Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri

Tuesday, December 16, 2025

Boleh atau Tidak? - Merayakan Natal

Argumen Menentang Natal

Premisnya adalah karena Tuhan tidak pernah menginstruksikan atau memerintahkan orang Kristen untuk merayakan Natal dalam Alkitab, mereka seharusnya tidak melakukannya.

Meskipun semua orang Kristen setuju bahwa kelahiran Yesus adalah peristiwa yang menggembirakan dan tercatat dalam Alkitab, perselisihannya adalah apakah hari tertentu, yang kita sebut Natal, harus dikhususkan untuk perayaan tersebut karena tidak secara eksplisit diuraikan dalam Kitab Suci.

Argumen Mendukung Natal

Yesus dan Perayaan Pentahbisan Bait Allah (Hari Raya Hanukkah)

Disini kita coba menyajikan contoh dari Kitab Yohanes, di mana Tuhan Yesus hadir pada Perayaan Pentahbisan Bait Allah (yang kita sebut Hanukkah saat ini).

Perayaan ini adalah hari raya buatan manusia, yang dimulai sekitar 160 tahun sebelum Tuhan Yesus, untuk merayakan dedikasi ulang bait suci setelah pemberontakan Makabe. Ini bukanlah perayaan berdasarkan Alkitab yang diperintahkan oleh Tuhan.

Dalam Yohanes 10:22-23, Yesus berjalan di bait suci selama perayaan ini. Tidak ada penyebutan tentang Yesus menegur orang-orang karena merayakan hari raya buatan manusia ini. (Yohanes 10:22-23: 10:22 Tidak lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin.10:23 Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo.)

Kesimpulan dari contoh tersebut: Bahwa prinsip menolak hari raya karena tidak ada dalam Alkitab - dapat dikesampingkan ​​karena Tuhan Yesus sendiri hadir pada hari raya yang tidak ditentukan dalam Alkitab.

Kesimpulan tentang Kebebasan Kristen dari Rasul Paulus

Alkitab tidak melarang Natal atau partisipasi dalam hari raya yang tidak ditentukan dalam Alkitab.

Masalah ini harus dianggap sebagai masalah kebebasan Kristen dan dapat didalami pada Roma 14 khususnya Roma 14:5-6, - yang memungkinkan perbedaan pendapat tentang hal-hal yang tidak penting tanpa menghakimi.

Akhirnya, .... Merayakan Natal bukanlah suatu pelanggaran, dan tidak merayakannya pun juga bukan suatu pelanggaran. Jika seseorang memilih untuk merayakan, mereka harus melakukannya untuk kemuliaan Tuhan, demikian pula sebaliknya.

Roma 14

Jangan menghakimi saudaramu

1 Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya. 2 Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja. 3 Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu. 4 Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri. 5 Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. 6 Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah. 7 Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. 8 Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. 9 Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup. 10 Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. 11 Karena ada tertulis: "Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah." 12 Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.

ITT - Selasa 16 Desember 2025

Tuesday, December 2, 2025

Menjadi Solusi, Bukan Polusi

Suatu Refleksi Etis Kekristenan di Tengah Kemajemukan


​Tinggal di sebuah hunian apartemen yang besar dan heterogen adalah bagaikan hidup di sebuah miniatur Indonesia. Keragaman etnis, tingkat pendidikan, dan latar belakang ekonomi menjadikannya ladang persemaian toleransi sekaligus ujian karakter yang nyata. Bagi pengikut Kristus yang hidup dalam komunitas sebesar ini, kehadiran mereka membawa sebuah mandat ilahi yang spesifik: menjadi Garam dan Terang.


​Namun, apa jadinya jika "garam" itu justru menjadi penyebab korosi (kerusakan) dan "terang" itu justru padam oleh pekatnya fitnah?


1. Mandat Minoritas: Menjadi Elemen yang Mengawetkan


​Dalam tradisi Alkitab, garam berfungsi untuk mencegah pembusukan. Sebagai kelompok yang hidup di tengah keberagaman, umat Kristen dipanggil untuk mencegah "pembusukan sosial"—seperti korupsi moral, ketidakadilan, dan konflik—di lingkungannya.

Matius 5:13 mencatat peringatan keras:

​"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang."


​Ketika oknum yang mengaku pengikut Kristus justru menjadi dalang perpecahan, menggunakan fitnah untuk merebut jabatan dan pengaruh, serta menebar teror mental, mereka sedang kehilangan rasa "asinnya". Alih-alih menjadi pengawet kedamaian, mereka menjadi sumber polusi sosial. Di mata sesama warga yang berbeda keyakinan, perilaku buruk ini bukan hanya mencoreng nama pribadi, tetapi juga mencoreng wajah iman yang mereka wakili.


2. Paradoks Kesalehan Ritual dan Kebobrokan Etika


​Fenomena "rajin beribadah namun rajin memfitnah" adalah bentuk skizofrenia spiritual. Sangat menyedihkan melihat energi yang besar habis digunakan untuk menyimpan dendam besar yang menahun sekian lama. Ini menunjukkan bahwa ibadah telah tereduksi menjadi sekadar rutinitas tanpa perjumpaan dengan karakter Kristus.


​Seorang pengikut Kristus yang kritis harus menyadari bahwa kualitas iman tidak diukur dari kefasihan bicara di mimbar atau keaktifan di grup WhatsApp komunitas, melainkan dari kemampuan menahan diri untuk tidak mencelakai sesama.


1 Yohanes 4:20 memberikan tamparan keras:

"Jikalau seorang berkata: 'Aku mengasihi Allah,' dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya."


3. Etika Bertetangga: Ujian Kasih yang Paling Dekat


​Sangat ironis ketika fitnah dilontarkan kepada orang yang pintu rumahnya mungkin hanya berjarak beberapa meter. Di apartemen, orang bagaikan hidup seatap tetapi beda kamar, sehingga ungkapan tetangga adalah keluarga terdekat adalah nyata adanya. Sehingga menyakiti tetangga dengan kabar bohong dan intimidasi adalah pelanggaran berat terhadap hukum kasih.

​Sebagai minoritas, umat Kristen seharusnya memiliki kesadaran diri (self-awareness) yang tinggi.


Mazmur 15:1-3: 1 Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? 

2 Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, 

3 yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; 


Setiap tindakan kita menjadi "surat terbuka" yang dibaca oleh orang lain. Jika kita menjadi akar masalah (source of trouble), kita sedang membangun tembok penghalang bagi orang lain untuk melihat kemuliaan Tuhan.


4. Kekuasaan: Pelayanan atau Ambisi Rendahan?


​Perebutan pengaruh dan jabatan publik dalam lingkup apartemen dengan cara-cara yang tidak terpuji menunjukkan adanya pergeseran orientasi. Kekuasaan yang seharusnya digunakan untuk melayani begitu banyak warga, berubah menjadi berhala untuk memuaskan ego.


​Ingatlah prinsip kepemimpinan Kristus:

"Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu." (Matius 20:26)


​Menggunakan fitnah untuk merebut posisi adalah bukti ketidakmampuan untuk mempercayai kedaulatan Tuhan. Kepemimpinan yang didapat dari hasil menjatuhkan sesama tidak akan pernah membawa berkat, melainkan hanya akan menghasilkan kepengurusan yang penuh dengan ketakutan dan kepahitan.


5. Integritas Nurani: Antara Menghakimi dan Mencari Kebenaran


​Bahaya terbesar dari seorang religius adalah ketika ia mulai merasa menjadi "pemilik kebenaran" dan menempatkan diri sebagai hakim atas sesamanya. Di tengah dinamika apartemen yang kompleks, sangat mudah bagi kita untuk terjebak dalam sikap self-righteousness atau merasa paling benar sendiri. Kita sering kali begitu cepat menarik kesimpulan dan menjatuhkan vonis moral kepada tetangga tanpa pernah benar-benar memahami duduk perkaranya.


Matius 7:1-2 memberikan peringatan yang sangat presisi bagi kita:

"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu gunakan untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."


​Jika kita menggunakan standar kebencian dan kecurigaan untuk menilai orang lain, maka standar yang sama pula yang akan meruntuhkan martabat kita di masa depan. Sebuah persoalan di lingkungan heterogen jarang sekali bersifat hitam-putih. Oleh karena itu, kebijaksanaan Kristen menuntut kita untuk berani melihat masalah dari berbagai sudut pandang (multi-perspektif) sebelum berucap atau bertindak.


​Melihat dari "sisi sebelah" bukan berarti mengkompromikan iman, melainkan sebuah upaya untuk memperoleh kebenaran yang utuh dan adil. Kita harus sadar bahwa perspektif manusia itu terbatas dan sering kali terdistorsi oleh kepentingan pribadi atau luka batin.


​Pada akhirnya, kita harus rendah hati mengakui bahwa kebenaran sejati yang absolut tidak terletak pada opini kita, kelompok kita, atau ego kita. Kebenaran sejati itu hanya ada di dalam Yesus Kristus (Yohanes 14:6). Dengan menjadikan Kristus sebagai pusat, kita akan lebih banyak mendengar untuk mengerti, bukan mendengar untuk menyerang. Hanya dengan kerendahan hati seperti inilah, kehadiran kita di apartemen benar-benar menjadi solusi yang memulihkan, bukan polusi yang menghancurkan.


​Penutup: Warisan Iman dalam Keluarga


​Kekristenan di lingkungan padat penduduk haruslah menjadi kekristenan yang "berbau harum". Namun, lebih dari sekadar citra publik, kita harus sadar bahwa setiap perilaku kita di luar rumah sedang disaksikan dan akan dicontoh oleh anak, istri, suami, serta keluarga kita sendiri.


​Rumah tangga adalah sekolah pertama bagi karakter. Sebagai kepala rumah tangga, ibu rumah tangga, maupun anggota keluarga, kita memegang tanggung jawab moral yang besar untuk mengajarkan kebenaran Kristus—bukan melalui kata-kata kosong, melainkan melalui teladan hidup. Apa jadinya jika kita mengajarkan kasih di meja makan, namun anak-anak kita melihat kita menebar kebencian di grup WhatsApp atau di koridor apartemen? Kita bertanggung jawab di hadapan Tuhan untuk mewariskan integritas, bukan kelicikan.


​Berhentilah menggunakan label "kebenaran" untuk membenarkan kebencian. Jika selama bertahun-tahun kita hanya menghasilkan teror dan fitnah, mungkin ini saatnya kita berlutut dan bertanya: "Siapa yang sebenarnya sedang saya sembah: Tuhan, atau dendam saya sendiri?"


​Mari kembali menjadi "terang" yang memberi arah dan kehangatan bagi seluruh penghuni apartemen. Biarlah keluarga kita bangga karena kita menjadi pembawa damai, sehingga orang lain pun melihat perbuatan baik itu dan memuliakan Bapa di sorga.


"Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16)


ITT - Selasa 2 Desember 2025

Tuesday, October 14, 2025

Tuhan Sang Pencipta Waktu

Beberapa hari lalu, bertemu seorang sahabat di kota lain yang sudah berpuluh tahun tidak ketemu. Lanjut ke satu tempat ngopi, perbincangan mendadak dalam dan serius dengan berbagai-bagai topik. Hal ini cukup mengesankan, maka kami coba rangkum dalam satu artikel supaya dapat ditangkap sebagai satu rangkaian brain storming yang punya landasan berpikir. Memang agak sulit menyatukan, dan berbeda dengan artikel kami pada umumnya, tetapi semoga berguna.

Memahami Penciptaan, Mukjizat Kana, 
dan Pemulihan Tahun-Tahun Kita yang Hilang

Selama berpuluh-puluh tahun, perdebatan mengenai usia Bumi - apakah Bumi ini sangat tua (miliaran tahun) atau masih muda (ribuan tahun) - terus berlangsung di kalangan umat beragama. Namun, alih-alih terjebak dalam pemikiran yang menuntut kita untuk memilih salah satu, mari kita belajar dari pola pikir alkitabiah yang sering kali mengajarkan konsep "keduanya" - Sangat tua, sekaligus masih muda. 

Bagaimana mungkin Bumi berusia tua sekaligus muda? Jawabannya terletak pada pemahaman teologis yang mendalam: Allah yang kita sembah adalah Pencipta waktu. Ia tidak tunduk atau dibatasi oleh waktu, melainkan berdiri melampauinya. Hal ini ditegaskan secara gamblang dalam firman-Nya:

"Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam" (Mazmur 90:4).

Ya Allah kita Transenden. Ia berada di luar batas pemahaman, pengalaman, atau kesanggupan akal manusia. Ia melampaui alam materi, tidak terbatas oleh ruang dan waktu.

​Untuk membangun pemikiran kritis kita mengenai hal ini, mari kita ajukan sebuah pertanyaan logis: Berapakah usia Adam pada hari ia diciptakan oleh Allah? Secara fisik, jika ia diperiksa oleh seorang dokter ahli pada hari itu, sang dokter mungkin akan menyimpulkan bahwa Adam berusia 20 atau 25 tahun. Ia diciptakan sebagai manusia dewasa yang sudah bisa berjalan, berbicara, bekerja memelihara taman, dan memberi nama binatang. Namun, secara kronologis, usianya mungkin baru lima menit. 

Jika Allah sanggup menciptakan manusia yang sudah dewasa dalam sekejap, maka sangat masuk akal jika Allah juga sanggup menciptakan alam semesta yang sudah "dewasa" dalam satu momen. Ia bisa menciptakan pohon yang langsung memiliki lingkaran tahun di batangnya, atau tata surya yang cahaya bintangnya sudah memancar hingga ke Bumi. Allah berdaulat untuk mengintervensi dan melipatgandakan waktu sesuai dengan kehendak-Nya yang berdaulat.
Sepanjang catatan Alkitab, kita melihat bukti nyata bagaimana Allah mendemonstrasikan kedaulatan-Nya atas waktu. Ia menghentikan perputaran Bumi dan menahan matahari pada zaman Yosua (Yosua 10), memundurkan bayang-bayang penunjuk waktu pada zaman Raja Hizkia (Yesaya 38), dan melipatgandakan ruang serta waktu ketika perahu murid-murid tiba-tiba langsung sampai ke tempat tujuan setelah Yesus naik ke dalamnya di tengah badai (Yohanes 6).
Pemahaman teologis tentang Allah yang melampaui waktu ini juga menjadi kunci utama untuk mengerti makna terdalam di balik mukjizat pertama Yesus di perjamuan kawin di Kana. Rasul Yohanes mengawali catatan mukjizat ini dengan sebuah penanda spesifik:

"Pada hari ketiga ada perjamuan kawin di Kana yang di Galilea..." (Yohanes 2:1).

​Bagi pikiran masyarakat Yahudi abad pertama, "hari ketiga" bukanlah informasi acak. Dalam kisah penciptaan pada kitab Kejadian, hari ketiga adalah satu-satunya hari yang menerima berkat ganda dari Allah, menjadikannya hari yang sangat lazim untuk merayakan pernikahan.

​Di tengah perayaan sosial yang mempertaruhkan kehormatan seluruh keluarga besar itu, kehabisan anggur adalah sebuah aib sosial yang luar biasa. Di saat kritis inilah Yesus bertindak, dan Ia sengaja memilih sebuah media yang sarat akan makna teologis. Alkitab mencatat:

"Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi..." (Yohanes 2:6).

​Mengapa enam? Dan mengapa menggunakan tempayan batu? (Tempayan pembasuhan menurut adat orang Yahudi terbuat dari batu, baca Alkitab terjemahan KJV: "Nearby stood six stone water jars, the kind used by the Jews for ceremonial washing, each holding from twenty to thirty gallons."). Dalam logika teologi Yahudi, angka enam adalah lambang ketidaksempurnaan - kurang satu dari angka tujuh yang melambangkan kesempurnaan ilahi. Tempayan batu digunakan karena batu dipercaya tidak bisa tercemar atau menjadi najis secara ritual.

​Lewat detail ini, Yesus sedang memberikan pesan kritis yang mendalam: Ia mengambil instrumen dari sistem agama dan hukum Taurat yang lama (yang tidak sempurna dan tidak mampu benar-benar menyucikan hati manusia), lalu mengubah air ketidaksempurnaan itu menjadi anggur keselamatan Injil yang baru. Kuantitas yang dihasilkan pun melimpah ruah, mencapai ratusan liter, menjadi cerminan betapa berlimpah dan mewahnya anugerah Allah bagi kita.

​Akan tetapi, puncak keajaiban yang melampaui nalar justru ada pada respons pemimpin perjamuan. Setelah mengecap air yang telah menjadi anggur itu, ia berseru:

"Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu... tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang" (Yohanes 2:10).

​Secara alamiah, anggur dengan kualitas dan kompleksitas rasa terbaik membutuhkan proses fermentasi alami selama empat hingga lima tahun. Namun, Yesus menciptakan anggur yang kualitasnya melampaui buatan manusia itu dalam hitungan detik! Sang Pencipta waktu baru saja memampatkan proses bertahun-tahun menjadi satu momen sekejap mata. Serta jumlahnya sangat-sangat banyak. 1 buyung berisikan kira-kira 34-40 liter, dikalikan 2 sampai 3 buyung bisa menjadi 100 liter, sehingga 6 tempayan batu dapat berisi kurang lebih 600 liter (bandingkan!, kalau satu aqua gallon berisi 19 liter, sehingga 6 tempayan sebanding dengan kurang lebih 31 gallon aqua!)

​Mukjizat pertama di sebuah pernikahan ini memberikan kerangka bagi seluruh sejarah penebusan umat manusia, yang kelak juga akan diakhiri dengan sebuah pernikahan agung di surga, seperti yang tertulis:

"Berbahagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba" (Wahyu 19:9).

Lalu, apa relevansi logika penciptaan dan mukjizat Kana ini bagi kehidupan kita saat ini?

​Dalam perjalanan hidup, sering kali kita menatap ke belakang dengan penuh penyesalan. Kita meratapi tahun-tahun yang hilang secara sia-sia akibat dosa masa lalu, kesalahan fatal dalam mengambil keputusan, atau penderitaan yang memakan waktu panjang. Secara kronologis dan logika manusia, waktu yang hilang tidak mungkin bisa diputar kembali.

​Namun, ingatlah bahwa kita melayani Allah yang tidak dibatasi oleh waktu dan logika manusia. Jika Allah sanggup memampatkan lima tahun proses fermentasi anggur menjadi beberapa detik di Kana, maka Ia pun sanggup memampatkan anugerah, pemulihan, dan berkat-Nya ke dalam hidup kita untuk menggantikan tahun-tahun yang telah terbuang. Alkitab memberikan kita janji yang sangat kokoh:

"Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan..." (Yoel 2:25).

​Allah kita tidak sekadar mengampuni masa lalu kita; Ia menebusnya. Ia menjadikan segala sesuatunya utuh kembali!

​Oleh sebab itu, bagi kita yang merasa bahwa hidup kita sudah hancur atau terlambat, jangan pernah kehilangan pengharapan. Selama kita masih memiliki napas, babak terakhir dari kisah hidup kita belumlah selesai ditulis. Mari kita datang menyerahkan seluruh hidup kita kepada Yesus Kristus—Tuhan yang menggenggam waktu. Ia berkuasa mengubah kehampaan dan masa lalu kita yang tidak sempurna menjadi "anggur terbaik" yang pernah ada, demi kemuliaan-Nya.

ITT - Selasa, 14 Oktober 2025