Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri

Thursday, July 11, 2013

Kisah Para Rasul 15:1-11

(Sesuai SBU - Rabu, 24 Juli 2013)

15:1 Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan."
15:2 Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu.
15:3 Mereka diantarkan oleh jemaat sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan di tempat-tempat itu mereka menceriterakan tentang pertobatan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara di situ.
15:4 Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka.
15:5 Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: "Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa."

15:6 Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu.
15:7 Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: "Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya.
15:8 Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita,
15:9 dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman.
15:10 Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri?
15:11 Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga."

Mengolah Konflik dengan Bijak

PENGANTAR

Rasul Petrus telah menyaksikan mujizat Karunia Tuhan kepada Kaum bukan Yahudi ketika ia melayani di rumah Kornelius si perwira pasukan Italia di Kaesaria. Petrus tidak memaksakan mereka untuk tunduk kepada hukum Musa dan hal ini menimbulkan pertentangan di kalangan Yahudi (Kis.10:1-18). Paulus dan Barnabas sendiri juga telah menyaksikan kasih karunia Tuhan atas kaum bukan Yahudi yang menjadi percaya, ketika mereka melayani di banyak tempat dalam perjalanan misinya yang pertama (Kis.13:42-43, 48, 14:23).

Beberapa orang kaum Yahudi dari Yerusalem mengajarkan kaum bukan Yahudi di Antiokhia Siria sehingga terjadi perpecahan di tubuh jemaat di sana. Akhirnya Utusan jemaat mengirim Paulus dan Barnabas ke Yerusalem untuk membicarakan hal itu.
Sidang para Rasul dan Penatua di Yerusalem akhirnya menghasilkan suatu keputusan yang bulat, bahwa keselamatan diperoleh hanya karena iman dan kasih karunia belaka, bukan hasil pekerjaan dan usaha manusia melalui hukum-hukum Taurat. Sejak saat itu, kaum bukan Yahudi menjadi banyak yang percaya Kristus Yesus.

Tidakkah kita sadari, bahwa dari sekian banyak pengikut Kristus sekarang ini ... sebagian besar adalah kaum bukan Yahudi? bahkan kaum Yahudi sekarang menjadi minoritas dalam komunitas Kristen. Data terkini dari negara Israel menyebutkan bahwa dari sekitar 8 juta penduduk Israel, terdiri dari 75,4% orang Yahudi, 20,6% orang Arab dan 4,1% dari berbagai suku. Dan dari jumlah penduduk dan suku itu, 75,4 % beragama Yahudi, 16,9% beragama Islam dan hanya 2,1 beragama Kristen!, 1,7 pengikut agama Druze dan sisanya 4% dikategorikan tanpa agama. Bandingkan dengan data 2011, yang menyatakan bahwa ada 2,18 Milliar penganut Kristen di dunia, dari 6,9 milliar penduduk bumi - dan ini menjadikan bukti bahwa mayoritas orang Kristen sekarang adalah bukan Yahudi.

URAIAN

Kis.15:1-4

Pokok Masalah
Kis.15:1 Beberapa orang datang dari Yudea ke Antiokhia dan mengajarkan kepada saudara-saudara di situ: "Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan."

Ketika baru saja pekerjaan Tuhan berlangsung, dimana banyak orang bertobat dan mengikut Kristus oleh pekerjaan Paulus dan Barnabas dalam membangun jemaat-jemaat baru, seketika itu pula iblis bekerja dan mencoba menghancurkan pekerjaan Roh Kudus ini.
Beberapa orang ini adalah kaum Yahudi yang adalah pengikut Kristus mula-mula, dan mereka mengajarkan mengenai sunat (bagi orang asing bukan Yahudi) yang adalah warisan Musa, adalah suatu kewajiban.(Kel.12:48 Tetapi apabila seorang asing telah menetap padamu dan mau merayakan Paskah bagi TUHAN, maka setiap laki-laki yang bersama-sama dengan dia, wajiblah disunat; barulah ia boleh mendekat untuk merayakannya; ia akan dianggap sebagai orang asli. Tetapi tidak seorang pun yang tidak bersunat boleh memakannya.) - Dalam konteks ini ayat 1, mereka (beberapa orang Yahudi itu) tidak berkata bahwa: untuk menjadi seorang Kristen yang baik, kaum bukan Yahudi harus disunat. Tetapi mereka berkata bahwa; kaum bukan Yahudi tidak bisa menjadi orang Kristen tanpa disunat.
Kesungguhan dan Ketaatan menjalankan adat mereka patut dihargai, tetapi keselamatan adalah untuk seluruh umat manusia, menganggap Yudaisme sebagai jalan menuju keselamatan dengan adat istiadatnya, bukanlah ajaran Yesus Kristus, yang memerintahkan untuk menjadikan segala bangsa menjadi muridNYA (Mat 28:19).
Kontroversi seperti ini bahkan sampai sekarang masih ada di lingkungan Gereja, seperti:
- harus dibaptis roh kudus supaya diselamatkan
- harus bisa karunia lidah (glosolalia)
- harus beribadah di hari Sabat
- bahkan masih ada yang harus disunat!
Bukankah itu semua bermuara kepada keselamatan yang kita peroleh adalah usaha lahiriah belaka? dan bukan karena Kasih Karunia Tuhan. Bukankah Abraham dijanjikan Allah karena KasihNYA? bukan karena usaha Abraham. Bukankah bani Israel Tuhan keluarkan dari Mesir karena KasihNYA? bukan karena usaha mereka. Hanya Tuhan yang mempunyai Kuasa mengampuni dosa dan menyelamatkan, tidak ada yang dapat kita perbuat untuk memperoleh keselamatan itu - Sola Gratia! - Selanjutnya tentang sunat baca Galatia 5.

Kesepakatan dalam Perbantahan
Kis.15:2 Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu. Akhirnya ditetapkan, supaya Paulus dan Barnabas serta beberapa orang lain dari jemaat itu pergi kepada rasul-rasul dan penatua-penatua di Yerusalem untuk membicarakan soal itu.

Perbantahan hebat menghasilkan suatu jalan untuk mencari kebenaran pada otoritas yang lebih tinggi, yaitu para Rasul dan Penatua di Yerusalem. Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah:
- Dalam mempertahankan Injil, diperlukan ketegasan dalam mempertahankan pendapat.
- Perbantahan hebat ini mempunyai sisi positif, dengan adanya jalan keluar yaitu mencari kebenaran pada otoritas yang lebih tinggi di Yerusalem. (Bandingkan dengan perbantahan di kalangan gereja sekarang ini, yang sering dibiarkan tanpa penyelesaian, bahkan terkadang sengaja dipelihara untuk mempertahankan eksistensi beberapa pihak). Jadi dalam perbedaan pendapat, tercapai juga kesepakatan untuk menyelesaikan masalah.
- Sisi positif lain, yaitu berkenaan dengan teologi (yang diperdebatkan di sini adalah interprestasi terhadap hukum agama) - jemaat tidak mengambil keputusan sendiri, melainkan menyerahkan keputusan kepada Sidang Para Rasul dan Penatua yang nanti akan memutuskan, baru kemudian dijalankan secara seragam di jemaat. (Bandingkan dengan situasi dan kondisi di beberapa jemaat, yang mengambil keputusan yang menyangkut teologis secara lokal, kadang sesuai selera Ketua Majelis Jemaat dan bahkan tanpa dasar Alkitabiah - bagaimana implikasinya di jemaat yang lain? Bukankah nanti akan timbul kebingungan dan lebih banyak perbantahan, perbedaan pendapat, bahkan perpecahan?).

Tetap Fokus
Kis.15:3 Mereka diantarkan oleh jemaat sampai ke luar kota, lalu mereka berjalan melalui Fenisia dan Samaria, dan di tempat-tempat itu mereka menceriterakan tentang pertobatan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Hal itu sangat menggembirakan hati saudara-saudara di situ. 15:4 Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka.

Dalam perjalanan ke Yerusalem, Paulus dan Barnabas tetap fokus kepada tugas utama mereka, yaitu Pekabaran Injil. Dengan sukacita mereka melalui Fenisia dan Samaria dan berhasil dalam pekabaran Injil disana. Pelajaran dari Paulus dan Barnabas bagi kita:
- Tetap fokus, bahkan dalam masalah dan bahaya (Kis.14:19) - Tugas tetap dijalankan.
- Perhatikan disini, bahwa mereka menjalankan tugas dengan tidak mencari pembenaran dengan menjelek-jelekkan kaum Yahudi yang menentang pertobatan kaum bukan Yahudi dengan isu sunat. Sebagai pembicara/pemberita Injil, mereka dapat saja menyerang kaum Yahudi itu, tetapi mereka tidak melakukan itu (bandingkan dengan keadaan jemaat sekarang, yang bahkan memasukkan pertikaian mereka ke dalam khotbah dalam ibadah-ibadah, maupun maupun isu dalam jemaat).
Pesan utama bahwa ajaran Kristus Yesus dan kebangkitanNya tetap disebarkan telah menyuka-citakan para Rasul, Penatua dan Jemaat di Yerusalem

Kis.15:5-6

Tuntutan
Kis.15:5 Tetapi beberapa orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan berkata: "Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk menuruti hukum Musa."

Sungguh suatu keajaiban, bahwa akhirnya beberapa orang dari golongan Farisi mau menjadi orang percaya. Tetapi, walaupun demikian, nilai adat dan budaya mereka mengikat sedemikian erat sehingga mengakibatkan mereka berpikir untuk tetap mempertahankan hukum Musa (ingat, Pauluspun berasal dari kaum Yahudi Farisi yang menentang ajaran Kristus (Kis.26:5) - tetapi berubah oleh karena pekerjaan Roh Kudus).
Memang benar, prinsip moral dari hukum Taurat harus tetap dipegang oleh orang-orang percaya, tetapi segala sesuatu yang bernilai seremonial belaka, tidak lagi mengikat kita Pengikut Kristus. Hal inilah yang dituntut oleh kaum Yahudi dari golongan Farisi ini, bahwa aturan hukum Musa adalah harga mati.
Perhatikan bahwa kalau nilai "Berita Sukacita" yang dibawa Kristus Yesus dibumbui dengan berbagai aturan dan adat manusia, maka berita sukacita tersebut berubah menjadi "agama" belaka, sama seperti yang kaum Yahudi lakukan (Bandingkan dengan Mat.15:3 Tetapi jawab Yesus kepada mereka: "Mengapa kamu pun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?)

Jalan Keluar 
15:6 Maka bersidanglah rasul-rasul dan penatua-penatua untuk membicarakan soal itu.

Dari Kis.15:1 dan 5, nyatalah bahwa perbedaan pendapat masalah pemberlakuan hukum Musa bagi orang bukan Yahudi, telah mengemuka dalam masyarakat Kristen di Yerusalem juga. Sehingga, keputusan Para Rasul dan Penatua untuk bersidang, adalah suatu jalan keluar yang sangat tepat. Sidang ini juga sangat bersejarah dalam perjalanan kehidupan Gereja Tuhan, karena inilah sidang pertama yang dicatat dalam Alkitab dan sejarah Gereja.

Kis.15: 7-11

Kasih Karunia
Kis.15:7 Sesudah beberapa waktu lamanya berlangsung pertukaran pikiran mengenai soal itu, berdirilah Petrus dan berkata kepada mereka: "Hai saudara-saudara, kamu tahu, bahwa telah sejak semula Allah memilih aku dari antara kamu, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain mendengar berita Injil dan menjadi percaya. 15:8 Dan Allah, yang mengenal hati manusia, telah menyatakan kehendak-Nya untuk menerima mereka, sebab Ia mengaruniakan Roh Kudus juga kepada mereka sama seperti kepada kita, 15:9 dan Ia sama sekali tidak mengadakan perbedaan antara kita dengan mereka, sesudah Ia menyucikan hati mereka oleh iman. 15:10 Kalau demikian, mengapa kamu mau mencobai Allah dengan meletakkan pada tengkuk murid-murid itu suatu kuk, yang tidak dapat dipikul, baik oleh nenek moyang kita maupun oleh kita sendiri? 15:11 Sebaliknya, kita percaya, bahwa oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan sama seperti mereka juga."

Menarik untuk diperhatikan bahwa Petrus adalah yang paling pertama berbicara. Ia sebelumnya juga berpendapat sama dengan para penganut Yudaisme yang pendapatnya berseberangan dengan Paulus dan Barnabas (Lihat Gal 2:11-16). tetapi dalam proses pendewasaannya sebagai pengikut Kristus, ia berubah dan akhirnya berpendapat sebagaimana yang ditulis di Kis.15:7-11 ini. Dalam hal ini, Petrus mengemukakan beberapa pandangan:

1. Contoh Kornelius
Pendapat Paulus dan Barnabas tentang orang bukan Yahudi tidak perlu bersunat, bukanlah suatu pandangan baru. Kisah Petrus di rumah Kornelius dalam Kis.10, menunjukkan bahwa Kornelius dan seisi rumahnya menjadi orang percaya setelah mendengar kabar sukacita yang dibawa Petrus perihal Yesus Kristus. (Menurut beberapa ahli sejarah Alkitab, kejadian Petrus di rumah Kornelius adalah 10 tahun sebelum sidang Yerusalem ini).

2. Karunia Roh Kudus
Petrus berpendapat bahwa kaum bukan Yahudi ini (bangsa lain) dikaruniakan Roh Kudus seperti kepada kaum Yahudi. Ini menguatkan keberadaan jemaat Kristus di Antiokhia. Pernyataan Petrus di Kis.10:35 (Setiap orang dari bangsa mana pun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.) - berarti bahwa tidak ada perbedaan rasial apapun dalam menjadi pengikut Kristus. Tuhan menerima semua orang ke dalam Keluarga besar Kerajaan Allah ketika mengaruniakan Roh KudusNYA. Tidak ada perbedaan, dan penyebabnya adalah "Iman" belaka (Kis.15:9) Bandingkan dengan Kis.16:31 (Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.) - Sola Fide!.

3. Kuk pada tengkuk
Penggunaan istilah kuk pada tengkuk yang tidak dapat dipikul oleh Petrus, menunjukkan bagaimana beratnya Hukum Musa yang dipikul oleh orang Yahudi, yang bahkan oleh nenek moyang dan mereka sendiri sering gagal memenuhi hukum itu. Lalu mengapa pula hukum itu hendak diberlakukan pada kaum bukan Yahudi? Bukankah ini namanya mencobai Allah? Bandingkan dengan perkataan Yesus Kristus di Mat.5:17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. - Maksud Petrus; mengapa mengikatkan diri pada hukum yang sudah digenapi?

4. Sola Gratia
Hanya oleh Kasih Karunia Tuhan Yesus Kristus kita (semua) akan beroleh keselamatan itu. Singkat, jelas dan tegas, doktrin ini dikemukakan Petrus sebagai penutup dari pendapatnya.

PENUTUP

Dengan membatasi diri pada topik "mengolah konflik dengan bijak", maka pelajaran yang boleh kita ambil dalam kehidupan kita sekarang sebagai pengikut Kristus, sebagai jemaat di Gereja Tuhan, sebagai keluarga Kerajaan Allah adalah:

1. Dalam kehidupan nyata, harus kita akui bahwa seringkali kita lebih nyaman dengan adat istiadat kita sendiri. Kita merasa aman dalam lingkaran sendiri, sehingga bila ada orang lain yang datang dalam lingkungan kita, maka orang itu yang harus berubah ... lain daripada itu, maka bila ia tidak berubah, ia akan kita tolak. Sebagai pengikut Kristus, kita dianjurkan untuk senantiasa saling menerima dan terbuka dengan semua orang. (Mat.5:46 Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 5:47 Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian?)

2. Dalam perbedaan pendapat, seringkali kita tidak mencari jalan keluar, melainkan memaksakan pendapat kita yang benar. Dan dalam memaksakan pendapat kita tersebut, mulailah digunakan segala intrik, seperti fitnah, saling menjatuhkan, penyerangan pribadi dll, bahkan di kalangan jemaat, sering mengutip Alkitab dan menggunakan mimbar pemberitaan firman Allah sebagai mimbar pribadi menyudutkan orang lain. Belajar dari bacaan kita ini, setiap perbedaan pendapat, bahkan yang paling tajam sekalipun karena menyangkut doktrin teologi, hendaknya diselesaikan dengan mencari jalan keluar. Dalam konteks gereja, sidang tua-tua gereja atau Sidang Majelis Jemaat/Persidangan Sinode adalah jalan keluar dan bukan jalan masuk untuk saling menyerang dan menjatuhkan. Sidang di Yerusalem adalah contoh yang baik karena menghasilkan jalan keluar dengan menjunjung tinggi Firman Allah, dan mengirimkan hasil keputusannya ke jemaat-jemaat untuk dilaksanakan - bahkan mengirim wakil untuk mensosialisasikan keputusan tersebut (Kis.15:27). Bukan sebaliknya, keputusan diambil di tingkat jemaat dan dipaksakan pemberlakuannya sehingga timbul perbedaan pendapat yang tajam dan tidak terselesaikan.
Ingatlah selalu, bahwa segala perbedaan pendapat harus diselesaikan dalam konteks Memuliakan Allah (Kol.3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.) - Sebagai catatan: Sidang Majelis Jemaat sebaiknya diawali dan diakhiri dengan Perjamuan Kudus, atau senantiasa dilaksanakan sebelum Perjamuan Kudus umum bagi jemaat yang dilaksanakan 4 kali dalam setahun. Segala masalah dengan jalan keluarnya hendaknya diselesaikan dengan baik sebelum akhirnya masuk PK dengan damai sejahtera.

3. Selanjutnya di Kis.15:12-29, kita bisa belajar bagaimana peranan Roh Kudus sehingga tercapainya  keputusan yang bijak dalam Sidang Para Rasul dan Penatua di Yerusalem ini, yang memutuskan tentang hal sunat dan Hukum Taurat tanpa merugikan pihak manapun, bahkan menjadikan kemajuan yang pesat di tubuh Gereja Kristus. Inilah tonggak yang sangat bersejarah, yang menentukan tersebarnya Ajaran Kristus Yesus bagi semua manusia di muka bumi ini.

4. Konsep Sola Fide - Hanya karena Iman (Kis.15:9) dan Sola Gratia - Hanya oleh Kasih Karunia (Kis.15:11), bukanlah konsep baru yang dikembangkan terlepas dari Alkitab ataupun ajaran Paulus belaka. Doktrin ini sepenuhnya berasal dari Tuhan yang difirmankan melalui Rasul-rasul.

ITT - Jakarta, Kamis 11 Juli 2013

Sunday, July 7, 2013

Kejadian 27:34-40

(Sesuai SBU - Rabu, 17 Juli 2013)

27:34 Sesudah Esau mendengar perkataan ayahnya itu, meraung-raunglah ia dengan sangat keras dalam kepedihan hatinya serta berkata kepada ayahnya: "Berkatilah aku ini juga, ya bapa!"
27:35 Jawab ayahnya: "Adikmu telah datang dengan tipu daya dan telah merampas berkat yang untukmu itu."
27:36 Kata Esau: "Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku." Lalu katanya: "Apakah bapa tidak mempunyai berkat lain bagiku?"
27:37 Lalu Ishak menjawab Esau, katanya: "Sesungguhnya telah kuangkat dia menjadi tuan atas engkau, dan segala saudaranya telah kuberikan kepadanya menjadi hambanya, dan telah kubekali dia dengan gandum dan anggur; maka kepadamu, apa lagi yang dapat kuperbuat, ya anakku?"

27:38 Kata Esau kepada ayahnya: "Hanya berkat yang satu itukah ada padamu, ya bapa? Berkatilah aku ini juga, ya bapa!" Dan dengan suara keras menangislah Esau.
27:39 Lalu Ishak, ayahnya, menjawabnya: "Sesungguhnya tempat kediamanmu akan jauh dari tanah-tanah gemuk di bumi dan jauh dari embun dari langit di atas.
27:40 Engkau akan hidup dari pedangmu dan engkau akan menjadi hamba adikmu. Tetapi akan terjadi kelak, apabila engkau berusaha sungguh-sungguh, maka engkau akan melemparkan kuk itu dari tengkukmu."

Pengantar

Kitab Kejadian pasal 27 mengisahkan suatu penggenapan Allah atas rencana-Nya, yang walaupun rencana tersebut coba dibelokkan dengan berbagai cara oleh manusia sebagai pemerannya, dalam hal ini keluarga Ishak, yang terdiri dari Ishak sebagai suami, Ribka sang istri dan kedua anak mereka ... Esau dan Yakub.

Membaca dan mengerti Kejadian 27, haruslah dipahami secara mendalam dengan membaca Kitab Kejadian dari pasal-pasal sebelumnya, khususnya pasal 25 dan 26. Kalau tidak dipahami dengan mendalam, maka kita akan mengambil kesimpulan yang salah atas Karakter Allah dan ciptaanNya. Beberapa kesimpulan yang sering disalah artikan (bahkan oleh orang Kristen sendiri) adalah:
-. Hidup dengan akal yang cerdik - bahkan dengan menipu, tetap beroleh berkat dari Allah (Yakub mengakali Esau dengan menukar hak kesulungan dengan makanan di Kej 25:29-34)
-. Cara Ribka menolong Yakub dengan tipu muslihat, juga berkenan bagi Allah (Kej 27:5-13)
-. Ishak malah berbalik mengutuki Esau setelah salah memberi berkat (Kej 27:39-40)
-. Rangkaian tipu menipu ini semua adalah "Kehendak Allah" sehingga Allah yang kita kenal, yaitu Allah Abraham, Ishak dan Yakub adalah Allah yang merestui ketidak-jujuran ... yang penting rencanaNya terjadi.

Rancangan Allah bagi Ishak

Masih ingat Janji Allah kepada Abraham? (Kej.12:2, 7, 13:14-18, 15:4-5, 17:4-8 dst)
Janji Allah itu diwariskan juga bagi keturunan Abraham yang dipilih Allah, yaitu Ishak. Janji akan keturunan, digenapi Allah dengan mencabut kemandulan Ribka dan bahkan memberinya anak kembar yaitu Esau dan Yakub (Kej.25:24 - dalam beberapa percakapan dengan jemaat dewasa, banyak yang beranggapan bahwa Esau dan Yakub adalah kakak adik bukan kembar). Janji Allah itu diberikan juga kepada Ishak di Kej 26:3-4, yang seperti biasanya, Allah memberikannya setelah perintah di Kej 26:2 dan menegaskan asal muasal janjiNya di Kej.26:5, bahkan janji tersebut dipertegas lagi di Kej.26:24.
Ribka, sebagai istripun, juga dilibatkan Allah dengan menjawab doa Ribka yang kesakitan karena kandungannya itu (Kej.25:22-23 = 25:22 Tetapi anak-anaknya bertolak-tolakan di dalam rahimnya dan ia berkata: "Jika demikian halnya, mengapa aku hidup?" Dan ia pergi meminta petunjuk kepada TUHAN. 25:23 Firman TUHAN kepadanya: "Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda.")
Ayat inilah yang menjadi dasar acuan untuk mengerti kisah di Kejadian 27 ini secara menyeluruh; bahwa sejak dalam kandungan, Allah telah menyiapkan rencana bagi Esau dan Yakub, dan rencanaNya itu telah difirmankanNya langsung kepada orang tua Esau dan Yakub melalui Ribka, sang ibu.

Rencanaku vs RencanaMU

Rencana Allah atas kedua bayi kembar ini mengalami perubahan karena sifat dari Ishak dan Ribka dalam membesarkan anak-anak mereka.
Ishak lebih menyayangi Esau karena ia tumbuh seorang pemburu dan Ribka lebih condong ke Yakub yang hidup dekat dengannya. Ishak coba untuk memakaikan rencananya lebih daripada rencana Allah, sementara Ribka ketakutan rencana Allah gagal dan mencoba mendorong dengan cara manusia supaya rencana tersebut berhasil (Kej.25:27-28).
Sebagai suami istri, ayah ibu, dan keluarga, Ishak dan Ribka gagal menerjemahkan Firman Allah kepada anak-anak mereka, ... mereka lebih sibuk memuluskan rencana masing-masing dengan cara mereka masing-masing. Bukannya mendidik Esau untuk berbesar hati dan mendidik Yakub menjadi rendah hati - dengan mendukung rencana Allah yang akan menjadikan mereka 2 bangsa yang besar - mereka malah sibuk memenangkan pilihan hati masing-masing.
Demikianlah begitu penting peran orangtua dalam mendidik anak-anak dan mengajar serta menerjemahkan Firman Tuhan bagi anak-anak mereka, dalam mengisi hari depan bagi keturunan mereka. Janji Allah melalui Abraham dan sekarang Ishak, tidak segera ditanamkan ke anak-anak mereka, tetapi diubah dan diterjemahkan sesuai kehendak manusiawi mereka dan menempatkan "rencanaku" lebih di atas "rencanaMU/rencanaNYA".

3 Persoalan Keluarga

Ada 3 hal yang diperoleh karena memberlakukan "rencanaku" atau rencana manusia di atas.

1. Ketergesaan
Karena ingin memuluskan rencananya, maka Ishak menjadi terburu-buru dalam memberikan berkatnya. Hanya karena merasa sudah tua dan mendekati kematian, maka ia bersegera akan menyelesaikan rencananya dalam memberkati Esau si sulung. Padahal selanjutnya kita ketahui bahwa Ishak masih hidup sampai 180 tahun sampai Yusuf si cucu penerus Janji Allah ada (Kej.35:27-28). Ribka dengan ketergesaan segera melihat itu sebagai suatu kesempatan besar, walaupun dengan cara menipu ... berhasil memperoleh berkat bagi anak kesayangannya, si Yakub.

2. Penipuan
Karena ingin memuluskan rencananya, maka Ishak dengan diam-diam menyuruh Esau menyiapkan pemberkatan itu dengan berburu dan memasak makanan kesukaannya. Ishak tidak melibatkan istrinya, karena takut bahwa rencananya akan ditentang Ribka (contoh yang baik berikutnya dilaksanakan oleh Yakub yang memberikan berkatnya dengan mengumpulkan seluruh anak-anaknya/keluarganya di Kej.49). Ribka yang senantiasa menguping Ishak dan Esau melihat itu sebagai kesempatan emas dengan diam-diam menipu Ishak yang sudah kabur matanya. Sebelumnya, malah Ishak dengan licik membeli hak kesulungan Esau dengan memanfaatkan sikap ketidakperdulian Esau atas hak itu (Kej.25:30-34).
Saling tipu masih terus terjadi ketika akhirnya Ribka mengatur pelarian Yakub ke Haran dan memakai alasan istri-istri Esau sebagai dasar seluruh tindakannya.(Kej.27:46)

3. Kecurigaan
Karena ingin memuluskan rencananya, maka kehidupan Ishak dan Ribka senantiasa penuh kecurigaan, yang akhirnya menular ke Esau dan Yakub. Kecurigaan ini membuat kehidupan mereka senantiasa jauh dari damai sejahtera, karena selalu harus saling mengintip dalam ketergesaan dan menipu.

Buah pahit "rencanaku"

Ketiga hal di atas, membuat kegagalan bagi Ishak dan Ribka untuk menghadirkan kasih sayang, baik kepada orang tua maupun kepada sesama saudara. 
Buah pahit yang mereka petik atas keinginan memberlakukan rencana manusia atas Rencana Allah, hanyalah keterpisahan dan kehilangan;
- Ishak dan Ribka kehilangan anak-anak mereka, Esau pindah ke tanah Seir di Edom dan Yakub lari ke Haran.
- Larinya Yakub yang diatur Ribka untuk beberapa saat lamanya, ternyata menjadi 20 tahun lamanya. Bahkan dengan asumsi bahwa Ribka tidak lagi disebut dalam kisah selanjutnya, maka boleh jadi Ribka sudah meninggal ketika Yakub kembali (Ribka terakhir disebut di Kej.49:31). Rancangan Ribka supaya tidak kehilangan anaknya, berubah menjadi ia kehilangan mereka berdua.
Boleh jadi Ribka merasa menang karena Yakublah yang memperoleh berkat, tetapi ketetapan Allah atas rencanaNya, terjadi dengan caraNya, bukan dengan cara manusia.
Ishak dan Ribka memetik buah kepahitan atas tindakan mereka yang sebenarnya "tidak percaya penuh" kepada rencana Allah yang difirmankan kepada mereka. Ishak berusaha menghalangi dan Ribka merasa harus turun tangan membantu rencana tersebut.
- Dalam berkat Ishak kepada Esau (Kej.27:39-40) memperlihatkan kesadaran Ishak atas ketidak-mampuan dirinya untuk mengatur Rencana Allah. Ishak akhirnya menyerah dan Allah memakai mulut Ishak untuk bernubuat. "Tanah gemuk dan embun dari langit" sesungguhnya memperlihatkan Rencana Allah atas Mesias yang akan datang dari keturunan yang mana, bukan secara harfiah saja menunjuk kepada kekayaan. Bukankah ketika Yakub pulang dan mau memberi persembahan tanda damai ditolak Esau karena ia juga punya banyak? (Kej.33:9 Tetapi kata Esau: "Aku mempunyai banyak, adikku; peganglah apa yang ada padamu."). "Engkau akan hidup dari pedangmu dan engkau akan menjadi hamba adikmu", memperlihatkan bagaimana Bani Edom tunduk dan dikalahkan oleh Bani Israel di kemudian hari.

Kesimpulan

Ada beberapa hal yang kita pelajari dari bacaan di atas:

1. Apa yang kita tabur akan kita tuai.
Galatia  6:7-8 (6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. 6:8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu).
Ishak dan Ribka menuai keterpisahan atas ulahnya. Esau dan Yakub menuai kerja keras atas ulah mereka, yang satu tidak menghargai hak kesulungan dan yang satu beroleh berkat dengan tipu daya. Tipu daya Yakub atas hak kesulungan Esau dituai Yakub di Haran ketika ia ditipu Laban.

2. Rencana Allah tidak akan terjadi dengan cara manusia. 
Apa benar rencana Allah untuk memberi berkat bagi Yakub? Ya benar. 
Apa benar cara Ribka mengusahakan berkat bagi Yakub? Tidak benar.
Jadi cara penggenapan sangat memegang peranan penting untuk tercapainya Tujuan dan Rencana Allah. Campur tangan manusia hanya akan mengakibatkan berbuahnya kepahitan, walaupun rencana itu tergenapi.
Rencana Allah tergenapi walaupun Ishak, Ribka, Esau dan Yakub harus menuai dari dagingnya. 2 suku bangsa lahir dari rahim Ribka, Esau menurunkan Bani Edom dan Yakub menurunkan Bani Israel. Yang satu akan akan lebih kuat dari yang lain dan yang tua akan jadi hamba bagi yang muda. 
Bukankah di kemudian hari Yesus Kristus dilahirkan melalui Bani Israel, dan kita semua akhirnya menjadi Hamba Allah dan diselamatkan melalui Yesus Kristus?

3. Rencana Allah melalui Yesus Kristus melibatkan kita didalam rencana tersebut. Sekarang bergantung sepenuhnya kepada kita, apakah kita mau membiarkan Rencana tersebut menguasai hidup kita, atau mau menguasai rencana itu dan merubahnya sesuai kehendak kita?

Prinsip utama yang kita pelajari dalam hal ini adalah: Ketika kita memilih jalan dan rencana kita sendiri dan mengabaikan rencana Allah, maka kita tidak akan beroleh damai sejahtera dalam rencana itu, bahkan akan membayar harga yang tinggi dan kepahitan untuk itu - Itu sama saja dengan memakaikan kuk yang berat pada tengkuk kita sendiri.
Kita tidak akan mampu melawan Rencana Allah, jadi daripada mencoba melawannya, kenapa kita tidak berserah penuh dan bekerja menggenapi rencana itu dengan caraNya? Dengan jalan itu kuk yang kita pikul akan menjadi ringan sesuai kata Kristus Yesus: (Mat 11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. 11:30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.")

ITT - Jakarta, Minggu 7 Juli 2013.

Thursday, July 4, 2013

Amsal 14:1-10

(Sesuai SBU - Rabu, 10 Juli 2013)

14:1 Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.
14:2 Siapa berjalan dengan jujur, takut akan TUHAN, tetapi orang yang sesat jalannya, menghina Dia.
14:3 Di dalam mulut orang bodoh ada rotan untuk punggungnya, tetapi orang bijak dipelihara oleh bibirnya.
14:4 Kalau tidak ada lembu, juga tidak ada gandum, tetapi dengan kekuatan sapi banyaklah hasil.
14:5 Saksi yang setia tidak berbohong, tetapi siapa menyembur-nyemburkan kebohongan, adalah saksi dusta.
14:6 Si pencemooh mencari hikmat, tetapi sia-sia, sedangkan bagi orang berpengertian, pengetahuan mudah diperoleh.
14:7 Jauhilah orang bebal, karena pengetahuan tidak kaudapati dari bibirnya.
14:8 Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya.
14:9 Orang bodoh mencemoohkan korban tebusan, tetapi orang jujur saling menunjukkan kebaikan.
14:10 Hati mengenal kepedihannya sendiri, dan orang lain tidak dapat turut merasakan kesenangannya.

Pengantar Kitab Amsal

Judul

Dalam kitab orang Yahudi diberi judul “Mishele Shelomo” artinya Amsal Salomo (1:1). Amsal memperoleh nama dari isinya, yakni pepatah atau peribahasa yang menyampaikan kebenaran dengan cara perbandingan. Kata ‘amsal’ (Ibrani: masyal) artinya melambangkan, menyerupai, misal, perumpamaan, dan juga dapat berarti paralel, serupa atau perbandingan.

Tema

Hidup takut akan Tuhan. Kitab Amsal digolongkan kitab hikmat. Amsal adalah pengajaran moral dan spiritual tentang bagaimana sikap hidup setiap hari. Amsal merupakan ucapan hikmat dari guru-guru yang mengetahui hukum Allah dan ingin menerapkan prinsip-prinsipnya pada segala aspek.

Penulis/Penulisan

1. Salomo. Nama Salomo disebutkan sebagai penulis pasal 1 – 24 (1:1, 10:1) dan juga pasal 25 – 29 yang dikumpulkan Hizkia (25:1). Dia adalah seorang yang luar biasa kebijaksanaannya (I Raj. 3:9, 4:29-34). Alkitab mencatat bahwa Salomo menggubah 3000 amsal dan 1005 nyanyian. Tentang amsal yang dikumpulkan Hizkia, itu terjadi pada masa ia memulihkan pelayanan Bait Suci (II Taw. 29:25-30).

2. Orang-orang Bijak, disebutkan sebagai pengarang (22:17, 24:23). Sepert umumnya bangsa-bangsa Timur, Israel masa PL yang dipimpin oleh Hakim maupun Raja, pelayanan mereka didukung oleh Imam, Nabi, Pemimpin Suku, Ahli Sejarah, Penyanyi dan Orang bijak. Orang bijak bertugas menasihati raja dalam segala hal yang dibutuhkannya. Pada zaman nabi Yeremia, orang bijak itu mempunyai kedudukan yang sejajar dengan Imam dan Nabi, ketiganya sebagai saluran pengetahuan dari Allah (Yer.18:18).

3. Agur, penulis pasal 30. Dia adalah anak dari Yake dari Masa. Masa adalah sebuah suku orang Arab, keturunan Abraham dari cabang Ismael (Kej. 25:12-14, bnd. Kel. 17:1-7). Memang suku-suku Timur terkenal dalam hal hikmat, hanya tidak melebihi hikmat Salomo (I Raj. 4:30).

4. Lemuel, penulis pasal 31:1-9. Lemuel adalah raja Masa. Amsal singkat ini adalah nasihat yang bijaksana dari ibunya untuk mempersiapkan dia menjadi raja yang bijaksana.

5. Anonim, untuk pasal 31:10-31 yang merupakan sebuah puisi akrostik (menurut abjad), tentang karakteristik isteri yang cakap.

Dari Amsal 25:1, jelaslah bahwa kitab Amsal tidak mungkin dikumpulkan menjadi satu sebelum masa raja Hizkia (715 – 686 SM). Kemungkinan besar kitab Amsal disunting selama pemerintahan Hizkia, walaupun kebanyakan isinya sudah jauh lebih tua. Yang diketahui adalah bahwa kitab Amsal sudah menjadi tetap dalam bentuknya yang sekarang ini, sebelum zaman Ben Sira (seorang ahli sejarah Yahudi) yang menulis kira-kira tahun 180 SM.

Tujuan

Tujuan umum dari seluruh amsal adalah hiduplah takut akan Tuhan. Hilangnya rasa takut akan Tuhan menuju kepada kebebalan hidup tanpa kendali. Jadi tujuan Amsal adalah memberi petunjuk bagaimana melakoni hidup yang sukses dengan memberikan ilustrasi, baik secara positif maupun negatif.
Tujuan khusus yang mengacu pada kitab ini ditunjukkan pada awal kitab ini di Ams 1:2-6 (1:2 untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, 1:3 untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, 1:4 untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda -- 1:5 baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan -- 1:6 untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak.)

Susunan Kitab

1. Pasal 1:1-7 = Pendahuluan
2. Pasal 1:8-9:18 = Ajaran tentang hikmat
3. Pasal 10:1–22:16 = Kumpulan amsal Salomo yang pertama
4. Pasal 22:17–24:34 = Perkataan-perkataan orang bijak
5. Pasal 25 – 29 = Kumpulan amsal Salomo yang kedua
6. Pasal 30 = Perkataan-perkataan Agur
7. Pasal 31:1-9 = Perkataan-perkataan Ibu Lemuel
8. Pasal 31:10-31 = Lampiran: Isteri yang cakap

Eksposisi/Uraian Amsal 14:1-10

14:1 Perempuan yang bijak mendirikan rumahnya, tetapi yang bodoh meruntuhkannya dengan tangannya sendiri.

Apa yang dibutuhkan seorang perempuan untuk menjadi istri yang baik? Jawabnya adalah kebijakan. Kebijakan itu sendiri mempunyai 2 hal utama:
1. Kebijakan itu dilahirkan dari cinta kasih yang murni. Cinta kasih kepada Tuhan maupun suami sebagai kepala rumah tangga. Tanpa cinta kasih yang murni, tidak akan pernah ada rasa hormat (yang adalah fondasi utama dalam membangun rumah tangga) -- kepada kepala rumah tangga.
2. Kebijakan itu sendiri melahirkan keuletan dan ketekunan dalam membangun rumah tangga dan lingkungan sosial yang sehat. Keruntuhan akan menimpa apabila perempuan hanya hidup untuk memuaskan keinginannya, penampilannya, demi untuk kebanggaan semu dan penyombongan diri.

Amsal 12:4 Isteri yang cakap adalah mahkota suaminya, tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya.
Lebih lanjut dapat kita lihat di Amsal 31:10-31.

14:2 Siapa berjalan dengan jujur, takut akan TUHAN, tetapi orang yang sesat jalannya, menghina Dia.

Alkisah seorang raja mencari pengawas kebun kerajaan dengan cara yang unik. Tiap pelamar diberikan sekantong biji untuk ditanam selama waktu tertentu. Seorang pemuda ikut mendaftar dengan semangat. Biji dari raja ditanamnya hati-hati, disiramnya tiap hari. Namun, betapa sedih hatinya melihat biji itu tak kunjung tumbuh. Ketika tiba batas waktu untuk melapor ke istana, ia melihat orang-orang membawa tanaman yang indah-indah. Setengah menangis ia mohon ampun pada raja, karena biji itu tidak mau tumbuh sekalipun ia telah merawatnya tiap hari. Raja menepuk pundaknya dan berkata, “Semua biji yang kuberikan sebenarnya sudah dipanggang, jadi tidak mungkin tumbuh. Entah dari mana tanaman-tanaman yang mereka bawa. Terima kasih sudah membawa kejujuranmu. Hari ini juga kamu resmi menjadi pengawas kebun kerajaanku.”

Kejujuran tak hanya menunjukkan ketulusan hati, tetapi juga sikap yang menghormati orang lain. Karena hormat, kita tidak mau menipu orang itu. Lebih dari menghormati sesama, Amsal di atas berkata bahwa sikap yang jujur menghormati Tuhan sendiri. 
Ketika seseorang berdusta, ia sebenarnya sedang menghina Tuhan Yang Mahatahu. Memang bersikap jujur di tengah dunia yang sarat ketidakjujuran bisa dipandang sebagai suatu kebodohan di mata manusia. Namun tidak di mata Tuhan.

Ketika diperhadapkan pada pilihan untuk jujur atau tidak, ingatlah bahwa kita tidak saja sedang berurusan dengan manusia, tetapi juga dengan Tuhan. Manusia tidak serbatahu, tetapi Tuhan tahu apakah kita sedang menghormati-Nya atau tidak.

Tuhan Yesus mengajarkan hal ini dengan sudut pandang "Kasih" di Yoh 14:15 "Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.

14:3 Di dalam mulut orang bodoh ada rotan untuk punggungnya, tetapi orang bijak dipelihara oleh bibirnya.

Arogansi/kesombongan akan senantiasa memaksa kita untuk mengomentari sikap orang lain dengan kasar, dan ini tidak dikehendaki Tuhan.
1 Sam 2:3 Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci maki keluar dari mulutmu. Karena TUHAN itu Allah yang mahatahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji

Kristus Yesus sendiri berkata di Mat 12:37 Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.

14:4 Kalau tidak ada lembu, juga tidak ada gandum, tetapi dengan kekuatan sapi banyaklah hasil.

Lembu dan sapi penting bagi pertanian di saat itu. Sudah tentu bukan hal yang mudah untuk memelihara lembu sapi itu dan menjaganya tetap sehat dan kuat untuk bekerja. Bukankah kandang sapi yang bersih pertanda bahwa tidak ada sapi di dalamnya? Tidak ada sapi berarti produktivitas menurun drastis dan akhirnya produksi berkurang ... yang berakibat kelaparan. 
Amsal ini memaparkan bahwa hasil yang baik akan diperoleh hanya dengan kerja keras, ketekunan dan keuletan.

14:5 Saksi yang setia tidak berbohong, tetapi siapa menyembur-nyemburkan kebohongan, adalah saksi dusta.

Berbohong adalah suatu perbuatan dosa yang tidak disenangi Tuhan. Berbohong sehingga mengakibatkan orang lain menderita atas kebohongan kita, menimbulkan efek berlipat-ganda atas dosa itu sendiri. Apalagi dilakukan dalam konteks kesaksian, di hadapan pengadilan, yang adalah di hadapan Tuhan sendiri. Coba kita dalami dan uraikan dosa itu; bohong - menuduh orang/fitnah - bersumpah palsu mempertahankan kebohongan dst. Bukankah bohong akan beranak dusta?

Ulangan 19:16-21 mengatur tentang saksi dusta dan dengan tegas dinyatakan: Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu. (Ul 19:19b).
Tuhan Yesus menegaskannya dalam Mat 19:18 Kata orang itu kepada-Nya: "Perintah yang mana?" Kata Yesus: "Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta

14:6 Si pencemooh mencari hikmat, tetapi sia-sia, sedangkan bagi orang berpengertian, pengetahuan mudah diperoleh.

Bila mencari hikmat kita kiaskan dengan kata "belajar", maka bagaimana mungkin seseorang bisa belajar bila ia menganggap dirinya sudah pintar dan hanya mencemooh (mengejek dan mencela)? Hanya bila seseorang merendahkan diri dan menganggap dirinya kurang, maka ia bisa diajar dan belajar.
Bagi orang berhikmat, betapa mudahnya pengetahuan diperoleh dalam kehidupan ini, tapi tidak demikian bagi seseorang yang hanya kerjanya hanya sibuk mencemooh.

14:7 Jauhilah orang bebal, karena pengetahuan tidak kaudapati dari bibirnya.

Melanjutkan uraian di ayat sebelumnya di atas; bagaimana seorang bebal dapat menghasilkan pengetahuan, sementara ia sendiri tidak pernah belajar? Menjauhi orang bebal adalah pilihan satu-satunya, karena mendebat mereka hanya menghasilkan kerugian bagi kita. Apalagi berteman dengan mereka, yang hanya akan menghasilkan pindahnya kebebalan mereka menjadi karakter diri kita.

14:8 Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya.

Ayat ini menerangkan prinsip umum orang berhikmat. Ia akan dengan hati-hati menjatuhkan pilihan dengan pertimbangan yang matang sebelum melangkah dalam kehidupannya, begitu pula langkah dalam memutuskan bila menghadapi permasalahan hidup. Sebaliknya orang bebal akan terlambat sadar dan terkejut bila ternyata langkah yang ia percayai benar ternyata fatal.
Bandingkan dengan Ams.14:12 Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.
Sudah tentu melibatkan Tuhan dalam setiap pengambilan keputusan adalah hal yang wajib dilakukan sebagai orang percaya (Yak 4:13- 16 = 4:13 Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung", 4:14 sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. 4:15 Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." 4:16 Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.)

14:9 Orang bodoh mencemoohkan korban tebusan, tetapi orang jujur saling menunjukkan kebaikan.

Untuk lebih mengerti amsal ini, baca terjemahan Alkitab BIS (Ams.14:9 BIS: Orang bodoh tidak peduli apakah dosanya diampuni atau tidak; orang baik ingin diampuni dosanya)
Kebodohan dan kebebalan menutupi pikiran mereka sehingga mencemoohkan ibadah. Mengapa demikian? bisa jadi karena ibadah tersebutpun dijalankan oleh mereka sendiri dengan tidak bersungguh-sungguh, sehingga merekapun akhirnya tidak percaya dan mencemooh ibadah itu. 
Hal itu diperingatkan oleh Nabi Yesaya. Baca Yesaya 1:10-17:
1:10 Dengarlah firman TUHAN, hai pemimpin-pemimpin, manusia Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai rakyat, manusia Gomora! 1:11 "Untuk apa itu korbanmu yang banyak-banyak?" firman TUHAN; "Aku sudah jemu akan korban-korban bakaran berupa domba jantan dan akan lemak dari anak lembu gemukan; darah lembu jantan dan domba-domba dan kambing jantan tidak Kusukai. 1:12 Apabila kamu datang untuk menghadap di hadirat-Ku, siapakah yang menuntut itu dari padamu, bahwa kamu menginjak-injak pelataran Bait Suci-Ku? 1:13 Jangan lagi membawa persembahanmu yang tidak sungguh, sebab baunya adalah kejijikan bagi-Ku. Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. 1:14 Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya. 1:15 Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah. 1:16 Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat, 1:17 belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!.

14:10 Hati mengenal kepedihannya sendiri, dan orang lain tidak dapat turut merasakan kesenangannya.

Hargailah kesedihan orang lain. Kesedihan yang dalam akan mengungkung seseorang sedemikian rupa sehingga ia tidak dapat berkata-kata. Sehingga, adakalanya dalam keadaan seperti itu, yang diperlukan adalah kehadiran kita untuk mendukung kesedihan itu, tanpa berkata-kata apapun ... Adakalanya hadir dengan keheningan membiarkan air mata rekan kita yang bersedih bercucuran tanpa bertanya apapun, sudah lebih dari cukup, dibanding kita menuntut penjelasan atas apa kesedihannya itu. Demikian pula untuk suka cita. (Roma 12:15 Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!)

ITT - Jakarta, Kamis 4 Juli 2013