Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri

Monday, November 14, 2022

2 Petrus 2:1-22

Perikop LAI: Nabi-nabi dan guru-guru yang palsu (2 Pet 2:1-22)

2:1 Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.
2:2 Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat.
2:3 Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda.
2:4 Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman;
2:5 dan jikalau Allah tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik;
2:6 dan jikalau Allah membinasakan kota Sodom dan Gomora dengan api, dan dengan demikian memusnahkannya dan menjadikannya suatu peringatan untuk mereka yang hidup fasik di masa-masa kemudian,
2:7 tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja, --
2:8 sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa --
2:9 maka nyata, bahwa Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman,
2:10 terutama mereka yang menuruti hawa nafsunya karena ingin mencemarkan diri dan yang menghina pemerintahan Allah. Mereka begitu berani dan angkuh, sehingga tidak segan-segan menghujat kemuliaan,
2:11 padahal malaikat-malaikat sendiri, yang sekalipun lebih kuat dan lebih berkuasa dari pada mereka, tidak memakai kata-kata hujat, kalau malaikat-malaikat menuntut hukuman atas mereka di hadapan Allah.
2:12 Tetapi mereka itu sama dengan hewan yang tidak berakal, sama dengan binatang yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan. Mereka menghujat apa yang tidak mereka ketahui, sehingga oleh perbuatan mereka yang jahat mereka sendiri akan binasa seperti binatang liar,
2:13 dan akan mengalami nasib yang buruk sebagai upah kejahatan mereka. Berfoya-foya pada siang hari, mereka anggap kenikmatan. Mereka adalah kotoran dan noda, yang mabuk dalam hawa nafsu mereka kalau mereka duduk makan minum bersama-sama dengan kamu.
2:14 Mata mereka penuh nafsu zinah dan mereka tidak pernah jemu berbuat dosa. Mereka memikat orang-orang yang lemah. Hati mereka telah terlatih dalam keserakahan. Mereka adalah orang-orang yang terkutuk!
2:15 Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat.
2:16 Tetapi Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya, sebab keledai beban yang bisu berbicara dengan suara manusia dan mencegah kebebalan nabi itu.
2:17 Guru-guru palsu itu adalah seperti mata air yang kering, seperti kabut yang dihalaukan taufan; bagi mereka telah tersedia tempat dalam kegelapan yang paling dahsyat.
2:18 Sebab mereka mengucapkan kata-kata yang congkak dan hampa dan mempergunakan hawa nafsu cabul untuk memikat orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari mereka yang hidup dalam kesesatan.
2:19 Mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, padahal mereka sendiri adalah hamba-hamba kebinasaan, karena siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu.
2:20 Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula.
2:21 Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka.
2:22 Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: "Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya."

Paralel, baca Yudas 1 secara keseluruhan.

PENDAHULUAN

Surat Petrus Yang Kedua  ini ditujukan kepada seluruh umat Kristen yang mula-mula. Surat ini ditulis terutama untuk menentang pekerjaan guru-guru  yang mengajarkan hal-hal yang salah, dan juga untuk memberantas perbuatan-perbuatan tak patut yang dihasilkan oleh ajaran guru-guru itu. Supaya tidak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran itu, orang Kristen harus berpegang kepada ajaran yang benar tentang Allah dan tentang Yesus Kristus -- yaitu ajaran yang disampaikan  oleh orang-orang yang telah menyaksikan dan mendengar sendiri Yesus mengajar. 

Yang terutama dirisaukan dalam surat ini ialah orang-orang yang mengajar bahwa Kristus tidak akan datang lagi untuk kedua kalinya. Surat ini menerangkan bahwa kedatangan Kristus itu nampaknya lambat karena Allah "tidak mau seorang pun binasa. Ia ingin supaya semua orang bertobat dari dosa-dosanya".  

Isi 

1. Pendahuluan 1:1-2
2. Panggilan Allah kepada orang Kristen 1:3-21 
3. Guru-guru palsu 2:1-22 ==> Bagian bacaan ini
4. Kedatangan Kristus untuk kedua kali 3:1-18

Pembagian lebih praktis lagi, dapat kita bedah Kitab 2 Petrus ini dalam 3 bagian;

2 Petrus 1 Keselamatan Orang Kristen
2 Petrus 2 Musuh Orang Kristen
2 Petrus 3 Nubuat Besar bagi Orang Kristen

ILUSTRASI

Di zaman internet ini, hampir setiap hari kita mengandalkan berita dan informasi dari internet. Biasanya kita mengikuti berita dan informasi itu dari kantor berita nasional terpercaya, maupun tokok-tokoh terkenal yang kita sukai, bahkan akun anonim tanpa nama yang sejalan dengan pikiran kita, kita jadikan sumber informasi dan sumber alur berpikir kita.

Dari pengalaman penulis dalam menggunakan internet di hampir sepanjang karir pekerjaan penulis, terkadang ditemui beberapa penggiringan opini yang membuat si pembaca, secara perlahan tapi pasti dan tersistem (sistemik), mengikuti kehendak pemilik berita dan bukan lagi kebenaran. Ada juga dan banyak, berita-berita hoax bertebaran di luar sana di jaringan internet yang sangat sangat luas. Biasanya si penggiring opini, akan memuat berita, informasi dan opini yang sesuai kenyataan, sehingga pembaca, penonton atau pendengarnya semakin yakin, dan setelah dipercaya, ybs akan mulai memasukkan opini yang menggiring kita untuk mengikuti pola pikir dan maksudnya.

Lalu bagaimana kalau isi berita, informasi dan opini tersebut menyangkut agama, menyangkut pengajaran dan kekristenan? Bagaimana kalau tokoh-tokoh penggiring opini ini seperti guru-guru palsu di bacaan kita hari ini?

URAIAN

1. Mengenal Bahaya guru-guru palsu

Rasul Petrus menulis surat ini untuk jemaat Tuhan Yesus Ada 3 (tiga) kali penyebutan guru-guru palsu dalam bacaan kita kali ini, yaitu ayat 1, 3 dan 17. Ayat 1 menyebutkan bahwa guru-guru palsu ini disamakan dengan nabi-nabi palsu. Jadi perlu kesepahaman, bahwa guru-guru palsu yang dimaksud ini adalah berasal dari kaum yang sama yaitu, kaum pengikut Kristus. Perhatikan kata "Penguasa" di ayat 1 yang ternyata mewakili makna Tuhan Yesus sendiri. Sehingga bila guru-guru palsu tersebut mengajarkan doktrin yang sama tapi yang diselewengkan, jauh lebih berbahaya bila mereka jelas-jelas menuhankan tuhan yang berbeda dengan Tuhan Yesus. Ya, sama-sama memuji Tuhan Yesus, tapi dengan tujuan berbeda seperti ayat 3 dan 17 maksudkan dalam bacaan kita hari ini. Ada dalam persekutuan jemaat dan gereja - bahkan mengajar sebagai guru - tapi berperilaku jauh berbeda dengan yang seharusnya pengikut-pengikut Kristus.

2. Mengenal Cara Hidup guru-guru Palsu

Tuhan Yesus berkata dalam Injil Matius 7:15-20 = 7:15 "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. 7:16 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? 7:17 Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. 7:18 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. 7:19 Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. 7:20 Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Juga di dalam Injil Lukas 6:44 = Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.

Jadi jelas, bahwa dari cara hidup mereka yang diuraikan Rasul Petrus sepanjang bacaan ini;

- Menyangkal Tuhan Yesus dalam perbuatannya.
- Hidup dikuasai hawa nafsu.
- Serakah dalam mencari untung dengan cerita-cerita isapan jempol.
- Berani dan angkuh menghujat kemuliaan Allah.
- Berfoya-foya.
- Penuh nafsu zinah.
- Congkak dan hampa.
- Berhawa nafsu cabul.
- Menjanjikan kepalsuan. 

..... mereka sama sekali bukan pengikut Kristus.

3. Menghindari guru-guru palsu

Dengan mengenal bahaya serta mengenal cara hidup guru-guru palsu ini, maka timbul pertanyaan di benak kita; bagaimana cara menghindari atau bahkan melawan mereka?

Rasul Petrus dengan jeli di ayat 22 - mengambil peribahasa dari Amsal 26:11  = Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya - untuk menunjukkan betapa berbahayanya mereka serta supaya kita terhindar dari mereka. Dengan menyetarakan guru-guru palsu ini dengan kebebalan dan kefasikan, secara tegas Rasul Petrus yang adalah murid langsung Yesus Kristus mengemukakan seluruh keberatannya atas peri laku dan peri sikap guru-guru palsu ini.

Tegasnya, di ayat 1 sudah diuraikan mau jadi apa guru-guru palsu ini, yaitu; dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka. Sehingga kita sebagai jemaat, wajib menghindari mereka dengan jalan mengetahui ajaran Yesus Kristus secara sangat serius dan berulang-ulang dengan membaca Firman-Nya dengan setia.

APLIKASI

Dalam bacaan kita hari ini, terlihat hawa amarah Rasul Petrus yang memang mempunyai pribadi yang berapi-api. Apalagi kita harus kembali mengingat siapa Petrus ini, yang dipilih Tuhan Yesus untuk memimpin jemaat-Nya dalam Injil Matius (Mat 16:18-19 = 16:18 Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. 16:19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.). Amarah ini ia tumpahkan kepada guru-guru palsu yang sudah bertobat dan memperoleh pengampunan Tuhan, tetapi dalam pengajarannya malah berontak dan meninggalkan Tuhan serta hanya menguntungkan diri mereka sendiri. Rasul Petrus menyimpulkan 3 hal ini: takdir mereka adalah KEHANCURAN, tindakan mereka BURUK, dan kata-kata mereka PENIPUAN, dan mereka-mereka ini adalah golongan yang dilepaskan oleh Petrus di dunia ini.

Tegas dan jelasnya amanat Rasul Petrus ini wajib kita selami dengan beberapa hal;

1. Untuk mengetahui guru-guru palsu, kita wajib mengetahui ajaran-ajaran yang benar. Ajaran ini ada di Alkitab, pelajari dan selamilah, pasti kita peka terhadap penyimpangan ajaran. (1 Yoh 4:1=Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.).

2. Janganlah memberi kesempatan sedikit pun untuk hadirnya ajaran sesat di kalangan warga jemaat. Kalau kita mencintai kebenaran, maka kita harus membenci kejahatan. Tetapi kebenaran dalam Kristus mengajarkan kasih untuk dikenakan kepada sesama, bahkan yang terlibat kejahatan itu. Hindari dengan tegas (2 Yoh 1:10-11 = 1:10 Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. 1:11 Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat.), tetapi penuh kasih (Galatia 6:1 = "Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.").

3. Ilustrasi yang Rasul Petrus berikan untuk menggambarkan bagaimana Allah menghukum guru-guru palsu adalah peristiwa-peristiwa sejarah yang nyata dan ini menjadi peringatan akan murka Allah atas ketidaktaatan. Keselamatan, dan bukannya penghukuman, menanti bagi kita semua yang menaruh kepercayaan hanya kepada Tuhan, dan bukan kepada guru-guru palsu. (Ibrani 10:26-27 = 10:26 Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. 10:27 Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka.).

........ Amin

ITT, Jakarta Senin 14 November 2022

Monday, November 7, 2022

Amsal 11:1-11

Perikop LAI: Kumpulan amsal-amsal Salomo (Ams 10:1-22:16)

11:1 Neraca serong adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat.
11:2 Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati.
11:3 Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.
11:4 Pada hari kemurkaan harta tidak berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut.
11:5 Jalan orang saleh diratakan oleh kebenarannya, tetapi orang fasik jatuh karena kefasikannya.
11:6 Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya.
11:7 Pengharapan orang fasik gagal pada kematiannya, dan harapan orang jahat menjadi sia-sia.
11:8 Orang benar diselamatkan dari kesukaran, lalu orang fasik menggantikannya.
11:9 Dengan mulutnya orang fasik membinasakan sesama manusia, tetapi orang benar diselamatkan oleh pengetahuan.
11:10 Bila orang benar mujur, beria-rialah kota, dan bila orang fasik binasa, gemuruhlah sorak-sorai.
11:11 Berkat orang jujur memperkembangkan kota, tetapi mulut orang fasik meruntuhkannya.

PENDAHULUAN

Kitab ini diberi nama sesuai Ams.1:1 (KBBI - Amsal = misal; umpama; perumpamaan). Tetapi Kata “amsal” (mašal) dalam Alkitab memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar perumpamaan, karena istilah “amsal” hanya merujuk pada perkataan yang pendek dan, sedangkan istilah mašal dalam PL bisa berarti perumpamaan, pengajaran, ungkapan tentang seseorang atau kelompok.

Tujuan umum dari seluruh amsal adalah hiduplah takut akan Tuhan. Hilangnya rasa takut akan Tuhan menuju kepada kebebalan hidup tanpa kendali. Jadi tujuan Amsal adalah memberi petunjuk bagaimana melakoni hidup yang sukses dengan memberikan ilustrasi, baik secara positif maupun negatif.

Tujuan khusus yang mengacu pada kitab ini ditunjukkan pada awal kitab ini di Ams 1:2-6 (1:2 untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, 1:3 untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, 1:4 untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda -- 1:5 baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan -- 1:6 untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak.)

Susunan Kitab

1. Pasal 1:1-7 = Pendahuluan
2. Pasal 1:8-9:18 = Ajaran tentang hikmat
3. Pasal 10:1–22:16 = Kumpulan amsal Salomo yang pertama ==> Bagian bacaan ini
4. Pasal 22:17–24:34 = Perkataan-perkataan orang bijak
5. Pasal 25 – 29 = Kumpulan amsal Salomo yang kedua
6. Pasal 30 = Perkataan-perkataan Agur
7. Pasal 31:1-9 = Perkataan-perkataan Ibu Lemuel
8. Pasal 31:10-31 = Lampiran: Isteri yang cakap

URAIAN

1. Integritas (KBBI: integritas/in·teg·ri·tas/ n mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran;)

Sebelum timbangan dan takaran standar yang dikeluarkan dan di tera pemerintah (di Indonesia dikenal dengan Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Direktorat MetrologiKementerian Perdagangan RI), maka pada zaman dahulu kala, tanggung jawab atas timbangan yang akurat hanya ada di para pedagang saja. Dan ini bukan masalah biasa, tapi masalah penting, karena perdagangan yang jujur dan dapat dipercaya akan membuat kota dan bangsa terkenal, sehingga kemakmuran daerah dan bangsanya akan tercapai.Sehingga integritas pribadi para pedagang sangat menentukan kemajuan suatu kota dan bangsanya. Jadi jika Ayat 1 menunjukkan bagaimana Tuhan Allah menganggap ketidak-jujuran sebagai kekejian, baik diartikan secara harfiah dengan neraca batu timbangan maupun secara luas, maka bacaan bacaan kita dilanjutkan dengan ayat-ayat sesudahnya dan akhirnya ditutup di ayat 11 dengan hasil integritas tadi, bahwa; Berkat orang jujur memperkembangkan kota, tetapi mulut orang fasik meruntuhkannya.

2. Integritas dalam Perjanjian Lama

Dalam Kitab Perjanjian lama, kita dapat mengetahui tentang integritas dari 3 (tiga) tokoh PL itu sendiri, yaitu Yusuf, Daniel dan Habakuk

  • Yusuf - Karakter berintegritas dengan Kejujuran penuh (Kej 39:1-23) - Berkat integritasnya, Yusuf dipercaya tuannya untuk mengurus rumah dan asetnya. Dengan kekuasaan yang besar itu, Yusuf punya banyak kesempatan untuk menyalahgunakan wewenang. Namun, karena rasa hormatnya kepada Tuhan, ia menolak diajak berzina oleh istri majikannya dan memilih lari, bahkan menerima risiko difitnah dan dipenjara.
  • Daniel - Karakter berintegritas dengan Komitmen teguh (Dan 6:1-29) - Nabi Daniel teguh memegang komitmennya dalam doa dan untuk tidak menyembah berhala. Bahkan, dimasukkan ke gua singa pun tak dapat menggoyahkan hati dan imannya kepada Allah.
  • Habakuk - Karakter berintegritas dengan tanggung-jawab penuh (Hab 1-3) - Nabi Habakuk dikenal sebagai nabi yang memiliki integritas dalam kepemimpinan. Situasi sulit yang dihadapinya, seperti penindasan, ketidakadilan, dan kekerasan, tidak membuat ia meninggalkan Allah. Habakuk tetap berharap dan percaya bahwa Tuhan akan menegakkan keadilan atas orang benar.

Dari ketiga pribadi di atas, kita belajar bahwa;

  • Integritas adalah kejujuran, seberapa sering kita meremehkan atau mengesampingkan integritas dalam pengambilan keputusan? Maukah kita mengorbankan tawaran atau jalan pintas yang tampaknya menggiurkan demi menyelamatkan masa depan kita? Ataukah, kita mementingkan kenikmatan sesaat yang akan memberi dampak buruk di kemudian hari?
  • Integritas adalah memegang komitmen dan punya loyalitas tinggi. Mereka yang punya integritas akan menepati janji dan mempertahankannya sampai akhir, walaupun itu membutuhkan pengorbanan. Sebaliknya, kegagalan dalam memenuhi komitmen sering kali mencerminkan lemahnya integritas seseorang.
  • Integritas adalah kemauan menerima tanggung jawab, dan sikap bertanggung jawab adalah tanda kedewasaan pribadi. Pribadi yang berintegritas adalah mereka yang bersedia mengambil risiko, memperbaiki keadaan, serta melaksanakan kewajibannya sebaik mungkin, sekalipun dalam keadaan sulit.

3. Integritas dalam Perjanjian Baru

Sebagai pengikut Yesus Kristus, sosok penuh integritas, kita temukan dalam pribadi Yesus sendiri yang akhirnya menurun kepada Rasul-rasul dan Murid-murid-Nya, bahkan orang-orang Farisi (Mark 12:14 = Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?" - Matius 22:16 =  Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka).

Dari begitu banyak integritas yang dicontohkan Tuhan Yesus, ada beberapa hal yang dapat kita uraikan di sini;

a. Integritas adalah menunjukkan kasih kepada musuh

Di dalam perumpamaan seorang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37), Yesus mengajarkan bagaimana kita seharusnya menerima orang lain. Orang Yahudi tidak suka bergaul dengan orang Samaria, tetapi justru orang Samaria inilah yang menunjukkan belas kasih kepada orang Israel yang terluka. Integritas tidak hanya mengetahui soal doktrin dan pengajaran kasih, tetapi juga melaksanakan ajaran kasih itu.

b. Integritas adalah kehidupan yang sama luar dan dalam, sama kata dan perbuatan. 

Yesus mengecam keras perbuatan orang-orang Farisi dan menyebut mereka orang-orang munafik. Matius 23:3 = “Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”  
Tuhan Yesus mengakui ajaran ahli-ahli Taurat, dan orang Farisi ada benarnya dan baiknya; itu harus dituruti dan dilakukan. Tetapi kemunafikan mereka adalah karena kehidupan mereka tidak sama dengan apa yang mereka ajarkan. Di sini kita bisa belajar bahwa berintegritas artinya berusaha menghidupi Firman yang kita baca dan dengar dengan melakukannya. 

c. Integritas adalah kejujuran dalam melaksanakan tanggung jawab dan mengembangkan talenta.

Tuhan Yesus mengajarkan bahwa setiap orang yang setia dalam perkara kecil, maka dia akan setia dalam perkara besar (Lukas 16:10 = "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.). 

Kejujuran adalah indikator apakah orang tersebut bisa dipercaya atau tidak. Yesus dikatakan sebagai orang jujur dalam perkataan dan tindakan, karena apa yang Ia lakukan sama dengan apa yang Ia perkatakan dan ajarkan. 

APLIKASI

Penulis Amsal ini yaitu Salomo, tercatat mengakui hal ini kepada Tuhan tentang ayahnya Daud dalam 1 Raj 3:6 dan di kemudian hari menuliskan Amsal-amsal yang salah satunya kita uraikan dalam bacaan kita hari ini. (1 Raj 3:6 = Lalu Salomo berkata: "Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada hamba-Mu Daud, ayahku, sebab ia hidup di hadapan-Mu dengan setia, benar dan jujur terhadap Engkau; dan Engkau telah menjamin kepadanya kasih setia yang besar itu dengan memberikan kepadanya seorang anak yang duduk di takhtanya seperti pada hari ini.)
Apakah mereka Daud dan Salomo yang sempurna? tentu tidak, tetapi Alkitab mencatat kehidupan mereka sebagai kehidupan yang berintegritas kepada Tuhan, karena kehidupan berintegritas adalah bukan kehidupan sempurna secara moral, tetapi adanya kesesuaian antara motivasi, pikiran, dan tindakan.

Jadi kalau dalam Amsal ini, kita dipanggil untuk hidup jujur, rendah hati, tulus, hidup benar, saleh, tidak berkhianat, berpengetahuan, maka semuanya itu pasti akan beroleh berkat dan diberkati Tuhan dimanapun kita berada, bahkan di tengah-tengah keminoritasan kita - nilai integritas kita - akan mengembangkan kota dan bangsa tempat kita tinggal, ........ Amin.

ITT, Jakarta Senin 7 November 2022

Tuesday, November 1, 2022

1 Petrus 2:18-25

Perikop LAI = Penderitaan Kristus sebagai teladan (1 Pet 2:18-25)

2:18 Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.
2:19 Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.
2:20 Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.
2:21 Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.
2:22 Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya.
2:23 Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.
2:24 Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.
2:25 Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.

PENDAHULUAN

Surat Petrus Yang Pertama  ini ditujukan kepada orang-orang Kristen yang tersebar di seluruh bagian utara Asia Kecil. Mereka disebut "umat pilihan Allah" (1 Pet 1:1-2 = 1:1 Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, 1:2 yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu). 
Maksud utama surat ini ialah untuk menguatkan iman para pembacanya yang sedang mengalami tekanan dan penganiayaan karena percaya kepada Kristus. Petrus mengingatkan para pembacanya akan Kabar Baik tentang Yesus Kristus yang merupakan jaminan harapan mereka. Sebab, Yesus Kristus sudah mati, hidup kembali dan berjanji akan datang lagi. Atas dasar itu mereka hendaknya rela dan tahan menderita, sambil menyadari bahwa penderitaan mereka merupakan ujian apakah mereka betul-betul percaya kepada Kristus. Juga mereka harus yakin bahwa mereka akan dibalas oleh Tuhan pada saat Yesus Kristus kembali. 
Di samping menguatkan iman para pembacanya yang sedang dalam kesukaran itu, Petrus meminta supaya mereka hidup sebagai pengikut-pengikut Kristus.  

Isi Kitab 1 Petrus

  1. Pendahuluan 1:1-2 
  2. Nasihat supaya mengingat bahwa Allah menyelamatkan manusia 1:3-12 
  3. Nasihat supaya hidup khusus untuk Allah 1:13--2:10 
  4. Kewajiban orang Kristen dalam masa penderitaan 2:11-4:19 ==> Bagian bacaan ini
  5. Kerendahan hati dan pelayanan orang Kristen 5:1-11 
  6. Penutup 5:12-14  

URAIAN

Yang menarik dari bacaan ini adalah adanya suatu tautan dari 3 tahapan seorang manusia Kristen dalam kehidupannya.;

1. Taat (ayat 18-20 = 2:18 Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis. 2:19 Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. 2:20 Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.)

Rasul Petrus memulai di ayat 18, dengan mengemukakan hubungan tuan-hamba sebagai contoh dari hubungan kita dan Kristus. Dan dengan contoh ini, ketaatan yang dimiliki pengikut Kristus, adalah seharusnya seperti ketaatan seorang hamba kepada tuannya, taat kepada Tuhan dalam susah dan senang, apapun keadaannya, tanpa syarat apapun. Tetapi. ketaatan itu bukan karena ketakutan sebagaimana hamba ke tuannya, tetapi taat karena adalah kasih Karunia pada Allah semata. 

Hal yang unik, adalah kata TAAT itu sendiri, sebagaimanapun di balik-balik, maknanya tetap sama, yaitu; TAAT.

2. Ikuti Jejak-Nya (ayat 21-23 = 2:21 Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. 2:22 Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. 2:23 Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.)

Diuraikan jelas bahwa; mengikuti jejak-Nya adalah meneladani Yesus Kristus yang keteladanannya sbb;

  • Ia tidak berbuat dosa, 
  • tipu tidak ada dalam mulut-Nya.
  • Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; 
  • ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.

Jadi pertanyaan menarik bagi kita masing-masing, apakah teladan-teladan ini kita lakukan dalam kehidupan Kristen kita?

3. Manusia Baru (ayat 24-25 = 2:24 Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. 2:25 Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.).

Hasil dari kesinambungan Taat dan mengikuti jejakNya ditutup dengan hasilnya, yaitu sebagai manusia baru. Manusia yang telah mati terhadap dosa, tapi hidup untuk kebenaran.

APLIKASI

Taat, Ikuti Jejak-Nya dan Menjadi Manusia Baru, adalah keinginan teoritis dari seluruh umat Kristen. Prakteknya dan relevansinya, dicontohkan langsung oleh Yesus Kristus dalam kehidupann-Nya yang taat penuh kepada Bapa-Nya. Untuk itu, Rasul Petrus merumuskan hal ini didasarkan oleh ajaran langsung yang ia terima dari Tuhannya yaitu Yesus Kristus sendiri. Jadi seperti seharusnya, ketaatan dan keteladanan ini selayaknya dilihat sebagai suatu perintah dari Tuhan Yesus, bukan himbauan atau seruan.(Yohanes 13:15 = sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.).

Jika kita harus menderita karena kehendak Allah maka marilah kita menanggungnya dengan taat dan setia. Tetap mengasihi meskipun dibenci. Tetap melayani walaupun dikritik, tetap setia dalam pelayanan kendati disakiti, tetap bermurah hati tanpa mengharapkan pamrih. Dan semua bentuk kebaikan dan kasih Tuhan yang kita praktekkan di kehidupan kita, adalah karya manusia baru yang tidak lagi tersesat. Rasul Paulus menulis surat di Filipi pada saat yang kira-kira sama dengan Rasul Petrus menulis surat ini, yaitu sekitar tahun 60-62 M di Filipi 4:17-32 tentang ciri-ciri manusia baru ........ Amin

ITT - Jakarta, Selasa 1 November 2022