Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan Sendiri

Friday, April 10, 2026

Emaus

(Sebuah monolog Kebangkitan Kristus)

Lukas 24:13-35
Markus 16:12

Keberangkatan dari Yerusalem

Kami berangkat meninggalkan Yerusalem saat hari mulai masuk senja. Debu menempel di kaki dan perlahan kota itu berada di belakang kami.

Aku tidak ingin menoleh ke belakang; terlalu banyak hal yang telah terjadi di sana. Mereka berkata kubur itu kosong. Mereka berkata mereka telah melihat penampakan malaikat dan bahwa Dia hidup. 
Aku mendengar hal-hal ini, namun hatiku tetap berada di bawah bayang-bayang salib. Sorakan, kegelapan, dan apa yang mereka lakukan terhadap-Nya masih membekas. 

Aku mencoba mengingat kata-kataNya, namun kesedihan begitu kuat menguasai diriku. Jadi kami terus berjalan, tanpa kedamaian maupun pemahaman, karena Yerusalem telah menjadi terlalu berat bagi kami, dan harapan tampak begitu jauh.

Kebingungan dan Kekecewaan

Sambil berjalan, kami terus kembali pada hal yang sama: kubur itu kosong. Kami mengatakannya berulang kali, seolah mengucapkannya berkali-kali akan membuat kami memahaminya. 

Batu itu telah terguling, para wanita berkata Ia hidup, dan yang lain menemukan kubur itu persis seperti yang mereka katakan. Namun peristiwa penyaliban itu terasa lebih nyata bagi kami daripada janji-janjiNya. 
Kami tadinya berharap bahwa Ialah yang akan menebus Israel, dan kini kami tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan semua ini.

Perjumpaan dengan Sang Orang Asing

Saat kami sedang membicarakan hal-hal tersebut, Ia mendekat. Ia tidak datang dalam kemuliaan atau dengan cara yang membuat kami takut ... hanya mendekat dan berjalan bersama kami. 
Mata kami terhalang sehingga kami tidak mengenali-Nya. Kami berbicara kepada-Nya seperti kepada orang asing, meskipun Tuhan sendiri ada di samping kami. 

Kami menceritakan bagaimana imam-imam kepala dan penguasa kami telah menyerahkan-Nya untuk dihukum mati dan menyalibkan-Nya. Padahal kami telah percaya bahwa Ialah yang akan menebus Israel, dan sekarang ini adalah hari ketiga sejak penyaliban itu terjadi.

Penjelasan

Lalu Ia mulai berbicara. Bukan sebagai orang yang berdebat atau menebak hal-hal tersembunyi, Ia berbicara sebagaimana kebenaran berbicara, menerangi kegelapan kami.

Saat Ia berbicara, perlahan semua pengajaranNya mulai terbuka di hadapanku. Dia berbicara tentang Anak Domba, dan tiba-tiba kayu salib itu tidak bisa hilang dari pikiranku. 

Ia berbicara tentang batu yang dibuang, dan untuk pertama kalinya kegelapanku mulai bersinar, ... bahwa ternyata kubur itu bukanlah kekalahan melainkan sebuah pintu. 

Ia berbicara tentang Orang Benar yang harus menderita, dan kekelamn hari itu tidak lagi tampak seperti akhir. Janji demi janji muncul di hadapan kami — hal-hal yang sudah lama diucapkan dan dibaca, namun tersembunyi dari kami hingga saat ini.

Wahyu di Emaus

Ketika kami mendekati desa, Ia bersikap seolah-olah hendak melanjutkan perjalanan. Aku langsung merasa tidak ingin Ia pergi. 
Sesuatu yang dingin terendam dalam kesedihan mulai bergerak mencair, dan membiarkan-Nya pergi terasa seperti kehilangan cahaya untuk kedua kalinya. 

Maka kami mendesak-Nya dengan mengatakan, "Tinggallah bersama kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." 

Maka masuklah Ia untuk tinggal bersama kami.

Dan terjadilah, saat Ia duduk makan bersama kami, Ia mengambil roti, memberkatinya, memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada kami.
Seketika itu juga mata kami terbuka dan kami mengenali-Nya, lalu Ia lenyap dari pandangan kami. 

Roti itu masih ada di depan kami, pelita masih menyala, tetapi Dia telah pergi dari hadapan mata kami. Namun pada saat itu, kami tahu — kami tahu bahwa maut tidak dapat menahan-Nya.


ITT - Jakarta, Sabtu 10 April 2026

Wednesday, April 1, 2026

Salib

 Suatu karya yang Selesai - Iman yang Hidup!

Pendahuluan

Salib adalah pusat iman Kristen. Namun sering kali, tanpa kita sadari, fokus kita bisa bergeser - dari makna salib kepada bentuk salib itu sendiri. Padahal, Alkitab tidak pernah meminta kita untuk memuliakan kayu salib, melainkan memahami apa yang terjadi di atasnya melalui Yesus Kristus.

Hari ini kita akan melihat:

  • Makna salib yang sejati
  • Karya keselamatan yang selesai
  • Dan bagaimana kita meresponnya dalam hidup

1. Salib adalah Tempat Pengorbanan yang Direncanakan Tuhan

Yesaya 53:5 = Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. 

Salib bukan kecelakaan, melainkan rencana keselamatan: Yesus menggantikan manusia berdosa, Ia menanggung hukuman yang seharusnya kita terima

1 Petrus 2:24 = Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.

Salib adalah tempat pertukaran:
Kita yang berdosa → menerima pengampunan
Dia yang tidak berdosa → menanggung hukuman

2. Salib adalah Bukti Kasih yang Sempurna

Roma 5:8 = “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.”

Kasih di salib: Tidak menunggu kita berubah dulu - Tidak bersyarat - Tidak terbatas
Salib berkata: “Kamu dikasihi, bahkan sebelum kamu layak.”

3. Salib Membuka Jalan Pengampunan

Kolose 2:13-14 = Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib

Maknanya: Dosa kita “dipakukan” di salib - Hutang rohani kita dibayar lunas. Salib adalah titik di mana keadilan dan kasih bertemu.

4. Salib Sudah Diruntuhkan - Bukan untuk Disembah

Di sinilah kita perlu memahami sesuatu yang penting: Ketika Yesus Kristus wafat, tubuh-Nya harus diturunkan dari salib. Dan untuk itu, salib harus direbahkan/dirobohkan.

Yohanes 19:31 = Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib — sebab Sabat itu adalah hari yang besar — maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. 

Yohanes 19:38 = Sesudah itu Yusuf dari Arimatea — ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi — meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. 

Sekali lagi, .... Untuk menurunkan tubuh dari salib, salib harus direbahkan/dirobohkan atau dilepaskan. Salib itu tidak disimpan, tidak dipertahankan, dan tidak menjadi objek ibadah

Ini memberi pesan penting:
Tuhan tidak ingin kita berfokus pada benda. Salib sebagai alat sudah selesai fungsinya

Yohanes 4:24 = “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.”

Jadi; Kita tidak menyembah salib - Kita menyembah Dia yang disalibkan dan bangkit serta Hidup!

5. Karya Salib Sudah Selesai

Yohanes 19:30 = Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya. 
Ini adalah deklarasi kemenangan:
Dosa sudah dibayar - Keselamatan sudah disediakan - Tidak perlu ditambah apa pun

Salib bukan proses yang berulang, tetapi: Satu kali, cukup untuk selamanya!
Ibrani 10:10 = Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.

6. Dari Salib Menuju Kebangkitan

Salib bukan akhir cerita.

Matius 28:6 = Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring.

Jika hanya ada salib tanpa kebangkitan: Itu adalah kekalahan
Tetapi karena ada kebangkitan: Salib menjadi kemenangan

7. Respons Kita: Memikul Salib, Bukan Menyembah Salib

Lukas 9:23 = Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. 

Maknanya: Hidup dalam ketaatan - Mengorbankan ego - Mengikut Kristus dengan setia.
Salib bukan untuk dipajang & disembah, tetapi untuk dihidupi.

Penutup

Salib telah menjalankan fungsinya. Bahkan secara fisik, salib itu tidak lagi berdiri—ia sudah direbahkan, ditinggalkan. Namun maknanya tetap hidup: Kasih yang menyelamatkan - Pengampunan yang memulihkan - Harapan yang memberi hidup baru. Yang terpenting bukan kayu salibnya, tetapi: Pribadi yang pernah tergantung di atasnya - dan yang sekarang hidup untuk selama-lamanya.

Hari ini, mari kita bertanya: 
Apakah kita hanya mengenal simbol salib? Ataukah kita sungguh mengalami kuasa salib dalam hidup kita?
Karena iman yang sejati bukan pada benda, melainkan pada Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit.


ITT - Jakarta, Rabu 1 April 2026


Sunday, March 29, 2026

Tepat 72 Jam!

Lanjutan dari artikel 25 tahun lalu, 10 April 2001 https://didaktis.blogspot.com/2001/04/3-hari-3-malam.html
Sebaiknya baca artikel di atas sebelum artikel ini

Tepat menjelang 25 tahun artikel di atas, penulis sangat bersuka-cita, karena begitu banyak website & YouTube pengajaran Kristen - dalam beberapa tahun terakhir ini mulai mengangkat topik ini secara mendalam dan berani - suatu hal yang tidak cukup berani dilakukan penulis. Ada beberapa perubahan dalam argumen, seperti gambar di Artikel yang lama - berbeda dengan kronologis di artikel ini yg merunut pada urutan Malam ke Siang dan bukan perhitungan Siang ke Malam,

Berdasarkan hal di atas, maka kami akan lebih memperdalam lagi pendapat tentang 3 hari 3 malam itu menjadi lebih detail, yaitu 72 jam saat Tuhan Yesus mati, dikuburkan dan bangkit dari kematianNya.

Memang ada tradisi yang ditantang, tetapi biarlah tradisi ini perlahan mulai pudar oleh banyaknya pendapat para ahli yang jauh lebih mendalam dari penulis, yang hanya mencoba memahami melalui kacamata yang sempit dan meneruskan hanya kepada keluarga kecilnya.

Mari kita uraikan lebih dalam dengan beberapa poin penting.

​1. Dasar Argumen: Tanda Nabi Yunus

​Mari kita mulai dengan mengutip Matius 12:38-40. Tuhan Yesus menyatakan bahwa satu-satunya tanda yang akan diberikan kepada generasinya adalah "Tanda Nabi Yunus".
​3 Hari & 3 Malam: Sama seperti Yunus berada di perut ikan besar selama tiga hari dan tiga malam, Tuhan Yesus juga harus berada di dalam kubur selama durasi yang sama.

​Masalah Tradisi: Jika Yesus wafat pada Jumat sore dan bangkit Minggu pagi, durasinya hanya satu hari penuh dan dua malam. Dan ini tidak memenuhi syarat "tiga hari dan tiga malam".

​2. Definisi Waktu Secara Literal

Dengan keyakinan penuh dan percaya akan setiap detil ucapan Tuhan Yesus, maka ucapan Beliau bukanlah sekedar kiasan atau idiom, tetapi pernyataan fakta yang literal.

​Mengacu pada Yohanes 11:9, Yesus mendefinisikan satu siang adalah 12 jam. Maka, 3 hari dan 3 malam sama dengan 72 jam tepat. 

​3. Konsep Dua Hari Sabat

​Kunci utama untuk memahami garis waktu ini adalah adanya dua jenis Sabat dalam minggu tersebut: Sabat Besar (Terjemahan KJV = High Day): Ini adalah Sabat tahunan (Hari Raya Roti Tidak Beragi) yang bisa jatuh pada hari apa saja dalam seminggu. Menurut Yohanes 19:31 (TB) = Karena hari itu hari persiapan dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib — sebab Sabat itu adalah hari yang besar — maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan. 

​Kronologis Alkitabiah: Para wanita membeli rempah-rempah setelah Sabat pertama (Sabat Tahunan pada hari Kamis), lalu menyiapkannya, dan kemudian beristirahat pada Sabat kedua (Sabat Mingguan pada hari Sabtu). 

Markus 16:1-2 (TB)  = 1 Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus. 2 Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur. 
Lukas 23:56 (TB) = Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. (23-56b) Dan pada hari Sabat mereka beristirahat menurut hukum Taurat,  Lukas 24:1 (TB) = tetapi pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu mereka pergi ke kubur membawa rempah-rempah yang telah disediakan mereka.

​4. Rekonstruksi Garis Waktu (Rabu hingga Minggu)

​Berdasarkan bukti-bukti tersebut, mari kita menyusun urutan kejadian sebagai berikut:

  • ​Selasa Malam: Tuhan Yesus makan perjamuan Paskah terakhir bersama murid-murid-Nya.
  • Rabu Siang: Tuhan Yesus disalibkan dan wafat sekitar jam 3 sore (jam ke-9), lalu dikuburkan tepat sebelum matahari terbenam karena hari berikutnya adalah Sabat Besar.
  • Kamis: Sabat Besar (Hari Raya Roti Tidak Beragi). Tuhan Yesus berada di kubur (Hari 1).
  • ​Jumat: Hari biasa di mana para wanita membeli dan menyiapkan rempah-rempah. Tuhan Yesus berada di kubur (Hari 2).
  • Sabtu: Sabat Mingguan. Tuhan Yesus berada di kubur (Hari 3).
  • Sabtu Sore: Yesus bangkit tepat 72 jam setelah dikuburkan, sesaat sebelum matahari terbenam.
  • Minggu Pagi: Ketika para wanita datang saat masih gelap, mereka menemukan kubur sudah kosong karena Yesus sudah bangkit sejak Sabtu sore.

​5. Nubuatan Nabi Daniel

​Penulis  juga baru menemukan dan mengaitkan hal ini dengan nubuatan dalam Daniel 9:27 dalam terjemahan yang menyebutkan bahwa Mesias akan dihentikan di "tengah minggu". Secara harfiah, tengah minggu atau pertengahan tujuh masa adalah hari Rabu!

Daniel 9:27 (KJV) = "And he shall confirm the covenant with many for one week: and in the midst of the week he shall cause the sacrifice and the oblation to cease, and for the overspreading of abominations he shall make it desolate, even until the consummation, and that determined shall be poured upon the desolate."
Daniel 9:27 (TB)  Raja itu akan membuat perjanjian itu menjadi berat bagi banyak orang selama satu kali tujuh masa. Pada pertengahan tujuh masa itu ia akan menghentikan korban sembelihan dan korban santapan; dan di atas sayap kekejian akan datang yang membinasakan, sampai pemusnahan yang telah ditetapkan menimpa yang membinasakan itu." 

​Kesimpulan Akhir:

Hal ini menegaskan bahwa Tuhan Yesus tidak wafat pada "Jumat Agung", melainkan pada hari Rabu. Pemahaman ini dianggap penting untuk membuktikan kebenaran ucapan Tuhan Yesus sebagai Mesias melalui penggenapan nubuat waktu yang Ia tetapkan sendiri.

Sekali lagi, melawan tradisi adalah kurang elok, tetapi memahami kebenaran adalah Tugas seorang Kristen dengan menguji segala sesuatu secara alkitabiah. 1 Tesalonika 5:21 = Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik

Tetap ada kemungkinan bahwa penulis salah dalam menginterprestasikan Alkitab - akan tetapi Tradisi Jumat Agung harus kita akui mempunyai pijakan teologis yang goyah. Kiranya Roh Kudus menuntun kita semua supaya tidak jatuh kepada kesalahan.

ITT - Jakarta, Minggu 29 Maret 2026

Sunday, February 1, 2026

The Ten Commandments

Sepuluh Perintah Allah (Ten Commandments) sudah berlaku jauh sebelum Musa menerimanya di Gunung Sinai. Artikel ini memberikan bukti bahwa hukum-hukum tersebut bersifat kekal dan sudah ada sejak penciptaan manusia.

​Banyak orang menganggap Sepuluh Perintah Allah adalah hukum sementara yang hanya untuk bangsa Israel kuno. Namun, artikel ini menegaskan bahwa perintah-perintah tersebut adalah hukum Tuhan yang sudah ada sejak awal keberadaan manusia.

Rincian 10 Bukti (Perintah demi Perintah)

  1. ​Jangan ada Allah lain di hadapan-Ku: Adam dan Hawa melanggar perintah ini saat mereka lebih menaati setan daripada Allah di Taman Eden (Kejadian 3:11).
  2. Jangan membuat patung ukiran: Yakub memerintahkan keluarganya untuk membuang dewa-dewa asing dan memurnikan diri sebelum pergi ke Betel (Kejadian 35:2-4).
  3. Jangan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan: Ayub (yang kitabnya dianggap paling tua) secara rutin mempersembahkan korban karena khawatir anak-anaknya mungkin telah mengutuki Allah dalam hati mereka (Ayub 1:5).
  4. Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: Kata "Ingatlah" menunjukkan hukum ini sudah ada sebelumnya. Sebelum sampai di Sinai, Allah sudah menguji bangsa Israel terkait pengumpulan manna pada hari ketujuh (Keluaran 16).
  5. Hormatilah ayah dan ibumu: Yakub menaati orang tuanya (Kejadian 28:6-7), sementara Adam dan Hawa dianggap tidak menghormati orang tua tunggal mereka, yaitu Allah Sang Pencipta.
  6. ​Jangan membunuh: Allah memperingatkan Kain sebelum ia membunuh Habel, dan menyebut tindakan tersebut sebagai dosa yang mengintai (Kejadian 4:6-8).
  7. Jangan berzinah: Yusuf menolak istri Potifar karena ia tahu berzina adalah dosa besar terhadap Allah (Kejadian 39:7-9). Abimelekh pun tahu bahwa mengambil istri orang lain adalah dosa besar.
  8. Jangan mencuri: Yakub memahami hak milik dan hukum tentang pencurian saat berurusan dengan Laban (Kejadian 30:33). Saudara-saudara Yusuf juga tahu bahwa mencuri memiliki hukuman berat.
  9. Jangan mengucapkan saksi dusta: Kebohongan pertama dicatat dilakukan oleh setan di Taman Eden. Kain juga berbohong kepada Allah tentang keberadaan Habel.
  10. Jangan mengingini milik sesamamu: Hawa mengingini hak istimewa Allah untuk menentukan yang baik dan jahat (Kejadian 3:6). Ayub juga menyatakan bahwa mengingini istri tetangga adalah kejahatan (Ayub 31:9-11).

Kesimpulan

Artikel ini menyimpulkan bahwa apa yang difirmankan Allah di Gunung Sinai hanyalah bentuk formal (kodifikasi) dari hukum yang sudah ada sejak awal.

Hukum-hukum ini dianggap kudus, benar, dan baik, serta membawa berkat bagi mereka yang menaatinya, serta karena sudah ada sejal awal - maka berlaku universal, sampai saat ini.

ITT - Jakarta, Minggu 1 Februari 2026