Markus 16:12
Keberangkatan dari Yerusalem
Kami berangkat meninggalkan Yerusalem saat hari mulai masuk senja. Debu menempel di kaki dan perlahan kota itu berada di belakang kami.
Aku mendengar hal-hal ini, namun hatiku tetap berada di bawah bayang-bayang salib. Sorakan, kegelapan, dan apa yang mereka lakukan terhadap-Nya masih membekas.
Aku mencoba mengingat kata-kataNya, namun kesedihan begitu kuat menguasai diriku. Jadi kami terus berjalan, tanpa kedamaian maupun pemahaman, karena Yerusalem telah menjadi terlalu berat bagi kami, dan harapan tampak begitu jauh.
Kebingungan dan Kekecewaan
Sambil berjalan, kami terus kembali pada hal yang sama: kubur itu kosong. Kami mengatakannya berulang kali, seolah mengucapkannya berkali-kali akan membuat kami memahaminya.
Kami tadinya berharap bahwa Ialah yang akan menebus Israel, dan kini kami tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan semua ini.
Perjumpaan dengan Sang Orang Asing
Mata kami terhalang sehingga kami tidak mengenali-Nya. Kami berbicara kepada-Nya seperti kepada orang asing, meskipun Tuhan sendiri ada di samping kami.
Kami menceritakan bagaimana imam-imam kepala dan penguasa kami telah menyerahkan-Nya untuk dihukum mati dan menyalibkan-Nya. Padahal kami telah percaya bahwa Ialah yang akan menebus Israel, dan sekarang ini adalah hari ketiga sejak penyaliban itu terjadi.
Penjelasan
Lalu Ia mulai berbicara. Bukan sebagai orang yang berdebat atau menebak hal-hal tersembunyi, Ia berbicara sebagaimana kebenaran berbicara, menerangi kegelapan kami.
Saat Ia berbicara, perlahan semua pengajaranNya mulai terbuka di hadapanku. Dia berbicara tentang Anak Domba, dan tiba-tiba kayu salib itu tidak bisa hilang dari pikiranku.
Ia berbicara tentang batu yang dibuang, dan untuk pertama kalinya kegelapanku mulai bersinar, ... bahwa ternyata kubur itu bukanlah kekalahan melainkan sebuah pintu.
Ia berbicara tentang Orang Benar yang harus menderita, dan kekelamn hari itu tidak lagi tampak seperti akhir. Janji demi janji muncul di hadapan kami — hal-hal yang sudah lama diucapkan dan dibaca, namun tersembunyi dari kami hingga saat ini.
Wahyu di Emaus
Sesuatu yang dingin terendam dalam kesedihan mulai bergerak mencair, dan membiarkan-Nya pergi terasa seperti kehilangan cahaya untuk kedua kalinya.
Maka kami mendesak-Nya dengan mengatakan, "Tinggallah bersama kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam."
Maka masuklah Ia untuk tinggal bersama kami.
Seketika itu juga mata kami terbuka dan kami mengenali-Nya, lalu Ia lenyap dari pandangan kami.
Roti itu masih ada di depan kami, pelita masih menyala, tetapi Dia telah pergi dari hadapan mata kami. Namun pada saat itu, kami tahu — kami tahu bahwa maut tidak dapat menahan-Nya.
ITT - Jakarta, Sabtu 10 April 2026