Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan GPIB

Tuesday, September 20, 2011

2 Samuel 3:38-39

3:38 Kemudian berkatalah raja kepada para pegawainya: "Tidak tahukah kamu, bahwa pada hari ini gugur seorang pemimpin, seorang besar, di Israel?
3:39 Tetapi aku ini sekarang masih lemah, sekalipun sudah diurapi menjadi raja, sedang orang-orang itu, yakni anak-anak Zeruya, melebihi aku dalam kekerasan. Kiranya TUHAN membalas kepada orang yang berbuat jahat setimpal dengan kejahatannya.

Latar Belakang

Abner dibunuh oleh Yoab karena dendam (3:27). Abner telah membunuh adik Yoab, yaitu Asael. Yoab tahu bahwa Raja Daud telah mengampuni Abner karena Raja Daud membiarkan Abner pergi dengan selamat (3:23). Akan tetapi, Yoab tidak setuju dengan sikap Raja Daud itu sehingga ia menegur Raja Daud (3:24-25). Dengan tidak menggubris kekuasaan Raja Daud, Yoab menemui Abner dan membunuhnya tanpa sepengetahuan Raja Daud (3:26-27). Bahkan Yoab membunuh Abner di kota Hebron yang merupakan kota perlindungan Daud, yang dalam budaya Yahudi; atas perintah Tuhan di kota tersebut tidak boleh ada pembalasan dendam dan pembunuhan (Bilangan 35).

Raja Daud tidak bersukacita atas apa yang dilakukan Yoab terhadap Abner. Sebaliknya, Raja Daud meminta seluruh rakyat berkabung dan meratapi kematian Abner.
Mengapa? Bagi Raja Daud, Abner adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa. Kesetiaannya kepada Raja Saul perlu diacungi jempol. Hanya karena sikap Isybosetlah, pada akhirnya Abner memihak Raja Daud. Bagi Raja Daud, Abner tidak layak mati seperti orang bebal dan durjana (3:33-34). Bagi Raja Daud, Abner tetaplah seorang pemimpin yang besar (3:38) yang seharusnya mati sebagai seorang pahlawan.

Ratapan dan tangisan Raja Daud atas kematian Abner, panglima perang Raja Saul, menunjukkan betapa hormatnya Raja Daud kepada keluarga Raja Saul. Setelah menjadi raja, tidak serta merta Raja Daud menjadi sombong dan menganggap remeh pemimpin sebelumnya. Walaupun Raja Saul adalah pemimpin yang tidak baik, Raja Daud tetap merasa wajib menaruh hormat terhadap orang yang telah diurapi Tuhan.

Tokoh

Abner: Panglima perang Raja Saul

Zeruya: Kata TSERÛYÂH mungkin berasal dari akar kata Arab yang berarti mengalirkan darah, berdarah atau nama suatu pohon yang harum, atau getahnya. Zeruya adalah ibu dari Abisai, Yoab dan Asael, perwira-perwira Daud. Suaminya tidak pernah disebut, tapi tentang itu ada beberapa penjelasan. Mungkin sang suami mati muda, atau Zeruya lebih berkualitas daripada suaminya. Mungkin juga demikianlah tradisi kuno, yakni melacak pertalian keluarga menurut garis istri. Atau, mungkin Zeruya kawin dengan orang asing, tapi mereka tetap tinggal dalam kaum Zeruya dan anak-anaknya dianggap termasuk dalam kaum itu. Ia juga saudara perempuan Daud (1 Tawarikh 2:16), walaupun 2 Samuel 17:25 menyiratkan bahwa ia adalah saudara tiri, karena istri Isai lebih dulu kawin dengan Nahas. Tapi teks ayat itu tidak pasti.

Yoab: anak Zeruya, panglima perang Raja Daud yang membunuh Abner (2 Sam 3:27) - Besar jasanya bagi Daud. Yoab patuh pada perintah Daud untuk menempatkan Uria, suami Batsyeba, wanita yang diinginkan Daud, di barisan depan agar terbunuh (2 Samuel 11:6-21), walaupun ia tahu perintah Daud itu jahat. Yoab juga mendamaikan Daud dan Absalom (2 Samuel 14:28-33), dan jasa baik lainnya. Yoab tidak dikategorikan sebagai pahlawan Daud (2 Samuel 23:8-39), seperti kedua adiknya, Abisai dan Asael. Tidak cuma itu, jalan hidup Yoab berakhir tragis, ia dibunuh oleh Salomo (1 Raja-raja 2:28-34) yang mematuhi wangsit ayahnya, Daud (1 Raja-raja 2:5-6).

Pembalasan Tuhan

1. Pembalasan Tuhan sering disalah-artikan dengan pembalasan setimpal yang dialami oleh orang yang rugi atau teraniaya.
Perhatikan Kain & Habel. Apakah setelah Habel dibunuh Kain, Allah juga membunuh Kain? Kej
4:15 Firman TUHAN kepadanya: "Sekali-kali tidak! Barangsiapa yang membunuh Kain akan dibalaskan kepadanya tujuh kali lipat." Kemudian TUHAN menaruh tanda pada Kain, supaya ia jangan dibunuh oleh barangsiapa pun yang bertemu dengan dia.
Allah konsisten sebagai pencipta kehidupan, sehingga IA tidak menghendaki ada yang mengambil kehidupan itu kecuali ALLAH sendiri.

2. Pembalasan adalah Hak Tuhan
Ulangan 32:35 Hak-Kulah dendam dan pembalasan, pada waktu kaki mereka goyang, sebab hari bencana bagi mereka telah dekat, akan segera datang apa yang telah disediakan bagi mereka. bandingkan Ibrani 10:30 Sebab kita mengenal Dia yang berkata: "Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan." Dan lagi: "Tuhan akan menghakimi umat-Nya."

3. Daud tidak membalas karena Raja Daud masih lemah (2 Raj 3:39)
Tapi bagaimana kalau sudah kuat?

4. Sebagai Umat pengikut Kristus, apa yang Yesus ajarkan tentang pembalasan?
Luk 23:34a Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat."
Rasul Paulus di kemudian hari menuliskan dalam Rom 12:17-19 = Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.

Kesimpulan - Pelajaran Dari Yoab.

1. Yoab ingin melakukan pekerjaan Tuhan, tetapi bukan dengan jalan Tuhan
Bila kita mau melakukan pekerjaan Tuhan, lakukanlah sesuai dengan jalan yang Tuhan kehendaki, bukan dengan jalan kita sendiri.

2. Yoab ada di pihak Tuhan, tetapi tidak di jalan Tuhan
Sebagai murid Kristus, Kita dipilih Allah untuk ada di pihak-NYA, untuk itu berjalanlah dalam Jalan pengajaran-NYA.

ITT - Selasa, 20 September 2011 - PF PKP3 di Ibu Ita Pulumahuny.


Monday, August 15, 2011

Ulangan 31:7-13


31:7 Lalu Musa memanggil Yosua dan berkata kepadanya di depan seluruh orang Israel: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan masuk bersama-sama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka, dan engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya.
31:8 Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati."
31:9 Setelah hukum Taurat itu dituliskan Musa, maka diberikannyalah kepada imam-imam bani Lewi, yang mengangkut tabut perjanjian TUHAN, dan kepada segala tua-tua Israel.
31:10 Dan Musa memerintahkan kepada mereka, demikian: "Pada akhir tujuh tahun, pada waktu yang telah ditetapkan dalam tahun penghapusan hutang, yakni hari raya Pondok Daun,
31:11 apabila seluruh orang Israel datang menghadap hadirat TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilih-Nya, maka haruslah engkau membacakan hukum Taurat ini di depan seluruh orang Israel.
31:12 Seluruh bangsa itu berkumpul, laki-laki, perempuan dan anak-anak, dan orang asing yang diam di dalam tempatmu, supaya mereka mendengarnya dan belajar takut akan TUHAN, Allahmu, dan mereka melakukan dengan setia segala perkataan hukum Taurat ini,
31:13 dan supaya anak-anak mereka, yang tidak mengetahuinya, dapat mendengarnya dan belajar takut akan TUHAN, Allahmu, -- selama kamu hidup di tanah, ke mana kamu pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya."

Sekilas Mengenai Kitab Ulangan

Kitab Ulangan ditulis oleh Musa dan kemungkinan ditambahkan oleh Yosua yang mencatat kematian Musa di Pasal 34. Ulangan adalah kitab ke-5 dari Pentateukh.
Ulangan diterjemahkan dari bahasa Inggris Deuteronomy, dari kata Yunani "Deuteronomion" yang berarti "Pemberian Hukum yang kedua". Dari bahasa aslinya kitab ini diberi nama 'elleh haddebarim yang berarti "Inilah perkataan-perkataan" sebagai awalan Ulangan 1:1.
Kitab ini ditulis Musa di dataran Moab kepada geberasi baru Israel yang akan masuk ke Tanah Kanaan. Hukum kedua ini adalah hukum yang diperbarui sesuai situasi dan kondisi Israel yang nantinya tidak lagi sebagai bangsa pengembara, tetapi sebagai bangsa yang akan menetap di Tanah yang diberikan Allah dengan Perjanjian kepada mereka.
Kitab ini dipersiapkan Musa sebagai suatu kesaksian bagi generasi pelanjut Israel Ul 31:26-27 (31:26 "Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau. 31:27 Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati).

Yosua

Sebagai pembantu Musa, Yosua menunjukkan suatu pengabdian dan kasih yang dalam kepada Allah dengan sering kali berada dihadapan Allah untuk jangka waktu yang lama (Kel 33:11); dialah orang yang sangat menghargai kehadiran Allah yang kudus. Ia pasti belajar banyak dari Musa, penasehat dan pembimbingnya yang dipercayai, tentang cara-cara Allah dan kesulitan menuntun umat ini. Di Kadesy Yosua menjadi salah seorang dari dua belas mata-mata yang mengintai negeri Kanaan. Bersama Kaleb, ia dengan gigih menolak laporan ketidakpercayaan sepuluh mata-mata yang lain, dan akhirnya mereka berdua yang akan diizinkan Tuhan masuk ke Kanaan (Bil 14:26-30 Lagi berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun: "Berapa lama lagi umat yang jahat ini akan bersungut-sungut kepada-Ku? Segala sesuatu yang disungut-sungutkan orang Israel kepada-Ku telah Kudengar. Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman TUHAN, bahwasanya seperti yang kamu katakan di hadapan-Ku, demikianlah akan Kulakukan kepadamu. Di padang gurun ini bangkai-bangkaimu akan berhantaran, yakni semua orang di antara kamu yang dicatat, semua tanpa terkecuali yang berumur dua puluh tahun ke atas, karena kamu telah bersungut-sungut kepada-Ku. Bahwasanya kamu ini tidak akan masuk ke negeri yang dengan mengangkat sumpah telah Kujanjikan akan Kuberi kamu diami, kecuali Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun! - Bahkan dari Yosua inilah masa penjelajahan umat Israel di padang gurun ditetapkan Tuhan menjadi 40 tahun! (Bil 14:32-35 Tetapi mengenai kamu, bangkai-bangkaimu akan berhantaran di padang gurun ini, dan anak-anakmu akan mengembara sebagai penggembala di padang gurun empat puluh tahun lamanya dan akan menanggung akibat ketidaksetiaan, sampai bangkai-bangkaimu habis di padang gurun. Sesuai dengan jumlah hari yang kamu mengintai negeri itu, yakni empat puluh hari, satu hari dihitung satu tahun, jadi empat puluh tahun lamanya kamu harus menanggung akibat kesalahanmu, supaya kamu tahu rasanya, jika Aku berbalik dari padamu: Aku, TUHAN, yang berkata demikian. Sesungguhnya Aku akan melakukan semuanya itu kepada segenap umat yang jahat ini yang telah bersepakat melawan Aku. Di padang gurun ini mereka akan habis dan di sinilah mereka akan mati.").

Latar Belakang Ulangan 31:7-13

Bacaan pekan ini berlatar-belakang ketika Musa memanggil dan menetapkan Yosua untuk memimpin umat Israel memasuki Tanah Kanaan. Negeri mana yang Tuhan janjikan kepada Abraham (Ul 31:7 ==> Kej 17:8 Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.).
Musa melakukan ini di hadapan umat Israel dan berkata dengan tegas supaya mereka percaya (Ul 31:8).

Selanjutnya di Ul 31:9-13, Musa memerintahkan supaya setiap Tahun Sabat, Hukum Taurat dibacakan di hadapan seluruh Umat Israel dan orang asing yang tinggal di Israel, supaya mereka, anak-anak mereka mendengar dan belajar untuk takut akan Tuhan.
Tahun Sabat (Im 25:3 Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu, dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu, 25:4 tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi TUHAN. Ladangmu janganlah kautaburi dan kebun anggurmu janganlah kaurantingi.)

Catatan mengenai Taurat: Masyarakat Yahudi mengenal kitab PL dengan:
1. Torah (taurat/Hukum): Kejadian - Keluaran - Imamat - Bilangan - Ulangan
2. Nebiim (Tulisan para Nabi) : Nabi-nabi awal: Yosua, Hakim-hakim, Samuel, Raja-raja + Nabi-nabi yang kemudian: Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, 12 Nabi lain
3. Khetubim (Tulisan lain-lain/sastra & sejarah):
-. Kitab Puisi: Mazmur, Amsal, Ayub
-. Lima Gulungan (Hamesh Megilloth): Kidung Agung, Ruth, Ratapan, Ester, Pengkhotbah
-. Kitab Sejarah: Daniel, Ezra-Nehemia, Tawarikh

Aplikasi

1. Peringatan
Ucapan Musa kepada Yosua bahwa: "Kuatkan dan teguhkan hatimu" dengan kata lain dapat disebutkan "Jangan Takut!" ... sebab apa? ==> Ul 31:8 Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati.". Bandingkan Yosua 1:7 Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi. 1:8 Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.

Jadi selaku GPers dan Murid Yesus Kristus, kita juga diingatkan supaya selalu menguatkan dan meneguhkan hati kita untuk hidup mengingat Janji Yesus Kristus untuk kedatangan-NYA yang kedua.

2. Mendengar, belajar dan mengetahui Hukum Tuhan
Kita punya Alkitab, berbeda dengan pendahulu kita yang hanya punya gulungan kitab dan hanya bisa di dengar pada saat-saat tertentu. Gunakan dan pelajari itu sebaga suatu keuntungan besar yang Tuhan anugerahkan kepada kita. Dengan Alkitab versi studi, Alkitab Elektronik maupun Alkitab Audio dll dsb, kiranya GPers belajar untuk Takut akan Tuhan.
2 Tim 3:15 Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. 3:16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. 3:17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

ITT – 15 Agustus 2011 PF GP3 di Violita Sutiono

Saturday, August 13, 2011

Mazmur 43

Allah adalah Sumber Keadilan

Mazmur 43
43:1 Berilah keadilan kepadaku, ya Allah, dan perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh! Luputkanlah aku dari orang penipu dan orang curang!
43:2 Sebab Engkaulah Allah tempat pengungsianku. Mengapa Engkau membuang aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?
43:3 Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu!
43:4 Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!
43:5 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!

Latar Belakang

Dalam beberapa manuskrip kuno Ibrani, Mazmur 43 ini digabungkan dengan Mazmur sebelumnya, yaitu Mazmur 42. Hal ini disebabkan munculnya refrain yang sama dalam kedua Mazmur ini (Contoh: Maz 42:6, 42:12 dan 43:5 = Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!)
Perhatikan bahwa Mazmur 42 terdiri dari 2 stanza dengan akhir refrain yang sama, dan Mazmur 43(1-4) dianggap sebagai stanza ketiga dari Mazmur ratapan ini dengan refrain di Maz 43:5.

Hal lain yang menguatkan, adalah bahwa Mazmur 43 ini adalah satu-satunya Mazmur yang tidak mempunyai judul dari Maz 42-72 (buku ke-2 Mazmur), sehingga judul dari Mazmur 42 lah yang menjadi acuan Mazmur ini. (Maz 42:1 Untuk pemimpin biduan. Nyanyian pengajaran bani Korah.)
Mazmur sendiri, oleh para teolog, umumnya terbagi atas 5 bahagian/jilid, yaitu:
Jilid 1: Maz 1-41
Jilid 2: Maz 42-72
Jilid 3: Maz 73-89
Jilid 4: Maz 90-106
Jilid 5: Maz 107-150

Karakter Mazmur 43

Terkadang timbul pertanyaan dalam kehidupan kita; "mengapa hal-hal buruk bisa terjadi bagi orang-orang yang hidupnya benar?"
Seorang Jemaat pernah bertanya kepada pendetanya perihal pertanyaan di atas, dan Pendetanya menjawab dengan jawaban klasik; "Maaf, saya tidak tahu, karena saya belum pernah bertemu dengan orang yang hidupnya benar".

Jawaban ini, mengandung 2 nilai;
Yang pertama, adalah untuk mengingatkan kita, bahwa kita semua adalah manusia berdosa,
Yang kedua, adalah untuk menekankan bahwa tidak seorangpun dapat terlepas dari persoalan.

Nilai kedua inilah yang akan menjadi pokok bahasan kita pada bacaan ini.

Penulis Mazmur inipun masih menjadi perdebatan di kalangan ahli Alkitab, ada yang berpendapat bahwa Mazmur ini ditulis oleh Raja Daud ketika melarikan diri dari kejaran anaknya Absalom, yang lain berpendapat penulisnya adalah Raja Hizkia ketika Yerusalem di bawah tekanan serangan orang Asyur.
Terlepas dari siapa penulisnya, Mazmur ini menunjukkan kepada kita bahwa penulisnya ada dalam suasana stress, dikejar-kejar dan putus asa. Ia menghadapi suatu keadaan dimana ia berhadapan dengan persoalan yang tidak dapat ia atasi, yang memedihkan hati dan membingungkan jiwanya.

Seruan "Berilah keadilan kepadaku, ya Allah,..." menunjukkan kedalaman deritanya dan kekuatan imannya yang mencari Allah. Hal inilah yang menjadi karakter dari Mazmur 43 ini, ..... dalam penderitaan ... iman tetap teguh.

Eksposisi

a. ay 1-2, Seruan agar dibebaskan

-. Dari kaum yang tidak saleh, penipu dan orang curang. (Maz 43:1 Berilah keadilan kepadaku, ya Allah, dan perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh! Luputkanlah aku dari orang penipu dan orang curang!)
(Perhatikan bahwa ketika berada dalam keadaan ini, pemazmur tidak melakukan pembalasan dendam, tetapi ia berseru kepada Allah)
-. Dari "Dibuang Allah" dan perkabungan (Maz 43:2 Sebab Engkaulah Allah tempat pengungsianku. Mengapa Engkau membuang aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?)
(Perhatikan bahwa dalam kehidupan kita, sering terjadi kita merasa bahwa Allah membuang kita dan membisu dari seruan minta tolong kita)
Yes 55:8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN
Mark 4:37-41, yang mengisahkan keadaan panik murid-murid Tuhan Yesus ketika mereka menyeberang danau dan diterpa angin dan gelombang dan kisah Yesus di Yoh 11 ketika IA sengaja menunda kedatangan-Nya menjenguk Lazarus, yang akhirnya menunjukkan Kebesaran Allah.
Hal lain adalah, sering dalam kehidupan, kita mengalami kondisi demikian, bahwa kita membiarkan sukacita lenyap, hanya karena ulah tidak baik orang lain.

b. Ay 3-4, Seruan akan Pimpinan Allah

Pemazmur mengetahui pasti, bahwa kondisinya yang terpuruk ini akan berakhir, bila Allah memimpin ia menuju ke "Rumah Allah", atau dengan kata lain, pemazmur akan menemukan sukacitanya hanya di hadirat Allah belaka dengan bersyukur kepada-NYA. Pemazmur memang berada dalam keadaan gelap dan terhimpit, tetapi kalau Allah mengirim Terang dan Kesetiaan-NYA, maka pasti pemazmur akan menemukan jalan itu.

c. Ay 5, Seruan Keyakinan Pemazmur

Ayat 5, yang merupakan refrain dari stanza ke 3 dari Mazmur 42 & 45 (Stanza 1 & 2 ada di Mazmur 42), merupakan suatu seruan akan keyakinan pemazmur, bahwa Allah adalah satu-satunya Sumber Pengharapan dan penolong, dalam setiap keadaan, baik maupun buruk dalam kesesakan kehidupannya (perhatikan kata "lagi" pada kalimat: "Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya").

Aplikasi – Allah adalah Sumber Keadilan

Dari pemahaman akan konteks Mazmur 43 di atas, beberapa pelajaran dapat kita ambil dalam kehidupan kita sebagai Murid Kristus;

1. Ketika mengalami situasi dan kondisi sebagaimana pemazmur alami, belajarlah darinya untuk selalu meminta pertolongan kepada Allah yang adalah sumber keadilan.
Mari kita belajar, bahwa pemazmur tidak berpaling kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebagaimana yang Yesus Kristus lakukan, ketika IA hendak ditangkap, IA berdoa dan minta pertolongan kepada Allah.
Pemazmur meminta keadilan, dan minta Allah memperjuangkan perkaranya, .... dan hal pertama yang pemazmur harus laksanakan adalah bahwa ia harus jujur dan terbuka di hadapan Allah, supaya keadilan yang ia minta dapat dilaksanakan Allah.
Mintalah Keadilan .... dengan keterbukaan penuh, dengan pengakuan dosa, dengan penyesalan .... Mintalah Keadilan Allah, bukan untuk keuntungan diri, .... maka itulah yang akan diberikan Allah.
Ilustrasi: Seorang anak sedang mencoba mengisap rokok, dan ketika lagi asyik mengisapnya, ayahnya muncul. Karena panik, ia segera membuang rokoknya dan mencoba mengalihkan perhatian ayahnya, dan mengingatkan ayahnya akan janji untuk nonton film; “Ayah ... kita nonton ya .... “ bujuknya. Ayahnya menjawab pelan; “Nak, kamu harus belajar satu hal, tidak mungkin meminta sesuatu dan pada saat yang sama, melakukan hal yang tidak berkenan”

2. Keadilan yang diminta, tidak melibatkan pihak lain untuk dihukum, karena keyakinan iman akan Keadilan Allah yang hakiki.
Belajar dari itu, kita bisa melihat apa yang Yesus Kristus ajarkan di Mat 5:43-44 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. - Rasul Paulus di kemudian hari menegaskan di Kitab Roma 12:19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.

3. Ketika meminta keluputan, maka tujuannya bukan hanya sekedar diluputkan, tetapi bahkan lebih dalam lagi, pemazmur minta supaya ia dapat memuliakan Allah. Mengapa demikian? Karena keadilan menampakkan Kasih Allah atas manusia. Dan memuliakan Allah adalah ungkapan syukur atas Kasih Allah.
Bukankah kita semua manusia berdosa? Mengapa dalam keberdosaan kita, Allah mau memberikan Putranya bagi kita? Yoh 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.
Ya, itulah yang Yesus Kristus tekankan dalam Ajaran-NYA, Keadilan dan Kasih ==>
-. Lukas 11:42 Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. => paralel dengan Mat 23:23 Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

Karena Allah adalah Sumber Keadilan, maka Mintalah Keadilan ALLAH, Imanilah Keadilan ALLAH dan Mengucap Syukurlah akan Keadilan ALLAH.

ITT – 14 Agustus 2011 – PF Pospel RCK 09:00

Catatan:

Di dalam ilmu hukum, ada suatu adagium yang berbunyi: "SUMMUM IUS, SUMMA INIURIA" yang berarti "Keadilan tertinggi, adalah ketidak-adilan tertinggi". Bila seseorang memenangkan perkara di pengadilan, maka ia akan menyatakan bahwa ia telah memperoleh keadilan, sementara pihak yang kalah akan menyatakan bahwa ia memperoleh ketidak-adilan.
Dalam kehidupan duniawi, sumber keadilan adalah hukum dan perundang-undangan serta terlihat di wajah seorang Hakim, yang memutuskan perkara. Sementara dalam kehidupan beriman, Allah adalah sumber keadilan, yang dinyatakan dalam Firman Allah yaitu Alkitab ==>
-. Ulangan 16:19 - 20 = Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang yang benar. Semata-mata keadilan, itulah yang harus kaukejar, supaya engkau hidup dan memiliki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu."
-. 1 Sam 24:16 Sebab itu TUHAN kiranya menjadi hakim yang memutuskan antara aku dan engkau; Dia kiranya memperhatikannya, memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku dengan melepaskan aku dari tanganmu." (Ketika Daud membiarkan Saul hidup).


Sunday, July 24, 2011

Lukas 15:1-7


Perumpamaan tentang domba yang hilang
15:1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia.
15:2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka."
15:3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka:
15:4 "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?
15:5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira,
15:6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.
15:7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan."

Latar Belakang

Bacaan Lukas 15 sebenarnya adalah suatu kesatuan utuh dengan 3 perumpamaan yang diajarkan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya untuk menjawab sikap dan pemikiran orang-orang Farisi terhadap Yesus, salah satunya dalam Luk 15:2 (Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: "Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.").
Tiga Perumpamaan ini diberikan dengan nada klimaks, yang diawali dengan perumpamaan pertama tentang domba yang hilang (Luk 15:1-7), dilanjutkan dengan Perumpamaan tentang dirham yang hilang (Luk 15:8-10) dan mencapai puncaknya di Luk 15:11-32 pada perumpamaan tentang anak yang hilang.

Konteks bacaan ini sendiri, diawali dengan adanya 3 pihak, Tuhan Yesus sendiri - Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa - Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat.
Harus dimengerti, bahwa pada masa itu bangsa Yahudi membangun suatu pemikiran teologi tentang adanya orang-orang benar dan orang-orang berdosa (inilah sebabnya Rasul Paulus senantiasa mengingatkan tentang para pengikut Yesus bahwa "dahulu" mereka adalah orang-orang berdosa).
Para pemungut cukai dan bahkan orang miskin dapat dianggap orang-orang berdosa, karena keadaan mereka yang miskin, dianggap sebagai suatu hukuman atas dosa tertentu. Pemikiran teologi seperti di atas kemudian membagi masyarakat ke dalam 2 golongan itu, sehingga golongan orang benar tidak berinteraksi dengan orang berdosa (miskin, kusta, pemungut cukai dll), apalagi duduk makan bersama.

Dari dasar inilah, Yesus kemudian menjelaskan kepada kaum Farisi dan ahli taurat posisi diri-Nya dan posisi Allah dalam melihat ciptaan-NYA. Yesus menegur mereka tentang pemikiran teologi mereka yang sudah jauh melenceng dari Ajaran Allah (Allah, kemudian Musa senantiasa menekankan bahwa Israel dahulu adalah budak di tanah Mesir, dan bahwa Allah yang membawa mereka keluar dari perbudakan - sehingga bersyukur kepada Allah, kerendahan hati dan kasih terhadap sesama - adalah yang sikap harus dijalankan, bukan sikap seperti yang ditunjukkan oleh kaum Farisi dan ahli taurat).

Struktur Bacaan Luk 15:1-7

a. Awal dan konteks masa itu yang melatar belakangi Yesus menjelaskan sikap-Nya - Luk 15:1-2
b. Perumpamaan tentang domba yang hilang - Luk 15:3-6
c. Arti perumpamaan itu sendiri - Luk 15:7

Ada satu pola terpadu yang dibangun dalam bacaan ini, juga sepanjang Lukas 15: Hilang - Ditemukan - Sukacita yang mewakili arti Berdosa - Bertobat - Keselamatan.

Cukup mudah untuk dimengerti secara jelas apa yang dimaksudkan Yesus dengan perumpamaan ini, dan tidak memerlukan penafsiran yang mendalam, karena Yesus sendiri sudah membuatnya sangat jelas. Sebagai pembanding yang sederhana untuk lebih lebih jelas, dapat kita baca di Mat 9:10-13 (Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.")

Aplikasi

Dari bacaan di atas, ada beberapa pokok penting yang bisa kita pelajari dan terapkan dalam kehidupan kita.

1. Daripada mempersoalkan siapa yang hilang dan ditemukan serta siapa 99 domba dalam perumpamaan ini, hal terpenting yang sebaiknya harus diperhatikan dan ditelaah, adalah bagaimana posisi Tuhan bagi orang berdosa. Perhatikan bahwa ketika ada satu domba yang hilang, posisi aktif untuk menemukan ada di tangan sang gembala, bukan di domba itu yang berusaha kembali - dengan demikian, Allah menemui manusia dan keselamatan kita adalah "hanya" karena Kasih Allah belaka (sola Gratia), bukan hasil kerja manusia. Setelah itu, keselamatan yang diperoleh haruslah senantiasa dikerjakan dengan aktif melalui kasih.

2. Dari Luk 15:2, yaitu ketika Yesus makan bersama orang-orang yang terpinggirkan dalam sosial kemasyarakatan Yahudi - akankah kita sebagai pribadi dan jemaat melaksanakan hal itu pula? atau bahkan kita membangun tembok pemisah dalam kehidupan kita atau bahkan dalam Gereja dan jemaat?
Pelajaran dari sikap Kaum Farisi dan ahli Taurat, membuat kita sebaiknya mengintrospeksi posisi kita sebagai Murid Yesus Kristus. Bagaimana sikap kita selama ini terhadap orang yang (kita anggap) berdosa? Atau bahkan kita membangun tembok pemisah dengan membuat kelompok eksklusif dalam bergaul dan berjemaat sesuai status dan kedudukan duniawi? Bukankah Guru Agung dan Tuhan kita Yesus Kristus datang untuk menghancurkan pemisah itu?

3. Kasih, adalah yang utama dan itulah pesan Yesus Kristus. Kasih Allah bagi Manusia dan Kasih manusia bagi sesama.
Sering dan mudah disebut, tetapi dalam penerapannya, baik pribadi dan jemaat sering kurang berhasil dalam pelaksanaannya – yang cukup berhasil adalah penerapan peraturan dan tradisi, baik adat maupun tradisi gereja. Ini mengingatkan kita supaya tetap menjadi Murid Yesus Kristus dan tidak berubah menjadi Kaum Farisi dan Ahli Taurat yang membuat hukum dan peraturan menjadi segalanya dengan meninggalkan Jiwa Pembuat Hukum dan Peraturan itu sendiri yaitu Allah yang penuh Kasih.

Allah mengutus Yesus untuk menyelamatkan yang terhilang dan berdosa, Yesus memberikan kita Roh Kudus untuk mengerjakan keselamatan yang kita peroleh dalam Kristus, dengan mencari dan membawa pulang yang terhilang. Amin.

ITT - Minggu 24 Juli 2011

Friday, July 15, 2011

Kidung Agung 5:2-8


(Kerinduan Mempelai Perempuan Kid 5:2-8)
5:2 Aku tidur, tetapi hatiku bangun. Dengarlah, kekasihku mengetuk. "Bukalah pintu, dinda, manisku, merpatiku, idam-idamanku, karena kepalaku penuh embun, dan rambutku penuh tetesan embun malam!"
5:3 "Bajuku telah kutanggalkan, apakah aku akan mengenakannya lagi? Kakiku telah kubasuh, apakah aku akan mengotorkannya pula?"
5:4 Kekasihku memasukkan tangannya melalui lobang pintu, berdebar-debarlah hatiku.
5:5 Aku bangun untuk membuka pintu bagi kekasihku, tanganku bertetesan mur; bertetesan cairan mur jari-jariku pada pegangan kancing pintu.
5:6 Kekasihku kubukakan pintu, tetapi kekasihku sudah pergi, lenyap. Seperti pingsan aku ketika ia menghilang. Kucari dia, tetapi tak kutemui, kupanggil, tetapi tak disahutnya.
5:7 Aku ditemui peronda-peronda kota, dipukulinya aku, dilukainya, selendangku dirampas oleh penjaga-penjaga tembok.
5:8 Kusumpahi kamu, puteri-puteri Yerusalem: bila kamu menemukan kekasihku, apakah yang akan kamu katakan kepadanya? Katakanlah, bahwa sakit asmara aku

Kitab Kidung Agung

Kitab Kidung Agung memiliki keunikan tersendiri jika dibandingkan dengan kitab-kitab PL yang lain. Kitab ini berisi ungkapan cinta dalam bahasa dan gambaran yang sangat sensual. Pembacaan sekilas pun sudah cukup untuk menangkap nuansa erotis dalam kitab ini. Ungkapan seperti ini bagi sebagian orang bahkan terkesan sangat vulgar. Keunikan lain berkaitan dengan minimnya atau bahkan tidak adanya nama Allah yang muncul di kitab ini.

Dalam kanon Ibrani kitab ini diberi nama berdasarkan dua kata pertama yang muncul di 1:1, yaitu šîr haššîrîm. Secara hurufiah ungkapan ini berarti “nyanyian dari nyanyian-nyanyian” (Kebiasaan Ibrani Kuno untuk penamaan kitab adalah mengambil kata/kalimat awal pada pembukaan kitab). Berbagai Alkitab bahasa Inggris memilih terjemahan hurufiah sesuai dengan teks Ibrani yang dipakai, yaitu “Song of Songs”. LAI:TB mencoba memperjelas makna yang dikandung dengan memberi judul “Kidung Agung”, walaupun makna yang lebih pas mungkin adalah “Kidung Teragung”. Sebagian orang lebih suka menyebut kitab ini dengan “Canticles” yang diadopsi dari versi Latin Vulgata “Canticum Canticorum”. Judul “Canticles” memiliki arti yang sama persis dengan “Song of Songs”.

Dalam Kanon Kitab Suci Ibrani, Kitab Kidung Agung termasuk pada bagian ketiga yang disebut “Tulisan-tulisan” (Kethubim). Lebih spesifik lagi, kitab ini diletakkan pada posisi pertama dari lima kitab yang biasa disebut Hamesh Megilloth (lihat pembagian Kanon Ibrani di bawah ini) dan yang biasa dibacakan pada perayaan keagamaan Yahudi. Peletakan pada posisi pertama ini sesuai dengan penggunaan Kitab Kidung Agung dalam hari raya keagamaan pertama dalam kalender Yahudi. Dalam kalender Yahudi hari raya pertama adalah Paskah dan dalam tradisi Yahudi pada waktu perayaan ini dibacakan Kitab Kidung Agung, karena kitab ini diyakini sebagai gambaran dari kasih TUHAN kepada umat-Nya.

Pembagian PL Menurut Kanon Ibrani
1. Torah (taurat/Hukum): Kejadian - Keluaran - Imamat - Bilangan - Ulangan
2. Nebiim (Tulisan para Nabi) : Nabi-nabi awal: Yosua, Hakim-hakim, Samuel, Raja-raja + Nabi-nabi yang kemudian: Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, 12 Nabi lain
3. Khetubim (Tulisan lain-lain/sastra & sejarah):
-. Kitab Puisi: Mazmur, Amsal, Ayub
-. Lima Gulungan (Hamesh Megilloth): Kidung Agung, Ruth, Ratapan, Ester, Pengkhotbah
-. Kitab Sejarah: Daniel, Ezra-Nehemia, Tawarikh

Penilis kitab ini kemungkinan besar adalah Salomo, dengan merujuk ke Kid 1:1, dan mengingat Salomo adalah seorang yang ahli menulis lagu (1 Raj 4:32 Ia menggubah tiga ribu amsal, dan nyanyiannya ada seribu lima) dan beberapa kali nama Salomo di sebut dalam kitab ini. Argumen lain berpendapat bahwa ada kemungkinan Salomo hanyalah tokoh utama dalam kitab ini, tetapi bukan sebagai penulis dengan beberapa pandangan bahwa gambaran kasih Salomo di Kidung Agung tidak sejalan dengan kisah hidupnya yang nyata. Kalau dalam kitab ini ia tampak sangat mengagungkan loyalitas cinta sejati pada satu orang, tetapi dalam realita ia memberikan cinta pada banyak wanita (1Raj 11:1 Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het, dan 1 Raj 11:3 Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN.).
Terkait dengan hal ini, jika kehidupan pribadi Salomo berbeda dengan konsep kasih di Kidung Agung, bagaimana mungkin tulisannya dapat dianggap sebagai kitab suci?

Tanggapan terhadap pendapat ini adalah perbedaan antara ungkapan cinta Salomo di Kidung Agung dan kehidupan pribadinya tidak seharusnya dilebih-lebihkan. Tuhan memang tidak memakai manusia sempurna sebagai alatnya (bahkan tidak ada satu manusia pun yang sempurna!). Sebagai perbandingan, walaupun bangsa Israel tahu kesalahan Daud yang besar dalam hal perzinahan (2Sam 11-12) maupun kesombongan (2Sam 24//1Taw 21) mereka tetap menerima berbagai mazmur karangan Daud. Mazmur 51 bahkan menceritakan dosa perzinahan yang dilakukan Daud. Jadi, ketidaksalahan hanya terbatas pada tulisan yang diilhamkan (2Tim 3:16), bukan seluruh kehidupan para penulisnya.

Terlepas dari itu, Kidung agung adalah kitab yang penting dalam tradisi Yahudi, karena ditafsirkan menggambarkan kasih Tuhan kepada Umat-Nya.

Beberapa Cara Penafsiran

1. Penafsiran Alegori (Kiasan).
Penafsiran ini sangat tua dan dipegang selama berabad-abad baik oleh orang Yahudi maupun Kristen, namun pendekatan ini mulai ditinggalkan, karena para Teolog sampai pada suatu pemikiran bahwa.
(a) Alkitab memang menggambarkan kasih TUHAN kepada umat-Nya melalui gambaran suami-istri (bahkan kadangkala secara vulgar juga), namun gambaran itu tetap bukanlah sebuah alegori/kiasan yang tiap detilnya memiliki arti rohani. Gambaran itu lebih merupakan simbol yang bersifat umum daripada sebuah alegori yang detil;
(b) tidak ada petunjuk dalam Kidung Agung yang mendorong kita untuk menganggapnya sebagai sebuah alegori.

2. Penafsiran Drama
Kidung Agung dipahami sebagai sebuah drama tentang kisah asmara Salomo. Ia mula-mula mencintai Sulamit dengan kasih sensual, tetapi akhirnya ia mampu mengasihinya dengan kasih yang murni. Beberapa bahkan mengusulkan bahwa Sulamit menolak cinta Salomo dan tetap berpaut pada kekasihnya, walaupun ia hanyalah seorang gembala. Pendekatan drama ini tercermin dalam terjemahan TNIV (Today’s New International Version) yang memberi petunjuk tentang pembicara dalam setiap bagian.
Walaupun pendekatan ini menarik, tetapi beberapa poin berikut ini sangat melemahkan:
(a) sangat sulit untuk menentukan bagian mana yang merupakan percakapan dari wanita atau laki-laki. Jumlah karakter yang terlibat di dalamnya sangat sulit ditentukan secara pasti. Semua kesulitan ini tampaknya melemahkan ciri-ciri drama dari Kidung Agung;
(b) jenis literatur drama tidak ditemukan dalam bagian lain Alkitab maupun literatur Timur Tengah Kuno lainnya;
(c) Kidung Agung tidak memiliki ciri-ciri drama yang kuat, misalnya narasi atau plot;
(d) Kidung Agung lebih mirip dengan kumpulan lagu daripada sebuah drama.

3. Penafsiran Lagu
Membaca kitab ini sebagai kumpulan lagu. Pandangan ini muncul dalam berbagai variasi. Ada yang menganggap bahwa Kitab Kidung Agung merupakan kumpulan lagu pernikahan, sedangkan yang lain memandang kitab ini sebagai kumpulan lagu asmara secara umum.
Pendekatan ini tampaknya lebih bisa dibenarkan. Beberapa penemuan nyanyian asmara kuno di Timur Tengah menunjukkan kemiripan dengan Kidung Agung. Tradisi perkawinan tempo dulu pun melibatkan beragam nyanyian cinta. Yang terutama, pendahuluan Kidung Agung memang menyebut kitab ini sebagai nyanyian. Walaupun para teolog belum mencapai kata sepakat tentang jumlah nyanyian yang ada maupun kesatuan topik dari semua nyanyian, tetapi pendekatan ini tampaknya jauh lebih masuk akal daripada yang lain.
Dengan mengadopsi pendekatan ini bukan berarti bahwa kita menolak Kidung Agung sebagai gambaran dari kasih TUHAN kepada umat-Nya. Kitab ini tetap mengarah ke sana. Hanya saja kita tidak berusaha menafsirkan setiap detil bagian secara rohani. Kita terlebih dahulu menafsirkan setiap bagian sebagai secara hurufiah sebagai sebuah nyanyian cinta biasa antara suami-isteri. Nyanyian ini mengajarkan tentang keindahan cinta dan seksualitas dalam konteks pernikahan sebagai anugerah TUHAN. Begitu indah dan intimnya gambaran yang dipaparkan sampai-sampai gambaran itulah yang paling tepat merefleksikan kasih TUHAN kepada umat-Nya.

Dalam pemikiran penulis, bila benar Salomo yang menulis Kidung Agung ini, maka hal ini merupakan bakat keturunan dari ayahnya Daud yang juga mempunyai darah seni yang kental.

Pelajaran dari Kidung Agung

Kidung Agung mengajarkan beberapa tema teologis yang penting.

1. Perspektif yang benar tentang seks.

Dua kesalahan ekstrim yang selalu muncul dalam sejarah manusia adalah terlalu mendewakan seks (seks dianggap segala-galanya dan sumber kebahagiaan) dan terlalu merendahkan seks (seks adalah sumber dosa yang harus dihindari). Manusia berusaha mengejar kepuasan seksual untuk mencapai kebahagiaan hidup, sementara yang lain justru rela mengebiri dirinya agar terhindar dari kenikmatan seksual.

Kidung Agung memberikan gambaran ideal tentang seksualitas:
(a) seksualitas sejati adalah antara laki-laki dan perempuan;
(b) seksualitas sejati hanya ada dalam konteks perkawinan;
(c) seks bukanlah sekadar kebutuhan biologis, tetapi ungkapan emosional yang melibatkan cinta, kedekatan, kenikmatan dan dukungan;
(d) seksualitas dan perkawinan menuntut komitmen, loyalitas, integritas dan kesetiaan.

Konsep di atas sejalan dengan bagian Alkitab yang lain. Ketidaksetiaan dalam pernikahan merupakan hal yang dibenci TUHAN (Mal 2:14-16). Hubungan seksual di luar ikatan perkawinan dianggap sebagai dosa yang serius (Kel 20:14; Im 18:22; 20:13; Mat 5:27-28;Rom 1:24-27; 1Kor 6:13, 18; Ef 5:3). TUHAN akan menghukum setiap orang yang melakukan dosa seksual (1Kor 6:9, 18-20; Ibr 13:4).

2. Cinta TUHAN yang sempurna.

Walaupun Kidung Agung menceritakan kisah cinta manusia, tetapi kitab ini tetap mengajarkan kasih yang sesungguhnya dalam relasi kita dengan Allah. Relasi kita dengan TUHAN pun membutuhkan kesetiaan yang penuh. TUHAN bukan hanya menuntut kesetiaan, tetapi Dia sendiri sudah membuktikan diri sebagai Allah yang setia. Karena itu kita tidak boleh seperti bangsa Israel yang meninggalkan TUHAN dan berpaling pada dewa-dewa kafir (Yeh 16, 23; Hos 1-3).
Kitab ini mengingatkan manusia pada TUHAN, Sumber segala cinta. Jika pemberian-Nya saja sudah memberikan sukacita dan kenikmatan yang luar biasa, apalagi Sang Pemberi.

Eksposisi Kidung Agung 5:2-8

Bila diteliti dengan seksama, ayat-ayat ini menyimpulkan beberapa hal dengan berpegang pada pasal 5:2a: Aku tidur, tetapi hatiku bangun. (Bacaan selanjutnya dikategorikan dalam konteks mimpi atau secara nyata mewujudkan ketakutan mempelai perempuan atas konflik dalam cinta-kasih/pernikahan mereka).

a. Ada kerinduan mempelai laki-laki untuk menghampiri mempelai perempuan (5:2)
b. Timbul keengganan dalam benak mempelai perempuan (5:3)
c. Pesona cinta membuat mempelai perempuan berubah pikiran (5:4-5)
d. Mempelai perempuan terkejut, karena ternyata mempelai laki-laki telah pergi (5:6-7)
e. Penolakan berakibat buruk dan berakhir dengan penyesalan (5:8-9)

Timbul konflik dalam hubungan cinta-kasih mereka, karena mempelai perempuan dalam ruang bawah sadarnya, takut akan sesuatu yang belum terjadi - dan konflik terjadi karena itu. Uraian klasiknya adalah:
a. Tidur dengan hati yang bangun karena kerinduan.
b. Hasrat kerinduan mulai memudar karena kekasih yang tak kunjung datang.
c. Ketika menyadari kedatangan kekasihnya, ia berubah dan hendak menyongsong (tangan yang berlumuran mur/wangi-wangian tanda kesiapan).
d. Terlambat, sang kekasih sudah pergi.
e. Panik dan mencari sang kekasih.

Beberapa hal yang boleh kita pelajari dari hal di atas adalah:
a. Cinta memang harus dilandasi kerinduan yang tak pernah padam
b. Kerinduan tidak boleh dipadamkan oleh hasrat lain, seperti kebosanan, prasangka dan cemburu.
c. Hasrat lain yang mengatasi cinta dan kerinduan akan mengakibatkan hal yang buruk dan akhirnya penyesalan.

Aplikasi

Dalam konteks PB, relasi cinta-kasih antara laki-laki dan perempuan adalah ilustrasi hubungan Kristus dan gereja-Nya/jemaat-Nya. Hosea 3:1 Berfirmanlah TUHAN kepadaku: "Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti TUHAN juga mencintai orang Israel, sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis." - Rasul Paulus mengungkapkan itu dalam Ef 5:32 = Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.
Dengan demikian, kita dapat memakaikannya pada teks di atas sbb:

a. Gereja/Jemaat Kristus harus tetap melandasi dirinya dengan Cinta Kasih akan Kristus yang menyala-nyala. Yesus Kristus memerintahkan supaya "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu", Rasul Paulus mengungkapkan cara hidup jemaat untuk hidup dalam Kasih di Roma 12:9-21, dengan mengamalkan Kasih terhadap Allah dengan mengasihi sesama.

b. Kasih terhadap Allah yang menyala-nyala, tidak boleh diinterprestasikan dengan hanya melihat ke diri kita sendiri, sehingga ketika kita tidak memperoleh sesuatu yang kita ingini, atau berkekurangan - maka Kasih itu memudar dan padam. Interprestasikan Kasih Allah dengan menempatkan diri kita sendiri senantiasa sebagai bagian aktif dari Kasih itu sendiri, yang dalam keadaan apapun juga, tetap mengasihi Allah dan sesama. Dengan mindset/pola pikir ini, jemaat Kristus akan terhindar dari cemburu. Rasul Paulus menegaskan itu dalam 1 Kor 13:4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

c. Hubungan intim antara sesama, secara khusus antara laki-laki dan perempuan haruslah didasari pada prinsip kekudusan antara hubungan Manusia dan Allah, Gereja dan Yesus Kristus, dan diri pribadi kita dengan Roh Kudus.

ITT - Jumat, 15 Juli 2011 PF PKB 3 di Bpk.Ronald Patty

Wednesday, July 6, 2011

Ulangan 15:7-11

Bukalah tanganmu lebar-lebar

Ulangan 15:7-11
15:7 Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu,
15:8 tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan.
15:9 Hati-hatilah, supaya jangan timbul di dalam hatimu pikiran dursila, demikian: Sudah dekat tahun ketujuh, tahun penghapusan hutang, dan engkau menjadi kesal terhadap saudaramu yang miskin itu dan engkau tidak memberikan apa-apa kepadanya, maka ia berseru kepada TUHAN tentang engkau, dan hal itu menjadi dosa bagimu.
15:10 Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan janganlah hatimu berdukacita, apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu.
15:11 Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu."


Sekilas Mengenai Kitab Ulangan

Kitab Ulangan ditulis oleh Musa dan kemungkinan ditambahkan oleh Yosua yang mencatat kematian Musa di Pasal 34. Ulangan adalah kitab ke-5 dari Pentateukh.
Ulangan diterjemahkan dari bahasa Inggris Deuteronomy, dari kata Yunani "Deuteronomion" yang berarti "Pemberian Hukum yang kedua". Dari bahasa aslinya kitab ini diberi nama 'elleh haddebarim yang berarti "Inilah perkataan-perkataan" sebagai awalan Ulangan 1:1.
Kitab ini ditulis Musa di dataran Moab kepada geberasi baru Israel yang akan masuk ke Tanah Kanaan. Hukum kedua ini adalah hukum yang diperbarui sesuai situasi dan kondisi Israel yang nantinya tidak lagi sebagai bangsa pengembara, tetapi sebagai bangsa yang akan menetap di Tanah yang diberikan Allah dengan Perjanjian kepada mereka.
Kitab ini dipersiapkan Musa sebagai suatu kesaksian bagi generasi pelanjut Israel Ul 31:26-27 (31:26 "Ambillah kitab Taurat ini dan letakkanlah di samping tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, supaya menjadi saksi di situ terhadap engkau. 31:27 Sebab aku mengenal kedegilan dan tegar tengkukmu. Sedangkan sekarang, selagi aku hidup bersama-sama dengan kamu, kamu sudah menunjukkan kedegilanmu terhadap TUHAN, terlebih lagi nanti sesudah aku mati).

Latar Belakang Bacaan

Diberi perikop oleh LAI Ulangan 15:1-11 Tahun Penghapusan Hutang. Berlatar pada:
1. Kel 23:10-11 (Kel 23:10 Enam tahunlah lamanya engkau menabur di tanahmu dan mengumpulkan hasilnya, 23:11 tetapi pada tahun ketujuh haruslah engkau membiarkannya dan meninggalkannya begitu saja, supaya orang miskin di antara bangsamu dapat makan, dan apa yang ditinggalkan mereka haruslah dibiarkan dimakan binatang hutan. Demikian juga kaulakukan dengan kebun anggurmu dan kebun zaitunmu.)
2. Imamat 25:1-7 (25:1 TUHAN berfirman kepada Musa di gunung Sinai: 25:2 "Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila kamu telah masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepadamu, maka tanah itu harus mendapat perhentian sebagai sabat bagi TUHAN. 25:3 Enam tahun lamanya engkau harus menaburi ladangmu, dan enam tahun lamanya engkau harus merantingi kebun anggurmu dan mengumpulkan hasil tanah itu, 25:4 tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi TUHAN. Ladangmu janganlah kautaburi dan kebun anggurmu janganlah kaurantingi. 25:5 Dan apa yang tumbuh sendiri dari penuaianmu itu, janganlah kautuai dan buah anggur dari pokok anggurmu yang tidak dirantingi, janganlah kaupetik. Tahun itu harus menjadi tahun perhentian penuh bagi tanah itu. 25:6 Hasil tanah selama sabat itu haruslah menjadi makanan bagimu, yakni bagimu sendiri, bagi budakmu laki-laki, bagi budakmu perempuan, bagi orang upahan dan bagi orang asing di antaramu, yang semuanya tinggal padamu. 25:7 Juga bagi ternakmu, dan bagi binatang liar yang ada di tanahmu, segala hasil tanah itu menjadi makanannya.)

Perikop Ul 15:1-11 adalah peraturan pelaksanaan dari Tahun perhentian/tahun sabat, perihal penghapusan hutang dan tata-caranya.

Eksposisi

-. Ul 15:7-8 (7 Jika sekiranya ada di antaramu seorang miskin, salah seorang saudaramu di dalam salah satu tempatmu, di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, maka janganlah engkau menegarkan hati ataupun menggenggam tangan terhadap saudaramu yang miskin itu, 8 tetapi engkau harus membuka tangan lebar-lebar baginya dan memberi pinjaman kepadanya dengan limpahnya, cukup untuk keperluannya, seberapa ia perlukan.)

menegarkan hati = mengeraskan hati (KBBI)
menggenggam = memegang dengan tangan terkepal (KBBI)

perhatikan kata: janganlah (ay7) dan harus (ay8).

Perihal pemberian pinjaman, oleh Tuhan Yesus ditegaskan dalam Lukas 6:34 Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. 6:35 Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. 6:36 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."

-. Ul 15:9-10 (15:9 Hati-hatilah, supaya jangan timbul di dalam hatimu pikiran dursila, demikian: Sudah dekat tahun ketujuh, tahun penghapusan hutang, dan engkau menjadi kesal terhadap saudaramu yang miskin itu dan engkau tidak memberikan apa-apa kepadanya, maka ia berseru kepada TUHAN tentang engkau, dan hal itu menjadi dosa bagimu. 15:10 Engkau harus memberi kepadanya dengan limpahnya dan janganlah hatimu berdukacita, apabila engkau memberi kepadanya, sebab oleh karena hal itulah TUHAN, Allahmu, akan memberkati engkau dalam segala pekerjaanmu dan dalam segala usahamu.)

-. Pikiran dursila => dursila = buruk kelakuan; jahat (KBBI) => dengan pikiran jahat; bahwa kalau sudah dekat tahun penghapusan hutang, jangan memberi pinjaman!
-. Berseru kepada Tuhan = ingat Israel ketika menderita di Mesir, mereka berseru kepada Tuhan dan Tuhan menjawab mereka dengan mengeluarkan mereka dari Mesir ==> dosa bagi Mesir. Bandingkan bacaan hari minggu 3 Juli Kel 22:23-24: Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring. Maka murka-Ku akan bangkit dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga isteri-isterimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim.

Memberi dengan limpahnya dari perspektif Tuhan Yesus diajarkan di Mat 5:7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Dan diperintahkan Tuhan Yesus di Mat 5:42 Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu.

-. Ul 15:11 (15:11 Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu.")

ay 11 menekankan kembali supaya membuka tangan lebar-lebar. Mengapa? Karena cara hidup Israel seperti yang diperintahkan Musa ini, akan mengentaskan kemiskinan - lihat ke Ul 15:3-4 (3 Dari seorang asing boleh kautagih, tetapi piutangmu kepada saudaramu haruslah kauhapuskan. 4 Maka tidak akan ada orang miskin di antaramu, sebab sungguh TUHAN akan memberkati engkau di negeri yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu untuk menjadi milik pusaka, ...) - Bukankah seluruh Hukum Tuhan ini diturunkan karena IA mengasihi manusia?

Dari ayat 11 ini, kita jadi memahami bahwa Allah menghendaki kehadiran Israel adalah untuk menjadi berkat bagi sesama. Itulah juga yang dikehendaki Yesus Kristus dengan kita dan jemaat-NYA, untuk membuka tangan lebar-lebar bagi saudara kita dan sesama kita yang menderita – untuk menjadi berkat bagi sesama dengan memenuhi Hukum Kasih.

Perhatikan bahwa, kehadiran Yesus Kristus dalam pelayanan-NYA di dunia, berkisar pada pelayanan orang-orang miskin dan menderita (Mat 11:4 Yesus menjawab mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: 11:5 orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik)

Penerapan

Bila kita sebagai pribadi, keluarga maupun jemaat berkekurangan, kita berseru minta tolong kepada Tuhan. IA menjawab seruan kita dengan melimpahi kita dengan berkat sukacita, damai sejahtera dan materi. Ketika semua berkat itu boleh saya peroleh, tidakkah aneh bila kita hanya ingin mempertahankannya tanpa membagikan kepada orang yang berkekurangan? Tidakkah aneh bila keluarga kita mempunyai kelimpahan berkat tetapi menutup mata dari kesulitan hidup keluarga lain? Tidakkah aneh bila jemaat kita melimpah ruah dalam berkat tetapi berpaling dari jemaat atau sesama yang berkesulitan hidup?

Allah mengajarkan Kasih-NYA yang besar kepada Israel dengan membebaskan mereka dari Mesir dan memberi mereka Tanah Perjanjian, Allah mengajarkan Kasih-NYA yang besar kepada kita dengan membebaskan kita dari dosa melalui Yesus Kristus dan memberi kita hidup kekal - Untuk semuanya itu Allah menghendaki kita bersyukur dan "tahu diri" dengan mengasihi-NYA melalui mengasihi sesama.

1 Yoh 3:17 Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? 3:18 Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

ITT - 6 Juli 2011 K3 SP3C di Kel.Rusli Sutiono

Thursday, June 30, 2011

Keluaran 22:21-24


Memperdulikan sesama yang tidak berdaya


Keluaran 22:21-24
22:21 "Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.
22:22 Seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas.
22:23 Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring.
22:24 Maka murka-Ku akan bangkit dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga isteri-isterimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim.


Latar Belakang

Setelah Allah menurunkan Dekalog, IA kemudian mengatur hukum-hukum pokok itu dan menerjemahkannya dalam peraturan-peraturan pelaksanaan (Kel 21:1 "Inilah peraturan-peraturan yang harus kaubawa ke depan mereka.).
Keluaran 21 s/d 23 mengatur peraturan-peraturan tersebut, yang didasarkan pada Dekalog, peraturan mana yang kemudian kita kenal sebagai Hukum Musa.

Bagian bacaan kita minggu ini adalah peraturan pelaksanaan mengenai orang-orang yang tidak mampu (Kel 22:21-27) - dimana bacaan kita ini adalah paruh pertama dari peraturan tersebut, yaitu mengenai bagaimana perlakuan umat Israel terhadap kaum asing dan miskin, sementara mereka harus tetap menjaga supaya budaya asing perihal penyembahan ilah asing tidak mempengaruhi mereka, tetapi juga mereka harus menunjukkan kasih dan keadilan terhadap kaum asing dan miskin ini.
Mereka bukan hanya harus menghindari kesewenangan tetapi juga harus berbuat baik secara aktif (Kel 22:26-27 Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam, sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya -- pakai apakah ia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih.").
Yesus Kristus kemudian dalam penggenapan-Nya berbicara mengenai Kasih yang aktif ini dalam Mat 5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu - dan juga dilaksanakan oleh Rasul Paulus dalam ajarannya di Roma 12:14 Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!

Kaum Minoritas

Kaum minoritas di Israel pada masa itu dapat dibagi dalam:
-. Orang Asing (Kel 22:21 "Janganlah kautindas atau kautekan seorang orang asing, sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.)
Pada masa itu, orang Asing yang menetap bersama orang Israel, mempunyai kelemahan karena mereka dianggap berbeda di mata hukum, politik, sosial ekonomi dan kepercayaan.
-. Janda dan anak Yatim (Kel 22:22 Seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas)
Pada masa itu, seorang janda mempunyai kedudukan hukum yang sangat lemah. mereka bahkan tidak dapat memiliki tanah atas nama mereka sendiri. Janda-janda secara terpaksa harus bekerja dan menjadi buruh untuk menghidupi keluarga mereka, dan ketika mereka tua dan lemah, mereka hanya hidup dari belas kasihan orang disekitarnya. Demikian pula halnya bagi anak-anak yatim, yang hanya menggantungkan hidup mereka pada belas kasihan masyarakat.

Peringatan Tuhan Lewat Sejarah

Memakai kata menindas dan menekan pada ayat-ayat di atas, Allah memperingati umat Israel, supaya tidak mengambil keuntungan dari kelemahan kaum minoritas ini. Bagaimana mereka supaya tidak berlaku sewenang-wenang atas keadaan mampu yang merupakan anugerah Allah, serta mengeksploitasi kaum minoritas ini untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya bagi diri sendiri.

Allah mengingatkan dengan memakai sejarah kaum Israel, pada keadaan mereka sebelumnya ketika mereka sendiri pernah menjadi kaum minoritas di tanah Mesir (Kel 22:21b sebab kamu pun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir. - Im 19:33-34 Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia. Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.)

Pentingnya sejarah ini diingat, adalah untuk menghasilkan rasa bersyukur kepada Allah atas kemerdekaan yang dianugerahkan-Nya. Hari-hari yang pernah mereka lalui dalam penindasan seperti kerja rodi dan paksa dalam lumpur, panas dan lapar serta siksaan, bukanlah suatu hal yang pahit saja, tetapi itu merupakan suatu bentukan Allah atas karakter mereka, supaya ketika mereka terbebas dan akhirnya menjadi suatu bangsa yang kuat, mereka tidak berlaku sama seperti apa yang mereka terima di Mesir dahulu.
Dalam komunitas PB, Rasul Paulus menasihatkan Murid-murid Kristus dengan motivasi yang sama untuk mengingat sejarah dalam Ef 2:12-13 bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu "jauh", sudah menjadi "dekat" oleh darah Kristus.

Keselamatan yang kita peroleh melalui Yesus Kristus, haruslah senantiasa dan selamanya melekat dengan sikap kita dengan memberikan syukur yang tidak berkesudahan dengan melaksanakan pelayanan kasih. Itulah yang membedakan kita dari dunia, karena kita sudah ditebus melalui tebusan yang jauh lebih bernilai dari sekedar darah anak domba, yaitu darah Anak Domba Allah - yang memerdekakan kita dari perbudakan dosa dan iblis dan mengangkat kita menjadi anak-anak Allah dalam Yesus Kristus.

Seruan dan Hukuman

Untuk lebih jauh mengingatkan Israel, Tuhan melanjutkan menggunakan metafora keluarnya Israel dari Mesir untuk memperlihatkan akibat kalau mereka tetap menindas dan menekan kaum minoritas ini.
Sebagaimana Tuhan tergerak dengan teriakan minta tolong Israel dan memperlihatkan Kuasa-Nya atas Alam Ciptaan-Nya dengan tulah dan akhirnya memusnahkan firaun dengan air Laut Merah, disinipun Tuhan mengingatkan dengan ayat 23: Jika engkau memang menindas mereka ini, tentulah Aku akan mendengarkan seruan mereka, jika mereka berseru-seru kepada-Ku dengan nyaring. Serta akibatnya di ayat 24 Maka murka-Ku akan bangkit dan Aku akan membunuh kamu dengan pedang, sehingga isteri-isterimu menjadi janda dan anak-anakmu menjadi yatim.

Sejarah Israel mencatat itu, ketika mereka berbalik melawan Allah dan tidak mematuhi dan melaksanakan perintah-Nya, maka terjadi kejatuhan Israel dalam pembuangan dan perbudakan kembali. Allah memakai Kerajaan Asyur dan Babel untuk mengangkat Israel keluar dari tanah perjanjian atas perlawanan Israel terhadap Allah.
Ketika umat Tuhan menindas dan menekan kaum asing dan miskin, mereka bukan hanya sekedar tidak mematuhi Peraturan Pelaksanaan Hukum Tuhan, tetapi juga mereka menodai sejarah bangsa mereka dan menjadi bangsa yang "Tidak Tahu Diri", menodai "Tindakan Penyelamatan Allah" yang membuat mereka kuat seperti sekarang ini.

Aplikasi

Belajar dari bacaan kita di Hari Minggu ini, sebagai Murid-murid Yesus Kristus, kita dingatkan pula untuk memberlakukan Kasih secara aktif kepada kaum minoritas, dengan memperhatikan beberapa hal;

1. Dekalog yang secara padat dirangkum Yesus dalam Mat 22:37-39 hendaknya kita berlakukan dalam konteks kehidupan nyata, dengan memperdulikan kaum miskin atau menderita. Terkadang kita berpikir, Ya Tuhan ... akulah kaum miskin itu ....akulah yang menderita? Benarkah demikian? Apakah kita sudah menghitung berkat-berkat yang kita terima dengan teliti? Berkat yang terbesar yaitu Keselamatan atas Dosa yang di tebus Yesus Kristus hendaknya kita letakkan paling depan, dan dengan demikian syukur kita akan tidak berkesudahan - Dan atas pelaksanaannya, (mengutip dari aplikasi pekan lalu) bahwa Hukum Kasih diberikan sebagai berkat, dan syukur atas berkat itu adalah melaksanakannya, mengasihi sesama seperti mengasihi diri kita sendiri sebagai wujud mengasihi Allah.

2. Dari pembelajaran di atas, Allah menghendaki kita untuk senantiasa berseru kepada-Nya. Dalam ketertindasan dan kesesakan kita berseru dengan nyaring dan Allah mendengar serta melepaskan kita, dan ketika kita terlepas dan tumbuh kuat, apakah kita mau tertindas kembali dengan melalaikan pelayanan kasih bagi kaum miskin dan menderita? Sejarah Israel, Sejarah orang-orang yang diselamatkan Kristus, sejarah kehidupan kita ingatlah senantiasa, supaya kita tidak terjatuh ke dalam penindasan dan perbudakan dosa. Ketika lemah kita berseru, ketika kuat kita lupa diri - Itu yang tidak dikehendaki Allah.

3. Belajar dari Kisah Israel di PL, khususnya di Kitab Rut, ketika orang asing, janda dan anak yatim diperlakukan dengan kasih, maka era kegelapan suatu bangsa dibangkitkan dengan suatu era baru - Daud muncul, yang kemudian menjadi garis keturunan Yesus Kristus Anak Allah. Bandingkan dengan bacaan kita, seakan Allah berkata kepada kita "Jangan bersikap seperti Firaun yang senantiasa menindas kaum-KU, tetapi jadilah seperti Keluarga Allah yang senantiasa memperdulikan yang tidak berdaya, maka berkat-KU akan mengalir senantiasa, melalui kamu, kepada generasi penerusmu.”

4. Penggenapan Yesus Kristus dinyatakan dalam Mat 25:45-46 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal. - Dari ayat sebelumnya di Mat 25:42-44, kita belajar, bahwa Kasih itu aktif, dan Pelayanan Kasih bukan melulu pemberian secara finansial.

ITT - Minggu, 3 Juli 2011

Sunday, June 26, 2011

Keluaran 20:1-11


Allah yg harus disembah dan dimuliakan

Kel 20:1-11
20:1 Lalu Allah mengucapkan segala firman ini:
20:2 "Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan.
20:3 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.
20:4 Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.
20:5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,
20:6 tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.
20:7 Jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan.
20:8 Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat:
20:9 enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu,
20:10 tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.
20:11 Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.


Pendahuluan

Sekitar kurang lebih 3,300 tahun yang lalu, Allah memberikan Sepuluh Perintah kepada umat Israel. Hal ini menarik untuk diingat bahwa peristiwa itu terjadi di atas Gunung Sinai, yang terletak di negara Saudi Arabia saat ini. Sebelum Sepuluh Perintah diberikan, umat Israel telah diperbudak di Mesir selama lebih dari empat ratus tahun. Tetapi, kemudian Allah melepaskan umat pilihan-Nya dan menuntun mereka keluar dari perbudakan di Mesir menuju tanah yang sudah dijanjikan pada mereka. Tanah ini disebut Tanah Perjanjian, yaitu tanah di mana Anak Manusia akan dilahirkan 1,300 tahun kemudian. Selama 40 tahun, bangsa Yahudi harus mengembara di padang belantara menunggu Allah mengijinkan mereka memasuki Tanah Perjanjian. Mengapa? Karena Allah mempunyai banyak pelajaran yang akan diberikan kepada umat Israel sebelum IA mengijinkan mereka memiliki tanah tersebut.

Bahasa Ibrani untuk dekalog adalah aseret had d’barim. Dekalog adalah kata yang diambil dari bahasa Yunani. ‘Deka’ (sepuluh) dan ‘log - logos’(kata). Jadi, ‘dekalog’ berarti sepuluh kata, sepuluh firman atau sepuluh perintah. Kesepuluh Perintah Tuhan ini terdapat dalam Keluaran 20:1-17 dan Ulangan 5:1- 21.
Merupakan suatu yang penting untuk meninjau dekalog dari berbagai aspek, karena dengan memiliki pengertian yang benar terhadap dekalog kita akan dibawa untuk menggumuli dekalog dengan sikap hati yang benar pula.

Dari bacaan sebelumnya di Kel 19, kita dapat mengetahui bahwa:
a. 10 Hukum Tuhan diberikan di Gunung Sinai (Kel 19:1-9) dan
b. 10 Hukum Tuhan diberikan oleh Allah yang Kudus (Kel 19:10-13)
Dari bacaan ini dan sesudahnya, kita dapat pula mengetahui bahwa:
c. 10 Hukum Tuhan diberikan kepada Umat-Nya Israel (kel 20)
d. 10 Hukum Tuhan diberikan dalam 2 bagian (Kel 31:18, Kel 32:15-16)

Pembagian 10 Hukum Tuhan

Dekalog yang terdiri dari sepuluh firman tersebut adalah butir-butir hukum Tuhan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Seluruhnya merupakan satu kesatuan yang saling terkait. Pelanggaran terhadap salah satu butir hukum tersebut berarti melanggar keseluruhan dari hukum tersebut (Yak. 2:10 = Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.).

Para Teolog umumnya membagi Dekalog ini menjadi dua bagian, - berdasarkan Kesimpulan yang Tuhan Yesus berikan atas pertanyaan Hukum mana yang terutama di Mat 22:37-39 (Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri) - Pembagian tersebut yaitu:

1. Bagian pertama terdiri dari hukum kesatu sampai keempat (Kel 20:2-11). Bagian ini merupakan hukum-hukum yang mengatur hubungan umat dengan Allah.
Hukum ke 1 (Kel 20:3)
Hukum ke 2 (Kel 20:4-6)
Hukum ke 3 (Kel 20:7)
Hukum ke 4 (Kel 20:8-11)
2. Bagian kedua terdiri dari hukum kelima sampai kesepuluh (Kel 20:12-17). Bagian ini merupakan hukum-hukum yang mengatur hubungan antar sesama.
Hukum ke 5 (Kel 20:12)
Hukum ke 6 (Kel 20:13)
Hukum ke 7 (Kel 20:14)
Hukum ke 8 (Kel 20:15)
Hukum ke 9 (Kel 20:16)
Hukum ke 10 (Kel 20:17)

Maksud Tuhan dan pengertian manusia.

Menilik 10 Hukum Tuhan, biasanya akan bermuara pada suatu sikap untuk berusaha mengetahui dan mempelajari perintah-perintah itu. Ada 2 (dua) dari sekian banyak perspektif yang akan coba dikemukakan dalam hal pekan ini, dalam bentuk pertanyaan dan jawaban: "Sebagai Murid Tuhan Yesus, mengapa kita perlu mempelajari 10 Hukum Tuhan?"

1. Pada masa sekarang ini kita perlu mempelajari 10 Hukum Tuhan untuk mengingatkan kita atas "Apa yang menjadi standar kebenaran di Mata Tuhan"

Mengapa hal ini penting? Karena standar kebenaran menurut ukuran manusia dan dunia, saat ini sudah sangat jauh bergeser dari standar kebenaran dan moralitas. Kebenaran saat ini telah menjadi sebuah selera dan moralitas telah menjadi ukuran bebas secara individual.
Rasul Paulus telah mengingatkan kita tentang keadaan sekarang ini dalam 2 Tim 3:1-8 (Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu, yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran. Sama seperti Yanes dan Yambres menentang Musa, demikian juga mereka menentang kebenaran. Akal mereka bobrok dan iman mereka tidak tahan uji.)

Mari lihat keadaan dunia sekitar kita, negara kita, lingkungan kita, jemaat kita bahkan keluarga dan pribadi kita. Berapa longgar nilai kebenaran dan kejujuran serta nilai moral yang jauh bergeser dari Dekalog?

Jadi dari pertanyaan di atas perihal perlunya mempelajari Dekalog, adalah sangat penting mempelajari, memahami dan melakukan Dekalog ini sebagai standar kehidupan, khususnya kehidupan sebagai murid Tuhan Yesus agar kita tidak tercemar oleh standar duniawi, tetapi tetap dalam standar yang diberikan oleh Tuhan.
Lebih jauh lagi, perlunya mempelajari Dekalog adalah untuk;

2. Menghindari kesalahpahaman atas maksud Dekalog ini sendiri.

Pemakaian istilah "Perintah" biasanya ditangkap dalam konotasi negatif oleh manusia, dengan mengartikannya sebagai Hukum dan beban yang berat yang harus dipikul dan ditaati.
Perhatikan Ulangan 10:12-13 = 10:12 "Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, 10:13 berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu.
Kalimat terakhir mengatakan "supaya baik keadaanmu" menandakan KASIH ALLAH dan bukan tekanan Allah bagi manusia dengan perintah ini dan itu. Ditegaskan kemudian di Yer 29:11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

Yesus Kristus kemudian menekankan dalam rangkuman-Nya atas Dekalog dengan kalimat "Kasihilah ...." yang menandakan pengajaran-Nya bahwa Allah itu penuh Kasih, dan karena IA penuh Kasih, maka kitapun wajib mengasihi ALLAH. Bandingkan, bahwa Kasih Allah melepaskan Israel dari perbudakan, dan baru kemudian memberikan Dekalog untuk mengantar mereka ke Tanah Perjanjian, bukan sebaliknya, Dekalog baru kemudian melepaskan mereka.

Jadi Dekalog berkonotasi positif, dengan maksud untuk melindungi Israel dan kemudian kita semua dalam perjalanan kehidupan kita. Melindungi kita dari akibat dosa, melindungi kita dari keterasingan kita terhadap Tuhan.
Dengan perspektif ini, maka Dekalog bukanlah suatu perintah lagi, melainkan suatu "Pernyataan Kasih" dari Allah pencipta kepada kita manusia ciptaan-Nya. Ten Commandments menjadi Tender (lembut) Commandments - 10 Perintah adalah 10 Pernyataan Ungkapan Kasih Allah!

Aplikasi

Setelah memahami Dekalog sebagai wujud Kasih Allah, dalam konteks bacaan kita minggu ini yaitu Hukum 1 s/d 4, yaitu pernyataan Allah tentang maka sebagai Murid Tuhan Yesus kita wajib menyembah dan memuliakan Allah dengan jalan melaksanakan Hukum 5 s/d 10.

Perhatikan kalimat Tuhan Yesus dalam Mat 22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Kalimat “yang sama dengan itu” (itu = Mat 22:38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama) menunjuk kepada Mat 22:37 = Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.

Anugerah Kasih dalam Hukum 1-4 adalah melaksanakan Hukum 5-10. Amin

ITT – Minggu 26 Juni 2011

Wednesday, June 22, 2011

2 Korintus 8:1-7


Kasih: Siap memberi dalam kekurangan

2 Kor 8:1-7
8:1 Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.
8:2 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.
8:3 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.
8:4 Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.
8:5 Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.
8:6 Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya.
8:7 Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, -- dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami -- demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.


Latar Belakang

Kisah Perjalanan Rasul Paulus, ditandai juga dengan pengumpulan dana bagi orang-orang kudus di Yerusalem. Pengumpulan dana itu berlangsung sekitar 5 tahun (Thn 52-57 M). Dana itu terkumpul dari jemaat-jemaat di Galatia, Makedonia, Akhaya dan Asia Kecil. Perwakilan dari jemaat-jemaat itulah yang kemudian menemani Rasul Paulus ketika ia membawa bantuan itu ke Yerusalem.

Bantuan ditujukan kepada saudara-saudara Yahudi Kristen yang keadaannya dilukiskan dalam Kis 11:27-30 (Pada waktu itu datanglah beberapa nabi dari Yerusalem ke Antiokhia. Seorang dari mereka yang bernama Agabus bangkit dan oleh kuasa Roh ia mengatakan, bahwa seluruh dunia akan ditimpa bahaya kelaparan yang besar. Hal itu terjadi juga pada zaman Klaudius. Lalu murid-murid memutuskan untuk mengumpulkan suatu sumbangan, sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing dan mengirimkannya kepada saudara-saudara yang diam di Yudea. Hal itu mereka lakukan juga dan mereka mengirimkannya kepada penatua-penatua dengan perantaraan Barnabas dan Saulus.).
Pada zaman itu pula, bangsa Yahudi dikenakan pajak yang besar, bahkan pajak berganda, karena mereka harus membayar pajak kepada Kekaisaran Roma dan Pemerintahan Yahudi.

Secara global dapat kita lihat Karya Tuhan dengan mengizinkan kekurangan di Yerusalem dan bantuan dari jemaat-jemaat Kristen pertama, yaitu bahwa jurang perbedaan antara golongan Yahudi Kristen dan Non-Yahudi Kristen menjadi punah, karena perasaan sepenanggungan dalam Kristus yang erat dan kental sehingga saling membantu seperti jemaat mula-mula di Yerusalem pun terjadi di jemaat-jemaat di luar Yerusalem.

Selebihnya tentang penyampaian bantuan itu ditulis oleh Rasul Paulus di Kis 15:25-27 Tetapi sekarang aku sedang dalam perjalanan ke Yerusalem untuk mengantarkan bantuan kepada orang-orang kudus. Sebab Makedonia dan Akhaya telah mengambil keputusan untuk menyumbangkan sesuatu kepada orang-orang miskin di antara orang-orang kudus di Yerusalem. Keputusan itu memang telah mereka ambil, tetapi itu adalah kewajiban mereka. Sebab, jika bangsa-bangsa lain telah beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah juga bangsa-bangsa lain itu melayani orang Yahudi dengan harta duniawi mereka.

Surat 2 Korintus

2Kor1:1 Dari Paulus, yang oleh kehendak Allah menjadi rasul Kristus Yesus, dan dari Timotius saudara kita, kepada jemaat Allah di Korintus dengan semua orang kudus di seluruh Akhaya.
Surat ini ditulis Rasul Paulus dari Makedonia di sekitar tahun 56 M.

Paulus berjanji di dalam suratnya yang pertama, bahwa dia akan mengunjungi mereka setelah dia melintasi Makedonia dan mungkin tinggal di situ selama musim dingin (1 Kor.16:5-9). Kelihatannya, Paulus tidak datang, dan ada orang-orang di dalam jemaat yang mengeritik Paulus karena dia tidak memenuhi janjinya (2 Kor. 1:15-2:1). Lagi pula ada orang-orang di Korintus yang mengeritik Paulus tentang beberapa hal seperti menyalahgunakan sumbangan yang dikumpulkannya dari jemaat-jemaat untuk jemaat di Yerusalem (2 Kor. 8:19-21;12:17,18). Mereka berkata bahwa Paulus bukan seorang rasul benar (2 Kor. 12:11,12). Mereka berkata bahwa Paulus berani dalam suratnya, tetapi lemah dan takut kalau berhadapan muka (2 Kor. 10:1,9-11). Mereka berkata bahwa Paulus tidak meminta dibayar waktu memberitakan injil di antara mereka, maka pemberitaannya tidak berharga atau berguna (2 Kor. 11:6-12). Jadi Paulus juga menulis surat ini untuk menjawab tantangan-tantangan orang lain terhadap Paulus sendiri dan membela kerasulannya.

Garis Besar surat 2 Kor ini adalah:
I. Paulus membela dirinya dan pelayanannya (1-7)
II. Persembahan untuk orang Kristen di Yerusalem (8-9)
III. Paulus membela kerasulannya (10:1-12:19)
IV. Rencana Paulus untuk mengunjungi lagi (12:20-13:14)

Jemaat-jemaat Makedonia

Yang dimaksud oleh Rasul Paulus dengan jemaat-jemaat Makedonia pada konteks bacaan ini (2Kor8:1), adalah:
-. Jemaat Filipi
-. Jemaat Tesalonika
-. Jemaat Berea
(lihat peta di Alkitab - Makedonia sekarang adalah Yunani)

Dengan demikian, gambaran Paulus bahwa jemaat-jemaat Makedonia berada dalam pelbagai penderitaan dan sangat miskin dapat kita cocokkan dengan apa yang ia gambarkan dalam:
-. Fil 1:27-30 = Hanya, hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus, supaya, apabila aku datang aku melihat, dan apabila aku tidak datang aku mendengar, bahwa kamu teguh berdiri dalam satu roh, dan sehati sejiwa berjuang untuk iman yang timbul dari Berita Injil, dengan tiada digentarkan sedikit pun oleh lawanmu. Bagi mereka semuanya itu adalah tanda kebinasaan, tetapi bagi kamu tanda keselamatan, dan itu datangnya dari Allah. Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia, dalam pergumulan yang sama seperti yang dahulu kamu lihat padaku, dan yang sekarang kamu dengar tentang aku.
-. 1Tes2:14 = Sebab kamu, saudara-saudara, telah menjadi penurut jemaat-jemaat Allah di Yudea, jemaat-jemaat di dalam Kristus Yesus, karena kamu juga telah menderita dari teman-teman sebangsamu segala sesuatu yang mereka derita dari orang-orang Yahudi.
-. 2Tes1:4-5 .... sehingga dalam jemaat-jemaat Allah kami sendiri bermegah tentang kamu karena ketabahanmu dan imanmu dalam segala penganiayaan dan penindasan yang kamu derita: suatu bukti tentang adilnya penghakiman Allah, yang menyatakan bahwa kamu layak menjadi warga Kerajaan Allah, kamu yang sekarang menderita karena Kerajaan itu.

Karakteristik jemaat-jemaat di Makedonia dapat kita kenal dari nasihat Paulus kepada jemaat di Tesalonika dalam 1Tes 4:9-10 Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah. Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya.

Dari Makedonia ini pulalah, surat 2 Korintus ini ditulis Rasul Paulus.

Jemaat Korintus

Berbeda dengan jemaat-jemaat Makedonia, jemaat di Korintus hidup dalam keadaan ekonomi yang cukup, bahkan melimpah, karena Korintus adalah kota perdagangan yang besar yang dihampiri oleh kapal-kapal dagang dari berbagai negara.
Korintus adalah ibu kota propinsi Akhaya dan adalah kota terbesar dan terpenting di daerah itu. Kota Korintus terletak di antara dua pelabuhan yang penting: Pelabuhan di kota Kengkrea pada Teluk Saronika sekitar 9 km dari Korintus, dan pelabuhan di kota Lekhaion pada Teluk Korintus sekitar 3 km dari Korintus. Ada kapal-kapal muatan yang berlabuh pada dua pelabuhan itu dan muatannya dibongkar dan dimuat di dalam kereta-kereta dan diangkut ke pelabuhan sebelah untuk dimuat pada kapal lain yang menunggu di situ. Ini menghemat waktu dan risiko dari pada kapal-kapal itu harus berlayar 350 kilometer keliling tanjung Akhaya itu. Oleh karena banyaknya kapal yang berlabuh di situ, ada banyak pelaut yang mampir di situ hanya beberapa hari sambil menunggu muatan di kapal dibongkar atau dimuat.
Tetapi hidup dalam kecukupan bukan berarti tanpa pergumulan, dari surat 1 Korintus, kita bisa melihat, bahwa dalam jemaat ini sangat banyak pergumulam seperti perpecahan, percabulan, persembahan berhala dan ajaran-ajaran sesat.
jemaat Korintus didirikan oleh Rasul Paulus dalam perjalanannya yang ke-2 (Kis 18:1-17), dan beberapa waktu kemudian, Apolos pergi dan melayani di Korintus (Kis. 18:27-19:1).

Konteks Bacaan 2 Kor 8:1-7

Contoh Jemaat-jemaat Makedonia

Ayat 1 dan 2 menjelaskan dengan gamblang tentang apa yang terjadi di sana.

1. Mereka dianugerahkan Kasih Karunia
2. Anugerah Kasih Karunia yang dialami berbuah sukacita & kemurahan hati, tanpa dihalangi oleh keadaan mereka yang mengalami pelbagai penderitaan dan miskin.

Dan semua ini menjadi contoh bagi jemaat di Korintus yang keadaannya jauh lebih baik dari Makedonia.

Paulus tidak menyebutkan jumlahnya, tetapi sikap dan pengorbanan mereka yang menjadi contoh. Dalam hal ini Rasul Paulus mengacu pada ajaran Kristus Yesus di Mark 12:41-44 = Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."

Ayat 3 -5 mencontohkan 3 karakteristik jemaat Makedonia dalam memberi. (perhatikan kata "Aku Bersaksi, ..." yang menandakan Paulus sendiri menyaksikan dan mengalami hal ini).

1. Mereka memberi, bukan saja menurut kemampuan mereka tetapi bahkan melampaui kemampuan mereka. (ay 3)
Ini menandakan bahwa mereka "Tidak Kuatir" akan keadaan mereka setelah memberi. Suatu penggenapan atas ajaran Kristus di Mat 6:25 "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?

2. Mereka memberi dengan kerelaan (ay 4)
Perhatikan di sini, bahwa mereka tidak merasa itu sebagai suatu hal yang memberi = mengeluarkan, tetapi menerima = beroleh kasih karunia, dengan mengambil bagian dalam pelayanan orang kudus.

3. Mereka memberi diri mereka secara penuh kepada Allah (ay 5) dan karena itulah maka mereka membantu Paulus dalam pengumpulan dana tersebut.
Dengan ini pula, mereka menggenapi ajaran Hukum Kasih di Mat 22:37-39 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

ay 6 menghimbau supaya pelayanan kasih itupun terjadi di Korintus, sebagaimana yang telah mereka mulai tetapi terhenti - Rasul Paulus mengharapkan bahwa dengan kunjungan Titus nanti hal ini dapat diselesaikan.

ay 7 Rasul Paulus menekankan kelebihan jemaat Korintus yang kaya dalam segala sesuatu, seperti Iman, perkataan, pengetahuan, kesungguhan untuk membantu dan kasih - dan menghimbau supaya mereka melengkapi itu dengan kaya dalam pelayanan kasih.
jemaat Korintus kaya secara lokal, tetapi kekayaan mereka belum dilengkapi dengan pelayanan kasih sebagai buah kasih anugerah Allah.

Selanjutnya sampai akhir perikop di ayat 15 menjelaskan, bahwa Paulus tidak memaksa, tetapi hendaknya dengan kerelaan. Perhatikan konsep keseimbangan yang diajarkan Paulus di ayat 13-15, sebagai suatu penggenapan atas ajaran Kristus dalam Khotbah di bukit dengan ucapan Berbahagialah (Mat 5:3-11).

Aplikasi

Dengan uraian di atas, aplikasinya menjadi sederhana untuk diterapkan dalam kehidupan kita, bahwa "memberi adalah suatu tindakan penggenapan atas menerima Kasih Karunia Allah".

Mari wujudkan apa yang jemaat-jemaat Makedonia telah rintis;
1. Memberi menurut kemampuan, bahkan melampaui kemampuan tanpa kuatir apapun.
2. Memberi dengan kerelaan, karena memberi adalah beroleh kasih karunia.
3. Memberi dengan secara penuh memberi diri kepada Allah dengan demikian mengasihi sesama.

Cerminkan dalam kehidupan pribadi, keluarga dan jemaat kita.

ITT – 20 Juni 2011 PF KRT 6 di Kel.Pontoea