Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan GPIB

Monday, November 7, 2022

Amsal 11:1-11

Perikop LAI: Kumpulan amsal-amsal Salomo (Ams 10:1-22:16)

11:1 Neraca serong adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi Ia berkenan akan batu timbangan yang tepat.
11:2 Jikalau keangkuhan tiba, tiba juga cemooh, tetapi hikmat ada pada orang yang rendah hati.
11:3 Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.
11:4 Pada hari kemurkaan harta tidak berguna, tetapi kebenaran melepaskan orang dari maut.
11:5 Jalan orang saleh diratakan oleh kebenarannya, tetapi orang fasik jatuh karena kefasikannya.
11:6 Orang yang jujur dilepaskan oleh kebenarannya, tetapi pengkhianat tertangkap oleh hawa nafsunya.
11:7 Pengharapan orang fasik gagal pada kematiannya, dan harapan orang jahat menjadi sia-sia.
11:8 Orang benar diselamatkan dari kesukaran, lalu orang fasik menggantikannya.
11:9 Dengan mulutnya orang fasik membinasakan sesama manusia, tetapi orang benar diselamatkan oleh pengetahuan.
11:10 Bila orang benar mujur, beria-rialah kota, dan bila orang fasik binasa, gemuruhlah sorak-sorai.
11:11 Berkat orang jujur memperkembangkan kota, tetapi mulut orang fasik meruntuhkannya.

PENDAHULUAN

Kitab ini diberi nama sesuai Ams.1:1 (KBBI - Amsal = misal; umpama; perumpamaan). Tetapi Kata “amsal” (mašal) dalam Alkitab memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar perumpamaan, karena istilah “amsal” hanya merujuk pada perkataan yang pendek dan, sedangkan istilah mašal dalam PL bisa berarti perumpamaan, pengajaran, ungkapan tentang seseorang atau kelompok.

Tujuan umum dari seluruh amsal adalah hiduplah takut akan Tuhan. Hilangnya rasa takut akan Tuhan menuju kepada kebebalan hidup tanpa kendali. Jadi tujuan Amsal adalah memberi petunjuk bagaimana melakoni hidup yang sukses dengan memberikan ilustrasi, baik secara positif maupun negatif.

Tujuan khusus yang mengacu pada kitab ini ditunjukkan pada awal kitab ini di Ams 1:2-6 (1:2 untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, 1:3 untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, 1:4 untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda -- 1:5 baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan -- 1:6 untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak.)

Susunan Kitab

1. Pasal 1:1-7 = Pendahuluan
2. Pasal 1:8-9:18 = Ajaran tentang hikmat
3. Pasal 10:1–22:16 = Kumpulan amsal Salomo yang pertama ==> Bagian bacaan ini
4. Pasal 22:17–24:34 = Perkataan-perkataan orang bijak
5. Pasal 25 – 29 = Kumpulan amsal Salomo yang kedua
6. Pasal 30 = Perkataan-perkataan Agur
7. Pasal 31:1-9 = Perkataan-perkataan Ibu Lemuel
8. Pasal 31:10-31 = Lampiran: Isteri yang cakap

URAIAN

1. Integritas (KBBI: integritas/in·teg·ri·tas/ n mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran;)

Sebelum timbangan dan takaran standar yang dikeluarkan dan di tera pemerintah (di Indonesia dikenal dengan Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Direktorat MetrologiKementerian Perdagangan RI), maka pada zaman dahulu kala, tanggung jawab atas timbangan yang akurat hanya ada di para pedagang saja. Dan ini bukan masalah biasa, tapi masalah penting, karena perdagangan yang jujur dan dapat dipercaya akan membuat kota dan bangsa terkenal, sehingga kemakmuran daerah dan bangsanya akan tercapai.Sehingga integritas pribadi para pedagang sangat menentukan kemajuan suatu kota dan bangsanya. Jadi jika Ayat 1 menunjukkan bagaimana Tuhan Allah menganggap ketidak-jujuran sebagai kekejian, baik diartikan secara harfiah dengan neraca batu timbangan maupun secara luas, maka bacaan bacaan kita dilanjutkan dengan ayat-ayat sesudahnya dan akhirnya ditutup di ayat 11 dengan hasil integritas tadi, bahwa; Berkat orang jujur memperkembangkan kota, tetapi mulut orang fasik meruntuhkannya.

2. Integritas dalam Perjanjian Lama

Dalam Kitab Perjanjian lama, kita dapat mengetahui tentang integritas dari 3 (tiga) tokoh PL itu sendiri, yaitu Yusuf, Daniel dan Habakuk

  • Yusuf - Karakter berintegritas dengan Kejujuran penuh (Kej 39:1-23) - Berkat integritasnya, Yusuf dipercaya tuannya untuk mengurus rumah dan asetnya. Dengan kekuasaan yang besar itu, Yusuf punya banyak kesempatan untuk menyalahgunakan wewenang. Namun, karena rasa hormatnya kepada Tuhan, ia menolak diajak berzina oleh istri majikannya dan memilih lari, bahkan menerima risiko difitnah dan dipenjara.
  • Daniel - Karakter berintegritas dengan Komitmen teguh (Dan 6:1-29) - Nabi Daniel teguh memegang komitmennya dalam doa dan untuk tidak menyembah berhala. Bahkan, dimasukkan ke gua singa pun tak dapat menggoyahkan hati dan imannya kepada Allah.
  • Habakuk - Karakter berintegritas dengan tanggung-jawab penuh (Hab 1-3) - Nabi Habakuk dikenal sebagai nabi yang memiliki integritas dalam kepemimpinan. Situasi sulit yang dihadapinya, seperti penindasan, ketidakadilan, dan kekerasan, tidak membuat ia meninggalkan Allah. Habakuk tetap berharap dan percaya bahwa Tuhan akan menegakkan keadilan atas orang benar.

Dari ketiga pribadi di atas, kita belajar bahwa;

  • Integritas adalah kejujuran, seberapa sering kita meremehkan atau mengesampingkan integritas dalam pengambilan keputusan? Maukah kita mengorbankan tawaran atau jalan pintas yang tampaknya menggiurkan demi menyelamatkan masa depan kita? Ataukah, kita mementingkan kenikmatan sesaat yang akan memberi dampak buruk di kemudian hari?
  • Integritas adalah memegang komitmen dan punya loyalitas tinggi. Mereka yang punya integritas akan menepati janji dan mempertahankannya sampai akhir, walaupun itu membutuhkan pengorbanan. Sebaliknya, kegagalan dalam memenuhi komitmen sering kali mencerminkan lemahnya integritas seseorang.
  • Integritas adalah kemauan menerima tanggung jawab, dan sikap bertanggung jawab adalah tanda kedewasaan pribadi. Pribadi yang berintegritas adalah mereka yang bersedia mengambil risiko, memperbaiki keadaan, serta melaksanakan kewajibannya sebaik mungkin, sekalipun dalam keadaan sulit.

3. Integritas dalam Perjanjian Baru

Sebagai pengikut Yesus Kristus, sosok penuh integritas, kita temukan dalam pribadi Yesus sendiri yang akhirnya menurun kepada Rasul-rasul dan Murid-murid-Nya, bahkan orang-orang Farisi (Mark 12:14 = Orang-orang itu datang dan berkata kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka, melainkan dengan jujur mengajar jalan Allah dengan segala kejujuran. Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?" - Matius 22:16 =  Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama orang-orang Herodian bertanya kepada-Nya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka).

Dari begitu banyak integritas yang dicontohkan Tuhan Yesus, ada beberapa hal yang dapat kita uraikan di sini;

a. Integritas adalah menunjukkan kasih kepada musuh

Di dalam perumpamaan seorang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37), Yesus mengajarkan bagaimana kita seharusnya menerima orang lain. Orang Yahudi tidak suka bergaul dengan orang Samaria, tetapi justru orang Samaria inilah yang menunjukkan belas kasih kepada orang Israel yang terluka. Integritas tidak hanya mengetahui soal doktrin dan pengajaran kasih, tetapi juga melaksanakan ajaran kasih itu.

b. Integritas adalah kehidupan yang sama luar dan dalam, sama kata dan perbuatan. 

Yesus mengecam keras perbuatan orang-orang Farisi dan menyebut mereka orang-orang munafik. Matius 23:3 = “Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”  
Tuhan Yesus mengakui ajaran ahli-ahli Taurat, dan orang Farisi ada benarnya dan baiknya; itu harus dituruti dan dilakukan. Tetapi kemunafikan mereka adalah karena kehidupan mereka tidak sama dengan apa yang mereka ajarkan. Di sini kita bisa belajar bahwa berintegritas artinya berusaha menghidupi Firman yang kita baca dan dengar dengan melakukannya. 

c. Integritas adalah kejujuran dalam melaksanakan tanggung jawab dan mengembangkan talenta.

Tuhan Yesus mengajarkan bahwa setiap orang yang setia dalam perkara kecil, maka dia akan setia dalam perkara besar (Lukas 16:10 = "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.). 

Kejujuran adalah indikator apakah orang tersebut bisa dipercaya atau tidak. Yesus dikatakan sebagai orang jujur dalam perkataan dan tindakan, karena apa yang Ia lakukan sama dengan apa yang Ia perkatakan dan ajarkan. 

APLIKASI

Penulis Amsal ini yaitu Salomo, tercatat mengakui hal ini kepada Tuhan tentang ayahnya Daud dalam 1 Raj 3:6 dan di kemudian hari menuliskan Amsal-amsal yang salah satunya kita uraikan dalam bacaan kita hari ini. (1 Raj 3:6 = Lalu Salomo berkata: "Engkaulah yang telah menunjukkan kasih setia-Mu yang besar kepada hamba-Mu Daud, ayahku, sebab ia hidup di hadapan-Mu dengan setia, benar dan jujur terhadap Engkau; dan Engkau telah menjamin kepadanya kasih setia yang besar itu dengan memberikan kepadanya seorang anak yang duduk di takhtanya seperti pada hari ini.)
Apakah mereka Daud dan Salomo yang sempurna? tentu tidak, tetapi Alkitab mencatat kehidupan mereka sebagai kehidupan yang berintegritas kepada Tuhan, karena kehidupan berintegritas adalah bukan kehidupan sempurna secara moral, tetapi adanya kesesuaian antara motivasi, pikiran, dan tindakan.

Jadi kalau dalam Amsal ini, kita dipanggil untuk hidup jujur, rendah hati, tulus, hidup benar, saleh, tidak berkhianat, berpengetahuan, maka semuanya itu pasti akan beroleh berkat dan diberkati Tuhan dimanapun kita berada, bahkan di tengah-tengah keminoritasan kita - nilai integritas kita - akan mengembangkan kota dan bangsa tempat kita tinggal, ........ Amin.

ITT, Jakarta Senin 7 November 2022