Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan GPIB

Thursday, August 21, 2008

Imamat 20:22-26


Perikop: Kudusnya Umat Tuhan

20:22 Demikianlah kamu harus berpegang pada segala ketetapan-Ku dan segala peraturan-Ku serta melakukan semuanya itu, supaya jangan kamu dimuntahkan oleh negeri ke mana Aku membawa kamu untuk diam di sana.
20:23 Janganlah kamu hidup menurut kebiasaan bangsa yang akan Kuhalau dari depanmu: karena semuanya itu telah dilakukan mereka, sehingga Aku muak melihat mereka.
20:24 Tetapi kepadamu Aku telah berfirman: Kamulah yang akan menduduki tanah mereka dan Akulah yang akan memberikannya kepadamu menjadi milikmu, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya; Akulah TUHAN, Allahmu, yang memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain.
20:25 Kamu harus membedakan binatang yang tidak haram dari yang haram, dan burung-burung yang haram dari yang tidak haram, supaya kamu jangan membuat dirimu jijik oleh binatang berkaki empat dan burung-burung dan oleh segala yang merayap di muka bumi, yang telah Kupisahkan supaya kamu haramkan.
20:26 Kuduslah kamu bagi-Ku, sebab Aku ini, TUHAN, kudus dan Aku telah memisahkan kamu dari bangsa-bangsa lain, supaya kamu menjadi milik-Ku

Informasi: Fasal 17-26 : Hukum Kesucian [Inggris: Holiness Code].
Fasal 19:1-37: Kudusnya hidup.
Fasal 20:1-27: Kudusnya umat TUHAN.
Fasal 21:1-33: Kudusnya para imam.
[kutipan dari J. Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama (Jakarta: BPK-GM, 1996), hlm.55f

1. Pengantar

Undang-undang kekudusan [Inggris: Holiness Code] (Im 17-26) disusun di Yerusalem sebelum pembuangan. Ketika Kitab Ulangan yang berasal dari Utara dalam persiapan penerbitannya, dan segala sesuatu dipusatkan pada perjanjian dan pemilihan dari pihak Allah, imam-imam di Yerusalem ingin menetapkan kebiasaan yang dijalankan di Bait Allah, berpusat pada ibadah, untuk mengingatkan umat bahwa Allah adalah suci, sama sekali berbeda.

Ciri khas Kitab Imamat ialah: Hampir tidak ada cerita di dalamnya. Hanya ada cerita tentang pemberontakan Nadab dan Abihu (bab 10). Tetapi cerita ini hanya mau menegaskan bahwa siapapun juga harus berpegang teguh pada aturan ibadat, kalau tidak ia dihukum Tuhan. Lain-lain bagian Kitab Imamat hanya memuat hukum, aturan dan undang-undang saja. Ada cukup banyak hukum dan aturan yang serupa atau sejalan dengan yang tercantum dalam Kitab Keluaran. Tetapi dalam Kitab Imamat semua disoroti dari sudut pandangan para imam.

Membaca hukum dan aturan biasanya cukup membosankan. Apa lagi hukum dan aturan dari zaman dahulu seperti yang termuat dalam Kitab Imamat. Namun justru hukum dan undang-undang suatu bangsa menyingkapkan ciri-corak bangsa yang bersangkutan. Dalam hukumnya menjadi nyata nilai-nilai mana dijunjung tinggi oleh suatu bangsa; mana cita-cita yang dikejar; bagaimana anggota-anggota itu memperlakukan satu sama lain dan saling menghargai. Demikian pun halnya dengan hukum dan undang-undang yang tercantum dalam Kitab Imamat. Boleh dikatakan bahwa dalam kitab ini bangsa Israel nampak sebagai bangsa yang seharusnya “Umat yang kudus”. Ini nampak dalam sikap dan ibadatnya kepada Allah dan yang kudus itu, terhadap sesama anggota umat yang kudus itu, terhadap tanah milik Tuhan dan terhadap waktu yang dikuduskan Tuhan.

2. Eksposisi

Informasi: Fasal 17-26 : Hukum Kesucian [Inggris: Holiness Code].
Fasal 19:1-37: Kudusnya hidup.
Fasal 20:1-27: Kudusnya umat TUHAN.
Fasal 21:1-33: Kudusnya para imam.

20:1-27 Hukum serba-serbi mengenai kejahatan yg mengerikan

(Ay) 22-26: Ay-ay ini mengingatkan kepada Israel bahwa kejahatan-kejahatan besar yg baru saja diuraikan [dalam penggalan sebelum ini] itu adalah kejahatan-kejahatan orang-orang yg negerinya akan mereka duduki. Negeri itu telah ‘memuntahkan’ (bnd 18:25) penduduknya bagi keburukan-keburukan mereka, dan Israel akan menderita hal yg sama, jika ia melakukan keburukan-keburukan itu (bnd 18:28). Namun negeri itu adalah warisan mereka, dan negeri itu adalah negeri yg baik (Kel 3:8, 17).

TUHAN telah memisahkan mereka. Perhatikan pemakaian kata itu hingga 3 kali dalam ay 24-26. Bagian ini jelas menunjukkan,bahwa tujuan pokok dari hukum-hukum yg mengenai makanan dalam ps 11 itu adalah untuk mengadakan dan memajukan suatu pemisahan yg tegas antara Israel dan orang Kanaan. Karena makan dan minum penting dalam hidup sehari-hari umat, dan karena ay 22-26 dimaksudkan sebagai kesimpulan bagi kumpulan hukum yg besar ini, yaitu hukum upacara-upacara keagamaan dan moral, yg harus ditaati oleh umat, maka penunjukan kembali ke ps 11 yg dengannya hukum-hukum di mulai, adalah tepat sekali. Supaya kamu menjadi milikKu. Di sini seluruh tujuan hukum secara singkat dirangkumkan.

Umat TUHAN harus menaati hukumNya, jika mereka benar-benar adalah milikNya.

Informasi: Dengan pemberian undang-undangNya itu Allah dikatakan “bermaksud” hendak menertibkan kehidupan umatNya, tetapi dalam hal ini firmanNya tak boleh disama-ratakan dengan perkataan manusia. Firman Allah memang menyatakan maksud dan kehendakNya, sebagaimana halnya dengan tiap-tiap perintah atau keputusan manusia juga. Tetapi dengan melebihi sifatnya sebagai pernyataan, keputusan atau pemberitahuan itu, hukum-hukum Allah mengerjakan (melaksanakan) apa yang dinyatakannya . . . Allah menertibkan kehidupan umatNya; Ia tidak menyuruh umat itu supaya hidup dengan tertib! Allah “menguduskan” mereka (Im 20:8; 22:32; 21:8; Kel 31:13; Yeh 20:12); Ia tidak hanya menyuruh mereka, supaya “menjadi orang-orang kudus” (Kel 22:31; Im 19:2; 20:26). Allah “menebus” atau “membebaskan” suatu umat bagi diriNya serta menjadikan mereka menjadi hamba-hambaNya yang merdeka terhadap segala kuat-kuasa yang memperbudaknya; Ia tidak hanya menyuruh mereka supaya hidup seperti orang-orang merdeka. Allah menyatukan mereka menjadi suatu “jemaah” atau “perkumpulan” yang bersifat persekutuan dan persaudaraan antara sesamanya sendiri; Ia tidak hanya menyuruh mereka supaya hidup seperti saudara-saudara. Firman Allah mengerjakan semuanya ini. FirmanNya yang berupa hukum-hukum itu berkuasa untuk melaksanakan maksudnya, dan sungguh-sungguh memakai kuasanya.

Adalah dengan sengaja kita tekankan sekali lagi kuasa hukum-hukum Allah itu: sudah terlalu biasa kita menilai hukum-hukum itu semata-mata sebagai peraturan yang sempurna sendiri, tetapi yang baru “mendapat” pengaruh dan kuasa, apabila umat Israel sudi menaatinya. Hukum-hukum Allah memang menuntut ketaatan. Tetapi justru bangkitnya ketaatan yang sukarela ini adalah disebabkan oleh pengaruh hukum-hukum Allah itu sendiri; hukum-hukum itu hanya menuntut apa yang serentak diberikannya juga. Apabila umat Israel tidak menaatinya; maka itu berarti bahwa mereka belum sampai mendengarkannya, belum membuka dirinya untuk kuasa-kuasa hukum itu. Segala puji patut diberikan kepada kuasa firman itu sendiri, apabila manusia membuka diri untuknya. Bangkitnya ketaatan itu adalah tidak kurang ajaib daripada “kelahiran” dan “kehidupan” Israel sebagai umat TUHAN --- baik pada permulaannya maupun di sepanjang masa!

Dibutuhkan suatu ketaatan untuk tetap hidup di dalam kekudusan. Allah berfirman bahwa setiap orang percaya adalah lebih daripada pemenang. tetapi ada banyak juga orang percaya yang hanya mau hidup berkemenangan tetapi tidak mau taat. Atau juga mengerti Firman, hafal Firman tetapi tidak pernah mau taat pada Firman itu. Allah sangat menghargai ketaatan setiap umatnya. yang Dia cari adalah sekelompok orang-orang percaya yang mau taat padaNya.

*Mazmur 199:11* /dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau/. Kunci dari ketaatan adalah menyimpan Firman Allah di dalam hati kita. Jika tidak demikian maka mudah bagi seseorang untuk tidak taat lalu jatuh ke dalam dosa; meskipun orang tersebut mengerti dan mengetahui seluruh Firman, bahkan menghafalnya. Firman Allah yang kita simpan di dalam hati kita akan menjadi suatu alarm atau peringatan jika kita sudah mulai menyimpang dari FirmanNya. Firman tersebut akan mengingatkan kita sehingga kita sadar lalu taat akan Firman itu dan berbalik kepada Tuhan, dan terhindar dari suatu dosa.

Suatu pertanyaan bagi jemaat yang saya harap dijawab langsung: Apakah jemaat mau melihat Tuhan?

Mari buka kitab PB dan melihat Firman Tuhan pada Ibrani 12:14 = Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.


Amin

ITT - 21 Agustus 2008