Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri

Thursday, November 30, 2023

Kedalaman Spiritual atau Sekadar Formalitas Kalender?

Masa Adven dalam Kerangka Berpikir Kritis


Setiap kali kalender gerejawi bergulir ke akhir November atau awal Desember, gereja-gereja arus utama - khususnya tradisi Katolik, Lutheran, dan Reformed - mulai bersolek dengan liturgi khusus. Lilin-lilin ungu mulai dinyalakan di dalam lingkaran cemara hijau yang kita kenal sebagai Lingkaran Adven. Di sana, kita diajak untuk "menanti."

Namun, di balik estetika liturginya yang syahdu, muncul sebuah pertanyaan provokatif: Apakah masa Adven ini adalah perintah Tuhan, atau sekadar konstruksi sejarah manusia untuk menciptakan suasana religius?

Memahami Esensi Adven

Secara etimologis, Adventus berasal dari bahasa Latin yang berarti "Kedatangan." Masa ini dirancang sebagai periode persiapan selama empat minggu sebelum Natal. Fokusnya ganda: merayakan kedatangan Kristus yang pertama sebagai bayi di Betlehem, sekaligus menumbuhkan kewaspadaan iman dalam menanti kedatangan-Nya yang kedua kali sebagai Hakim dan Raja Semesta Alam.

Dasar Alkitabiah: Esensi vs Format

Jika kita mencari perintah spesifik di dalam Alkitab untuk merayakan "Masa Adven" selama empat minggu, jawabannya cukup tegas: Tidak ada. Alkitab tidak pernah menetapkan kalender khusus sebagai prasyarat untuk menyambut kelahiran Yesus.

Meskipun demikian, para pendukung masa Adven menggunakan beberapa fondasi teologis sebagai pembenaran:

  • Penantian Mesianik: Merefleksikan kerinduan bangsa Israel akan janji Allah di Perjanjian Lama (Yesaya 9:1-6).
  • Kewaspadaan Iman: Mengikuti amanat Yesus untuk senantiasa berjaga-jaga karena waktu kedatangan-Nya tidak dapat diprediksi (Matius 24:42-44).
  • Persiapan Jalan: Mengambil inspirasi dari seruan Yohanes Pembaptis untuk "mempersiapkan jalan bagi Tuhan" (Matius 3:3).

Secara teologis, sikap "menanti Tuhan" memang sangat alkitabiah. Namun, secara format ritual (warna ungu, urutan lilin, dan durasi waktu), hal tersebut murni merupakan tradisi gerejawi yang berkembang berabad-abad kemudian.

Kritik Tajam: Mengapa Adven Sering Dipertanyakan?

Di sinilah letak kontroversinya. Kelompok Kristen yang memegang teguh prinsip puritan atau fundamentalis sering kali memandang Adven dengan skeptisisme tinggi. Berikut adalah beberapa kritik tajam yang sering dilontarkan:

  1. Pelanggaran terhadap Prinsip Sola Scriptura

Kritik yang paling mendasar adalah tuduhan bahwa gereja telah "menambah-nambahi" Firman Tuhan. Jika Alkitab tidak memerintahkannya, mengapa umat seolah diwajibkan (secara moral maupun liturgis) untuk mengikutinya? Bagi para kritikus, hal ini bisa terjerumus ke dalam legalisme baru, di mana seseorang merasa lebih suci hanya karena telah menyelesaikan ritual mingguan tersebut.

  1. Jebakan Ritualisme Kosong

Sering kali, simbolisme seperti lilin Hope, Peace, Joy, dan Love berhenti hanya sebagai "estetika liturgis." Bahaya terbesarnya adalah ketika umat terjebak pada seremoni fisik namun mengabaikan transformasi batin. Adven berisiko menjadi sekadar rutinitas tahunan yang kehilangan daya ubahnya—kita merayakan "bayi Yesus" yang lucu, namun mengabaikan otoritas Kristus yang berdaulat.

  1. Akar Sejarah yang Dianggap Sinkretis

Beberapa kritikus menyoroti bahwa penentuan masa Adven dan Natal dipengaruhi oleh upaya gereja mula-mula untuk melakukan "Kristenisasi" terhadap festival pagan Romawi. Dari sudut pandang ini, Adven dianggap sebagai produk hibrida yang akarnya dianggap meragukan.

  1. Komersialisasi yang Mengaburkan Makna

Di era modern, Adven telah menjadi komoditas pasar. Munculnya "Kalender Adven" berisi kosmetik, cokelat, hingga barang mewah menunjukkan betapa tradisi spiritual ini telah dikooptasi oleh kapitalisme. Masa yang seharusnya digunakan untuk pertobatan (metanoia) justru sering kali berubah menjadi musim belanja yang konsumtif.


Penutup

Sarana atau Berhala?

Pada akhirnya, Adven hanyalah sebuah alat atau sarana. Jika ia digunakan sebagai momen introspeksi diri mengenai kesiapan kita bertemu Sang Pencipta, maka tradisi ini memiliki nilai spiritual yang mendalam.

Namun, jika Adven dirayakan hanya demi mempertahankan tradisi kuno atau memperindah dekorasi gereja tanpa adanya pertobatan yang nyata, maka jujur saja: itu hanyalah sebuah sandiwara liturgis.

Adven adalah tradisi manusia, bukan hukum Tuhan. Keabsahannya tidak terletak pada warna lilin yang kita nyalakan, melainkan pada kesiapan hati kita menyambut kedatangan Sang Raja.

Bagaimana pandangan Pembaca? Apakah menurut Pembaca ritual tahunan seperti ini masih efektif untuk memelihara iman, atau sudah saatnya gereja menanggalkan tradisi yang tidak tertulis secara eksplisit di Alkitab?

ITT - Jakarta, Kamis 30 November 2023

 

Thursday, August 17, 2023

Gereja yang "Overdosis" Kegiatan

Kesetiaan atau Sekadar Pelarian?

​Senin latihan paduan suara, Selasa ibadah kaum perempuan, Rabu ibadah sektor, Kamis latihan paduan suara lagi, Jumat ibadah kaum bapak dan ibadah Gerakan Pemuda, Sabtu ibadah Kaum Lanjut Usia, dan Minggu "habis" di gedung gereja (ibadah Pelayanan Anak, Persekutuan Teruna, Ibadah Hari Minggu), untuk yang memangku jabatan komisi, presbiter ada waktu tambahan, juga PHMJ! Jika jadwal ini terasa familiar bagi Anda, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: Apakah Tuhan benar-benar merancang gereja untuk menjadi kompetitor bagi waktu keluarga?


​Mari kita bedah fenomena "aktivisme religius" ini dengan kacamata kritis dan dasar Firman Tuhan.


​1. Keluarga: Ladang Pelayanan yang Terlupakan


​Sering kali jemaat merasa "berdosa" jika absen dari ibadah sektor, namun merasa biasa saja ketika tidak punya waktu mengobrol dengan anak atau pasangan. Padahal, Alkitab dengan keras menekankan bahwa tanggung jawab spiritual utama dimulai dari rumah.


​"Tetapi jika ada seorang yang tidak memelihara sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu telah murtad dan ia lebih buruk dari orang yang tidak percaya." – 1 Timotius 5:8


​Jika pelayanan di gereja membuat seseorang menelantarkan kebutuhan emosional dan kehadiran fisik di rumah, maka pelayanan tersebut telah kehilangan hakikatnya. Kita tidak bisa membangun "Kerajaan Allah" di gedung gereja sambil membiarkan "Gereja Kecil" (keluarga) di rumah berantakan.


​2. Jebakan "Sindrom Marta": Sibuk Melayani, Lupa Mendengar


​Banyaknya jadwal ibadah sering kali menciptakan jemaat yang lelah secara fisik. Akibatnya, saat ibadah berlangsung, mereka hadir hanya sebagai rutinitas atau formalitas.


​"Tetapi Tuhan menjawabnya: 'Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya.'" – Lukas 10:41-42

​

Seperti Marta yang sibuk melayani sampai menggerutu, jadwal gereja yang terlalu padat bisa membuat jemaat kehilangan "bagian yang terbaik" - yaitu ketenangan untuk benar-benar merenungkan firman. Kesibukan kategorial sering kali menjadi "berhala baru" yang menjauhkan kita dari esensi hubungan pribadi dengan Tuhan.


​3. Kritik Terhadap Ritual dan Kolekte


​Ada beberapa pertanyaan tajam jemaat mengenai "Apakah ini hanya soal kolekte?" Ini adalah kritik atas komodifikasi agama. Jika ibadah diadakan setiap hari tanpa ada perubahan karakter atau dampak sosial, maka ibadah tersebut terjebak dalam ritualisme kosong.


​"Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu... Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir." – Amos 5:21, 24


​Tuhan tidak terkesan dengan banyaknya kotak kolekte atau frekuensi ibadah jika keadilan dan kasih di dalam rumah tangga dan masyarakat diabaikan. Gereja harus berani mengevaluasi: apakah program-program ini dibuat karena kebutuhan jemaat atau sekadar target program kerja yang ujung-ujungnya hanya soal laporan keuangan?


​4. Makna Sabat: Manusia Bukan Budak Program


​Gereja sering kali lupa bahwa manusia membutuhkan istirahat. Sabat diciptakan agar manusia bisa berhenti dari pekerjaannya dan menikmati relasi dengan Sang Pencipta dan sesama.


​"Lalu kata Yesus kepada mereka: 'Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.'" – Markus 2:27


​Jika jemaat menjadi "budak" dari jadwal gereja - di mana mereka merasa tertekan dan kehabisan waktu untuk beristirahat - maka gereja telah memutarbalikkan prinsip Sabat. Gereja seharusnya menjadi tempat perhentian, bukan sumber kelelahan baru yang merampas waktu istirahat jemaat bersama keluarganya.


​Kesimpulan: Menuju Iman yang Sehat


​Setelah menelaah berbagai kesibukan yang ada, kita dapat menyimpulkan bahwa gereja yang sehat bukanlah gereja yang lampunya menyala 24 jam sehari untuk kegiatan organisasi, melainkan gereja yang mampu mengutus jemaatnya kembali ke rumah dan lingkungannya untuk menjadi garam dan terang bagi keluarga mereka.


​Sudah saatnya pimpinan gereja melakukan audit jadwal. Mari kita beri ruang bagi jemaat untuk kembali ke meja makan mereka sendiri – dalam budaya Timur, meja makan sering dipakai oleh orangtua dalam memberikan wejangan dan doa kepada keluarganya, serta yang utama; merenungkan Firman Tuhan.


Pada akhirnya, kesaksian iman yang paling kuat bukan terjadi di atas mimbar, melainkan di dalam keharmonisan keluarga yang dibangun di atas waktu dan kasih sayang.


ITT - Jakarta, Senin 17 Agustus 2023


Sunday, February 26, 2023

​Keintiman atau Penghinaan Terhadap Sang Pencipta?

"Kau" dari perspektif Awam

Latar Belakang

Sekitar tahun 1980 di Ambon, ketika Oma penulis masih ada, suatu hari Oma meminta kami untuk berdoa. Dalam doa, beberapa kali kami sebutkan kata "Kau" sebagai pengganti Tuhan.
Setelah selesai berdoa, beliau mengajak ngobrol dan bertanya serius (dalam dialek Ambon)
"Nyong, nyong pernah panggil mama &papa dengan sebutan kau"
Tentu saja kami menjawab: "Tidak pernah Oma"
Lalu beliau berkata tegas; "Nyong, kalau begitu jangan pernah memanggil atau menyebut Tuhan dengan kata Kau"

Sejak saat itu, sampai setua ini, kami tidak pernah lagi memakai kata ganti itu untuk menyebut Tuhan Allah, Bapa di Surga.
Terima kasih Oma Udi .... May you Rest in Peace

+++++++++

Pendahuluan

​Dalam belantika spiritualitas modern, kata ganti "Kau" telah menjadi standar baru yang mendominasi komunikasi iman. Kita mendengarnya dalam lirik lagu penyembahan yang emosional, dalam doa-doa spontan di mimbar, hingga dalam gaya bahasa khotbah yang populer. Kita menyapa Tuhan dengan nada yang sangat akrab - seolah-olah kita sedang bercengkerama dengan sahabat karib di sebuah kedai kopi.

​Namun, jika kita menilik sejarah bahasa dan teologi, penggunaan kata ganti yang cenderung kasual ini menyimpan perdebatan tajam. Apakah kita sedang meruntuhkan tembok pemisah demi kedekatan, ataukah kita sedang kehilangan rasa hormat yang seharusnya menjadi fondasi iman?

​1. Hilangnya Kesakralan: Belajar dari "Thou" dan "Thee"

​Dalam bahasa Inggris lama, terdapat pembedaan tajam dalam menyapa Tuhan. Alkitab versi King James (KJV) menggunakan kata Thou (subjek), Thee (objek), dan Thy/Thine (kepemilikan). Secara teknis, kata-kata ini awalnya adalah bentuk akrab. Namun, dalam konteks liturgi, kata-kata tersebut berevolusi menjadi bahasa khusus yang dikuduskan.
​Di Indonesia, kita mengalami pergeseran dari kesadaran posisi "Hamba dan Tuan" (Engkau) menjadi hubungan "Aku dan Kau". Pergeseran ini membawa risiko Antroposentrisme (pandangan filosofis yang menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta dan makhluk paling penting):
  • ​Dalam Doa: Doa yang seharusnya menjadi sujud penyembahan sering kali berubah menjadi "percakapan santai" yang kehilangan getaran kekudusan.
  • ​Dalam Khotbah: Pengkhotbah yang terlalu sering menggunakan kata "Kau" saat berbicara atas nama atau kepada Tuhan cenderung "mendomestikasi/menurunkan" keagungan Allah, membuat-Nya tampak seperti rekan bisnis atau asisten pribadi manusia.
  • Dalam penyebutan: Patut diingat, bahwa sekalipun ditulis dengan huruf besar, Kau disebutkan sama, tanpa ada penekanan tertentu (bandingkan Thou dan You)
Catatan: Tetragrammaton adalah empat huruf konsonan (huruf mati) Ibrani—יהוה (YHWH/YHVH)—yang merupakan nama pribadi Tuhan dalam Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama). Nama ini muncul lebih dari 6.800 kali dalam naskah Masoretik dan sering diterjemahkan sebagai "TUHAN" (huruf kapital) atau Yahweh/Yehuwa. 
Karena kesuciannya, dalam tradisi Yahudi, Tetragrammaton tidak boleh diucapkan. Saat membaca Kitab Suci, YHWH diganti dengan sebutan Adonai (Tuanku) atau HaShem (Nama Itu).

​2. Manifestasi "Kau" dalam Praktik Iman

​Kritik terhadap penggunaan kata "Kau" bukan sekadar masalah tata bahasa, melainkan refleksi dari pergeseran teologis:

​A. Tuhan sebagai "Kekasih Kosmik" (Lagu Rohani)
Banyak lirik lagu modern terasa seperti lagu cinta sekuler yang hanya diganti subjeknya. Kita cenderung memuja Tuhan sebagai pemuas emosi pribadi daripada Penguasa Semesta yang dahsyat. Kata "Kau" dalam melodi yang catchy sering kali menghapus "jarak yang sehat" antara Pencipta dan ciptaan.

​B. Desakralisasi Komunikasi (Doa)
Dahulu, doa dibuka dengan sapaan yang penuh gentar. Kini, dalam doa-doa publik, penggunaan "Kau" sering kali dibarengi dengan tuntutan-tuntutan yang kehilangan kesopanan. Hilangnya kata "Engkau" yang bersifat takzim sering kali berbanding lurus dengan hilangnya kesadaran bahwa kita sedang berbicara di hadapan Takhta yang Menyala-nyala dan Maha Kudus.

​C. Retorika yang Terlalu Akrab (Khotbah)
Dalam khotbah, penggunaan "Kau" sering kali digunakan untuk menciptakan kesan relevansi. Namun, risikonya adalah kehilangan misteri ilahi. Alkitab mencatat bahwa ketika manusia bertemu Tuhan (Musa, Yesaya, Yohanes), mereka tersungkur. Tidak ada yang berani menunjuk wajah Tuhan atau menyebut nama-Nya dengan santai.

​3. Menimbang Kedekatan vs Keagungan

​Pembela penggunaan bahasa kasual tentu akan berargumen bahwa Tuhan Yesus mengajarkan kita memanggil Allah sebagai "Abba" (Bapa). Namun, perlu diingat:

​Catatan Kritis: "Abba" bukanlah panggilan yang kurang sopan; itu adalah keintiman yang lahir dari ketaatan mutlak. Keintiman tanpa penghormatan bukanlah kasih, melainkan kelancangan.

​Jika penyebutan "Kau" membuat kita merasa setara dengan Tuhan, maka kita telah gagal menyembah. Penyembahan, doa, dan khotbah yang benar harus menyeimbangkan fakta bahwa Tuhan adalah sahabat kita, namun Dia juga adalah Api yang Menghanguskan (Deus ignis Consumens - frasa yang berasal dari Ibrani 12:29, yang artinya "Allah kita adalah api yang menghanguskan").

​Kesimpulan: Kembali ke Kerendahan Hati

​Mungkin masalah utamanya bukan hanya terletak pada kata "Kau" itu sendiri, melainkan pada sikap hati di baliknya.
  • ​Menggunakan "Engkau" atau "Bapa" hanya untuk terlihat religius namun hati jauh adalah kemunafikan.
  • ​Menggunakan "Kau" karena kemalasan linguistik tanpa rasa gentar adalah kecerobohan rohani.
​Sudah saatnya para pencipta lagu, pengkhotbah, dan jemaat kembali merenungkan: Apakah komunikasi kita sedang memuliakan takhta-Nya, atau hanya sedang membelai perasaan kita sendiri dengan kata-kata yang terlalu akrab?

​Tambahan Renungan:
"Dalam saat teduh kita hari ini, apakah sapaan kepada Tuhan mencerminkan seorang anak yang dikasihi, atau seorang hamba yang lupa siapa Tuannya?"

ITT - Jakarta, Minggu 26 Februari 2023