Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri

Thursday, August 17, 2023

Gereja yang "Overdosis" Kegiatan

Kesetiaan atau Sekadar Pelarian?

​Senin latihan paduan suara, Selasa ibadah kaum perempuan, Rabu ibadah sektor, Kamis latihan paduan suara lagi, Jumat ibadah kaum bapak dan ibadah Gerakan Pemuda, Sabtu ibadah Kaum Lanjut Usia, dan Minggu "habis" di gedung gereja (ibadah Pelayanan Anak, Persekutuan Teruna, Ibadah Hari Minggu), untuk yang memangku jabatan komisi, presbiter ada waktu tambahan, juga PHMJ! Jika jadwal ini terasa familiar bagi Anda, mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: Apakah Tuhan benar-benar merancang gereja untuk menjadi kompetitor bagi waktu keluarga?


​Mari kita bedah fenomena "aktivisme religius" ini dengan kacamata kritis dan dasar Firman Tuhan.


​1. Keluarga: Ladang Pelayanan yang Terlupakan


​Sering kali jemaat merasa "berdosa" jika absen dari ibadah sektor, namun merasa biasa saja ketika tidak punya waktu mengobrol dengan anak atau pasangan. Padahal, Alkitab dengan keras menekankan bahwa tanggung jawab spiritual utama dimulai dari rumah.


​"Tetapi jika ada seorang yang tidak memelihara sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu telah murtad dan ia lebih buruk dari orang yang tidak percaya." – 1 Timotius 5:8


​Jika pelayanan di gereja membuat seseorang menelantarkan kebutuhan emosional dan kehadiran fisik di rumah, maka pelayanan tersebut telah kehilangan hakikatnya. Kita tidak bisa membangun "Kerajaan Allah" di gedung gereja sambil membiarkan "Gereja Kecil" (keluarga) di rumah berantakan.


​2. Jebakan "Sindrom Marta": Sibuk Melayani, Lupa Mendengar


​Banyaknya jadwal ibadah sering kali menciptakan jemaat yang lelah secara fisik. Akibatnya, saat ibadah berlangsung, mereka hadir hanya sebagai rutinitas atau formalitas.


​"Tetapi Tuhan menjawabnya: 'Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya.'" – Lukas 10:41-42

​

Seperti Marta yang sibuk melayani sampai menggerutu, jadwal gereja yang terlalu padat bisa membuat jemaat kehilangan "bagian yang terbaik" - yaitu ketenangan untuk benar-benar merenungkan firman. Kesibukan kategorial sering kali menjadi "berhala baru" yang menjauhkan kita dari esensi hubungan pribadi dengan Tuhan.


​3. Kritik Terhadap Ritual dan Kolekte


​Ada beberapa pertanyaan tajam jemaat mengenai "Apakah ini hanya soal kolekte?" Ini adalah kritik atas komodifikasi agama. Jika ibadah diadakan setiap hari tanpa ada perubahan karakter atau dampak sosial, maka ibadah tersebut terjebak dalam ritualisme kosong.


​"Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu... Tetapi biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir." – Amos 5:21, 24


​Tuhan tidak terkesan dengan banyaknya kotak kolekte atau frekuensi ibadah jika keadilan dan kasih di dalam rumah tangga dan masyarakat diabaikan. Gereja harus berani mengevaluasi: apakah program-program ini dibuat karena kebutuhan jemaat atau sekadar target program kerja yang ujung-ujungnya hanya soal laporan keuangan?


​4. Makna Sabat: Manusia Bukan Budak Program


​Gereja sering kali lupa bahwa manusia membutuhkan istirahat. Sabat diciptakan agar manusia bisa berhenti dari pekerjaannya dan menikmati relasi dengan Sang Pencipta dan sesama.


​"Lalu kata Yesus kepada mereka: 'Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat.'" – Markus 2:27


​Jika jemaat menjadi "budak" dari jadwal gereja - di mana mereka merasa tertekan dan kehabisan waktu untuk beristirahat - maka gereja telah memutarbalikkan prinsip Sabat. Gereja seharusnya menjadi tempat perhentian, bukan sumber kelelahan baru yang merampas waktu istirahat jemaat bersama keluarganya.


​Kesimpulan: Menuju Iman yang Sehat


​Setelah menelaah berbagai kesibukan yang ada, kita dapat menyimpulkan bahwa gereja yang sehat bukanlah gereja yang lampunya menyala 24 jam sehari untuk kegiatan organisasi, melainkan gereja yang mampu mengutus jemaatnya kembali ke rumah dan lingkungannya untuk menjadi garam dan terang bagi keluarga mereka.


​Sudah saatnya pimpinan gereja melakukan audit jadwal. Mari kita beri ruang bagi jemaat untuk kembali ke meja makan mereka sendiri – dalam budaya Timur, meja makan sering dipakai oleh orangtua dalam memberikan wejangan dan doa kepada keluarganya, serta yang utama; merenungkan Firman Tuhan.


Pada akhirnya, kesaksian iman yang paling kuat bukan terjadi di atas mimbar, melainkan di dalam keharmonisan keluarga yang dibangun di atas waktu dan kasih sayang.


ITT - Jakarta, Senin 17 Agustus 2023


Sunday, February 26, 2023

​Keintiman atau Penghinaan Terhadap Sang Pencipta?

"Kau" dari perspektif Awam

Latar Belakang

Sekitar tahun 1980 di Ambon, ketika Oma penulis masih ada, suatu hari Oma meminta kami untuk berdoa. Dalam doa, beberapa kali kami sebutkan kata "Kau" sebagai pengganti Tuhan.
Setelah selesai berdoa, beliau mengajak ngobrol dan bertanya serius (dalam dialek Ambon)
"Nyong, nyong pernah panggil mama &papa dengan sebutan kau"
Tentu saja kami menjawab: "Tidak pernah Oma"
Lalu beliau berkata tegas; "Nyong, kalau begitu jangan pernah memanggil atau menyebut Tuhan dengan kata Kau"

Sejak saat itu, sampai setua ini, kami tidak pernah lagi memakai kata ganti itu untuk menyebut Tuhan Allah, Bapa di Surga.
Terima kasih Oma Udi .... May you Rest in Peace

+++++++++

Pendahuluan

​Dalam belantika spiritualitas modern, kata ganti "Kau" telah menjadi standar baru yang mendominasi komunikasi iman. Kita mendengarnya dalam lirik lagu penyembahan yang emosional, dalam doa-doa spontan di mimbar, hingga dalam gaya bahasa khotbah yang populer. Kita menyapa Tuhan dengan nada yang sangat akrab - seolah-olah kita sedang bercengkerama dengan sahabat karib di sebuah kedai kopi.

​Namun, jika kita menilik sejarah bahasa dan teologi, penggunaan kata ganti yang cenderung kasual ini menyimpan perdebatan tajam. Apakah kita sedang meruntuhkan tembok pemisah demi kedekatan, ataukah kita sedang kehilangan rasa hormat yang seharusnya menjadi fondasi iman?

​1. Hilangnya Kesakralan: Belajar dari "Thou" dan "Thee"

​Dalam bahasa Inggris lama, terdapat pembedaan tajam dalam menyapa Tuhan. Alkitab versi King James (KJV) menggunakan kata Thou (subjek), Thee (objek), dan Thy/Thine (kepemilikan). Secara teknis, kata-kata ini awalnya adalah bentuk akrab. Namun, dalam konteks liturgi, kata-kata tersebut berevolusi menjadi bahasa khusus yang dikuduskan.
​Di Indonesia, kita mengalami pergeseran dari kesadaran posisi "Hamba dan Tuan" (Engkau) menjadi hubungan "Aku dan Kau". Pergeseran ini membawa risiko Antroposentrisme (pandangan filosofis yang menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta dan makhluk paling penting):
  • ​Dalam Doa: Doa yang seharusnya menjadi sujud penyembahan sering kali berubah menjadi "percakapan santai" yang kehilangan getaran kekudusan.
  • ​Dalam Khotbah: Pengkhotbah yang terlalu sering menggunakan kata "Kau" saat berbicara atas nama atau kepada Tuhan cenderung "mendomestikasi/menurunkan" keagungan Allah, membuat-Nya tampak seperti rekan bisnis atau asisten pribadi manusia.
  • Dalam penyebutan: Patut diingat, bahwa sekalipun ditulis dengan huruf besar, Kau disebutkan sama, tanpa ada penekanan tertentu (bandingkan Thou dan You)
Catatan: Tetragrammaton adalah empat huruf konsonan (huruf mati) Ibrani—יהוה (YHWH/YHVH)—yang merupakan nama pribadi Tuhan dalam Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama). Nama ini muncul lebih dari 6.800 kali dalam naskah Masoretik dan sering diterjemahkan sebagai "TUHAN" (huruf kapital) atau Yahweh/Yehuwa. 
Karena kesuciannya, dalam tradisi Yahudi, Tetragrammaton tidak boleh diucapkan. Saat membaca Kitab Suci, YHWH diganti dengan sebutan Adonai (Tuanku) atau HaShem (Nama Itu).

​2. Manifestasi "Kau" dalam Praktik Iman

​Kritik terhadap penggunaan kata "Kau" bukan sekadar masalah tata bahasa, melainkan refleksi dari pergeseran teologis:

​A. Tuhan sebagai "Kekasih Kosmik" (Lagu Rohani)
Banyak lirik lagu modern terasa seperti lagu cinta sekuler yang hanya diganti subjeknya. Kita cenderung memuja Tuhan sebagai pemuas emosi pribadi daripada Penguasa Semesta yang dahsyat. Kata "Kau" dalam melodi yang catchy sering kali menghapus "jarak yang sehat" antara Pencipta dan ciptaan.

​B. Desakralisasi Komunikasi (Doa)
Dahulu, doa dibuka dengan sapaan yang penuh gentar. Kini, dalam doa-doa publik, penggunaan "Kau" sering kali dibarengi dengan tuntutan-tuntutan yang kehilangan kesopanan. Hilangnya kata "Engkau" yang bersifat takzim sering kali berbanding lurus dengan hilangnya kesadaran bahwa kita sedang berbicara di hadapan Takhta yang Menyala-nyala dan Maha Kudus.

​C. Retorika yang Terlalu Akrab (Khotbah)
Dalam khotbah, penggunaan "Kau" sering kali digunakan untuk menciptakan kesan relevansi. Namun, risikonya adalah kehilangan misteri ilahi. Alkitab mencatat bahwa ketika manusia bertemu Tuhan (Musa, Yesaya, Yohanes), mereka tersungkur. Tidak ada yang berani menunjuk wajah Tuhan atau menyebut nama-Nya dengan santai.

​3. Menimbang Kedekatan vs Keagungan

​Pembela penggunaan bahasa kasual tentu akan berargumen bahwa Tuhan Yesus mengajarkan kita memanggil Allah sebagai "Abba" (Bapa). Namun, perlu diingat:

​Catatan Kritis: "Abba" bukanlah panggilan yang kurang sopan; itu adalah keintiman yang lahir dari ketaatan mutlak. Keintiman tanpa penghormatan bukanlah kasih, melainkan kelancangan.

​Jika penyebutan "Kau" membuat kita merasa setara dengan Tuhan, maka kita telah gagal menyembah. Penyembahan, doa, dan khotbah yang benar harus menyeimbangkan fakta bahwa Tuhan adalah sahabat kita, namun Dia juga adalah Api yang Menghanguskan (Deus ignis Consumens - frasa yang berasal dari Ibrani 12:29, yang artinya "Allah kita adalah api yang menghanguskan").

​Kesimpulan: Kembali ke Kerendahan Hati

​Mungkin masalah utamanya bukan hanya terletak pada kata "Kau" itu sendiri, melainkan pada sikap hati di baliknya.
  • ​Menggunakan "Engkau" atau "Bapa" hanya untuk terlihat religius namun hati jauh adalah kemunafikan.
  • ​Menggunakan "Kau" karena kemalasan linguistik tanpa rasa gentar adalah kecerobohan rohani.
​Sudah saatnya para pencipta lagu, pengkhotbah, dan jemaat kembali merenungkan: Apakah komunikasi kita sedang memuliakan takhta-Nya, atau hanya sedang membelai perasaan kita sendiri dengan kata-kata yang terlalu akrab?

​Tambahan Renungan:
"Dalam saat teduh kita hari ini, apakah sapaan kepada Tuhan mencerminkan seorang anak yang dikasihi, atau seorang hamba yang lupa siapa Tuannya?"

ITT - Jakarta, Minggu 26 Februari 2023

Friday, January 20, 2023

Yehezkiel 2:1-5

Perikop LAI: Panggilan Yehezkiel (Yeh 2:1-3:15)

2:1 Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, bangunlah dan berdiri, karena Aku hendak berbicara dengan engkau."
2:2 Sementara Ia berbicara dengan aku, kembalilah rohku ke dalam aku dan ditegakkannyalah aku. Kemudian aku mendengar Dia yang berbicara dengan aku.
2:3 Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak yang telah memberontak melawan Aku. Mereka dan nenek moyang mereka telah mendurhaka terhadap Aku sampai hari ini juga.
2:4 Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus engkau dan harus kaukatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH.
2:5 Dan baik mereka mendengarkan atau tidak -- sebab mereka adalah kaum pemberontak -- mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah mereka.

PENDAHULUAN
URAIAN & APLIKASI

Kali ini penulis teringat akan percakapan penulis sekitar 15-20 tahun lalu dengan seorang Hamba Tuhan. Coba kita uraikan bacaan ini dengan memakai perspektif kependetaannya dalam melayani Umat Tuhan, dan ia beri judul;

Saya Dipanggil oleh Tuhan untuk menyampaikan Firman-NYA

Di sepanjang Yehezkiel 1, kita dapat menyaksikan bagaimana ia dipanggil secara langsung oleh Tuhan dengan sangat luar biasa (baca Yeh 1:4-28). Yehezkiel dipanggil secara langsung dalam suatu pertunjukan kemuliaan yang spektakuler .... untuk apa? Tidak lain adalah untuk menyampaikan Firman-NYA,
Kalau dibandingkan panggilan bagi saya untuk melayani sebagai pendeta tidak ada artinya, hanya sekolah yang "banyak" semester, dan beruntung terpilih dari sekian banyak yang mendaftar. Suatu panggilan Tuhan yang terasa tidak langsung, yang datang dalam 1 map berisi ijazah, piagam dan sertifikat serta SK pengangkatan, tetapi saya imani sebagai panggilan Tuhan untuk jemaat-Nya.
Sebagaimana pula Tuhan memanggil jemaat-Nya, sebagai Penatua, Diaken, pengasuh PT, PA, dll. Dipanggil untuk beriman sebagaimana ditulis di 1 Petrus 2:9-10 = 2:9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: 2:10 kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.

Ya, untuk memberitakan perbuatan-perbuatan besar yang Tuhan lakukan! Dan itulah yang IA kehendaki.

Jadi saat kita mempelajari kitab dan pribadi Yehezkiel, kita akan melihat kehidupan seorang pendeta dan kehidupan seorang Kristen yang wajib menyampaikan Firman Tuhan dengan rendah hati, setia dan berani.

1. Beritakan Firman-NYA dengan rendah hati dan hanya mengandalkan Tuhan.

Tuhan memanggil Yehezkiel untuk menyampaikan firman-Nya dengan rendah hati dan hanya mengandalkan Tuhan. Pemandangan Allah dalam kemuliaan-Nya yang luar biasa membuat Yehezkiel jatuh tersungkur. Apa yang dia bandingkan dengan Yang Mahakuasa? Dia hanyalah anak manusia. Manusia diciptakan dari debu. Manusia telah jatuh ke dalam dosa. Yehezkiel adalah anak manusia, yang juga lahir dari orang berdosa dan bersalah.
Kalau kita baca di Yeh 1:28 = Seperti busur pelangi, yang terlihat pada musim hujan di awan-awan, demikianlah kelihatan sinar yang mengelilinginya. Begitulah kelihatan gambar kemuliaan TUHAN. Tatkala aku melihatnya aku sembah sujud, lalu kudengar suara Dia yang berfirman.

Jadi posisi Yehezkiel ada di tanah dalam posisi sembah sujud akibat takjub, takut, takluk dan pasrah serta rendah hati. Sembah sujud mewakili seluruh sifat-sifat tersebut, utamanya pernyataan takluk akan kuat kuasa Tuhan.
Selanjutnya Yehezkiel bertutur bahwa: Yeh 2:1-2 = 2:1 Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, bangunlah dan berdiri, karena Aku hendak berbicara dengan engkau." 2:2 Sementara Ia berbicara dengan aku, kembalilah rohku ke dalam aku dan ditegakkannyalah aku. Kemudian aku mendengar Dia yang berbicara dengan aku.

Tuhan yang murah hati dan pemaaf datang kepada Yehezkiel melalui Firman-Nya. Melalui Firman Tuhan Roh Kudus menguatkan dia dan membuatnya bangkit dari sembah sujudnya. Sekalipun ia orang berdosa, Yehezkiel dapat berdiri di hadirat Allah yang kudus karena Tuhan mengampuni dia, seperti yang dijanjikan oleh Firman-Nya. Tuhan memberi Yehezkiel kekuatan untuk menyampaikan Firman-Nya. Yehezkiel dapat menyampaikan Firman Tuhan dengan rendah hati dan mengandalkan Tuhan.

Sebagai seorang pendeta, saya harus rendah hati di hadapan Tuhan dan hanya, ... ya ... hanya mengandalkan Tuhan belaka. Memang, saya sebagai pendeta banyak menghadapi godaan untuk merasa diri paling penting dan paling benar. Berpikir bahwa saya paling bertanggung jawab atas sebuah gereja bisa menjadi perjalanan yang mengasyikkan bagi ego saya. Dan untuk menghindarkan hal-hal itu, saya perlu melihat diri saya sebagai orang berdosa, sama berdosanya dengan kebanyakan jemaat saya. Saya adalah anak manusia – hanya debu, lahir dari orang berdosa. Saya perlu melihat satu-satunya harapan saya adalah Juruselamat saya, yang mati untuk saya, sama seperti Dia mati untuk jemaat. Saya perlu melihat kekuatan saya hanya mengalir dan dimampukan oleh Tuhan saya yang telah bangkit, yang mengatur segalanya. Dan dengan demikian, saya akhirnya hanya akan menyampaikan Firman Tuhan dengan rendah hati, dan tentu saja, hanya mengandalkan Tuhan.

Mungkin gambaran untuk membantu saya menjadi rendah hati dalam menyampaikan Firman Tuhan adalah seperti saya melihat sebuah kotak/dos sepatu. Kotak atau dos  sepatu itu tidak ada artinya, mudah dibuang dan dihancurkan. Yang memberi nilai pada kotak/dos sepatu ini adalah apa yang ada di dalamnya. Jadi, terpisah dari Tuhan, saya adalah seperti sebuah kotak/dos sepatu yang kosong – tidak berharga, tidak berdaya. Tetapi Tuhan telah menempatkan Firman-Nya ke dalam hati saya untuk diberitakan. Sewaktu saya mengucapkan khotbah Firman Tuhan itu, Tuhanlah yang meletakkan setiap kata-per kata, kalimat per kalimat dalam mulut saya. Dan saya harus mengingat hal ini dengan rendah hati bahwa kekuatan saya hanya berasal dari Tuhan, bukan dari diri saya sendiri.

2. Beritakan Firman-NYA dengan setia.

Tuhan memanggil Yehezkiel untuk menyampaikan Firman-Nya. Dia memanggilnya untuk mengucapkan kata itu dengan setia.
Mengapa begitu penting bagi Yehezkiel untuk setia? Karena dia berbicara tentang Firman Tuhan. Dia tidak berbicara untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain, tetapi untuk Tuhan Allah. Tuhan berkata kepadanya, di Yeh 2:3-4 = 2:3 Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak yang telah memberontak melawan Aku. Mereka dan nenek moyang mereka telah mendurhaka terhadap Aku sampai hari ini juga. 2:4 Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus engkau dan harus kaukatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH.

Keyakinan apa yang dapat dimiliki Yehezkiel ketika dia mengucapkan Firman Tuhan dengan setia? Ia dapat yakin bahwa Firman Allah tidak pernah salah. Apakah orang percaya Firman atau tidak, itu bukan persoalan Yehezkiel, tetapi apa yang Allah katakan akan terbukti benar. Orang-orang akan tahu bahwa nabi berbicara untuk Tuhan ketika kata-kata itu menjadi kenyataan. Itulah yang Tuhan katakan padanya. Yeh 2:5 = Dan baik mereka mendengarkan atau tidak -- sebab mereka adalah kaum pemberontak -- mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah mereka. 

Banyak yang akan menolak pesan Yehezkiel, tetapi dia tidak berani mengubahnya agar terdengar lebih dapat diterima, karena apa?; 
Karena dalam panggilan yang Tuhan sampaikan kepada saya, maka saya harus dengan sungguh-sungguh, “untuk mengkhotbahkan Injil Tuhan dalam kebenaran dan kemurniannya.” karena untuk itulah saya dianggil, ya .... untuk menyampaikan Firman-Nya dengan setia, “dalam kebenaran dan kemurniannya”.

Ketika saya menyampaikan Firman Tuhan kepada jemaat, saya harus dapat mengatakannya seperti Yehezkiel, “Inilah yang Tuhan Allah katakan.” Saya tidak berani mendasarkan khotbah saya pada apa yang saya pikir Tuhan mungkin telah katakan atau apa yang dikatakan orang lain yang Tuhan katakan. Tetapi satu-satunya cara saya dapat dengan jujur mengatakan kepada jemaat adalah, “Inilah yang Tuhan Allah katakan". Saya perlu mempelajari Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Ini adalah salah satu alasan pendeta memperoleh imbalan gaji, sehingga saya dapat mengabdikan banyak waktu untuk mempelajari Firman Tuhan saat saya mempersiapkan khotbah saya. Saya perlu mempelajarinya dalam bahasa asli Yunani dan Ibrani dan mengetahui konteksnya dengan benar, agar terjemahan yang buruk tidak menyesatkan saya. Kemudian saya dapat berkhotbah dari mimbar ini dan berkata, “Inilah yang dikatakan Tuhan Allah.”

Selain itu, sebagai seorang pendeta yang berusaha untuk setia menyampaikan Firman Tuhan, saya ingin berkhotbah dan mengajar dengan cara yang membantu jemaat memahami apa yang Tuhan Allah katakan. Itu juga membutuhkan waktu untuk memilih kata-kata dan kalimat yang akan dikomunikasikan dengan baik dari atas mimbar. Selain itu, saya ingin memberi kesempatan untuk jemaat belajar dalam ibadah dan di pembinaan-pembinaan. Saya ingin dapat melayani jemaat dengan Firman Tuhan, apakah itu berarti menghadapi jemaat yang punya dosa tertentu atau menghibur jemaat dengan pengampunan Tuhan. Dan doa saya adalah ketika saya mengucapkan firman Tuhan dengan setia, jemaat akan mendengarkan dan melakukannya serta juga mengingatkan jemaat unuk tidak keras kepala, keras hati, atau memberontak seperti orang-orang yang kepadanya Tuhan mengutus Yehezkiel. Karena Firman Tuhan itu tegas. IA akan menghukum siapa pun yang menolak-Nya dan menyelamatkan siapa pun yang mempercayai-Nya.

Sebagai pendeta, saya wajib berusaha keras untuk mengajar dan memberitakan Firman Tuhan dengan setia. Firman itu mungkin tidak selalu diterima, atau bahkan ada yang menjadi marah kepada saya karena itu, tetapi itu adalah keinginan Tuhan. Sebagai pendeta, tanggung jawab saya adalah untuk setia menyampaikan Firman Tuhan, dan berusaha semaksimal mungkin agar jemaat percaya.

3. Beritakan Firman-NYA dengan berani

Akhirnya, Tuhan ingin kita mengucapkan firman-Nya dengan berani. Ia menjelaskan kepada Yehezkiel bahwa ia akan menghadapi tantangan. Tuhan mengatakan kepadanya dalam Yeh 2:4 = Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus engkau dan harus kaukatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH.
Tapi itu bukan alasan untuk menghentikan Yehezkiel. Dia harus berbicara tentang Firman Allah dengan berani.

Apa yang memberi Yehezkiel keberanian untuk berbicara? Itulah yang telah kita bicarakan di dua bagian pertama. Saya berani berbicara karena saya tidak mengandalkan kekuatan saya sendiri melainkan dengan rendah hati saya hanya mengandalkan Tuhan. Saya berani berbicara karena saya tahu bahwa firman-Nya tidak pernah salah jika kita mengucapkannya dengan setia. Dan ada satu lagi, .... Saya berani karena saya melaksanakan apa yang menjadi perintah Tuhan semaksimal mungkin dalam kehidupan saya sehari-hari!

Tuhan memanggil Yehezkiel langsung dari surga untuk menyampaikan Firman-Nya dengan rendah hati, setia, dan berani. Tuhan telah memanggil saya untuk menjadi pendeta dan secara terbuka menyampaikan Firman Tuhan dengan rendah hati, setia, dan berani. Dan demikian pula, masing-masing dari kita dalam kehidupan pribadi kita sendiri telah dipanggil keluar dari kegelapan dosa untuk beriman kepada Kristus Yesus untuk menyampaikan Firman-Nya. Dengan kepercayaan penuh kepada Tuhan, beritakanlah Firman-Nya. Sampaikanlah dengan rendah hati, setia, dan berani.

SIMPULAN PENULIS

1. Inilah perspektif seorang hamba Tuhan, yang mengambil keteladanan Nabi Yehezkiel ketika menerima kenabiannya, bahwa ia harus rendah hati, setia dan berani. Terimakasih pak Pendeta untuk perspektifnya yang sangat dalam.
2. Bila dalam jemaat ditemukan seorang hamba Tuhan yang menjauh dari hal-hal di atas, maka bergegaslah jemaat mendoakan dengan sungguh-sungguh hamba Tuhan tersebut, agar segera kembali menjadi seperti Yehezkiel dalam pemberitaan Firman-Nya.
.......Amin

ITT - Jakarta, Jumat 20 Januari 2023.