WIB

Kita semua hidup di alam 3 dimensi; dimensi ruang, gerak dan waktu ... yang membuat kita nyata dan eksis di alam ciptaan Tuhan ini. Sebagaimana dimensi alam, manusia juga punya dimensi berpikir, berujar dan bertindak. Bila satu dimensi berkurang, kita seperti televisi yang hanya punya tampilan gerak dan suara tetapi tidak nyata ..... Mari berusaha mengharmonisasi ketiga dimensi ini supaya kita nyata dan berguna, seperti kehendak-Nya menciptakan kita.

Blogspot Kumpulan Artikel dan Pengajaran Kristen dalam Lingkungan GPIB

Sunday, May 1, 2011

Bilangan 9:1-5


Rayakan Paskah, Rayakan Kemenangan
(Sesuai SBU, Minggu 1 Mei 2011)

9:1 TUHAN berfirman kepada Musa di padang gurun Sinai, pada bulan yang pertama tahun yang kedua sesudah mereka keluar dari tanah Mesir:
9:2 "Orang Israel harus merayakan Paskah pada waktunya;
9:3 pada hari yang keempat belas bulan ini, pada waktu senja, haruslah kamu merayakannya pada waktu yang ditetapkan, menurut segala ketetapan dan peraturannya haruslah kamu merayakannya."
9:4 Lalu Musa menyuruh orang Israel merayakan Paskah.
9:5 Maka mereka merayakan Paskah pada bulan yang pertama, pada hari yang keempat belas bulan itu, pada waktu senja, di padang gurun Sinai; tepat seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa, demikianlah dilakukan orang Israel.


Pendahuluan

Kitab Bilangan dalam bahasa aslinya diberi judul "Bemidbar" atau kira-kira berarti Di belantara padang gurun. Nama ini melukiskan situasi umat Israel dalam kitab ini dalam perjalanan mereka selama 40 tahun di padang gurun. Nama kitab Bilangan sendiri terjemahan dari Bahasa Yunani "Arithmoi" yang berarti bilangan. Nama ini diambil karena ada 2 sensus yang dilaksanakan Musa (Bil 1-4 & 26).
Kitab ini ditulis oleh Musa (Bil 1:1, Bil 33:2) dan Kitab ini dapat dikatakan sebagai kitab yang berisi petunjuk bagi Umat Israel yang mencakup:
a. Bagaimana bangsa Israel harus mengatur dirinya dalam perjalanan di padang gurun.
b. Bagaimana para Imam dan Suku Lewi melaksanakan tugasnya dalam perjalanan ini, dan
c. Bagaimana Israel harus menyiapkan dirinya untuk memasuki tanah perjanjian dan menetap di sana.

Tema pokok dan utama yang bisa kita simpulkan dengan tegas dan jelas dalam Kitab Bilangan ini adalah; KETAATAN.

Struktur Bacaan

Bilangan 9 terbagi atas 2 perikop yaitu: Bil 9:1-14 = Ketetapan-ketetapan mengenai perayaan Paskah dan Bil 9:14-23 = Tiang awan memimpin perjalanan Israel, dan bacaan minggu ini membahas tentang sebagian dari perikop pertama di atas.
Ketetapan Paskah sendiri adalah suatu ketetapan yang berasal dari Allah yang memerintahkannya bagi Israel melalui Musa di Kel 12:1-28 perikop: Tentang perayaan Paskah. Istilah Paskah sendiri muncul pertama kali di Kel 12:11, yang dari bahasa Ibrani disebut Pesach, atau Passover (melewati/melalui), ketika Roh Allah menjalani Tanah Mesir dan menghukum Mesir, tetapi melewati umat Israel, karena tanda darah yang diperintahkan Tuhan sendiri (Kel 12:13 = Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila Aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila Aku menghukum tanah Mesir).
Bacaan Bilangan 9:1-5 sendiri, adalah bagaimana Tuhan mengingatkan Israel untuk supaya tetap melaksanakan Paskah, yaitu pada masa memasuki tahun ke 2 dari perjalanan mereka (Bil 9:1). Merayakan Paskah dengan tepat waktu dan sesuai ketetapannya (Bil 9:2-3) dan bagaimana Musa meneruskannya kepada Israel (Bil 9:4) serta dengan ketaatan umat Israel melaksanakannya (Bil 9:5).

Perbedaan Penanggalan

Penanggalan perayaan Paskah Israel/Yahudi
Kejadian keluarnya umat Israel dari Mesir, ditandai oleh perubahan penanggalan karena titah Tuhan dalam Kel 12:1-2 = Berfirmanlah TUHAN kepada Musa dan Harun di tanah Mesir: "Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun.
Dalam penanggalan Israel, bulan pertama adalah bulan Nisan atau setara dengan bulan Maret-April dalam penanggalan Gregorian yang kita pakai sekarang. Tarikh Yahudi sendiri memiliki 12 bulan dengan setiap bulan memiliki 29-30 hari dan kurang lebih berjumlah 354 hari setiap tahunnya. Sistem penanggalan kalender ini disebut lunisolar karena berpatokan pada perubahan musim yang dipengaruhi oleh putaran matahari dan bulan, dan ini menyebabkan adanya perbedaan 11 hari setiap tahun sehingga ada bulan ke 13 pada tahun kabisat. Peredaran bulan menjadi dasar pergantian hari yang dimulai dengan malam (dalam tradisi Yahudi kuno, hari baru dimulai setelah matahari terbenam, hingga terbenamnya matahari kembali di keesokan harinya). Karena perpaduan antara sistem kalender matahari dan bulan tersebut, kalender Yahudi selalu beriringan dengan Kalender Gregorian walaupun tetap memiliki perbedaan.

Karena berdasar pada perhitungan bulan ini, maka Paskah Yahudi selalu jatuh tepat di bulan purnama (hari ke 14 dari bulan baru).

Penanggalan perayaan Paskah Kristen
Tahun 325, Kaisar Romawi Timur ketika itu, Konstantinus, menyelenggarakan Konsili Nicea. Konsili ini membahas banyak masalah tentang Kristiani. Salah satu hasilnya menyelesaikan masalah Paskah dengan menyatakan bahwa perayaan Paskah seharusnya diselenggarakan oleh umat Kristen pada hari Minggu pertama sesudah bulan purnama yang mengikuti vernal equinox (titik balik musim semi - di Indonesia biasanya disebut sebagai jatuhnya bayangan tegak lurus di daerah katulistiwa) dan jika bulan purnama terjadi pada hari Minggu yang berakibat tumpang tindih dengan Paskah Yahudi, maka Paskah dirayakan pada hari Minggu sesudahnya. Bentrokan Paskah Yahudi dan Kristen dengan demikian dihindari.
Reformasi penanggalan terjadi pada tahun 1582, di mana Paus Gregorius XIII memerintahkan pemotongan 10 hari pada tahun itu dan meniadakan tahun kabisat untuk tahun ratusan yang tidak habis dibagi 400. Kalender yang kita kenal sebagai kalender Gregorian ini (dan sampai sekarang masih dipakai) mengurangi kesulitan dalam penentuan tanggal Paskah.
Di Roma, Hari Vernal equinox jatuh setiap tanggal 25 Maret. Tahun 2011 ini purnama setelah 25 Maret jatuh pada hari Senin 18 April 2011, dan Paskah Kristen adalah hari minggu setelah purnama itu, yaitu pada hari Minggu 24 April 2011 dan 3 hari sebelumnya adalah Jumat Agung, atau Wafat Yesus Kristus. Dengan catatan sebagaimana di atas; apabila purnama jatuh pada hari minggu, maka Paskah Kristen dirayakan sepekan sesudah itu di hari Minggu.

Untuk lebih rinci soal penentuan tanggal Paskah klik di sini

Peringatan dan Ketaatan, bukan hanya Perayaan

Mengapa penting untuk terus merayakan Paskah bagi umat Israel sehingga Tuhan harus mengingatkan mereka kembali?
Setelah penetapan Paskah pertama, Tuhan memerintahkan Israel supaya senantiasa mengingat-rayakan hari itu (Kel 12:14 Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi TUHAN turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya.).
Penegasan Tuhan kembali dalam Bil 9:1-3 ini, menjadi sangat penting bagi Israel untuk mengingat bagaimana karya Tuhan Allah mengeluarkan mereka dari Mesir dengan begitu dahsyat. Dengan kata lain; Kemampuan Israel untuk bergantung dan percaya kepada Tuhan dalam kesulitan perjalanan mereka nanti, akan banyak bergantung kepada kemampuan Israel untuk mengingat karya Tuhan yang besar ketika mereka dibawa keluar dari Mesir oleh Tuhan.
Jadi apapun nanti yang akan menimpa mereka, jika mereka mengingat kedahsyatan pada Paskah pertama itu, maka mereka akan tetap percaya bahwa Tuhan akan tetap bersama mereka dan tetap menepati janji-Nya.
Ketaatan yang dituntut oleh Tuhan, bukan taat melaksanakan dan merayakan Paskah belaka, melainkan taat pada Tuhan, karena mengingat apa yang sudah Tuhan lakukan dalam kehidupan Israel.
Dengan kembali melihat Kel 12:14 di atas, maka kita akan tersadar, bahwa hari raya Paskah bukan untuk pesta manusia, tetapi “sebagai hari raya bagi TUHAN

Penutup/Aplikasi

Sebagai Murid Yesus Kristus yang merayakan Paskah Yesus Kristus, beberapa catatan di antaranya bisa kita pelajari sepekan setelah Paskah ini:

1. Merayakan Paskah sebagai kemenangan, bukan hanya wajib dilaksanakan oeh Israel saja, tetapi juga oleh kita yang sudah meraih kemenangan oleh pengorbanan Kematian Yesus Kristus dan Kebangkitan-Nya. Bahkan sebagai pengikut Kristus, kita wajib mengetahui Paskah Yahudi dan penggenapannya di kemudian hari yang kita kenal dalam Yesus Kristus. Merayakan Paskah tanpa mengetahui sejarah Paskah sendiri akan merupakan suatu kesia-siaan belaka, karena hanya berisi kemeriahan tanpa syukur melimpah atas kemenangan.

2. Pengertian Yesus sebagai anak domba paskah, wajib didalami oleh seluruh murid Yesus Kristus sekarang ini, untuk memahami, bahwa ada benang merah antara Paskah Yahudi dan Paskah Kristen. Paskah sebagai perayaan keluarnya Israel dari Mesir, tidak terpisah oleh Paskah yang kita kenal sebagai Kebangkitan Yesus Kristus, karena waktu kejadian penangkapan, penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus adalah penggenapan atas seluruh isi hukum Taurat dan kitab para nabi. Kedahsyatan tulah atas Mesir dan cara Allah membawa Israel keluar dari Mesir, mencapai puncaknya ketika manusia dan juga kita, dibebaskan dari belenggu dosa ketika Allah membangkitkan Yesus dan mengalahkan maut.

3. Sebagaimana umat Israel, maka Kemampuan kita untuk bergantung dan percaya kepada Tuhan dalam kehidupan kita, akan banyak bergantung kepada kemampuan kita untuk mengingat karya Tuhan yang besar, khususnya Kebangkitan Kristus. Akan ada banyak persoalan dalam kehidupan kita, tetapi sebagaimana umat Israel, maka masalah itu bukan datang dari Tuhan, tetapi permasalahannya datang dari diri kita sendiri, yang tidak taat dan percaya kepada Yesus Kristus, yang telah membawa kemenangan bagi kita.

4. Contohi Musa sebagai pemimpin yang baik yang senantiasa menyuarakan Suara Tuhan dengan tepat sesuai perintahNya, bahkan ketika ada pertanyaan yang pelik seputar perayaan Paskah, Musa tidak menjawab atau memutuskan sendiri, melainkan bertanya pada Tuhan (Bil 9:8 Lalu jawab Musa kepada mereka: "Tunggulah dahulu, aku hendak mendengar apa yang akan diperintahkan TUHAN mengenai kamu.). Hal-hal penting, menyangkut ketetapan Tuhan, hendaknya diputuskan dengan dasar ketaatan atas ketetapan Firman Tuhan disertai dengan berdoa, dan bukan atas kehendak pribadi kita. Bukankah Yesus senantiasa berdoa dan menanyakan serta melaksanakan sesuatu atas kehendak Bapa-Nya? Sebagai Murid, kitapun wajib taat dengan tepat kepada Perintah Tuhan, seperti ketaatan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.

Sebagai penutup,
Telah sepekan sejak kita merayakan Ibadah Fajar Paskah Yesus Kristus, masihkah ada perasaan kegirangan dan semangat Kebangkitan Kristus kita rasakan hari ini?
Telah 10 hari sejak kita mengingat-rayakan Perjamuan Kudus, masihkah ada rasa penyesalan atas dosa kita dan kerendahan hati ketika kita memasuki meja perjamuan?
Rayakan Paskah, Rayakan Kemenangan, .... Rayakan Ketaatan dalam setiap detik kehidupan kita, ... Amin.

ITT – 1 Mei 2011