Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri

Saturday, August 17, 2024

Ulangan 6:4-5 - Shema Israel

Mendengar dan Mengasihi:
Bertemu Yesus Kristus dalam Esensi Shema Israel


Berikut adalah teks Shema Israel (Ulangan 6:4-5) dalam tiga bahasa: bahasa asli (Ibrani), bahasa Inggris, dan bahasa Indonesia.


1. Bahasa Aslinya (Ibrani / Hebrew)

Teks Aksara Ibrani:

שְׁמַע יִשְׂרָאֵל יְהוָה אֱלֹהֵינוּ יְהוָה אֶחָד. וְאָהַבְתָּ אֵת יְהוָה אֱלֹהֶיךָ בְּכָל לְבָבְךָ וּבְכָל נַפְשְׁךָ וּבְכָל מְאֹדֶךָ.

Cara Pengucapan (Transliterasi):

Shema Yisrael, Adonai Eloheinu, Adonai Echad. Ve'ahavta et Adonai Eloheikha, be-khol levavkha, u-v'khol nafshekha, u-v'khol me'odekha.


2. Bahasa Inggris (English)

"Hear, O Israel: The LORD our God, the LORD is one. Love the LORD your God with all your heart and with all your soul and with all your strength."(New International Version)


3. Bahasa Indonesia

"Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu."(Alkitab Terjemahan Baru)


Biasanya dilantunkan dalam bentuk doa atau nyanyian sserta panggilan doa di dalam bahasa aslinya, banyak ditemukan di YouTube.


Pengantar: Mengenal Shema Israel


Bagi bangsa Israel, tidak ada untaian kalimat yang lebih suci, agung, dan mendasar daripada Shema Israel. Kata Shema sendiri diambil dari bahasa Ibrani yang berarti "Dengarlah". Doa ini bersumber dari kitab suci, utamanya diambil dari Ulangan 6:4-5, yang berbunyi: "Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu."


Secara harfiah, kata Ibrani Shema berarti: 

  • Mendengar dengan menyimak baik-baik, kemudian memberikan respons.
  • Ketaatan atau kepatuhan sebagai respon langsung dari mendengar.
  • Sikap tunduk kepada wewenang, menjalankan apa yang diperintahkan, mematuhi apa yang dituntut, dan menjauhkan diri dari yang dilarang. 
  • Tanggung jawab

Dari filosofi Shema di atas, muncul pemahaman bahwa penyembahan tertinggi kepada Allah bukanlah ketika mulut seseorang bersuara memuji-muji Tuhan, melainkan justru di dalam kediaman dengan menyimak (mendengar) serta kemudian melaksanakan suarat Tuhan tersebut dengan taat, patuh, tunduk serta bertanggungjawab. 

Dalam tradisi Yahudi, Shema bukan sekadar doa biasa, melainkan sebuah proklamasi iman yang wajib diucapkan dua kali sehari, yaitu pada waktu fajar dan malam hari. Doa ini diajarkan sejak usia dini dan diucapkan sebagai kata-kata terakhir menjelang kematian. Shema menggambarkan komitmen total untuk mengakui satu-satunya Allah yang sejati dan menolak segala bentuk penyembahan berhala. Melalui pengantar ini, kita diajak untuk memahami bahwa Shema adalah pusat dari seluruh identitas spiritual umat pilihan.


Namun, sebagai umat Kristen, kita perlu melihat lebih dalam: bagaimana doa kuno ini terhubung dengan iman kita hari ini? Jika kita menggali Alkitab dengan cermat, kita akan menemukan bahwa esensi terdalam dari Shema Israel tidak dapat dipisahkan dari pribadi dan misi Yesus Kristus. Mari kita urai bersama bagaimana Yesus tidak hanya mengutip doa ini, tetapi juga menggenapi dan mendefinisikannya ulang bagi hidup kita.


Fondasi Iman: Hukum yang Terutama bagi Yesus Kristus


Untuk memahami hubungan ini, kita harus melihat kembali momen ketika Yesus ditanya oleh seorang ahli Taurat mengenai perintah mana yang paling utama. Dalam Markus 12:29-30, Yesus menjawab dengan sangat tegas:


"Jawab Yesus: 'Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.'"


Melalui jawaban ini, Yesus menegaskan bahwa fondasi iman kita tidak pernah berubah. Beliau meletakkan Shema sebagai tiang utama dalam bangunan spiritualitas kita. Mengaku bahwa Tuhan itu esa berarti kita berkomitmen untuk menolak segala bentuk berhala modern yang mencoba menduduki takhta hati kita. Yesus mengajak kita untuk sadar bahwa pengenalan akan Allah yang benar harus membuahkan kasih yang radikal—kasih yang melibatkan seluruh keberadaan hidup kita: emosi (hati), eksistensi (jiwa), rasio (akal budi), dan tindakan nyata (kekuatan).


Pemikiran Kritis: Radikalitas Kristus dalam Mendefinisikan Kasih Total


Secara kritis, kita perlu merenungkan implikasi dari tuntutan perintah ini. Di dalam Kitab Ulangan, kasih total tanpa syarat hanya boleh diberikan kepada Allah. Namun, dalam Perjanjian Baru, Yesus membuat sebuah pernyataan yang sangat radikal mengenai diri-Nya sendiri. Dalam Matius 10:37, Yesus berkata:


"Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku."


Mari kita telaah bagian ini dengan saksama. Bagaimana mungkin seorang Guru yang hidup di tanah Israel berani menuntut kasih tertinggi yang setara dengan porsi kasih milik Tuhan di dalam Shema? Di sinilah letak kedalaman spiritualnya: Yesus tidak sedang bersaing dengan Allah Bapa. Sebaliknya, Yesus sedang menyatakan identitas ilahi-Nya yang kudus. Ketika kita mengasihi Yesus dengan segenap hidup kita, kita justru sedang menaati Shema Israel yang sejati, sebab di dalam Yesus, seluruh kepenuhan Allah dinyatakan secara nyata kepada kita.


Menggali Rahasia Keesaan: Relasi Sang Anak dan Bapa


Kalimat utama dalam Shema menegaskan bahwa Tuhan itu esa. Kata "esa" di sini merujuk pada kesatuan yang mutlak. Melalui Kristus, pemahaman kita tentang keesaan Allah diperdalam, bukan dikurangi. Yesus menyingkapkan bahwa keesaan Tuhan bukanlah sebuah kesendirian yang kaku, melainkan sebuah persekutuan kasih yang sempurna.


Di dalam Yohanes 10:30, Yesus menyatakan kesatuan-Nya yang agung:

"Aku dan Bapa adalah satu."


Yesus membawa kita pada pemikiran yang jernih bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang penuh dengan relasi kasih. Keesaan-Nya terlihat dari bagaimana Bapa dan Anak bergerak dalam satu pikiran, satu kasih, dan satu misi penyelamatan manusia. Ketika kita dipersatukan dengan Kristus melalui iman, kita pun ditarik masuk ke dalam persekutuan kasih ilahi tersebut.


Manifestasi Praktis: Mendengar yang Membuahkan Ketaatan


Dalam pemahaman aslinya, kata "dengarlah" (Shema) tidak sekadar berarti mendengarkan suara yang masuk ke telinga, melainkan sebuah tindakan mendengar yang disertai dengan kepatuhan. Sering kali kita terjebak dalam kehidupan rohani yang hanya tahu secara teori tetapi mandul dalam tindakan. Yesus menghubungkan konsep mendengar dan mengasihi ini secara langsung dengan ketaatan praktis kepada perintah-perintah-Nya.


Dalam Yohanes 14:21, Yesus menegaskan:

"Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya."


Di sini kita melihat sebuah lingkaran kasih yang utuh. Kita tidak bisa mengklaim bahwa kita menghidupi Shema (mengasihi Allah) jika kita hidup dalam ketidaktaatan kepada Kristus. Mengasihi Yesus berarti tunduk pada otoritas Firman-Nya dalam kehidupan sehari-hari.


Kesimpulan


Shema Israel bukanlah sekadar warisan sejarah masa lalu, melainkan detak jantung dari iman Kristen kita hari ini. Melalui Yesus Kristus, doa agung ini mendapatkan wujudnya yang paling sempurna. Kita melihat bahwa Yesus adalah perwujudan dari Allah yang Esa yang turun menjumpai kita, dan sekaligus menjadi objek kasih tertinggi dalam hidup kita.


Tantangan bagi kita sekarang adalah: Sudahkah hidup kita mencerminkan esensi dari perintah ini? Marilah kita belajar mendengarkan suara-Nya setiap hari, menundukkan akal budi serta kekuatan kita, dan mengasihi Yesus di atas segala-galanya. Sebab di dalam ketaatan kepada Kristus, kita sedang menggenapi hukum yang terutama dan yang paling mulia.


ITT - Sabtu, 17 Agustus 2024