Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri

Saturday, December 19, 2009

Nehemia 10:32-39

10:32 Pula kami mewajibkan diri untuk memberi tiap tahun sepertiga syikal untuk ibadah di rumah Allah kami, yakni:
10:33 untuk roti sajian, untuk korban sajian yang tetap, untuk korban bakaran yang tetap, untuk hari-hari Sabat, bulan-bulan baru dan masa raya yang tetap, untuk persembahan-persembahan kudus dan korban-korban penghapus dosa, untuk mengadakan pendamaian bagi orang Israel serta segala pekerjaan di rumah Allah kami.
10:34 Pula dengan membuang undi kami, yakni para imam, orang-orang Lewi dan kaum awam, menetapkan suatu cara untuk menyediakan kayu api. Kayu itu harus dibawa ke rumah Allah kami secara bergilir oleh kaum-kaum keluarga kami pada waktu-waktu tertentu setiap tahun, supaya di atas mezbah TUHAN Allah kami ada api yang menyala, seperti tertulis dalam kitab Taurat.
10:35 Lagipula setiap tahun kami akan membawa ke rumah TUHAN hasil yang pertama dari tanah kami dan buah sulung segala pohon.
10:36 Pun kami akan membawa ke rumah Allah kami, yakni kepada para imam yang menyelenggarakan kebaktian di rumah Allah kami, anak-anak sulung kami dan anak-anak sulung ternak kami seperti tertulis dalam kitab Taurat, juga anak-anak sulung lembu kami dan kambing domba kami.
10:37 Dan tepung jelai kami yang mula-mula, dan persembahan-persembahan khusus kami, dan buah segala pohon, dan anggur dan minyak akan kami bawa kepada para imam, ke bilik-bilik rumah Allah kami, dan kepada orang-orang Lewi akan kami bawa persembahan persepuluhan dari tanah kami, karena orang-orang Lewi inilah yang memungut persembahan-persembahan persepuluhan di segala kota pertanian kami.
10:38 Seorang imam, anak Harun, akan menyertai orang-orang Lewi itu, bila mereka memungut persembahan persepuluhan. Dan orang-orang Lewi itu akan membawa persembahan persepuluhan dari pada persembahan persepuluhan itu ke rumah Allah kami, ke bilik-bilik rumah perbendaharaan.
10:39 Karena orang Israel dan orang Lewi harus membawa persembahan khusus dari pada gandum, anggur dan minyak ke bilik-bilik itu. Di situ ada perkakas-perkakas tempat kudus, pula para imam yang menyelenggarakan kebaktian, para penunggu pintu gerbang dan para penyanyi. Kami tidak akan membiarkan rumah Allah kami.

====================================


Nehemia adalah seorang juru minum (anggur) pada masa pemerintahan raja Artahsasta. Menurut sejarah pada masa itu, seorang juru minum raja adalah seorang dengan jabatan tinggi yang sangat dipercaya oleh raja.
Jabatan tersebut tidak melunturkan semangat patriotisme Nehemia, yang sedang dalam pembuangan di kerajaan Persia. Ia meninggalkan jabatannya sebagai juru minum raja dan pergi ke Yerusalem untuk membangun kembali kota itu, yang pada akhirnya ia diberikan tugas sebagai pejabat gubernur sipil oleh Raja Persia. (John Balchim, dkk; Intisari Alkitab; terbitan Persekutuan Pembaca Alkitab).

Singkat kata singkat cerita, dengan berbagai pergumulan dan tantangan baik dari dalam (kaum Israel) maupun dari luar, Nehemia berhasil membangun kembali tembok-tembok kota tersebut.

Setelah melakukan pengakuan dosa nasional, kemudian Nehemia hendak mengikrarkan komitmen untuk pelayanan di rumah Allah.

Komitmen itu antara lain memberikan persembahan tetap sebesar sepertiga syikal setiap tahunnya (ay 32).

Kemudian (ay 34), merekapun berkomitmen untuk senantiasa menyediakan kayu api di atas mezbah Tuhan. Sampai disini ada hal menarik yang saya dapatkan. Mereka berkomitmen untuk terus mempertahankan ’Api’ pada mezbah TUHAN terus menyala. Dengan api mezbah yang terus menyala, berati kesadaran umat untuk mengakui dan meninggalkan dosa terus berlangsung secara konsisten. Saya mendapatkan kesan bahwa inilah kesadaran jemaat yang sangat luar biasa, hal ini juga membuktikan bahwa pelayan terhadap umat juga berjalan dengan baik. Sungguh suatu anugerah bahwa bulan Juni ini kita merayakan bulan Pelayanan dan Kesaksian (PELKES), alangkah indahnya apabila ’API PEKABARAN INJIL’ bisa terus menyala seperti demikian. Kerjasama yang baik antara umat dan pelayan dalam rumah TUHAN sungguh sangat indah bila juga dapat berjalan di kehidupan kita saat ini. Para hamba Tuhan tidak perlu sibuk memikirkan bagaimana caranya bisa tercukupi kebutuhan hidupnya dan dapat fokus untuk melakukan pelayanannya karena jemaat memiliki kesadaran yang baik untuk menopang pelayanan; sebaliknya para hamba Tuhan-pun bersedia terlebih dahulu memberikan pelayanan yang baik kepada jemaat sehingga kebutuhan rohani/spiritualitas jemaat kepada Tuhan pun terpenuhi dan jemaat mau secara bersukacita memberikan ucapan syukurnya di dalam rumah TUHAN.

Ay. 35, ”...kami akan membawa ke rumah TUHAN hasil yang pertama...”.
Sungguh menarik, kenapa dikatakan hasil yang pertama, bukan hasil kedua setelah untuk keluarga, atau hasil sisa setelah terpenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup yang lain??? Saya kembali mendapat pelajaran berharga bahwa jemaat menyadari bahwa Tuhan telah terlebih dahulu berkarya dalam kehidupan mereka melalui segala berkat yang di berikan Allah.

Ay. 37, ...karena orang-orang Lewi inilah yang memungut persembahan-persembahan persepuluhan di segala kota pertanian kami....
Wah wah, alangkah senangnya hati seorang jemaat yang melihat, seorang pelayan Tuhan (bisa Pendeta, Presbiter, BPK, atau siapapun) yang bersedia berlelah ’memungut’ persepuluhan sampai ke segala penjuru kota.
Saya melihat, pelayanan total seorang pelayan Tuhan yang bersedia berlelah untuk menghampiri jemaatnya. Saya pun meyakini istilah ’memungut’ disini bukan seperti istilah seorang preman yang memungut jatahnya di suatu daerah. Saya meyakini dari istilah ’memungut’ ini ada interaksi antara pelayan dengan jemaat, dengan kata lain ada komunikasi yang hangat terjadi, sehingga pelayan dapat benar-benar mengenal jemaatnya seperti Tuhan YESUS sebagai gembala yang baik
mengenal baik setiap domba-domba-Nya.

Ay. 38, ...membawa...ke rumah Allah kami, ke bilik-bilik rumah perbendaharaan...
Ada hal menarik yang lainnya...dikatakan bahwa persembahan2 tersebut dibawa ke dalam perbendaharaan rumah Allah, artinya persembahan-persembahan tersebut di kumpulkan yang kemudian akan di pikirkan bersama pengelolaannya sehingga setiap kebutuhan dalam pelayanan dapat terpenuhi; baik kebutuhan untuk kesejahteraan pelayan Tuhan, membantu orang miskin, orang sakit, janda-janda maupun pergumulan jemaat yang lainnya.

Ay. 39, Kami tidak akan membiarkan rumah Allah.
Ini adalah ending yang sangat indah dari sebuah piagam perjanjian. Ada kesadaran (awareness) yang sangat tinggi bahwa kegiatan pelayanan bukan hanya tugas pelayan tapi juga tugas setiap warga jemaat untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan.

Pembahasan kitab Nehemia ini sangat memberikan ’pencerahan’ bagi saya secara pribadi. Perlu ada kesadaran pribadi yang mengingat bahwa adalah tugas dan tanggung jawab kita bersama sebagai warga jemaat untuk menjaga agar ’Api’ mezbah dalam rumah Allah bisa terus menyala. Allah telah begitu baiknya dengan berinisiatif terlebih dahulu memberkati kita dengan segala hal, keluarga, studi, pekerjaan, dll. Adalah wujud ungkapan syukur bila kita memberikan persembahan, bukan karena ingin mendapatkan bunga deposito yang melimpah dari Tuhan. Jemaat tidak hanya memberikan persembahan tetap, tapi ada juga persembahan persepuluhan dan persembahan syukur lainnya (ay. 33).

Ada hal yang membuat hati saya miris. Di gereja kami dipercayakan penjualan kupon Penanggulangan biaya pensiun pendeta GPIB atau singkatnya hutang dana pensiun. Bagaimana seorang pelayan Tuhan harus bersusah payah memikirkan kesahteraan dirinya dimasa ia pensiun. Tidak dapat dipungkiri masalah kesejahteraan adalah masalah yang tidak dapat diabaikan, bahkan Nehemia pun berdoa untuk kesejahteraannya (Nehemia 13 bagian paling akhir).
Mengingat baru saja berlalu bulan PELKES GPIB, alangkah baiknya bila ada komunikasi dan pemahaman yang baik antara jemaat dan para pelayan untuk sama-sama memiliki kesadaran untuk memperjuangkan api mezbah Allah terus menyala.

Siapkah kita membuat pernyataan iman dan mengikrarkan ”Kami tidak akan membiarkan rumah Allah”(ay 39) sebagai wujud tanggung jawab bersama warga gereja dan ungkapan syukur terhadap segala kebaikan Tuhan di hidup kita??

Biarlah karunia Roh Kudus yang dapat memampukan masing-masing kita mengucapkannya.

Tuhan memberkati....

ITT - 19 Desember 2009

Friday, November 13, 2009

Empat Prinsip Berkat


Kejadian 12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.


Alkitab mengajarkan bahwa kita seharusnya menggunakan "berkat-berkat kita" untuk memberkati orang lain:

1. Berkat-berkat yang diberikan Tuhan kepada kita harus mengalir ke orang lain

Alkitab mengajarkan bahwa kita diberkati bukan cuma sekedar agar kita merasa lebih baik, bukan cuma sekedar agar kita lebih bahagia dan lebih nyaman, tetapi supaya kita bisa memberkati atau menolong orang-orang lain.Allah berkata kepada Abraham: "Aku akan membuat engkau menjadi bangsa besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur, dan engkau akan MENJADI BERKAT." (Kejadian 12:2)

Allah memberkati Abraham supaya Abraham mengalirkan berkata itu kepada orang lain ...Itulah yang disebut: "Masterpiece for Masterplan"

Anda dijadikan sebagai Maha Karya ciptaan-Nya untuk tujuan mewujudkan Rencana-Nya menjadi berkat bagi bangsa-bangsa; menolong orang lain mewujudkan impian mereka; menjadikan semua bangsa murid Kristus ...Prinsip pertama dari berkat Tuhan adalah berkat itu harus mengalir keluar ...

2. Ketika kita memberkati orang lain, Tuhan akan memelihara hidup kita

Prinsip kedua dari berkat Tuhan adalah apabila kita menaruh perhatian penuh untuk memberkati atau menolong orang lain, maka Tuhan akan mencukupi semua kebutuhan kita.Tuhan Yesus berkata, "Sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, istrinya atau saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya, akan menerima kembali lipat ganda pada masa itu juga dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal." (Lukas 18:29-30)

Ketika kita memperhatikan kebutuhan orang lain, Tuhan akan mengambilalih semua masalah dan kesulitan hidup kita. Dia mengatasi masalah dan kesulitan kita jauh lebih baik dibanding kita sendiri yang mengatasinya.Ketika kita menaruh perhatian untuk memberkati hidup orang lain, maka Tuhan akan memberikan imbalannya sekarang ini juga dan kita akan menerima hidup yang kekal. Itulah yang berkat sejati.Alkitab berkata, "Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri ..." (Amsal 11:17)

3. Ketika kita memberkati orang lain maka kita diberkati kembali

Semakin banyak kita memberkati orang lain; semakin banyak kita menolong orang lain; semakin banyak pula Tuhan akan memberkati hidup kita.Di dalam Lukas 6:38 Tuhan Yesus berkata, "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncangkan dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.

"Prinsip berkat yang ketiga adalah Semakin banyak kita mencoba untuk memberkati orang lain di sekitar kita, maka semakin Tuhan akan berkata: "Aku akan mencurahkan berkat ke atas hidupmu dengan berlimpah-limpah."

4. Semakin banyak kita diberkati Tuhan, Dia mengharapkan kita menolong lebih banyak lagi orang lain

Yesus berkata, "... Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut." (Lukas 12:48)

Prinsip berkat Tuhan keempat adalah semakin banyak kita diberikan, semakin banyak kita dipercayakan maka sesungguhnya semakin besar tanggung jawab yang dituntut oleh Tuhan.

Kita harus mempertanggungjawab kan semua pemberian Tuhan, kita harus mengerti bahwa jika kita telah diberkati lebih banyak dari pada orang lain di sekitar kita, hal itu berarti bahwa Tuhan punya tujuan agar kita peduli dan memperhatikan orang lain ..."Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat." (2 Korintus 5:10).

ITT - 13 Nopember 2009

Saturday, October 31, 2009

Apa itu Khotbah?

Sesungguhnya, ibadah hari Minggu itu adalah sebuah persekutuan. Dalam ibadah itu terjadi persekutuan antara jemaat dengan Tuhan dan sekaligus persekutuan antar jemaat sebagai sesama saudara seiman. Dalam persekutuan itu terjadi dialog antara Tuhan dengan jemaat-Nya yang direpresentasikan melalui liturgi. Jadi liturgi itu disusun dalam bentuk dialog. Misalnya: jemaat mengaku dosa yang disambut dengan sapaan Tuhan yang memberikan pengampunan (berita pengampunan). Begitu seterusnya, dan khusus bagian khotbah, adalah sapaan Tuhan kepada jemaat melalui FirmanNya, yang mengajar, menghibur, menguatkan juga menegur dan mengingatkan jemaat Tuhan.

Namun, tidak sedikit jemaat yang menyepelekan makna khotbah dalam ibadah. Mereka berpikir bahwa khotbah itu mirip seperti pidato yang tidak ada gunanya. Akibatnya, di dalam kehidupan mereka sehari-hari pun, apa yang mereka dengarkan dari khotbah, hampir tidak pernah bisa diaplikasikan. Di sisi lain, banyak pemimpin gereja hari-hari ini pun juga menyepelekan khotbah. Mereka berpikir bahwa khotbah itu sesuatu hal yang biasa. Khotbah bagi mereka tidak ada bedanya dengan membawakan makalah dalam training atau pemuasaan telinga jemaat. Rasul Pauluspun sudah mengingatkan jemaat pada 2Tim. 4:3-4 =
4:3 Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. 4:4 Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng.

Jadi, benarkah khotbah seperti demikian yang dikehendaki Allah? Dengan tegas dapat dijawab: "TIDAK".

Khotbah adalah Pengajaran akan Kebenaran Firman Allah yang digenapi dalam Yesus Kristus dan penyertaan Roh Kudus.

Bila dikaitkan dengan Trinitas, kita dapat membagi Khotbah menjadi 3 (tiga) bagian utama;

Pertama,

Tujuan Khotbah: Kemuliaan Allah. Artinya khotbah bertujuan untuk memuliakan Allah “yang ditujukan untuk membentuk ketaatan dalam sukacita kepada Kerajaan Allah”.

Kedua,

Dasar Khotbah: Yesus Kristus. Khotbah yang baik bukan berdasarkan ide-ide filosofis, psikologis atau humanisme manusia berdosa yang atheis, tetapi hanya berdasar Yesus Kristus. Artinya kita mengkhotbahkan berita pengharapan kepada orang berdosa tanpa menghilangkan kebenaran dan kemuliaan Allah yang tanpa cela dan Yesus Kristus adalah Dasar Kerendahan Hati Khotbah. Apapun kitab dan bacaan dalam Alkitab, harus diarahkan kepada Penggenapan Janji Allah dalam Yesus Kristus. Bukankah kita adalah Jemaat Yesus Kristus? Bukan Jemaat Orang Yahudi atau yang lain?

Ketiga,

Karunia Khotbah: Kuasa Roh Kudus. Karena tujuan khotbah adalah kemuliaan Allah di dalam ketaatan jemaat-Nya dengan sukacita, maka ketika berkhotbah, si pengkhotbah harus menyampaikan Firman Allah dengan terus bergantung pada Kuasa Allah. Agar tujuan khotbah ini tercapai, maka si pengkhotbah harus mengkhotbahkan Firman Allah yang diinspirasikan oleh Roh Allah dengan kuasa dan urapan Roh Kudus. Hal inilah yang kurang ditekankan oleh banyak pengkhotbah di gereja kita.

Jadi, khotbah adalah inti Ibadah atau bagian utama dari Ibadah, dimana Allah berbicara kepada jemaat-Nya dengan Pengajaran & Pemberitaan Firman-Nya.

ITT – 31 Oktober 2009