Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan GPIB

Thursday, March 19, 2020

Memahami COVID-19 dari sudut Alkitab


Sekarang ini di penghujung Maret 2020, kita punya ribuan orang yang sekarat akibat virus ini, ratusan yang meninggal,  di Indonesia sudah mencapai belasan orang (dan terus meningkat, bisa di cek di https://ncov2019.live/data atau di https://covid19.go.id/), ..... ini berarti ratusan ribu orang yang sedang berduka. Dan apa yang akan saya tulis dan kita baca mungkin rasanya kurang pas, .... tidak tepat waktu dalam kehidupan banyak orang, tapi minimal ini mewakili cara pandang saya terhadap bencana dunia ini.

Bagaimana kita mendapatkan pemahaman soal Corona ini kalau ditilik dari Alkitab yang terbuka di depan kita ....

Mari kita mulai, 

Tidak ada yang lebih kuat dari pada Yesus .... Apakah ini benar? YA menurut iman percaya saya.

Dengan kata pengantar itu, izinkan saya mencoba untuk memahami virus yang mematikan ini. Mari kita mulai dengan fakta historis dan fakta Alkitab yang jelas.

Fakta sejarah adalah bahwa pada Hari Tuhan, Minggu, 26 Desember 2004, lebih dari 130-160 ribuan orang terbunuh oleh tsunami di Aceh, dan 200 ribuan di sekitar Samudra Hindia, termasuk seluruh gereja yang berkumpul untuk beribadah pada Hari Tuhan tersebut, tersapu dalam kematian. Itu fakta sejarah. 

Sekarang, fakta Alkitab adalah Markus 4:41: Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?" - Ibrani 13: 8 = Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.

Jadi, kumpulkan kedua fakta itu - fakta sejarah dan fakta alkitabiah - dan kita mendapatkan kebenaran ini: Tuhan Yesus dapat menghentikan bencana alam, dan ia tidak melakukannya pada tahun 2004. Tetapi karena ia selalu melakukan apa yang baik dan benar serta adil, maka ia memiliki tujuan yang bijaksana dan baik dalam bencana yang mematikan itu.

Oleh karena itu, saya akan merasakan hal yang sama tentang virus Corona ini. Tuhan Yesus memiliki semua pengetahuan dan semua otoritas atas kekuatan alam dan adikodrati dunia ini. Dia tahu persis di mana virus itu bermula, dan ke mana arah virus selanjutnya. Dia memiliki kekuatan penuh untuk menahannya atau tidak. Dan itulah yang terjadi.

Menelaah Mazmur 33:11 = tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun. serta Ayub 42:2 = "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. - membuat satu rangkuman bagi saya, bahwa pertanyaannya bukanlah apakah Yesus (mampu) mengatur semua bencana dan semua penyakit di dunia, termasuk di dalamnya mereka yang berdosa dan setan, tetapi pertanyaannya adalah - dengan Alkitab kita yang terbuka, - bagaimana kita memahami ini? Bisakah masuk akal bagi kita?

Berikut adalah empat realitas alkitabiah yang dapat saya ajukan secara cepat dan dapat kita gunakan sebagai unsur pembangun dalam upaya kita untuk memahami dan memahaminya.

1. Penderitaan

Ketika dosa memasuki dunia melalui Adam dan Hawa, Allah menahbiskan bahwa tatanan yang diciptakan, termasuk tubuh fisik kita, sebagai orang yang diciptakan menurut gambar-Nya, akan mengalami penderitaan dan kesia-siaan, dan bahwa semua makhluk hidup akan mati.

Orang Kristen, dengan diselamatkan melalui Injil anugerah Allah, tidak luput dari penderitaan fisik, kesia-siaan, dan kematian ini. Dasar dari poin ini adalah Roma 8: 20–23: 20 Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, 21 tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. 22 Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. 23 Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

Perbedaannya bagi orang Kristen, yang mempercayai Kristus, adalah bahwa pengalaman kita tentang penderitaan ini bukanlah penghukuman. Roma 8: 1: Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Rasa sakit bagi kita adalah proses pemurnian, bukan penghukuman. 1 Tesalonika 5: 9: Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. 
Tetapi bagi mereka yang ada di dalam Kristus, sengat maut dihilangkan (1 Korintus 15:55: Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?"). 

Itu adalah dasar nomor satu untuk memahami apa yang sedang terjadi saat ini.

2. Karunia

Tuhan kadang-kadang menimbulkan penyakit pada umat-Nya sebagai hukuman yang menyucikan dan menyelamatkan, yang bukan merupakan penghukuman, tetapi suatu tindakan belas kasihan untuk tujuan penyelamatannya. Dan poin itu didasarkan pada 1 Korintus 11: 29–32 = 29 Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya. 30 Sebab itu banyak di antara kamu yang lemah dan sakit, dan tidak sedikit yang meninggal. 31 Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita. 32 Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia. 
Teks itu membahas tentang penyalahgunaan Perjamuan Kudus, tetapi prinsipnya menurut saya bisa mencakup lebih luas.

Sekarang, biarkan itu kita pahami, resapi dan dalami. 

Tuhan Yesus mengambil kehidupan orang-orang yang dicintainya melalui kelemahan dan penyakit - kata-kata yang sama, digunakan untuk menggambarkan kelemahan dan penyakit yang Yesus sembuhkan dalam kehidupan duniawinya (Matius 4:23 - Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu. Matius 8:17 = Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yesaya: "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita."; Matius 14:14 = Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. - .... Ia membawa mereka ke surga .... Ia membawa mereka ke surga karena lintasan dosa mereka sehingga ia memotong dan menyelamatkan mereka. Bukan untuk menghukum mereka, tetapi untuk menyelamatkan mereka.

Dengan kata lain, beberapa dari kita mati karena penyakit “supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia” (1Kor 11:32b). Jika Tuhan dapat melakukan itu pada beberapa orang yang dicintai-Nya di Korintus, sudah pasti Tuhan dapat melakukan-Nya kepada banyak orang sekarang, termasuk dalam kasus Virus Corona. Perhatikan bahwa tidak semua kematian itu adalah karena dosa.

Bukankah itu Karunia? Itu dasar nomor dua dalam pemahaman ini.

3. Hukuman

Kadang-kadang Tuhan menggunakan penyakit untuk menjatuhkan hukuman atas mereka yang menolaknya dan menyerahkan diri mereka pada dosa. Saya mencari dan mendapat dua contoh. Dalam Kisah Para Rasul, Herodes sang raja meninggikan dirinya sebagai seorang dewa. Kisah Para Rasul 12:23 = Dan seketika itu juga ia ditampar malaikat Tuhan karena ia tidak memberi hormat kepada Allah; ia mati dimakan cacing-cacing. 
Tuhan dapat melakukan itu dengan semua yang meninggikan diri. Kalau ternyata banyak pemimpin dan pejabat kita yang tidak mati setiap hari karena kesombongan mereka di hadapan Tuhan dan manusia, maka itu jelas karena rahmat dan belas kasihan Tuhan belaka.

Contoh lain adalah dosa hubungan homoseksual. Dalam Roma 1:27, dikatakan, "Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka." Sekarang, itu adalah contoh murka Allah dalam Roma 1:18, di mana dikatakan, “Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman.” 

Itu menjadi dasar nomor tiga kita, bahwa Tuhan dapat menggunakan penyakit untuk terkadang menghukum mereka yang menolak Tuhan.

4. Peringatan

Semua bencana alam - apakah banjir, kelaparan, wabah, tsunami, atau penyakit - adalah guntur belas kasihan ilahi di tengah-tengah penghakiman, untuk memanggil semua orang di mana saja untuk bertobat dan menyelaraskan kembali hidup mereka, dengan karunia Tuhan dan nilai kemuliaan dari kemuliaan Tuhan. Dan dasar untuk itu adalah Lukas 13: 1–5 = 1 Pada waktu itu datanglah kepada Yesus beberapa orang membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang darahnya dicampurkan Pilatus dengan darah korban yang mereka persembahkan. 2 Yesus menjawab mereka: "Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? 3 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian. 4 Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? 5 Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.

Itulah pesan Tuhan Yesus kepada dunia saat ini dalam sejarah, di bawah ancaman Virus Corona - sebuah pesan untuk setiap manusia. Saya dan kita semua, dan semua orang yang mendengarkan, serta setiap penguasa di muka bumi ini, setiap orang yang mendengar tentang ini: "Bertobatlah" .... Bertobat dan mencari kemurahan Tuhan untuk membawa hidup saya - hidup kita - selaras dengan nilai yang IA kehendaki.

tambahan kemudian:

Menghimbau seluruh pemimpin gereja untuk mulai menyerukan pertobatan nasional dari pribadi di rumah-rumah, dari keluarga-keluarga di rumah masing-masing .... Memohon TUHAN mengampuni dosa kita semua dan berpaling kembali ke jalan TUHAN,
2 Taw 7:13-14 = 13 Bilamana Aku menutup langit, sehingga tidak ada hujan, dan bilamana Aku menyuruh belalang memakan habis hasil bumi, dan bilamana Aku melepaskan penyakit sampar di antara umat-Ku, 14 dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.

Amin

Catatan: Penulis terlibat langsung dalam merawat kakak ipar yang terindikasi corona dan akhirnya meninggal dunia 18 Maret 2020 lalu. Berinteraksi sedemikian dekatnya dengan Virus Corona ini, bertemu dengan keluarga korban, tenaga medis serta pegawai Rumah Sakit membuat penulis menyadari betapa rapuhnya manusia dan perlunya kita memahami secara teologis, apa yang Tuhan kehendaki serta melakukan kehendak Tuhan itu dalam kehidupan sehari-hari kita.

ITT - Jakarta, 19 Maret 2020

Thursday, February 13, 2020

Curhat: Memberi

Penulis: Artikel ini saya tulis dari curhatan seorang sahabat.
Kehidupannya cukup sejahtera, … Ia berasal dari keluarga orang berada dan sepertinya sudah berada dari kecil :D
Ia dan keluarganya yang berkecukupan itu, rupanya berkecukupan juga di dalam kehidupan imannya sebagai pengikut Kristus.
Ia rajin ke gereja, dan walaupun kurang aktif di berbagai kegiatan pelkat misalnya … ia tetap hadir kalau sempat di hampir seluruh kegiatan peribadahan.

Curhatannya sederhana, yaitu tentang Hal Memberi  dan implikasinya dalam kehidupan berjemaatnya.
Karena ia orangnya periang dan spontan, gaya Tulisan saya ikut-ikutan spontan juga. Apa yang saya tulis lebih banyak menyalin apa yang ia celotehkan dari bincang-bincang kita.

Kita mulai,
------------------------

Bung, saya hidupnya cukup luar biasa.
Diberkati Tuhan dengan sepasang anak-anak yang ganteng dan cantik, istri yang tetap cantik serta kami berempat cukup sehat dan berlimpah secara material.

Tapi saya bukan orang yang pelit lho, karena saya diberikan keluarga dan pekerjaan yang baik, istri saya juga bekerja dengan posisi hanya sedikit di bawah saya, maka dengan kelimpahan itu, kami sering berbagi berkat dengan gereja.
Kami sadar, uang berpeluang menjauhkan kami dari Tuhan, sehingga kami lebih memilih memberi dan berbagi supaya lebih mendekatkan kami ke Tuhan. Jadi bagi kami lebih baik buang uang dengan menyumbang, daripada jadi hamba dan tawanan uang ..... lagipula dapat sukacita lihat hasil sumbangan kita kan? 

Tapi itu lewat proses lho, banyak kali kehendak memberi atau menyumbang itu hilang oleh keduniaan yang ingin punya ini itu, dan banyak hal lain, yang akhirnya jadi cicilan tak berkeputusan dan melelahkan, karena sudah senang duluan dengan barang baru, tapi kesal kemudian kalau cicilan belum lunas barangnya sudah rusak … dll dsb. Dan karena sudah kapok lewati proses itu, maka kami sepakat beralih dan berganti mindset. 

Tapi punya uang dan sering menyumbang dalam jemaat juga bukan pengalaman yang menyenangkan. Banyak ketidak-sukacitaan terjadi dengan niat tulus ini yang kami alami.
Jadi saya ceritakanlah ketidak-sukacitaan ini supaya jangan salah kaprah soal wajah saya yang cemberut melihat banyak hal di jemaat; seperti beberapa hal ini. Oh ya, ini perspektif saya … orang lain pasti lain lagi, jadi tidak perlu meng-generalisasi dan baper serta kesal ke saya, Kesal ke penulisnya? bolehlah … hehehehe

 #1 - Please deh, perhatiannya ke saya, bukan ke sumbangan saya

Soal finansial, investasi, dll memang jadi perhatian saya karena menyangkut pekerjaan dan bisnis. Tapi ingat bung, saya juga seorang ayah, seorang suami, seorang atasan dengan banyak karyawan, seorang penduduk di perumahan yang ingin bersosialisasi dan bahkan seorang jemaat di gereja ……

Jadi tolong, ….,
Mempunyai banyak uang, bukan berarti tidak punya masalah.
Pasti banyak yang tidak tahu,  anak-anak saya bermasalah karena mereka jadi gadget & game freak yang berlebihan, banyak masalah dengan keluarga yang sering berantem karena hal-hal remeh, dan banyak lagi hal lain yang membuat saya pusing ….

So please……
Kalau berhubungan dengan saya, jangan hanya karena butuh sumbangan ini itu, jangan hanya kalau perlu tiket pesawat, atau seragam, atau soal pastori, soal … ah banyaklah …..
Perlakukan saya sama dengan jemaat lain, yang butuh bimbingan dan dikuatkan Firman Tuhan. Niscaya yang kecil-kecil soal sumbang sambang itu pasti beres.

#2 - Berikan saya dan jemaat, Firman Tuhan untuk membantu kami memberi yang terbaik bagi persekutuan orang percaya

Terkadang saya mendengar khotbah tentang "memberi" di gereja maupun ibadah rumah tangga,  konotasinya menggugah jemaat untuk memberi karena gereja perlu dana, untuk ini, untuk itu dll dsb.
Usul saja ..... Bagaimana kalau diubah?

Berkhotbahlah tentang pandangan Firman Tuhan perihal uang dan "memberi". Apa yang Tuhan Yesus inginkan bagi kita? Jadi bukan minta ke jemaat, tapi buat jemaat mengerti bagaimana kalau punya uang …. sedikit, lebih, atau berlimpah …. dan bagaimana implementasinya dalam kehidupan berjemaat. Sehingga kami memberi yang terbaik, bukan kami memberi kalau gereja perlu ini itu, atau pendeta perlu sesuatu, atau pribadi-pribadi tertentu perlu uang.
Seluruh jemaat memberi yang terbaik pasti lebih banyak hasilnya daripada hanya beberapa jemaat yang dianggap mampu yg memberi.

#3 - Memberi ke luar jemaat atau gereja itu tidak tepat ???

Terkadang, di gereja …. kita ditekankan bahwa persepuluhan wajib ke gereja ini, sumbangan sebaiknya ke jemaat tempat kita jadi jemaat dll dsb yang senada dengan itu. Seakan-akan kita diarahkan supaya menjadi manusia yang baik dan suka memberi, tapi hanya buat jemaat dan gereja kita. 

Maaf  kata kalau ada yang beranggapan, bahwa sepertinya gereja yang demikian ini takut kalau sumbangan bisa berkurang ke gereja, kalau jemaat yang mampu ini memberi ke luar gereja.

Saya sendiri dan beberapa teman yang lain, suka memberi …. kadang ke sumbangan musibah bencana alam (soalnya di gereja jarang buka kotak atau rekening untuk sumbangan seperti ini … adanya sumbangan internal saja), atau bahkan pembangunan tempat ibadah umat lain, beragama lain pula.

Jadi, please …. jangan jadikan kami jemaat yang suka memberi tapi terbatas. Tapi jadikan kami jemaat yang suka memberi ke "siapa saja, dimana saja dan kapan saja" …. maaf, kalau tidak salah Tuhan Yesus ajarkan itu … karena Beliau melayani bukan hanya di kota asalnya atau melayani umat Yahudi saja, .... bahkan kaum kafir versi Yahudi pun merasakan pelayanan-NYA bukan?

Ada juga kadang-kadang khotbah yang maaf, sepertinya menakut-nakuti kita bahwa kalau tidak memberi persepuluhan akan kena murka atau berkatnya diambil. Saya yakin TUHAN tidak sejahat itu ... bukankah anak-anak tanpa persepuluhan juga diberkati, bahkan umat non Kristen pun dipelihara bukan?

#4 - Uang dan harta saya tidak membuat saya bebas masalah, demikian juga uang dan harta gereja tidak menyelesaikan masalah Gereja

Banyak kali saya saksikan, gereja terperangkap ke masalah keuangan yang gereja sendiri buat. Contohnya;

Gereja ingin gedung bagus, buat panitia bangun gereja bagus, sudah jadi, … lalu terbentur masalah maintenance gedung gereja yang mahal.

Ingin pakai AC supaya nyaman, buat panitia ,,, AC sukses terpasang, lalu bingung karena biaya listrik menanjak tajam.

Ingin buat gereja atau ruang pertemuan bertingkat, terus pasang eskalator atau lift supaya nyaman bagi orangtua dan ramah disabilitas, tapi akhirnya terbentur masalah pemeliharaan lift dan biaya listrik yang tinggi, serta tambah gaji orang untuk awasi fasilitas megah itu.

Ingin pastori mewah, bangun megah untuk supaya Hamba Tuhan nyaman, biaya listrik, asisten rumah tangga, maintenance dan PBB naik drastis …..

Hehehehe jadi mirip istri saya yang ingin mobil baru tapi mengeluh bayar pajak dan cicilannya tidak boleh kurangi uang belanjanya.

Kelihatan kan?
Uang tidak pernah menyelesaikan masalah, justru ada masalah baru dan itu seperti lingkaran yang kembali lagi ke situ-situ juga.

Sebaiknya sih upayakan supaya biasa-biasa saja, tapi output nya yang diusahakan dibuat lebih luar biasa. Jadi bangun saja dulu pemberitaan Firman yang megah, khotbah yang punya kualitas tinggi, tapi mudah dimengerti dan dilaksanakan/dipraktekkan seluruh kalangan jemaat serta pelayanan kasih yang nyata dan menyentuh jemaat secara langsung.
Jemaat pasti akan bertumbuh pesat dalam Firman dan praktek Firman Tuhan bertumbuh lebih pesat lagi bukan?

Oh ya satu lagi, kurangilah buat kegiatan seremonial yg memerlukan banyak dana, padahal intinya hanya ibadah dan (maaf) makan-makan. Salah satu contohnya, sudah ada ibadah natal, natal jemaat, natal sektor dll .. kenapa dana sebanyak itu (pakai aksi masak, jualan sehabis IHM dll) tidak dikumpulkan saja, lalu dipakai membantu natal di panti asuhan atau jemaat-jemaat yang berkekurangan. Cobain deh ... pasti ada sukacita besar di hati kita semua.

Maafkan kalau menggurui ya.

#5 - Perlakukan kami sama dengan semua jemaat  .... penulis: (mirip di point 1 di atas, …. beda versi dan ditekankan kembali rupanya)

Sepertinya ini yang terakhir …..
Tapi ini yang membuat risih dan perasaan tidak enak, walaupun awalnya sih bangga.

Intinya, perlakukanlah kami sekeluarga sama dengan seluruh jemaat, … jadi jangan karena kami sering memberikan donasi, kami diperlakukan istimewa. Contohnya;

Ibadah di rumah kami selalu dipimpin KMJ bahkan kalau jadwalnya sama dengan jemaat lain, jadi tukaran dengan KMJ …. Katanya tidak enak kalau di rumah saya Diaken yg pimpin … duh jadi nggak enak sama majelis saya, dikiranya saya yang minta kan?

Tempat duduk di gereja seperti jadi milik pribadi kami, karena selalu disambut dan diantar ke bangku yang sama deret tengah paling depan, padahal saya selalu ingin duduk di kerumunan belakang, karena sering ngantuk kalau khotbahnya  (maaf) monoton hahahahah.

Saya dan istri harus jadi majelis, PHMJ atau pengurus pelkat, bendahara pula …. duh please deh, jadi jemaat biasa pun kami tetap sama, lagipula kalau kami berdua sibuk, siapa yang jaga anak-anak? Ada kami saja mereka bandelnya minta ampun deh.

Anak-anak kami dapat perhatian ekstra, sampai mereka kesal karena temannya tidak demikian, dan mereka merasa lain sendiri dan berbeda dengan yang lain. Kata anak saya yg tua dan sangat kritis: "Huh, cari muka" .... maafkan dia ya.

Saya dan istri yang tidak biasa nyanyi atau baca not angka sekalipun, malah dipaksa ikut paduan suara …. padahal suaraku fals dan kadang menipu dengan pura-pura buka mulut tanpa suara hehehehe, istriku bilang Opa & Oma Manado yang sudah tua itu lebih bagus menyanyi dari dia dan saya hahahahaha

Kalau ada jemaat resepsi HUT atau Nikah di gedung, saya selalu diminta duduk dekat KMJ dan PJ di meja terdepan. Duh … padahal saya ingin duduk dekat pintu karena ingin merokok ke luar.

Sektor saya, jadi pusat perhatian kalau Natal Jemaat, kan katanya ada orang punya di situ ….. duh .. padahal saya ingin liburan natal ke luar kota, sedang rumah saya sudah di booking setiap tahun buat Natal Jemaat. asem nggak …. ?

Kalau HUT, semua tahu karena didoakan di gereja…. keluarga kami selalu dikunjungi, padahal kalau Opa Ambon yang di lorong belakang rumah kami, dilewatkan begitu saja …. Jadi nggak enak sama Opa itu. Terpaksa saya yang kunjungi beliau hahaha.

Dan banyak lagi perlakuan KMJ, PJ, para majelis, pegawai kantor sampai koster yang buat saya risih …. belum lagi ada sekelompok jemaat yang bikin group sendiri yang anggap saya berseberangan karena dianggap dekat sama KMJ dan PHMJ yang tidak sejalan dengan mereka.

Duh bergereja, berjemaat, berdonasi kok jadi punya musuh malah .....

Demikianlah, ....

Saya harap pesan ini bisa diterima dengan baik. Saya tetap seperti saya apa adanya, kalau punya lebih saya berbagi … kalau pas-pasan tetap berbagi, dan kalau kekurangan pun masih bisa berbagi Firman Tuhan, bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dalam keadaan apapun, dimanapun dan di setiap saat. Hehehehe Tapi jangan juga sampai karena sudah keburu kesal jadi malas berbagi.

Mohon maaf kalau ada yang tersinggung dan saya tidak bermaksud menyombongkan apa yang saya punya dan yang saya berikan. Sama sekali tidak bermaksud demikian.

Penulis: Selesai, .... Demikianlah kura-kura (lho kok jadi kayak seword.com ya? =)) … AMIN


ITT - Jakarta, 13 Februari 2020

Sunday, January 12, 2020

Tolong, berikan kami 3 hal ini



Kata orangtua dulu-dulu, ingat kalau datang ibadah, datang cepat, kalau bisa 15-30 menit sebelumnya, ... sekarang ... setua ini baru sadar bahwa ternyata sangat berguna kebiasaan ini ... bisa tulis coretan singkat di bawah ini.

Terkadang, ketika duduk menunggu ibadah mulai, imajinasiku berjalan lincah kesana kemari.

Apa gereja perlu organ yang bagus? Apa gereja perlu mimbar yang besar dan megah?
Atau hehehe apa gereja perlu gedung yang mewah?,

Ah sudahlah, nanti saya kena marah dari Majelisnya atau PHMJ nya, tamu saja kok sibuk. Tapi namanya mengkhayal kan gratis dan tidak merugikan, Lanjut ah ....

Saya pernah pergi ke pelosok daerah yang jemaatnya nyanyi semangat dan hampir tidak pernah salah walau tidak pakai organ
Atau gereja yang mimbarnya saking kecilnya, anak-anak jemaat bisa maini dan geser sesukanya setelah ibadah, dan ada juga gereja yang cuma pinjam pakai rumah jemaatnya (teras tepatnya) buat ibadah minggu.

Rasanya memang megah kalau pakai infocus proyektor layar besar (yang bikin tata ibadah tra laku lagi tapi tetap dicetak), lalu pakai sound system bagus yang di stel dan di cek 1 2 3 sampai 5 menit sebelum ibadah mulai (bikin oma-oma di sebelah saya kesal dan hilang sabar menjelang ibadah hehehe) atau band lengkap yang kalau main bisa bikin oom yang su agak tuli-tuli en duduk di sudut dekat speaker besar sampe tutup telinga saking bisingnya, atau nyanyian dengan latar belakang bahasa yang tidak bisa dimengerti (katanya sih bahasa... ah sudahlah) .... atau bahkan website yang habis diisi 2-3 bulan, 2-3 tahun lagi baru di update.... hmmmm .... enak juga sih kalau selepas ibadah dapat gratis bakpao babi dan lemper ikan atau bahkan KFC untuk anak-anak dan kopi voor kita paituanya serta teh voor tante-tante yang suka babungkus supaya suami & anak-anak berkecukupan di rumah.

Memang kalau ada bagus, tapi kalau tidak?
Rasanya gereja tetap tumbuh kan?
Soalnya kita yang lahir di tahun kepala 6 dan 7 jadi saksi dan bukti, kalau kita tetap bertumbuh gencang ...eh cepat maksudnya, dalam iman dan perbuatan tanpa akang semua yang di atas .... (membayangkan wajah KMJ, PHMJ dan Majelis yg berkerut lihat wajahku yang nau nau tapi cakep kalau lagi nyeleneh begini ... maju terus sampe tatoki .... )

Lalu apa yang gereja paling perlukan selama ini?

Rasanya Yang paling utama diperlukan gereja untuk bertumbuh ada di Efesus 3 .... (sebentar buka dulu, ingatnya cuma Doa Paulus). Ya Efesus 3:14-21, yang menempatkan Tuhan Allah sebagai pusat pertumbuhan gereja segala zaman, bahkan kita sampai sekarang ini.

Nah untuk ini, rasanya menuliskan dalam artikel kurang pantas, bisa jadi salah tangkap dan akhirnya dianggap kritik ke gereja dan jemaat atau PHMJ dan KMJ. Maaf bapak ibu presbiter yang terkasih dalam Yesus Kristus. Selanjutnya dengan segala kerendahan hati, saya yang sangat jauh dari kemuliaan Paulus (apalagi Kristus Yesus) mohon izin memakai gaya Rasul Paulus dalam menulis surat ke bapak ibu Presbiter, ... bukan hanya di gereja ini, tapi untuk seluruh gereja Tuhan yang mau membaca ini ....

Bapa Ibu Pendeta dan Majelis terkasih

Saya mengucap syukur bahwa Kristus Yesus telah memanggil bapak ibu untuk menggembalakan jemaat ini, saya sangat menghormati dan mengasihi bapak ibu ... tetapi sebagai manusia yang tidak sempurna tidaklah perlu berusaha menyempurnakan pelayanan bapak ibu karena IA DI ATAS yang empunya jemaat ini sempurna adanya, biarlah IA saja yang mengendalikan jemaat-NYA.

Doa Rasul Paulus yang penuh semangat di Efesus 3:14-21 menjadi inspirasi saya untuk dengan segala kerendahan hati, meminta 3 hal ini dari bapak ibu;

1. Berikan kami supaya Bersandar hanya pada TUHAN

Sukacita besar melihat pelayanan bapak ibu ke jemaat, tidak kenal lelah melayani, dengan kunjungan, doa, puji-pujian serta hati yang penuh kasih .... dan untuk semua itu jemaat perlu dan haus akan contoh yang baik ini, bahwa bapak ibu hanya bergantung pada TUHAN dalam pelayanannya. Rasul Paulus jadi contoh yang sempurna, karena di ayat di atas, yang ia tuliskan adalah DOA. Doa ini bukan untuk ia dibebaskan dari penderitaan, tetapi doa supaya jemaat menyandarkan diri hanya ke TUHAN belaka.
Ini intinya ... dengan bersandar ke TUHAN kita membuka Visi hanya kepada kebesaran TUHAN, ... jadi bapak ibu .... janganlah mengarahkan jemaat akan kekuatan sendiri ... tapi arahkanlah jemaat supaya dapat memahami luar biasanya Kasih KRISTUS

2. Berikan kami TUHAN

Kita perlu TUHAN bukan hanya sebagai sumber dari Jemaat, tetapi sebagai dasar dari jemaat TUHAN.
Kita, keluarga kita ,... punya banyak kebutuhan dan masalah. Kita putus asa, bergelimang dosa, merasa sendiri ... kita bergumul dalam pekerjaan yang gajinya tidak cukup, kita putus kerja, bermasalah secara ekonomi, masalah keluarga, anak-anak kita yang bermasalah, pergumulan dalam pernikahan dan mencari pasangan hidup, ribut dalam pelayanan dengan pendeta dan Majelis ..... dll dsb

Yang kita perlukan bukan hanya nasihat dan pertolongan biasa,... kita perlu TUHAN sendiri yang memimpin kita, ... jadi tolong bapak ibu, arahkanlah jemaat ini dengan pelayanan utamanya memberikan ke jemaat; yaitu TUHAN itu sendiri.

Efesus 3:18-19 = Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.

Sungguh sangat indah .... dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan ALLAH ..... Doa ini bukan untuk orang kudus saja, tetapi untuk kita juga jemaat biasa (Ef 3:18) supaya dipenuhkan dalam TUHAN. Diarahkan menjadi jemaat yang dewasa, bukan lagi bayi spritual yang tidak kunjung menjadi dewasa.

Dan yang ke 3. Berikan kami jadi Saksi akan Kemuliaan TUHAN

Ef.3:20-21 =  Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin

Akhirnya, dalam segala apa yang bapak ibu kerjakan, dalam doa-doanya, khotbah dan pengajaran serta pimpinan ... arahkanlah kami bersaksi akan kemuliaan TUHAN
Itu yang Rasul Paulus ingin capai dalam ayat 20 dan 21, bersaksi bahwa TUHAN sangat luar biasa  dan sangat mampu kuasa-NYA, bagi jemaat-NYA atau bahkan ke yang belum mengenal TUHAN.

Sebagai penutup ....

Seperti ditulis Rasul Paulus dalam Roma 11:36 = Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

Inilah yang utama dan terpenting, yang jemaat rindukan dari bapak ibu .... 

Bersandar hanya kepada TUHAN (dari DIA)
Ajarkan dan berikan kami TUHAN (oleh DIA)
Bersaksi akan Kemuliaan TUHAN (kepada DIA)

Baru caranya, ... bisa sederhana, menengah atau megah
Terimakasih bapak Ibu sudah mau baca ini ... surat selesai

Sekarang ibadah su mo mulai  ..... saya stop ... Ibadah mode ON

For my best friend: CJL
Jakarta, Minggu 12 Januari 2020