Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri

Friday, February 27, 2026

The Ten Commandments

Sepuluh Perintah Allah (Ten Commandments) sudah berlaku jauh sebelum Musa menerimanya di Gunung Sinai. Artikel ini memberikan bukti bahwa hukum-hukum tersebut bersifat kekal dan sudah ada sejak penciptaan manusia.

​Banyak orang menganggap Sepuluh Perintah Allah adalah hukum sementara yang hanya untuk bangsa Israel kuno. Namun, artikel ini menegaskan bahwa perintah-perintah tersebut adalah hukum Tuhan yang sudah ada sejak awal keberadaan manusia.

Rincian 10 Bukti (Perintah demi Perintah)

  1. ​Jangan ada Allah lain di hadapan-Ku: Adam dan Hawa melanggar perintah ini saat mereka lebih menaati setan daripada Allah di Taman Eden (Kejadian 3:11).
  2. Jangan membuat patung ukiran: Yakub memerintahkan keluarganya untuk membuang dewa-dewa asing dan memurnikan diri sebelum pergi ke Betel (Kejadian 35:2-4).
  3. Jangan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan: Ayub (yang kitabnya dianggap paling tua) secara rutin mempersembahkan korban karena khawatir anak-anaknya mungkin telah mengutuki Allah dalam hati mereka (Ayub 1:5).
  4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: Kata "Ingatlah" menunjukkan hukum ini sudah ada sebelumnya. Sebelum sampai di Sinai, Allah sudah menguji bangsa Israel terkait pengumpulan manna pada hari ketujuh (Keluaran 16).
  5. Hormatilah ayah dan ibumu: Yakub menaati orang tuanya (Kejadian 28:6-7), sementara Adam dan Hawa dianggap tidak menghormati orang tua tunggal mereka, yaitu Allah Sang Pencipta.
  6. ​Jangan membunuh: Allah memperingatkan Kain sebelum ia membunuh Habel, dan menyebut tindakan tersebut sebagai dosa yang mengintai (Kejadian 4:6-8).
  7. Jangan berzinah: Yusuf menolak istri Potifar karena ia tahu berzina adalah dosa besar terhadap Allah (Kejadian 39:7-9). Abimelekh pun tahu bahwa mengambil istri orang lain adalah dosa besar.
  8. Jangan mencuri: Yakub memahami hak milik dan hukum tentang pencurian saat berurusan dengan Laban (Kejadian 30:33). Saudara-saudara Yusuf juga tahu bahwa mencuri memiliki hukuman berat.
  9. Jangan mengucapkan saksi dusta: Kebohongan pertama dicatat dilakukan oleh setan di Taman Eden. Kain juga berbohong kepada Allah tentang keberadaan Habel.
  10. Jangan mengingini milik sesamamu: Hawa mengingini hak istimewa Allah untuk menentukan yang baik dan jahat (Kejadian 3:6). Ayub juga menyatakan bahwa mengingini istri tetangga adalah kejahatan (Ayub 31:9-11).

​Kesimpulan

Artikel ini menyimpulkan bahwa apa yang difirmankan Allah di Gunung Sinai hanyalah bentuk formal (kodifikasi) dari hukum yang sudah ada sejak awal.

Hukum-hukum ini dianggap kudus, benar, dan baik, serta membawa berkat bagi mereka yang menaatinya, serta karena sudah ada sejal awal - maka berlaku universal, sampai saat ini.

ITT - Jumat 27 Februari 2026

Thursday, January 1, 2026

4 Injil

Artikel ini memberikan penjelasan mendalam tentang alasan mengapa Alkitab memiliki empat Injil yang berbeda (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes). Alih-alih menjadi versi yang saling bertentangan, keempatnya digambarkan sebagai empat potret Tuhan Yesus yang diambil dari sudut pandang berbeda untuk pembaca yang berbeda.

Berikut adalah rincian mendalam dari empat Injil tersebut:

1. Injil Matius: Yesus sebagai Raja yang Dijanjikan

Matius menulis khusus untuk pembaca orang Yahudi dan menjawab pertanyaan: "Apakah Yesus Raja yang dijanjikan?"

  • Silsilah Yahudi: Dimulai dengan silsilah yang menghubungkan Yesus dengan Abraham (bapak bangsa) dan Daud (raja terbesar Israel).
  • Pemenuhan Nubuat: Matius secara konsisten menghubungkan peristiwa hidup Yesus dengan nubuat Perjanjian Lama, menggunakan frasa "supaya genaplah..." lebih dari belasan kali.
  • Khotbah di Bukit: Satu-satunya Injil yang mencatat Khotbah di Bukit secara lengkap, menyajikan "manifes" kerajaan Yesus bagi mereka yang tidak berdaya.
Misi Global: Meskipun sangat Yahudi, Injil ini diakhiri dengan Amanat Agung untuk menjadikan semua bangsa murid Yesus.

 2. Injil Markus: Yesus sebagai Pelayan yang Bergerak

Markus adalah Injil yang paling singkat dan mendesak, kemungkinan besar ditulis di Roma berdasarkan kesaksian Petrus.

  • Kecepatan dan Aksi: Menggunakan kata Yunani euthus ("segera") lebih dari 40 kali. Tidak ada cerita kelahiran; narasi langsung dimulai dengan pelayanan Yesus yang penuh aksi.
  • Tema Pelayanan: Ayat intinya adalah Markus 10:45, yang menyatakan bahwa Yesus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya.
  • Kejujuran tentang Kegagalan: Markus tidak menutupi kegagalan para murid (terutama Petrus), menunjukkan bahwa Yesus memulihkan mereka yang gagal.

Tujuan Akhir: Sepertiga dari buku ini difokuskan pada minggu terakhir kehidupan Yesus, menekankan bahwa salib adalah tujuan utama-Nya.

 3. Injil Lukas: Yesus sebagai Juruselamat bagi Semua Orang

Lukas, seorang tabib Yunani dan rekan Paulus, menulis laporan sejarah yang teratur untuk Theofilus.

  • Laporan Sejarah: Lukas mewawancarai saksi mata dan melakukan investigasi mendalam sebelum menulis.
  • Inklusivitas: Lukas menekankan bahwa Yesus datang untuk semua orang, termasuk kaum marginal: Orang Miskin & Gembala: Hanya Lukas yang menceritakan kunjungan para gembala saat kelahiran Yesus.
  • Kaum Perempuan: Lukas memberi perhatian lebih banyak pada perempuan (Maria, Marta, dsb.) dibandingkan Injil lainnya.
  • Orang Luar: Berisi perumpamaan seperti "Orang Samaria yang Murah Hati" dan kisah Zakheus.

Kelanjutan Kisah: Lukas adalah satu-satunya penulis yang melanjutkan ceritanya ke kitab Kisah Para Rasul, menunjukkan gerakan Roh Kudus setelah kenaikan Yesus.

 4. Injil Yohanes: Yesus sebagai Tuhan yang Menjadi Manusia

Yohanes sangat berbeda dari tiga Injil sinoptik lainnya (90% materinya unik). Ia berfokus pada identitas ilahi Yesus.

  • Logos (Firman): Dimulai dari sebelum penciptaan, menyatakan bahwa "Firman itu adalah Allah" dan "Firman itu telah menjadi manusia".
  • Tujuh Tanda (Miracle): Yohanes memilih tujuh mukjizat spesifik dan menyebutnya sebagai "tanda" yang menunjuk pada siapa Yesus sebenarnya, mulai dari mengubah air menjadi anggur hingga membangkitkan Lazarus.
  • Percakapan Intim: Mencatat dialog panjang dan pribadi, seperti dengan Nikodemus dan perempuan Samaria di sumur.

Tujuan Penulisan: Yohanes secara eksplisit menyatakan tujuannya: supaya pembaca percaya bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah, dan melalui percaya, mereka memperoleh hidup.

 Kesimpulan:

Satu Kristus, Empat Sudut Pandang

Dapat disimpulkan bahwa keempat Injil ini tidak saling bersaing, melainkan saling melengkapi.

  • Jika butuh bukti nubuat, baca Injil Matius.
  • Jika butuh melihat Yesus beraksi, baca Injil Markus.
  • Jika merasa tidak layak atau orang luar, baca Injil Lukas.
  • Jika ingin tahu siapa Yesus sebenarnya di tingkat terdalam, baca Injil Yohanes.
SATU SAKSI, BUKAN SAKSI - UNUS TESTIS, NULLUS TESTIS

 Untuk Anne
ITT - Kamis 1 Januari 2026

 

Tuesday, December 16, 2025

Boleh atau Tidak? - Merayakan Natal

Argumen Menentang Natal

Premisnya adalah karena Tuhan tidak pernah menginstruksikan atau memerintahkan orang Kristen untuk merayakan Natal dalam Alkitab, mereka seharusnya tidak melakukannya.

Meskipun semua orang Kristen setuju bahwa kelahiran Yesus adalah peristiwa yang menggembirakan dan tercatat dalam Alkitab, perselisihannya adalah apakah hari tertentu, yang kita sebut Natal, harus dikhususkan untuk perayaan tersebut karena tidak secara eksplisit diuraikan dalam Kitab Suci.

Argumen Mendukung Natal

Yesus dan Perayaan Pentahbisan Bait Allah (Hari Raya Hanukkah)

Disini kita coba menyajikan contoh dari Kitab Yohanes, di mana Tuhan Yesus hadir pada Perayaan Pentahbisan Bait Allah (yang kita sebut Hanukkah saat ini).

Perayaan ini adalah hari raya buatan manusia, yang dimulai sekitar 160 tahun sebelum Tuhan Yesus, untuk merayakan dedikasi ulang bait suci setelah pemberontakan Makabe. Ini bukanlah perayaan berdasarkan Alkitab yang diperintahkan oleh Tuhan.

Dalam Yohanes 10:22-23, Yesus berjalan di bait suci selama perayaan ini. Tidak ada penyebutan tentang Yesus menegur orang-orang karena merayakan hari raya buatan manusia ini. (Yohanes 10:22-23: 10:22 Tidak lama kemudian tibalah hari raya Pentahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin.10:23 Dan Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo.)

Kesimpulan dari contoh tersebut: Bahwa prinsip menolak hari raya karena tidak ada dalam Alkitab - dapat dikesampingkan ​​karena Tuhan Yesus sendiri hadir pada hari raya yang tidak ditentukan dalam Alkitab.

Kesimpulan tentang Kebebasan Kristen dari Rasul Paulus

Alkitab tidak melarang Natal atau partisipasi dalam hari raya yang tidak ditentukan dalam Alkitab.

Masalah ini harus dianggap sebagai masalah kebebasan Kristen dan dapat didalami pada Roma 14 khususnya Roma 14:5-6, - yang memungkinkan perbedaan pendapat tentang hal-hal yang tidak penting tanpa menghakimi.

Akhirnya, .... Merayakan Natal bukanlah suatu pelanggaran, dan tidak merayakannya pun juga bukan suatu pelanggaran. Jika seseorang memilih untuk merayakan, mereka harus melakukannya untuk kemuliaan Tuhan, demikian pula sebaliknya.

Roma 14

Jangan menghakimi saudaramu

1 Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya. 2 Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja. 3 Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu. 4 Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri. 5 Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. 6 Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah. 7 Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. 8 Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. 9 Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup. 10 Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. 11 Karena ada tertulis: "Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah." 12 Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.

ITT - Selasa 16 Desember 2025