Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan GPIB

Thursday, November 24, 2022

2 Yohanes 1:1-8

Perikop LAI: Salam (2 Yoh 1:1-3) - Tetaplah di dalam Ajaran Kristus (2 Yoh 1:4-11)

1:1 Dari penatua kepada Ibu yang terpilih dan anak-anaknya yang benar-benar aku kasihi. Bukan aku saja yang mengasihi kamu, tetapi juga semua orang yang telah mengenal kebenaran,
1:2 oleh karena kebenaran yang tetap di dalam kita dan yang akan menyertai kita sampai selama-lamanya.
1:3 Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Yesus Kristus, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih.
1:4 Aku sangat bersukacita, bahwa aku mendapati, bahwa separuh dari anak-anakmu hidup dalam kebenaran sesuai dengan perintah yang telah kita terima dari Bapa.
1:5 Dan sekarang aku minta kepadamu, Ibu -- bukan seolah-olah aku menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut perintah yang sudah ada pada kita dari mulanya -- supaya kita saling mengasihi.
1:6 Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya.
1:7 Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.
1:8 Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya.

PENGANTAR

Surat Yohanes yang kedua  ini ditulis oleh "pemimpin jemaat" kepada "Ibu yang  dipilih oleh Allah" dan kepada anak-anaknya yang dicintai. Mungkin yang dimaksud dengan "Ibu dan anak-anaknya" ialah  sebuah jemaat dan anggota-anggotanya. Dalam suratnya yang pendek ini, penulis surat ini meminta dua hal kepada pembacanya. Pertama, supaya mereka mengasihi satu sama lain. Kedua, supaya mereka waspada terhadap guru-guru palsu dan ajaran-ajaran guru-guru itu.  

Isi 2 Yohanes

  1.   Pendahuluan 1-3
  2.   Pentingnya kasih 4-6 
  3.   Peringatan terhadap ajaran-ajaran yang salah 7-11 
  4.   Penutup 12-13  

URAIAN

1. Hidup dalam Kebenaran

Dalam 2 Yohanes 1:4, dikatakan: “Aku sangat bersukacita, bahwa aku mendapati, bahwa separuh dari anak-anakmu hidup dalam kebenaran sesuai dengan perintah yang telah kita terima dari Bapa.”

Melalui ayat ini, kita menlihat bahwa Rasul Yohanes memberikan pujian kepada ibu yang membuat dirinya sangat bersukacita. Ia mengatakan bahwa ibu yang terpilih dan anak-anaknya hidup dalam kebenaran. Mereka hidup benar sesuai dengan perintah yang telah diterima dari Allah Bapa. Sungguh. Rasul Yohanes sangat menghormati dan menghargai ibu yang berhasil membawa anak-anak mengikuti jejak ibunya yang takut akan Tuhan. Rasul Yohanes sangat bersukacita karena melihat ibu yang terpilih itu dapat mendidik, mengajar, menasihati anak-anak untuk beribadah, berdoa, mengucap syukur, memuji, menyembah, memuliakan, memberi persembahan dan melayani Firman-Nya dengan penuh rasa takut akan Tuhan.

Sudahkah kita hidup dalam kebenaran?

2.  Hidup saling Mengasihi

Dengan sangat hormat Rasul Yohanes meminta kepada ibu yang terpilih supaya saling mengasihi. Permintaan untuk saling mengasihi kepada ibu tersebut, menurut Rasul Yohanes, bukanlah merupakan suatu perintah baru. Perintah saling mengasihi itu, sesungguhnya merupakan perintah Allah dari mulanya.

Beginilah bunyi Firman Tuhan dalam Surat 2 Yohanes 1:5: “Dan sekarang aku minta kepadamu, Ibu — bukan seolah-olah aku menuliskan perintah baru bagimu, tetapi menurut perintah yang sudah ada pada kita dari mulanya — supaya kita saling mengasihi.”

Rasul Yohanes yang juga penulis Kitab Injil Yohanes merekam Firman Tuhan dalam Kitab Injil Yohanes 13:34 = “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Ia juga merekam Firman-Nya dalam Kitab Injil Yohanes 15:12 = “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.”

Ya, memang benar! Saling mengasihi bukanlah suatu perintah baru dari Rasul Yohanes. Melainkan merupakan perintah Tuhan Yesus. Tuhan Yesus memerintahkan kita untuk saling mengasihi, karena Dia sudah lebih dulu mengasihi kita.

Sudahkah kita sebagai Jemaat Tuhan hidup taat sesuai perintah Yesus Kristus dalam saling mengasihi?

3. Hidup di dalam Kasih

Sejatinya, di dunia ini tidak ada hidup dan kehidupan yang lebih indah dan bahagia daripada hidup di dalam kasih. Hidup di dalam kasih adalah melebihi segalanya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang merindukan hidup dalam dendam, dengki, iri hati, perdebatan, perbantahan, perselisihan, pertengkaran dan permusuhan.

Dikatakan dalam 2 Yohanes 1:6 = “Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya. Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya.” Melalui ayat ini, Rasul Yohanes menekankan bahwa kasih itu adalah harus hidup menurut perintah-Nya. Dan secara tersirat, perintah itu adalah bahwa kita harus hidup tekun hidup dalam Kasih.

Sudahkah kita melakukan perintah-Nya dan hidup dalam Kasih?

4. Penyesat dan antikristus

Sejak dua ribu tahun yang lalu, para penyesat dan antikristus sudah berupaya menolak dan menentang ajaran Tuhan. Mereka tidak suka apabila banyak orang yang datang dan percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Mesias, Penebus dan Juru Selamat manusia berdosa, termasuk kita dan semua orang yang percaya kepada-Nya.

2 Yohanes 1:7 = “Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.”

Oleh sebab itu, Rasul Yohanes menasihati ibu yang terpilih dan anak-anaknya supaya waspada. Supaya mereka mereka tidak kehilangan kasih setia dan kasih karunia-Nya. Supaya mereka tidak kehilangan Injil Tuhan yang membawa sukacita dan damai sejahtera. Tetapi sebaliknya, mereka akan memperoleh upah besar. 2 Yohanes 1:8: “Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya.”

Mampukah kita mengenal dan menolak serta waspada terhadap si penyesat dan antikristus?

APLIKASI

Mari kita akhiri bacaan kita hari ini, dengan membaca tuntas serta membaca bersama secara perlahan untuk mendapatkan simpulan seluruh Kitab 2 Yohanes;

2 Yoh 1:9-13

1:9 Setiap orang yang tidak tinggal di dalam ajaran Kristus, tetapi yang melangkah keluar dari situ, tidak memiliki Allah. Barangsiapa tinggal di dalam ajaran itu, ia memiliki Bapa maupun Anak.
1:10 Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya.
1:11 Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat.
1:12 Sungguhpun banyak yang harus kutulis kepadamu, aku tidak mau melakukannya dengan kertas dan tinta, tetapi aku berharap datang sendiri kepadamu dan berbicara berhadapan muka dengan kamu, supaya sempurnalah sukacita kita.
1:13 Salam kepada kamu dari anak-anak saudaramu yang terpilih.

Dari bacaan di seluruh kitab 2 Yohanes ini kita mendapatkan benang merah tanpa keraguan, bahwa penulis kitab ini walaupun tidak menyebutkan nama adalah Rasul Yohanes, dan bahwa Yohanes yang sama ini, telah mengangkatnya dalam tema-tema Injilnya, yaitu di;

1. Tema Kebenaran: Yohanes 14:6 = Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.

2. Tema Kasih: Yohanes 3:16 = Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

3. Tema Kasih yang menuntun kepada ketaatan: Yohanes 15:9-17 = 9 "Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. 10 Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. 11 Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacita-Ku ada di dalam kamu dan sukacitamu menjadi penuh. 12 Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu. 13 Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. 14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. 15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku. 16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. 17 Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.

........ Amin

ITT - Jakarta, Kamis 24 November 2022

Monday, November 21, 2022

Galatia 5:1-5

Perikop LAI : Kemerdekaan Kristen (Gal 5:1-15)

5:1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.
5:2 Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.
5:3 Sekali lagi aku katakan kepada setiap orang yang menyunatkan dirinya, bahwa ia wajib melakukan seluruh hukum Taurat.
5:4 Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia.
5:5 Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan.

PENGANTAR

Surat Galatia ditulis oleh Paulus. Ini salah satu surat Paulus yang pertama, di dalam pelayanan misinya yang pertama, yaitu sekitar tahun 48-an, masih pada masa ‘Gereja mula-mula’. Jemaat Galatia sendiri adalah jemaat yang didirikan oleh Paulus. Kurang lebih 1-2 tahun sebelumnya, Paulus pergi ke Galatia menginjili dan banyak orang bertobat, kemudian dia tinggalkan untuk pergi ke tempat lain lagi; dan sekarang, mendengar kabar di sana, barulah Paulus menulis surat ini.

Posisi Galatia adalah di sebelah selatan Turki yang sekarang. Pada saat itu, kota Galatia ada di bawah kekuasaan kerajaan Romawi yang menguasai dunia waktu itu, dengan kaisarnya Kaisar Cladius. Penduduk Galatia sendiri beragam/heterogen dari berbagai macam orang, dan secara penyembahan juga banyak dewa-dewanya. Penduduk setempat memiliki dewanya sendiri, para pendatang juga membawa dewa-dewa mereka sendiri untuk disembah, bahkan ada juga yang menyembah Kaisar Claudius sebagai dewanya karena dia membawa euangelion/kabar keselamatan untuk mereka. Orang-orang Yahudi diaspora juga ada yang tinggal di sana, jumlahnya cukup banyak meski tetap saja minoritas, dan secara khusus mereka tetap dengan keyahudiannya.  Mereka mendirikan sinagoge untuk beribadah yang letaknya selalu di pinggiran, karena mereka tidak diperhitungkan sebagai orang-orang istimewa. Di dalam konteks inilah Paulus melayani. Dimulai dengan menginjili orang-orang Yahudi terlebih dahulu, sampai akhirnya Injil masuk juga kepada gentiles dan banyak dari antara mereka yang bertobat, sehingga orang-orang Kristen di sana bukan cuma terdiri dari orang Yahudi tapi juga orang Yunani. 

Tadinya orang-orang di situ mengenal suku Yahudi dengan keagamaan Yahudi-nya, lalu sekarang ada satu orang bernama Paulus yang datang membawa euangelion versi lain. Di dalam kabar baik yang dibawanya itu, dia membawa sebuah proyek yang digadang-gadangnya. Proyek apakah yang diberitakan oleh Paulus? Satu istilah yang berkali-kali muncul di dalam surat Paulus, seperti juga di dalam surat Efesus dan surat Roma, istilah yang sama juga muncul di surat Galatia, dan inilah pola yang selalu dipakai Paulus di dalam motif penginjilannya, yaitu dia membawa proyek ‘pembangunan’. Proyek pembangunan apa? Bukan pembangunan dengan tembok dan batu, melainkan satu proyek yang boleh dikata sangat provokatif terhadap kerajaan Romawi, yaitu membangun Kerajaan Allah, bukan dengan batu seperti benteng-benteng besar, tapi membangun Kerajaan Allah dengan manusia. Inilah proyek yang ditawarkan Paulus; dan di dalam beritanya, Paulus mengatakan bahwa hanya ada satu Tuhan.

Dalam konteks zaman itu, mereka tahunya satu Tuhan dalam pengertian monoteis yang hanya ada pada orang Yahudi, sementara sekarang Paulus memberitakan hanya ada satu Tuhan juga, tapi berbeda. Apa yang jadi perbedaan? Yaitu bahwa Tuhan yang dikatakan oleh Paulus, adalah Tuhan dari seluruh alam semesta, Pencipta alam semesta yang berencana dan berdaulat atas seluruh dunia; dan yang paling indah, yang jadi kontras dengan agama Yahudi, bahwa rencana kekal Tuhan atas dunia ini digenapi dengan kedatangan Yesus Kristus, Dia adalah Raja di atas segala raja.

Setelah Kabar Baik tentang Yesus mulai diberitakan dan diterima di antara orang-orang bukan Yahudi, timbullah pertanyaan apakah untuk menjadi seorang Kristen yang sejati orang harus mentaati hukum agama Yahudi. Paulus mengemukakan bahwa hal; tidak perlu -- bahwa sesungguhnya satu-satunya dasar yang baik untuk kehidupan Kristen adalah percaya kepada Kristus. Dengan kepercayaan itu hubungan manusia dengan Allah menjadi baik kembali. Tetapi orang-orang yang menentang Paulus telah datang ke jemaat-jemaat di Galatia, yaitu sebuah provinsi Roma di Asia Kecil. Mereka berpendapat bahwa untuk berbaik kembali dengan Allah, orang harus melaksanakan hukum agama Yahudi. 

Surat Paulus Kepada Jemaat-jemaat di Galatia  ini ditulis untuk menolong orang-orang yang telah disesatkan oleh ajaran-ajaran salah itu, supaya mereka kembali taat kepada  ajaran yang benar. Paulus mulai dengan mengatakan bahwa ia berhak  disebut rasul Yesus Kristus. Dengan tegas Paulus mengatakan bahwa  panggilannya untuk menjadi rasul berasal dari Allah, bukan dari  manusia. Juga bahwa tugasnya ditujukan terutama sekali kepada  orang bukan Yahudi (Pasal 1-2). Setelah itu Paulus membentangkan pendiriannya bahwa hubungan manusia dengan Allah menjadi baik  kembali hanya melalui percaya kepada Allah (Pasal 3-4). Di dalam pasal-pasal terakhir buku ini (Pasal 5-6), Paulus menunjukkan bahwa cinta kasih yang timbul pada diri orang Kristen karena ia percaya  kepada Kristus, akan dengan sendirinya menyebabkan orang itu  melakukan perbuatan-perbuatan Kristen.  

Isi Kitab Galatia

  1.   Pendahuluan 1:1-10 
  2.   Hak Paulus sebagai rasul 1:11--2:21 
  3.   Kabar Baik tentang rahmat Allah 3:1--4:31 
  4.   Kebebasan dan kewajiban orang Kristen 5:1--6:10 ==> Bagian bacaan ini
  5.   Penutup 6:11-18 

ILUSTRASI

Penulis memakai pendekatan ilustrasi untuk menguraikan pola pikir Rasul Paulus supaya lebih mudah sedikit kita cerna.

Sewaktu bermain dengan putri kami yang berusia 7 tahun, terkadang untuk menghentikan ia bermain dengan sekeranjang mainannya memerlukan usaha yang cukup alot. Apalagi kalau kalimat; "Anne, sudah waktunya berhenti bermain, kumpulkan mainannya di keranjang mainannya ya"

Sebagai ayahnya, saya punya 2 pilihan untuk si Anne kecil,

  1. "Anne, masukkan sekarang juga mainannya atau Anne akan kena hukum dari Papi", atau
  2. "Anne, ayo masukkan mainannya bersama Papi ya"

Kalau pilihan pertama kami terapkan, tetap saja si Anne kecil akan mengumpulkan mainannya sesegera mungkin, tapi dengan kening berkerut dan bibir yang cemberut serta wajah kesal, karena ia merasa seperti diperintah dengan ancaman. Sedangkan pilihan kedua, akan lebih menyenangkan, karena ia merasa bebas dan senang karena toh masih dibantu Papinya. Tentu saja si Anne kecil tahu, bahwa kalau tidak mengumpulkan mainannya, ia akan dihukum, tetapi pilihan kedua masih cukup menyenangkan, karena Papinya ada dan turut serta membantu dia.

Demikian pula ada pilihan bagi saya ayahnya;

  1. Saya dapat membuatnya sendiri melaksanakan perintah dan mengancam bahwa hukuman akan saya jatuhkan,
  2. Atau saya bisa turun membantunya dan mengubah suasananya menjadi lebih menyenangkan.

Menarik, karena cara pertama akan menghasilkan anak-anak perbudakan, cara kedua akan melahirkan anak-anak kebebasan (Galatia 4:21-31 dalam Perikop LAI: Hagar dan Sara), yang kuncinya adalah kemerdekaan, dimana Tuhan Allah turun untuk membantu kita melakukan apa yang Dia minta dan apakah kita hidup oleh iman dalam karya kasih karunia itu.

URAIAN & APLIKASI

Dari Ilustrasi di atas, kita akan beroleh gambaran bacaan hari ini dari ayat 1 sampai kesimpulannya di ayat 5. Gambaran itu meliputi;

1. Bahwa kemerdekaan manusia itu sangat penting di mata Tuhan.

Teks ini dimulai dengan pernyataan yang jelas dan menyegarkan tentang kehendak Kristus bagi hidup kita (5:1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.) KBBI, Kuk = kuk1 n kayu lengkung yang dipasang di tengkuk kerbau (lembu) untuk menarik bajak (pedati dan sebagainya). Dari sini kita dapat menyimpulkan jelas, bahwa kemerdekaan dari perhambaan ini adalah sesuatu yang sangat sangat penting bagi Tuhan untuk kita. Untuk ini Kristus datang, disalibkan, mati dan meninggalkan Roh Kudus bagi kita, sehingga bukan lagi teori dan hukuman, tapi praktek nyata kasih dinyatakan bagi manusia.

2. Bahwa kemerdekaan itu, sama sekali bukan mengabaikan Hukum Taurat.

Kalau pada Gal 5:2 dst, Rasul Paulus menegur orang Kristen yang mau kembali kepada hukum sunat sebagai syarat keselamatan, bukan melalui anugerah dengan iman kepada Kristus maka sebaliknya Paulus pada Galatia 5:13 =  Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. (Perhatikan bahwa bacaan masih dalam perikop yang sama) - maka kita jangan terjebak pada pendapat bahwa kita boleh mengabaikan Hukum Taurat. Kalau membaca sekilas dan sepotong saja tanpa memahami secara menyeluruh, maka banyak orang yang berpikir kalau kita bebas dari hukum berarti tidak lagi bertanggung jawab mentaati perintah-perintah moral dari Allah. Kalau begitu apakah arti merdeka dari hukum Taurat? 

a. Artinya adalah: "merdeka atau bebas dari berusaha untuk mendapatkan keselamatan melalui hanya melakukan hukum Taurat.". 
b. Artinya adalah: "merdeka dari berusaha  untuk berusaha mempertahankan standar kekudusan Allah tanpa pertolongan Tuhan.

Masih bingung? Kita kembali ke Ilustrasi si Anne kecil tadi, bahwa ia tetap melakukan perintah, hanya kali ini dengan kemerdekaan penuh dan dengan pertolongan ayah-nya. Dengan kata lain, kita tetap tunduk pada perintah Allah, bukan hanya dengan melaksanakan hukum-hukum-Nya, tapi dengan kemerdekaan penuh oleh pertolongan-Nya sendiri.

Peringatan: Berhati-hati terhadap ajaran bahwa kita tidak lagi perlu Hukum Taurat. Mari bandingkan dengan perkataan Tuhan Yesus di Matius 5:17-19 = 5:17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. 5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. 5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.

Khusus untuk topik apakah hukum Taurat masih berlaku bagi orang Kristen akan kita bahas dalam tulisan di lain kesempatan. 

3. Bahwa Kemerdekaan Bergantung pada Kasih Karunia.

Sekarang Gal 5:4 = Kamu lepas dari Kristus, jikalau kamu mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat; kamu hidup di luar kasih karunia., memperingatkan kita untuk berdiri teguh dalam kebebasan dan tidak tunduk pada kuk perbudakan. Jadi, apa yang diajarkan ayat ini adalah bahwa pengalaman kebebasan/kemerdekaan, termasuk kebebasan/kemerdekaan hidup yang kekal, hanya dapat dinikmati jika kita bergantung pada Kasih Karunia Kristus. Perbudakan adalah apa yang terjadi ketika kita jatuh dari kuasa kasih karunia. Kunci kebebasan/kemerdekaan adalah tetap bergantung pada kasih karunia ini, yaitu apa yang diajarkan Tuhan Yesus dalam kasih adalah upaya penyelamatan dan pemeliharaan Tuhan dalam hidup kita. Kita bebas ketika Tuhan dengan bebas datang untuk membantu kita dan kita dengan sukacita mempercayai bantuan-Nya.

4. Bahwa Bagaimana Pengikut Kristus menunggu akhir zaman..

Gal 5:5 = Sebab oleh Roh, dan karena iman, kita menantikan kebenaran yang kita harapkan. Itulah gambaran Rasul Paulus bagi kita orang percaya yang menyongsong akhir zaman. Jadi meskipun ada keyakinan penuh bahwa kita sudah dibenarkan oleh iman di dalam Kristus dan mengenakan kebenaran-Nya (Roma 5:1 = Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.; 1 Korintus 1:30 = Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.), penghakiman terakhir ada di hadapan kita di mana keputusan akhir akan terungkap. Inilah harapan yang kita tunggu dan dambakan. Tapi bukankah begitu pula dengan kaum Yahudi? Pertanyaannya adalah bagaimana kita menantikan kebenaran: sebagai orang merdeka yang bebas atau sebagai budak?

........ Amin

ITT - Jakarta, Senin 21 November 2022 

Friday, November 18, 2022

Galatia 3:15-22

Perikop LAI: Hukum Taurat atau janji (Gal 3:15-29)

3:15 Saudara-saudara, baiklah kupergunakan suatu contoh dari hidup sehari-hari. Suatu wasiat yang telah disahkan, sekalipun ia dari manusia, tidak dapat dibatalkan atau ditambahi oleh seorang pun.
3:16 Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan "kepada keturunan-keturunannya" seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: "dan kepada keturunanmu", yaitu Kristus.
3:17 Maksudku ialah: Janji yang sebelumnya telah disahkan Allah, tidak dapat dibatalkan oleh hukum Taurat, yang baru terbit empat ratus tiga puluh tahun kemudian, sehingga janji itu hilang kekuatannya.
3:18 Sebab, jikalau apa yang ditentukan Allah berasal dari hukum Taurat, ia tidak berasal dari janji; tetapi justru oleh janjilah Allah telah menganugerahkan kasih karunia-Nya kepada Abraham.
3:19 Kalau demikian, apakah maksudnya hukum Taurat? Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran -- sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu -- dan ia disampaikan dengan perantaraan malaikat-malaikat ke dalam tangan seorang pengantara.
3:20 Seorang pengantara bukan hanya mewakili satu orang saja, sedangkan Allah adalah satu.
3:21 Kalau demikian, bertentangankah hukum Taurat dengan janji-janji Allah? Sekali-kali tidak. Sebab andaikata hukum Taurat diberikan sebagai sesuatu yang dapat menghidupkan, maka memang kebenaran berasal dari hukum Taurat.
3:22 Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya.

PENGANTAR

Setelah Kabar Baik tentang Yesus mulai diberitakan dan diterima di antara orang-orang bukan Yahudi, timbullah pertanyaan apakah untuk menjadi seorang Kristen yang sejati orang harus mentaati hukum agama Yahudi. Paulus mengemukakan bahwa hal; tidak perlu -- bahwa sesungguhnya satu-satunya dasar yang baik untuk kehidupan Kristen adalah percaya kepada Kristus. Dengan kepercayaan itu hubungan manusia dengan Allah menjadi baik kembali. Tetapi orang-orang yang menentang Paulus telah datang ke jemaat-jemaat di Galatia, yaitu sebuah provinsi Roma di Asia Kecil. Mereka berpendapat bahwa untuk berbaik kembali dengan Allah, orang harus melaksanakan hukum agama Yahudi. 

Surat Paulus Kepada Jemaat-jemaat di Galatia  ini ditulis untuk menolong orang-orang yang telah disesatkan oleh ajaran-ajaran salah itu, supaya mereka kembali taat kepada  ajaran yang benar. Paulus mulai dengan mengatakan bahwa ia berhak  disebut rasul Yesus Kristus. Dengan tegas Paulus mengatakan bahwa  panggilannya untuk menjadi rasul berasal dari Allah, bukan dari  manusia. Juga bahwa tugasnya ditujukan terutama sekali kepada  orang bukan Yahudi (Pasal 1-2). Setelah itu Paulus membentangkan pendiriannya bahwa hubungan manusia dengan Allah menjadi baik  kembali hanya melalui percaya kepada Allah (Pasal 3-4). Di dalam pasal-pasal terakhir buku ini (Pasal 5-6), Paulus menunjukkan bahwa cinta kasih yang timbul pada diri orang Kristen karena ia percaya  kepada Kristus, akan dengan sendirinya menyebabkan orang itu  melakukan perbuatan-perbuatan Kristen.  

Isi Kitab Galatia

  1.   Pendahuluan 1:1-10 
  2.   Hak Paulus sebagai rasul 1:11--2:21 
  3.   Kabar Baik tentang rahmat Allah 3:1--4:31 ==> Bagian bacaan ini
  4.   Kebebasan dan kewajiban orang Kristen 5:1--6:10 
  5.   Penutup 6:11-18 

LATAR BELAKANG & KESIMPULAN AWAL

Rasul Paulus (dikalangan Yahudi dikenal sebagai Rabbi Saul) adalah murid dari ahli Taurat terkenal: Rabban Gamaliel yang juga kepala dari Sidang Sanhedrin (gelar Rabban adalah gelar yang lebih tinggi dari Rabbi (guru), karena sudah sangat menguasai Taurat dengan setiap pengertiannya per kata dan kalimat). Maka, Rasul Paulus paham betul Taurat itu isinya bagaimana. Dia membaca Taurat dengan cara yang seperti kita kenal sebagaimana para rabbi membaca Taurat, dimana mereka membaca ayat per ayat dengan satu-persatu kata-katanya diteliti. Itulah sebabnya para ahli Taurat disebut juga "Shoferim" (para penghitung aksara dari naskah Tanakh. Tanakh terdiri dari;

  1. 5 kitab Musa/Taurat, 
  2. Kitab nabi-nabi/Neviim, 
  3. dan tulisan-tulisan/Ketuvim.).

Dan Dalam Galatia Pasal 3 ini, Rasul Paulus menjelaskan dengan cara pendalaman itu. Ia menemukan satu kata dengan cara "melakukan penguraian ayat Taurat" dan fokusnya adalah pada kata "keturunanmu" (yang bermakna tunggal) di Kejadian 12:7 = Ketika itu TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman: "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu." Maka didirikannya di situ mezbah bagi TUHAN yang telah menampakkan diri kepadanya. dan di Kejadian 22:18 = Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku." -  dan Rasul Paulus menarik kesimpulan berani, bahwa bahwa Allah sedang berbicara mengenai Sang Mesias yang akan lahir dari garis Abraham.

Perkiraan Rentang Waktu Perjanjian Lama dari Berbagai Sumber

Demikian juga benang merah itu dikuatkan oleh kesaksian Yohanes pembaptis di Yoh 1:17 = "Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus" dan dikunci oleh Tuhan Yesus sendiri di Yoh 8:56 & 58 = 8:56 Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita." 8:58 Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.

Dari Latar Belakang dan Kesimpulan Awal ini, baru kita akan mulai menguraikan bacaan hari ini, supaya memudahkan mengerti pengajaran Rasul Paulus yang terkadang terasa agak sulit untuk kita pahami.

 URAIAN

Sebelum bacaan ini, Rasul Paulus menuliskan bahwa orang bukan Yahudi tidak perlu disunat karena mereka telah menerima Roh oleh iman dan Roh itu adalah tanda bahwa mereka milik umat Allah (Gal 3:1-5). Iman adalah satu-satunya syarat untuk menjadi milik keluarga Tuhan; iman menjadikan mereka anak-anak rohani Abraham (Gal 3:6-9). Dia memperingatkan mereka bahwa hukum atau perbuatan kebenaran menempatkan seseorang di bawah kutuk dan iman di dalam Kristus menebus mereka dari kutuk hukum (Gal 3:10-14).

Selanjutnya, dalam bacaan kita hari ini, Rasul Paulus menggambarkan hubungan antara janji dan hukum. Hukum tidak menggantikan janji tetapi bahwa tujuan hukum adalah untuk menyingkapkan keberdosaan dosa dan kebutuhan kita akan Juruselamat.

Prioritas Janji (ayat 15-18)

Janji didasarkan pada Perjanjian Abraham

Rasul Paulus mulai dengan memberikan contoh hidup sehari-hari untuk menunjukkan bagaimana sifat perjanjian itu. Ia mengemukakan hal ini, karena kaum Yudais mengatakan bahwa perjanjian Musa adalah wahyu terakhir dan mengalahkan Perjanjian Abraham. Galatia 1 menunjukkan bahwa ada ajaran yang menyimpang dari ajaran Kristus, demikian juga dengan ajaran bahwa untuk dibenarkan di hadapan Allah seseorang harus menambahkan 'perbuatan hukum Taurat' kepada iman. Padahal dengan melakukan itu mereka mengubah sifat dasar Perjanjian Abraham. Paulus menguraikan bahwa, manusia saja dalam perjanjian bersifat mengikat dan tidak berubah, apalagi perjanjian yang dibuat oleh Allah. Satu-satunya syarat yang dituntut oleh perjanjian Abraham adalah iman (Kej 12:1-3 = 12:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; 12:2 Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. 12:3 Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.").

Perjanjian ini menunjuk pada apa yang Allah janjikan untuk dilakukan atas nama Abraham dan keturunannya. Fakta menarik dari catatan penulis, bahwa ketika Abraham mencoba melakukan sesuatu dengan caranya sendiri, mencoba memenuhi janji Allah dengan tidur dengan pelayannya untuk mendapatkan keturunan, ia mengacaukan segalanya. Abraham tidak meyakini benar akan janji Tuhan dan berakhir dengan seorang putra dari hambanya Hagar, yang sampai sekarang masih jadi masalah utama di Timur Tengah.

Janji digenapi di dalam Yesus Kristus

Rasul Paulus menafsirkan Perjanjian Abraham melalui mata Perjanjian Baru, melihat Kristus sebagai penggenapan keturunan Abraham. Paulus melihat janji-janji yang dibuat kepada Abraham bukan saja dipenuhi sebagian dengan anak-anak fisik Abraham dan tanah Kanaan, tetapi janji itu menunjuk pada sesuatu yang lebih besar - karena janji itu adalah untuk semua keluarga di bumi dan warisan negeri itu - lebih dari sekadar tanah Kanaan. Paulus melihat penggenapan akhir dari keturunan Abraham menjelma dalam Yesus Kristus, dan semua keluarga di bumi diberkati sebagaimana Injil disampaikan kepada semua bangsa dan penggenapan akhirnya adalah langit baru dan bumi baru. Paulus melihat Perjanjian Abraham digenapi di dalam kita, anak-anak rohani Abraham.

Tujuan Hukum (ayat 19-22)

Paulus kemudian mengajukan dua pertanyaan yang diajukan oleh pemahamannya tentang hukum, dengan jawaban yang tegas dan jelas. Bahwa;

  1. Hukum Taurat ditambahkan karena pelanggaran-pelanggaran, sampai datang keturunan dimaksud yaitu Yesus Kristus
  2. Hukum Taurat tidak bertentangan dengan janji-janji Allah. Karena Hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Tuhan Yesus datang (dijelaskan kemudian di ayat 24)

APLIKASI

Kesimpulan akhir dari bacaan dan bahasan kita hari ini dapat kita baca dalam lanjutan bacaan dari perikop yang sama, mari baca bersama secara perlahan dan lambat untuk mendalami dan menguraikan pengertiannya

Galatia 3:23-29

3:23 Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan.
3:24 Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.
3:25 Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.
3:26 Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.
3:27 Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.
3:28 Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.
3:29 Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah

Sehingga kita dapat memahami bahwa;

1. Kasih karunia Allah yg berdasarkan janji tanpa syarat lebih kuat dari perjanjian hukum Taurat Musa yg menuntut syarat.
Sebelum Abraham, Nuh adalah salah satu tokoh iman yg menerima kasih karunia sehingga dia dan keluarganya tidak binasa oleh air bah dan perjanjian Allah dengan Nuh (pasca air bah) adalah perjanjian kekal tanpa syarat yang menjadi Jaminan Kekal kelangsungan kehidupan segala makhluk hidup bumi. (Kej.9:8-17)
Demikian juga dengan perjanjian yg diadakan dari pihak Allah kpd Abraham yg percaya oleh iman dan menerima kasih karunia. Inilah perjanjian kekal mengenai 'KETURUNAN ABRAHAM' yg akan menjadi berkat bagi segala bangsa dibumi. Perjanjian tanpa syarat yang memiliki Jaminan Kekal bagi segala bangsa atas dasar kasih karunia dan yang tidak bisa dibatalkan oleh perjanjian bersyarat antara Allah dan Musa yg mengandung tuntutan dan hukuman.
2. Kasih karunia Allah dalam Yesus Kristus adalah indah adanya, tanpa syarat dan ketentuan apapun yang berlaku.
Sesuai dengan Firman-Nya di Matius 11:28-30 = 11:28 Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.  11:29 Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. 11:30 Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."

........ AMIN

Catatan Penulis:

Sebentar lagi kita akan masuk masa Advent pertama, yang oleh tradisi gereja GPIB dipahami sebagai ‘kedatangan.’
Masa Advent (latin: Adventus), adalah merupakan masa penyadaran diri dan pertobatan. Manusia yang jatuh ke dalam dosa mengharapkan perjanjian ALLAH tentang datangnya YESUS KRISTUS sebagai Juruselamat. Masa Adventus juga bersifat eskatologis (studi tentang akhir zaman) yang menunjuk kepada kedatangan KRISTUS kembali. Adventus dirayakan 4 minggu berturut-turut sebelum Natal.
Simbol Minggu Advent, seperti terdapat pada kain mimbar dan stola GPIB, adalah Jangkar – Salib dengan warna dasar Ungu muda.
  • Warna dasar: Ungu Muda (warna pertobatan)
  • Lambang/Logo: Salib jangkar
  • Warna jangkar: kuning
Arti :
Salib jangkar ini dipergunakan oleh orang Kristen mula-mula yang tinggal di Katakombe-katakombe (ruang-ruang bawah tanah/kuburan bawah tanah). Sebenarnya lambang ini merupakan warisan dari bangsa Mesir kuno, namun di kemudian hari ia menjadi lambang universal yang menunjuk pada penderitaan Kristus. Di sini lambang salib jangkar hendak berkata-kata tentang pengharapan yang dimiliki oleh umat percaya di dalam penantian akan kedatangan Kristus kembali.

Dalam pengertian pendalaman penulis, masa Advent sendiri disamping menyiratkan makna penyadaran diri dan pertobatan yang dianut GPIB, penulis memaknainya lebih dalam bahwa masa Advent merupakan peringatan akan 3 masa, dahulu - sekarang - masa depan;


  1. Dahulu - Peringatan akan kedatangan Kristus yang pertama di dunia, 
  2. Sekarang - Kehadiran Yesus Kristus yang tidak pernah putus di tengah umat manusia. walaupun Ia naik telah ke Surga, dalam Roh Kudus dan ajaran Injil-Nya.
  3. Masa Depan - Penantian akan kedatangan-Nya kembali di akhir zaman.
ITT - Jakarta,  Jumat 18 November 2022

Monday, November 14, 2022

2 Petrus 2:1-22

Perikop LAI: Nabi-nabi dan guru-guru yang palsu (2 Pet 2:1-22)

2:1 Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.
2:2 Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat.
2:3 Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda.
2:4 Sebab jikalau Allah tidak menyayangkan malaikat-malaikat yang berbuat dosa tetapi melemparkan mereka ke dalam neraka dan dengan demikian menyerahkannya ke dalam gua-gua yang gelap untuk menyimpan mereka sampai hari penghakiman;
2:5 dan jikalau Allah tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang yang fasik;
2:6 dan jikalau Allah membinasakan kota Sodom dan Gomora dengan api, dan dengan demikian memusnahkannya dan menjadikannya suatu peringatan untuk mereka yang hidup fasik di masa-masa kemudian,
2:7 tetapi Ia menyelamatkan Lot, orang yang benar, yang terus-menerus menderita oleh cara hidup orang-orang yang tak mengenal hukum dan yang hanya mengikuti hawa nafsu mereka saja, --
2:8 sebab orang benar ini tinggal di tengah-tengah mereka dan setiap hari melihat dan mendengar perbuatan-perbuatan mereka yang jahat itu, sehingga jiwanya yang benar itu tersiksa --
2:9 maka nyata, bahwa Tuhan tahu menyelamatkan orang-orang saleh dari pencobaan dan tahu menyimpan orang-orang jahat untuk disiksa pada hari penghakiman,
2:10 terutama mereka yang menuruti hawa nafsunya karena ingin mencemarkan diri dan yang menghina pemerintahan Allah. Mereka begitu berani dan angkuh, sehingga tidak segan-segan menghujat kemuliaan,
2:11 padahal malaikat-malaikat sendiri, yang sekalipun lebih kuat dan lebih berkuasa dari pada mereka, tidak memakai kata-kata hujat, kalau malaikat-malaikat menuntut hukuman atas mereka di hadapan Allah.
2:12 Tetapi mereka itu sama dengan hewan yang tidak berakal, sama dengan binatang yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan. Mereka menghujat apa yang tidak mereka ketahui, sehingga oleh perbuatan mereka yang jahat mereka sendiri akan binasa seperti binatang liar,
2:13 dan akan mengalami nasib yang buruk sebagai upah kejahatan mereka. Berfoya-foya pada siang hari, mereka anggap kenikmatan. Mereka adalah kotoran dan noda, yang mabuk dalam hawa nafsu mereka kalau mereka duduk makan minum bersama-sama dengan kamu.
2:14 Mata mereka penuh nafsu zinah dan mereka tidak pernah jemu berbuat dosa. Mereka memikat orang-orang yang lemah. Hati mereka telah terlatih dalam keserakahan. Mereka adalah orang-orang yang terkutuk!
2:15 Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat.
2:16 Tetapi Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya, sebab keledai beban yang bisu berbicara dengan suara manusia dan mencegah kebebalan nabi itu.
2:17 Guru-guru palsu itu adalah seperti mata air yang kering, seperti kabut yang dihalaukan taufan; bagi mereka telah tersedia tempat dalam kegelapan yang paling dahsyat.
2:18 Sebab mereka mengucapkan kata-kata yang congkak dan hampa dan mempergunakan hawa nafsu cabul untuk memikat orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari mereka yang hidup dalam kesesatan.
2:19 Mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, padahal mereka sendiri adalah hamba-hamba kebinasaan, karena siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu.
2:20 Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula.
2:21 Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka.
2:22 Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: "Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya."

Paralel, baca Yudas 1 secara keseluruhan.

PENDAHULUAN

Surat Petrus Yang Kedua  ini ditujukan kepada seluruh umat Kristen yang mula-mula. Surat ini ditulis terutama untuk menentang pekerjaan guru-guru  yang mengajarkan hal-hal yang salah, dan juga untuk memberantas perbuatan-perbuatan tak patut yang dihasilkan oleh ajaran guru-guru itu. Supaya tidak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran itu, orang Kristen harus berpegang kepada ajaran yang benar tentang Allah dan tentang Yesus Kristus -- yaitu ajaran yang disampaikan  oleh orang-orang yang telah menyaksikan dan mendengar sendiri Yesus mengajar. 

Yang terutama dirisaukan dalam surat ini ialah orang-orang yang mengajar bahwa Kristus tidak akan datang lagi untuk kedua kalinya. Surat ini menerangkan bahwa kedatangan Kristus itu nampaknya lambat karena Allah "tidak mau seorang pun binasa. Ia ingin supaya semua orang bertobat dari dosa-dosanya".  

Isi 

1. Pendahuluan 1:1-2
2. Panggilan Allah kepada orang Kristen 1:3-21 
3. Guru-guru palsu 2:1-22 ==> Bagian bacaan ini
4. Kedatangan Kristus untuk kedua kali 3:1-18

Pembagian lebih praktis lagi, dapat kita bedah Kitab 2 Petrus ini dalam 3 bagian;

2 Petrus 1 Keselamatan Orang Kristen
2 Petrus 2 Musuh Orang Kristen
2 Petrus 3 Nubuat Besar bagi Orang Kristen

ILUSTRASI

Di zaman internet ini, hampir setiap hari kita mengandalkan berita dan informasi dari internet. Biasanya kita mengikuti berita dan informasi itu dari kantor berita nasional terpercaya, maupun tokok-tokoh terkenal yang kita sukai, bahkan akun anonim tanpa nama yang sejalan dengan pikiran kita, kita jadikan sumber informasi dan sumber alur berpikir kita.

Dari pengalaman penulis dalam menggunakan internet di hampir sepanjang karir pekerjaan penulis, terkadang ditemui beberapa penggiringan opini yang membuat si pembaca, secara perlahan tapi pasti dan tersistem (sistemik), mengikuti kehendak pemilik berita dan bukan lagi kebenaran. Ada juga dan banyak, berita-berita hoax bertebaran di luar sana di jaringan internet yang sangat sangat luas. Biasanya si penggiring opini, akan memuat berita, informasi dan opini yang sesuai kenyataan, sehingga pembaca, penonton atau pendengarnya semakin yakin, dan setelah dipercaya, ybs akan mulai memasukkan opini yang menggiring kita untuk mengikuti pola pikir dan maksudnya.

Lalu bagaimana kalau isi berita, informasi dan opini tersebut menyangkut agama, menyangkut pengajaran dan kekristenan? Bagaimana kalau tokoh-tokoh penggiring opini ini seperti guru-guru palsu di bacaan kita hari ini?

URAIAN

1. Mengenal Bahaya guru-guru palsu

Rasul Petrus menulis surat ini untuk jemaat Tuhan Yesus Ada 3 (tiga) kali penyebutan guru-guru palsu dalam bacaan kita kali ini, yaitu ayat 1, 3 dan 17. Ayat 1 menyebutkan bahwa guru-guru palsu ini disamakan dengan nabi-nabi palsu. Jadi perlu kesepahaman, bahwa guru-guru palsu yang dimaksud ini adalah berasal dari kaum yang sama yaitu, kaum pengikut Kristus. Perhatikan kata "Penguasa" di ayat 1 yang ternyata mewakili makna Tuhan Yesus sendiri. Sehingga bila guru-guru palsu tersebut mengajarkan doktrin yang sama tapi yang diselewengkan, jauh lebih berbahaya bila mereka jelas-jelas menuhankan tuhan yang berbeda dengan Tuhan Yesus. Ya, sama-sama memuji Tuhan Yesus, tapi dengan tujuan berbeda seperti ayat 3 dan 17 maksudkan dalam bacaan kita hari ini. Ada dalam persekutuan jemaat dan gereja - bahkan mengajar sebagai guru - tapi berperilaku jauh berbeda dengan yang seharusnya pengikut-pengikut Kristus.

2. Mengenal Cara Hidup guru-guru Palsu

Tuhan Yesus berkata dalam Injil Matius 7:15-20 = 7:15 "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. 7:16 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? 7:17 Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik. 7:18 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. 7:19 Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. 7:20 Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Juga di dalam Injil Lukas 6:44 = Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur.

Jadi jelas, bahwa dari cara hidup mereka yang diuraikan Rasul Petrus sepanjang bacaan ini;

- Menyangkal Tuhan Yesus dalam perbuatannya.
- Hidup dikuasai hawa nafsu.
- Serakah dalam mencari untung dengan cerita-cerita isapan jempol.
- Berani dan angkuh menghujat kemuliaan Allah.
- Berfoya-foya.
- Penuh nafsu zinah.
- Congkak dan hampa.
- Berhawa nafsu cabul.
- Menjanjikan kepalsuan. 

..... mereka sama sekali bukan pengikut Kristus.

3. Menghindari guru-guru palsu

Dengan mengenal bahaya serta mengenal cara hidup guru-guru palsu ini, maka timbul pertanyaan di benak kita; bagaimana cara menghindari atau bahkan melawan mereka?

Rasul Petrus dengan jeli di ayat 22 - mengambil peribahasa dari Amsal 26:11  = Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya - untuk menunjukkan betapa berbahayanya mereka serta supaya kita terhindar dari mereka. Dengan menyetarakan guru-guru palsu ini dengan kebebalan dan kefasikan, secara tegas Rasul Petrus yang adalah murid langsung Yesus Kristus mengemukakan seluruh keberatannya atas peri laku dan peri sikap guru-guru palsu ini.

Tegasnya, di ayat 1 sudah diuraikan mau jadi apa guru-guru palsu ini, yaitu; dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka. Sehingga kita sebagai jemaat, wajib menghindari mereka dengan jalan mengetahui ajaran Yesus Kristus secara sangat serius dan berulang-ulang dengan membaca Firman-Nya dengan setia.

APLIKASI

Dalam bacaan kita hari ini, terlihat hawa amarah Rasul Petrus yang memang mempunyai pribadi yang berapi-api. Apalagi kita harus kembali mengingat siapa Petrus ini, yang dipilih Tuhan Yesus untuk memimpin jemaat-Nya dalam Injil Matius (Mat 16:18-19 = 16:18 Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. 16:19 Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.). Amarah ini ia tumpahkan kepada guru-guru palsu yang sudah bertobat dan memperoleh pengampunan Tuhan, tetapi dalam pengajarannya malah berontak dan meninggalkan Tuhan serta hanya menguntungkan diri mereka sendiri. Rasul Petrus menyimpulkan 3 hal ini: takdir mereka adalah KEHANCURAN, tindakan mereka BURUK, dan kata-kata mereka PENIPUAN, dan mereka-mereka ini adalah golongan yang dilepaskan oleh Petrus di dunia ini.

Tegas dan jelasnya amanat Rasul Petrus ini wajib kita selami dengan beberapa hal;

1. Untuk mengetahui guru-guru palsu, kita wajib mengetahui ajaran-ajaran yang benar. Ajaran ini ada di Alkitab, pelajari dan selamilah, pasti kita peka terhadap penyimpangan ajaran. (1 Yoh 4:1=Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.).

2. Janganlah memberi kesempatan sedikit pun untuk hadirnya ajaran sesat di kalangan warga jemaat. Kalau kita mencintai kebenaran, maka kita harus membenci kejahatan. Tetapi kebenaran dalam Kristus mengajarkan kasih untuk dikenakan kepada sesama, bahkan yang terlibat kejahatan itu. Hindari dengan tegas (2 Yoh 1:10-11 = 1:10 Jikalau seorang datang kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. 1:11 Sebab barangsiapa memberi salam kepadanya, ia mendapat bagian dalam perbuatannya yang jahat.), tetapi penuh kasih (Galatia 6:1 = "Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.").

3. Ilustrasi yang Rasul Petrus berikan untuk menggambarkan bagaimana Allah menghukum guru-guru palsu adalah peristiwa-peristiwa sejarah yang nyata dan ini menjadi peringatan akan murka Allah atas ketidaktaatan. Keselamatan, dan bukannya penghukuman, menanti bagi kita semua yang menaruh kepercayaan hanya kepada Tuhan, dan bukan kepada guru-guru palsu. (Ibrani 10:26-27 = 10:26 Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. 10:27 Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka.).

........ Amin

ITT, Jakarta Senin 14 November 2022

Monday, November 7, 2022

Amsal 11:1-11

Perikop LAI: Kumpulan amsal-amsal Salomo (Ams 10:1-22:16)

11:1 Neraca serong adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat.
11:2 Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati.
11:3 Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.
11:4 Pada hari kemurkaan harta tidak berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut.
11:5 Jalan orang saleh diratakan oleh kebenarannya, tetapi orang fasik jatuh karena kefasikannya.
11:6 Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya.
11:7 Pengharapan orang fasik gagal pada kematiannya, dan harapan orang jahat menjadi sia-sia.
11:8 Orang benar diselamatkan dari kesukaran, lalu orang fasik menggantikannya.
11:9 Dengan mulutnya orang fasik membinasakan sesama manusia, tetapi orang benar diselamatkan oleh pengetahuan.
11:10 Bila orang benar mujur, beria-rialah kota, dan bila orang fasik binasa, gemuruhlah sorak-sorai.
11:11 Berkat orang jujur memperkembangkan kota, tetapi mulut orang fasik meruntuhkannya.

PENDAHULUAN

Kitab ini diberi nama sesuai Ams.1:1 (KBBI - Amsal = misal; umpama; perumpamaan). Tetapi Kata “amsal” (maÅ¡al) dalam Alkitab memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar perumpamaan, karena istilah “amsal” hanya merujuk pada perkataan yang pendek dan, sedangkan istilah maÅ¡al dalam PL bisa berarti perumpamaan, pengajaran, ungkapan tentang seseorang atau kelompok.

Tujuan umum dari seluruh amsal adalah hiduplah takut akan Tuhan. Hilangnya rasa takut akan Tuhan menuju kepada kebebalan hidup tanpa kendali. Jadi tujuan Amsal adalah memberi petunjuk bagaimana melakoni hidup yang sukses dengan memberikan ilustrasi, baik secara positif maupun negatif.

Tujuan khusus yang mengacu pada kitab ini ditunjukkan pada awal kitab ini di Ams 1:2-6 (1:2 untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, 1:3 untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, 1:4 untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda -- 1:5 baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan -- 1:6 untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak.)

Susunan Kitab

1. Pasal 1:1-7 = Pendahuluan
2. Pasal 1:8-9:18 = Ajaran tentang hikmat
3. Pasal 10:1–22:16 = Kumpulan amsal Salomo yang pertama ==> Bagian bacaan ini
4. Pasal 22:17–24:34 = Perkataan-perkataan orang bijak
5. Pasal 25 – 29 = Kumpulan amsal Salomo yang kedua
6. Pasal 30 = Perkataan-perkataan Agur
7. Pasal 31:1-9 = Perkataan-perkataan Ibu Lemuel
8. Pasal 31:10-31 = Lampiran: Isteri yang cakap

URAIAN

1. Integritas (KBBI: integritas/in·teg·ri·tas/ n mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran;)

Sebelum timbangan dan takaran standar yang dikeluarkan dan di tera pemerintah (di Indonesia dikenal dengan Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Direktorat MetrologiKementerian Perdagangan RI), maka pada zaman dahulu kala, tanggung jawab atas timbangan yang akurat hanya ada di para pedagang saja. Dan ini bukan masalah biasa, tapi masalah penting, karena perdagangan yang jujur dan dapat dipercaya akan membuat kota dan bangsa terkenal, sehingga kemakmuran daerah dan bangsanya akan tercapai.Sehingga integritas pribadi para pedagang sangat menentukan kemajuan suatu kota dan bangsanya. Jadi jika Ayat 1 menunjukkan bagaimana Tuhan Allah menganggap ketidak-jujuran sebagai kekejian, baik diartikan secara harfiah dengan neraca batu timbangan maupun secara luas, maka bacaan bacaan kita dilanjutkan dengan ayat-ayat sesudahnya dan akhirnya ditutup di ayat 11 dengan hasil integritas tadi, bahwa; Berkat orang jujur memperkembangkan kota, tetapi mulut orang fasik meruntuhkannya.

2. Integritas dalam Perjanjian Lama

Dalam Kitab Perjanjian lama, kita dapat mengetahui tentang integritas dari 3 (tiga) tokoh PL itu sendiri, yaitu Yusuf, Daniel dan Habakuk

  • Yusuf - Karakter berintegritas dengan Kejujuran penuh (Kej 39:1-23) - Berkat integritasnya, Yusuf dipercaya tuannya untuk mengurus rumah dan asetnya. Dengan kekuasaan yang besar itu, Yusuf punya banyak kesempatan untuk menyalahgunakan wewenang. Namun, karena rasa hormatnya kepada Tuhan, ia menolak diajak berzina oleh istri majikannya dan memilih lari, bahkan menerima risiko difitnah dan dipenjara.
  • Daniel - Karakter berintegritas dengan Komitmen teguh (Dan 6:1-29) - Nabi Daniel teguh memegang komitmennya dalam doa dan untuk tidak menyembah berhala. Bahkan, dimasukkan ke gua singa pun tak dapat menggoyahkan hati dan imannya kepada Allah.
  • Habakuk - Karakter berintegritas dengan tanggung-jawab penuh (Hab 1-3) - Nabi Habakuk dikenal sebagai nabi yang memiliki integritas dalam kepemimpinan. Situasi sulit yang dihadapinya, seperti penindasan, ketidakadilan, dan kekerasan, tidak membuat ia meninggalkan Allah. Habakuk tetap berharap dan percaya bahwa Tuhan akan menegakkan keadilan atas orang benar.

Dari ketiga pribadi di atas, kita belajar bahwa;

  • Integritas adalah kejujuran, seberapa sering kita meremehkan atau mengesampingkan integritas dalam pengambilan keputusan? Maukah kita mengorbankan tawaran atau jalan pintas yang tampaknya menggiurkan demi menyelamatkan masa depan kita? Ataukah, kita mementingkan kenikmatan sesaat yang akan memberi dampak buruk di kemudian hari?
  • Integritas adalah memegang komitmen dan punya loyalitas tinggi. Mereka yang punya integritas akan menepati janji dan mempertahankannya sampai akhir, walaupun itu membutuhkan pengorbanan. Sebaliknya, kegagalan dalam memenuhi komitmen sering kali mencerminkan lemahnya integritas seseorang.
  • Integritas adalah kemauan menerima tanggung jawab, dan sikap bertanggung jawab adalah tanda kedewasaan pribadi. Pribadi yang berintegritas adalah mereka yang bersedia mengambil risiko, memperbaiki keadaan, serta melaksanakan kewajibannya sebaik mungkin, sekalipun dalam keadaan sulit.

3. Integritas dalam Perjanjian Baru

Sebagai pengikut Yesus Kristus, sosok penuh integritas, kita temukan dalam pribadi Yesus sendiri yang akhirnya menurun kepada Rasul-rasul dan Murid-murid-Nya, bahkan orang-orang Farisi (Mark 12:14 = Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?" - Matius 22:16 =  Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka).

Dari begitu banyak integritas yang dicontohkan Tuhan Yesus, ada beberapa hal yang dapat kita uraikan di sini;

a. Integritas adalah menunjukkan kasih kepada musuh

Di dalam perumpamaan seorang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37), Yesus mengajarkan bagaimana kita seharusnya menerima orang lain. Orang Yahudi tidak suka bergaul dengan orang Samaria, tetapi justru orang Samaria inilah yang menunjukkan belas kasih kepada orang Israel yang terluka. Integritas tidak hanya mengetahui soal doktrin dan pengajaran kasih, tetapi juga melaksanakan ajaran kasih itu.

b. Integritas adalah kehidupan yang sama luar dan dalam, sama kata dan perbuatan. 

Yesus mengecam keras perbuatan orang-orang Farisi dan menyebut mereka orang-orang munafik. Matius 23:3 = “Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”  
Tuhan Yesus mengakui ajaran ahli-ahli Taurat, dan orang Farisi ada benarnya dan baiknya; itu harus dituruti dan dilakukan. Tetapi kemunafikan mereka adalah karena kehidupan mereka tidak sama dengan apa yang mereka ajarkan. Di sini kita bisa belajar bahwa berintegritas artinya berusaha menghidupi Firman yang kita baca dan dengar dengan melakukannya. 

c. Integritas adalah kejujuran dalam melaksanakan tanggung jawab dan mengembangkan talenta.

Tuhan Yesus mengajarkan bahwa setiap orang yang setia dalam perkara kecil, maka dia akan setia dalam perkara besar (Lukas 16:10 = "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.). 

Kejujuran adalah indikator apakah orang tersebut bisa dipercaya atau tidak. Yesus dikatakan sebagai orang jujur dalam perkataan dan tindakan, karena apa yang Ia lakukan sama dengan apa yang Ia perkatakan dan ajarkan. 

APLIKASI

Penulis Amsal ini yaitu Salomo, tercatat mengakui hal ini kepada Tuhan tentang ayahnya Daud dalam 1 Raj 3:6 dan di kemudian hari menuliskan Amsal-amsal yang salah satunya kita uraikan dalam bacaan kita hari ini. (1 Raj 3:6 = Lalu Salomo berkata: "Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada hamba-Mu Daud, ayahku, sebab ia hidup di hadapan-Mu dengan setia, benar dan jujur terhadap Engkau; dan Engkau telah menjamin kepadanya kasih setia yang besar itu dengan memberikan kepadanya seorang anak yang duduk di takhtanya seperti pada hari ini.)
Apakah mereka Daud dan Salomo yang sempurna? tentu tidak, tetapi Alkitab mencatat kehidupan mereka sebagai kehidupan yang berintegritas kepada Tuhan, karena kehidupan berintegritas adalah bukan kehidupan sempurna secara moral, tetapi adanya kesesuaian antara motivasi, pikiran, dan tindakan.

Jadi kalau dalam Amsal ini, kita dipanggil untuk hidup jujur, rendah hati, tulus, hidup benar, saleh, tidak berkhianat, berpengetahuan, maka semuanya itu pasti akan beroleh berkat dan diberkati Tuhan dimanapun kita berada, bahkan di tengah-tengah keminoritasan kita - nilai integritas kita - akan mengembangkan kota dan bangsa tempat kita tinggal, ........ Amin.

ITT, Jakarta Senin 7 November 2022

Tuesday, November 1, 2022

1 Petrus 2:18-25

Perikop LAI = Penderitaan Kristus sebagai teladan (1 Pet 2:18-25)

2:18 Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.
2:19 Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung.
2:20 Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.
2:21 Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.
2:22 Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya.
2:23 Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.
2:24 Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.
2:25 Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.

PENDAHULUAN

Surat Petrus Yang Pertama  ini ditujukan kepada orang-orang Kristen yang tersebar di seluruh bagian utara Asia Kecil. Mereka disebut "umat pilihan Allah" (1 Pet 1:1-2 = 1:1 Dari Petrus, rasul Yesus Kristus, kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia, 1:2 yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu). 
Maksud utama surat ini ialah untuk menguatkan iman para pembacanya yang sedang mengalami tekanan dan penganiayaan karena percaya kepada Kristus. Petrus mengingatkan para pembacanya akan Kabar Baik tentang Yesus Kristus yang merupakan jaminan harapan mereka. Sebab, Yesus Kristus sudah mati, hidup kembali dan berjanji akan datang lagi. Atas dasar itu mereka hendaknya rela dan tahan menderita, sambil menyadari bahwa penderitaan mereka merupakan ujian apakah mereka betul-betul percaya kepada Kristus. Juga mereka harus yakin bahwa mereka akan dibalas oleh Tuhan pada saat Yesus Kristus kembali. 
Di samping menguatkan iman para pembacanya yang sedang dalam kesukaran itu, Petrus meminta supaya mereka hidup sebagai pengikut-pengikut Kristus.  

Isi Kitab 1 Petrus

  1. Pendahuluan 1:1-2 
  2. Nasihat supaya mengingat bahwa Allah menyelamatkan manusia 1:3-12 
  3. Nasihat supaya hidup khusus untuk Allah 1:13--2:10 
  4. Kewajiban orang Kristen dalam masa penderitaan 2:11-4:19 ==> Bagian bacaan ini
  5. Kerendahan hati dan pelayanan orang Kristen 5:1-11 
  6. Penutup 5:12-14  

URAIAN

Yang menarik dari bacaan ini adalah adanya suatu tautan dari 3 tahapan seorang manusia Kristen dalam kehidupannya.;

1. Taat (ayat 18-20 = 2:18 Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis. 2:19 Sebab adalah kasih karunia, jika seorang karena sadar akan kehendak Allah menanggung penderitaan yang tidak harus ia tanggung. 2:20 Sebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pukulan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita, maka itu adalah kasih karunia pada Allah.)

Rasul Petrus memulai di ayat 18, dengan mengemukakan hubungan tuan-hamba sebagai contoh dari hubungan kita dan Kristus. Dan dengan contoh ini, ketaatan yang dimiliki pengikut Kristus, adalah seharusnya seperti ketaatan seorang hamba kepada tuannya, taat kepada Tuhan dalam susah dan senang, apapun keadaannya, tanpa syarat apapun. Tetapi. ketaatan itu bukan karena ketakutan sebagaimana hamba ke tuannya, tetapi taat karena adalah kasih Karunia pada Allah semata. 

Hal yang unik, adalah kata TAAT itu sendiri, sebagaimanapun di balik-balik, maknanya tetap sama, yaitu; TAAT.

2. Ikuti Jejak-Nya (ayat 21-23 = 2:21 Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya. 2:22 Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya. 2:23 Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.)

Diuraikan jelas bahwa; mengikuti jejak-Nya adalah meneladani Yesus Kristus yang keteladanannya sbb;

  • Ia tidak berbuat dosa, 
  • tipu tidak ada dalam mulut-Nya.
  • Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; 
  • ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.

Jadi pertanyaan menarik bagi kita masing-masing, apakah teladan-teladan ini kita lakukan dalam kehidupan Kristen kita?

3. Manusia Baru (ayat 24-25 = 2:24 Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh. 2:25 Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu.).

Hasil dari kesinambungan Taat dan mengikuti jejakNya ditutup dengan hasilnya, yaitu sebagai manusia baru. Manusia yang telah mati terhadap dosa, tapi hidup untuk kebenaran.

APLIKASI

Taat, Ikuti Jejak-Nya dan Menjadi Manusia Baru, adalah keinginan teoritis dari seluruh umat Kristen. Prakteknya dan relevansinya, dicontohkan langsung oleh Yesus Kristus dalam kehidupann-Nya yang taat penuh kepada Bapa-Nya. Untuk itu, Rasul Petrus merumuskan hal ini didasarkan oleh ajaran langsung yang ia terima dari Tuhannya yaitu Yesus Kristus sendiri. Jadi seperti seharusnya, ketaatan dan keteladanan ini selayaknya dilihat sebagai suatu perintah dari Tuhan Yesus, bukan himbauan atau seruan.(Yohanes 13:15 = sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.).

Jika kita harus menderita karena kehendak Allah maka marilah kita menanggungnya dengan taat dan setia. Tetap mengasihi meskipun dibenci. Tetap melayani walaupun dikritik, tetap setia dalam pelayanan kendati disakiti, tetap bermurah hati tanpa mengharapkan pamrih. Dan semua bentuk kebaikan dan kasih Tuhan yang kita praktekkan di kehidupan kita, adalah karya manusia baru yang tidak lagi tersesat. Rasul Paulus menulis surat di Filipi pada saat yang kira-kira sama dengan Rasul Petrus menulis surat ini, yaitu sekitar tahun 60-62 M di Filipi 4:17-32 tentang ciri-ciri manusia baru ........ Amin

ITT - Jakarta, Selasa 1 November 2022