Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan GPIB

Monday, December 18, 2023

Lukas 1:26-31 - Sisi Lain dari Natal


Sulit membayangkan Natal tanpa lampu-lampu hias, makanan enak; tanpa baju baru, sepatu baru, mainan baru untuk anak, tanpa pesta; tanpa kegembiraan. Sejak masa kanak-kanak kita telah mengenal Natal sebagai hari yang paling menyenangkan, penuh perayaan, dan hampir mustahil untuk membayangkan Natal yang tanpa kegembiraan.
Begitu besarnya penekanan pada kegembiraan dan pembelian hadiah sehingga kita cenderung melupakan Natal yang sesungguhnya secara lengkap.

Namun ada sisi lain dari Natal. Bagi tokoh-tokoh Alkitab yang memainkan peran penting pada hari-hari di rangkaian Natal pertama itu, hal itu belum tentu berarti kedamaian, kegembiraan, dan sukacita. Jika kita menelaah dengan teliti situasi mereka, kita akan melihat bahwa bagi mereka adalah Natal tersebut adalah peristiwa yang menyedihkan, sengsara, sulit, dan bahkan penuh dukacita, jauh dari kesuka-citaan. Mari kita lihat;

I. Itu adalah hari Penyangkalan dan Kekecewaan

Lukas 1:26-31: 
1:26 Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, 
1:27 kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. 
1:28 Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." 
1:29 Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. 
1:30 Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. 
1:31 Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.

Bagi Yusuf dan Maria, Natal pertama adalah hari penuh kebahagiaan, kebanggaan, ketakutan, penyangkalan dan kekecewaan. Mereka bertunangan untuk segera menikah dan sudah lama mempersiapkan hari bahagia itu. Tiba-tiba Tuhan masuk dalam rencana itu dan seketika segalanya berubah. Kedatangan malaikat kepada Maria mengubah seluruh skenario pasangan serasi ini. 
Dalam Lukas 1:26-30, malaikat mengatakan 2 (dua) hal indah kepada Maria:

1. "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."
2. "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah

Pengumuman ini memang merupakan kabar baik. Namun hal itu seketika menjadi menakutkan oleh pernyataan malaikat selanjutnya; Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.

Melahirkan anak laki-laki dalam kandungannya tanpa melalui perkawinan sama saja dengan melakukan hubungan seks pranikah di luar nikah dan ini adalah Aib Besar bagi Yusuf dan Maria beserta keluarganya. Ini berarti penolakan terhadap rencana pernikahan mereka yang telah direncanakan dengan baik dalam waktu dekat. Hal ini berarti menyerahkan kebahagiaan mereka pada kehendak Tuhan dalam hidup mereka. Dengan kemurahan Tuhan yang luar biasa bagi pasangan ini datanglah penyangkalan diri, kesulitan, ketakutan, aib dan rasa malu, kekecewaan, serta masalah besar. Namun cobaan seperti itu pasti ada kaitannya dengan rancangan besar keselamatan Allah, yang pada saat itu mereka berdua belum menyadari dan mengetahuinya.

II. Itu adalah Hari Perjalanan Jauh yang Melelahkan dan Melahirkan Tanpa Penginapan.

Lukas 2:1-7 
2:1 Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia.
2:2 Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria.
2:3 Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri.
2:4 Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, -- karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud --
2:5 supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung.
2:6 Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin,
2:7 dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.

Sangat jelas, bahwa perjalanan ini sangat jauh dan melelahkan. Dari peta Alkitab dan catatan sejarah, menyebutkan bahwa perjalanan dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem ini rute terpendeknya berjarak sekitar kurang lebih ± 113 km sementara rute terjauh sekitar ± 129 km. Rute terpendek adalah melewati daerah Samaria, mengingat adanya konflik antara orang Yahudi dan orang Samaria, Yusuf dan Maria kemungkinan besar menghindari daerah itu dan mengambil rute yang lebih jauh. Dengan asumsi kecepatan ± 4 km/jam, maka ditempuh ± 32 km dalam sehari (jika dalam sehari melakukan 8 jam perjalanan), sehingga perjalanan tersebut dapat ditempuh antara 4 s/d 10 hari, bergantung kepada istirahat mereka. Luar biasa melelahkan karena areanya berbukit dan yang berjalan adalah seorang wanita muda yang hamil tua.
Bahkan setelah tibanya pun mereka kesulitan mendapatkan penginapan dan hanya ada palungan untuk menempatkan bayi mungil Yesus!

III. Itu adalah Hari Melalui Jalan Memutar dan Sulit.

Matius 2:12: Dan karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, maka pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain.

Orang Majus yang datang dari Timur mengalami perjalanan yang cukup jauh dan sulit untuk untuk menemui Bayi yang istimewa itu. Kenyataannya mereka menempuh jalan yang sulit untuk mencapai kota kecil Betlehem tempat Yesus dilahirkan, dibayar tunai oleh sukacita menemukan tujuan perjalanan mereka. 
Tetapi setelah misi mereka tercapai dan mereka merasa puas dan siap untuk pergi serta menyebarkan kabar baik di negeri mereka sendiri, kesulitan baru muncul, ketika malaikat menyuruh mereka menempuh jalan lain yang lebih sulit, untuk menggagalkan rencana jahat Herodes yang tamak! Tentu saja perjalanan ini disamping sulit, juga merupakan perjalanan yang penuh ketakutan akan diburu pasukan Herodes.

IV. Itu adalah Hari Kematian dan Keputusasaan.

Matius 2:16 Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.

Kisah nyata Natal juga menyisakan berita kematian yang melibatkan orang tua dari bayi seusia Yesus. Keputusan jahat Herodes adalah membunuh semua bayi berusia dua tahun ke bawah, tanpa mengambil risiko kehilangan korbannya. Ini kira-kira usia Bayi baru yang jadi sasaran oleh Herodes karena Orang Majus tidak muncul setelah kunjungan mereka untuk melihat Bayi tersebut. Semua orang yang terkena dampak dari keputusan jahat ini, orang tua yang memiliki anak-anak seusia Yesus, merasakan bahwa hari itu benar-benar merupakan hari kematian dan keputusasaan yang menyedihkan!

Penutup

Dari sisi lain Natal yang jarang diangkat disentuh di atas, maka disamping makna sukacita besar yang kita kenal, maka kita juga dengan mudah menyimpulkan bahwa;

1. Natal adalah Pengorbanan.
Semua itu terjadi karena kehadiran-Nya adalah untuk tujuan mulia-Nya; yaitu pengorbanan. Karena kasih-Nya kepada manusia yang berdosa, Allah rela mengorbankan anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, agar manusia terbebas dari dosa (Yohanes 3:16 = Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal), bahkan pengorbanan orang-orang tua yang kehilangan bayi-bayinya adalah peristiwa pengorbanan besar yang mengawali perjalanan Tuhan Yesus Kristus di bumi ini.

2. Natal adalah Kesederhanaan.
Tidak salah membeli pakaian baru pada hari Natal, membuat kue-kue dan makanan yang lezat, menghias gereja dan rumah kita dengan ornamen-ornamen Natal, tetapi jangan sampai makna kesederhanan Natal menjadi hilang dari perayaan kita, karena mengingat natal pertama, semuanya sangat sederhana; mulai di kota tempat lahir-Nya, bahkan bukan di penginapan, di baringkan di palungan, diberitakan kepada gembala-gembala dst adalah kesederhanan yang sesungguhnya - yang Tuhan kehendaki dari kita semua.

Selamat Natal

ITT - Jakarta, Senin 18 Desember 2023

Friday, January 20, 2023

Yehezkiel 2:1-5

Perikop LAI: Panggilan Yehezkiel (Yeh 2:1-3:15)

2:1 Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, bangunlah dan berdiri, karena Aku hendak berbicara dengan engkau."
2:2 Sementara Ia berbicara dengan aku, kembalilah rohku ke dalam aku dan ditegakkannyalah aku. Kemudian aku mendengar Dia yang berbicara dengan aku.
2:3 Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak yang telah memberontak melawan Aku. Mereka dan nenek moyang mereka telah mendurhaka terhadap Aku sampai hari ini juga.
2:4 Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus engkau dan harus kaukatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH.
2:5 Dan baik mereka mendengarkan atau tidak -- sebab mereka adalah kaum pemberontak -- mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah mereka.

PENDAHULUAN
URAIAN & APLIKASI

Kali ini penulis teringat akan percakapan penulis sekitar 15-20 tahun lalu dengan seorang Hamba Tuhan. Coba kita uraikan bacaan ini dengan memakai perspektif kependetaannya dalam melayani Umat Tuhan, dan ia beri judul;

Saya Dipanggil oleh Tuhan untuk menyampaikan Firman-NYA

Di sepanjang Yehezkiel 1, kita dapat menyaksikan bagaimana ia dipanggil secara langsung oleh Tuhan dengan sangat luar biasa (baca Yeh 1:4-28). Yehezkiel dipanggil secara langsung dalam suatu pertunjukan kemuliaan yang spektakuler .... untuk apa? Tidak lain adalah untuk menyampaikan Firman-NYA,
Kalau dibandingkan panggilan bagi saya untuk melayani sebagai pendeta tidak ada artinya, hanya sekolah yang "banyak" semester, dan beruntung terpilih dari sekian banyak yang mendaftar. Suatu panggilan Tuhan yang terasa tidak langsung, yang datang dalam 1 map berisi ijazah, piagam dan sertifikat serta SK pengangkatan, tetapi saya imani sebagai panggilan Tuhan untuk jemaat-Nya.
Sebagaimana pula Tuhan memanggil jemaat-Nya, sebagai Penatua, Diaken, pengasuh PT, PA, dll. Dipanggil untuk beriman sebagaimana ditulis di 1 Petrus 2:9-10 = 2:9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: 2:10 kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.

Ya, untuk memberitakan perbuatan-perbuatan besar yang Tuhan lakukan! Dan itulah yang IA kehendaki.

Jadi saat kita mempelajari kitab dan pribadi Yehezkiel, kita akan melihat kehidupan seorang pendeta dan kehidupan seorang Kristen yang wajib menyampaikan Firman Tuhan dengan rendah hati, setia dan berani.

1. Beritakan Firman-NYA dengan rendah hati dan hanya mengandalkan Tuhan.

Tuhan memanggil Yehezkiel untuk menyampaikan firman-Nya dengan rendah hati dan hanya mengandalkan Tuhan. Pemandangan Allah dalam kemuliaan-Nya yang luar biasa membuat Yehezkiel jatuh tersungkur. Apa yang dia bandingkan dengan Yang Mahakuasa? Dia hanyalah anak manusia. Manusia diciptakan dari debu. Manusia telah jatuh ke dalam dosa. Yehezkiel adalah anak manusia, yang juga lahir dari orang berdosa dan bersalah.
Kalau kita baca di Yeh 1:28 = Seperti busur pelangi, yang terlihat pada musim hujan di awan-awan, demikianlah kelihatan sinar yang mengelilinginya. Begitulah kelihatan gambar kemuliaan TUHAN. Tatkala aku melihatnya aku sembah sujud, lalu kudengar suara Dia yang berfirman.

Jadi posisi Yehezkiel ada di tanah dalam posisi sembah sujud akibat takjub, takut, takluk dan pasrah serta rendah hati. Sembah sujud mewakili seluruh sifat-sifat tersebut, utamanya pernyataan takluk akan kuat kuasa Tuhan.
Selanjutnya Yehezkiel bertutur bahwa: Yeh 2:1-2 = 2:1 Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, bangunlah dan berdiri, karena Aku hendak berbicara dengan engkau." 2:2 Sementara Ia berbicara dengan aku, kembalilah rohku ke dalam aku dan ditegakkannyalah aku. Kemudian aku mendengar Dia yang berbicara dengan aku.

Tuhan yang murah hati dan pemaaf datang kepada Yehezkiel melalui Firman-Nya. Melalui Firman Tuhan Roh Kudus menguatkan dia dan membuatnya bangkit dari sembah sujudnya. Sekalipun ia orang berdosa, Yehezkiel dapat berdiri di hadirat Allah yang kudus karena Tuhan mengampuni dia, seperti yang dijanjikan oleh Firman-Nya. Tuhan memberi Yehezkiel kekuatan untuk menyampaikan Firman-Nya. Yehezkiel dapat menyampaikan Firman Tuhan dengan rendah hati dan mengandalkan Tuhan.

Sebagai seorang pendeta, saya harus rendah hati di hadapan Tuhan dan hanya, ... ya ... hanya mengandalkan Tuhan belaka. Memang, saya sebagai pendeta banyak menghadapi godaan untuk merasa diri paling penting dan paling benar. Berpikir bahwa saya paling bertanggung jawab atas sebuah gereja bisa menjadi perjalanan yang mengasyikkan bagi ego saya. Dan untuk menghindarkan hal-hal itu, saya perlu melihat diri saya sebagai orang berdosa, sama berdosanya dengan kebanyakan jemaat saya. Saya adalah anak manusia – hanya debu, lahir dari orang berdosa. Saya perlu melihat satu-satunya harapan saya adalah Juruselamat saya, yang mati untuk saya, sama seperti Dia mati untuk jemaat. Saya perlu melihat kekuatan saya hanya mengalir dan dimampukan oleh Tuhan saya yang telah bangkit, yang mengatur segalanya. Dan dengan demikian, saya akhirnya hanya akan menyampaikan Firman Tuhan dengan rendah hati, dan tentu saja, hanya mengandalkan Tuhan.

Mungkin gambaran untuk membantu saya menjadi rendah hati dalam menyampaikan Firman Tuhan adalah seperti saya melihat sebuah kotak sepatu. Kotak sepatu itu tidak ada artinya, mudah dibuang dan dihancurkan. Yang memberi nilai pada kotak sepatu ini adalah apa yang ada di dalamnya. Jadi, terpisah dari Tuhan, saya adalah seperti sebuah kotak sepatu yang kosong – tidak berharga, tidak berdaya. Tetapi Tuhan telah menempatkan Firman-Nya ke dalam hati saya untuk diberitakan. Sewaktu saya mengucapkan khotbah Firman Tuhan itu, Tuhanlah yang meletakkan setiap kata-per kata, kalimat per kalimat dalam mulut saya. Dan saya harus mengingat hal ini dengan rendah hati bahwa kekuatan saya hanya berasal dari Tuhan, bukan dari diri saya sendiri.

2. Beritakan Firman-NYA dengan setia.

Tuhan memanggil Yehezkiel untuk menyampaikan Firman-Nya. Dia memanggilnya untuk mengucapkan kata itu dengan setia.
Mengapa begitu penting bagi Yehezkiel untuk setia? Karena dia berbicara tentang Firman Tuhan. Dia tidak berbicara untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain, tetapi untuk Tuhan Allah. Tuhan berkata kepadanya, di Yeh 2:3-4 = 2:3 Firman-Nya kepadaku: "Hai anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak yang telah memberontak melawan Aku. Mereka dan nenek moyang mereka telah mendurhaka terhadap Aku sampai hari ini juga. 2:4 Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus engkau dan harus kaukatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH.

Keyakinan apa yang dapat dimiliki Yehezkiel ketika dia mengucapkan Firman Tuhan dengan setia? Ia dapat yakin bahwa Firman Allah tidak pernah salah. Apakah orang percaya Firman atau tidak, itu bukan persoalan Yehezkiel, tetapi apa yang Allah katakan akan terbukti benar. Orang-orang akan tahu bahwa nabi berbicara untuk Tuhan ketika kata-kata itu menjadi kenyataan. Itulah yang Tuhan katakan padanya. Yeh 2:5 = Dan baik mereka mendengarkan atau tidak -- sebab mereka adalah kaum pemberontak -- mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah mereka. 

Banyak yang akan menolak pesan Yehezkiel, tetapi dia tidak berani mengubahnya agar terdengar lebih dapat diterima, karena apa?; 
Karena dalam panggilan yang Tuhan sampaikan kepada saya, maka saya harus dengan sungguh-sungguh, “untuk mengkhotbahkan Injil Tuhan dalam kebenaran dan kemurniannya.” karena untuk itulah saya dianggil, ya .... untuk menyampaikan Firman-Nya dengan setia, “dalam kebenaran dan kemurniannya”.

Ketika saya menyampaikan Firman Tuhan kepada jemaat, saya harus dapat mengatakannya seperti Yehezkiel, “Inilah yang Tuhan Allah katakan.” Saya tidak berani mendasarkan khotbah saya pada apa yang saya pikir Tuhan mungkin telah katakan atau apa yang dikatakan orang lain yang Tuhan katakan. Tetapi satu-satunya cara saya dapat dengan jujur mengatakan kepada jemaat adalah, “Inilah yang Tuhan Allah katakan". Saya perlu mempelajari Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Ini adalah salah satu alasan pendeta memperoleh imbalan gaji, sehingga saya dapat mengabdikan banyak waktu untuk mempelajari Firman Tuhan saat saya mempersiapkan khotbah saya. Saya perlu mempelajarinya dalam bahasa asli Yunani dan Ibrani dan mengetahui konteksnya dengan benar, agar terjemahan yang buruk tidak menyesatkan saya. Kemudian saya dapat berkhotbah dari mimbar ini dan berkata, “Inilah yang dikatakan Tuhan Allah.”

Selain itu, sebagai seorang pendeta yang berusaha untuk setia menyampaikan Firman Tuhan, saya ingin berkhotbah dan mengajar dengan cara yang membantu jemaat memahami apa yang Tuhan Allah katakan. Itu juga membutuhkan waktu untuk memilih kata-kata dan kalimat yang akan dikomunikasikan dengan baik dari atas mimbar. Selain itu, saya ingin memberi kesempatan untuk jemaat belajar dalam ibadah dan di pembinaan-pembinaan. Saya ingin dapat melayani jemaat dengan Firman Tuhan, apakah itu berarti menghadapi jemaat yang punya dosa tertentu atau menghibur jemaat dengan pengampunan Tuhan. Dan doa saya adalah ketika saya mengucapkan firman Tuhan dengan setia, jemaat akan mendengarkan dan melakukannya serta juga mengingatkan jemaat unuk tidak keras kepala, keras hati, atau memberontak seperti orang-orang yang kepadanya Tuhan mengutus Yehezkiel. Karena Firman Tuhan itu tegas. IA akan menghukum siapa pun yang menolak-Nya dan menyelamatkan siapa pun yang mempercayai-Nya.

Sebagai pendeta, saya wajib berusaha keras untuk mengajar dan memberitakan Firman Tuhan dengan setia. Firman itu mungkin tidak selalu diterima, atau bahkan ada yang menjadi marah kepada saya karena itu, tetapi itu adalah keinginan Tuhan. Sebagai pendeta, tanggung jawab saya adalah untuk setia menyampaikan Firman Tuhan, dan berusaha semaksimal mungkin agar jemaat percaya.

3. Beritakan Firman-NYA dengan berani

Akhirnya, Tuhan ingin kita mengucapkan firman-Nya dengan berani. Ia menjelaskan kepada Yehezkiel bahwa ia akan menghadapi tantangan. Tuhan mengatakan kepadanya dalam Yeh 2:4 = Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus engkau dan harus kaukatakan kepada mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH.
Tapi itu bukan alasan untuk menghentikan Yehezkiel. Dia harus berbicara tentang Firman Allah dengan berani.

Apa yang memberi Yehezkiel keberanian untuk berbicara? Itulah yang telah kita bicarakan di dua bagian pertama. Saya berani berbicara karena saya tidak mengandalkan kekuatan saya sendiri melainkan dengan rendah hati saya hanya mengandalkan Tuhan. Saya berani berbicara karena saya tahu bahwa firman-Nya tidak pernah salah jika kita mengucapkannya dengan setia. Dan ada satu lagi, .... Saya berani karena saya melaksanakan apa yang menjadi perintah Tuhan semaksimal mungkin dalam kehidupan saya sehari-hari!

Tuhan memanggil Yehezkiel langsung dari surga untuk menyampaikan Firman-Nya dengan rendah hati, setia, dan berani. Tuhan telah memanggil saya untuk menjadi pendeta dan secara terbuka menyampaikan Firman Tuhan dengan rendah hati, setia, dan berani. Dan demikian pula, masing-masing dari kita dalam kehidupan pribadi kita sendiri telah dipanggil keluar dari kegelapan dosa untuk beriman kepada Kristus Yesus untuk menyampaikan Firman-Nya. Dengan kepercayaan penuh kepada Tuhan, beritakanlah Firman-Nya. Sampaikanlah dengan rendah hati, setia, dan berani.

SIMPULAN PENULIS

1. Inilah perspektif seorang hamba Tuhan, yang mengambil keteladanan Nabi Yehezkiel ketika menerima kenabiannya, bahwa ia harus rendah hati, setia dan berani. Terimakasih pak Pendeta untuk perspektifnya yang sangat dalam.
2. Bila dalam jemaat ditemukan seorang hamba Tuhan yang menjauh dari hal-hal di atas, maka bergegaslah jemaat mendoakan dengan sungguh-sungguh hamba Tuhan tersebut, agar segera kembali menjadi seperti Yehezkiel dalam pemberitaan Firman-Nya.
.......Amin

ITT - Jakarta, Jumat 20 Januari 2023.