Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri

Sunday, December 15, 2024

Anugerah Kelahiran Kristus

Salah satu kalimat bijak kami berbunyi demikian: "Teruslah berbuat baik, maka kebaikan akan mengikutimu. Hal yang sama pun berlaku bagi ketidakbaikan."

Memutus Rantai Ketidakbaikan Melalui Kasih Karunia

Kalimat bijak diatas pada intinya berbicara mengenai hukum "tabur-tuai" yang berlaku universal dalam kehidupan manusia. Namun, ketika kita merenungkan prinsip ini dalam terang kelahiran Tuhan Yesus Kristus, kita akan menemukan dimensi yang jauh lebih indah dan mendalam.

Natal bukan sekadar perayaan, melainkan jawaban Allah atas kegagalan manusia dalam memutus rantai pelanggaran di dunia ini.

1. Hukum Tabur-Tuai dan Realitas Dosa

Prinsip bahwa apa yang kita tabur adalah apa yang akan kita tuai merupakan kebenaran moral yang tertulis jelas di dalam Alkitab.

Galatia 6:7: "Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya."

Jika kita jujur melihat sejarah dan realitas hidup, manusia sering kali menabur benih ketidakbenaran, keegoisan, dan dosa di hadapan Allah. Berdasarkan hukum keadilan yang murni, upah dari dosa adalah maut (Roma 6:23). 

Seandainya Allah hanya bertindak berdasarkan prinsip balasan semata, kita tentu tidak akan memiliki masa depan. Kita akan selamanya terjebak dalam siklus menuai hukuman atas apa yang kita tabur.

2. Kelahiran Yesus: Inisiatif Kasih yang Mengubah Takdir

Di sinilah letak keagungan Natal. Kelahiran Tuhan Yesus bukan sekadar peristiwa sejarah biasa, melainkan manifestasi kemurahan hati Allah yang tak terbatas. Allah tidak membalas keberdosaan manusia dengan hukuman yang setimpal, melainkan justru turun ke dunia untuk menawarkan jalan keselamatan.

Titus 3:4-5: "Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya..."

Melalui palungan yang sederhana di Betlehem, Allah menaburkan benih kasih yang terbesar, yaitu Anak-Nya sendiri. Kelahiran Yesus adalah wujud kebaikan Allah yang paling sempurna bagi dunia yang kelam.

3. Transformasi: Menuai Kasih Karunia dari Taburan Kristus

Momen Natal mengubah cara kita memandang hukum tabur-tuai. Melalui Kristus, terjadi sebuah "pertukaran ajaib": kita tidak lagi menuai apa yang kita tabur, melainkan kita menuai apa yang telah ditabur oleh Kristus

Tuhan Yesus menaburkan ketaatan sempurna, pengampunan, dan pengorbanan. Sebagai hasilnya, kita yang percaya kepada-Nya menuai keselamatan dan hidup kekal—sesuatu yang sebenarnya tidak layak kita terima, namun diberikan secara cuma-cuma melalui anugerah-Nya.

4. Respons Kita: Menjadi Pembawa Kebaikan Kristus

Kasih karunia ini tidak membuat kita berhenti berbuat baik. Sebaliknya, kelahiran Tuhan Yesus memotivasi kita untuk terus menabur kebaikan, bukan lagi karena rasa takut akan hukuman atau demi mengejar pahala, melainkan sebagai wujud syukur atas kasih Allah yang telah lebih dulu kita terima.

Efesus 2:10: "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya."

Penutup

Kelahiran Tuhan Yesus adalah bukti nyata bahwa kasih Allah jauh melampaui segala kegagalan dunia. Mari kita rayakan Natal dengan tekad baru untuk menjadi saksi-Nya. Teruslah menabur kasih dan damai sejahtera, meneladani Kristus yang telah lahir untuk mengubah hidup kita selamanya.

Galatia 6:9: "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah."

Selamat Hari Natal

ITT - Minggu 15 Desember 2024

 


Monday, November 11, 2024

Selidikilah dan Ujilah


Beberapa hari yang lalu, seorang keluarga datang ke rumah dan cerita.
Katanya: "Bung, bagaimana sekarang ini ya, saya sering dengar khotbah di gereja saya, tapi kok ada saja yang menggelitik di hati saya ketika selesai khotbah. Apa saya terpengaruh iblis sehingga saya hampir selalu merasa gelisah dan kurang pas atas isi khotbah di gereja saya?

Dengan hati-hati saya coba menguraikan kegelisahannya seperti di bawah ini.

+++++++++++++++++++++

Untuk menentukan apakah sebuah khotbah itu sesuai kehendak Tuhan dan berdasarkan Alkitab, sebaiknya kita harus mengevaluasinya berdasarkan tiga hal di bawah ini;

  1. Apakah khotbah itu sesuai dengan Alkitab? Pesan tersebut harus berasal dari, dan konsisten dengan, keseluruhan Kitab Suci. Periksa apakah pengkhotbah menggunakan ayat-ayat dalam konteks sejarah dan sastra yang tepat, dan tidak menyalahartikan makna aslinya untuk mendukung pendapat mereka sendiri atau ide populer. Alkitab harus menjadi otoritas tertinggi, bukan hanya kebijaksanaan atau pengalaman dan kesaksian manusia.
  2. Apakah khotbah itu menunjuk kepada Yesus Kristus dan Alkitab? Semua isi Kitab Suci memberi kesaksian tentang Yesus, jadi khotbah yang benar harus menyoroti penggenapan-Nya, pengorbanan penebusan-Nya, kebangkitan-Nya, dan kasih karunia serta keselamatan yang IA ajarkan. Jika sebuah khotbah berfokus pada pengembangan diri, legalisme, yang meremehkan sentralitas karya Kristus, kemungkinan besar khotbah itu menyimpang dari kebenaran. Sedikit uraian tentang Legalisme dalam Kekristenan adalah pandangan bahwa keselamatan atau perkenanan Allah diperoleh melalui ketaatan pada hukum dan aturan, bukan melalui kasih karunia dan iman. Ini merupakan penekanan berlebihan pada peraturan lahiriah, sering kali tanpa memperhatikan kasih dan pengalaman batin, serta dapat mengarah pada sikap menghakimi dan merendahkan orang lain berdasarkan kepatuhan pada aturan buatan manusia. Bukankah untuk itu Tuhan Yesus datang?
  3. Apakah khotbah itu selaras dengan kesaksian dan karya Roh Kudus? Khotbah yang benar harus disampaikan dengan integritas dan mengandalkan kuasa Roh Kudus, bukan hanya karisma manusia. Hal itu akan menghasilkan kesehatan rohani dan "buah" yang saleh dalam kehidupan orang percaya, seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, dan kerendahan hati. Hal itu seharusnya tidak mengarah pada kehidupan yang tidak saleh, kelemahan rohani, atau fokus pada kesuksesan pribadi pengkhotbah. Khotbah juga wajib menjadi pengingat atas perilaku manusia dan akibatnya - tetapi bukan dengan tekanan sehingga membuat jemaat tertekan - yang ujungnya bermuara kepada pementingan diri pengkhotbah dan golongannya.

Pada akhirnya, kita harus mempelajari Alkitab sendiri agar dapat membandingkan apa yang dikhotbahkan dengan Firman Tuhan yang tertulis, seperti orang-orang Berea di Kisah Para Rasul 17:10-11 = 17:10 Tetapi pada malam itu juga segera saudara-saudara di situ menyuruh Paulus dan Silas berangkat ke Berea. Setibanya di situ pergilah mereka ke rumah ibadat orang Yahudi. 17:11 Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya dari pada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian.

Nasihat penting Rasul Paulus dari Alkitab, tepatnya di 1 Tesalonika 5:21-22 (5:21 Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. 22 Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan.), yang berarti kita harus selalu menyaring, memeriksa, dan menilai semua ajaran, informasi, dan pengalaman, serta hanya mempertahankan atau melakukan yang baik, benar, dan membangun, sambil menolak kejahatan dan kepalsuan.

Ini adalah seruan untuk berpikir kritis, tidak mudah percaya, dan hanya berpegang pada prinsip kebenaran - yaitu kebenaran yang berdasarkan Firman Tuhan. 

ITT - Senin 11 November 2024

Tuesday, September 17, 2024

Kis 5:1-11 : Maut di Balik Flexing Rohani

 Relevansi Kisah Ananias & Safira bagi Gereja Modern

​Kisah tragis Ananias dan Safira dalam Kisah Para Rasul 5:1-11 sering kali terasa seperti anomali yang menakutkan di tengah indahnya kisah kasih gereja mula-mula. Bagaimana mungkin di era kasih karunia, sebuah kebohongan tentang uang persembahan berujung pada eksekusi mati yang instan?


​Jika kita membawa kisah ini ke abad ke-21, Ananias dan Safira mungkin adalah jemaat terpandang yang namanya sering disebut dari mimbar, atau penyumbang dana utama untuk proyek pembangunan gedung gereja. Mari kita bedah makna mendalam dari kisah ini melalui lensa realitas gereja modern.


​1. Jebakan Pencitraan dan "Flexing" Rohani


​Dalam Kisah Para Rasul 4:36-37, Barnabas menjual tanahnya dan memberikan seluruh uangnya dengan tulus. Ia dihormati oleh jemaat. Ananias dan Safira melihat hal itu dan menginginkan "tepuk tangan" yang sama, tanpa mau membayar harganya secara penuh.


​Di era media sosial saat ini, virus kemunafikan ini bermutasi menjadi flexing rohani: Seseorang mungkin menyumbang besar-besaran agar namanya diukir di plakat gereja atau diumumkan di warta jemaat. Atau, seseorang mengunggah foto-foto sedang melayani di daerah pelosok demi likes dan pujian netizen, namun di balik layar, ia menelantarkan keluarganya atau menjalankan bisnis dengan cara curang.


​Tuhan menolak keras pelayanan yang dijadikan teater untuk memuaskan ego. Firman Tuhan dalam Matius 6:1 memperingatkan dengan sangat jelas:

​"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga."


​2. Sindrom Donatur VIP (Budaya Patronase)


​Secara historis, di dunia Romawi kuno terdapat sistem patronase, di mana orang kaya (patron) mendanai komunitas untuk "membeli" status, hak istimewa, dan kekuasaan. Ananias dan Safira membawa mentalitas transaksional duniawi ini ke dalam gereja. Mereka menyerahkan sebagian uang, namun bersikap seolah-olah menyerahkan semuanya, demi mendapatkan posisi elit di mata para rasul.


​Ini terjadi ketika ada jemaat kaya yang merasa bisa "membeli" gereja. Misalnya, menyumbang AC baru, alat musik mahal, atau mobil operasional gereja, lalu merasa berhak mendikte kebijakan pendeta. Mereka bisa marah jika tidak diberikan kursi paling depan atau jika ditegur dosanya dari mimbar.


​Dalam Kisah Para Rasul 5:4, Petrus menegaskan bahwa uang itu adalah hak mereka. Masalahnya bukan nominalnya, melainkan motivasinya. Tuhan tidak butuh uang kita; Dia menghendaki hati yang rela melepaskan, bukan hati yang berinvestasi untuk mencari kuasa politik di dalam gereja.


​3. Kontroversi Keadilan: Mengapa Sekarang Koruptor Gereja Tidak Langsung Mati?


​Salah satu pertanyaan paling tajam yang sering muncul adalah: "Kalau Ananias dan Safira langsung mati karena berbohong soal persembahan, mengapa hari ini banyak oknum pemimpin atau jemaat yang memanipulasi keuangan gereja tetap hidup kaya raya dan sehat?"


​Di sinilah kita perlu memahami konsep Coram Deo - hidup di hadapan wajah Allah yang suci. Gereja mula-mula sedang berada dalam fase pembentukan pondasi. Kematian Ananias dan Safira adalah sebuah preseden (penetapan standar) dari Allah. Sama seperti peristiwa Nadab dan Abihu di Perjanjian Lama yang langsung dihukum mati saat mempersembahkan api asing (Imamat 10), Tuhan sedang menetapkan batas yang tegas: Gereja tidak boleh dibangun di atas dasar manipulasi.


​Saat ini, kita hidup di era di mana Allah menahan murka-Nya untuk memberi ruang pertobatan (panjang sabar). Namun, kesabaran Tuhan tidak boleh disalahartikan sebagai persetujuan. Keadilan Tuhan yang tertunda sama sekali bukan berarti dibatalkan.


​"Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan." — Ibrani 12:29


​Kesimpulan: Melayani di Ruang Tanpa Sorot Lampu


​Kisah Ananias dan Safira mengundang kita untuk menelanjangi motif hati kita yang terdalam. Amsal 21:2 mengingatkan, "Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati."


Mari kita mengevaluasi diri: Apakah kita tetap melayani dengan sungguh-sungguh meskipun tidak ada satu orang pun yang melihat? Apakah persembahan kita murni lahir dari rasa syukur, atau diam-diam kita berharap mendapat pengakuan dari pendeta dan jemaat lain?


Di hadapan Tuhan, topeng rohani yang paling tebal pun akan tembus pandang. Pilihlah untuk menjadi gereja yang otentik, di mana integritas bernilai jauh lebih tinggi daripada popularitas.


ITT - Selasa 17 September 2024