Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan GPIB

Friday, September 17, 2010

1 Samuel 3:1-10

3:1 Samuel yang muda itu menjadi pelayan TUHAN di bawah pengawasan Eli. Pada masa itu firman TUHAN jarang; penglihatan-penglihatan pun tidak sering.
3:2 Pada suatu hari Eli, yang matanya mulai kabur dan tidak dapat melihat dengan baik, sedang berbaring di tempat tidurnya.
3:3 Lampu rumah Allah belum lagi padam. Samuel telah tidur di dalam bait suci TUHAN, tempat tabut Allah.
3:4 Lalu TUHAN memanggil: "Samuel! Samuel!", dan ia menjawab: "Ya, bapa."
3:5 Lalu berlarilah ia kepada Eli, serta katanya: "Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?" Tetapi Eli berkata: "Aku tidak memanggil; tidurlah kembali." Lalu pergilah ia tidur.
3:6 Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi. Samuel pun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta berkata: "Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?" Tetapi Eli berkata: "Aku tidak memanggil, anakku; tidurlah kembali."
3:7 Samuel belum mengenal TUHAN; firman TUHAN belum pernah dinyatakan kepadanya.
3:8 Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi, untuk ketiga kalinya. Ia pun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta katanya: "Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?" Lalu mengertilah Eli, bahwa TUHANlah yang memanggil anak itu.
3:9 Sebab itu berkatalah Eli kepada Samuel: "Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar." Maka pergilah Samuel dan tidurlah ia di tempat tidurnya.
3:10 Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: "Samuel! Samuel!" Dan Samuel menjawab: "Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar."

Pendahuluan

Dari sejarah dan cerita dalam Alkitab, kita sama-sama tahu bagaimana proses kelahiran Samuel dan bagaimana masa kecilnya. Yang pasti dari proses kelahiran Samuel kita dapat belajar satu hal: Samuel adalah harta terbesar dan tidak ternilai dari keluarganya, dari ayah dan ibunya, karena Samuel sesuai dengan namanya adalah anak yang lahir dari pergumulan yang sangat berat dari seorang ibu yang dituduh mandul, anak yang lahir karena permintaan atau jeritan dan tangisan yang dalam dari seorang ibu yang bernama Hana. Tapi, apa yang Alkitab katakan: Harta terbesar dan tidak ternilai ini diserahkan sebagai pemberian terbaik kepada Tuhan. Hana menggenapi janjinya kepada Tuhan dan mempersembahkan Samuel kepada Tuhan. Hana mendapatkan Samuel dari Tuhan dan mengembalikannya kembali kepada Tuhan untuk dipakai oleh Tuhan (Perhatikan 1 Sam 1:1-28).

Sedangkan dalam mempelajari masa kecil Samuel, hal lain dapat kita pelajari ketika membaca dan merenungkan tokoh ini: Samuel sejak kecilnya telah dilatih oleh orang-tuanya dan juga dibentuk oleh lingkungan sekitarnya yang adalah lingkungan Bait Allah: Dilatih untuk menjadi seorang ‘pelayan’ (1 Sam 2:18a: Adapun Samuel menjadi pelayan di hadapan TUHAN; ia masih anak-anak). Jiwa dan mentalnya, karakternya dilatih dan terbentuk menjadi seorang dengan jiwa dan mental pelayan: Melayani Tuhan-Nya, memperhatikan kepentingan orang lain, mengasihi orang lain, tidak bersifat egosentris dan egoistik.

Kita juga dapat belajar paling tidak dua hal berharga dan penting dalam pelayanan Samuel sebagai Hakim atas bangsa Israel :

1. Kehidupan Doa Samuel. Dalam sejarah Israel, Samuel sangat dikenal melalui doa-doanya yang selalu mendatangkan mujizat. Setiap kali Samuel berdoa, bangsa Israel bisa melihat bagaimana Tuhan menjawab. Alkitab mencatat karena doa-doanyalah maka Tangan Tuhan melawan orang Filistin seumur hidup Samuel (1 Sam.7:13= Demikianlah orang Filistin itu ditundukkan dan tidak lagi memasuki daerah Israel. Tangan TUHAN melawan orang Filistin seumur hidup Samuel). Selama dibawah kepemimpinan Samuel, bangsa Israel tidak pernah kalah dari bangsa Filistin yang besar dan kuat. (Juga Samuel dikenal dengan perkataannya: Eben Haezer pada 1 Sam7:12 =Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: "Sampai di sini TUHAN menolong kita.”)

2. Ketegasan & Kemurnian pelayanan Samuel. I Samuel 12:3-5 mencatat kesaksian Samuel sekaligus pembelaan Samuel terhadap pelayanannya : “Di sini aku berdiri. Akulah yang menjadi pemimpinmu dari sejak masa mudaku sampai hari ini. Berikanlah kesaksian menentang aku di hadapan Tuhan dan di hadapan orang yang diurapiNya. Lembu siapakah yang telah kuambil? Keledai siapakah yang telah kuambil? Siapakah yang telah kuperas? Siapakah yang telah kuperlakukan dengan kekerasan? Dari tangan siapakah telah kuterima sogok sehingga aku harus tutup mata? Aku akan mengembalikannya kepadamu. Jawab mereka: Engkau tidak memeras kami dan engkau tidak memberlakukan kami dengan kekerasan dan engkau tidak menerima apa-apa dari tangan siapa pun. Lalu berkatalah Samuel kepada mereka: Tuhan menjadi saksi kepada kamu.” Samuel tegas dalam menyatakan kebenaran, dia tidak takut menyatakan suara Tuhan kepada Imam Eli yang notabene adalah seniornya, setelah mendengar suara Tuhan, tapi Samuel juga murni dalam melayani. Dia tahu benar, bahwa dia melayani dengan murni tidak dengan tuntutan apapun.

BELAJAR MENDENGAR!

Tuhan memberikan kita telinga untuk mendengar. Namun, bila jujur mungkin kita mengaku seringkali tidak menggunakan kedua telinga ini dengan baik atau malah menggunakannya untuk mendengar hal-hal yang tidak penting dan tidak berguna.

Khotbah Minggu ini mengajak kita belajar lagi mendengar seksama. Ya, mendengar dengan sepenuh hati. Para ahli ilmu psikologi dan komunikasi telah mengajarkan kita banyak tentang seni atau ketrampilan mendengar. Dari para ahli inilah kita tahu, bahwa walaupun secara fisik telinga kita sehat namun sebenarnya kita tidak mendengar serta-merta semua suara atau bunyi yang ada dekat kita. Jemaat dan saya cenderung hanya mendengar apa yang Jemaat dan saya ingin kita dengar. Dengan kata lain kemana hati kita tertuju ke sanalah telinga kita mengarah. Hal yang mirip: kemana hati kita terarah kesanalah mata kita tertuju. Itulah sebabnya kita bisa berada dekat televisi yang menyala tetapi tidak mendengar apa-apa sampai sampai ada berita yang menyentak hati dan telinga kita. Bahkan kita bisa saja tidak mendengar omongan istri, suami atau anak, atau teman, atau guru yang jelas-jelas sedang di depan kita, karena hati kita sedang melayang dan ada di tempat lain. Namun sebaliknya: ketika kita sangat sayang dan merindukan seseorang, kita dapat mendengar suaranya dari kejauhan datang. Seorang ibu di dalam ruang masih bisa mengenali apakah yang sedang menangis di luar sana adalah anaknya atau bukan.

Mungkin bukan tanpa maksud Tuhan menganugerahkan kita dua telinga tetapi satu mulut. Yaitu agar kita lebih banyak mendengar daripada bicara. Namun kadang banyak orang justru lebih suka bicara daripada mendengar, bahkan berbicara hal-hal yang tidak penting, tidak benar dan tidak berguna. Saksikanlah pesta-pesta komunitas kita: semua orang seakan berlomba bicara atau memaksakan nyanyian atau pidatonya ke telinga lawannya. Pergilah ke lapangan sepak bola atau ke sebuah kafe dimana sekelompok orang sedang menonton pertandingan liga. Dari sana pergi ke pasar atau mal atau stasiun. Atau bukalah jendela mobil kita saat melintas di jalan. Atau tak usah jauh-jauh, berdiam dirilah di rumah dan coba kenali apa dan siapa saja yang tak henti berbunyi atau bersuara? Sebaliknya: siapa mendengar seksama?

Cerita tentang Samuel kecil di bait Allah ini mengajak kita merenung ulang. Tuhan mengajak kita mendengar seksama. Pertama-tama kita diajak belajar lagi saling mendengar di rumah, di gereja dan juga di sekolah atau kantor. Sudah terlalu banyak masalah karena kita tidak mau mendengar satu sama lain, dan hanya ingin bicara dan bicara saja. Ya, sadar atau tak sadar seringkali kita menganggap berbicara lebih bernilai daripada mendengar. Karena itulah banyak orang melatih dan meningkatkan kemampuan berbicara alih-alih kemampuan mendengar. Bahkan kita sangat bangga dengan otoritas berbicara dan lupa Tuhan juga sebetulnya memberi otoritas atau wibawa untuk mendengar.

Seorang ahli komunikasi mengatakan kemauan berbicara selalu berbanding terbalik dengan kemauan mendengar. Pada saat kita sangat ingin bicara biasanya kita juga sangat tidak ingin dan karena itu tidak sabar mendengar. Itulah yang membuat kita kadang atau selalu menyela pembicaraan teman, pura-pura serius menyimak demi kesantunan dan hormat palsu, atau menjawab yang bukan ditanya, atau membelokkan begitu saja percakapan menurut keinginan kita. Semakin dewasa, merasa tahu dan mampu, menganggap diri terhormat atau berkuasa, maka sering semakin lemah pulalah kemauan kita mendengar. Sebaliknya kian kuat pula keinginan berbicara itu. Baiklah kita sadar hal itu tidak hanya berlaku dalam hubungan kita dengan sesama tetapi juga saat berhubungan dengan Tuhan. Jadi jangan heran jika doa orangtua, pendeta, penatua, atau aktivis gereja, apalagi yang suka dipanggil sebagai “pembicara” seringkali sangat panjang dan bercabang-cabang. Sebelumnya jangan heran jika orangtua lebih suka memberi petuah kepada anaknya ketimbang membiarkan atau mendorong anak-anak mengeluarkan isi hatinya. Kasus yang mirip: para pejabat sibuk sibuk mempersiapkan pidato atau komentar di depan pers daripada mendengarkan aspirasi rakyatnya.

Mendengar suara Tuhan

Kisah Samuel kecil ini mengajak kita belajar kembali mendengar suara Tuhan. Ada kemungkinan kita tidak mendengar dan mengenali suara Tuhan itu di tengah-tengah kenyataan hidup yang sangat berisik dan bising yang kita hadapi saban hari, atau karena sempitnya waktu kita, di saat kita merasa terlalu sibuk dan lelah, atau memiliki banyak sekali keinginan dan ambisi. Jangan salah tafsir: mendengarkan suara Tuhan tidaklah identik dengan seharian menongkrongi televisi agama, atau mengkoleksi CD kotbah plus lagu rohani, atau membaca sebanyak-banyaknya renungan rohani pop di internet (lantas meneruskannya kesana-kemari tanpa pergumulan). Mendengar suara Tuhan juga tidak identik dengan berburu ceramah atau seminar alkitab dan tidak pernah merasa kenyang dengan satu kebaktian minggu. Lantas apa? Mendengar suara Tuhan adalah mendengar dengan sengaja dan seksama, taat, hormat dan tulus pada apa yang disampaikan Tuhan kepada pribadi - juga kepada persekutuan, masyarakat dan seluruh umat manusia.

Acapkali perkataan Tuhan itu tidak banyak sehingga tidak ada alasan mengatakan lupa atau tak ingat. Namun suara Tuhan itu sangat menyentuh, mengena, menggoncangkan dan menantang serta membangkitkan seluruh kehidupan. Karena itu marilah kita di tengah ruang kehidupan nyata kita mengheningkan diri kita sejenak berdoa seperti Samuel: “Berbicaralah ya Tuhan, sebab hambaMU mendengar” Ya marilah kita membuka hati sedalam-dalamnya untuk bertanya: Apakah yang dikatakan Tuhan kepadaku? Sungguh itukah yang dikatakan Tuhan? Apakah aku tidak salah dengar? Ataukah aku justru pura-pura tidak mendengarNya?

Salah satu latihan terbaik mendengar suara Tuhan adalah belajar mendengarkan apa yang tidak Jemaat sukai dan inginkan. Tenteramkanlah hati. Cobalah putar kembali (Tuhan menganugerahkan kita otak yang bisa merekam sangat baik) suara-suara yang tidak Jemaat kehendaki di dunia. Yaitu: suara orang-orang yang karena satu atau lain hal Jemaat benci atau musuhi (apalagi jika dalam hati Jemaat alasan membencinya bukanlah karena dia jahat atau salah, tetapi justru karena dia benar dan baik). Kadang di dalam suara-suara yang tidak kita kehendaki itulah justru ada kebenaran. Itulah sebabnya Yesus mengatakan “kasihilah musuhmu”. Bukan supaya Jemaat bermesraan atau pura-pura mesra dengan orang yang Jemaat tidak sukai, tetapi agar Jemaat memaksa diri mendengarkan seksama apa yang dikatakannya. Sebab kadang (baca: tidak harus) Tuhan mau memakai musuh Jemaat itu sebagai “jurubicara-Nya” mengatakan kebenaran kepada kita.
Selanjutnya, cobalah hadirkan orang-orang yang kita anggap tidak penting, tidak mulia dan tidak ada apa-apanya. Yaitu mereka yang dalam pikiran jemaat terlalu miskin, terlalu bodoh, atau bahkan terlalu lemah. Berjuanglah menggali dan menyimak kembali apa yang pernah mereka katakan kepada jemaat. Baiklah kita sadar: seringkali Tuhan memakai saudara-saudaraNya yang miskin, kecil dan hina ini untuk menyuarakan SabdaNya kepada kita. Pertanyaan: Apakah jemaat dan saya masih mau atau tidak mau mendengar jika Tuhan berbicara lewat perkataan dan kehidupan mereka yang sangat miskin, kecil, dan hina?

Keheningan Jiwa

Namun ada kalanya Tuhan memilih diam membisu. Seperti pada jaman Samuel ada kalanya Tuhan justru menarik diri dan tidak mau berbicara kepada umatNya yang dianggapNya sudah penuh dengan kejahatan dan dosa. Sebagai gantinya muncullah para nabi palsu yang banyak omong dan berbicara seolah-olah disuruh Tuhan. Seandainya hal ini yang terjadi hati-hatilah. Jangan gampang terkecoh. Tidak semua orang yang menyebut nama Tuhan, atau bicara atas nama Tuhan, atau mengklaim diri mendapat wahyu Tuhan, harus dipercaya seketika dan sepenuhnya. Ujilah setiap roh, kata Rasul Yohanes. Ujilah setiap kata-kata termasuk kata-kata yang keluar dari mereka yang mengaku nabi, hamba Tuhan, pelayan Allah atau pekabar Injil. Dari dulu sampai sekarang selalu saja ada penipu yang menjual nama Tuhan. Sekali lagi hati-hatilah. Jangan terlalu mudah percaya apalagi kepada suara manis menghibur dan membenarkan kelakukan jahat jemaat dan saya atas nama Tuhan.

Salah satu bahaya kekristenan masa kini adalah verbalisme. Bahasa sederhananya: terlalu banyak omong. Lebih tepat: omong kosong. Ya banyak orang pada masa kini sangat suka mengumbar kata-kata tidak hanya kepada sesamanya tetapi juga kepada Tuhan. Baiklah kita ingat doa yang terlalu panjang dan bercabang-cabang sering bukan tanda kesalehan tetapi tanda ketidakmauan mendengarkan Tuhan. Ingat hukum komunikasi. Ingat Pengkotbah 5:1 “hematlah kata-kata di hadapan Allah!”. Ingat juga baik-baik pesan Yesus saat berkotbah di Bukit: jangan pernah menganggap karena banyaknya kata-kata doa jemaat dikabulkan. Selanjutnya: tidak ada kata-kata yang bebas dari pertanggungjawaban.

Mengatakan kebenaran

Selanjutnya kisah Samuel tidak hanya memotivasi dan menginspirasi kita belajar mendengar, tetapi juga belajar berbicara. Samuel kecil itu mendengar kebenaran yang pahit dari Tuhan, yaitu hukuman Tuhan kepada imam Eli yang membiarkan anak-anaknya (juga imam) mengkorupsi korban persembahan dan bermain seks di pelataran Bait Allah. Samuel belajar mengatakan kebenaran yang pahit itu kepada Eli, bapa rohani, guru yang sangat dihormatinya. (Mengharukan, seburuk-buruknya Eli, kita membaca bahwa imam tua itu mau mendengarkan kebenaran yang pahit yang disampaikan Samuel).

Hal ini menyadarkan kita bahwa sama seperti Samuel kita disuruh mengatakan yang benar bukan hanya kepada orang asing dan jauh dan karena itu tidak berdampak apa-apa kepada hidup kita, tetapi justru kepada orang yang sangat dekat dengan kita, memiliki pertalian darah dengan kita, kawan akrab kita, guru yang kita hormati, atasan, dan bahkan orangtua, atau kekasih kita sendiri. Samuel beruntung, sebab justru Eli yang mendesaknya mengatakan kebenaran. Namun kondisi kita bisa jadi lain. Orang yang kita hormati atau sayangi itu belum tentu suka atau ingin mendengar kebenaran. Namun Tuhan menyuruh kita tetap mengatakannya. Lantas bagaimana?

Banyak diantara kita sangat kritis kepada orang lain, namun sebenarnya sangat tidak kritis kepada diri sendiri, keluarga atau teman sendiri. Mengkritik orang lain itu baik dan sah, tetapi mampu dan mau mengkritik diri sendiri atau orang yang telah menjadi bagian hidup kita - itu jauh lebih baik dan berguna. Banyak orang berani menasihati orang lain tetapi enggan menasihati diri sendiri.

Penutup

Pertanyaannya adalah: Bagaimana kita dapat mengenali suara Tuhan?

Pertanyaan ini telah ditanyakan oleh tak terhitung banyaknya orang dari berbagai zaman. Samuel mendengar suara Tuhan namun tidak mengenalinya sampai dia dinasehati oleh Eli (1 Samuel 3:1-10). Gideon mendapatkan wahyu secara fisik dari Tuhan dan masih meragukan apa yang didengarnya sehingga dia meminta tanda, bukan sekali, tapi tiga kali (Hakim-Hakim 6, khususnya ayat 17-22, 36-40)!

Ketika kita mendengarkan suara Tuhan, bagaimana kita tahu pasti bahwa Dialah yang berbicara?

Pertama-tama, kita memiliki apa yang tidak dimiliki oleh Gideon dan Samuel, Alkitab yang lengkap, Firman Tuhan yang diinspirasikan, yang dapat kita baca, pelajari dan renungkan. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik” (2 Timotius 3:16-17). Apakah kita memiliki pertanyaan mengenai hal-hal atau keputusan dalam hidup kita? Lihat apa yang dikatakan Alkitab mengenai hal itu. Tuhan tidak akan pernah menuntun dan mengarahkan kita dengan cara yang bertentangan dengan apa yang diajarkan atau dijanjikan dalam FirmanNya.

Kedua, untuk mendengar suara Tuhan kita perlu mengenalinya. Apa kata Tuhan Yesus mengenai itu? Yesus mengatakan, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku” (Yohanes 10:27). Untuk mengenali suara Tuhan, kita perlu menggunakan waktu bersama dengan Dia setiap hari.

Pastikan bahwa setiap hari kita menikmati waktu doa yang berkualitas, mempelajari Alkitab dan dengan tenang dan merenungkan FirmanNya. Makin kita menggunakan waktu secara intim dengan Tuhan dan FirmanNya makin mudah kita mengenali suara Tuhan dan pimpinanNya dalam hidup kita. Karyawan bank dilatih untuk mengenali uang palsu dengan mempelajari uang asli dengan cermat sehingga dengan mudah mereka mendeteksi uang palsu. Kita perlu mengenali dengan cermat Firman Tuhan yang telah difirmankan olehNya sehingga ketika Tuhan berbicara kepada kita atau menuntun kita akan jelas bahwa itu adalah Tuhan. Tuhan berbicara kepada kita supaya kita dapat mengerti kebenaran. Tuhan dapat saja berbicara secara lisan kepada orang, namun secara utama Dia berbicara melalui FirmanNya; dan melalui Roh Kudus kepada hati nurani kita, melalui keadaan, dan melalui orang-orang lain. Dengan menerapkan apa yang kita dengar pada kebenaran Firman Tuhan, kita dapat belajar mengenali suaraNya.

Kepekaan rohani membutuhkan latihan. Latihan menghasilkan ketrampilan. Ketrampilan menjadi alat untuk perolehan. Perolehan mendatangkan rasa kepuasan. Kepuasan membuat orang bersyukur. Bersyukur mendekatkan orang kepada Tuhan. Berdekat kepada Tuhan akan mendengar sapaan suara Tuhan .... dan ternyata itulah yang dikehendaki Tuhan. Supaya orang merespon sapaan Tuhan.

Hari ini Tuhan ingin membicarakan hal-hal yang sangat penting dan menentukan hidup-mati jemaat, keluarga dan gereja, dan bangsa kita. Sebab itu dengarkanlah baik-baik suaraNya dan sampaikanlah dengan santun kepada yang memerlukannya. AMIN.

ITT - IHM 19092010 Pkl.17:00 Di RG.Bethania