabi Ezra sampai sujud di hadapan ALLAH. (Ezra 9:15 Ya TUHAN, Allah Israel, Engkau maha benar, sebab kami masih dibiarkan tinggal sebagai orang-orang yang terluput, seperti yang terjadi sekarang ini. Lihatlah, kami menghadap hadirat-Mu dengan kesalahan kami. Bahwasanya, dalam keadaan demikian tidak mungkin orang tahan berdiri di hadapan-Mu.)

Obyek doa
Ef.3:14b ............... kepada Bapa, 3:15 yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.

Rasul Paulus menyebut Allah sebagai “Bapa”. Ini merupakan sebutan yang umum (ada 7 kali dalam Surat Efesus). Yang tidak umum adalah keterangan di ayat 15. Bapa disebut sebagai “yang daripada-Nya semua turunan di sorga dan di bumi menerima namanya”. 

Apa yang dimaksud dengan “Bapa sebagai sumber segala keturunan” atau “menerima namanya”?

Kalimat “menerima namanya” secara hurufiah berarti “diberi nama”. Dalam Alkitab pemberian nama menunjukkan otoritas si pemberi. Salah satu contoh adalah otoritas manusia atas seluruh binatang (Kej 1:26, 28) yang ditunjukkan melalui pemberian nama kepada setiap binatang (Kej 2:20).
Ini menunjukkan bahwa Bapa adalah sumber dari semua mahkluk dan pemegang otoritas atas mereka semua. Dengan kata lain, Rasul Paulus sedang menekankan kekuasaan Allah melalui sebutan ini. Penekanan seperti ini sangat penting, karena ia nanti akan memohon kekuatan Allah atas jemaat Efesus 

Isi doa (Ef.3:16-19)

Supaya kita dikuatkan Allah
Ef.3:16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, 3:17a sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu .............

Doa ini merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh jemaat Efesus. Mereka terlihat sedang dalam keadaan takut atau tawar hati melihat kesesakan yang dialami Rasul Paulus (3:13). Menariknya, walaupun Paulus yang sedang mengalami kesesakan dan palng membutuhkan kekuatan Allah, ia justru berdoa bagi jemaat.
Dari cara Rasul Paulus berdoa tampak bahwa ia memberi penekanan khusus pada hal ini. Ia memakai ungkapan “menguatkan dan meneguhkan”. Selanjutnya, kekuatan ini diberikan “menurut kekayaan kemuliaan-Nya”. Ide tentang kekuatan dan kemuliaan memang sangat erat (Rom 6:4; Kol 1:11). Ketika Allah menunjukkan kuasa-Nya, orang melihat kemuliaan-Nya. Begitu pula ketika Ia menyatakan kemuliaan-Nya, Ia biasanya menggunakan cara-cara yang sekaligus membuktikan kekuatan-Nya. Seandainya Allah menguatkan kita menurut kemuliaan-Nya saja, hal itu sudah lebih daripada cukup. Bagaimanapun, Paulus menegaskan bahwa pemberian kekuatan ini menurut kekayaan kemuliaan-Nya. Betapa besarnya kekuatan yang Ia berikan!

Kekuatan yang dimaksud di sini bukanlah kuasa untuk mengubah situasi kita. Kekuatan ini adalah kekuatan yang bersifat internal. Kekuatan ini diberikan melalui Roh Kudus dalam batin kita (ayat 16b). Pemberian kuasa secara internal ini juga dipertegas lagi di ayat 17a bahwa Kristus diam di dalam hati kita. Dalam bagian doksologi kuasa ini dijelaskan bekerja di dalam kita (ayat 20). Dari semua penjelasan ini kita dapat melihat bahwa manusia lahiriah atau situasi kita bisa tetap buruk, namun manusia batiniah kita tetap diperbarui (2Kor 4:16; Kol 3:10).

Dari ungkapan Rasul Paulus di ayat 16-17a terlihat bahwa kuasa ilahi dalam diri kita dikerjakan melalui Roh Kudus dan Kristus. Kaitan antara Roh Kudus dan kuasa sudah sedemikian jelas, karena Roh Kudusah yang memberikan kuasa (Kis 1:8; Rom. 1:4; 15:19; 1Kor.2:4; 1 Tes 1:5). Dalam kaitan dengan Kristus, kata “diam” di sini menegaskan bahwa Kristus tinggal!. Jadi, kehadiran Roh Kudus dan Kristus dalam diri kita ibarat koin dengan dua sisi yang saling melengkapi. Konsep ini sekaligus menegaskan peranan Allah Tritunggal dalam menguatkan kita: Bapa memberi kekuatan melalui Roh Kudus dan Kristus.

Supaya kita memahami dan mengenal kasih Kristus
Ef.3:17b ....................... dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. 3:18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, 3:19a dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. 

(Ayat 17b berbicara tentang kasih Kristus, sehingga sengaja penulis penggal dan memasukkannya ke dalam pembahasan dengan ayat 18 dan 19 yang intinya memfokuskan kepada "Kasih Kristus".)

Doa Rasul Paulus adalah supaya jemaat Efesus dan semua orang kudus dapat memahami dan mengenal kasih Kristus. Tindakan “memahami” (ayat 18) atau “mengenal” (ayat 19a) tidak boleh hanya dipahami sebagai pergumulan intelektual atau belaka. 

Perhatikan beberapa petunjuk yang mengarah pada pandangan ini:
(1) kasih Kristus melampaui segala pengetahuan (ayat 19a); 
(2) pemahaman ini hanya dimungkinkan melalui doa; 
(3) pemahaman ini terkait dengan diakarkan dan dibangun di dalam kasih (ayat 17b); 

Menarik sekali, bahwa Rasul Paulus menggambarkan kasih seperti bentuk kubus (panjang, lebar, tinggi, dalam). Kubus memang seringkali menunjukkan ide kesempurnaan. Ruang mahakudus berukuran 20 x 20 hasta (2 Taw.3:8 = Kemudian ia membuat ruang maha kudus; panjangnya dua puluh hasta, menurut lebar rumah itu, dan lebarnya dua puluh hasta juga. Lalu ia menyaputnya dengan emas tua seberat enam ratus talenta;). Sorga juga digambarkan sebagai sebuah kota berbentuk kubus (Why 21:16 = Kota itu bentuknya empat persegi, panjangnya sama dengan lebarnya. Dan ia mengukur kota itu dengan tongkat itu: dua belas ribu stadia; panjangnya dan lebarnya dan tingginya sama). 

Terlepas dari apakah Rasul Paulus sedang memikirkan kesempurnaan bait Allah atau sorga, makna yang disiratkan sudah jelas: kasih Kristus melampaui semua perhitungan geometri dan ilmu manusia.
Kasih ini bukan hanya sempurna (ayat 18), tetapi juga melampaui segala pengetahuan (ayat 19a). Keterangan ini menjelaskan mengapa untuk memahami kasih Kristus Paulus perlu berdoa. Kasih ini begitu besar dan tidak mungkin dipahami dengan akal manusia yang sangat terbatas.

Pembahasan tentang kasih memang sangat diperlukan oleh jemaat Efesus yang sedang kuatir dengan kesesakan Rasul Paulus. Ketika penderitaan terjadi pada orang benar, kita kadangkala mempertanyakan kasih Allah. Melalui doa ini Paulus mengajarkan bahwa ketika kita tidak memahami kasih Allah, itu bukan disebabkan ketidak-adaan kasih itu, namun kesempurnaan dari kasih tersebut yang melampaui pikiran kita.

Supaya kita dipenuhi dalam seluruh kepenuhan Allah
Ef.3:19b. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.

Pembacaan sekilas sudah cukup untuk menunjukkan penekanan Rasul Paulus dalam bagian ini. Akar kata “penuh” diulang dua kali. Rasul Paulus juga menambahkan kata “seluruh”. Seandainya kita dipenuhi dengan sedikit saja dari diri Allah, maka hal itu sudah lebih dari cukup. Kenyataannya, kita dipenuhi dengan kepenuhan Allah, bahkan seluruh kepenuhan-Nya!

Dalam bagian sebelumnya Rasul Paulus sudah menyatakan bahwa jemaat adalah kepenuhan Kristus (Ef.1:23). Apa maksud dipenuhi dengan kepenuhan Allah? Ungkapan ini jelas tidak boleh dipahami secara material, sebab Allah adalah Roh (Yoh 4:24). Di bagian selanjutnya Paulus meberikan petunjuk untuk memahami konsep ini. Efesus 4:13 memakai ungkapan ini lagi dan mengaitkannya dengan pertumbuhan rohani yang komprehensif (iman, pengetahuan, kedewasaan, tingkat pertumbuhan). Dari teks ini terlihat bahwa kepenuhan Allah berbicara tentang kesempurnaan dan bukan materi!

Doksologi
(Kamus Besar Bahasa Indonesia - Doksologi  = himne memuji kebesaran Tuhan)

Ef.3:20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, 3:21 bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.

Dalam tradisi doa Yahudi di sinagog (rumah ibadat orang Yahudi), sebuah doa biasanya diakhiri dengan pemberian pujian/kemuliaan kepada Allah (doksologi). Bagaimanapun, posisi pemunculan doksologi di ayat 20-21 cukup menarik perhatian, karena doksologi biasanya diletakkan di akhir sebuah surat. Efesus 3:20-21 merupakan salah satu dari beberapa doksologi yang Rasul Paulus letakkan bukan di akhir surat (bdk. Rom 1:25; 11:36). Ketika Rasul Paulus mengakhiri sebuah pembahasan dengan doksologi (walaupun bukan di akhir surat), itu berarti bahwa ia sedang terdorong oleh emosi yang kuat tentang Allah. Di Efesus 3:20-21 ia begitu dikuasai oleh konsep yang luar biasa tentang kekuatan Allah yang sangat besar, kasih Kristus yang sempurna, dan kepenuhan Allah yang melimpah dalam diri orang percaya, sehingga ia tidak tahan untuk tidak memberikan pujian kepada Allah.

Dalam bagian doksologi ini, Rasul Paulus menyinggung beberapa ide yang sudah ia utarakan dalam doanya, yaitu:

1. Kuasa Allah yang besar (3:15-16, 20) 
2. Kuasa yang ada dalam diri orang percaya (3:16, 20)
3. Kesatuan antara Kristus dan jemaat (3:17a, 21)

Tiga konsep ini bahkan juga muncul di bagian lain dalam surat ini: Pemberian Allah yang besar (Ef.1:18, 19; 2:7; 3:19), Kuasa untuk orang percaya (Ef.1:19; 3:7, 16, 18), Kesatuan Kristus-jemaat (Ef.1:22, 23; 3:10).

Walaupun doa Rasul Paulus sudah begitu indah dan berbobot, namun pemberian Allah tetap melebihi doa tersebut (ayat 20). Walaupun Rasul Paulus sudah memikirkan dengan matang apa saja yang diperlukan oleh jemaat Efesus, tetapi Allah memberikan lebih dari apa yang ada dalam pikiran Rasul Paulus. Secara khusus hal ini sangat diperlukan mengingat kasih Kristus memang melebihi pengetahuan manusia. Semua pemberian yang melimpah ini terutama bukan untuk kepentingan orang percaya, tetapi untuk kemuliaan Allah. Kemuliaan ini tercermin dalam kesatuan jemaat dan Kristus.

APLIKASI

Doa Rasul Paulus hendaknya dijadikan contoh berdoa bagi kita sekarang ini. Apakah itu doa pribadi, doa bagi orang lain atau jemaat.
Mengapa dicontoh? Karena dalam Doa Rasul Paulus, ia mengamini ucapan Kristus Yesus; (Mat.6:33) 
"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."

Rasul Paulus tidak minta kekayaan bagi jemaat Efesus, atau harta yang dilipat-gandakan (karena jemaat Efesus adalah jemaat yang mampu), tetapi dalam doanya ia mendoakan, supaya jemaat Efesus dan akhirnya kita sekarang ini, melihat Kuasa Allah yang besar, mengetahui Kuasa yang ada dalam diri orang percaya, dan memahami Kesatuan antara Kristus dan jemaat-NYA.

Ketika Rasul Paulus menulis surat ini di tahun di sekitar tahun 60-62 M, ia pun sendiri tidak akan pernah menyangka bahwa 1953 tahun kemudian yaitu di tahun 2013, jemaat Kristus di GPIB khususnya, juga membaca dan menelaah serta melaksanakan pembangunan Tubuh Kristus dengan doanya ini.

ITT - Jakarta, Minggu 1 September 2013